CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerpen : Hijrah Hati.....!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6830b3337f93159062bdf2/cerpen--hijrah-hati

Cerpen : Hijrah Hati.....!

Belajar mencintai adalah frasa yang mudah sekali diucap. Namun sangat sulit, amat sulit bahkan jika diterapkan. Saat ada yang bertanya, "Bukankah mencintai itu semudah tersenyum? Semudah membalikkan telapak tangan?!"
Aku hanya bisa menjawab, "Hah? Sesederhana itukah?"

Kurasa tidak! Sungguh, tak semudah yang mereka katakan. Aku tak akan pernah berhasil belajar mencintai istri sah yang bukan pilihan hati. Berbulan-bulan kami tinggal seatap bersama. Pun tak ada hasrat ingin menyentuhnya, atau sekadar menggugurkan kewajibanku sebagai seorang imam. Laki-laki macam apa aku ini? Lucu sekali, bukan?
Cerpen : Hijrah Hati.....!

Ivanka, dia adalah istri sahku. Tak ada yang kurang dari dirinya. Dia dibekali paras yang elok. Sepasang bola mata nan bulat, dinanungi alis berkelok bak jalan di tepi bukit.
Saat dia tersenyum, bibir tipisnya amat menggoda setiap pasang mata para lelaki. Semua lelaki. Kecuali aku yang sama sekali tak pernah tergoda akan kehadirannya.

Sedikit pun aku tak menginginkan dia masuk ke dalam kehidupanku. Sebab seluruh hati ini, telah dimiliki oleh wanita lain yang lebih dulu bertahta. Ratu hatiku bernama Tsuraya, istri sahku yang telah berada di pangkuan Sang Maha Pencipta. Tsuraya kekasihku, bertahun-tahun melawan penyakit mematikan itu sendirian. Hingga Tuhan menjemputnya untuk kembali.
Tak ingin aku mengkhianati bidadari surga yang telah memberiku seorang putri jelita. Sedikit pun tak pernah aku berniat menikahi wanita mana pun untuk menggantikannya. Jika bukan atas desakan Mamah, tak mungkin ada wanita lain di rumah ini.
Percayalah Tsuraya, namamu tak akan terhapuskan sampai kapanpun.

Kuusap perlahan, tetesan air mata yang membasahi foto pernikahan kami yang terbingkai dalam pigura keemasan. Aku terduduk lemah di ranjang kamar pagi ini. Seperti biasa. Setiap menatap senyum itu, rasa hati seakan diremat berkeping-keping. Aku sudah berjanji padanya untuk merawat putriku--Ahana-- sendiri. Sampai kapan pun, tapi, aku tak kuasa menentang titah Mama. Maafkan aku Tsuraya.
"Nyari apa kamu, di sana? Bukankah kemarin, kamu bilang kalau pakaian seperti itu kampungan, nggak modis!" tegurku pada Ivanka yang tengah membuka lemari hendak mencari sesuatu. Ucapanku tampak membuatnya kaget, tak sengaja dia menjatuhkan sebuah bingkai berisi fotoku bersama Tsuraya.
"Ma ... maaf, Mas. Aku nggak sengaja." Ivanka menunduk, tangan kanannya mencoba memunguti serpihan kaca yang berhamburan di lantai, sedang tangan kiri masih memegang lembaran foto.
"Kamu ini!" seruku penuh amarah. Dia menunduk, segera kurebut foto itu dari tangannya.
"Sebelum berangkat. Mas sarapan dulu, ya? Tadi juga udah kusiapin sarapan spesial buat Mas, dan Hana juga." Dia meraih tanganku, sepasang netra itu menatap penuh harap, kubalas senyum kecut. Namun dia kembali membalas dengan senyum manis.
"Sejak kapan kamu perhatian sama aku, sama Hana? Kamu pikir perhatian itu, bakal ngaruh buat aku? Jangan harap, Ivanka!" tegasku menatap tak acuh padanya.
Kutinggalkan kamar, tak ingin aku berlama-lama bersua dengannya.

