CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pendaki Malam Chapter 1 Bag:1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6a214728c991553528680c/pendaki-malam-chapter-1-bag1

Pendaki Malam Chapter 1 Bag:1

Quote:


Quote:


Kala itu aku sedang sendiri, tidur terlentang beralaskan bumi. Sepintas ku lihat Tuhan merias malam dengan sempurna. Sapuan bintang-bintang itu menggodaku untuk berlama-lama menatap wajah malam ini. Meskipun bulan bersembunyi namun tidak surut gelombang laut berdeburan di pesisir pantai pangandaran. Tidak ada suara-suara jemu lain, hanya bisikan jangkrik yang malah meneduhkan suasana. Aku merasa dinina bobokan oleh serangkaian nada alam yang bergema. Aku tidak mengerti mengapa malam seindah ini selalu dilewatkan. Bukankah malam itu lebih indah? Setidaknya bagiku.

Jika boleh, aku ingin meminjam malam. Biar aku nikmati sendiri. Karena tidak ada yang peduli padamu. Aku memang sudah lama jatuh cinta pada sang malam. Sehingga saat gelap berganti aku selalu mengikuti jejak bulan. Kembali untuk menerangi malam nanti.
Aku adalah Dave, seorang pendaki malam. Mungkin aneh bagi sebagian orang, tapi aku lebih menyukai kegelapan dan kesunyian. Keriuhan membuatku pusing. Terang membuatku silau.

Di dalam kesunyian aku bisa mendengar hatiku berceloteh. Dan didalam kegelapan wajah bumi terlihat sama. Mungkin tidak ada yang bisa diniliai dari kegelapan, sehingga orang-orang buta dalam melihat terang surya adalah usaha keras dari bulan yang menahan kantuknya.

Dibanding keriuhan kota, aku lebih menyenangi harmoni alam, pegunungan yang selalu ramai dengan simponi hewan-hewan nakturnal, pantai yang selalu menggesekan melodi arus laut yang bergelombang. Seibarat burung hanya butuh dahan untuk bertengger, sama denganku. Alam memberiku segalanya.

Banyak orang yang mengenalku sebagai petualang, padahal aku hanyalah penikmat malam. Dengan mobil Pajero Sport hitam yang aku modifikasi semi caravan, aku menjelelajahi bumi Nusantara untuk menikmati malam setiap daerah yang aku tuju. Di siang hari aku tidur di caravan, dan sore hari adalah waktuku untuk mencari makan.

Aku di hutan dan pantai sulit untuk menemukan minimarket, SPBU ataupun toilet. Tapi, alam baik padaku. Jika hanya untuk sedekar makan dan minum semuanya ada dan tersedia. Hanya bagaimana cara kita dalam memperlakukan alam. Aku juga butuh listrik, tapi sudah memasang panel surya, energi matahari selalu mengisi penuh cadangan baterai jadi untuk apa khawatir.

Dulu aku takut hewan liar, tetapi ternyata setelah lama, aku menyadari kalau hewan liar juga takut padaku. Kita sama-sama tidak ingin diganggu, bukan.

Malam ini aku di pantai Pangandaran, entah... Rasanya kemudi mobilku berputar sendiri seperti terkena hantaman ombak. Atau justru merindukan ombak.

Biar aku ceritakan, bintang-bintang disini begitu indah. Begitu pula dengan lautan. Cahaya dari bagang-bagang menipu mata, seolah bintang juga ada di laut. Jika kau lihat dari atas pesawat bagang-bagang itu terlihat seperti pantulan langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.

Kata nelayan disini bagang itu seperti kantor, bedanya hanya antara jaring dan kertas. Kalau kantor kalian butuh kertas untuk mencetak, kalau nelayan butuh jaring untuk menangkap ikan.

Corak warna yang begitu indah antara laut dan langit yang seolah menyatu di ujung pandangan mata, selalu membuatku kagum. Kata orang langit sore di pantai lebih indah, tapi bagiku terlalu silau, lebay, dan menjemukan. Tidak seperti malam, yang adil untuk membagi warna. Bagiku gradasi layung kuning hanyalah tinta yang tertumpah. Itu mengotori bukan memperindah.

Sayang sekali, waktu malam begitu cepat, tidak terasa. Mungkin aku akan bermalam beberapa hari disini. Lagi pula tidak perlu ijin RT/RW. Hanya memastikan tidak ada sampah yang aku tinggalkan.

