CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e67283e28c991363175240a/tolong-aku

TOLONG AKU!

TOLONG AKU!


Bagian 1

SEBUAH PERTEMUAN


Sebuah mobil terhenti tepat di depan gerbang sekolah. Dari lantai tiga, Amel bisa melihat seorang wanita berbaju hitam dengan rambut tergerai, turun dari sisi belakang.
Wanita itu membetulkan pakaiannya, lalu melangkah memasuki halaman sekolah.

Langkah wanita itu tegap. Dengan pandangan lurus ke depan dan dagu terangkat. Sesekali senyum tipisnya mengembang saat siswa yang ditemui sepanjang lorong sekolah menyapa.

Amel terus mengamati wanita itu, sesekali tangannya yang menggenggam botol air mineral bergoyang-goyang pelan.

Tidak lama bel panjang berbunyi, tanda waktu istirahat habis. Masih dengan pikiran-pikiran yang memenuhi kepala, Amel melangkah pelan menuju kelasnya.

Suasana kelas yang riuh karena guru yang bertugas belum datang, membuat Amel pusing. Gadis yang tahun ini kembali menduduki peringkat pertama di sekolahan elit itu benci keramaian. Sambil melipat tangannya di atas meja, Amel merebahkan kepala. Berharap guru Matematika yang bertugas segera datang.

Dari arah kanan terdengar sebuah pintu terbuka. Suasana yang tadi riuh mendadak sepi. Semua siswa kembali ke tempat duduk masing-masing demi melihat siapa yang datang. Wakil kepala sekolah.

“Hari ini kalian kedatangan guru baru.”

Masih sambil menahan nyeri di kepala, Amel mengangkat wajahnya. Menatap perempuan berambut panjang yang tadi dilihatnya.

Wanita itu mengenalkan diri sebagai Bu Diana. Guru pengganti Bu Winda, pengajar Matematika yang sudah memasuki masa pensiun.

Setelah mengenalkan guru baru, wakil kepala sekolah pun pergi meninggalkan kelas.
Seisi kelas hening. Bu Diana berjalan mengelilingi barisan, mengamati penghuni kelas satu per satu.

Langkah ketukan sepatu itu terhenti tepat di samping Amel. Sepasang matanya yang tajam menatap pergelangan tangan Amel yang sedikit terbuka.

‘Sial!’

Amel yang menyadari sesuatu, buru-buru menyembunyikan lengannya di bawah meja. Salah dirinya hari ini lupa memakai ‘handband’.

Ketukan sepatu itu kembali berbunyi. Bu Diana kembali melangkah, hingga berhenti tepat di depan kelas. Sambil menatap murid-murid, senyum tipisnya mengembang.

“Mari kita mulai!”

Beberapa siswa terlihat menghembuskan napas. Amel menoleh ke belakang saat merasakan seseorang menendang kursinya.

“Apa-apaan tatapannya yang mengintimidasi itu?” tanya sebuah suara dari belakang.

“Siapa yang tahu,” balas Amel pelan.

Tatapannya kembali tertuju ke depan, menatap Bu Diana yang saat itu juga sedang menatapnya.

“Baiklah. Kita mulai dengan halaman lima puluh. Kerjakan semua soal. Waktu kalian tiga puluh menit.”

Kelas yang semula tenang, mulai berkasak-kusuk. Beberapa terlihat panik, sebagian lagi masih melongo tanda tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Amel masih menatap Bu Diana. Wanita itu berjalan menuju meja guru, menyalakan sebuah penunjuk waktu digital berwarna merah.

“Hentikan pekerjaan kalian saat benda ini berbunyi. Mari kita lihat, seberapa hebat murid-murid di kelas ini.”

Napas Amel memburu, dadanya naik turun. Guru baru itu benar-benar sedang menantang penghuni kelas.

“Baiklah! Mari lihat siapa yang menang,” gumam Amel sembari membuka buku tebal di depannya.

Siang itu, awan yang panas mendadak mendung. Selain langit, kelas unggulan di sekolah paling elit di ibu kota juga menjadi saksi sepasang keluarga jauh yang bertemu untuk pertama kalinya.

