CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Banyumas /
[CoC Regional: Lokasi Wisata] Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja Banyumas
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6b18164601cf5957151cad/coc-regional-lokasi-wisata-kelenteng-hok-tek-bio-sokaraja-banyumas

[CoC Regional: Lokasi Wisata] Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja Banyumas

Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja akhirnya saya kunjungi juga. Karena datang dari arah Purwokerto, saya turun dan menyeberangi Jl Jenderal Sudirman Sokaraja. Pintu pagar kelenteng terlihat tertutup dan tak ada tempat parkir di depan kelenteng. Tri lanjut mencari tempat parkir setelah belok kanan di pertigaan jalan.

Pintu kembar kelenteng tidak digembok sebagaimana saya duga semula. Dengan menggeser daun pintu pagar saya pun bisa melangkah masuk ke dalam halaman kelenteng. Suasana Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja masih terlihat sepi pagi itu. Waktu sembahyang belum lagi tiba.

Ruang tengah Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja ini setengah terbuka. Ada bagian tanpa dinding yang berada di sebelah kiri kanan ruangan, diselang-seling dengan tembok tertutup. Pada tembok itu terdapat lukisan dinding yang besar dan indah. Lukisan itu merupakan sumbangan Soegiarto yang berasal dari Mojokerto, diberikan pada 10 Oktober 2002.

kelenteng hok tek bio sokaraja banyumas

Tampak muka Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja yang terlihat cantik dengan sepasang naga berebut mustika di atas wuwungan gapura beratap pelana. Gapura Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja ini letaknya terpisah dari bangunan utama, berjarak sekitar 1,5 meter di depannya. Namun karena tidak ada tembok di kiri kanannya maka gapura ini terlihat agak unik.

Di atas tiang kiri, terdapat relief burung hong, di tiang kanan ada relief naga, dan di keempat tiangnya terdapat relief lukisan daun, buah, bunga, seruling, pohon bambu, obor, pedang, kipas, dan labu. Pada kedua sisi dinding luar terdapat relief dewa berpakaian perang dengan tangan memegang pedang terhunus, berdiri melayang di atas awan.

Meskipun sejak kecil saya gemar membaca cerita silat Cina karangan Asmaraman Sukowati Kho Ping Ho, yang meramu dengan sangat indah imajinasi tentang kesaktian para pendekar rimba hijau yang tanpa batas, filosofi kehidupan yang dalam, dan hubungan asmara serta seks yang halus, namun saat itu tak pernah terpikir untuk mencoba berkunjung dan masuk ke dalam kelenteng yang ada di Purwokerto dan Sokaraja, meski sering lewat.

Pada salah satu dinding ruang depan terdapat lukisan seorang raja dengan panglima perang dan seorang sastrawan. Raja itu adalah Kwan Kong, panglima perangnya adalah pengawal setianya bernama Ciu Chong, dan sastrawannya adalah anak angkatnya bernama Koan Phing. Lukisan yang indah ini juga sumbangan Soegiarto pada 10 Oktober 2002.

Lukisan Dewi Kwan Im di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja, digambarkan berada di atas awan bersama seekor naga. Lukisan ini disumbangkan oleh Oeng Fa Sing, Fujing, Fujian, Cina, yang juga diberikan pada 10 Oktober 2012. Entah ada peristiwa apa pada tanggal itu, sehingga sumbangan lukisan-lukisan itu semuanya diberikan pada hari yang sama.

Ada pula lukisan Dewi Kwan Im lainnya yang digambarkan tengah duduk di atas sekuntum bunga teratai yang elok, dilayani seorang dayang kecil serta dijaga oleh seekor naga bersisik hijau dengan garis kuning di perutnya. Lukisan cantik ini merupakan sumbangan Oeng Hie In dari Jian Wan Cowloon, Hongkong, diberikan pada 10 Oktober 2002.

Di sebuah altar tampak hiolo keemasan berukir cantik diapit tempat lilin. Ada altar pemujaan Kwan Tee Koen (Kwan Kong) di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Kwan Tee Koen (160-219) adalah jenderal utama Negara Shu Han pada Jaman Tiga Negara. Ia dilahirkan di Kabupaten Jie, wilayah Hedong (sekarang kota Yuncheng, Provinsi Shanxi).

Altar Ji Kong pun ada di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Ji Kong (Ji Gong) dipuja sebagai pahlawan, didaulat sebagai dewa dan sering diundang para cenayang. Ia digambarkan mengenakan pakaian pendeta dengan sebotol anggur di tangan kanan dan kipas sakti di tangan kirinya. Pada kepalanya terdapat topi bertuliskan huruf Fo yang berarti Buddha.

Ada altar pemujaan Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja bagi Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi) yang disembah para petani agar mendapatkan panen yang melimpah dan dipuja para pedagang agar rizki mereka dalam perniagaan selalu berjalan lancar. Sebuah altar di bagian bawah merupakan tempat sembahyang bagi Lao Hu Shen (Dewa Macan) dan Long Shen (Dewa Naga).

Seingat saya, di semua kelenteng yang pernah saya kunjungi termasuk di Kelenteng Hok Tek Bio Pasar Wage, altar untuk Dewa Macan ini selalu berada di dalam kolong. Di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja juga ada altar untuk Kwan She Im Pho Sat. Pada jaman Tiongkok kuno, Kwan She Im Pho Sat telah dikenal dengan sebutan Pek Ie Tai Su, Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih, atau Dewi Welas Asih.

