CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kain Panjang Puyang Lamas
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6617f5977513194068f9b0/kain-panjang-puyang-lamas

Kain Panjang Puyang Lamas

Prolog

Aku dan Ibu belanja ke pasar Nanjungan, Pinoraya-Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Aku menenteng keranjang yang terbuat dari anyaman tanaman air. Entahlah apa nama tanaman itu.

Kami tiba di pasar tersebut sekitar jam 8.00 pagi. Pasar sepertinya baru dibuka, karena belum banyak lapak yang belum berdagang. Ibu menghampiri penjual Lepang. Setelah nego, satu buah Lepang yang sudah tua berhasil dibeli. Kudengar Ibu berencana memasaknya bersama ikan sarden kalengan.

Aku memasukkan Lepang ke dalam keranjang. Kami berjalan lagi. Keranjang sudah terisi kira-kira seperempat bagian, tapi Ibu seperti kebingungan akan membeli apa lagi.

Ibu lalu mengajakku singgah di warung sate langganan kami, "Kita makan dulu, ya. Kamu pasti lapar."

"Gadis mau pake ceker ayam dan kerupuk jangek, ya, Bu!" pintaku bersemangat. Makanan ini hanya bisa dinikmati sekali dalam seminggu. Ya, karena pasar Nanjungan ini hanya digelar setiap hari Kamis. Itu juga kalau aku libur dan ibu mengajakku ke pasar.

"Kamu makan yang banyak. Oya, hari ini Ibu akan masak gulai Lepang dicampur Sarden, kesukaanmu," ujar Ibu.

"Kesukaan Ayah juga!" seruku. Namun, ekspresi wajah Ibu berubah menjadi sedih. Aku jadi tak enak karena telah membangkitkan kesedihan Ibu atas meninggalnya Ayah. Meskipun Ayah pergi hampir 6 tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih kelas 4 SD.

"Nah, ini satenya. Ayo, cepat dihabiskan. Jangan bengong aja," kata Pak Mamat, pedang sate yang mengenal kami dengan baik. Itu karena sudah bertahun-tahun kami jadi langganan.

"Ibu, satenya enak banget." Aku mengecup jari dan mengangkatnya seperti gerakan pembawa acara kuliner yang kutonton setiap hari Minggu.

Kulihat Ibu tersenyum. Namun, tak seceria biasanya. Satenya pun tak segera dihabiskan.

"Kamu masih mau satenya? Ibu rasanya sudah kenyang." Ibu menggeser piringnya padaku. Dengan senang hati, aku menghajar sate secepat kilat. Senang sekali rasanya bisa makan lebih dari satu porsi.

"Ini minum," ujar Ibu sambil meletakkan segelas air di hadapanku.

Aku mengangguk. Tak bisa berkata karena mulutku penuh dengan lontong dan bumbu sate.

Beberapa menit kemudian, aku menyesap air minum. Tanganku menyeka wajah yang sedikit basah. Kuperhatikan Ibu menyerahkan dua lembar uang lima ribu, lalu dia mengajakku pergi.

"Ayo, kita belanja lagi. Ibu belum beli Ikan Tapau."

Kami melanjutkan perjalanan. Mencari lapak yang menjual ikan tapau; ikan segar yang diasap selama berjam-jam. Ikan ini bisa disimpan berhari-hari tanpa khawatir dagingnya membusuk. Salah satu makanan khas daerah Bengkulu.

Hari ini berbeda dengan biasanya. Setelah sempat kebingungan, Ibu malah belanja banyak sekali bahan makanan. Aku sampai sedikit kewalahan membawa keranjang yang terasa cukup berat.

"Ibu, keranjangnya sudah hampir penuh," ujarku.

Ibu tertawa dan berkata, "Iya, ini yang terakhir. Ibu beli udang kering dan petai. Kamu harus belajar memasak mulai hari ini."

Aku menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tak gatal, kemudian membuka keranjang yang kuletak di tanah. Namun, saat ingin memasukkan petai yang baru saja dibeli Ibu, mataku terpaku. Cukup lama.

"Kenapa, Dis?"

Aku tak menjawab pertanyaan Ibu. Dadaku sedang bergemuruh. Rasa takut seakan membungkus tubuhku, hingga napas harus tersengal.

"Kenapa, sih?" Ibu mengambil alih keranjang. Menyaksikan benda yang membuatku mematung beberapa menit. Aku ingin sekali menepis tangan Ibu, tapi tak berani. Takut dia marah.

"Kenapa kain panjang Puyang bisa ada di sini? Kamu yang bawa?" Ibu mengintrogasi. Kulihat wajah Ibu memerah, tapi marahnya masih ditahan karena malu dilihat orang ramai.

"Gadis juga gak tahu, Bu," sangkalku seraya menatapnya lekat-lekat.

