CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Aceh /
[COC Regional : Lokasi Wisata] Cut Zein Sebenar Benarnya Kedai Kopi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6afdc5337f93392c0940d1/coc-regional--lokasi-wisata-cut-zein-sebenar-benarnya-kedai-kopi

[COC Regional : Lokasi Wisata] Cut Zein Sebenar Benarnya Kedai Kopi

Terang belum lagi menyinari Kota Banda Aceh. Hiruk pikuk sudah mulai terlihat dari dapur, selepas subuh berlalu. Beberapa pramusaji mulai menyusun kursi dan meja di teras depan kedai kopi. Terlihat beberapa pengunjung memasuki kedai, sepertinya baru saja pulang dari mesjid. Pakaian gamis yang khas, kemeja koko, kopiah dan sarung. Dengan cekatan para pramusaji menghantarkan separuh gelas kopi dan air putih hangat. Bertemankan penganan pagi, perhelatan kedai kopi untuk pagi ini kembali digelar. Jarang sekali kedai kopi di Banda Aceh yang memulai aktifitas sejak subuh. Kebanyakan kedai kopi mulai beraktifitas pukul 7 pagi hari.

Matahari belum lagi benar benar muncul, nyaris semua meja sudah terisi penuh oleh pengunjung. Sesekali terdengar gelak tawa atau suara lantang menggema. Seperti inilah suasana kedai kopi di era 1990an. Silaturahmi terjalin penuh dari secangkir kopi, tiada permainan digital, tiada internet. Di beberapa sudut terlihat pesan-pesan bertuliskan larangan bermain game di telepon seluler. Bahkan ada pesan yang sangat bijak "jangan sia-siakan waktumu". Sepertinya pengelola kedai kopi ini juga ingin mengajak para pengunjungnya untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Tidak jarang juga pengunjung saling bertemu disini untuk membicarakan bisnis dan pekerjaan.
Spoiler for Kubra:

Cut Zein demikian nama kedai kopi ini, meski tidak sedikit pengunjung yang menyebutnya dengan sebutan Kubra atau Kupi Beurawe. Cut Zein merupakan pemilik dari kedai kopi tradisional yang terletak di sudut Gampong Beurawe. Tidaklah kesulitan untuk menemukan lokasinya, karena alamat kedai kopi ini sudah tersedia di Map Elektronik. Keunikan dari kedai kopi ini adalah jam operasionalnya. Kedai akan dibuka selepas shalat subuh dan tutup menjelang pukul 6 sore karena menjelang waktu shalat magrib. Sementara kebanyakan kedai kopi lain akan buka hingga malam larut. Cut Zein juga akan berhenti beroperasi ketika menjelang ibadah shalat jumat. Selain itu Kedai Kopi Cut Zein akan berhenti total beroperasi selama bulan ramadhan, pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi jika ingin menikmati kopi disini, harap memperhatikan jam dan waktu operasionalnya.

"Teman Bewok sanger satu, Bank Aceh encer dua khan"
Demikian teriak pramusaji kepada tukang saring kopi di dapur. Pesan-pesan seperti ini akan sangat lumrah kita dengar di Cut Zein. Setiap pelanggan yang rutin berkunjung kemari akan mendapatkan sebutan yang berbeda-beda. Dan anehnya, hanya pramusaji dan juru saring kopi yang mengerti takaran pesanan masing masing pelanggan. Sanger merupakan kopi yang dibubuhi susu kental. Rasanya manis bercampur asam. Sementara maksud dari pesanan encer adalah ragam kekentalan air kopi. Apakah dipesan dengan rasa yang pekat (kental) atau tingkat yang paling rendah (encer). Sementara khan adalah potongan kata sikhan yang dalam bahasa Aceh bermakna setengah porsi. Selain sikhan, biasanya digunakan istilah pancung.
Spoiler for Kopi Sikhan:

Jika kali pertama datang ke Cut Zein, janganlah mengherankan jika disuguhi kopi murni atau kopi pahit. Karena juru saring kopi belum mengetahui kadar gula yang kita inginkan. Tersedia gula pasir di meja. Atau tidak jarang kita akan disuguhkan level kopi terendah. Karena kadar kopi yang disajikan di Cut Zein masuk dalam kategori kopi yang berkualitas tinggi atau kami kerap menyebutnya dengan istilah kopi yang keras. Karena tingkat keasamannya sangat berpengaruh pada kondisi lambung kita. Itu karenanya kedai kopi ini kerap menyajikan buah pisang. Pisang dianggap dapat menjadi penganan yang mampu menetralisir asamnya kopi pada lambung.

Menjelang pagi datang, meja-meja mulai disesaki dengan sarapann pagi. Layaknya kedai kopi lain di Aceh, Cut Zein juga menyediakan sarapan pagi lontong, nasi gurih, nasi kuning, hingga nasi perang. Nasi perang merupakan nasi yang dibungkus dengan daun dan siap saji. Seperti nasi kucing yang tersedia di angkringan. Porsinya tidak terlalu banyak, cukup untuk mengganjal perut di pagi hari. Hingga saat ini saya belum mendapatkan referensi yang kuat kenapa disebut dengan nama nasi perang. Konon dibungkus dengan daun pisang agar bertahan lama, porsi yang tidak banyak agar mudah dibawa bepergian dan dapat dihabiskan dalam waktu yang relatif singkat, layaknya orang yang sedang berperang.
Spoiler for Ayo Ngopi:

Setiap pergantian waktu, akan terlihat pula pergantian para pengunjung yang datang. Setelah pagi datang, giliran para pekerja dan mahasiswa yang singgah. Hal ini terlihat dari ragam pakaiannya. Kebanyakan masyarakat Aceh memang mengawali pagi dengan sarapan secangkir kopi. Selain atraksi juru saring kopi, satu hal yang tidak dapat dilewatkan dari kedai kopi ini adalah ketika waktu tutup tiba. Seorang juru hitung akan berkeliling ke tiap-tiap meja, dia akan menghitung jumlah tagihan para pelanggan dengan sangat cepat bahkan tanpa alat bantu hitung. Dengan selesainya transaksi pembayaran, maka selesai juga jam operasional Cut Zein. Maka berakhir pula masa kunjung pelanggan, seolah ini adalah cara mengusir yang paling halus. Tapi tenang saja, bagi pelanggan yang belum menghabiskan kopi pesanannya, masih dapat menikmati dengan pindah ke teras depan. Kursi dan meja akan tetap tersedia meski kedai kopi Cut Zein sudah berhenti beroperasi untuk hari ini.

Spoiler for Belum Ke Kutaraja kalau Belum Ke Kubra:
Diubah oleh PriNx
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di