CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Banyumas /
[CoC Regional: Lokasi Wisata] Makam Panembahan Kalibening
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6b1d4aa72768506a44d441/coc-regional-lokasi-wisata-makam-panembahan-kalibening

[CoC Regional: Lokasi Wisata] Makam Panembahan Kalibening

Makam Panembahan Kalibening, yang sering disebut Makam mBah Kalibening atau Makam Kalibening, merupakan makam tua yang berada di perbukitan Desa Dawuhan, di Kecamatan dan Kabupaten Banyumas. Jika ditarik garis lurus, Makam Panembahan Kalibening di perbukitan ini berjarak sekitar 600 meter dari tepian Kali Serayu. Sedikit ke atas dari Makam Panembahan Kalibening terdapat Sumur Pasucen yang airnya luar biasa bening.

Sumur itu lebih tepat disebut umbul karena airnya terus keluar, meluap keluar dinding. Ada pula Pendopo dan Museum Kalibening, yang dibuka sekali setahun saat Maulud. Makam Panembahan Kalibening berjarak 5 km dari Alun-alun Banyumas, arah ke Barat. Setelah 300 meter melewati Makam R. Joko Kaiman kami belok ke kanan dan mengikuti alur jalan. Jalan itu lalu menanjak tajam sebelum mentok di pertigaan. Jika ke kiri sejauh 30 meter sampai ke pendopo, jika lurus adalah trap-trapan undakan ke Makam Panembahan Kalibening.

Setelah memberitahu kuncen bernama Ardja Semita yang ternyata umurnya sudah sepuh, kami menunggu di pendopo tradisional cantik yang berada tepat di depan Museum Kalibening, dengan empat soko guru dan pilar-pilar penunjang. Pada blandar terdapat torehan aksara berbunyi "Keblat papat gapuraning praja", kiblat empat gapuranya negri.

makam panembahan kalibening banyumas

Undakan yang berada persis di pertigaan jalan ini adalah akses menuju ke Makam Panembahan Kalibening dan Sumur Pasucen. Menunggu kuncen yang lama tak muncul, mulailah saya mendaki. Setelah menapak puluhan undakan barulah kuncen Ardja Semita muncul di ujung bawah undakan. Agak was-was juga menunggu kakek yang sudah sepuh itu menaiki undakan dengan dibantu oleh tongkat. Selanjutnya kami beriringan meneruskan langkah kaki dengan pelan menapaki undakan yang masih lumayan jauh.

Konon ketika Kalibening masih menjadi bagian Kadipaten Selarong, wilayah itu tertimpa musim kemarau panjang. Resi Ajar Pamungkas yang waskita lalu meminta Adipati Galagumba (Glagah Amba) untuk bertapa di Gunung Slamet, yang kemudian menerima petunjuk bahwa seseorang akan datang untuk menolong. Tak lama kemudian datang Kaligajati atau Ki Langlanggati.

Lantaran tidak tega melihat penderitaan rakyat, ia pun menancapkan pusakanya di alun-alun Selarong. Saat dicabut, turunlah hujan. Ki Langlanggati lalu tinggal di Dawuhan, dan karena sulit air, ia tancapkan pusakanya hingga muncul air bening dari tanah. Ki Langlanggati kemudian dikenal sebagai Panembahan Kalibening.

Ruas undakan terakhir sebelum sampai di area Makam Panembahan Kalibening memiliki kemiringan yang cukup tajam. Di ujung atas undakan, yang berada di depan cungkup Makam Panembahan Kalibening, terdapat sebuah pendopo yang sekaligus berfungsi sebagai musholla untuk para peziarah untuk sholat dan beristirahat.

Saat itu cungkup Makam Panembahan Kalibening terlihat renta, dan terkesan muram karena adanya tembok pelindung di depan pintu makam. Bangunan utamanya sebenarnya cukup bagus, hanya sudah perlu dicat ulang. Pohon besar tinggi di belakang cungkup selain memberi keteduhan juga menambah aura magis makam, tentu bagi yang mempercayainya.

Uluran tangan dari pemerintah daerah setempat diperlukan untuk membiayai situs semacam ini, oleh sebab cukup sulit mengharapkan kuncen untuk menyisihkan penghasilannya dari derma peziarah yang tak menentu besarannya. Masih ada orang yang bersedia merawatnya pun sudah merupakan hal yang baik, karena orang itu bukan hanya menunggui situs mati namun juga merawat ingatan dan sejarah masa lalu.

