CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Dengan Kasih Karunia Tuhan, Aku Menemukan Rumah Sejati
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e64c41582d495468a068e9f/dengan-kasih-karunia-tuhan-aku-menemukan-rumah-sejati

Dengan Kasih Karunia Tuhan, Aku Menemukan Rumah Sejati

Dengan Kasih Karunia Tuhan, Aku Menemukan Rumah Sejati

Aku Benci Ayah—Dia Menghancurkan Keluarga Kami

Pyar … Duar …

"Sial, katakan sekali lagi, aku akan membuatmu menyesal! …"

Keributan pertengkaran itu memecah kesunyian malam yang damai, mengejutkan aku dan saudariku sampai terbangun. Kami menyadari orang tua kami bertengkar lagi. Sejak mengetahui bahwa ayah kami menemui wanita lain, ibu kami lebih jarang tersenyum, dan setiap kali mendengar tentang Ayah, matanya penuh dengan ketidakpuasan dan kesedihan. Sejak saat itu, mereka tidak pernah berhenti bertengkar—aku bahkan tidak ingat berapa kali mereka pernah bertengkar. Saat aku dan saudariku berlari ke kamar mereka sambil menangis, kami melihat Ayah menjulurkan tangan untuk memukul Ibu. Sambil menangis, aku menarik lengan ayah sekuat tenaga, tetapi dia terlalu kuat dan aku tidak bisa menahannya. Malam itu, dia mematahkan dua tulang rusuk Ibu. Ibu tidak tahan hidup menderita seperti itu lagi, jadi setelah sembuh, dia meninggalkan rumah dan mendapatkan pekerjaan di daerah lain.

Aku dan saudariku pindah ke rumah kakek-nenek kami setelah Ibu pergi. Ayah kami tidak berubah sama sekali karena kepergiannya; dia sama saja seperti biasanya. Dia sering tidak pulang ke rumah sepanjang malam dan tidak memedulikan kami sedikit pun. Aku dan saudariku akan pergi ke sekolah dan pulang bersama setiap hari, dan sepanjang jalan anak-anak lain dijemput oleh orang tua mereka. Mereka mengobrol dan tertawa bersama, tetapi aku dan saudariku tidak ditemani oleh orang tua kami. Bayangan kecil kami tampak begitu kesepian. Yang paling aku takuti adalah saat sekolah mengadakan pertemuan orang tua, dan kemudian kepala sekolah akan bertanya kepada kami, mengapa orang tua kami tidak hadir di sana. Ketika guru-guru mengajukan pertanyaan, aku selalu menangis, menundukkan kepala, dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku tidak tahu harus berkata apa.

Suatu kali, sepulang sekolah dan kembali ke rumah, aku mengetuk pintu cukup lama, tetapi tidak ada yang membukanya. Saat berdiri di sana, aku merasa sedih, seolah-olah aku tidak punya rumah sama sekali. Aku hanya merasa tenggorokanku tersekat seperti hampir menangis. Bibi tetangga melihat aku hanya berdiri di sana sendirian dan membawaku ke dalam rumahnya. Segera setelah masuk ke dalam, aku bisa mendengar putranya dengan bahagia memberi tahu keluarga tentang semua hal menarik yang terjadi di sekolah pada hari itu. Melihat keluarga yang tampak ceria seperti itu membuatku sangat iri, dan aku berpikir: "Seandainya Ayah tidak berselingkuh, Ibu tidak akan meninggalkan kami dan aku bisa seperti anak-anak yang lain. Aku bisa pulang ke rumah sepulang sekolah dan menyantap makanan enak yang disiapkan oleh ibuku, mendengarkan perkataannya, bersikap manja, dan menceritakan semua tentang perasaanku kepadanya. Aku akan sangat bahagia! Sayang sekali semua itu benar-benar di luar jangkauanku." Memikirkan hal itu, aku semakin membenci ayahku. Aku membencinya karena menyakiti Ibu dan atas semua yang telah dilakukannya, karena secara pribadi menghancurkan keluarga kami, membuatku kehilangan rumah yang hangat pada usia yang begitu muda.

Kapan Aku Bisa Memiliki Rumah yang Hangat dan Bahagia?

