CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerpen : Ajal Sebelum Menikah (Kisah Nyata Tetanggaku)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6832fe68cc95699c4bcc38/cerpen--ajal-sebelum-menikah-kisah-nyata-tetanggaku

Cerpen : Ajal Sebelum Menikah (Kisah Nyata Tetanggaku)

Mitos tentang pernikahan menjadi momok menakutkan, bukan hanya Adi dan Sita. Pasangan yang hendak menikah dalam waktu dekat pun merasa mitos itu nyata.
Beberapa pasangan di kampung pernah melanggar mitos 'tidak boleh pergi jauh seminggu sebelum menikah,' nahas pasangan tersebut ada yang tabrakan, tenggelam di danau.
Mitos itu kerap diulang-ulang para orang tua terhadap anaknya yang hendak menikah.
Cerpen : Ajal Sebelum Menikah (Kisah Nyata Tetanggaku)
"Jangan pergi berdua! pantang sebelum pesta jalan-jalan." Mama Adi berpesan.
"Emangnya, mitos itu fakta ya, Ma!" Adi berpendapat.
"Kalau orangtua bilang jangan! ya, jangan!"
"Nurut aja, orangtua tahu yang terbaik." Sita seperti membela calon mertuanya.
Mama Adi menolak permintaan anaknya itu. Mitos yang berkembang, sudah turun-temurun menjadi ketakutan yang tak pernah hilang.
Adi kembali membujuk mama, untuk mengizinkan mereka mengantar undangan kepada rekan kerjanya di kota.
"Ma, tolong izinkan aku dan Sita," ucapnya memohon dan memelas.
Dipeluk Mama agar diberi izin.

"Anakku, bisa kamu kirim lewat sms atau telepon, tidaklah harus kamu antar!" Lagi-lagi penolakan dari Mamak Adi.
Seakan tidak kehabisan ide, Adi memeluk dan mencium pipi Mama. Mamak menjadi luluh dan iba.
"Aku tidak ingin terjadi apa-apa, tetapi aku berdoa semoga mitos itu tidak nyata," kata Mama Adi lagi.
Wajah semringah Adi menandakan bahwa ia akan mendapat izin untuk ke kota.
"Apakah kami boleh pergi?" tanya Adi lagi.
Mama Adi hanya mengangguk mengiyakan.
Adi dan Sita bergegas memberesi undangan yang akan dibawa.
"Ma, kami berangkat ya!" Adi menyalami tangan Mama dan mereka tersenyum satu sama lain.
Adi dan Sita pergi menggunakan motor meninggalkan desa. Perjalanan yang di tempuh memakan waktu dua jam perjalanan.
Sesampai di kota mereka menemui satu-persatu teman kerja dan kerabat.
"Apa kabar bro, mau nikah katanya?" Doni rekan Adi bertanya.
"Iya, aku datang memberi undangan. Seminggu lagi dari sekarang pemberkatan dan resepsi kami." Sambil menyalami Doni sahabatnya itu.
"Eh, Adi. Bukannya pantang sebelum nikah bepergian." Kali ini Doni menekankan kembali mitos itu.
Tawa pun terdengar dari pasangan dihadapannya. "Doni, itu hanya mitos. Sekalipun itu pernah terjadi pada pasangan yang lain. Bukanlah karena mitos namun emang sudah waktunya di panggil si Pemilik Hidup." Adi memberi argumennya.
"Hahaha iya deh," ucap Doni sambil tertawa.
Sita dan Adi berpamitan dan mengunjungi rekannya di tempat lain.
Pasangan itu kembali ke daerah yang tidak terlalu jauh dari tempat Doni. Sekitar empat kilometer dari tempat tadi.
"Bang, kenapa kita seakan di ambang maut. Kalau saja abang nggak pintar mengelak, bisa jadi kita tabrakan." Sita bersuara di belakang Adi mengingat dua kejadian hendak di serempet kendaraan lain.

"Berdoa dek, kita pasti baik-baik saja." Kali ini Adi menguatkan kekasihnya.
"Horas lae, ini undangan pernikahan kami, datang ya, Lae." Adi memberi undangan kepada Santo teman SMA dulu.
"Oh, oke Lae. Aku pasti datang." Santo menerima undangan itu dengan senang hati.
"Kenapa jauh-jauh datang cuma antar undangan. Padahal bisa lewat WA atau telepon," ucap Santo lagi.
"Sekalian memberi undangan juga sama teman kantor dan teman Sita di sini." jawab Adi.
"Pantang kata orangtuaku, seminggu sebelum menikah melakukan perjalanan jauh loh, Lae." Kini mitos itu terdengar lagi.
Adi hanya menanggapi dengan senyuman. Ketiga kalinya ia mendengar mitos yang tak berpengaruh baginya.
"Itu mitos lae, doakan kami. Semoga jauh dari mara bahaya." Adi dan Sita pun pamit.
Mereka pun pulang meninggalkan kota tempat mereka bekerja. Adi bahagia, berbeda dengan kekasihnya. Sita seakan gelisah sepanjang perjalanan. Dipandangi wajah Adi tampak pucat.
Sita tidak berani bersuara, hanya pelukan dieratkan kepada pujaannya itu.

