CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Kuantar Ibu Ke Neraka 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e644634018e0d7b661b682a/kuantar-ibu-ke--neraka-2

Kuantar Ibu Ke Neraka 2


Aku terus memperhatikan kegiatan mereka, sementara orang yang diikat di sana tidak jelas sosoknya. Entah perempuan atau laki-laki. Jelasnya, ia mengenakan jubah putih—beda dengan yang lain.

Jantungku kian berpacu, saat seseorang yang membawa kapak, terlihat mulai mengangkat benda tajam itu ke udara.

Astagfirullah. Apa yang akan mereka lakukan? Aku hanya bisa menutup mulut, tak percaya jika bisa pindah ke lingkungan aneh seperti ini.

Dadaku kian bergemuruh, saat detik-detik eksekusi itu dimulai. Akan tetapi, saat kapak berayun, aktivitas itu terhenti seketika. Sang eksekutor, tubuhnya berbalik dan melirik ke arahku. Dengan sigap aku menutup gorden, sementara tubuhku sudah basah oleh keringat.

Bebarengan dengan itu, suara ketukan pintu membuat dada semakin berdebar. Timbul pemikiran, bagaimana jika salah satu dari mereka datang ke sini?

Ya Allah, lindungi aku.

Ketukan pintu semakin kencang, aku berusah mengatur napas. Memberanikan diri untuk melangkah perlahan. Meski badan gemetar hebat, tapi aku harus yakin. Bukan setan yang kini aku takuti, tapi yang bahaya adalah ketika hati manusia dirasuki setan. Mereka tidak segan melukai, bahkan membunuh dengan sadis.

Tanganku semakin gemetar, kala menyentuh knop pintu yang terasa dingin. Ketukan itu masih saja belum berhenti bersuara. Dengan mengucap bismillah, aku segera menariknya.

"Lama bener, pegel tangan aku!"

"Astagfirullah, Kak Mita. Kenapa gak ngetuk sambil ngomong, sih!" ketusku, bergegas masuk dan menjatuhkan tubuh di ranjang.

Sementara Kak Mita masih sibuk menutup pintu. Ia menghampiriku dengan wajah yang terlihat pucat, wanita berdagu lancip itu duduk di sampingku.

"Kenapa, Kak?" tanyaku hati-hati, seraya merubah posisi yang tadinya berbaring menjadi duduk kembali.

Ia menoleh, lantas memandangku sekilas. "Tadi kamu manggil-manggil aku gak?"

Aku mengernyit. Sedikit heran dengan apa yang Kak Mita lontarkan. "Manggil? Enggak tuh," jawabku tegas.

Setahuku, Kak Mita bukanlah tipe orang yang penakut. Dia adalah wanita yang terkesan tak acuh dan tidak percaya akan hal di luar nalar. Aku rasa, ada sesuatu yang sangat menganggunya, sampai ia berekspresi seperti sekarang.

"Tadi aku lagi tidur, tapi aku ngerasa ada yang narik selimut. Awalnya aku tak acuh, lama kelamaan semakin parah. Pas aku bangun, ada yang ngetuk pintu dan manggil-manggil gitu," jelasnya, membuat bulu kuduk merinding seketika.

Pikiranku kembali pada sekumpulan orang di luar sana. Mungkin, aku bisa tunjukkan itu ke Kak Mita, sebagai bukti bahwa tempat ini memang sangat aneh.

"Kak, di luar sana ada orang yang mau dieksekusi, Kakak coba lihat deh!" Aku menarik tanganya, tapi ia melepaskan kembali genggaman itu.

"Kamu ngekhayalnya kejauhan kayanya, Ren. Kamu pikir kita lagi di penjara?"

Aku berdecak sebal, lalu kembali menarik tangan itu untuk bisa ikut melihat apa yang terjadi. "Sekali ini ... aja. Kakak harus percaya dengan apa yang aku lihat!"

Kak Mita menatapku intens, sepertinya ia mulai terbius dengan caraku memelas. Lantas ia berdiri, lalu mengikutiku yang berjalan ke arah jendela. Namun, yang terjadi hasilnya di luar dugaan. Tidak ada siapa-siapa, yang ada hanya suasana tamaram tanpa penerangan sedikit pun.

"Mana?"

