CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerpen : Hujan yang memilukan.....
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e66f20b10d295467a0f78f2/cerpen--hujan-yang-memilukan

Cerpen : Hujan yang memilukan.....

Isa, itu namanya. Seorang wanita yang ingin aku jadikan Makmumku selama sisa hidupku. Menurut yang kukenal selama 6 bulan ini, dari segi wajah, kalau dibilang jelek, tidak jelek. Di bilang cantik, mungkin kalau di ajak ke pesta nikahan, bisa dibilang, PANTAS. Kalau bahasa umum, SELERA RAKYAT.
Cerpen : Hujan yang memilukan.....
Rezeki, jodoh, maut memang di tangan Allah. Akan tetapi, rasa takut di ambil orang muncul di benakku. Akhirnya saya memutuskan untuk melamarnya.
Aku mencoba mengajaknya ke suatu tempat yang kata orang suasananya romantis.
"Beb ... bilang gih ke ibuk, kalau aku mau ajak kamu keluar. Kali ini ... saja!" Aku menatap dengan wajah melas.
"Aku takut kena marah!"
"Ayolah, Beb, bujuk ibumu!"
Terdiam sesaat,
"Sebentar ya, aku bilangin ke ibuk." Meninggalkanku menuju ibunya.
Tidak pernah sekalipun kami diperbolehkan jalan berdua. Waktu apel pun, cukup aku berkunjung ke rumahnya.
_________
"Buk ...."
"Heemm?"
"Mas minta izin mengajakku keluar!"
Tanpa pikir, langsung menjawab, " tidak boleh!"
"Ayolah ... Buk."
"Nggak boleh ... kalau nggak boleh, ya nggak boleh." Meninggikan suara.
"Buuk ...."
Berpikir sejenak,
"Tapi janji ya, kali ini saja! Bukan ibu tidak mau melihat anaknya bahagia, tapi ... ya sudahlah!" ucap ibu menyesal.
"Horee ... Ibuk baik banget dech!" Isa bersorak.
*****
________

"Sudah sampai, Mas?" tanya Isa.
"Iya, dikira mau ke mana?"
"Kirain mau diajak ke danau ... danau apa Mas, yang di posting bunda Catt ---" ucapnya terpotong.
"Bunda Caatleya maksudmu?" sahut aku cepat.
"Iya, itu!"
"Jauh, Beb, di Lampung sana!" ucapku. "Kalau kita ke sana, pulang-pulang, hamil kau!"
"Kok bisa?"
"Perjalanan jauh, Beb. Setan-nya kelamaaan bisikin telinga kita. Bisa bisa waktu pulang, kamu sudah hamil, dibunuh aku sama bapakmu!" jelas aku menakuti, "Nanti saja kalau kita sudah nikah, kita tidur sambil memimpikan bulan madu ke sana."
"Jadi bulan madunya cuma mimpi, hueekk ...." Agak kecewa.