Aneh sekali tingkahnya akhir-akhir ini. Sepulang dari rumah sakit dua hari yang lalu, karena kecelakaan hingga menyebabkannya koma berhari-hari. Ivanka jadi sedikit berubah. Namun, sekalipun dia berubah, tak akan mempengaruhi perasaanku padanya. Cara klasik yang ia lakukan untuk menggaetku adalah dengan memanfaatkan Mama. Dia tahu betul kelemahanku yang tak mungkin berani menentang titah Mamah.
"Ayah, Mama Ivanka sudah masak makanan kesukaan Ayah loh! Coba deh!" sapa Ahana tersenyum menyambutku.

 "Nasi gorengnya enak, Yah!" ucapnya lagi sembari mengacungkan jari telunjuk tangan kiri. Sedang tangan kanannya, sibuk melahap nasi goreng yang tersaji.
"Kamu makan yang banyak, ya Sayang! Ayah mau berangkat dulu. Ayah buru-buru." Kukecup perlahan keningnya. Tangan mungilnya menarik lengan kekarku, ada tatapan penuh harap di matanya.
"Ayah, ini 'kan hari minggu. Ayah mau ke mana?"
"Ayah ada urusan, Nak. O iya, kamu mau minta apa? Nanti ayah belikan!" sahutku meyakinkan, gadis kecil itu menggeleng.
"Ayah, ayo kita sarapan! Masakan Mama Ivanka enak banget loh. Ayah belum nyoba 'kan? O iya, Yah. Tadi, Hana juga didandanin Mama Ivanka, pakai kuncir cantik ini!" balasnya memamerkan sepasang ikat rambut yang indah dengan jepit berbentuk bunga.
Kutepiskan segala ego sejenak, demi kebahagiaan putriku. Enggan sekali aku duduk berlama-lama dengannya. Aku tak yakin dia menyiapkan semua ini untuk kami.
Dia tak berani meminta. Namun dia terus tersenyum, melihatku yang mulai bersedia duduk untuk sekadar sarapan pagi bersama.

Benarkah ini Ivanka?
Sejak kapan dia mau berjibaku di dapur? Ivanka berubah? Mana mungkin, wanita sosialita seperti dia berubah drastis secara tiba-tiba hanya demi menarik simpati kami? Pasti ada sesuatu yang dia inginkan di balik itu. Aku tak bisa semudah itu kau kelabui, Nyonya.

Dengan perlahan, dia meladeni sepiring nasi goreng udang untukku. Lengkap dengan lalapan timun dan daun selada.
"Ayah, masakannya beneran enak! Ayo makan! Kita balapan ya, Yah!" ajak Ahana menjejalkan sesuap nasi ke mulutku.
Nasi goreng ini, kenapa rasanya nikmat sekali. Persis seperti yang biasa Tsuraya buatkan untukku. Tak kurang tak lebih. Udang rebus yang dicincang sebelum dicampurkan. Sungguh, mengingatkan pada masakan Tsuraya. Tidak! Bagaimana mungkin Ivanka super model yang benci memasak bisa membuat nasi goreng senikmat ini?

"Bibik!" panggilku pada Bik Murti yang masih sibuk membersihkan dapur.
"Apa ini masakan bibik?" tanyaku penasaran.
"Bukan, Den. Itu Bu Ivanka yang masak. Saya cuma bantu ngiris lalapan sama ngupas bawang, Den."
Aku hanya mampu menelan saliva mendengarnya. Indera pengecap ini tak bisa berdusta. Bulir bening menerobos di sudut mata, perlahan berjatuhan.
"Ivanka, duduklah! Makanlah bersama kami. Masakanmu sangat enak," pintaku pada wanita berambut ombak sebahu itu.
"Iya, Mas." Ivanka tersenyum simpul mendengar pintaku. Dia duduk di sebelah Ahana, tepat di seberangku.
Mas? Sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan itu. Terserah saja, Ivanka.
"Ayah, udah lama ayah nggak ngajak Hana jalan-jalan. Hana mau jalan-jalan kayak dulu, Yah! Sama Ayah sama Bunda. Bunda udah di surga. Sekarang ada Mama Ivanka, Hana mau jalan-jalan, sama Mama sama Ayah. Mama udah sembuh, 'kan?" rengek gadis berusia tujuh tahun itu menatapku dan Ivanka yang berada di sebelahnya. Ivanka menatapnya dengan tatapan sendu.
Kali ini, aku tak bisa menolak keinginan buah hati terkasihku. Sejak pernikahanku dengan Ivanka tujuh bulan lalu, aku tak pernah lagi mengajaknya berjalan-jalan. Meski sekadar untuk bermain di taman. Setiap aku mengunjungi tempat-tempat itu, wajah Tsuraya selalu terbayang. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya.

