CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jangan Panggil Aku Lonte (2)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e67327865b24d4c0070d0f0/jangan-panggil-aku-lonte-2

Jangan Panggil Aku Lonte (2)

Cerbung

🍀🍀🍀🍀


***

Aku baru saja duduk --setelah menyeduh teh celup-- ketika anak buah Kak Yana tiba-tiba masuk. Keduanya langsung menangis tersedu-sedu.

Kak Yana tak jadi menyeruput teh manis di tangannya. “Lho, kalian kenapa?” selidiknya, kertas koyo di kedua sudut keningnya masih menempel.

Setelah meletakkan plastik kresek berisi nasi, salah seorang anak buahnya yang bernama Tati langsung mencampakkan koran.

Kak Yana segera mengambil koran itu.

“Ya Tuhan ... kok, jadi kacau begini?”

Raut wajah Kak Yana seketika berubah. Aku tidak bisa menggambarkannya, seperti ada rasa kecewa, marah dan sedih. Juga takut.

“Sudah ... jangan menangis lagi, Nanti, selepas maghrib kita ke sana!” sambung Kak Yana dengan suara tinggi. Lalu melemparkan koran itu tepat kebelakangku.

Aku tak berani memungutnya.

Kak Yana segera mengambil handphone miliknya yang tergeletak di atas ranjang. Tak berapa lama ia pun mulai berbicara dengan beberapa orang secara bergantian.

Aku mengernyit, sedikit bingung dengan bahasa yang diucapkan Kak Yana. Berulangkali ia menyebut kata-kata yang aneh. Capcai, Cincai, Bengkot dan Bujir. Ntah apa artinya. Aku dan kedua anak buahnya hanya duduk diam, menyimak pembicaraan Kak Yana hingga pulsa di handphonenya habis.

***

Ba’da maghrib, kami ber-empat langsung bergerak. Tak ada lipstik merah di bibir, tak ada maskara di mata. Kak Yana justru terlihat berbeda. Ia mengenakan jilbab yang lumayan besar, menutup dada hingga pinggul.

Aku berboncengan dengannya, sedangkan Tati bersama Irah menggunakan sepeda motor milik mereka masing-masing. Keduanya ternyata masih sepupuan. Usia mereka hanya terpaut tiga tahun dariku.

Sejujurnya, aku sedikit resah. Tidak tahu apa yang terjadi hingga Kak Yana membawa kami ke rumah temannya ini. Mengapa tidak tinggal saja di rumah kontrakannya itu? Mengapa berita yang tertulis di koran begitu menakutkan bagi mereka? Pertanyaan itu menambah daftar pertanyaan lainnya yang tidak bisa kumengerti. Seperti istilah-istilah yang sering diucapkan Kak Yana.

Selepas melewati beberapa persimpangan lampu merah, akhirnya kami berada di jalan utama menuju lorong kontrakan Kak Yana. Entah mengapa dia tidak langsung masuk ke dalam lorong itu. Justru melewatinya lalu kembali berputar ke arah yang sama dan mengulanginya lagi.

Ada yang tidak beres, jantungku mulai berdegup.

Setelah empat kali berputar-putar, Kak Yana membelokkan stang motornya memasuki lorong tersebut, diikuti Tati dan Irah dari arah belakang. Pamflet kecil bertuliskan “Lorong Dara” menyambut kami.

Lorong Dara tampak sepi dari biasanya. Tak seorangpun terlihat berlalu-lalang. Pita plastik besar berwarna kuning dan hitam bertuliskan police line terpancang di pagar. Entah apa artinya, aku tidak tahu. Pita plastik itu membentang dari rumah pertama --yang dijadikan tempat usaha salon --hingga ke ujung lorong.

Kedua mata ini sempat menangkap beberapa bayangan kaki di bawah Akasia, tepat di samping salon. Tapi tidak tahu siapa mereka, apakah manusia atau ....