Seingatku, keranjang ini kosong saat pertama kali dibawa. Bahkan, saat memasukkan Lepang dan belanjaan lainnya, aku juga tak menemukan sarung itu. Namun, benda tersebut tiba-tiba saja muncul di dalam keranjang. Bagaimana harus kujelaskan pada Ibu? Apa dia percaya dengan perkataanku?

"Kita pulang sekarang!" seru Ibu.

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Terbayang hukuman apa yang akan Ibu berikan atas kesalahan yang sama sekali tak kuperbuat ini. Pikiranku berkecamuk tatkala kaki melangkah membuntuti Ibu.

***

Maling Tewas

"Kita cari di sini. Mereka pasti menyimpan perhiasan dan uangnya di lemari ini," bisik seseorang yang kulihat mengenakan kain sebagai penutup kepala.

Malam temaram. Listrik memang dipadamkan oleh Ibu setiap kali Magrib tiba. Katanya demi penghematan. Sebagai gantinya, dia menyalakan lampo teplok; terbuat dari kaleng bekas susu berisi minyak tanah dan diberi sumbu.

Aku sudah pernah membujuk Ibu agar lampu terus hidup sepanjang malam. Khawatir akan ada maling di malam hari. Akan tetapi, Ibu memang keras kepala. Aku masih ingat kata-katanya, "Maling goblok yang datang ke rumah janda miskin."

Sialnya, malam ini maling-maling goblok itu tengah mengerayangi rumah si janda miskin. Aku yang tidur di belakang Ibu melihatnya di antara celah mata yang sengaja kubuka sedikit. Dengan bantuan cahaya lampu yang diletakkan di bawah, ujung ranjang. Jumlahnya dua orang.

"Pakai ini." Seseorang sepertinya memberikan pisau pada temannya.

Setelah lemari dicongkel dengan susah payah pakai pisau, maling itu tertawa pelan saat pintu lemari terbuka. Kuperhatikan dia mengeluarkan sebuah kotak dan membawa benda itu. Mereka berbisik-bisik sejenak, kemudian pergi bersama temannya.

Aku ingin sekali meneriaki maling-maling itu, tetapi tenggorokan terasa tercekik. Tubuhku juga gemetaran, seiring dengan munculnya kebelet pipis.

***

Bug!

Aku nyaris melompat dari kasur saat merasa kepalaku ditimpa sesuatu yang berat, tetapi cukup lembut. Ada Ibu yang berkacak pinggang di ujung ranjang.

"Bangun! Nanti kamu telat pergi sekolahnya!" Ibu juga melototiku. Terang saja aku beringsut dari ranjang, daripada diseret.

"Eit! Mau ke mana kamu?" Ibu mencegahku keluar dari kamar. Keningku bekernyit.

"Gadis mau mandi dan siap-siap sekolah, Bu, biar gak telat. Ibu kenapa, sih?" tanyaku emosi.

"Enak aja! Beresin dulu itu kasur. Kamu jemur di samping. Lagian, udah bisa dikimpoiin masih ngompol aja!"

Aku terkesiap. Baru ingat kejadian malam tadi. Aku berlari mendekati lemari tua di sudut kamar.

"Mau ngapain kamu? Sana cepat jemur kasur!" larang Ibu sambil mendorongku.

"Tapi, tadi malam Gadis lihat maling ambil kotak dari lemari ini, Bu," sanggahku.

"Banyak alasan! Lekas angkat kasur, jemur di samping! Kamu kira Ibu bisa ditipu-tipu? Buaya mau dikadalin," imbuhnya.

Aku manyun. Ibu selalu merasa benar. Coba saja kalau kotak itu benar-benar hilang, aku tak sabar melihat reaksinya.

***

Pulang dari sekolah, aku bersama teman-teman berdesak-desakan naik ke dalam mikrolet. Kendaraan umum ini tak banyak. Kalau tak segera naik, aku bisa lama sampai ke rumah. Ibu pasti akan mengomel habis-habisan.

"Ciye ...," bisik temanku, Mimi.

Awalnya aku tak mengerti. Namun, setelah melihat ke depan, ternyata ada Bagas. Aku merasakan pipiku memanas. Cowok yang biasa kupandang dalam diam, kini duduk tenang di hadapan. Aku mencubit pelan bagian pinggang Mimi. Penumpang di sebelah kananku berdecak, mungkin dia risih melihat kekonyolan kami.

Aku segera memperbaiki posisi tubuh. Tidak lagi memunggungi penumpang di sebelah kananku. Kesempatan baik jangan disia-siakan. Mulailah aku duduk fokus ke depan, demi mencuri pandang dari wajah tampan itu.

"Ehem ...."

Aku gelagapan. Sepertinya dia tahu kalau aku terus memandangi wajah tampannya. Kurasa sekarang wajah ini sudah mirip dengan warna jambu Bol. Aku menunduk dan mendekap buku-buku dengan erat.

"Kamu suka juga, ya, Dis?"

Dadaku berdesir mendengar Bagas bertanya padaku. Alamak! Aku rasanya ingin melompat-lompat dan menari seperti pemeran film India.

