CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Madura /
[COC Regional : Kesenian] Dua Tarian Khas Dari Pamekasan Yang Melegenda
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6afe38facb9579a64985f0/coc-regional--kesenian-dua-tarian-khas-dari-pamekasan-yang-melegenda

[COC Regional : Kesenian] Dua Tarian Khas Dari Pamekasan Yang Melegenda

Dua Tarian Khas Dari Pamekasan Yang Melegenda

Assalamualaikum Wr. Wb.
Halo gan sist kaskuser raya dimanapun kalian berada
Sehubungan dengan adanya event COC Serentak seluruh regional se-Kaskus Raya, ane ikut serta meramaikan nih. Kali ini bertema tentang kesenian, lebih tepatnya seni tari.
Silakan disimak dan ditunggu komentarnya ya gan sist...

emoticon-Kaskus Lovers emoticon-Kaskus Lovers emoticon-Kaskus Lovers

[COC Regional : Kesenian] Dua Tarian Khas Dari Pamekasan Yang Melegenda


Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa. Tak heran jika Indonesia kaya akan seni dan budaya. Namun tak sedikit kesenian yang hampir punah. Oleh karena itu, agar tetap lestari, berbagai upaya dilakukan. Seperti di daerah Pamekasan, Madura, Jawa Timur, yang melestarikan salah satu kesenian unggulan daerahnya. Nama kesenian tersebut adalah Tari Topeng Gethak.

tari topeng gethak merupakan salah satu tari tradisional yang menjadi bagian dari seni pertunjukan Ludruk Sandur. Seni pertunjukan Ludruk Sandur atau kesenian Sandur merupakan jenis kesenian rakyat yang paling banyak digemari di Pamekasan, Madura. Kesenian Sandur selalu hadir dalam setiap acara seperti pesta perkimpoian, khitanan dan lain-lain. Maka tak heran semua masyarakat di wilayah Pamekasan mengenal kesenian ini. Dalam pertunjukan Ludruk Sandur, tari topeng gethak hadir sebagai pembuka pertunjukan kesenian tersebut.

Tari Topeng Gethak awalnya dikenal dengan nama Tari Klonoan. Setiap gerakan dari Tari Klonoan selalu tergantung pada bunyi kendang yang berbunyi “Ge” dan “Tak”. Bunyi kendang itulah yang menjadikan tari tradisional ini dinamakan Tari Topeng Gethak. Hingga saat ini, nama Klonoan sudah tidak lagi digunakan dan berubah menjadi Topeng Getak.

Seni tari tradisional ini menggambarkan sosok seorang tokoh bernama Prabu Baladewa dalam pertunjukan Topeng Dhalang Madura. Tokoh tersebut merupakan tokoh yang sangat dibanggakan oleh masyarakat Madura. Baladewa merupakan tokoh dengan karakter yang kuat, kaku, berpikiran terbuka dan lurus dalam mengungkap setiap masalah. Karakter tersebut dianggap menggambarkan karakter orang Madura pada umumnya.

pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan telah menetapkan Tari Topeng Getak sebagai Tari Khas Unggulan Kabupaten Pamekasan. Sejak tahun 2010, tari topeng gethak mulai diajarkan kepada siswa sebagai kegiatan kurikuler. Hal ini dinilai cukup efektif untuk menjaga kelestarian tari tradisional tersebut. Dalam rangka memeriahkan hari jadi ke-489 kota Pamekasan dan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut, pemerintah daerah setempat bersama stakeholder dan elemen masyarakat menggelar Malam Kemilau Madura 2019 semalam suntuk dari Sabtu hingga Minggu, 26-27 Oktober 2019.

Para seniman memainkan sebuah tari kolosal yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan yang diikuti 489 penari. Mereka memainkan tari 'Topeng Gethak' dalam pagelaran yang berlangsung di Taman Mandhapa Aghung Ronggosukowati, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (27/10/2019).