(Bagian 1- selesai)

Purworejo, 9 Maret 2020


BAGIAN-2
BAGIAN-3
BAGIAN-4
BAGIAN-5
profile-picture
profile-picture
profile-picture
DianAhmadKaskus dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Vieee111

TOLONG AKU!

profile-picture
profile-picture
ariefdias dan iissuwandi memberi reputasi
Diubah oleh Vieee111
TOLONG AKU!

Bagian 2

SIAPA ANDA BERANI MENATAPKU BEGITU?


Benda kotak kecil berwarna merah itu berdering tepat saat menunjukkan angka tiga puluh.
Seisi kelas kembali kasak-kusuk, sibuk memeriksa jawaban mereka. Beberapa bahkan terlihat panik dan memasang wajah pura-pura menangis.

Cih!
Dunia ini benar-benar penuh dengan kepalsuan. Amel yang sejak tadi terus meletakkan kepalanya di atas meja, tiba-tiba bangkit. Tanpa berkata-kata, gadis berambut pendek sebahu itu berjalan melewati meja guru lalu melangkah keluar.

Langkah Amel terhenti saat kakinya meninjak anak tangga teratas lantai sekolahnya. Sambil mengatur napas, gadis itu berjalan sempoyongan menuju pintu yang menghubungkan tangga dengan atap gedung sekolah.

“Hah!”
Sambil mengembuskan napas keras-keras, Amel berjalan mendekati besi pembatas yang mengelilingi bagian atap gedung.

“Aaaaaa!”

Teriakan panjang itu menggema, entah berapa kali. Amel terus berteriak sampai tenggorokannya sakit.

“Dasar bodoh!”

Amel menoleh demi mendengar sebuah suara dari arah kanan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang laki-laki sedang membaca buku sambil mendengarkan musik lewat headset di telinganya.

“Hei! Apa maksudmu?” bentak Amel kesal. Untuk sesaat gadis itu terbatuk. Tenggorokannya sakit sekali.

“Maksudku? Kamu bodoh!”

“Hei!”

Laki-laki itu meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya, lalu tersenyum menatap Amel.

“Pastikan kamu tidak mengulangi kebodohanmu,” ucap laki-laki itu seraya pergi.

Amel bergeming sambil menatap punggung laki-laki itu menjauh, lalu hilang di balik pintu.
Angin bertiup kencang, membuat Amel termenung sambil mengingat sesuatu.

“Hei! Kamu tahu kenapa orang tuamu membuangmu? Karena kamu bodoh.”

“Memang kenapa kalau aku bodoh?

Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat tiba-tiba.

“Aku tidak tahu kenapa suamiku begitu menyukaimu, tapi yang pasti, selama aku ada, kamu tidak akan hidup dengan mudah.”


Amel kembali menghembuskan napas berat. Sepuluh tahun yang lalu, entah apa yang terjadi sekarang jika seorang laki-laki dengan senyum hangat itu tidak menolongnya. Entah apa yang terjadi jika dirinya tetap mengais tempat sampah mencari nasi sisa.

Amel lalu mendongak menatap langit.

“Aku ingin tahu apa yang sedang disiapkan alam untukku di depan sana.”

Pintu kelas sudah dikunci saat Amel kembali. Dilihatnya isi kelas dari kaca jendela.
Sepi.
Sepertinya semua teman-temannya sudah pulang atau sedang mengikuti kelas tambahan.
Amel termenung, memikirkan bagaimana cara mengambil tasnya yang masih tertinggal di dalam.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Sebuah suara mengagetkan Amel. Dilihatnya Dio sedang menatap dengan pandangan menyelidik. Laki-laki cuek yang sudah dikenalnya sejak sekolah dasar itu asyik memainkan bola basket yang dibawanya.

“ Bukan urusanmu,” balas Amel tak acuh.

“Baiklah. Dasar sombong.”

“Hei!”

“Apa? Kau mau mengadu ke orang tuamu?”

“Hei!!!”