Perjalanan dua jam kembali ke desa berjalan mulus tidak kekurangan apapun. Selayaknya pergi dan kembali pun demikian.
"Sehat dan selamat ya kalian anakku," kekhawatiran terpancar di wajah Mama Adi.
"Kan aku udah bilang, Ma! Itu semua mitos," ucap Adi kepada Mama.
"Mama, jangan percaya mitos-mitos," katanya lagi.
Sita pun tersenyum akan jawaban kekasihnya itu.

Esoknya, Adi kembali meminta izin hendak ke pantai. Lagi-lagi Mama menolak.
"Jangan pergi-pergi, Nak!" Kini suara Mama Adi meninggi.
"Udahlah mak. Nyatanya kami sehat dan selamat pulang ke mari," jawab Adi.
Kekecewaan kembali tersirat di wajah singleparent itu.
"Pergilah, jika itu maumu." Ditinggalkan putra dan calon menantunya dan masuk ke kamar.
Adi seolah-olah tidak bersalah. Mereka berangkat ke pantai tidak jauh dari desa mereka, hanya lima belas menit dengan kecepatan sedang menggunakan sepeda motor.
"Apakah kita harus ke pantai?" Sita bertanya dengan sedikit kekesalan.
"Aku bosan. Seminggu ini di rumah rasanya seperti di penjara." jawabnya kepada perempuan di sampingnya.
Adi dan Sita menikmati suasana pantai. Mencoba wahana banana boats. Bernyanyi di gajebo seperti ingin membuat kenangan indah. Berlarian di pantai dan tidak lupa mengabadikan setiap moment.
Senyum semringah dan tawa terdengar dari bibir mulut Adi, namun bagi Sita seperti tawa kehampaan. Sita hanya menggeleng berusaha membuang pikiran aneh.
Sekitar tiga jam di pantai, mereka akhirnya pulang. Diperjalanan Sita begitu gelisah. Dan pelukan dieratkan seakan moment ini tak akan terulang.
Simpang empat menuju desa, sebuah mobil dari arah kanan menabrak motor Adi dan Sita.
Adi terpental jauh dari tempat kejadian. Sita jatuh tidak jauh dari motor mereka.

 Adi bersimbah darah, bagian kepala membentur aspal, Sita pingsan dan bagian kaki terluka dalam. Darah mengucur dari kaki dan tangan.
Masyarakat bergegas membantu kedua pasangan itu dan membawa ke rumahsakit terdekat.

Sebagian dari warga mengenal Adi dan memberi kabar kepada orangtuanya.

Mamak Adi menangis histeris.
"Sudah aku bilang jangan pergi, aduh anakku!"


Mama Adi pingsan untuk ke tiga kali sejak kabar tabrakan sampai ke telinganya.

Dua jam kemudian sebuah mobil ambulance terdengar memasuki halaman. Mama Adi kembali histeris dan pingsan. Tubuh Adi diturunkan dan diletakkan di bagian tengah ruang tamu. Masyarakat pun memenuhi rumah berkabung.

Mama Adi kembali sadar, kaki dan tubuh luruh menatap putranya. Airmata terus berlinang. Dan berbicara seolah Adi mendengar.

"Adi anakku, jika kamu mendengar nasehatku, tidak akan seperti keadaanmu anakku." Dipegang pipi dan mencium anaknya yang telah berpulang.

Mama Adi terus menangis, dan kerap memukul diri sendiri.
"Aku sudah mengatakan jangan pergi! kamu tetap saja pergi."


Tangis kesedihan memenuhi ruangan. Para pelayat juga histeris dan juga bisik-bisik.

"Sudah dilarang pergi kenapa pergi?" Seorang ibu bersuara dari pintu depan.
"Namanya sudah takdir, tak seorang pun bisa mengelak," lagi seorang Ibu disampingnya memberi jawab.


Ibu yang sudah mulai sepuh memberi tanggapan.
"Inilah namanya melawan mitos, sudah dilarang untuk pergi jalan-jalan sebelum menikah akan tetapi membantah."


