CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
TMT (Terror Management Theory), Apa Itu? Ada Hubungan-nya Dengan Corona?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e689417365c4f362562e61e/tmt-terror-management-theory-apa-itu-ada-hubungan-nya-dengan-corona

TMT (Terror Management Theory), Apa Itu? Ada Hubungan-nya Dengan Corona?

*Disclaimer : TS bukan seorang psikolog, tulisan di bawah adalah pemahaman TS dr apa yang TS baca, untuk pemahaman yang lebih tepat dan mendalam, silahkan pembaca mengeksplorasi topik ini sendiri.

Terror Management Theory tidak ada hubungan-nya dengan teroris atau teori konspirasi (setidaknya tidak ada hubungan secara langsung). Terror Management Theory atau lebih sering disingkat dengan TMT, adalah salah satu teori psikologi yang berusaha menunjukkan bahwa salah satu faktor yang membentuk perilaku  individu atau sekumpulan individu, adalah rasa takut.

Jadi pada dasarnya TMT beranjak dari hipotesa yang sama seperti teori psikologi yang diajukan oleh Sigmund Freud, bahwa terbentuknya atau munculnya fenomena-fenomena psikologi, adalah bentuk dinamika, yang muncul akibat kesenjangan antara id (naluri bawaan/dasar) dan realita.

Usaha seorang individu untuk meredakan atau menjembatani kesenjangan inilah yang kemudian menimbulkan dinamika psikologi seseorang.

Bagi Sigmund Freud, id adalah naluri untuk mencari pemuasan kebutuhan fisik, seperti kebutuhan seksual, makanan, dsb.

----

Berbeda pendapat dengan Sigmund Freud, dalam TMT yang dilihat sebagai faktor dasar penggerak-nya (id), adalah rasa takut. Menurut TMT manusia memiliki banyak kesamaan dengan spesies lainnya, dan salah satu naluri yang paling mendasar yang dimiliki semua makhluk hidup adalah naluri untuk bertahan hidup. Rasa takut pada kematian.

Namun ada satu hal yang memisahkan manusia dari spesies lain. Manusia memiliki akal (kemampuan kognitif) yang jauh melampaui spesies lain, sehingga manusia sadar bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti.

Jadi di satu sisi ada naluri untuk bertahan hidup, rasa takut pada kematian. Di sisi lain ada pengetahuan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. Kesenjangan antara naluri dan realita ini, secara tidak disadari menimbulkan rasa takut yang kemudian berusaha dikelola dengan berbagai cara.

Misalnya dengan mempercayai akan adanya kehidupan setelah kematian. Tradisi yang menghormati nenek moyang, atau orang tua yang sudah meninggal. Melihat diri sendiri, sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar (negara, bangsa, suku, dst).

----

Lalu apa hubungannya dengan virus Corona?

Membuktikan sebuah teori psikologi tidak semudah membuktikan sebuah teori Fisika. Namun di sisi lain berbeda dengan percobaan Fisika, Kimia, dst yang butuh satu laboratorium dengan berbagai peralatan. Setiap orang bisa ikut mengamati/mencermati sebuah teori psikologi.

Cukup dengan mengamati fenomena sosial di sekeliling kita dan mengamati fenomena psikologis di dalam diri sendiri. Apakah pergolakan psikologis kita itu bisa dijelaskan oleh teori yang bersangkutan?

Khusus dalam hal serangan virus Corona, maka kita bisa melihat ketika secara masif dan luas orang dihadapkan pada kemungkinan bahaya kematian (apalagi dengan adanya sosial media yang mem-blow up bahaya dari Virus Corona). Bagaimana reaksi mereka? Bisakah kita memahami reaksi baik secara individu maupun kelompok, menurut teori psikologi TMT?

TS bukan seorang psikolog, dan menyerahkan pada pembaca masing-masing untuk menilai fenomena sosial yang terjadi saat ini.

Sebenarnya bukan hanya Virus Corona saja yang tampaknya bisa dijelaskan dengan TMT, tapi juga fenomena cebong dan kampret yang muncul sejak panasnya perpolitikan sejak 2014 yang lalu.


Sumber referensi :
1. https://www.psychologytoday.com/intl...agement-theory
2. https://www.theatlantic.com/health/a...havior/256728/
3. Buku Denial of Death, ditulis oleh Ernst Becker.
Diubah oleh lonelylontong


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di