Setelah agama Buddha masuk dan berkembang di Tiongkok, Dewi Kwan Im diasosiasikan dengan perwujudan Buddha Avalokitesvara. Di kelenteng ini juga ada altar pemujaan Buddha dalam wujud Omi Tho Hut, Bi Lek Hut, dan Sakyamuni Hut. Meskipun kecil, Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja terlihat cukup terawat, dan ada petugas kebersihannya.

Senang juga telah berkunjung ke Kelenteng ini lantaran sejak kecil tsering lewat di depannya namun baru kali itu masuk ke dalamnya. Jika melintas di Sokaraja, sebelum atau sesudah makan Sroto Kecik, Sroto Lama H Suradi, atau Sroto Sutri dan membeli oleh-oleh Getuk Goreng, sempatkan mampir ke Hok Tek Bio Sokaraja, kelenteng tua yang dibangun pada tahun 1826 ini.

Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja

Alamat : Jalan Jenderal Sudirman, Sokaraja, Banyumas. Lokasi GPS : -7.4577306, 109.2984509, Waze.

Galeri Foto Kelenteng Hok Tek Bio

Altar pemujaan Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja bagi Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi) yang disembah para petani agar mendapatkan panen yang melimpah dan dipuja para pedagang agar rizki mereka dalam perniagaan selalu berjalan lancar. Sebuah altar di bagian bawah merupakan tempat sembahyang bagi Lao Hu Shen (Dewa Macan) dan Long Shen (Dewa Naga).

Lukisan pada dinding lain menggambarkan seorang raja dengan panglima perang dan seorang sastrawan. Belakangan baru saya ketahui bahwa yang saya kira raja adalah Kwan Kong, panglima perang itu adalah pengawal setianya bernama Ciu Chong, serta yang berpakaian sastrawan adalah anak angkatnya bernama Koan Phing.

Dewi Kwan Im yang digambarkan tengah duduk di atas bunga teratai, dilayani seorang dayang kecil dan seekor naga bersisik hijau dengan garis kuning di perutnya. Lukisan cantik ini merupakan sumbangan Oeng Hie In dari Jian Wan Cowloon, Hongkong, juga diberikan pada 10 Oktober 2002.

Hiolo keemasan berukir cantik diapit oleh dua buah tempat lilin. Meskipun berukuran relatif kecil, namun Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja saat itu terlihat cukup terawat dengan baik.

Pemandangan pada pintu ruangan Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja, dengan altar utama sebagai tempat sembahyang bagi Dewa Bumi (Hok Tek Ceng Sin). Rizki dan kemakmuran memang menjadi impian semua orang. Yang membedakan adalah bagaimana cara memperoleh dan saat membelanjakannya.

Sebuah lukisan indah yang menggambarkan seorang panglima perang dengan golok beruikir tangkai panjang tengah mengawal dua orang puteri yang duduk di atas kereta beroda dua, berkelambu, yang didorong dengan tenaga manusia. Di belakangnya berbaris sejumlah prajurit. Di atas bukit di latar belakang terlihat sebuah bangunan besar beratap pelana.

Sebuah altar pada bagian bawah yang merupakan tempat sembahyang bagi Lao Hu Shen (Dewa Macan) dan Long Shen (Dewa Naga). Seingat saya, hampir di semua kelenteng yang pernah saya kunjungi, altar untuk Dewa Macan ini selalu berada di dalam kolong.

Pemandang pada tiga altar utama di ruangan Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Meski terkesan sederhana, namun kelenteng ini cukup bersih dan terawat.

Altar pemujaan Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja untuk Kwan She Im Pho Sat, atau Dewi Kwan Im. Pada masa Cina kuno, Kwan She Im Pho Sat dikenal dengan sebutan Pek Ie Tai Su, Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih, atau Dewi Welas Asih. Setelah agama Buddha masuk dan berkembang di Cina, Dewi Kwan Im diasosiasikan dengan perwujudan Buddha Avalokitesvara.

Altar pemujaan Buddha di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja dalam wujud Omi Tho Hut, Bi Lek Hut, dan Sakyamuni Hut.

Inilah altar utama di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja dilihat dari samping. Seorang petugas perempuan baru saja selesai memeriksa kelengkapan setiap altar, diantaranya mengisi minyak pada belanga agar pelita tidak sampai mati.

Altar Ji Kong di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Ji Kong (Ji Gong) dipuja sebagai pahlawan di Cina dan kemudian didaulat sebagai dewa dan sering diundang para cenayang untuk membantu urusan dunia. Ia digambarkan mengenakan pakaian pendeta dengan sebotol anggur di tangan kanan dan sebuah kipas sakti di tangan kirinya. Pada kepalanya terdapat topi bertuliskan huruf Cina Fo yang berarti Buddha.

Tampak samping pada bagian depan Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Senang juga telah berkunjung ke Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja, lantaran sejak kecil telah sering lewat di depannya namun baru kali itu masuk ke dalamnya.





Spoiler for Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja Banyumas:




SUMUR >>> Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja Banyumas


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di