Kuncen Ki Ardja Semita yang sudah sepuh kemudian duduk berdoa di teras kecil yang berada persis di depan pintu makam Panembahan Kalibening yang gemboknya baru saja ia buka beberapa saat sebelumnya. Ada bekas bakaran dupa yang telah menggunung, serta barang persembahan berupa nenas, kelapa, dan benda lainnya. Nisan makam tertutupi kain merah putih dengan kembangan abu-abu.

Sesaat kemudian kami meneruskan melangkah menuju ke lokasi Sumur Pasucen. Dalam perjalanan, terlihat ada tengara pada batu yang berbunyi "Rampoengipoen damel Soemoer Pasoetjen 1918", atau selesainya pembuatan Sumur Pasucen pada 1918. Kami mengayun kaku melewati Sumur Lanang dan ketika pulang lewat Sumur Putri, namun kondisi kedua sumur itu dalam keadaan memprihatinkan.

Kami akhirnya sampai di Sumur Pasucen yang konon airnya keluar setelah Panembahan Kalibening menancapkan pusakanya itu. Airnya terus melimpah dari bibir sumur yang bentuknya bundar ini. Air sumur yang luar biasa bening ini terasa sejuk di tangan dan muka. Ki Ardja Semita menyebutkan bahwa ada dua mata air di sumur yang kedalamannya sekitar empat meter ini.

Tri, supir yang menemani sampai termangu melihat begitu jernihnya air Sumur Pesucen. Menggunakan kedua tangannya ia membasuh tangan, muka dan meminum beberapa teguk air yang konon bisa membuat awet muda dan banyak rejeki. Gayung plastik dan gayung yang terbuat dari batok kelapa juga disediakan di tepi sumur.

Dasar Sumur Pasucen terlihat sangat jelas dengan tebaran uang logam di dasarnya. Airnya yang tenang menjadikannya cermin yang sempurna. Meski berada pada ketinggian perbukitan, namun Sumur Pasucen belum lagi di puncak bukit. Puncak bukitnya ada di sebelah Barat pada jarak 575 meter, dan di sebelah Utara berjarak sekitar 600 meter.

Di sekitar Makam Panembahan Kalibening ada Makam Panembahan Putri, Makam Adipati Glagah Amba, dan Makam Panembahan Gunung Padhang atau Ki Ajar Subrata, namun saya tidak ke sana. Setelah menempelkan salam terima kasih kepada Ki Ardja Semita, kami berpamitan di pendopo makam, karena ia masih ingin di sana, mungkin menunggu tamu lain.

Makam Panembahan Kalibening

Alamat : Desa Dawuhan, Kecamatan dan Kabupaten Banyumas. Lokasi GPS : -7.51575, 109.25442, Waze.

Galeri Foto Makam Panembahan Kalibening

Pandangan pada ruas undakan terakhir sebelum sampai di area Makam Panembahan Kalibening dengan kemiringan cukup tajam. Terlihat di atas sana, yang berada di depan cungkup Makam Panembahan Kalibening, terdapat sebuah pendopo yang sekaligus berfungsi sebagai musholla untuk para peziarah untuk sholat dan beristirahat.

Kuncen Ki Ardja Semita yang sudah sepuh itu tampak duduk berdoa di teras kecil yang berada persis di depan pintu makam Panembahan Kalibening yang gemboknya baru saja ia buka beberapa saat sebelumnya. Ada bekas bakaran dupa yang telah menggunung, serta barang persembahan berupa nenas, kelapa, dan benda lainnya. Nisan makam tertutupi kain merah putih dengan kembangan abu-abu.

Sumur Pasucen yang konon airnya keluar setelah Panembahan Kalibening menancapkan pusakanya itu. Airnya terus melimpah dari bibir sumur yang bentuknya bundar ini. Air sumur yang luar biasa bening ini terasa sejuk di tangan dan muka. Ki Ardja Semita menyebutkan bahwa ada dua mata air di sumur yang kedalamannya sekitar empat meter ini.

Pendopo tradisional cantik yang berada tepat di depan Museum Kalibening, dengan empat soko guru dan pilar-pilar penunjang. Pada blandar terdapat torehan aksara berbunyi “Keblat papat gapuraning praja”, kiblat empat gapuranya negri.

Jalanan yang diperkeras dengan tatanan batu agar tidak berlumpur dan licin diwaktu hujan. Jalanan yang cukup rapi ini sudah berada di perbukitan Makam Panembahan Kalibening setelah melewati undakan pertama yang berawal di pertigaan Desa Dawuhan itu.