Makin malam masyarakat semakin banyak. Dari desa-desa lain datang melayat pria yang terkabar sekecamatan telah menolak mitos sehingga kejadian tragis terjadi.

Esoknya rencana pengebumian Adi. Sita datang dengan kursi roda. Infus masih lengket di tangan. Di pandangi lelaki yang telah terkujur kaku di dalam peti.
Sita menangis histeris, teriakan terdengar memilukan, para pelayat menyaksikan kepiluan itu. Sebagian ikut menangis dan ada yang sibuk mendedikasi moment haru dengan gawai.


"Adi! Bangun kamu! Jangan tinggalkan aku. Kamu bilang aku akan menjadi istrimu. Jawablah aku, Adi!" Sita menangis sembari berkata-kata.

"Aku mengatakan, kita jangan pergi, namun engkau mengatakan harus, Adi tolong jawab aku," suara serak dan tangis menyayat hati bagi yang mendengar.
"Adi ... Adi ... Adi!" Tangisan Sita semakin meninggi sembari menyebut nama kekasihnya.


Dipeluknya Adi kembali, dicium tubuh kaku itu. Air mata membasahi wajah Adi yang penuh jahitan. Tangisan terus terdengar. Orangtua Sita menguatkan dan memeluk putrinya. Kesedihan bertambah saat Sita pun pingsan.

Lagi-lagi Mama Adi meraung histeris.
"Adi! Adi! Lihat kekasihmu ini, mengapa kamu meninggalkan kami!" Suara Mama semakin meninggi. Tangisnya melebihi suara semalam.


Rumah Adi penuh dengan suara tangis, Sita akhirnya sadar. Sita di suruh untuk kembali ke rumah sakit. Sita menolak.

"Berobatlah, Nak! supaya sembuh lukamu, kembalilah ke rumah sakit," Mamak Adi dan Sita berpelukan disertai tangis dan derai airmata.
"Tidak Ibu, aku harus mengantarkan Abang ketempat terakhirnya," suara Sita bergetar.
Sita, Mama Adi serta kedua orangtua Sita mengantar Adi untuk di kebumikan. Acara gereja dan resesi pengebumian berlangsung, dan peti telah di turunkan ke liang lahat. Sita melempar segemgam tanah ke dalam kubur sebagai syarat perpisahan dan begitu Mama dan sebagian masyarakat.

Seluruh pelayat pulang, begitu dengan Sita kembali ke rumah sakit bersama kedua orangtuanya.
"Segera pulih, dan datanglah kemari berkunjung, anggaplah aku Ibumu," di peluk Sita saat hendak pulang ke rumah sakit.
Sita kembali meneteskan airmata, sembari mengangguk.

"Semua ini terjadi karena aku, tidak mendegar nasehatmu, jikalau kami tidak pergi, tidak seperti ini kejadiannya," ucap Sita terbata-bata.
"Tidak putriku, sudah ini jalannya, jangan menyesal, Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil, sabarlah, Nak."
Diberangkatkan Sita dengan hati yang sedih. Dilambaikan tangan kepada mobil yang telah menjauh dari halaman.
Mamak dan keluarga Adi berkumpul dan meratapi kehilangan Adi.
Rencana pernikahan hanya bayang kelam bagi keluarga. Undangan yang disebar seperti undangan kabar kematian Adi.

Mitos yang beredar menjadi bahan perbincangan dari desa ke desa.
Ada yang menanggapi mitos ini benar dan sebagian tidak percaya.
Sekian dan terimakasih.




profile-picture
profile-picture
profile-picture
lin680 dan 21 lainnya memberi reputasi
wah miris sekali yah kisahnya
cerita tentang apa sih ini gan?
ane males bacanya..

tp kata mutiaranya boleh jugaCerpen : Ajal Sebelum Menikah (Kisah Nyata Tetanggaku)
Diubah oleh nasrul.putra
:tepar emoticon-Wow
bmantap minn kunjungi berita saya juga
Himbauan seperti gak boleh keluar ketika mepet nikah itu kan tujuannya baik, memang Demi keselamatan si mempelai sendiri. Bukan masalah mitos atau fakta. Logikanya saja, orang may nikah pasti lagi banyak yg difikirkan, sangat mungkin sampai stress. Nah disinilah bahayanya. Kalau berkendara sendiri bisa kurang fokus.
Lihat 1 balasan
Kasiaan, meninggal semuanya.
Mau mitos atau gimana, tapi sudah banyak kejadian juga sih
Karena blum mukrim gan.
lanjutken gan 😎👍👍👍
2020 percaya begituan ngoahahahaha
profile-picture
fenoapollo memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di