CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / Hobby & Community /
KOMUNITAS KEMAH KELUARGA INDONESIA : Sejarah dan Awal mulanya
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6731f1c0cad72be9714080/komunitas-kemah-keluarga-indonesia--sejarah--dan-awal-mulanya

KOMUNITAS KEMAH KELUARGA INDONESIA : Sejarah dan Awal mulanya

KOMUNITAS KEMAH KELUARGA INDONESIA : Sejarah dan Awal mulanya

Bosan ke mal atau tempat wisata kala libur tiba? Kemping saja ! Kalau kemping bersama pasangan dan anak-anak masih kurang seru, anda bisa bergabung dengan Komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3I). 

Jadi, tak perlu khawatir tenda anda akan sendirian di alam terbuka. Merasa kurang seru piknik hanya bersama keluarga ini juga yang pernah dialami Bharata Ceppy Asmara Lubis dan membuatnya lantas mendirikan K3I, tahun 2015. Sejak SMP, Ceppy memang sudah menyukai kegiatan pencinta alam. 

Saat SMA, bahkan ia pernah menjadi ketua organisasi pencinta alam di sekolah. Lalu waktu kuliah, ia turut mendirikan organisasi pencinta alam di kampus. Naik gunung, arung jeram, dan memanjat tebing menjadi hobinya. Ceppy juga senang mengumpulkan teman-teman untuk kemudian jalan bareng. Sayang, setelah menikah dan memiliki anak, ia tak lagi bisa mengulang hobinya tersebut lantaran sang istri keberatan ia mendaki gunung. 

Tak kehabisan akal, Ceppy lalu mengajak istri dan kedua anaknya kemping untuk pertama kalinya pada Desember 2014. Beberapa kali kemping, mereka berpindah-pindah tempat. Namun, Ceppy merasa kurang seru. Mengapa kemah hanya sekeluarga saja? Mengapa tidak mengumpulkan teman-teman dari keluarga lain yang ditemui di camping ground saat berkemah? Setidaknya, dari sana bisa saling sharing pengalaman masing-masing. 

April 2015, Ceppy berinisiatif mengajak keluarga lain untuk ikut kemping dengan mendirikan komunitas Green Mountain Family Camp Community. Sebagai penggiat media sosial, Ceppy lalu membuat akun untuk komunitas itu di Facebook. Pada 3-5 April 2015 itu, komunitas ini mengadakan kemping pertamanya di Cibodas, Jawa Barat dengan peserta sekitar 100 orang. 

Sejak itu, jumlah anggota komunitas meningkat. Pada kegiatan kemping kedua yang diadakan di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, jumlah pesertanya makin banyak. Kemah ketiga diadakan di Bukit Golf, Cibodas, Jawa Barat. Jumlah pesertanya lebih banyak lagi dibanding kemah kedua. Pada ujung 2015, atas hasil kesepakatan dengan anggota komunitas, Ceppy lalu membuat komunitas yang lebih besar lagi dengan peserta dari seluruh Indonesia. 

Namanya diubah menjadi Komunitas Kemah Keluarga Indonesia, sekaligus membuat situs kemahkeluarga.org. Untuk menjaring lebih banyak anggota, Ceppy mempromosikan komunitasnya lewat media sosial, pertemanan, bahkan membagi-bagikan kartu nama komunitas ke tenda-tenda keluarga lain saat berkemah dan mengundang mereka untuk ikut kegiatan K3I yang sedang berlangsung di tempat kemah tersebut. 

Ibaratnya, Ceppy berusaha ‘meracuni’ mereka agar mau bergabung dalam komunitasnya. Alhasil, ketika Desember 2015 silam K3I mengadakan kemping keempat di Bukit Golf Cibodas, acara ini diikuti oleh sekitar 150 keluarga dengan jumlah peserta 450-500 orang. 

Ada pula yang mengajak kakek dan nenek mereka. Untuk lokasi kemping, biasanya K3I memilih area yang memiliki sungai kecil yang airnya tenang dan tidak dalam, ada tanah lapang, pohon, pemandangan gunung. Satu lagi yang wajib adalah udaranya dingin sehingga peserta tidak akan kegerahan di dalam tenda. Kegiatannya bukan hanya sekedar mendirikan tenda lalu sibuk sendiri-sendiri. Meski banyak yang tak saling kenal, para peserta bisa akrab dan bahkan ketagihan ikut kemping. Sebab, para panitia yang jumlahnya sekitar 20 orang punya sederet acara yang sungguh sayang untuk dilewatkan. 

Antara lain, fun games, ice breaking untuk mengakrabkan para peserta, lintas alam, seminar parenting, story telling, permainan tradisional untuk anak-anak yang selama ini sudah banyak dilupakan, lomba memasak untuk keluarga, dan lainnya. Semua kegiatan tersebut, tentu saja akan membuat para peserta punya pengalaman yang sangat berkesan dan tak sabar menunggu acara kemping berikutnya. 

Apalagi, untuk kegiatan yang berlangsung selama 3 hari 2 malam ini, peserta hanya diminta membayar Rp 80.000 per orang. Biaya ini meliputi biaya kemah selama acara, toilet, api unggun, dan jagung bakar saat api unggun, serta permainan. Sementara, perlengkapan seperti tenda, sleeping bag, makan, peralatan masak, dan lainnya, menjadi tanggung jawab masing-masing. 