"La terus, kamu kok bisa kenal sama bunda Cattleya?" tanya Isa.
"Kamu nggak kenal bunda Cattleya?" tanyaku balik.
"Enggak!" jawab Isa.
"Sama ... akupun gak kenal." Aku yang agak kecewa dengan jawabannya.
"Alasan Mas ngajak aku ke sini, mau ngapain?"
"Och ... iya, sampai lupa!"
"Maukah kau menikah denganku?" Sambungku bertanya.
Isa diam sesaat dan menghela nafas panjang,
"Kamu terlalu cepat memutuskan untuk menikahiku, Mas, tapi aku mau," jawabnya mengiyakan.
"Alhamdulillah, ya Allah!" Teriakku mensyukurinya.
*****
Setelah dua keluarga sepakat menentukan waktu, akad nikah pun dilaksanakan.
"... Haalan," ucap Penghulu mengakhiri sambil mengibaskan tangannya yang menjabat tanganku memberi tanda agar langsung menjawab.
"Qobiltu nikakhahaa watazwijahaa bil mahril madkuur," sahutku penuh konsentrasi, takut ada yang ketinggalan.
Sontak para saksi bersamaan, "SAH."
Akupun menyahut diiringi para saksi yang menyaksikan Ijab Qabul kami di KUA menghalalkan hubunganku dan Isa, istri, "ALHAMDULILLAH."
*****
PoV Isa
Dua hari kemudian diadakan pesta pernikahan di rumah mempelai wanita.
"Jeddyaaarrr ...." Suara petir ketiga yang mengiringi pesta dan disusul hujan. Pelan tapi pasti, hujan mulai deras menjelang waktu Ashar.
Ibu mertua mulai bingung, sambil mendekat ke bapak mertua "Pak, gimana ini? hujannya semakin deras. Tidak balik modalnya kalau tamunya tidak ada yang datang!".
"Memang Ibu jualan apa? Kalau enak, bapak beli," tanya bapak mertua.
"Bapak ini, orang bingung masih diajak bercanda. Bagaimana ini, Pak? Nanti tidak ada tamu yang datang!" seru ibu mertua.
"Ya gak tahu, Buk! Kan Ibu sudah tahu sendiri, bukan bapak yang ngatur hujan. Kalau bapak yang ngatur, hujannya bapak pindahkan ke Bogor."
"Sudah tahu kalau itu. Kan ada Mamat, si Pawang hujan, tanyakan sana."
Mamat yang berprofesi sebagai Pawang hujan, mewarisi dari Kakeknya yang dulupun adalah Pawang hujan. Dia merupakan teman dekat bapak mertua, bisa dibilang sahabat. Ibarat botol dan tutup, apabila terlepas, maka tumpahlah isinya. Apabila mereka sedang bicara, kadang seenaknya keluar kata kata tanpa ada pikiran menyinggung satu sama lain.
Lantas bapak mertua mencari Mamat. Dia mencarinya sampai keliling rumah, di rumah tetangga pun dia cari.
"Din, apa kamu lihat Mamat?" tanya bapak pada orang yang ditemui.
"Mamat Pawang ya, Kang?" balik bertanya.
"Iya," jawab bapak mertua.
"Tidur di situ, Kang," ucapnya.

"Ooo, terima kasih, Din!" sahut bapak mertua sambil berjalan menuju tempat yang di tunjuk orang tadi.
"Ach ... itu dia lagi tidur, makanya hujan deras, la wong si Pawang ketiduran sampai ngiler!" Celoteh Bapak mertua.

"Mat ... Mat ... bangun, hujannya mulai deras ini!" seru bapak mertua.

"Haaah ... sudah waktunya makan?" tanya si Pawang terbangun sambil ngisap air liurnya.

"Bangun-bangun, tanya makan. Makan itu air liur!" jawab Bapak Mertua.

"Ngantuk, Bro!" Sahutnya.

"Memang ke mana kamu tadi malam?" tanya bapak mertua.

"Nungguin api menyanmu itu, biar nanti kalau ada langit yang bocor, tinggal ditambal" jawabnya membela diri sambil kasih lelucon.

"Och iya, lupa aku!" seru bapak mertua sambil menepuk jidatnya.

"Bagaimana ini, Mat? hujannya sangat deras!" tanya bapak mertua.

"Mana kopi? kopi mana?" tanya si Pawang sambil tersenyum.

"Orang bingung hujan, kamu bingung ngopi!" sahut bapak mertua sambil melotot tanda serius.

"Oe ... ngopi dulu, dong!" cetus si Pawang sambil tersenyum lagi.

"Itu di teko," ujar bapak mertua sambil mengernyitkan dahi menandakan kesal.

"Sruuuuup ...." Suara kopi yang disruput si Pawang.

"Gini, Bro, mungkin anggota keluarga ini ada yang habis mandi," kata si Pawang.

"Apa hubungannya, Mat?"

"Menurut orang zaman dulu, di saat ada pesta hajatan, semua anggota keluarga termasuk mempelai tidak diperbolehkan mandi agar tidak turun hujan," jelas si Pawang.

"Mungkin kamu ya, Bro, yang habis mandi?" si Pawang bertanya.

"Sudah seminggu saya tidak mandi, Mat," jawab bapak mertua.

"Ibunya anak anak sangkarnya rusak. jadinya males mandi dech!" Sambung bapak mertua sambil melirihkan suaranya.

"Haaah ... seminggu! Makanya dari tadi saya deket kamu, bau minyak kelapa!" ujar si Pawang sambil menutup hidung.

"Husssttt ... jangan keras keras, nanti kedengeran para tamu!" sahut bapak mertua.

"Coba kamu tanya ke orang rumah, siapa yang sudah mandi hari ini!" ujar si Pawang.

"Terus ... bagaimana biar hujannya reda?" tanya bapak mertua.

"Bisa dicoba dangan cara melemparkan daleman (celana dalam) salah satu mempelai yang belum dicuci ke atas atap," jawab si Pawang.

"Okey ... okey ...," sahut bapak mertua.

"Wey, lapaaar!" ucap si Pawang.