 "Baiklah, Sayang. Hari ini, kita jalan-jalan. Hana pengen ke mana?" tanyaku sembali mengusap halus rambutnya.
"Kita main ke tempat yang dekat aja ya, Yah! Habis itu, kita ke rumah nenek!" balas Ahana sumringah.
"Oke, Sayang. Kalau makannya udah selesai. Kita siap-siap jalan ke Mall, abis itu, ke rumah nenek."
****
Ahana sudah bersiap menunggu di ruang tamu. Sementara Ivanka kembali ke kamar untuk berdandan. Aku kembali ke kamar, mengambil alrojiku yang tertinggal, di nakas.
Kulihat, Ivanka tengah mamatut diri di cermin sembari menggelung rambutnya.

"Mas," panggilnya, sontak aku menoleh.
"Iya, ada apa?" jawabku sekenanya.
"Mas, bolehkah aku meminjam pakaian Tsuraya satu setel saja. Untuk kukenakan hari ini." Ivanka meraih tanganku. Seketika kulepaskan tangannya dan mundur dua jengkal darinya.
"Apa? Lucu sekali, kamu Ivanka? Bukankah selama ini, kamu selalu bangga dengan pakaian mahalmu, dress tanpa lengan yang berhias swarowski asal negeri Perancis, dan mantel kebanggaanmu yang kamu beli saat berlibur di Korea?"
"Mas Althaf! Aku hanya meminjam pakaian Tsuraya untuk hari ini, saja. Setelah itu, nanti di Mall aku akan beli pakaian yang aku inginkan!"
"Pakaian milik Tsuraya tak boleh bergeser satu inci pun, dari tempatnya. Atau kamu akan tahu akibatnya!"
"Mas, aku ingin berubah menjadi lebih baik, aku ingin hijrah! Mengubah pakaianku dengan pakaian muslimah yang sesuai. Apa salahnya, Mas? Bukankah dosa besar, menghalangi seorang yang ingin berhijrah?!"
cerca Ivanka menatapku kesal

"Hijrah? Berubah? Untuk apa? Apa hanya untuk menutupi kebusukanmu selama ini? Atau hanya ingin menarik simpati dariku? Ivanka, jangan kamu pikir aku lupa saat pertemuanmu dengan Richardo sebelum kecelakaan itu? Kamu mau mengapusnya begitu saja? Kamu pikir aku akan memaafkanmu?!" geramku penuh amarah.
"Mas, aku nggak ada niatan apapun selain ingin berubah. Richardo ... pertemuan itu, bisa kujelaskan," rayu Ivanka kembali meraih tanganku.
"Terserah kamu saja. Ambil pakaian Tsuraya semaumu! Dan katakan pada Mama, kalau kamu layak jadi menantunya!"
Aku menuruni tangga dengan amarah yang berkecamuk. Kuusap perlahan bulir yang membuat netraku berkaca. Ahana tak boleh melihat ini.
"Ayah, kok lama banget sih?" tanya Ahana dengan polosnya.
"Iya, Sayang. Sebentar, nunggu Mamamu dandan dulu ya," balasku meyakinkan Ahana.
Ivanka datang menghampiri kami dengan penampilannya yang jauh berbeda dari sebelumnya. Hari ini, dia mengenakan gamis kesukaan Tsurayya. Gamis merah marun bermotif bunga sakura, dengan dipadu jilbab polos berwarna merah muda. Naluriku sebagi lelaki tak bisa berdusta, bahwa Ivanka jauh lebih cantik dari Tsuraya. Manakala mengenakan pakaian ini. Namun, hatiku tak mungkin berpaling dari Tsuraya sampai kapanpun
"Mama cantikkk banget, pakai baju ini! Iya, 'kan, Ayah?"
"Ehm ...." Aku hanya berdehem dan mengangguk. Ivanka dengan senyum lengkungnya menatapku lagi, seakan tanpa beban setelah kejadian tadi. Apa-apaan ini, Ivanka?