Tiba-tiba terdengar langkah sepatu mendekat dari arah belakang. Amel menoleh. Dilihatnya Bu Diana mendekat dengan tatapannya yang tajam. Guru baru itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Amel yang menatap dengan pandangan tidak suka.

Hening.
Untuk beberapa lama, Amel dan Bu Diana saling tatap. Mereka seperti membiarkan desau angin di sekitar mereka mengambil alih pembicaraan.

“Amelia Putri,” kamu tahu apa kesalahanmu?” tanya Bu Diana dengan nada pelan tapi penuh penekanan.

Amel melangkah mendekat, lalu menatap wajah Bu Diana.

“Siapa Anda berani menatapku begitu?”


(Bagian2- selesai)

Purworejo, 10 Maret 2020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
DianAhmadKaskus dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Vieee111
nitip dulu 😁😁
profile-picture
masnukho memberi reputasi
jejak cinta, nanti mampir lagi😅
profile-picture
Vieee111 memberi reputasi
Quote:


Siap komandan emoticon-Ngakak
Bagian 3
Neraka yang Disebut Rumah


TOLONG AKU!
sumber gambar


Suara tangisan di toilet terdengar saat Bu Diana yang saat itu masih sebagai guru magang sedang melintas. Dengan rasa ingin tahu yang memenuhi kepala, guru yang baru mulai mengajar selama tiga bulan itu memeriksa tiap bilik toilet wanita.

Semua kosong, kecuali bilik paling ujung yang terkunci dari dalam. Dari sanalah suara tangisan itu berasal.

Suasana sekolah sepi. Jam pelajaran sudah berakhir sejak dua jam lalu. Karena tidak kunjung mendapatkan pertolongan, Bu Diana memaksakan diri untuk mendobrak pintu toilet di hadapannya.

Tepat setelah dorongan kesepuluh, pintu itu terbuka. Bu Diana yang sedang mengatur napas sambil memegangi bahunya yang ngilu, melotot kaget saat melihat salah satu siswanya duduk di atas bak mandi sambil menundukkan kepala. Namun, bukan itu yang membuatnya kaget. Darah yang menetes dari pergelangan tangannyalah yang membuat naluri wanita berusia dua puluh lima tahun itu bergejolak.

“Nak, apa yang terjadi?”
Dengan tatapan panik, diangkatnya wajah murid di hadapannya.

“Ryuna? Ryuna! Apa yang terjadi?”
Bu Diana mengguncang tubuh lemah itu sembari membalut luka sayatan di lengan dengan sapu tangan.

Tiba-tiba tubuh lemah itu bergerak. Ditepisnya tangan Bu Diana yang berusaha menolongnya.

“Sedang apa Anda di sini? Tidak bisakah Anda pura-pura tidak tahu seperti yang lainnya?” tanya murid bernama Ryuna sambil berusaha menjauhkan diri dari Bu Diana.

“Ryuna, apa yang kamu bicarakan?”

“Diam. Berhentilah pura-pura peduli. Anda ingin mencari simpati di hadapan guru lain untuk meningkatkan penilaian Anda? Percuma. Di sini sudah tidak ada siapa-siapa.”

Ryuna bangkit lalu berjalan sempoyongan meninggalkan Bu Diana yang masih tertegun.


Bu Diana terus menatap Amel yang saat itu masih terus menatapnya.

“Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?” tanya Bu Diana pelan.

“Peduli apa Anda soal sopan santun?” ucap Amel sembari meninggalkan Bu Diana. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan gedung sekolah dengan wajah kesal.

“Hei! Sedang apa di sini?”

Amel yang sedang tertunduk di bangku halte, mengangkat wajah saat mendengar suara seseorang di hadapannya. Dilihatnya Dio yang sedang berhenti di atas sepeda motor.

“Bukan urusanmu!” ucap Amel ketus.

“Ayo aku antar pulang. Jam segini tidak ada taksi lewat. Ini jam sibuk.”

Amel menatap Dio, lalu memikirkan ajakannya.
Tak lama keduanya sudah berbaur dengan pengendara motor lain memecah jalanan ibu kota.

