CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Gegara Arab, Mimpi RI Jadi 'Raja Minyak' Hadapi Ujian Berat
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e671fae82d4952fcb2f090a/gegara-arab-mimpi-ri-jadi-raja-minyak-hadapi-ujian-berat

Gegara Arab, Mimpi RI Jadi 'Raja Minyak' Hadapi Ujian Berat

Gegara Arab, Mimpi RI Jadi 'Raja Minyak' Hadapi Ujian Berat


Jakarta, CNBC Indonesia- Target atau mimpi pemerintah untuk memproduksi 1 juta barel mnyak sehari kini hadapai ujian berat. Tak lain tak bukan, ujian datang dari harga minyak yang terjun bebas dalam beberapa terakhir.

Padahal, baru pekan lalu PT Pertamina (Persero) masih cukup percaya diri memaparkan target yang ditekankan berkali-kali oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsat Pandjaitan tersebut,

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, pernah mengungkapkan pemerintah mengejar produksi minyak dan lifting 1 juta bph. Semula, target ini diagendakan tercapai pada 2030, namun diminta dipercepat menjadi 2025.


Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan target produksi minyak nasional 1 juta bph merupakan PR besar bagi Pertamina. Tahun ini target produksi minyak nasional adalah sekitar 750 ribu bph. Untuk Pertamina sendiri, dari bahan RKAP 2020, target produksi minyak tahun ini adalah sekitar 387 ribu bph, naik dari tahun lalu 371 ribu bph.

Untuk menggenjot produksi minyak, Nicke mengatakan, belanja investasi (capex) Pertamina akan banyak dialokasikan untuk sektor hulu. "Kenaikan produksi minyak ini bisa menurunkan angka impor," kata Nicke di Jakarta, Jumat lalu.

Anggaran investasi Pertamina untuk sektor hulu mendapat porsi terbesar. Dari data Pertamina, tahun ini anggaran investasi adalah US$ 7,8 miliar, naik 84% dari tahun sebelumnya US$ 4,2 miliar. Rinciannya:
* Hulu mendapat US$ 3,7 miliar
* Upgrade kilang US$ 1,9 miliar
* Infrastruktur hilir US$ 1,2 miliar
* Proyek investasi subholding gas US$ 800 juta
* Lain-lain US$ 300 juta

Pertamina bakal menggenjot sektor hulu migasnya, dengan menggencarkan pengeboran-pengeboran sumur minyak yang ada agar produksinya bisa optimal. Bahkan dia mengatakan, ada harta karun terpendam di perut bumi Indonesia yang bisa membantu Indonesia mengembalikan kejayaan sebagai raja minyak. Apa itu.

"Di sektor hulu migas ada sumur bekas pengeboran yang tidak diaktifkan, jumlahnya 9.000. Ini bisa kita garap karena biaya investasinya hanya 25% dibandingkan biaya eksplorasi dari awal. Jadi Indonesia punya harta karun terpendam di perut bumi," ujar Nicke.

Mimpi 'Raja Minyak' Terpaksa Ditunda Dulu
Tapi, Indonesia bisa berencana namun Arab tiba-tiba bikin perkara.

Arab Saudi menyatakan perang minyak dengan Rusia. Ini terjadi pasca-Russia menolak ajakan OPEC untuk memangkas produksi 1,5 juta barel per hari (bph) guna membendung efek corona.

Sebelumnya, anggota aliansi non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia diminta berkontribusi terhadap pemangkasan tersebut sebesar 500.000 bph. Namun Rusia menolak usulan tersebut.


Secara mengejutkan pada Sabtu, Arab Saudi memilih untuk mendiskon harga minyak mentah ekspornya sebesar 10% seolah menabuh genderang perang harga dengan Rusia.

Gara-gara perseturuan panas ini, harga minyak berada di kisaran level US$ 30 sampai US$ 32 per barel. Jauh beda dibanding rerata ICP atau Indonesian Crude Price yang per Februari masih di level US$ 56 per barel

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mengatakan harga minyak yang terjun bebas ini menjadi ujian bagi sektor migas RI, terutama untuk sektor hulu.