Di ujung sana adalah Ki Ardja Semita yang menyusul dengan berjalan pelan. Agak was-was juga melihat kakek yang sudah sepuh itu menaiki undakan menggunakan tongkat. Ketika ia sampai di tempat saya menunggu, nafasnya sudah sedikit memburu dan pendek-pendek. Beriringan kami pun meneruskan langkah kaki dengan pelan menapaki undakan yang ternyata masih lumayan jauh.

Lintasan jalan berbatu dan berundak yang baru saja kami lewati. Meskipun lumayan jauh dan menanjak jalan menuju ke Makam Panembahan Kalibening ini, namun tak sampai keluar keluhan dari mulut saya, lagi pula malu dengan Ki Ardja Semita yang jauh lebih tua namun masih kuat berjalan beriringan, meski harus dibantu dengan tongkat.

Cungkup Makam Panembahan Kalibening juga terlihat sudah renta dan terkesan agak kumuh. Jika saja tembok tempat menempel tulisan “Mbah Kalibening” itu dibongkar dan dibuat pendopo terbuka, sengnya diganti sirap, dan tiang-tiangnya ditegakkan dengan baik, cungkup ini akan terlihat jauh lebih cantik karena bangunan utamanya sudah cukup bagus, hanya perlu dicat ulang.

Ki Ardja Semita yang berkopiah dan berbaju batik tampak duduk bersila di teras di depan pintu makam Panembahan Kalibening atau Ki Langlanggati, yang gembok pintunya baru saja ia buka. Panjat doa pun mengalir dari mulutnya, yang kami amini. Di sebelah kiri terdapat tulisan yang berbunyi "Tempat berdoa dan mujahadah". Mujahadah bisa diartikan sebaga mencurahkan segala kemampuan untuk mencapai sesuatu.

Bangunan inti cungkup Makam Panembahan Kalibening itu sebenarnya cukup cantik. Akan terlihat lebih elok dan angguna jika saja dilakukan pengecatan ulang dengan kualitas pengecatan yang baik, tiang-tiangnya diganti dan diberi umpak yang baik, serta keramik lantainya diganti dengan kualitas yang lebih baik dan harmonis dengan cungkupnya. Ada baiknya atapnya juga ditinggikan.

Di atas pintu masuk ke dalam cungkup makam yang telah digembok lagi oleh kuncen itu terdapat sebilah papan dengan relief huruf Jawa dan di bawahnya ada lagi tulisan Arab gundul. Tak bisa saya membaca kedua tulisan itu. Hanya tulisan di sebelah kanannya yang berbunyi "Dilarang Tidur Di Sini" yang bisa saya baca...

Pendopo di depan cungkup Makam Panembahan Kalibening yang sekaligus berfungsi sebagai musholla untuk para peziarah untuk sholat dan beristirahat. Pendopo yang terlihat sudah tua dan ringkih atapnya ini mudah-mudahan sudah diperbaiki menjadi jauh lebih baik ketika anda berkunjung ke sana. Mungkin karena hawa di sini sangat dingin pada malam hari, sehingga ketiga sisi pendopo ini tertutup rapat.

Tengara terbuat dari batu yang berbunyi “Rampoengipoen damel Soemoer Pasoetjen 1918?, atau selesainya pembuatan Sumur Pasucen pada 1918. Kami melewati Sumur Lanang dan ketika pulang melewati Sumur Putri, namun kondisi keduanya dalam keadaan memprihatinkan.

Cungkup dimana di dalamnya terdapat Sumur Pasucen. Cungkup ini sehari-hari pintunya digembok dan hanya dibuka oleh Ki Ardja Semita ketika ada tamu yang datang berkunjung.

Dasar Sumur Pasucen terlihat sangat jelas dengan tebaran uang logam di dasarnya. Airnya yang sangat bening dan tenang menjadikannya cermin yang benar-benar sempurna. Jika saja tidak ada uang logam di bawah sana, maka anyaman bambu pada langit-langit cungkup sumur Pesucen ini akan tampak seperti asli.

Sumur Putri yang kami lewati setelah berjalan meninggalkan lokasi Sumur Pesucen menuju kembali ke pendopo Makam Panembahan Kalibening. Kondisinya yang tampak kumuh membuat saya tak tertarik untuk mampir melihat ke dalamnya. Semoga saja cungkup sumur ini sekarang sudah diperbaiki.



Spoiler for Makam Panembahan Kalibening:




SUMUR >>> Makam Panembahan Kalibening


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di