“Hei!”

“Hmmm?”

“Mau ke taman sebentar?”

Bu Diana yang panik, berusaha mengejar langkah Ryuna. Tetesan darah dari lengannya menetes sepanjang jalan. Bu Diana terus mencari Ryuna yang sudah berbaur dengan keramaian. Guru muda itu tahu bahwa muridnya butuh pertolongan. Ini bukan soal penilaian, ini soal nyawa seseorang.

Tiba-tiba terdengar suara klakson cukup keras, diikuti suara kendaraan besar yang menabrak pagar pembatas jalan.

Bu Diana berbalik arah. Di belakangnya, warga mulai berkerumun, menatap seorang siswi yang tergeletak bersimbah darah. Sore itu, sebuah kecelakaan mengubah hidup wanita yang sepanjang hidupnya dihadapkan oleh hal-hal rumit. Yah, hidup kadang begitu ambigu.

“Kenapa mengajakku kemari?” tanya Dio sambil duduk di salah satu bangku kayu.

“Aku sedang malas pulang,” ucap Amel sambil menerawang.

“Hei, cewek jenius! Menurutmu kenapa orang tua kita begitu terobsesi dengan nilai tinggi di pelajaran sekolah?” tanya Dio sambil menatap Amel.

“Entah. Kurasa supaya mereka punya alasan untuk pamer.”

“Hah! Orang dewasa egois sekali, ya,” ucap Dio sambil menyandarkan bahunya.

“Bukan egois lagi. Saat berada di rumah, aku serasa berada di neraka,” ucap Amel sambil menatap kejauhan.

Dio menoleh, ditatapnya Amel yang sudah dikenalnya sejak kecil. Dulu gadis bertubuh kurus itu tidak sejenius sekarang. Dio berusaha menebak-nebak, apa saja yang sudah dilalui teman sepermainannya itu hingga menyebut rumahnya sebagai neraka.

Purworejo, 11 Maret 2020
(Bagian3- selesai)
profile-picture
DianAhmadKaskus memberi reputasi
Diubah oleh Vieee111
Lihat 1 balasan
Bagus
profile-picture
Vieee111 memberi reputasi
Quote:


Terima kasih, Kak. Mohon kritik dan sarannya 🙏🙏
Quote:


Siap, Kak.

Nanti ada bagian-bagian flash back-nya masing-masing tokoh, Kak.

Terima kasih sudah membaca 😍
TOLONG AKU!
sumber gambar

Bagian-4

GADIS KECIL ITU BERNAMA AMELIA


Pintu rumah petak itu perlahan terbuka, diiringi suara engsel karatan. Sebuah kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi masuk dengan langkah sempoyongan.

Ketukan sepatunya terhenti sebentar di depan sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka. Dilihatnya laki-laki kurus tertidur di samping balita yang belum genap berusia tiga tahun.

“Mereka hanya tahu makan dan tidur,” ucap sosok berkaki jenjang itu. Tidak lama dirinya kembali melangkah menuju meja dapur, menghempaskan tubuh kurusnya sambil bersandar.

Tiba-tiba sosok itu menegakkan punggungnya. Wanita yang akrab disapa Betty itu berjalan mengambil segelas air lalu memasukkan satu butir obat tidur ke dalamnya. Sambil menunggu butiran obat itu larut dalam air, Betty menyalakan sebuah rokok yang diambilnya dari saku jaket.

“Kamu merokok lagi?”

Sebuah suara tiba-tiba membuatnya kaget.
Ditatapnya laki-laki kurus yang masih berdiri di pintu kamar.

“Urus saja urusanmu sendiri,” balas Betty sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi aku suamimu. Tidak bisakah kamu menghormatiku sedikit saja?”

Suasana mendadak hening. Hanya terdengar detik jarum jam yang menunjukkan pukul tiga pagi.

Betty menurunkan kakinya yang sejak tadi dia angkat ke atas meja. Diteguknya segelas air di hadapannya lalu bangkit.

“Suami? Siapa yang pernah menganggapmu sebagai suami?” tanya Betty pelan sambil berlalu masuk ke kamarnya.

