CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e69bc3c5cf6c43c0c548e77/raden-katong-modern

Raden Katong Modern


Raden Katong

Mentari sore mulai tenggelam dalam lautan saat kulihat punggung guruku meninggalkan halaman sekolah sambil menuntun sepeda tuanya. Tas jinjing lusuh tempatnya menyimpan hasil ulangan dengan nilai nol kami ditentengnya di tangan kanan serasa membawa barang berharga. Aku tahu pasti karena akulah yang memasukkannya ke dalam tas, termasuk nilai harianku.

Pak Kusnan, begitu kami memanggil beliau, rambut putih di sekitar telinga kanan dan kirinya membuatnya terlihat seperti gambaran Gundala Putra Petir, salah satu dongeng yang sering diceritakannya kepada kami, padahal kami anak-anak dengan seragam putih abu-abu yang lebih hafal cara main game PUBG daripada cara menghitung sisi segitiga sama kaki yang sering beliau ajarkan.

Kami senang dengan dongengnya yang indah. Sebuah sisi lain yang membuka mata kami, ternyata kami hanya anak-anak yang sering menghabiskan waktunya di sekolah sampai sore ini banyak kehilangan masa kecil yang bahagia dengan dongeng-dongeng yang luput dari malam-malam menjelang tidur kami. Memang sesekali, saat kami belajar mengaji di Musala dulu masih sering mendengar cerita-cerita hikmah juga dongeng Nusantara, tetapi hanya sampai usia berapa coba?

Hidung mancung Pak Kusnan adalah bagian terindah yang sering terlihat saat menghadap papan tulis, untuk menulis rumus phytagoras atau cara menghitung perubahan volume air. Mancung, iya, tapi tidak terlalu, juga tidak pesek. Sesekali ketika anak lelaki beliau menjemput di depan pagar, kami berbondong-bondong mengintip. Ganteng soalnya, persis seperti Pak Kusnan.

Namun, semenjak kedatangan murid pindahan yang bernama Abdi, anak seorang pejabat yang sifat nakalnya melebihi batas toleransi, disitulah aku merasa akan banyak kesulitan bagi para guru, khususnya guru setua pak Kusnan yang sudah banyak bersabar.

***

"Nak, yang di pojok kanan, mari sini." Pak Kusnan berdiri di depan kelas, melambaikan tangan ke arah Abdi yang duduk di belakang pojok kanan.

"Perkenalkan dirimu," pinta Pak Kusnan.

"Ciih, kuno, Pak." Wajah Abdi memandang keluar lewat jendela.

"Pakai perkenalan segala," katanya.

"Kan, di daftar absen bapak belum ada namamu, Nak," timpal Pak Kusnan dengan nada lembut.

Anak baru itu diam. Tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.

"Ah, baiklah kalau kamu tak mau berkenalan." Pak Kusnan mengambil buku absensi di atas meja lalu mulai menggerakkan tangan seolah menulis sesuatu.

"Boleh kupanggil kamu dengan Raden Katong?" Umpan Pak Kusnan berhasil membuatnya menatap ke depan.

"Hah, Katong apa katok, Pak?" balasnya. Beberapa anak menahan tawa sedang yang lainnya nampak geram.

"Raden Katong adalah adiknya Raden Patah yang terkenal memiliki kesaktian tak terhingga. Bapak ingin kamu menunjukkan kesaktianmu di kelas ini."

"Karena bapak tahu, kamu istimewa." Pak Kusnan melangkah menuju bangku murid baru dan menempel nama Raden Katong pada mejanya. Ajaib dia diam saja. Walaupun dia menggerutu juga awalnya, "Sok akrab."

***

Abdi masuk ke dalam kelas saat pelajaran Pak Kusnan sudah memasuki seperempat jam pelajaran. Beliau membiarkan Abdi duduk di mejanya sambil memandang iba.

"Raden." Panggilan itu mulai akrab di telinga kami seminggu ini, bahkan Abdipun mulai tidak risih mendengarnya. Dia bahkan belum mendapat teman selama ini maka trik Pak Kusnan sangat ampuh, kepopulerannya mengalahkan geng bontot di sekolah, itu tuh geng kelas akhir dengan lima cewek jagoan sebagai anggotanya. Ah, aku tak ingin membahasnya.

Berkat panggilan Pak Kusnan untuknya, kamipun jadi akrab dengan nama lain Abdi, walau bukan dengan pribadinya yang dingin.

"Ketika Raden Katong masuk ke Ponorogo untuk menaklukan penguasanya. Dia harus beradu kesaktian, karena dia pendatang."

"Jadi, Raden harus maju ke sini beradu kesaktian dengan saya."

"Malas, Pak," jawab Raden Katong.

"Ada-ada saja," gerutunya. Lagi-lagi, walaupun lirih karena aku duduk di depannya hal itu terdengar dengan jelas.

"Ayo! Bapak yakin kamu bisa." Pak Kusnan datang menghampiri sambil membawa spidol berwarna hitam.

Butuh waktu lama bagi Raden eh Abdi untuk akhirnya bangkit dan berdiri. Tangan Pak Kusnan ditepisnya dan mengambil spidol itu dengan kurang sopan. Lagi-lagi Pak Kusnan masih bersabar.

"Raden, ingatlah! pada pertarungan pertama di Ponorogo itu, Raden Katong kalah."

"Kau mau kalah hari ini?" tanya Pak kusnan sambil menyusul langkah panjang Abdi menuju papan.