"Anjloknya harga minyak dunia yang menekan betul di angka US$ 32 per barel, dari satu sisi keuntungan karena kita impor, di sisi lain ini bisnis hulu migas akan lesu kembali," katanya, Selasa (10/3/2020).

Dengan harga serendah itu, menurutnya eksplorasi migas akan tidak menarik bagi para investor dan akan berdampak signifikan ke penurunan produksi minyak. "Apalagi upaya-upaya untuk meningkatkan cadangan atau menemukan giant discovery, dipastikan menurun," jelasnya.

Boro-boro memikirkan target 1 juta barel sehari, dengan kondisi seperti ini menurutnya yang perlu ditekankan adalah konsolidasi para pemangku kepententingan agar tidak ada penurunan produksi lebih jauh.

"Hulu migas harus waspada, siapkan segera fiscal terms yang menarik untuk para investor agar bisa jaga produksi."

Penasihat Ahli Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Satya Yudha menyampaikan jika target 1 juta barel masih ingin dikejar oleh Pertamina, yang harus dilakukan Pertamina saat ini adalah menyesuaikan biaya operasional dan produksi minyak mereka.

"Operational cost harus diadjust agar efisien dulu, kalau tidak maka turunnya harga malah menghambat investasi," jelasnya.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu mengatakan, menyikapi harga minyak yang turun Pertamina memang harus melakukan efisiensi dan optimalisasi cara kerja.

"Contohnya strategi pengadaan lebih terpadu. Kemudian strategi logistik lebih dibuat optimum effort supaya cost production bisa turun," ungkapnya di Kantor Kementerian ESDM, Senin, (09/03/2020).

Lebih lanjut dirinya mengatakan berdasarkan catatannya biaya produksi per barel saat ini sekitar US$ 9- 11 per barel. Namun, dengan harga minyak yang terus turun maka biaya akan semakin naik.

Ia menyebut beberapa lapangan ada yang biaya produksinya bisa mencapai US$ 20 per barel. Meski demikian belum ada niatan untuk memangkas produksi.

"Saya nggak bisa share dulu tapi so far kita melihatnya masih temporary, kita antisipasi melalui optimalisasi logistik dan sebagainya. Pangkas produksi nggak lah," imbuhnya.

Dharmawan juga menegaskan tidak akan ada proyek-proyek yang tertunda, di mana Pertamina akan mengebor 411 sumur. "Tidak ada. Pengeluaran tetap jalan, target tetep 411 pengeboran," tegasnya.

sumur

https://www.cnbcindonesia.com/news/2...-ujian-berat/1
profile-picture
profile-picture
gojira48 dan nomorelies memberi reputasi
Masih lama woey
Dan biasanya molor dr target
profile-picture
profile-picture
madbunny23 dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
alah, plan nya doang bener

pas dijalanin berantakan kaya yang udah2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
madbunny23 dan 2 lainnya memberi reputasi
1 juta barel per hari dianggep raja minyak? emoticon-Bingung (S)

dasar wartawan bloon emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
madbunny23 dan 2 lainnya memberi reputasi
sebagai negara importir minyak, harusnya harga minyak turun berita bagus dong? dalam jangka pendek devisa yang bisa dihemat kan lumayan.

sementara rencana peningkatan produksi kan masih on going, artinya nggak tiba-tiba pertamina surplus produksi bulan depan. anggep aja tabungan kalo harga minyak naik lagi...
profile-picture
profile-picture
ksatriabajaputi dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
tsnya cocok jg jadi mentri migas dan sumber daya alam


kalo kilapak bbm gratis*
profile-picture
profile-picture
laudien29 dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
ngeri juga turunnya sampe hampir setengah harga aslinya.

mau ada penanggulangan berupa pengurangan untuk effort cost dalam proses produksi percuma kalo target untuk 1 jt per barel nya ga di molorin. kecuali perang dagang ini cuman sebentar, jadi ga akan ngaruh ke produksi di hulu dan hilir.

yang ngerinya ini kalo perangnya lama, otomatis biaya produksi diturunin terus estimasi outpout perbarel diturunin dan target 1 juta perbarelnya juga diturunin.

