CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Madura /
[COC Regional : Kebudayaan] Saronen, Bukan Hanya Tentang Musik dan Alat Musik
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e69a23e10d29563451534c3/coc-regional--kebudayaan-saronen-bukan-hanya-tentang-musik-dan-alat-musik

[COC Regional : Kebudayaan] Saronen, Bukan Hanya Tentang Musik dan Alat Musik

[COC Regional : Kebudayaan] Saronen, Bukan Hanya Tentang Musik dan Alat Musik

Saronen, Bukan Hanya Tentang Musik dan Alat Musik

Selamat pagi semuanyaaaa...
Udah lama gak bikin thread nih emoticon-Ngakak (S)
Berhubung ada event makanya bikin thread enih gan sist. Yuks disimak emoticon-I Love Kaskus (S)

Sudah lama Musik Saronen yang merupakan musik tradisional Kabupaten Sumenep terdengar tidak saja bagi masyarakat Sumenep, Jawa Timur dan Nasional, bahkan musik tradisional peninggalan budaya kerajaan Sumenep ini beberapakali diundang pemerhati kesenian tradisional mencanegara. Beberapakali musik tradisional asal Sumenep tampil di pentas internasional seperti Belanda dan Jepang.

Sampai saat ini, Musik Saronen tetap bertahan, walau tidak jarang musik ini harus berhadapan dengan terpaan musik masa kini. Lalu bagaimana musik Saronen ini bertahan?

[COC Regional : Kebudayaan] Saronen, Bukan Hanya Tentang Musik dan Alat Musik

SARONEN adalah musik Rakyat yang tumbuh berkembang di masyarakat Madura. Harmonisasi yang dinamis, rancak, dan bertema keriangan dari bunyi yang dihasilkannya memang dipadukan dg karakteristik dan identitas masyarakat Madura yang tegas, polos, dan sangat terbuka mengilhami penciptanya . Saronen berasal dari bahasa Madura " sennenan " (Hari Senin).

Awal Mula
Sering berkunjunganya penguasa Sumenep Arya Panoleh ke tempat kakaknya Batara Katong yang berkuasa di Ponorogo untuk bersilaturahmi. Saat di ponorogo, rombongan dari sumenep di sambut dengan persembahan reyog dan atraksi memukau yang dilakukan oleh orang-orang berpakaian hitam. Dari sinilah awal mulanya Selompret pada gamelan reyog dikenal oleh rombongan sumenep dengan nama Saronen.

Selain gamelan reyog yang di terapkan di Sumenep, juga pakaian warok serba hitam dengan kaos bergaris-garis, makanan seperti Sate yang awalnya dari tusuk lidi dan angklung yang hanya dapat di temukan di sumenep saja di seluruh dataran madura. Dengan begitu, Sumenep yang merupakan kiblat orang madura, budaya dari ponorogo yang di terapkan di sumunep mulai menyebar ke seluruh madura. Tetapi bagaimanapun juga setelah di terapkan di madura, masih terdapat perbedaan anatara budaya dari tanah budaya Ponorogo dengan budaya madura.

Adalah seorang Kyai Khatib Sendang (cicit Sunan Kudus) bertempat tinggal di Desa Sendang Kecamatan Pragaan ratusan tahun silam menggunakan musik ini sebagai media dakwah dalam mensyiarkan Agama Islam. Konon setiap hari pasaran yang jatuh pada setiap hari senin , Kyai Khatib Sendang dan para pengikutnya menghibur pengunjung pasar disertai penari berpakaian ala badut. Setelah para pengunjung pasar pada berkumpul , mulailah Kyai Khatib Sendang berdakwah memberi pemaparan tentang Islam dan kritik sosial. Gaya dakwah yang kocak humoris tetapi mampu menggetarkan hati pengujung membuat masyarakat yang hadir tertarik langsung minta baiat masuk Islam.

[COC Regional : Kebudayaan] Saronen, Bukan Hanya Tentang Musik dan Alat Musik

Ciri Khas
Ciri khas musik SARONEN ini terdiri dari sembilan instrumen yang sangat khas, karena disesuaikan dengan nilai filosofis Islam yang merupakan kepanjangan tangan dari kalimat pembuka Alqur'anul Karim yaitu " BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM " yang kalau dilafalkan terdiri dari sembilan keccab. Kesembilan instrumen musik SARONEN ini terdiri dari : 1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 satu kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar, 1 gendang dik-gudik (gendang kecil).

