CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Bengkulu /
[ COC Regional : Kesenian ] Tari Kejei, Warisan Leluhur Suku Rejang
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6ae5cedbf76408d11130a1/coc-regional--kesenian--tari-kejei-warisan-leluhur-suku-rejang

[ COC Regional : Kesenian ] Tari Kejei, Warisan Leluhur Suku Rejang

[ COC Regional : Kesenian ] Tari Kejei, Warisan Leluhur Suku Rejang
Tari Kejei merupakan kesenian rakyat Rejang yang dilakukan pada setiap upacara kejei berlangsung. upacara kejei merupakan hajatan terbesar di suku rejang. dikatakan hajatan terbesar karena yang mengangkat hajat kejei tersebut merupakan orang-orang yang mampu.dengan pemotongan beberapa kerbau, kambing atau sapi sebagai syarat sah nya upacara kejei. Tarian tersebut dimainkan oleh para muda-mudi di pusat-pusat desa pada malam hari di tengah-tengah penerangan lampion.tarian ini sebagai ajang perkenalan antara bujang dan gadis suku rejang.
Area teritorarial Rejang sendiri teridiri dari beberapa kabupaten yaitu Kabupaten Lebong, Kabupaten Rejang lebong, dan kabupaten Kepahiang, dan beberapa suku pendatang di daerah Provinsi Bengkulu lainnya.
 [ COC Regional : Kesenian ] Tari Kejei, Warisan Leluhur Suku Rejang
Kekhasan tari ini adalah alat-alat musik pengiringnya terbuat dari bambu, seperti kulintang, seruling dan gong. Tarian dimainkan sekelompok orang yang membentuk lingkaran dengan berhadap-hadapan searah menyerupai jarum jam.
Tarian ini pertama kali dilaporkan oleh seorang pedagang Pasee, bernama Hassanuddin Al-Pasee yang berniaga ke Bengkulu pada tahun 1468. Tapi, ada pula keterangan dari Fhathahillah Al Pasee, yang pada tahun 1532 berkunjung ke tanah redjang. Tari Kejei pertama kali dibawakan saat pernikahan Putri Senggang dengan Biku Bermano., yang menurut kisahnya buku pelaksanaan "kejei" tersebut disimpan di dalam perut Biku Bermano. "Kejei" pertama kali dilaksanakan adalah kejei pernikahan Putri Senggang dan Biku Bermano.
 
Tari Kejei dipercaya sudah ada sebelum kedatangan para biku dari Majapahit. Sejak para biku datang, alat musiknya diganti dengan alat dari logam, seperti yang digunakan sampai saat ini. Acara kejei dilakukan dalam masa yang panjang, bisa sampai 9 bulan, 3 bulan, 15 hari atau 3 hari berturut-turut.
Tari ini adalah tarian sakral yang diyakini masyarakat mengandung nilai-nilai mistik, sehingga hanya dilaksanakan masyarakat Rejang dalam acara menyambut para biku, perkimpoian dan adat marga. Pelaksanaan tari ini disertai pemotongan kerbau atau sapi sebagai syaratnya.
 
Kejei merupakan salah satu tarian adat Bengkulu. Keberadaannya melekat pada Upacara Kejei, upacara perkimpoian di Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Sebuah kesenian tradisi yang disajikan oleh para penari berpasangan putra dan putri. Umumnya berjumlah ganjil dan diharuskan dari suku berbeda.
Sebagai bagian dari rangkaian upacara adat perkimpoian, tari ini tidak hanya dibawakan oleh penarinya saja, melainkan juga melibatkan mempelai pria dan wanitanya. Hal ini dimaksudkan sebagai pertanda pelepasan masa lajang kedua mempelai.
 [ COC Regional : Kesenian ] Tari Kejei, Warisan Leluhur Suku Rejang
Selain sebagai hiburan dan tari pergaulan, Kejei juga merupakan tarian sakral yang mengandung nilai mistik. Ada beberapa aturan yang mengikat, termasuk para penari perempuannya harus masih perawan dan dalam keadaan suci. Jumlah ganjil diyakini akan digenapi oleh arwah nenek moyang.
pada aturan-aturan tradisi yang sudah ada. Selain dilestarikan turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, tarian jenis ini terikat oleh fungsi yang membuatnya diciptakan.
 
Tersebutlah salah satunya di Indonesia, yakni Tari Kejei yang keberadaannya melekat pada upacara adat perkimpoian, Upacara Kejei di Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.
 
Tari Kejei adalah kesenian tradisi yang disajikan oleh para penari berpasangan putra dan putri yang umumnya berjumlah ganjil yang diharuskan dari suku yang berbeda.
Sebagai bagian dari rangkaian upacara adat perkimpoian, tari ini tidak hanya dibawakan oleh penarinya saja, melainkan juga melibatkan mempelai pria dan wanitanya sebagai pertanda pelepasan masa lajang kedua mempelai.
 
Perihal namanya, yang juga sama dengan nama upacaranya, upacara Kejei, nama Kejei berasal dari bahasa Rejang yang berarti perayaan besar.
 