yang udah modern cold war

arab - rusia
cihina - amerika

kalo indonesia war nya ama negara jakarta dimana nastaik pada coliin banjir dan bahan coliannya muka gabener
emoticon-Leh Uga
emoticon-Leh Uga
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
ngak ada usaha yang sia², semoga target bisa tercapai
raja minyak
ikan asin aje masih import blehemoticon-Hammer2
gak ngaruh buat gelandangan yg lg ngontrak di negara minyak
emoticon-Turut Berduka
Diubah oleh kureno23q
laskar disuruh jadi anjing penggigit manggut manggut aja kok
gara2 ini ya..pasar saham anjlok semua.......
1 jt barel sehari raja minyak? emoticon-DP
minyak saudi lewat pipa arab east west aja sehari 2 jt barrel, dan itu cuman 60% capacity
belom yg di timur, pipa utara, tanker via hormuz, dsb.
kita 1 jt barrel aja itungannya rencana koq
profile-picture
sudarmadji-oye memberi reputasi
MbS Tiwikrama

Selasa 10 March 2020
Oleh : Dahlan Iskan

Foto: stepfeed
Kejadian ini benar-benar sulit dijelaskan. Kalau pun bisa diuraikan apa penyebabnya tidak bisa dijelaskan apa tujuannya.

Tiba-tiba saja harga minyak mentah turun drastis-tis-tis-tis.

Dari yang sudah rendah --sekitar USD 55/barel-- menjadi hanya USD 30 dolar. Senin kemarin.

Berita virus Corona langsung kalah viral --mungkin juga kalah dalam memperburuk ekonomi dunia.

Awalnya di sidang OPEC --organisasi negara pengekspor minyak mentah-- gagal sepakat. Mungkin karena Presiden Indonesia tidak hadir di sidang itu --Indonesia sudah bukan lagi anggota OPEC. Sejak impornya lebih tinggi dari ekspornya.

Sidang itu inginnya satu: menaikkan harga minyak dunia. Harga USD 50/barel dianggap terlalu rendah. Mereka pernah menikmati harga minyak USD 90 dolar/barel dalam kurun yang panjang. Bahkan pernah di atas USD 100/barel.

Negara-negara OPEC pun kebanjiran dolar --menjadi disebut negara petrodolar.

Masa panen raya itu tidak pernah terjadi lagi sejak lebih lima tahun lalu. Yakni sejak Amerika Serikat menemukan sumber minyak/gas baru. Tepatnya: sejak Amerika menggalakkan teknologi baru di bidang pengambilan gas.

Itulah yang disebut shale gas. Dengan tehnologi baru itu Amerika mampu menyedot gas dari retakan-retakan bebatuan.

Sejak itu Amerika tidak lagi tergantung dari minyak OPEC. Bahkan Amerika bisa disebut telah swasembada migas. Justru Amerika belakangan menekan Tiongkok untuk mau beli gas dari Amerika.

Untung ada negara lain yang kian haus energi: Tiongkok, India, Pakistan dan --kecil-kecilan-- Indonesia. Meski begitu tetap saja harga minyak mentah tidak bisa balik lagi ke USD 90/barel.

Untuk bisa menaikkan lagi harga migas itu OPEC menggunakan ide lama: kurangi produksi. Agar migas agak langka. Lalu harga akan naik dengan sendirinya.

Ide lama itulah yang juga dibahas di sidang OPEC terakhir --5 Maret kemarin di Austria, kantor pusat OPEC.

Arab Saudi, sebagai produsen terbesar, sudah bersedia menurunkan produksi minyaknya. Dari 11 juta barel ke 10 juta barel/hari.

Tapi negara lain keberatan. Itu karena produksi mereka tidak terlalu banyak. Saudi-lah yang diharapkan menurunkan lebih banyak lagi.

Belum lagi agenda itu tuntas dibicarakan muncul realitas lain: Rusia.

Rusia bukanlah anggota OPEC. Kalau hanya anggota OPEC yang menurunkan produksi, itu hanya akan menguntungkan Rusia.