Matahari telah naik di ujung lautan sana. Aku heran mengapa ia bersembunyi di dalam lautan? Tidak seperti bulan yang selalu berdiri ditempatnya. Agar dia dapat menjaga malam.
Aku harus masuk, aku tidak suka cahaya. Mataku selalu silau melihatnya, telinga tidak bisa menerima keriuhan. Meskipun ombak keras berdentum. Tapi, mulut manusia melebihi suara apapun. Tidak indahnya, dan terkadang menyakiti.

Aku bergegas masuk ke caravan, menarik selimut, dan memajamkan mata. Bagiku siang begitu menakutkan. Tidak peduli kata orang, bagiku siang adalah parasit bagi kehidupan manusia. Surya begitu membakar, sememena mena menaburkan cahaya. Tidak seperti Bulan, meneduhkan dan tidak menyakiti siapapun.

Aku hanya kasihan kepada awan, disiksa dan diperas. Padahal orang-orang merindukan Matahari. Saat kemarau, awan tidak pernah diperdulikan. Saat hujan, awan dianggap mengerikan. Padahal dengan susah payah awan mengumpulkan benih air saat kemarau tiba. Dan dengan susah payah pula memeras air yang dikumpulkannya sendiri. Tidak ia menyakiti dirinya sendiri. Seperti manusia yang sedang putus asa, mengerang, berteriak, dan mengutuk. Mungkin ia sedih, karena selalu di salahkan, kebaikannya tidak berarti, dan usahanya kadang dikeluhkan.

Untung saja sedang musim kemarau, jadi aku tidak mendengar tangisan awan bersama buih hujan yang berjatuhan. Tapi aku sadar, awan sedang berusaha menyiapkan berliter-liter air agar makhluk di bumi bisa tetap hidup. Dan sedang mengumpulkan nyali untuk disalahkan.

Di dunia masing-masing makhluk memiliki kecintaannya sendiri, seperti aku yang jatuh cinta kepada malam, tumbuhan yang jatuh kepada hujan, dan lebah yang jatuh cinta kepada bunga. Seperti kata Raina dalam Magic Hour ada yang lebih indah dari jatuh cinta yaitu jatuh cinta selamanya.

"Tok! Tok! Tok!" terdengar bunyi kaca mobilku yang diketuk dari luar

Aku memaksakan membuka mata, berang rasanya tidur pulasku terganggu. Aku memeriksa jam, baru pukul 17.00. Entah siapa yang membangunkanku, yang aku ingin memakinya.

Namun setelah aku membuka pintu belakang mobil, tidak ada siapapun.

"Tok! Tok! Tok!" bunyi itu tidak mau berhenti, ternyata dari depan

"Kamu siapa!?" teriakku sedikit kesal

Aku mendengar langkah kaki diatas pasir lembut mendekatiku semakin tidak sabar aku Cumiakan telinganya.

"Anda siapa?" Tanya seorang wanita sembari terus melangkah

Kuhela nafas sesaat dan membuang semua niatku untuk memaharinya bersamaan dengan CO2 yang ku buang, ya mereka semua tidak perlu

"Saya Dave, ada keperluan apa ya?" jawabku dengan santun

"loh! Masa ini bagaiamana, mobil mas 1x24 jam di sini!" tegur wanita itu

"memanagnya kenapa ya mbak?" tanyaku keheranan

"disini ada aturannya mas, mas bisa tinggal di villa atau... Hotel" ungkapnya

"kalau saya tidak mau? Terus mau apa?" kataku sembari mengangkat kedua alis dan membuka mulut

"gini ya mas, ini tuh pantai..." ucapnya

"gak ada yang bilang gunung mbak..." potongku ngeyel

"yah, PEA..." suaranya melengking

"mas, kalau orang bicara di dengerin ya! Ini tuh pantai Pangandaran, semua orang tahu disini tuh rawan! Jadi kalau mas mau tinggal disini, udah ada villa dan hotel mas!" sambungnya menekanku

"Villa dan hotelnya dimana?" tanyaku acuh

"mas tinggal parkir, lurus.... Itu ada Villa mas, atau lurus lagi itu itu ada hotel" ucapnya ramah

"di pantai kan?" tanyaku lagi menganggukan kepala

"iya.., mas kan yang bilang bukan gunung" jawabnya polos

"jadi apa bedanya?" tanyaku menekan

"loh! Kok gak ngerti gitu loh..., mas gak pernah denger cerita disini?" tanya kesal