Dengan cekatan Abdi menarikan rumus-rumus matematika dengan indah di atas papan. Nilai akar dan perkalian silang dipecahkannya dengan mudah. Bahkan dia tahu nilai sesungguhnya dari pi kuadrat yang susah kuhafal. Bingo. Dia cerdas. Hanya satu soal yang belum bisa dipecahkannya dengan sempurna. Kulihat Pak Kusnan tersenyum dibalik punggungnya yang menghadap papan.

"Sisa satu."

"Kamu menyerah," kata Pak Kusnan.

"Saya ngantuk, Pak, belum bisa konsen," kata Raden Abdi sambil nggeloyor meninggalkan papan tulis. Kami melongo dibuatnya ternyata dia anak ajaib, tapi kurang berakhlak.

"Tak apa, Raden."

"Pada akhirnya penguasa Ponorogo akan tunduk pada kesaktian Raden Katong," kata Pak Kusnan menyelipkan dongeng dalam kelas kami.

"Silahkan yang lainnya ditulis seperti cara pengerjaan Raden Katong."

"Satu sisanya akan kujelaskan sebentar lagi," lanjut Pak Kusnan.

Aku melihat ke belakang saat raut wajah Raden Abdi sedikit melunak namun disamarkan kembali.

***

"Rin, sebenarnya yang namanya Abdi itu bagaimana sih di kelas?" tanya tante Ratna yang juga mengajar di sekolahku, tapi hanya di tingkat pertama.

"Ya begitu tante, rada sangar. Suka membantah guru, malas mengerjakan tugas, tapi dia sebenarnya pintar."

"Memang kenapa?" tanyaku balik.

"Tadi di kantor banyak guru yang ingin agar anak baru itu dikeluarkan, tapi katanya Pak Kusnan sangat menentangnya, padahal guru lain berkata kalau anak itu juga kurang ajar kepada beliau," lanjut tante Ratna.

Aku menelan ludah tak percaya, kalau Pak kusnanlah yang membela si Raden itu padahal Raden Abdi cuek sekali kalau di sekolah. Kurang sopan juga.

Hingga hari itu, saat Pak Kusnan mempertaruhkan segalanya untuk Abdi. Kusaksikan sendiri bagaimana ia membela Abdi di depan anak-anak yang marah karena dia memukul Pak Kusnan dengan tangan kanannya. Guru kami yang baik itu berdarah di sudut bibirnya.

Abdi yang tertidur mengamuk saat jam pelajaran berganti, dia dibangunkan dengan paksa oleh pak Kusnan. Tangan Abdi spontan memukul Pak Kusnan. Melihat darah keluar dari sudut bibir beliau, seketika anak-anak lain langsung hendak mengeroyoknya namun Pak kusnan melerai, tidak mengizinkan kami.

Semenjak kejadian itu kami sering mendapati Pak Kusnan tidak masuk kelas. Sakit. Paru-paru tuanya sering kambuh. Sebetulnya Pak kusnan sudah pensiun namun, sekolah masih mengizinkan beliau mengajar karena rasa sayangnya kepada pendidikan. Kami semua sepakat tidak menyapa sang Raden sejak saat itu hingga diapun mulai enggan masuk sekolah. Bangku belakangku mendadak sepi dan sunyi.

Hingga satu bulan berlalu, Raden Katong datang kembali ke sekolah dengan perubahan yang luar biasa.

***

Sore itu saat matahari mulai tenggelam kulihat Pak Kusnan menuntun sepeda tuanya, hingga di depan gang sebuah mobil menghentikannya. Dia keluar dari mobil bersalaman dengan Pak Kusnan, mencium punggung tangan beliau kemudian pak Kusnan merangkulnya. Dia adalah Raden Katong yang luluh dengan kesabaran guru tua sekolah kami.

"Tahukah kau Rin," kata Abdi saat kami sudah akrab.

"Pak Kusnan mengatakan apa padaku?" tanyanya. Aku mengendikkan bahu tanda tidak tahu jawabannya.

"Dia berkata kalau aku masih nakal, maka beliaulah yang gagal." Dia berkata dengan bulir airmata yang menggantung di matanya.

Angin sepoi-sepoi menjelang musim penghujan mengantarkan segala kenangan masa itu. Senyum tipis tersungging di wajah Raden Katong modern yang tampan. Benar apa yang pernah dikatakan oleh Pak Kusnan, bahwa sekeras-kerasnya batu pasti akan luluh oleh tetesan air walau setitik asal lama dan terus menerus. Oh ya, tambahan. Itu pun jika batunya bukan berasal dari batu planet yang asing.

Ups. Rahasia ya? Bagian terakhir itu hanya tambahan dariku sendiri, bukan dari Pak Kusnan yang kami hormati.

***

Selamat membaca.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gigilugendut69 dan 8 lainnya memberi reputasi
cerpen ya gaesss
Lihat 1 balasan
hehehe cerpen gan
semangat 🏋️
ambil hikmahnya ya gan
Padahal seru nih kalo jadi cerbung
Saya guru, saya berharap bisa menjadi sesabar pak Kusnan. btw kisah ini adalah realitas yang banyak terjadi di sekolah sekolah tanah air. Di saat banyak guru menyerah dengan kenakalan siswa yang kadang-kadang memang bikin guru ternganga, masih ada sosok penyejuk seperti Pak Kusnan.
Tanpa guru, kita bukan apa2.

Betul 😘 sepakat gan 💘
upin pin
sundul gan
up up up up
upinnn
baca baca baca
up up up
up up up
siiiipppp


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di