Selain difungsikan sebagai hiburan dalam upacara adat serta sebagai ajang perkenalan antara bujang dan gadis, tari ini juga merupakan tarian sakral yang mengandung nilai mistik.
 
Dalam penyajiannya ada beberapa aturan yang wajib dipenuhi, termasuk para penari perempuannya harus masih perawan dan dalam keadaan suci.
Perihal jumlah pasangan penari ganjil, diyakini jumlah tersebut akan digenapi oleh arwah nenek moyang. Selain itu, pelaksanaan upacaranya juga disertai dengan pemotongan beberapa kerbau, kambing atau sapi sebagai syarat yang diwajibkan.
 
Sekilas Sejarah Tari Kejei
Ketika merujuk pada Wikipedia, sejarah lahirnya tarian tradisional Bengkulu ini bermula di tahun 1468. Dimulai dari laporan seorang pedagang Pasee bernama Hassanuddin Al-Pasee yang berniaga ke Bengkulu. Ada juga keterangan dari Fhathahilla Al Pasee yang berkunjung ke tanah Redjang di tahun 1532.
Untuk pertama kalinya, upacara Kejei beserta penyajian Tari Kejei diadakan saat pernikahan Putri Senggang dengan Biku Bermano. Ada kisah yang menyebutkan bahwa buku pelaksanaan “kejei” tersebut disimpan di dalam perut Biku Bermano.
 
Tarian ini dipercaya telah ada sebelum kedatangan para biku dari Majapahit. Semenjak mereka datang, alat musiknya diganti dengan alat dari logam, seperti yang digunakan hingga saat ini.
Upacara Kejei ini dilaksanakan dengan durasi yang sangat panjang. Ada yang sampai 9 bulan, 3 bulan, 15 hari, serta ada juga yang hanya 3 hari berturut-turut. Oleh karena itu, Kejei disebut sebagai hajatan terbesar yang biasanya hanya dilaksanakan oleh orang-orang mampu.
 
Pelaksanaan & Penyajian Tari Kejei
Sebelum Tari Kejei dimulai, salah satu syarat wajibnya adalah melaksanakan Upacara Kejei. Tarian ini disajikan pada waktu acara yang disebut bimbang adat atau puncak pernikahan di sebuah panggung terbuka yang dinamakan balai Kejei.
Awalnya, para penari menyambut kedatangan kedua mempelai dengan membawa cerano berisi sirih sebagai lambang penghormatan. Para penari mengikuti kedua mempelai bersama pihak keluarga menuju balai Kejei.
Di balai tersebut, para penari memulai dengan gerak sembah yang dilakukan tiga kali, yakni kepada pengurus adat, tamu dan sembah untuk pasangan penari sebagai salam perkenalan dan mengajak menari.
Gerakan selanjutnya adalah gerak beradap salah pinggang, yang mana antara penari putra dan putri tidaklah sama. Setelah itu, mereka berjalan mengelilingi penei (meja sesaji) dan bertukar tempat.
Dalam hal ini, penari putri membawakan gerak elang menyongsong angin, sementara penari putra melakukan gerak yang disebut ngajak. Kemudian, para penari pun kembali bertukar tempat (kembali ke arenanya semula) dan memulai gerakan patah dayung.
Mereka berjalan ditempat sebanyak delapan hitungan, memulai dengan kaki kanan, posisi badan tegak lurus dan pandangan menghadap ke pasangan menari.
Gerakan ini menjadi penanda berakhirnya tarian ini. Setelah itu dua orang penari bersama para pengawal mengantarkan kedua mempelai ke pelaminan.
Tarian Kejei disajikan dengan diiringi alat musik tradisional berupa satu buah gong, lima buah kulintang dan satu buah redap. Seperangkat alat musik ini sangatlah penting keberadaannya.
Bahkan sebelum memulai tarian, ada ritual khusus untuk penurunan alat musik dari tempat penyimpanan yang disebut temu’un gung klintan. Selain alat musik, tarian ini juga diiringi oleh beberapa lagu khas Rejang yang sebelumnya telah disepakati.
 
Tata Busana & Tata Rias Tari Kejei
Dalam suatu pertunjukan tari, rias tidak bisa lepas dari busana dan menjadi satu kesatuan yang mendukung untuk mendukung unsur keindahan visual.
Meski sederhana, keduanya penting untuk menarik perhatian penonton. Untuk tata rias penari putri menggunakan rias panggung, yakni rias cantik, sedangkan penari putra menggunakan riasan natural.
Dalam hal busana, penari Kejei menggunakan busana adat Rejang Lebong. Penari putra menggunakan baju jas belango hitam, celana dasar hitam, penutup kepala (cek’ulew), selempang kanan ke kiri, songket dan keris.
Adapun penari putrinya menggunakan baju kurung beludru warna mera bertabur logam kuning emas, mengenakan songket, selendang motif pucuk rebung di bagian bawah, memakai gelang dan burung-burung.


Sumber



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di