"siapa yang mau cerita ke saya!?" ucapku ketus

"gini deh, disini angker, disini rawan mas, mas bisa diganggu makhluk gaib atau di datengin maling loh mas!" jelasnya

"laaah mbak-mbak.., saya gak ngundang mereka lagi pula ada urusan dan rangka apa mereka datengin saya..." ucapku usil

"konyol banget sih kalau dikasih tau, ini demi keamanan mas nya sendiri..." katanya menakanku lagi

"mbak, villa itu dipantai, hotelnya juga dipantai, kalau ada tsunami, setanlah, malinglah... mereka juga bisa kesana loh mbak. Bedanya sama disini tuh apa?" kataku menjelaskan

"anak SD juga tau mas!" ketusnya

"iya, jadi kamu anak TK?" ledeku

"lah... Situ yang anak TK dikasih tau ngeyel..." ucapnya membalikan

"kalau mbak kesini cuman buat ngusir saya, terima kasih loh mbak!" ucapku menyinggung

"oooh, sama-sama. Jadi kamu enggak ke villa atau ke hotel sebaiknya pulang!" ucapnya memaki

"Mbak yang ngisi lautan?" tanyaku lagi

"ya Tuhanlah!" jawabnya spontan

"jadi, hak mbak buat ngusir saya itu tidak ada!" ucapku menekan

"tapi kewajiban saya menjaga keamanan disini mas!" tegasnya

"loh, saya bukannya aman malah merasa terganggu ya mbak?" tanyaku menyinggung

"ya itu kamu, ngeyel terus...," katanya

"mbak ini gimana sih, kalau mbak marketing itu villa sama hotel mending cari customer lain ya mbak! Disini bukan kampung yang butuh izin tinggal!" usirku

"heh! Saya pengelola disini ya!" gertaknya

"mau polisi juga saya gak takut mbak" ucapku ngeyel

"eeeeh... Bodo lah... Pokoknya jam 8 malam kamu masih ada disini, saya laporkan kamu ke polisi..." gertaknya lagi

Dia berlalu pergi tanpa permisi, heran aku melihat manusia tidak ada sopan santunnya sama sekali. Hebatnya, selalu mudah untuk menyalahkan orang lain dan menilai yang tidak perlu.

Aku tidak bisa tidur lagi, meski tirai mataku sudah ditutup. Aku hanya bisa menunggu bulan menjemputku keluar. Dengan sunroof yang aku buka, aku menatapi wajah langit sore, kelabu tidak bercampur jingga. Hitam belum tergores sempurna karena surya belum tenggelam. Sore itu suara-suara keriuhan perlahan pergi menepi. Hingga pantai sunyi dan menyejukan. Setidaknya telingaku tidak tersiksa oleh ledakan gelombang suara itu. Gelap perlahan mendekati senpurna. Hitam terhampar, bintang mulai menyalakan sinarnya. Deburan ombak mulai mengkuti angin yang mengarah ke laut mencari tekanan udara yang lebih kuat.

Aku keluar, berjalan gontai mencetak jejak diatas pasir halus yang sedikit basah. Aku menari bersama gelombang, bercanda ria dengan deburan ombak. Tapi.. Silau mataku, ada cahaya senter menyorotiku. Aku diam sejenak, merasa terheran ada tiga orang yang menungguku ditepian sana.

"ada apa?" tanyaku kepada mereka

"ini pak orangnya!" ucap wanita yang tadi sore mengusirku

"iya saya orang, bukan hantu kok!" ucapku ketus

"mas..., bisa bicara sebentar?" pinta seorang lelaki berpakaian biru bertuliskan manager

"boleh..." jawabku mengiyakan

Aku ajak merska duduk diatas bagasi mobil, karena perlengkapan tidur sudah aku lipat.

"jadi begini mas, mbak Jerica ini memberitahu saya bahwa ada seorang pengunjung, yang tidak mau diajak ke villa atau hotel di dekat sini. Kami paham masnya punya tujuan sendiri tapi ada kebijakan dan juga peraturan baik itu dari masyrakat maupun dari pengelola mas. Saya manager hotel, ingin menawarkan kamar gratis untuk mas..." jelasnya ramah

Aku mengangguk sebentar, lalu menjawab

"sebelumnya terima kasih pak, tapi saya lebih suka melihat alam secara langsung. Saya kriminal, preman, pencuri, bandar narkoba, teroris apalah... Saya dokumen lengkap, dan bapak bisa minta pak polisi untuk memeriksanya." ucapku santun

"mohon maaf banget nih mas, saya hanya menawarkan dan tidak berhak menyetujui ataupun menolak perihal keinginan mas. Itu tergantung mbak Jerica sebagai pengelola disini." ucapnya

"Maaf, sebentar boleh saya cek dokumennya pak?" pinta pak polisi ditengah pembicaraan

"gini pak, saya itu bukan cuman satu, dua pantai yang saya tinggali, banyak.... Dan selama ini gak ada aturan kayak gitu." ucapku sembari mengambil map dokumen yang aku selipkan dikantong jok mobil.

