CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Bengkulu /
[ COC Regional : Kebudayaan ] Tradisi Nujuhlikur yang Nyaris Punah di Bengkulu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6a0b4e8d9b173e1a3db8f3/coc-regional--kebudayaan--tradisi-nujuhlikur-yang-nyaris-punah-di-bengkulu

[ COC Regional : Kebudayaan ] Tradisi Nujuhlikur yang Nyaris Punah di Bengkulu

[ COC Regional : Kebudayaan ] Tradisi Nujuhlikur yang Nyaris Punah di Bengkulu
Izinkan ane share tentang kebudayaan di daerah ane ya gan

Indonesia memang kaya dengan tradisi yang unik. Menjelang Lebaran di Bengkulu Selatan, ada tradisi malam Nujuhlikur dimana masyarakat akan membakar susunan tempurung kelapa. Suasana malam pun bakal lebih meriah!
 
Dari informasi yang dikumpulkan tradisi malam Nujuhlikur biasanya dilaksanakan oleh Suku Serawai di Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Dalam tradisi Nujuhlikur masyarakat akan membakar Lujuk, yaitu tempurung kelapa yang telah disusun vertikal seperti obor.
 
Malam Nujuhlikur ini artinya adalah malam ke-27. Tradisi itu pun diselenggarakan setiap malam ke-27 di bulan Ramadan. Sejak siang hari sebelum Nujuhlikur berlangsung, anak-anak di daerah setempat sudah mulai membuat Lujuk.
 
Tempurung kelapa yang telah dikumpulkan akan dilubangi bagian tengahnya. Setelah itu, tonggak kayu yang kira-kira sebesar lengan dengan panjang sekitar 1-2 meter akan dipilih untuk meletakkan tempurung kelapa. Tonggak kayu itu akan ditancapkan ke tanah, kemudian satu persatu tempurung yang sudah dilubangi akan ditumpuk di kayu tersebut.

[ COC Regional : Kebudayaan ] Tradisi Nujuhlikur yang Nyaris Punah di Bengkulu


Pada permukaan tempurung yang paling atas akan disiram minyak tanah untuk mempermudah proses pembakaran. Lujuk yang akan dibakar ini jumlahnya tak hanya satu. Jumlahnya bisa semakin banyak, tergantung dari tempurung kelapa yang berhasil dikumpulkan.
 
Malamnya, setelah selesai salat tarawih barulah Lujuk dibakar. Warga setempat, dari anak-anak hingga dewasa, akan berkumpul di tempat yang telah ditentukan untuk ikut meramaikan tradisi ini.

[ COC Regional : Kebudayaan ] Tradisi Nujuhlikur yang Nyaris Punah di Bengkulu


Sembari menunggu api di Lujuk itu padam, warga setempat akan menikmati makanan sambil bercengkerama. Hubungan antar tetangga pun bisa makin erat dengan adanya tradisi malam Nujuhlikur.
 
Selain warga setempat, wisatawan dari daerah lain yang penasaran juga dipersilakan untuk ikut serta dalam tradisi tersebut. Yang pasti jika Anda menghabiskan libur Lebaran di Bengkulu, jangan lewatkan tradisi yang meriah ini!
 
Tradisi sama tapi beda daerah
 
Provinsi Bengkulu berada pada koordinat 300 45' -- 300 59' LS dan 1020 14' - 1020 22' BT dengan luas wilayah 151,7 km. Penduduk yang mendiami kota ini berasal dari berbagai suku bangsa, di antaranya suku Melayu, Rejang, Serawai, Lembak, Bugis, Minang, Batak dan lain-lain.
 
 
Adapun satu-satunya Kota di provinsi ini yaitu Kota Bengkulu. Sedangkan Kabupaten yang ada di Provinsi Bengkulu tersebut adalah Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur.
 
Setiap daerah di Provinsi Bengkulu, mempunyai berbagai tradisi khas masing-masing, mulai dari pakaian, makanan, tarian, dan masih banyak lagi. Salah satu tradisinya ialah Malam Nujuhlikur, yang merupakan tradisi dari masyarakat suku Rejang di Kabupaten Bengkulu Utara.
 
Karena saya tinggal di Bengkulu Utara sejak belia, tepatnya di Desa Pasar Kerkap Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara, saya selalu ikut merayakan tradisi ini setiap tahunnya.
 
Mayoritas penduduk di desa Pasar Kerkap berasal dari suku Rejang, dan sisanya adalah pendatang, termasuk saya. Namun, masyarakat pendatang di desa ini masih sangat menghargai tradisi asli suku rejang, dan tetap ikut merayakan tradisi ini bersama.
 