Kalaupun peserta tidak punya tenda, panitia bisa membantu menyediakannya dengan biaya murah, sekitar Rp 75.000 per malam untuk kapasitas empat orang. Menyewa sleeping bag juga bisa. Jadi, untuk kegiatan seperti story telling, seminar parenting, dan lainnya gratis. 

Padahal, kalau kita ikut seminar parenting yang diadakan di berbagai tempat, biayanya bisa ratusan ribu rupiah. Lalu, bagaimana bisa gratis ? Ceppy bercerita, bahwa member K3I berasal dari beragam kalangan dan profesi. Ada yang menjadi story teller, pembicara di seminar parenting, dan lainnya. Momen inilah yang dimanfaatkan untuk berbagi ilmu itu secara gratis. 

Ditambahkan Ceppy, setiap kemping juga selalu ada dokter yang stand by, yang juga merupakan anggota K3I sekaligus peserta kemping. Sementara Ceppy sendiri bertanggung jawab untuk urusan fun games saat acara berlangsung. Permainan untuk orangtua yang dilakukan antara lain ice breaking, jump in jump out, polisi mengejar pencuri, melatih kekompakan, dan lainnya. 

Sementara, untuk anak-anak antara lain permainan dampu, tapak gunung, egrang kaleng, dan sebagainya. Antara peserta satu sama lain tidak saling kenal, jadi adanya permainan tersebut sebagai upaya bagaimana bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi hangat. Ibu-ibu, misalnya, bisa memasak beramai-ramai di tenda besar yang memang disiapkan sebagai dapur umum. 

Mereka bisa membawa kompor, meja, dan peralatan masak lainnya ke tenda ini. K3I, menurut Ceppy, juga mengajarkan setiap anggota keluarga yang ikut untuk bekerja sama menjalankan kegiatan selama berkemah. Kalau sehari-hari biasanya orangtua sibuk bekerja, saat kemping mereka bisa menjadi tim yang luar biasa kompak dan memiliki quality time dengan anak, misalnya saat memasak, mencuci piring, mengambil air di sungai, dan lainnya. 

Anak yang sehari-hari mainnya ke mal atau bermain gawai, bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda. Bahkan, kata Ceppy, sampai pernah ada anak yang tidak mau pulang karena menikmati kemping. Ayah dua anak yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan multinasional di Tangerang Selatan ini menambahkan, selama ini banyak orang berlibur dengan menghabiskan biaya mahal hingga Rp 500.000 per orang ketika kemping. 

Sementara K3I menawarkan kemping dengan biaya yang terjangkau. Para peserta kemping berasal dari semua kalangan, baik kalangan bawah, menengah, sampai atas. K3I memiliki dua jenis kegiatan, yaitu big event yang merupakan kemping skala besar yang dilangsungkan setiap pertengahan dan akhir tahun, dan Kopdar Kemah Keluarga Bulanan. 

Acara big event diadakan oleh K3I pusat, sedangkan acara kopi darat yang biasanya diadakan pada akhir pekan pertama setelah gajian bisa diadakan baik oleh pusat maupun region (tingkat provinsi), dan chapter (tingkat kota/kabupaten). Saat ini, K3I tersebar di berbagai daerah, antara lain Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Jawa Barat, Kalimantan, dan lainnya. Kini anggota K3I sudah lebih dari 500 keluarga. 

Untuk menjadi anggota K3I sangat mudah. Yang penting adalah hobi kemah dan ingin menambah pertemanan. Tidak punya tenda pun tidak apa-apa, karena bisa menyewa. Pendaftaran jadi anggota juga gratis. 

Saat kemah berlangsung, kalau ada yang mau menyumbang makanan pun, dipersilahkan saja. Ceppy bercerita, kalau dulu orang kemping membawa tas ransel besar di punggung, sekarang keluarga yang berkemah menggunakan cara yang berbeda. Mereka membawa kontainer plastik yang berisi makanan, piring, dan peralatan makan lainnya. Tinggal diangkut dan dimasukkan ke mobil. Lebih praktis. 

Selanjutnya tinggal dibuat acara kemping yang senyaman mungkin. Yang penting, semua anggota keluarga bisa menikmati. Untuk peserta, diharapkan juga membawa obat-obatan pribadi agar selama kemping kesehatannya tetap terjaga, meski ada dokter saat acara dan rumah sakit tak terlalu jauh dari lokasi. 

Untuk perlengkapan, tak sedikit peserta yang membawa meja dan kursi lipat untuk makan. Ingin membuat puding pun boleh. Mau masak apa saja silahkan. Ceppy menambahkan, kalau kemah bersama keluarga wajib membawa kompor portable. Dari K3I sendiri ada susunan acara selama kegiatan. Yang jelas, berupaya agar quality time antara orangtua dan anak makin banyak. Untuk kegiatan yang butuh tempat besar seperti sholat atau kehujanan saat acara, panitia menyediakan tenda pleton. Sumber: Indonesia Feature

Cek: http://kemahkeluarga.org/
tulisannya keciiiil... banyak pula...

lelah mata ini membacanya


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di