"tapi saya paham maksud bapak-bapak dan ibu yang terhormat. Hanya saja, tujuan saya bukan itu." sambungku

"iya pak, maaf banget. Seperti yang kita ketahui bersama kalau Pangandaran adalah laut pantai kidul atau selatan. Jadi, sudah menjadi rahasia umum kalau kita harus berhati-hati." kata manager itu

"Bapak itu menyalahkan alam, Tuhan, atau pengetahuannya?" tanyaku membuat mereka bingung menatap satu sama lain

"Saya percaya hantu dan saya percaya sains. Alam ini bergerak berdasarkan perintah Tuhan lalu manusia mempelajari dan membuat konsepnya. Terkadang benda bergerak sendiri dianggap berhantu, tetapi banyak kok yang bergerak sendiri gak dianggap berhantu. Sebenarnya bukan bergerak sendiri tapi yang menggerakan tidak terlihat, lautan, tumbuhan, mereka digerakakan angin tapi kita melihat angin itu sendiri. Tapi gaya dan energi menjadi konsep utamanya. Atau susunan atom yang menjadi pembentuknya. Ya, harusnya udara yang menghidupkan kita juga hantu." jelasku panjang lebar

"mas... Kalau mas mau tinggal disini saya tetap tidak mengijinkan. Mending ikut ke Villa atau...." ucap Jerica tidak selesai, ia mengehela nafas untuk mengambil keputusan

"atau apa?" tanyaku penasaran

"atau mas tinggal pos..." katanya agak ragu

"ini pak, dokumennya valid. Bapaknya itu bukannya pemilik hotel disini ya?" tanya pak polisi memastikan

"loh...." gumam manager hotel itu
"pemilik hotel...?" kejut Jerica mengerut

"saya mau tinggal di pos dengan satu syarat, saya tidak mau ada lampu yang hidup satupun, dan tidak boleh ada suara yang mengganggu." pintaku tidak menghiraukan

"dia kiea rumah sendiri...." ketus Jerica
"emmm, bagaimana jika masnya di hotel saja? Mas bisa matikan lampu disana." tawar manager itu

"tidak pak, saya tidak suka..., saya hanya menyukai malam. Tidak ada yang lain, bagaimanapun setiap malam bagi saya adalah lukisan. Dimana bapak juga bisa menikmati keindahannya tanpa tidak bisa meminjamnya." jelasku lagi

"ya udah gini deh, biarin dia berbuat sesuka hati dah di pos. Tapi saya minta kunci mobilnya kalau kerusakan, kehilangan, mobilnya saya tahan." ucap Jerica angkuh

"oke, saya setuju..." kataku
Aku memarkir mobil, memaksa ban menggesek pasir, menjauh dari gelombang. Wanita itu mengusirku, mungkin Tuhan menciptkan alam untuk dimiliki manusia dan manusia yang lain tidak boleh memilikinya. Selaku bumi disengketakan. Meskipun ditebus dengan lautan darah, dan samudera penderitaan tapi api kebencian tetapi disulut. Yaaa tingkah konyol keturunan Adam dan Hawa. Benar, Charles Darwin. Tingkah laku manusia terkadang tidak ada bedanya dengan kera. Tamak dan serakah.

"itu depan!" seru Jerica

Aku parkirkan mobilku di depan pos jaga, sementara pak polisi dan manager hotel sudah aku turunkan saat melintasi kawasan hotel disini. Sementara Jeeica mengobrol dengan rekannya.

Sesuai persetujuannya lampu padam dan para penjaga itu berpatroli menjauhiku. Namun Jerica duduk menghadap mobilku yang terparkir. Padahal kuncinya sudah ditangannya mana mungkin aku bisa kabur.

"purnama!" soraku gembira melihat bulan membentuk bulat dengan sempurna
Jerica terbangun oleh suaraku yang nyaring.