Mama begitu membanggakan Ivanka, yang baru sehari mengenakan pakaian tertutup. Perlakuan itu sungguh tak adil. Mengingat Tsuraya yang selalu bersikap baik dan santun terhadap Mamah, tak pernah sedikitpun ditanggapi dengan bijak olehnya.
Mamahku selalu mencari kekurangan Tsuraya, dan mengatakan bahwa gadis kampung yang berkulit coklat itu, tak sepantasnya bersanding dengan pria tampan dan mapan sepertiku.


"Maafkan aku, Tsuraya!" Bulir bening itu mengalir lagi dengan derasnya membanjiri kedua pipi.

"Mas," panggil Ivanka membawakan sebuah ember ke dalam kamar.

"Untuk apa ini?"

"Mas, coba kakinya ke bawah!"

Aku mengernyitkan dahi melihat tingkah Ivanka.

"Apa ini?"

"Ini rendaman air hangat dan garam, Mas. Sebelum tidur rendam kaki selama lima belas menit. Untuk mengurangi lelah sekaligus menghilangkan racun." Ivanka duduk di bawah kakiku. Mengelus kakiku perlahan yang terendam dalam ember tersebut.

Brak!

Spontan kutendang ember berisi air itu hingga membasahi lantai dan sebagian pakaian Ivanka. Wanita itu tak menujukkan ekspresi marah sedikitpun. Dia beranjak, keluar kamar untuk mengambil lap. Lalu mengelap kakiku kemudian mengelap lantai yang basah.

"Cukup! Cukup hentikan semua ini, Tsuraya!"
bentakku padanya.


Wanita itu terhenyak. Lap yang ada di tangannya seketika terlepas.
Dia menoleh, tatapan teduh penuh arti itu, sungguh, seperti tatapan Tsuraya.


"Tsuraya? Kamu kembali?!" tanyaku tegas menatap nanar padanya.

Kutarik lengannya, kini kedua netra kami saling bertemu.

"Aku Ivanka, Mas! Bukan Tsuraya, istrimu itu sudah mati!"
"Bohong! Hentikan Tsuraya, kamu pikir rasa debar ini bisa dibohongi? Kamu pikir, lidah ini bisa dikelabui? Masakan itu, hanya istriku Tsuraya yang bisa masak seperti itu. Dan rendaman kaki ini! Hanya Tsuraya yang melayani suaminya dengan sepenuh hati yang bersedia menyediakan ini sebelum tidur!"

Wanita itu terdiam. Tak menjawab sepatah kata pun.

"Untuk apa kamu kembali, Tsuraya? Kamu ingin membuktikan bahwa hanya kamu yang ada di hati ini? Apa kamu meragukanku, Sayang?"

"Tidak, Mas! Tidak! Aku hanya rindu kalian!"

"Hentikan, Tsuraya. Ini hanya membuatku semakin sakit, semakin dalam cinta ini, semakin sulit aku melupakanmu! Aku tak akan pernah bisa mencintai orang lain, sekalipun ada kau di dalam raganya! Kumohon, kembalilah dengan tenang Tsuraya! Aku mencintaimu!" teriakku sejadi-jadinya. Bulir ini mengalir menatap wajah ayunya yang menatapku sendu dengan aliran air mata.

Dia mendekat. Merengkuhku erat, aku tak bisa mengelaknya kali ini. Debar ini, cinta ini. Tsuraya telah menguasai hatiku. Aku merengkuhnya semakin erat.

"Mas Althaf. Aku mencintaimu! Terima kasih telah menjaga cinta sucimu selama ini. Terima kasih telah menjaga Ahana dengan baik. Hiduplah dengan harimu yang baru bersama Ivanka! Aku akan kembali dengan tenang!" Kami saling merengkuh kian erat. Bibir tipis itu, perlahan menyentuh bibir ini.
Malam ini, kurasakan nikmatnya cinta luar biasa yang kembali hadir.
Tiba-tiba rengkuhan erat itu terlepas begitu saja. Ivanka terjatuh, terlelap tak sadarkan diri.

Tsuraya ... kau telah pergi dari tubuh Ivanka?






profile-picture
profile-picture
profile-picture
doer81 dan 6 lainnya memberi reputasi
keren...
emoticon-Jempol
Bagian awal cerita kayaknya kudu diberi spasi biar kaga mepet2an gitu jaraknya, gan
awalnya bingung bacanya... ternyata keren ceritanya..
nyimak dulu gan
profile-picture
ampekduo memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di