Aku masih bergeming tak percaya, karena apa yang aku lihat tadi nyata adanya. Apa mungkin, waktu aku membuka pintu, aktivitas tadi pun berakhir?

"Rena Indriyani, untuk yang namanya hantu, mulai dari sekarang aku percaya. Tapi untuk cerita kamu barusan, gak masuk akal. Kayanya kamu ngantuk."

Aku menghela napas, kembali menutup gorden. Mungkin benar apa yang dikatakan kakaku ini, aku kelelahan dan terlalu berpikir negatif tentang  rahasia tersembunyi di rumah ini.

"Udah ah, aku mau tidur di kamar aja. Baik-baik, jangan banyak ngekhayal," ucap Kak Mita sembari terkekeh.

Setelah kakaku keluar dari kamar, tidak ada rasa ngantuk lagi. Aku memutuskan untuk mengambil air wudu. Mungkin, salat malam akan membuat kegelisahan ini hilang.

Sebenarnya, aku malas naik-turun rumah ini hanya untuk ke kamar mandi, tapi selama aku percaya Allah Maha Melindungi, semua akan terasa aman. Buktinya, sekarang aku sudah berada di kamarku lagi.

Aku sudah bersiap untuk salat, mukena pun sudah terpasang dengan rapi. Baru saja akan memulai, tiba-tiba ....

"Arrgghhh!"

Deg! Suara lengkingan dan jeritan itu terdengar jelas.

Aku segera melangkah menuju jendela kembali, membuka gorden dan memastikan jika tidak ada yang salah dengan pendengaranku. Benar saja, pandanganku mengarah pada satu titik cahaya, di mana sosok berbaju hitam tengah berdiri menenteng sebuah benda bundar di tangannya.

🌱🌱🌱

"Dimakan, jangan cuma dimainin aja," ucap Ibu saat kami sedang sarapan.

Aku meliriknya sekilas, lantas kembali mengaduk makanan dalam piring. Tentu, dipikiranku kini masih terbayang kejadian malam tadi. Mungkin, aku mau minta izin pada Ibu untuk bekerja di kota. Meninggalkan tempat ini, dan kembali hanya saat merindukan Ibu dan Kak Mita.

Napsu makan pun seketika lenyap, tubuhku terasa lemas. Mungkin, melihat pemandangan sekitar akan membuat kepenatan sedikit berkurang.

"Bu, aku izin keluar sebentar, ya."

"Mau ke mana?" tanya Ibu dengan tatapan menyelidik.

"Cuma keliling sekitaran sini aja, kok, Bu. Kan, dari kemarin belum lihat pemandangan di sini."

Ibu pun mengangguk. "Hati-hati kesasar, ya."

"Iya, Bu." Aku pun beranjak dari tempat duduk, dan mulai keluar dari rumah ini. Ternyata, pagi ini cuaca sedikit berkabut.

Pepohonan yang rindang dan menjulang tinggi, menyambutku dengan lantunan kicau burung di atasnya. Belum lagi, suara-suara binatang kecil yang bersorak, seolah mengucapkan kata selamat pagi untuk cuaca yang dingin ini.

Aku menatap sekitar, memperhatikan suasana yang begitu sepi, hanya terlihat beberapa helai daun berjatuhan. Aku mulai melangkah, penasaran dengan setiap sudut di luar rumah ini.

Pikiranku kembali pada kejadian semalam, entah mengapa aku penasaran untuk mendatangi pemakaman yang berada di belakang kamar. Mungkin, jika siang seperti ini suasanya tidak akan terlalu mencekam.

Aku memantapkan hati, lalu mulai beranjak dan bergegas pergi agar segera sampai di tempat. Sepanjang jalan tidak ada hal yang aneh, hanya terlihat bebukitan tinggi dengan jalan setapak untuk menuju akses ke dalam hutan, tapi tujuanku bukan ke sana. Maka aku tetap mengambil jalan lurus.

Karena memang hanya sekitaran rumah, perjalanan pun tidak jauh. Aku telah sampai di belakang kamar. Di sini memang tidak terlalu banyak pohon seperti di depan teras rumah. Hanya saja, ada hamparan bukit luas dengan patokan-patokan bambu menyerupai pemakaman. Seperti batu nisan yang saling berhadapan. Malah, salah satunya ada yang diikat dengan kain berwarna hitam dan putih.