"mas kamu belum tidur?" tanyanya kesal

"sudah!" jawabku memandangi indahnya bulan

"kalau sudah kenapa berdiri disitu?" tanyanya lagi

"mending kamu sini, lihat... Ada bidadari yang muncul..." kataku riang

"kamu ngelindur mas? Ngigo ya?" tanya Jerica keheranan

"dibilangin gak percaya..." ketusku

Jerica berjalan perlahan mendekatiku, ia segera melihat kearah purnama

"mana bidadarinya? Belum bangun mas?" tanyanya menyindirku

"loh itu loh..." jelasku menunjuk kearah bulan

"itu Bulan mas! Mas benar-benar masih TK deh..." ketus Jerica

"iya emang bulan, tapi dia namanya purnama, bulan berbentuk lingkaran dan lebih terang!" ucapku membela

"astaga! Katanya percaya sains tapi... Gituan aja gak paham, untung udah lari kesini kalau masih disana, laut pasang pasti lagi loh..." keluhnya meledek

"justru karena aku kesini aku gak bisa liat bagaimana air bersorak melihat bulan, sama sepertiku... Ingin... sekali memeluknya namun, jauh...." kataku

"oooh masnya lagi galau, makanyanya pergi ke pantai? Untung aja saya lihat kalau enggak bisa bunuh diri tuh!" ucap Jerica

"kamu gak nyambung ya!" ketusku

"ini lebih begoan siapa sih mas?" tanya jerica polos

"kamu!" jawabku spontan

"lah coba deh diulangi mas, tadi kan masnya lagi berharap seseorang yang jauh, kan?"

"gini deh... Kamu lihat atas, itu ada bulan... Jauh gak?" kataku memberi penjelasan sambil menuntunnya untuk melihat sang purnama

"jaa...uuuh.. Sih.... terus... Apa hubungannya ya?" tanyanya lagi berpikir keras

Aku mengusapkan mulutku dengan tangan

"mbak,,,, itu yang jauh.... yang pengen saya peluk mbak...!" tegasku sambil menunjuk bulan

"oooh... Hahahahaha" Jerica tertawa

"haaaah!" aku membuang nafas
"oon ya?" ledeku

"iya, kamu oon mas..." ujar Jerica
"bulan ko pengen dipeluk, mit-amit dah..." desah Jerica

"sembarangan, emangnya kamu? Dan manusia lainnya, tidak pernah menghargai pemberian dari Tuhan." ucapku namun dipotong Jerica

"mas, menghargai itu bukan berarti harus menyayangi, memeluk tapi menghargai itu bisa dengan memanfaatkan." ujar Jerica

"memanfaatkan? Memanfaatkan atau merusak ya?" tanyaku

"tergantung... Karena orang jahat itu ada. Jadi kita gak menyamaratakan penilaian." ujar Jerica

"iya... Aku paham" desahku

"kamu... sudah lama... menyukai bulan?" tanya Jerica terbata

"aku bukan cuman suka sama bulan, tapi malam." ucapku sayu

"malam?" tanya Jerica memastikan

"iya, malam.... Tidak ingin berhenti aku melihatnya, sebab malam adalah karya yang Tuhan lukis untuk tidak diketahui oleh semua orang, sehingga tidak ada yang merusak keindahan itu sendiri." jelasku masih menatap sang purnama

"bukannya malam itu menakutkan?" tanya Jerica serius

"ya, itulah cara Tuhan menjaga agar malam tetap indah."

"agar tidak ada yang merusaknya?" tanya Jerica lagi

"benar...., coba kau perhatikan alam ini. Hampir semua manusia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan bahwa mereka sedang merusak keindahan yang ada." jawabku

"malam ataupun siang sama aja mas..., maling dan begal, kan adanya di malam hari" ujarnya

"tujuan mereka kan harta bukan alam" tegasku

"ya sudahlah...., terus kenapa kamu enggak nikmatin malam kesayanganmu dirumah aja?" tanya Jerica lagi

"rumahku di Jakarta, mana bisa aku menikmati malam seindah ini" keluhku

"ooooh.. Kamu sudah makan mas?" tanya Jerica serius

"sudah, aku menemukan tumbuhan umbi di seberang sana." ujarku

"bukannya minimarket dekat ya? Restoran juga deket..." ucap Jerica

"iya, tapi aku tidak suka.... Mereka terlalu berlebihan dengan rasa." ucapku

"loh... Aneh situ mas!" seru Jerica

"gak aneh, hanya kamunya yang gak mengerti" ujarku

"maaf nih ya.... Maaf-maaf banget... Mas nya gak pegang duit ya?" tanya Jerica agak canggung

