CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Gincu Mbok Dewor (Cerpen)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6480818d9b1776283e8a00/gincu-mbok-dewor-cerpen

Gincu Mbok Dewor (Cerpen)

Gincu Mbok Dewor
Oleh : Mambaul Athiyah

Rumah bergaya Victoria abad pertengahan itu masih berdiri kokoh di dekat bendungan wadaslintang. Menjelang senja saat matahari barat mulai tenggelam sisa-sisa kemegahannya akan semakin terlihat. Rumah itu akan menjadi primadona semua yang berlalu lalang dari sawah, pulang kerja, bahkan pulang mengaji akan singgah sebentar di sana mengaguminya. Sebentar saja. Saat malam mulai datang percayalah lewat di depannya pun walau beramai-ramai semua orang akan memakai kecepatan seribu kuda. Naasnya aku kalah taruhan dan harus menjamahnya malam itu juga.

Uji nyali, ah aku sering melihatnya di televisi. Baru kali ini kuuji nyaliku sendiri di sini. Rumah besar itu gelap, sunyi. Suara kodok di kubangan sawah menyambutku saat kaki kanan menapaki tangga pertama, masih di depan teras. Selanjutnya pintu besar setinggi tiga orang dewasa saling bersusun itu terpampang di depanku. Angkuh. Namun mempesona. Masih kokoh dan siap mempersilahkan siapa saja. Aku harusnya memilih menolak saat taruhannya masuk rumah ini tapi gengsi melanda, sekarang aku harus menerimanya walau tengkukku berdiri bulu roma.

Langkah pertama di depan pintu sempurna sampai detik berikutnya suara angin kencang seolah mengisi gendang telingaku membuatku berlari tak tentu arah hingga akhirnya aku terjerembab di bawah tangga menuju lantai dua. Uka-uka. Sungguh. Aku memilih berpikir logis, berbalik arah dan melambaikan tangan tanda menyerah. Dengan mantap aku berlari ke arah luar namun brak. PPintu besar itu menutup padahal tiada angin. Aku terjungkal ke belakang menabrak lemari tua di belakang. Suara seseorang berteriak dari luar dan cahaya senter menembus gelapnya ruangan. Aku bangkit berdiri sambil berpijak di dekat lemari saat kulihat benda kecil seukuran jari tergeletak di bawah dan kuambil dengan segera. Menembus bayangan malam di rumah itu aku berhasil keluar dengan terengah-engah. Pak Atmo hansip kampung sudah bersiap dengan pentungannya di depan rumah menyeringai ke arahku.

"Bocah koplak, iki cagar budaya ojo gawe dolanan," katanya sambil pura-pura memainkan pentungannya di atas kepalaku.

"Ampun, pak, tobat," jawabku sambil berlari menjauhinya. Suara tawa tiga temanku menyambut dari seberang jalan dan kami bergegas pulang.

***

Sebuah gincu di tanganku kutimang-timang berkali-kali. Aku tak ingat sebelumnya darimana mendapatkan gincu ini tapi bayangan rumah tua kemarin malam membuatku bergidik sendiri. Kulempar saja gincu itu ke sembarang tempat dan bergegas menuju kantor perhutani. Hingga malam tiba dan keesokan harinya aku berinisiatif mengembalikannya. Takut kalau-kalau gincu itu punya noni Belanda yang tinggal di sana. Konon katanya noni itu siap memangsa siapa saja yang mengambil barangnya di sana. Ngeri. Walau sekarang aku hidup di Zaman serba canggih namun naluri manusia ku masih mempercayai hal-hal macam begini, jujur saja.

Sudah sekitar sejam aku celingak-celinguk di bawah meja dan kolong kasur namun nihil. Sampai kehebohan itu terjadi. Mbak Sumarni kakakku yang polos apa adanya mendadak ramai di datangi lelaki. Katanya semua terpesona dengan perubahannya yang nampak ayu dan wangi.

***

"Dek Marni, apapun permintaan adek bakal tak turuti," kata sebuah suara yang kukenali dengan pasti. Ya Salam mandor Suratman yang beristri tiga itu sedang merayu kakakku setelah tadi ada Somadi, Rakabumi, sampai pak Lurah Sardi melakukan hal yang sama. Ajaib. Instingku bekerja, ada yang salah di sini.

"Yu, kok aneh bin ajaib,"

"Opo toh dek sing aneh,"

"Yu, sampean ora main pelet tah, yu?" tanyaku bergidik ngeri.

"Astaghfirullah, dek,"

"Ojo sungudzon karo yune,"

"Walau aku tahu wajahku pas-pasan tapi aku gak bakal pakai cara curang,"

"Tapi, aneh yo dek, semenjak aku pakai gincu sing nemu nang kamar sampean, Mak bedunduk kabeh wong lanang kok moro mrene, ya dek,"

"Gincu?"

"Ya Allah Yu, iku gincu setan, balikno arep tak buang nang cedak waduk," kataku panik. Ternyata gincu itu raib diambil mbak Marni.

"Wah, piye iki gincu iki wis digowo Anti anake pak Radi,"

"Katanya pengen gaet calon laki,"

"Astaghfirullah," kataku sambil mengambil kunci motor dan segera mencari mbak Anti.

Sejam setelahnya aku menemukan mbak Anti sudah menjadi korban pembunuhan dekat sawah padi satu kilo sebelum waduk. Ditangannya gincu itu menghitam dan menguarkan misteri. Aku terpekur menyadari kesalahanku. Mungkin jika aku tak mengambilnya tak akan ada kejadian seperti ini.

***

Seminggu sudah berlalu kejadian itu bahkan polisi sudah menemukan pelaku yang kesengsem dengan kecantikan Anti yang mendadak. Anehnya lagi gincu yang jelas kulihat ditangannya raib entah kemana. Kata pak hansip penjaga rumah tua itu gincu yang kuambil adalah gincu Mbok Dewor penakluk Para mandor Belanda zaman dulu. Dia disiksa sampai mati karena diduga memakai guna-guna. Kebenaran kisah ini tidak ada yang tahu tapi aku benar-benar ngeri dibuatnya saat gincu itu kembali ada di saku jaketku dengan suara wanita berbisik manja di telinga.

"Bang, balikin Bang."

***

Timit.
Selamat membaca
upin gan
baca baca baca bacalah
upin upin
baca baca baca yuuk 😍
upinn
up ip up


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di