Aku semakin bergidik, saat menyadari semua kaca rumah dan salon pecah dan berserakan di teras. Dinding bangunan di corat-coret dengan cat merah. Peralatan salon berserakan di luar bahkan sisa-sisa asap masih terlihat mengepul dari tumpukan bakaran yang menggunung. Detak jantung terasa semakin cepat.

Di depanku, Kak Yana berkali-kali berdesis, “Ya ... Tuhan. Ya ... Tuhan ....”

Ia mulai mempercepat laju motornya hingga keluar lorong. Suasana tetap lengang dan sepi.

Setelah melihat kanan kiri, Kak Yana menghentikan kendaraan dan turun dari motor, tepat di depan ruko. Deretan enam ruko itu ternyata masih kosong dan hanya beberapa yang terpakai namun sudah tutup. Tumpukan kardus besar terlihat menumpuk di samping ruko paling ujung.

“Di mana?” tanya Kak Yana sembari mendekat ke arah Tati.

“Katanya ... sih, di sekitaran ini,” jawab Tati.

Aku melihat ketiga wanita itu celingukan ke berbagai arah.

“Daerah sini ... tapi aku nggak tahu di mananya,” sambung Tati.

Tiba-tiba suara suitan kecil melengking dari ujung Ruko. Sontak mata Kak Yana dan kedua anak buahnya berpindah.

“Yhana ... Yhana ... kami si dini ...,” seorang perempuan memanggil pelan dari arah yang sama.

Kak Yana melangkah pelan ke arah suara, tatapannya terlihat awas. Aku, Tati dan Idah mengikutinya dari belakang.

Seorang perempuan muda muncul --diikuti tiga perempuan lainnya-- dari balik tumpukan kardus besar. Tampilan mereka sangat aneh bagiku. Keempat wanita itu mengenakan pakaian sangat seksi tapi dengan rambut acak-acakan dan make-up yang sudah luntur.

Tangis mereka pecah saat melihat Kak Yana lalu saling berangkulan. Aku hanya melongo, tidak tahu harus berbuat apa kecuali menerima pelukan mereka.

Sambil tersedu wanita-wanita itu mulai bercakap-cakap dengan cepat. Terlalu banyak kata yang tak kupahami dari pembicaraan mereka. Kata-kata yang sudah kudengar tadi pagi dari mulut Kak Yana, Capcai, Cincai, Bengkot dan Bujir kembali terdengar. Masih banyak lagi kata yang tak bisa kuiingat.

Ternyata, malam kemarin, beberapa menit setelah Kak Yana mengajakku pergi meninggalkan rumah, ratusan warga kota datang sambil memaki-maki. Batu dan kayu berterbangan ke arah salon dan ruko di sepanjang Lorong Dara.

Beberapa wanita lari terbirit-birit sembari menjerit-jerit minta tolong. Namun sebahagian mereka terpaksa diam dan bersembunyi di dalam salon. Hingga polisi dan Satpol PP datang. Situasi tidak bertambah tenang, justru semakin parah. Puluhan warga menjadi lebih berani dan masuk, merusak pagar dan memecahkan kaca. Barang-barang berharga dijarah dan sisanya sengaja dibakar.

Kemarahan warga itu tersulut dari berita yang ditulis bang Andi di koran.

Akhirnya Kak Yana berinisiatif membawa keempat temannya ke rumah yang kami tumpangi, untuk satu malam. Wajah mereka terlihat sumringah.

Kaki kami belum berpindah, saat suara gaduh terdengar dari pintu Lorong Dara.

Derap langkah kaki yang berkejaran terdengar sangat menakutkan.

Aku menoleh ke belakang. Sekelompok laki-laki muncul dari Lorong Dara, berlari ke arah kami.

Mereka mengenakan seragam cokelat dengan tangan menggenggam pentungan panjang berwarna hitam. Berseru dengan suara lantang, siap menangkap kami yang mulai panik.