Sepeninggal Betty, laki-laki bernama Bram itu terduduk di lantai. Tiba-tiba ia teringat kembali percakapannya dengan sang Ibu. Bram stres waktu tahu sang Ibu ingin dirinya segera memasukkan Amelia ke tempat pendidikan usia dini. Bram tahu, ibunya sangat terobsesi dengan pendidikan dan nilai-nilai yang sempurna.

Bram yang gagal menjadi seorang dokter seperti keinginan ibunya, dituntut untuk menjadikan Amelia seorang dokter sebagai gantinya.

Bram frustrasi. Bukan karena desakan sang Ibu, tapi karena kondisi keluarganya yang menyedihkan.

Pagi itu juga, Bram diam-diam pergi dari rumah. Dibawanya serta Amelia yang masih tertidur pulas. Laki-laki pengangguran yang setahun lalu menjadi korban PHK semena-mena itu, bertekad untuk menyelamatkan putri semata wayangnya dari keegoisan.

Bram turun dari kendaraan. Matahari sudah menjulang tinggi saat dirinya tiba di sebuah kota yang menjadi tujuan akhir bus yang dinaikinya.

Laki-laki itu melangkah pelan, menyusuri rumah-rumah besar berpagar tinggi. Kemarin dirinya melihat sebuah iklan lowongan pekerjaan di koran. Langkah Bram terhenti, sepasang matanya terus mencocokkan alamat di hadapannya dengan secarik kertas di tangan.

Tidak lama laki-laki itu tersenyum, lalu menekan bel.

***

Sebuah mobil mewah terhenti saat melintasi sebuah perkampungan kumuh. Seorang laki-laki berjalan sambil mengarahkan kamera ke berbagai sudut.

Tidak lama langkahnya terhenti. Didekatinya seorang kakek yang sedang bersandar sambil mengipasi wajahnya dengan koran bekas.

“Permisi, Pak. Boleh saya bertanya?”

“Ya, silakan.”

Laki-laki berjas itu mengajukan beberapa pertanyaan sambil merekam jawaban yang diberikan sang kakek.

“Terima kasih atas bantuannya, Pak.”

“Sama-sama, Nak. Semoga kamu memenangkan pemilihan dan benar-benar membangun kampung kami ini,” ujar sang kakek sembari menjabat tangan laki-laki berjas.

Laki-laki itu hendak kembali ke mobilnya saat sepasang matanya menangkap sesuatu.

“Maaf, Pak. Boleh saya tahu gadis kecil itu siapa?”

Sang kakek menoleh ke arah yang ditunjukkan sang laki-laki, lalu menghembuskan napas pelan.

“Namanya Amelia. Gadis kecil yang malang itu dibuang oleh ke sini oleh seorang wanita kaya tiga tahun lalu.”

Laki-laki itu melangkah mendekati gadis berambut panjang yang sedang mencari sesuatu di tempat sampah.

“Nak, kamu mau ikut Om?”


(Bagian4- selesai)

Purworejo, 14 Maret 2020
Diubah oleh Vieee111
Sundulin emoticon-Mewek
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
TOLONG AKU!

Bagian 5

HUKUMAN!


Sebuah suara keras membentur dinding tepat setelah Amel melangkah masuk. Beberapa pecahan benda itu yang ternyata vas bunga, mengenai kaki Amel yang belum sempat mengenakan sandal bulunya.

Gadis itu meringis pelan, berusaha menahan sayatan-sayatan di kedua kakinya.

“Anak tidak tahu diuntung! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?” tanya sebuah suara yang berasal dari sosok di depannya.

Amel mengangkat wajah. Dilihatnya sang Ibu mendekat dengan wajah mengerikan.

“Les, Bu ....”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Amel setelahnya.

“Sudah berani berbohong, ya?”

“Ibu, aku sedang tidak ingin belajar, aku ....”

Sebuah tamparan kembali mendarat keras di pipi Amel.