Tari Topeng Gethak

[COC Regional : Kesenian] Dua Tarian Khas Dari Pamekasan Yang Melegenda


Tari Topeng Gethak atau dulu disebut Tari Klonoan, merupakan salah satu tarian tradisional yang menjadi bagian pembukaan seni pertunjukan Ludruk Sandur di Pulau Madura. Seni pertunjukan Ludruk Sandur atau kesenian Sandur merupakan jenis kesenian rakyat yang paling banyak digemari di Kabupaten Pamekasan. Tak heran, kesenian Sandur selalu hadir dalam setiap acara seperti pesta perkimpoian, khitanan dan lain-lain.

Dalam iringan musik tradisional, para penari berlenggak-lenggok mengikuti suara tabuh kendang. Tarian ini memang khas dilakukan secara kolosal karena mengandung filosofi perjuangan warga Pamekasan saat mengumpulkan massa untuk bergerak merebut kemerdekaan dari penjajah. Uniknya, tari 'Topeng Gethak' sebenarnya diawali oleh satu hingga tiga penari, kemudian perlahan bertambah banyak.

Ada dua versi hingga tarian ini disebut 'Topeng Gethak'. Untuk topeng itu tetap sebagai benda yang digunakan menutup wajah penari, sedangkan kata 'gethak' konon muncul karena tarian ini identik dengan suara khas kendang yang berbunyi 'get' dan 'tak'. Sementara versi kedua untuk kata 'gethak' dikatakan berasal dari gerak kaki para penari yang menghentak-hentak lantai.

Tari 'Topeng Gethak' muncul pertama kali pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, dan menjadi suguhan seni dan budaya khas bagi para tamu Belanda yang berkunjung ke Pamekasan kala itu.

Dalam konteks ketokohan, seperti dilansir VOI-RRI, seni tari tradisional ini menggambarkan sosok seorang tokoh bernama Prabu Baladewa dalam pertunjukan Topeng Dhalang Madura. Tokoh tersebut sangat dibanggakan oleh masyarakat Madura. Baladewa merupakan tokoh dengan karakter yang kuat, kaku, namun berpikiran terbuka dan lurus dalam mengungkap setiap masalah. Karakter tersebut dianggap menggambarkan karakter orang Madura pada umumnya.

pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan telah menetapkan Tari Topeng Getak sebagai Tari Khas Unggulan Kabupaten Pamekasan. Sejak tahun 2010, tari topeng gethak mulai diajarkan kepada siswa sebagai kegiatan kurikuler. Hal ini dinilai cukup efektif untuk menjaga kelestarian tari tradisional tersebut.

Tari Rondhing


Tari Rondhing adalah suatu drama tari komedi tradisional, yang menggambarkan tentang kegiatan baris-berbaris pada jaman penjajahan.Karenanya, seni tari asli Pamekasan, Madura, Jawa Timur ini, disebut juga tari baris. Ada pula yang menyebutnya tari kenca’ atau hentak, karena gerak tariannya dominan berupa gerak kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai. Tari rondhing ditarikan oleh lima orang. Pada tarian ini tergambar pola baris-berbaris ibarat sebuah pasukan. Oleh karena itu, tari rondhing juga disebut tari baris. Rondhing ini kan berasal dari "rot" artinya mundur, dan "kot-konding" artinya bertolak pinggang. Jadi tari rondhing ini memang menggambarkan tarian sebuah pasukan bagaimana saat melakukan baris-berbaris.
Nilai filosofis yanng terkandung dalam kedua jenis tari ini, diangkat dari perjuangan masyarakat kota Pamekasan ketika melawan kompeni pada masa penjajahan Belanda dulu. Sebagaimana tari 'rondhing', tari topeng 'gethak' juga mengandung nilai filosofis perjuangan warga Pamekasan saat berupaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dulu.

Tarian Rondhing dipentaskan oleh enam orang penari. Biasanya, tarian ini ditampilkan pada saat acara penyambutan tamu penting. Enam penari yang seluruhnya gadis remaja ini, tampak lincah dan tegap. Kaki-kaki mereka terus menghentak-hentak lantai marmer pendopo.



Quote:
Diubah oleh bojes6969


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di