Perlahan-lahan aku tumbuh dan menjadi semakin dewasa, tetapi kerinduanku akan sebuah keluarga tidak pernah pudar. Pada saat ibuku menelepon, ayahku akan menjauh ke pinggir, menanyakan kabarnya. Melihat ekspresinya, aku dan saudariku merasa bahwa dia sedikit berubah, jadi kami meminta Ibu untuk pulang. Mendengar permohonan kami, Ibu mulai mengatur segalanya untuk pulang. Kami sangat senang—kami akhirnya bisa memiliki rumah yang bahagia dan utuh! Namun kenyataannya tidak seperti yang kami harapkan. Ayah kami terus pergi keluar mabuk-mabukan seperti biasa dan tetap bersikap sama terhadap Ibu, baik menghardiknya atau memukulnya. Setelah itu, kata "perceraian" selalu terucap di bibir mereka. Selama waktu itu, mereka sering bertanya kepadaku dan saudariku: "Jika Ayah dan Ibu bercerai, kamu mau tinggal dengan siapa?" Aku tidak tahan membayangkan mereka bercerai dan tidak mau memilih. Satu-satunya cara kami bisa mengungkapkan ketidaksenangan kami adalah dengan menangis.

Aku memutuskan untuk mencoba hidup dengan cara yang berbeda agar orangtuaku tidak akan bercerai. Aku menyeka air mata dari wajahku dan menjadi "penambah rasa" dalam rumah tangga ini. Aku berupaya keras untuk membuat diriku tampak optimis dan berusaha memengaruhi semua orang lain dengan senyumanku. Aku berharap upaya kerasku bisa menyelesaikan konflik di antara orangtuaku, tetapi hasilnya tidak seperti yang kuharapkan. Meskipun mereka terhibur dengan kejenakaanku dan banyak tertawa, senyum mereka seperti kembang api yang sekejap terang benderang sebelum padam. Pada saat usiaku memasuki 18 tahun, orangtuaku bercerai. Ibu membawa aku dan saudariku pergi dari rumah yang menyedihkan itu dan menyewa tempat kecil untuk kami.

Beberapa saat kemudian aku kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang, tetapi kuncinya tidak berfungsi. Seorang tetangga memberitahuku bahwa ayah kami telah mengganti kunci tepat setelah kami pindah dan dia telah membawa masuk wanita itu beserta putranya. Dia juga baru-baru ini membawa mereka berdua bepergian dan membelikan mereka banyak hadiah. Mendengar semua itu membuatku merasakan kesedihan yang tak bisa dijelaskan. Rumah orang lain melimpah dengan kegembiraan, penuh senyum dan tawa, jadi mengapa di rumahku hanya ada pertengkaran tanpa henti? Mengapa rumahku berantakan? Kapan aku bisa memiliki rumah yang hangat dan bahagia?

Firman Tuhan Menenangkan Jiwaku yang Terluka

Tepat ketika aku sangat menderita, rekan ibuku membagikan Injil Tuhan kepada kami. Aku membaca firman Tuhan berikut ini: "Yang Mahakuasa memiliki belas kasihan untuk orang-orang yang sudah sangat menderita ini. Sementara itu, Dia muak dengan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran karena Dia sudah terlalu lama menunggu jawaban dari umat manusia. Dia ingin mencari, Dia hendak mencari hati dan rohmu, untuk membawakanmu air dan makanan, serta membangunkanmu, agar engkau tidak akan haus dan lapar lagi. Ketika engkau letih dan ketika engkau mulai merasakan adanya kehampaan suram di dunia ini, jangan kebingungan, jangan menangis. Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Penjaga, akan menyambut kedatanganmu kapan pun. Dia berjaga di sampingmu, menunggumu untuk berbalik. Dia menunggu hari ketika engkau tiba-tiba memperoleh kembali ingatanmu: menyadari kenyataan bahwa engkau berasal dari Tuhan, tetapi entah bagaimana, engkau kehilangan arah, entah bagaimana engkau jatuh tidak sadarkan diri di tepi jalan, kemudian entah bagaimana, engkau mendapatkan seorang 'bapa'. Lebih dari itu, engkau menyadari bahwa Yang Mahakuasa selama ini selalu ada di sana, mengamati, menantikan engkau kembali, sudah begitu lama" ("Keluhan Yang Mahakuasa").