"gak...." jawabku spontan

"loh..., kenapa gak bilang saya kan bisa bantu..." ujar Jerica

"bantu, untuk....?" tanyaku mendongkakan kepala

"katanya kan mas gak pegang duit, ya... Kalau cuman untuk sekedar makan saya ada mas..., sekarang mas nya mau makan?" kata Jerica menjelaskan

"oooooh...., uang saya didompet, tidak pernah dipegang....hehehe" ujarku tersenyum polos

"kok kamu polos banget ya mas?" tanya Jerica heran kepadaku

"loooh mbaknya yang salah ngomong kok...." kataku mengelak

"hahahaha.... Kumaha sia wae... lah mas...!" ujar Jerica tertawa

Aku mendesah sembari menunjukan ekspresi bingung dengan bahasa yang dia lontarkan

"terserah kamu..." sambung Jerica

"apanya?" tanyaku tambah heran

"kumaha sia wae itu artinya terserah kamu mas... Hehehehe" ujar Jerica tertawa terbahak-bahak

Tidak terasa kami mengobrol subuh hampir sampai keperaduan, ia ingin menurunkan purnama dan menarik surya dari laut di ujung sana. Aku harus bergegas.

"saya mau tidur ya..." ujarku

"silahkan mas... Anak-anak udah beresin tempat tidurnya tadi. Ya emang gak senyaman di rumah sih. Tapi mas nya gak bakalan kedinginan kok." balas Jerica

"saya tidur di mobil!" seruku membuka pintu bagasi

"di... Mobil?" tanya Jerica memastikan

"iya... Mobil ini adalah rumahku di siang hari... Kalau malam hari aku punya alam." jawabku sederhana

"tapi kenapa?"


BERSAMBUNG....
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan emoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gigilugendut69 dan 6 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Menarik
Saya jarang menemukan sastra yang bagus belakangan ini.
Ditunggu update nya.
profile-picture
ziendy memberi reputasi
Quote:


Siap agan...emoticon-Keep Posting Gan
profile-picture
dr.octopussy memberi reputasi
profile-picture
deepzt memberi reputasi
Diubah oleh ziendy
Lihat 1 balasan
good
profile-picture
ziendy memberi reputasi
Quote:


Mksh gan
Literasinya sangat baik
profile-picture
ziendy memberi reputasi
Quote:


Waah mksh gan....emoticon-Jempol tapi ane baru belajar gan....
Quote:


dengan menulis dan membaca akan menambah perbendaharaan kata, so gak usah takut untuk nulis, kalo pun ada yang gak suka, mungkin mereka bukan target pasar kita, jadi gak usah minder, bagi yang mereka menurutnya itu target pasarnya akan tertarik, semangat terus anak bangsa emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
ziendy memberi reputasi
reserved
profile-picture
ziendy memberi reputasi
Quote:


Siap agan guantengemoticon-Kiss
profile-picture
febritz memberi reputasi
Quote:


Waaah ane gak paham maksud reserved disini gan...emoticon-Hammer2
Thanks to reader......

Update Chapter 2 Bagian 1 agan sista.....
emoticon-I Love Kaskus

Langsung aja gan klik di mari
Bahasa tingkat dewa ini...

Hanya bisa menyimak, menikmati & menghayati.

emoticon-Jempol
profile-picture
ziendy memberi reputasi
Keren juga ceritanya, lanjutkan sampe selesai
Jangan nanam kentang emoticon-Cool
profile-picture
ziendy memberi reputasi
Quote:


Ah bisa aja agan..... kebetulan lagi kepentok tembom kali gan hehehe thanks
Quote:


Siap mastahku.... ini bakalan lanjut trs kokemoticon-2 Jempol
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Quote:


Sipp!
Sekadar saran lho ini ya, nanti lebih baik buat indeks link tiap part di header thread jadi pembaca yang baru nongol udah kaga susah2 mencari link cerita lanjutannyaemoticon-Cool
Quote:


Hehehe oke siap agan... maklum nubieemoticon-Jempol
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Quote:


Oke, ntar gw balik ngecek udah dibuat indeks link apa belomemoticon-Traveller
____

Selamat ya, udah ht pulaemoticon-Shakehand2
Diubah oleh phyu.03
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di