Tempat apa sebenarnya ini? Tapi hatiku yakin, jika ini memang adalah makam. Entahlah keyakinan itu datang dari mana, karena seperti ada hawa-hawa aneh yang muncul saat melihat gundukan tanah itu. Apalagi, ketika melihat kayu yang tingginya mencapai matakaki, dibalut dengan sebuah kain polos.

Debar jantungku mulai tidak karuan. Di tengah kesunyian, aku masih berjalan dengan mata masih mengarah pada pemandangan yang tidak biasa ini. Namun, aktivitasku terhenti saat tanpa sengaja kakiku menendang sesuatu.

Aku mengalihkan pandangan ke bawah, semakin kaget saat yang aku tendang adalah batok kelapa. Bukan batoknya yang aku permasalahkan, tapi cairan yang keluar dari benda tersebut.

Darah?

Apa mungkin ini adalah darah yang semalam? A-apa mungkin, kejadian yang aku lihat itu nyata? batinku mulai bertanya-tanya.

Aku mulai membungkuk, memastikan jika memang cairan kental itu adalah darah.

"Neng ...."

Belum sempat aku menyentuhnya, tepukan di pundak itu membuatku terperanjat. Aku menoleh, menatap pria yang kini sudah berdiri di hadapanku. Tatapannya tegas dengan kulit sawo matang khas orang Indonesia. Tubuhnya tinggi dan kekar, terbalut kaos berwarna hitam.

"Sedang apa di sini?" tanyanya dengan ekspresi datar.

"A-aku ...." Tidak mungkin aku bilang jika melihat sesuatu tadi malam pada orang yang baru aku kenal.

Aku menarik napas, lantas berusaha bersikap layaknya warga baru. "Cuma jalan-jalan, Kak." Aku memanggilnya Kakak, sekadar manjaga sopan dan santun.

Ia mengalihkan pandangannya ke bawah, aku pun ikut tersugesti untuk mengikuti aktivitasnya. Benar saja, ia memperhatikan darah yang sedari tadi aku amati.

"Emmm, tadi aku tidak sengaja menendangnya. Jadi penasaran itu darah apa," ucapku spontans.

"Itu darah ayam, tadi saya yang menyemblih hewan itu di sini. Cuma, tadi saya simpan dulu karena repot membawa beberapa ayam," jelasnya masih dengan wajah tanpa senyum.

"Tapi kenapa ditampung segala?" Aku menutup mulut, sadar betul pertanyaanku salah. Jiwa ingin tahuku selalu besar jika sudah dilanda rasa penasaran.

"Untuk diminum." Jawabannya berhasil membuatku menelan ludah.

Apa di tempat ini tidak ada minuman seperti sirup? Sampai darah saja diminum. Spekulasi tentang daerah ini aneh pun semakin menguat.

"Untuk obat," sambungnya, "lebih baik Neng pulang saja, jangan berada di lingkungan ini."

Dia seolah mengusirku dengan perlahan, tapi kata-kata dia semakin membuatku penasaran. Ada apa sebenarnya di tempat ini? Jika dihubungkan dengan kejadian semalam, ini pasti ada kaitannya. 

🌱🌱🌱

Aku kembali ke rumah dan bergegas pergi ke kamar. Sebelum masuk ke kamar, aku melewati ruangan di mana ada sebuah lukisan yang menarik perhatian kami. Untungnya, pintu kamar sedikit terbuka.

Ternyata ada Ibu di sana, ia terlihat sedang berdiri dengan posisi kepala mendongak. Mungkin, ia sedang mangagumi lukisan itu, seperti yang dilakukan Kak Mita.

"Ren, lagi apa sih?"

Aku terperanjat, saat Kak Mita muncul secara tiba-tiba. Lantas aku menoleh ke arahnya, tapi gadis itu seperti membawa sesuatu.

"Itu apa, Kak?" tanyaku penasaran. Ia membawa nampan, dengan penutup kain hitam.

"Tau nih, disuruh Ibu ambil ini dari kamarnya," jawabnya singkat.

Aku mulai penasaran. Bukan masalah ditutup kain hitamnya, tapi benda yang ada di dalamnya. Itu terlihat seperti sesuatu yang bundar dan ukurannya agak besar, menyerupai ....

Tanganku bergetar, ingin meraba apa yang ada di dalam sana.

Bersambung ....
profile-picture
kartikanurazmi memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di