Panggilan Tuhan yang lembut tetapi mendesak seperti kehangatan lembut yang mengalir ke hatiku, memberiku rasa nyaman yang belum pernah kumiliki sebelumnya. Sejak ayahku berselingkuh, dan kemudian orang tuaku beralih dari berdebat dan bertengkar sampai hidup terpisah, aku dan saudariku telah kehilangan kebahagiaan masa muda dan rumah yang hangat dan bahagia. Kami juga kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tua kami; kami terus-menerus hidup dalam ketakutan dan kepedihan karena dipandang rendah dan ditertawakan oleh orang lain. Harga diri kami jatuh dan kami benar-benar tak berdaya. Aku ingin memiliki keluarga yang bahagia; aku ingin orangtuaku berada di sampingku sama seperti anak-anak yang lain, dan aku bahkan mengubah diriku agar bisa mendapatkannya, melakukan semua yang aku bisa untuk membuat lelucon agar orang tuaku bahagia. Namun, rumah kami tetap berantakan, dan mimpiku hancur. Saat aku tumbuh besar, semua pengalaman itu membuatku trauma, dan semua itu menjadi luka yang tidak ingin aku usik, yang tidak ingin aku sentuh. Namun kemudian, menghadapi panggilan kasih Tuhan, aku merasa seperti anak hilang yang akhirnya menemukan ibu dan ayahnya yang telah lama hilang. Hatiku yang melayang-layang dan terombang-ambing akhirnya menemukan tambatan dan sesuatu untuk bersandar. Aku berlutut berdoa dan mencurahkan isi hatiku kepada Tuhan. Aku juga meletakkan masa depanku di tangan Tuhan agar Dia bisa membimbingku melalui hari demi hari.

Ayahku Juga Seorang Korban

Suatu ketika dalam sebuah kebaktian, aku mendengar beberapa saudara-saudari membaca bagian berikut dari firman Tuhan: "Satu demi satu, semua tren ini membawa pengaruh jahat yang terus-menerus merusak moral manusia, menyebabkan mereka terus kehilangan hati nurani, rasa kemanusiaan, dan akal budi, serta semakin menurunkan moral dan kualitas karakter mereka, sampai-sampai kita bahkan dapat mengatakan bahwa sebagian besar orang sekarang tidak memiliki kejujuran, tidak memiliki kemanusiaan, demikian pula mereka tidak memiliki hati nurani, apalagi akal budi. Jadi, tren-tren apakah ini? Engkau tidak dapat melihat tren-tren ini dengan mata telanjang. Ketika timbul sebuah tren yang baru, mungkin hanya sejumlah kecil orang yang akan menjadi pelopor dari tren itu. Mereka mulai melakukan hal tertentu, menerima ide atau pandangan tertentu. Namun, di tengah ketidaksadaran mereka, sebagian besar orang masih terus terjangkit, terserap, dan tertarik oleh tren semacam ini, hingga mereka semua dengan rela menerimanya, dan semuanya tenggelam di dalamnya serta dikendalikan olehnya. Bagi manusia yang tidak memiliki tubuh dan pikiran yang sehat, yang tidak pernah mengetahui apa itu kebenaran, yang tidak dapat membedakan antara hal yang positif dan negatif, tren-tren semacam ini satu demi satu membuat mereka semua bersedia menerima tren-tren ini, pandangan hidup dan nilai-nilai yang berasal dari Iblis ini. Mereka menerima apa yang Iblis katakan kepada mereka tentang bagaimana menjalani kehidupan dan cara hidup yang Iblis 'anugerahkan' kepada mereka. Mereka tidak memiliki kekuatan, mereka juga tidak memiliki kemampuan, apalagi kesadaran untuk menolak" ("Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI").