Sontak, saat itu juga, Kak Yana menarik tanganku seraya berteriak. “Semuanya ... cepat lari ... cepat!“

Serta-merta kami berpencar. Aku dan Kak Yana berlari menuju motor yang terparkir di seberang jalan dan segera menstarter.

“Sialan!” Umpat Kak Yana. Motornya ngadat tak mau hidup.

Dari kaca sepion, langkah kaki pria-pria berseragam kian mendekat. Jantungku semakin berdegup tak menentu.

“Woi .... Jangan lari ...!” suara mereka terdengar lantang.

“Woi ... berhenti! Jangan lari!”

Saat motor Kak Yana berhasil hidup, mataku masih menatap spion. Lamat-lamat terlihat satu sosok yang tak asing. Aku tak mungkin salah. Laki-laki itu berlari sambil memegang kamera besar. Dia bukan anggota Satpol PP, bukan juga polisi!

Spontan tubuhku meloncat, turun dari motor. Kak Yana terkejut dan memarahiku.

“Cepat naik, Indah! Kamu mau kemana?”

Aku tak lagi mendengar suaranya. Kak Yana memanggil namaku berkali-kali dari atas motornya yang sudah bergerak kencang.

Darahku semakin mendidih melihat laki-laki itu dan langsung mengejarnya. Bang Andi berkelit menghindar dan bersembunyi dibalik kerumunan.

Kelincahan berlari akhirnya dikalahkan oleh tangan-tangan kekar yang menyergap dan mencengkeram kedua tanganku. Aku meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.

Aku semakin menjerit saat bang Andi mengarahkan lensa kamera di tangannya ke wajahku. Aku tidak terima!

Saat itulah seorang anggota berbaju cokelat mendekat. Kumis tebalnya menyeringai, bola matanya liar mengamatiku.

“Siapa suruh menjadi lonte,” ujarnya, sinis. Disambut gelak tawa anggota lainnya yang tengah mencengkeram tanganku.

Dan, tangannya langsung meremas buah dadaku. Aku terperanjat, apalagi saat dirinya hendak meraba area bawah pusar.

Aku meradang dan merasa sangat terhina. Air mata jatuh karena sakit yang tak terkira. Aku tidak terima dilecehkan seperti ini! “Aku bukan lonteee ...!” teriakku.

Refleks kedua kakiku kencoba menendang-nendang hingga mengenai kakinya.tanpa sadar mulutku melempar ludah ke wajahnya ketika hendak menyentuh area selangkangan.

Laki-laki berkumis itu terdiam. Tangannya mengambil air liur yang menempel di wajah.

“Kurang ... ajarr ...! Kamu tahu siapa aku, hah!” bentaknya dengan suara keras.

Tangannya mengepal. Sambil memegang bahuku --dengan gerakan sedikit menunduk-- Ia menghujamkan tinju sekeras-kerasnya tepat mengenai ulu hati.

Pukulan keras tersebut membuat tubuhku terangkat hingga kedua kaki tak lagi menyentuh aspal. Snap! Sakitnya terasa hingga ke ubun-ubun. Darah segar keluar dari sela-sela bibir.

Aku tak bisa berdiri. Bahkan mataku tak mampu lagi melihat. Kecuali, sosok Bang Andi yang masih saja mengarahkan kameranya tepat di depan wajahku.

Tangan-tangan kekar itu akhirnya menyeret dan menarik tubuhku, lalu mencampakkannya ke atas mobil patroli milik mereka.

🍀🍀🍀🍀

“Indah ... emak sama bapak udah di rumah. Kapan kamu pulang, nak?”

Wajah emak terlihat ceria.

Kepalaku masih terasa pusing. Di sudut kamar, sebuah baskom besar mencoba menampung tetesan hujan yang jatuh dari atas rumah. “Sudah lama hujannya, Mak?”

“Kamu kelamaan tidurnya, sih, makanya nggak tahu kapan hujan turun. lagian tidak bagus lama-lama tidur di lantai. Nanti masuk angin,” emak tersenyum. Senyuman di bibirnya terlihat sangat berbeda.