Yang menarik dan menjadi jiwa dari musik ini satu alat tiup berbentuk kerucut, terbuat dari kayu jati dengan enam lobang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas ujungnya terbuat dari daun siwalan . Pada pangkal atas musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis , menambah kejantanan dan kegagahan peniupnya. Alat tiup yg mengerucut ini berasal dari Timur Tengah yang dimodifikasi bunyinya. Pada perhelatan selanjutnya musik saronen ini dipakai untuk mengiringi lomba kerapan sapi, kontes sapi sono', upacara ritual, resepsi pernikahan, kuda serek (kencak) dll.

Bentuk Alat Musik Saronen
Alat musik saronen memiliki bentuk mirip seperti terompet atau seruling namun memiliki perbedaan di bagian peniupnya. Nah, di bagian peniupnya tersebut dibuat mirip seperti kumis-kumisan. Antara satu dengan yang lain memiliki bentuk yang berbeda sebagai kreasi dari pembuatnya. Unik, ya, Sahabat?

Saronen terbuat dari kayu jati pilihan yang berbentuk kerucut dengan panjang sekitar 40 cm. Lubang yang ada pada saronen mirip seperti seruling, yaitu 7 lubang di mana ada 6 lubang yang berderet di bagian atas dan 1 lubang yang berada di bagian bawahnya.

Pada bagian mirip kumis-kumisan tersebut terbuat dari tempurung kelapa yang diukir. Ketika mulai dimainkan memang terlihat seperti mengenakan kumis palsu, padahal masih satu bagian dari alat musiknya. Inilah yang menjadi ciri khas dari alat musik saronen ini.

Saronen biasanya dimainkan saat acara adat seperti arak-arakan pengantin atau saat pesta adat. Selain itu, saronen juga dimainkan sebagai pengiring saat acara tertentu seperti lomba karapan sapi atau lomba kecantikan sapi betina.

Biasanya, saronen juga dimainkan secara berkelompok dengan alat musik lainnya seperti gong besar, kempul, kenong besar, kenong tengahan, kenong kecil, korca, gendang besar dan juga gendang kecil.

Kalau dihitung jumlahnya ada 9 alat musik. Bukan sebagai kebetulan belaka karena ada alasan di balik jumlah ini, lho, Sahabat. Terdiri dari 9 alat musik karena disesuaikan dengan kalimat pembuka Al-Quran yaitu “Bismillahirrahmanirrahim”, jika dilafalkan terdiri dari 9 suku kata. Unik, kan?
Sejarah Alat Musik Saronen
Berdasarkan sejarahnya, awal mula kesenian Saronen ini dipakai sebagai media dakwah. Hal ini dilakukan agar banyak masyarakat yang tertarik untuk memeluk agama Islam. Dulu kegiatan ini dilakukan oleh cicit dari Sunan Kudus yaitu Kyai Khatib. Beliau bertempat tinggal di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Sumenep.

Konon katanya setiap hari pasaran tertentu, Kyai Khatib dan para pengikutnya menghibur pengunjung pasar menggunakan saronen dengan berpakaian seperti badut. Setelah banyak pengunjung pasar yang berkumpul, mulailah Kyai Khatib berdakwah memberi pemaparan tentang agama Islam dan juga kritik sosial.

Gaya dakwah yang kocak dan humoris ini mampu menggetarkan hati pengunjung sehingga banyak masyarakat yang hadir tertarik untuk masuk Islam. Jadi, alat musik saronen ini memang sudah ada sejak lama dan bisa dikatakan sebagai alat musik yang membantu penyebaran agama islam di Madura.

Alat musik Saronen merupakan sebuah alat musik yang sangat historis dan patut untuk dijaga kelestariannya, jadi nggak heran apabila ada pesta atau acara adat seperti arak-arakan di Madura dan sekitarnya, alat musik Saronen ini akan turut hadir memeriahkan acara tersebut.

Pernahkah Sahabat menyaksikan orang memainkan saronen secara langsung? Jika belum, yuk kemasi barangmu dan kunjungi Madura segera!


Quote:
Diubah oleh sandores


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di