Maka OPEC juga harus merayu Rusia. Agar mau mengikuti keputusan OPEC.

Rusia menolak.

Arab Saudi dan Mohammed bin Salman (MbS) marah. Marah sekali. Ngamuk.

Saudi bikin keputusan sepihak: banting harga. Jual minyak dengan harga diskon besar-besaran. Tinggal 30 dolar/barel.

Saudi juga akan meningkatkan produksi minyaknya. Semaunya pula. Menjadi 12 juta barel/hari. Penurunan pendapatannya ditutup dari kenaikan produksinya.

Rusia akan mati.

Amerika akan pingsan.

Indonesia klepek-klepek.

MbS kok dilawan.

Yang tertawa ngakak kayaknya Xi Jinping. Juga Narendra Modi.

Indonesia juga bisa sedikit tersenyum. Apalagi Pakistan.

Tiongkok yang baru terpukul virus Corona langsung mendapat sumber energi sangat murah. Termurah sepanjang sejarah reformasi ekonominya.

Demikian juga India.

Dan Indonesia akan ikut menikmati: subsidi BBM yang mencapai lebih Rp 100 triliun itu akan langsung hilang.

Pertamina pun punya kesempatan kembali meraih laba gajah bengkak --kalau harga BBM telat diturunkan.

Tapi Indonesia juga kehilangan pendapatan dari bagi hasil migas. Termasuk dari pajak-pajak di sektor itu. Penurunan pendapatan pemerintah ini bisa di atas Rp 100 triliun.

Perusahaan-perusahaan migas Amerika --terutama perusahaan shale gas yang lagi gairah-gairahnya-- langsung bisa pingsan. Harga saham mereka di pasar modal bisa langsung terjungkal.

Biaya memproduksi gas dari retakan bebatuan itu bisa setara 45 dolar/barel. Kalau harga minyak hanya 30 dolar/barel matilah mereka.

Jadi, Saudi ini lagi marah ke Rusia atau ke Amerika?

Bagi Saudi kemarahannya itu disertai hitungan matang-emosional: biaya produksi migas di Saudi hanya 20 dolar/barel. Dengan menjual 30 dolar/barel masih bisa laba 10 dolar/barel. Dikalikan 12 juta. Dikalikan 30 hari. Dikalikan lagi 12 bulan.

Tolong hitungkan berapa labanya setahun.

Di Indonesia, biaya produksi minyak mentah itu di sekitar 40 dolar/barel. Kalau harga jualnya 30 dolar/barel Anda pun bisa membuat corporate decision: tutup saja.

Rusia juga tidak bisa memproduksi minyak mentah dengan 30 dolar/barel. Ladang minyaknya di laut. Yang di darat pun pipanya harus selalu dipanasi --agar tidak beku, agar bisa mengalir. Biaya memanasi pipa itu menambah dolar/barel.

Dengan harga minyak 30 dolar/barel ini ada yang ikut sekarat: Green energy. Ibarat kaca dilempari batu serpihannya membuat luka di mana-mana.

Adakah ini hanya drama satu babak? Ataukah perang Baratayudha dengan lakon MbS Tiwikrama? (dahlan iskan)

https://www.disway.id/r/863/mbs-tiwikrama
lalu efek bagi kita apa? harga bensin akan murah kan, kan turunnya 22%. dan kita ngikutin harga minyak dunia toh?
kenapa ngga jadiin kesempatan buat nimbun minyak aja dulu ya? kita punya tempatnya ga?

Biar ntar kl udah normal lagi bisa buat pengiritan.
kabar b30-b100 gimana ? kapan direalisasikan ?
bagus dong, nilai import jadi turun, proyek 1 juta tunda aja gak masalah, skg kan Indonesia lagi genjot disektor tambang lain setelah kebijakan pembuatan smelter di cabut, itu nickel, mangan, batu bara mulai bergejolak lagi, siap2 Indonesia maju bray di tengah perang besar ini emoticon-Big Grin
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
"..pokoknya salahkan arab.. "
#SOPCeleng

harga minyak dunia turun, pertamax, pertalite ikutan turun?

kalau harganya turun, dianggap prestasi mantan....


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di