“Tidak penting apa yang ingin kamu lakukan. Yang terpenting adalah kamu harus terus belajar dan mendapatkan nilai sempurna. Kamu tahu berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk memasukkanmu ke sekolah? Hah?”

Amel hanya diam. Dirinya tahu betul, tidak ada gunanya bicara. Yang ada justru hanya akan membuat kemarahan sang Ibu semakin menggila.

“Masuk!”

Amel menghela napas pelan, lalu mulai berjalan tertatih menuju kamarnya di lantai dua. Setibanya di sana, Amel menuju ranjang. Ia merebahkan tubuh sembari menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan pemandangan langit malam. Amel sangat menyukai bintang. Namun, sang Ibu tidak pernah mengizinkan dirinya untuk membuang-buang waktu untuk sekadar duduk-duduk santai.

Tiba-tiba Amel teringat percakapannya dengan Dio waktu di taman tadi. Laki-laki penyuka basket itu bilang, bahwa tidak ada salahnya sesekali melakukan sesuatu yang kita inginkan.

Amel senyum-senyum saat mengingatnya. Bagaimana bisa kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang Dio?

“Dasar aneh!” gumam Amel masih dengan bibir mengulum senyum.

Amel bangkit perlahan dari ranjang, melangkah pelan menuju lemari kecil di sudut kanan. Diraihnya sebuah kotak P3K lalu dibawanya menuju balkon.

Angin malam menyapa saat pintu kaca itu digeser. Amel memejamkan mata sejenak, membiarkan wajahnya diacak-acak angin dingin. Ada sedikit perasaan damai di sana. Untuk sesaat ia lupa akan beban yang terus menerus menyiksanya.

Sepasang mata Amel yang perlahan terbuka, tiba-tiba melotot kaget. Tidak jauh di hadapannya, seorang laki-laki sedang bersandar sambil mendengarkan musik lewat headset.

“Astaga, kenapa ketemu dia lagi, sih!” gumam Amel kesal.

Ditatapnya laki-laki yang tadi siang juga berada di atap sekolah. Yuanda, laki-laki jenius yang cuek dan sering bicara seenaknya. Yuanda adalah seorang introver sejati. Amel hampir lupa kalau rumahnya dan rumah Yuanda bersebelahan. Bahkan kamar pun sama-sama di lantai dua.

“Hei! Sedang apa?” tanya Amel pura-pura bertanya.

Alih-alih menjawab, Yuanda justru bangkit lalu masuk ke dalam kamarnya.

“Sialan! Seharusnya tadi tidak usah mengajaknya bicara,” rutuk Amel pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Sang Ibu masuk, masih dengan tatapan tajamnya yang mengerikan.

“Apa yang sedang kamu lakukan di sana?”

Wajah Amel pucat. Ia tidak menyangka bahwa sang Ibu akan masuk tiba-tiba.

“Aku hanya ingin sedikit menikmati angin ....”

“Masuk! Siapa bilang kamu boleh bersantai? Tadi guru lesmu datang. Bu Ana meninggalkan soal-soal latihan ini untukmu. Kerjakan, besok pagi Ibu harus menyerahkannya kembali.”

Hening.
Amel menatap tumpukan kertas tebal yang baru saja dilempar ibunya ke atas meja belajar. Matanya tiba-tiba perih. Ia buru-buru menyeka embun yang nyaris jatuh dari sana saat melihat ibunya membalikkan badan.

“Ingat! Sekali lagi kamu berani bolos les, hukumannya akan semakin banyak,” ucap sang Ibu sembari melangkah pergi.

(Bagian5- selesai)
Purworejo, 21 Maret 2020
Diubah oleh Vieee111
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
nice 😘
profile-picture
Vieee111 memberi reputasi
Quote:


Terima kasih, Mbak emoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
profile-picture
DianAhmadKaskus memberi reputasi
siapa kamu?? 🙈🙈
kenapa berasa horror giniiii?? 😭😭😭
profile-picture
Vieee111 memberi reputasi
Quote:


Ini bukan horor yang seram, tapi lebih ke mengaduk-aduk perasaan. Terima kasih dukungannya emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
Bagian 6
(Proses)


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di