Aku mengangguk-anggukkan kepala dengan mantap dan memajukan badan, "Iya, aku suka sama kamu."

Bagas melongo, lalu cepat-cepat meralat kalimatnya, "Maksudku, kamu suka baca buku itu juga?"

Seketika aku terpejam. Ya ampun! Sekarang mungkin wajahku semakin memerah. "Tamat riwayatmu, Dis!" ujarku dalam hati.

"Banyak pesan dalam buku itu. Sebagai generasi muda, kita jangan seperti Hanafi. Kita boleh sekolah di mana saja, tetapi adat dan budaya leluhur harus terus dibawa. Aku sangat suka cerita "Salah Asuhan" ini. Tak kusangka, ternyata kamu juga suka ceritanya," terang Bagas.

Aku menikmati penjelasan itu. Memandang bibir tipisnya bergerak-gerak, hingga mengeluarkan tuturan yang lugas. Bagas memang cerdik, dia mengalihkan perhatianku pada ceritanya. Padahal dia berkesempatan untuk menyudutkanku yang sempat malu dan mati kutu.

"Kamu sudah baca sampai mana?" Tiba-tiba Bagas melempar pertanyaan.

"Ng ... aku baru pinjam hari ini," jawab Gadis dengan jujur.

"Kamu juga suka?" Bagas juga bertanya pada Mimi.

Mimi menggeleng, "Kalau aku suka baca, mungkin aku udah jadi juara kelas, Gas. Hehehe."

Bagas tersenyum, sementara Mimi terus cengengesan. Dua manusia ini bagaikan langit dan bumi, sedang aku ada di antara keduanya. Ya, Bagas itu memilki kecerdasan yang tinggi. Mimi memiliki sikap yang apa adanya dan penyayang. Sedangkan aku, mengambil hikmah dari kedua orang ini. Senang sekali berdekatan dengan mereka. Namun, tunggu! Seingatku, kami belum pernah berkenalan, lalu dari mana dia tahu namaku?

"Kamu tahu namaku dari mana?" selidikku.

"Waktu pindah ke sini, aku sempat melewati rumahmu," jawab Bagas.

Aku mengangguk-anggukkan kepala. Bagas itu anak seorang dokter Puskesmas di desa Nanjungan. Mereka baru pindah dari Kota Bengkulu, belum genap setahun. Menempati rumah dinas Puskesmas.

"Gimana dengan desa ini? Kamu betah, gak?" tanyaku lagi.

"Sejauh ini menyenangkan. Masyarakatnya ramah. Udaranya sejuk, masih banyak pepohonan dan sawah. Apalagi setelah acara Nundang Padi kemarin. Aku jadi makin suka tinggal di sini."

Wajahnya berbinar. Setidaknya aku lega. Harapanku, Bagas akan tinggal di Nanjungan selamanya. Namun, apa mungkin?

"Kamu gak nyesal pindah ke desa ini?" selidikku lagi.

"Apa yang perlu disesali?" Dia balik bertanya padaku.

"Ya ... di kota, kan, lebih ramai dan banyak hiburan. Pendidikannya juga lebih bagus," jelasku.

"Kalau aku gak ikut Papa pindah ke sini, aku belum tentu bisa mengenal kamu," ujarnya.

Aku tersipu. Bagas bukan hanya pintar dalam pelajaran sekolah, tapi dia juga pandai merayu.

Percakapan kami berhenti. Sopir mikrolet yang kami tumpangi pun mendadak mengerem, hingga laju kendaraan itu terhenti. Kami saling tatap. Beberapa orang bahkan memutuskan untuk keluar dari mobil itu, termasuk Bagas.

Aku dan Mimi berebut melihat dari jendela. Di pinggir jalan menuju pantai Mengkudum terlihat orang-orang berkerumun.

Sopir mendekat pada jendela di mana kami mengintip,
"Mobil ini akan dipakai untuk mengangkat jenazah. Saya mohon maaf, ini terpaksa."

Aku, Mimi, dan beberapa penumpang perempuan lainnya turun dengan berat hati dari mikrolet. Tak lama, bau busuk dan menyengat melewati kami yang berdiri di dekat siring jalan.

Entah mengapa, kali ini aku tak takut melihat jenazah. Aku penasaran dengan jenazah itu. Kulihat tangan dan kakinya membiru. Namun, setelah berkesempatan melihat wajah salah satu dari jenazah itu, aku merasa kepala ini sangat berat. Sempat mendengar Mimi berteriak, tapi sejenak kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.

****
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan aripmaulana memberi reputasi
Diubah oleh yundamassayu18

😁

Diamankan
gan cerita lo bagus2 cm saran gw mending fokusin 1 per 1, yg lama belum kelar udh ad cerita baru lg....
Gw liat cerita yg lain jg gantung jd mending fokusin aj dl 1 cerita.....
emoticon-Shakehand2
Diubah oleh ozzai936
Lihat 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di