Dalam bahasa Bengkulu, nujuhlikur berarti dua puluh tujuh, malam nujuhlikur artinya malam ke dua puluh tujuh. Kegiatan ini biasa dilakukan pada puasa ke-27 atau tiga hari lagi menjelang lebaran di halaman rumah atau di pinggir jalan raya.
 
Nujuh likur itu sendiri ialah kegiatan membakar tempurung kelapa (tunam) yang telah disusun di sepancang kayu hingga tinggi menjulang ke langit. Makna dari kegiatan ini adalah sebagai rasa syukur karena bertemu dengan bulan Ramadan dan menyambut idhul fitri.
 
"Mitosnya dulu semakin tinggi kita menyusun tempurung kelapa maka semakin besar rasa syukur kita kepada Allah SWT. Karena tempurung kelapa dianggap sebagai buah penuh manfaat dan rasa syukur", ujar Zainudin, salah seorang sesepuh Desa Pasar Kerkap ketika di wawancarai senin, 7 mei 2019.
 
Sebelum malam kedua puluh tujuh, anak -- anak sudah mengumpulkan tempurung sebanyak banyaknya, kemudian tempurung tersebut dilibangi pada bagian tengahnya, dan mereka akan membuat tiang untuk penyanggah tempurung agar bisa disusun vertical, mereka akan menyusun tempurung itu dengan setinggi -- tingginya sesuai dengan tempurung yang sudah mereka dapatkan yang mereka sebut dengan lujuk
 
Lujuk akan mereka bakar dimalam kedua puluh tujuh, selesai sholat taraweh, biasa memereka membakar didepan rumah masing -- masing, sepanjang jalan kita akan melihat banyak sekali lujuk didepan rumah penduduk, bahkan hamper semua rumah membuat lujuk, usai membakar lujuk mereka biasanya kumpul keluarga dan tetangga sambil memakan makanan yang sudah mereka siapkan, mereka akan mendiskusikan apa saja, menambah meriahnya malam kedua puluh tuju rahmadhan terebut.
 
Adat ini masih berjalan sampai sekarang, kalau anda pergi kedaerah Bengkulu Selatan dimalam kedua puluh tujuh rahmadhan, maka anda akan menyaksikan betapa meriahnya masyarakat menyambut malam itu, ini tradisi yang cukup unik didaerah kami dibulan ramadhan, tradisi ini masih dipertahankan karena mampu memperkaya tradisi Indonesia dan merupakan peninggalan lelur sehingga mereka sampai sekarang masih terus melaksanakannya dan mengajarkan kepada anak -- anak mereka, dengan nujuh likur tersebut merupakan pertanda juga bagi kita bahwa Ramadhan sementar lagi akan berlalu, masyarakat menyambutnya dengan suka cita karena sudah hamper selesai menunaikan ibadah puasa dan mereka menyambut hari yang fitri dengan suka cita yang mendalam.
 
Makna yang diambil dari malam nujuh likur adalah :
 
1. dengan adanya malam nujuh likur memberi tanda bahwa sebentar lagi ramadhan hampir usai, dan kita akan merayakan hari yang fitri
 
2. Malam nujuh likur menggambarkan pada malam kedua puluh tujuh itu kemungkinan turunnya malam penuh rahmad yang didamba setiap orang yang beriman, sehingga mereka akan menikmati malam penh rahmad tersebut bersama sanak, keluarga dan tetangga
 
3. Malam nujuh likur mempererat tali persauraan, mereka yang terlalu sibuk dengan kegiatannya meluangkan waktu buat bercengkrama bersama keluarga, sanak saudara dan tetangga
 
4. Bnetuk syukur kepada yang maha kuasa sampai pada malam ini mereka masih diberi kesehatan dan mereka menggambarkan dengan memberi penerangan dalam kehidupan mereka ditambahkan dengan makan makanan yang memang telah mereka persiapkan sebelumnya
 
5. Dengan tetap melakukan malam nujuh likur ini mereka tak akan pernah melupakan tradisi nenek moyang mereka walaupun sekarang zaman sudah canggih, walau lampu sudah terang benderang tetapi cahaya tempurung mengingatkan mereka dengan bagaimana nenek moyang mereka dulu berjuang sehingga sekarang mereka menikmati teknologi sekarang

sumber 1

sumber 2
sumber 3
Diubah oleh Hr.poernomo


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di