Seusai membaca firman dari Tuhan ini, satu demi satu, saudara-saudari membagikan persekutuan tentang pengalaman dan pemahaman pribadi mereka sendiri, yang memungkinkanku untuk memahami alasan di balik perselingkuhan ayahku serta akar dari kepedihanku dan ibuku. Pada zaman kejahatan ini, Iblis menggunakan segala macam orang, benda, dan peristiwa untuk menanamkan segala macam pikiran jahat kepada orang-orang, seperti "Bendera merah di rumah tidak jatuh, bendera warna-warni di luar berkibar tertiup angin", "Jangan meminta keabadian, berbahagialah dengan sekarang", "Bertempur untuk setiap jengkal tanah dan rampas sekecil apa pun bagian yang bisa Engkau dapatkan", dan "Hiduplah setiap hari seolah-olah itu hari terakhirmu". Sebagai manusia, kita kurang memiliki kebenaran dan tidak bisa membedakan yang baik dari yang jahat, atau hal-hal positif dari hal-hal negatif, dan kita khususnya kurang memiliki kesadaran untuk menolak hal-hal negatif. Kita mulai tidak setuju dan menolak menerima pikiran jahat ini tetapi pikiran-pikiran jahat ini akhirnya menjadi masalah. Selain itu, ada pengaruh lingkungan sosial ditambah orang-orang, hal-hal, dan peristiwa di sekitar, kita berangsur-angsur menerima penerapan jahat ini. Kita bahkan menganggap hal-hal jahat ini sebagai hal positif dan mengejarnya seolah-olah semua itu hal positif; kita mulai menginginkan kesenangan daging dan memenuhi keinginan daging kita. Ada banyak orang yang tidak lagi mengkhawatirkan perasaan anggota keluarga mereka dan tidak lagi menjalankan tugas atau tanggung jawab mereka. Sebaliknya, mereka hanya mengikuti trenjahat dalam memiliki kekasih atau wanita simpanan, dan ada yang bahkan melakukan kencan satu malam demi memuaskan nafsu. Mereka bukan hanya merasa hal itu tidak memalukan, tetapi mereka juga berpikir itu sah-sah saja. Mereka menjadi semakin jahat, bejat, tidak bermoral, dan rusak, sepenuhnya kehilangan moral dan etika yang harus dimiliki oleh orang yang baik. Mereka kehilangan nurani, akal, dan kemanusiaan mereka. Inilah bagaimana begitu banyak keluarga bahagia yang berantakan. Begitu banyak pasangan telah menjadi musuh karena ada orang ketiga di antara mereka, dan begitu banyak anak yang menggemaskan telah kehilangan masa kecil mereka yang riang karena perceraian orang tua. Semua kepedihan yang kita derita sebagai manusia disebabkan oleh pemikiran jahat Iblis.

Aku memikirkan bagaimana ayahku bisa sebejat itu, padahal dahulu dia sangat bertanggung jawab kepada keluarga. Dia merawat aku, saudariku, dan ibu kami, tetapi sejak ayahku mulai bekerja di luar kota, dia melihat semua orang di sekitarnya pergi ke klub dansa, bar, dan tempat-tempat karaoke, berada di ruang obrolan online, dan mencari kekasih. Lambat laun, akhirnya dia menyetujui dan mengikuti gaya hidup semacam itu. Dia mulai berselingkuh dan hanya peduli pada kesenangannya sendiri, bukan perasaan ibuku, dan dia sama sekali tidak memperhatikan aku dan saudariku. Ini sangat menyakitkan bagi kami, yang pada akhirnya menyebabkan perpisahan keluarga kami. Sekarang karena aku berpikir ayahku tidak menjadi orang percaya dan tidak memiliki kebenaran, bagaimana mungkin dia bisa menangkal gangguan dari trenjahat itu? Meskipun tindakannya menjijikkan, dia juga seorang korban dan ternyata pelakunya adalah Iblis. Iblislah yang menggunakan tren jahat untuk memikat dan merusak manusia. Inilah sebabnya mengapa begitu banyak orang menjadi semakin jahat dan bejat, menyebabkan begitu banyak rumah menjadi berantakan. Setelah aku memahami semua itu, kebencianku terhadap ayahku sedikit berkurang, dan rasanya tidak begitu menyakitkan lagi bagiku. Aku merasa sangat bersyukur kepada Tuhan karena membawaku ke hadapan-Nya, dan menghibur serta mendukungku dengan firman-Nya. Melalui firman-Nya, Dia juga menuntunku untuk melihat dengan jelas kebenaran bahwa Iblis menggunakan tren jahat untuk merusak dan membahayakan manusia, memungkinkanku untuk mendapatkan pemahaman atas hal-hal negatif, dan tidak lagi hidup dalam kepedihan, yang dipenuhi dengan kebencian. Aku mengalami kasih dan keselamatan Tuhan bagiku dengan cara yang sangat nyata. 
Diubah oleh Sharonwhite


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di