“Bapak kemana, Mak?” tanyaku lagi.

“Ada ... sedang shalat di dalam kamar. Cepatlah kau bangun, Nak. Waktu Maghrib segera habis, lho?” emak mendekatiku sambil membawa mukena berwarna putih.

Sesekali suara tetesan air yang jatuh ke ember terdengar sangat nyaring. Aku mencoba menggerakkan tubuh untuk bangkit. Tapi sakit di kepalaku masih terasa. Dada terasa berat.

Tok ... tok ... tok ....

Aku dan emak saling tatap. Siapa yang datang saat Maghrib. Hujan sangat deras di luar.

“Indah ... buka pintunya, emak mau ambil wudhu dulu,” pinta Emak, sebelum melangkah ke kamar kecil dan meninggalkanku.

Tok ... tok ... tok ....

“Cepat buka pintunya!” Suara seseorang di luar sana membuat nyaliku menciut. Aku segera bangkit. Sedikit tertatih mencoba melangkahkan kaki.

Saat tanganku hendak membuka kait pintu, tetesan air dari sela-sela lubang di atap rumah jatuh tepat mengenai kepala. Dinginnya terasa menjalar hingga menembus relung-relung ditubuhku.

---

“Woi ... bangun!”

Aku mencoba membuka kelopak mata. Seorang wanita gendut berbaju cokelat sudah berdiri di depanku, sambil berkacak pinggang. Tangannya memegang botol air mineral.

“Cepat!” katanya lagi sambil menuangkan air mineral di tangannya ke atas kepalaku. Sangat dingin.

Aku mencoba menggerakkan tubuh untuk bangkit. Sakit masih sangat terasa di dada. Wanita itu memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Aku tidak tahu berada di mana. Ruangannya sangat besar dan banyak lukisan kaligrafi terpajang di dinding. Di tengah ruangan, belasan perempuan duduk dengan wajah tertunduk. Ada yang mencoba menutup mukanya dengan kain, ada juga yang menutupnya dengan rambut sendiri.

Aku langsung duduk sesuai perintah wanita gendut tersebut. Setelah meminta KTP, kulihat tangannya mencatat semua informasi diriku di buku besar.

“Masih kecil bukannya sekolah, malah ngelonte ke kota ...,” cibirnya, sambil mengembalikan KTP milikku.

Aku tidak menjawab. Mataku hanya menatap dinding kosong dibelakangnya. Setiap mencoba menarik nafas, dada masih terasa sakit.

Wanita itu kembali bertanya. “Sudah lama menjadi lonte?” Tangannya berputar-putar memainkan pulpen, menunggu jawaban untuk di tulis.

Pertanyaan itu semakin menambah rasa sakit. Aku hanya menunduk, tak terasa air mataku jatuh.

Dering handphone berbunyi nyaring, entah dari mana datangnya. Ternyata milik wanita di depanku. Ia terlihat cepat-cepat mengeluarkan benda itu dari saku baju. Pesan text masuk.

Sambil menatap layar handphone, sesekali matanya melirik ke arahku. Setelah membaca pesan, ia bangkit dari kursi dan langsung pergi.

Di ujung ruangan terdapat sebuah pintu besar terbuat dari kaca. Kulihat dirinya sedang berbicara dengan seorang pria yang berpakaian sama persis dengan dirinya. Sepertinya pembicaraan mereka sangat penting hingga terasa sangat lama.

Wanita itu kembali dengan langkah terburu-buru. Senyumnya terkembang. Raut wajah tak lagi jutek, bahkan tutur bahasanya berubah selembut salju.

“Dik, Indah ... kamu boleh pulang malam ini. Sudah ada yang menunggu di luar, Kak Yana ...."

---

“Malam ini juga kita harus pergi.”
“Kemana, kak?”
“Ke Medan ....”

🍀🍀🍀🍀

Bersambung ....
profile-picture
ummusaliha memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di