CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e687569349d0f4e4427974c/rimba

Rimba

Terpetiklah mawar itu beserta tangkainya. Duhai. Mawar rimba kah ia? Maha Suci Tuhan yang menumbuhkannya di tengah semak belukar. Mengapa kau memetiknya, Anak Muda? Tidakkah terbersit di benakmu betapa pohonnya bergelut dengan keras dan liarnya hidup di sana hingga akhirnya ia mampu Cumiarkan bunga? Mengapa enggan kau biarkan semesta memangku dan merengkuh keelokan serta harumnya sampai waktu gugur itu tiba ?
Tak kuelakkan engkau bergelut dengan penyesalan selepas aku bertanya demikian. Karena engkau sadar, mawar itu akan segera layu kemudian. Pun tak akan pernah kembali seperti sedia kala meski kau kembalikan ia ke batangnya. Sesal terkesiap, membuat bendung air itu memenuh lantas meluap. Samar kau dengar endap langkah kaki menderap, menjelas saat suara semesta bertiarap. Namun waktu berjalan tak kunjung engkau jumpai adakah derap itu menjauh entah mendekat. Wahai. Duli Tuhan. Lihatlah kesilapan itu membawa risau menambat gelisah pada titah Engkau. Membuatnya tersengguk bagai habis tersayat pisau. Gusar ia pada diri sendiri. Menakutkan hati atas murka-Mu pada lalai tingkah dari batang rambut hingga ujung jemari kaki.
Menghadaplah engkau. Maharajamu itu sungguh membentang ampunan tak terkata. Hendaklah engkau meyakininya. Pergilah. Jemput dan ambillah pohon mawar yang terkisah. Tunaikan, tugasmu menyelamatkan ia dari semak belukar, sebagai pertanggungjawabanmu. Lalu pulanglah. Rawat ia di depan rumahmu. Berbatas satu di antara kalian habis waktu. Tak patut engkau menyampak sebab jenuh atau esok lusa ia tak dapat lagi berbunga. Tempuhlah jalan benar dengan genggam erat petuah. Mengadu engkau kala hari berpagut gelap. Mengair matamu mengiring tiap-tiap kata dalam doa yg terpanjat kala bunyi-bunyi menjadi senyap. Rasalah dekap kasih Maharajamu melingkar menyimpul hati pun hidupmu erat sangat. Tentang rindu, tutuplah dulu tirai itu. Kau dan aku tak pernah tau ilusi macam apa yang akan kita jumpai jika ia dibuka sebelum waktunya .  Wanita itu membangun kembali pertahanan, kali ini harus jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia bertekad tembok cina akan kalah kokoh dengan dinding yang ia dirikan untuk melindungi hatinya. Tak akan sakit lagi. Tak akan lagi dimasuki penyusup yang mengetuk pintu dengan santun, mengucap salam, namun tanpa basa-basi mencuri. Hati itu miliknya, SENDIRI ! Tak ada yang boleh seenak jidat merampas kepemilikannya. Pun ia tak peduli, jika tekad itu membuat banyak orang memicingkan mata.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di