"Saya tidak bawa nasi, itu ambil sendiri," sahut bapak mertua sambil berlalu.

Lantas bapak mertua mendekat pada ibu mertua sambil berbisik apa yang di katakan si Pawang.

"Apa?" Ibu mertua sedikit terkejut.

"Iya ... itu yang dikatakan Mamat," jawab bapak mertua menegaskan.

"Baik, akan ibu bilang sama Isa!" sahut ibu mertua.
"Is ... Is ..." panggil ibu mertua.

 "Iya, Bu! ada apa?" sahut istri saya.
Lantas ibu mertua menceritakan apa yang terjadi.

"Saya barusan mandi, Bu. Tuch sekarang, gantian suami saya yang mandi."

"Emang kamu barusan ngapain?" tanya ibu mertua.

Istri saya tidak menjawab sambil senyum-senyum.

"Kamu itu, di rumah ramai orang, masih sempat sempatnya begituan."

"Kan sudah halal, Buk!" jawab sekenanya.

"Halal sih halal, tapi lihat-lihat situasi dong!" seru ibu mertua.

"Emang bener kata si Mamat, kalian berdua yang bikin orang jadi bingung!" Sambung ibu agak jengkel.

"Gak gitu juga, kalii ...!" sahutnya.

"Sekarang ambil daleman kamu!" pinta ibu mertua.

"Tapi daleman saya sudah dicuci semua, tinggal yang saya pakai." jawab Istri saya.

"Ada ... punya suami saya yang kebetulan sekarang lagi mandi," sahut istri saya lagi.

"Ambil, gih. Lalu lemparkan ke atap!"

"Kenapa bukan Ibu yang melempar?"

"Najis, dach! isinya kamu yang punya, kenapa ibu yang suruh ngelempar," sahut ibu mertua sambil berlalu meninggalkan istri saya.

Kemudian istri saya mengambilnya dan melemparkannya ke atas atap.

Beberapa saat kemudian, saya keluar dari kamar mandi dan mencari daleman saya. Tidak menemukan apa yang saya cari, lantas saya memanggil istri saya, "Beb ...."

"Iya, Mas!" sahut istri saya.

"Kamu lihat daleman saya?" tanya saya.
Lantas Ia menceritakan semuanya.
"Whaaat?" sahut saya dengan suara agak tinggi.
"Sebentar lagi kan kita naik ke pelaminan, mana itu satu-satunya yang saya bawa dari rumah!" Sambung saya.
"Ikhlasin saja, Mas. Bagaimana kalau pakai punya saya? Masih baru kok! Daleman kamu kan sudah tidak layak, mana karet kolornya sudah putus semua," usul istri saya sambil cengar cengir.

"Ada ada saja kamu. Biarin dach gak usah pakai daleman, sekalian saja biar sejuk!" ucap saya pasrah.

Kebetulan hujan mulai reda saat kami berdua naik ke pelaminan. Para tamu mulai ramai berdatangan.

"Lo, Mas, hujannya sudah reda! gara gara dalemannya kamu ini," ucap istri saya menggoda.

"Husst ... tidak baik ngomong gitu! Itu namanya Musyik," ucap saya menasehati.

"Musyrik, Mas!" sahut istri saya membenarkan.

"La itu ngerti. Mungkin stok air hujannya sudah habis, jadi hujannya berhenti," ucap saya sambil tersenyum.
Lantas, entah apa yang diperhatikan saat para tamu memandang ke pelaminan sambil senyum-senyum tipis. Saya berucap dan tertawa dalam hati, dengan percaya diri tingkat Dewa, "mungkin saat ini saya terlihat sangat tampan. Ha ... ha ... ha ...." Tertawa seperti orang jahat. 


Kemudian saat semua temannya mulai turun dari pelaminan, istri saya memberi kode pada saya sambil memandang ke bawah yang saat itu saya memakai celana pengantin agak kekecilan, atau saya yang agak gendut. Saya tidak begitu mengerti apa yang hendak dikatakan.

Lantas istri saya berbisik, "Mas, itunya ngecap!"

Respon saja, saya langsung menutup dengan sebelah tangan, sambil memandang pada para tamu yang terlihat tersenyum memandang saya.
Betapa malunya saya. Gara gara hujan, CD saya hilang, di tertawakan banyak orang lagi.







profile-picture
profile-picture
profile-picture
nadifahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
hhhhh awas ntar tiba basah ajh tuh si joni udh ga than kale
hujan emang bikin sendu dan pilu yakk


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di