CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Inspirasi /
Pernahkah Kita Sadar Akan Hal Ini Terhadap Orang Tua Kita?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e64332cc0cad71a93630094/pernahkah-kita-sadar-akan-hal-ini-terhadap-orang-tua-kita

Pernahkah Kita Sadar Akan Hal Ini Terhadap Orang Tua Kita?

PIKUN
Oleh. Phalosa Nanda

Pernahkah Kita Sadar Akan Hal Ini Terhadap Orang Tua Kita?

Dari semalam mata masih terjaga menyelesaikan beberapa tugas kantor untuk presentasi esok hari. Aku memijat kening sendiri, rasa pusing memaksa aku untuk istirahat sejenak. Tak peduli dengan beberapa berkas masih berserakan di meja.

Aku bangkit dari kursi, lalu menuju dapur sekadar membuat kopi expresso. Terlihat wanita renta yang memakai daster sedang mengobrak-abrik beberapa laci, seperti mencari sesuatu.

"Ibu cari apa?" tanyaku memegangi bahunya lembut.

"Kacamata ibu, Nduk. Nggak ada, apa kamu liat?" Aku menghela napas dalam, mendengar perkataan wanita renta ini.

Aku meraih kacamata yang terletak di kepalanya, lalu memakaikannya. "Ada di kepala Ibu." Kemudian ia kembali duduk di kursi biasa yang ia duduki di rumah ini. Sedangkan aku, kembali ke ruang kerja, menyelesaikan beberapa tugas yang sempat kutinggalkan.

Semenjak menjadi wanita karier, aku dan ibu tak lagi tinggal di rumah reot di kampung sebelah. Dengan gaji yang cukup, akhirnya aku bisa membeli rumah sendiri di daerah kompleks. Meski tak besar, setidaknya cukup untuk menampung aku dan Ibu di masa tuanya.

Ayah meninggal dunia saat aku masih duduk di bangku SMA karena serangan jantung akibat terlalu sering mengkonsumsi rokok. Ya, semasa hidupnya ayah adalah perokok aktif. Ayah bisa menghabiskan setidaknya dua bungkus rokok dalam sehari. Meski ayah hanya bekerja sebagai tukang bangunan, dengan gaji pas-pasan tapi ia bisa membiayaiku sekolah sampai ke jenjang SMA.

Saat lulus, aku tidak langsung kuliah seperti kebanyakan teman seperjuangan. Aku bekerja selama setahun untuk menabung. Biaya yang terkumpul untuk biaya hidup kami sehari-hari, kadang ibu juga mencari uang sebagai pedagang gorengan keliling. Tapi kini, aku bersyukur ia tidak lagi berpanas-panasan berkeliling kampung lagi untuk berjualan.

Tiba-tiba ponsel berdering membuyarkan lamunanku.

"Halo, April." Terdengar suara dari seberang.

"Iya, Pak. Ada apa?"

"Dokumen yang presentasi kemaren sudah kamu kirim?"

"Sudah, Pak. Lewat email yang kemaren Bapak kasih."

"Dokumen print out-nya kamu letakan di mana?"

Aku menepuk dahi. "Maaf, Pak. Kemaren printer kantor kan rusak, jadi belum di-print out."

Aku menjauhi ponsel dari telinga, tak sanggup mendengar caci-maki yang ia lontarkan. Tentang aku yang tidak becus bekerja, banyak alasan lah, dan masih banyak lagi. Ia memang biasa melampiaskan amarahnya padaku saat karyawan lain yang melakukan kesalahan. Sebagai asistennya, sudah paham dengan watak bos.

"Kamu dengar, April?"

"Siap, Pak."

"Oke, ditunggu siang ini."

Sambungan telepon terputus secara sepihak.

Untuk kesekian kalinya di hari libur-ku, harus bekerja demi pundi-pundi rupiah. Menyebalkan!

Printer di rumah pun rusak, terpaksa aku harus ke warnet untuk print out. Setelah meng-copy file ke flashdisk, aku langsung menyambar jaket dan kunci motor.

Saat melangkah ke luar, tak lupa aku berpamitan dan mencium takzim punggung tangan ibu yang masih anteng duduk di kursi miliknya sambil merajut.

***

Cukup lama aku mengantre untuk mem-print out-kan dokumen ini. Dengan bantuan ojol langganan, aku mengirim dokumen ini pada bos sesuai dengan alamat yang dikirimnya, meski harus mengocek lebih besar dari biasanya. Yang terpenting sekarang adalah aku harus beristirahat yang cukup.

Di perjalanan, sengaja aku mampir ke penjual martabak. Ibu sangat suka dengan martabak kacang. Ketika Ayah masih hidup, jika ada uang lebih Ayah akan membelikan makanan ini untuk Ibu.

Sampai di rumah, aku tak menemukan sosok wanita renta itu. Di kamar, di kamar mandi, pekarangan belakang, aku tak menemukannya.

Panik, aku mencoba menanyakan pada tetangga terdekat barang kali mereka melihat. Tapi nihil, tak ada satu pun yang melihatnya. Aku berusaha mencari keliling kompleks, tapi lagi-lagi aku tak menemukannya.

Aku kembali ke rumah, berharap ibu memang ada di sana. Namun, semua sia-sia. Ibu tak kutemukan di mana pun. Aku merebahkan diri pada kursi ibu yang biasa ia duduki. Meja tampak berserakan dengan beberapa benang rajut dan sehelai kain rajutan yang hampir jadi. Kepalaku terasa pening, penyakit pikun yang diderita ibu semakin membuatku stres. Berkali-kali ibu lupa dengan kacamatanya, lupa jalan pulang saat ke warung sebelah, lupa meletakkan hasil rajutannya, lupa pulang ke rumahnya yang sekarang.

Saat aku membereskan beberapa benda yang berserakan di meja, aku menemukan selembar foto jadul yang terselip di laci. Foto di mana aku dan ayah pertama kali belajar menaiki sepeda yang Ayah belikan untukku. Meski sepeda bekas, wajah anak kecil dalam foto itu tampak bahagia.

Ada perasaan terenyuh di dada, sesak. Tak sadar, bulir air mata kini membasahi pipi. Beberapa kenangan di masa lalu terlintas begitu saja, terutama bersama ayah.

Aku melirik jam yang ada di pergelangan tangan, sudah jam tiga. Dengan cepat, aku melangkah ke luar ke tempat di mana keberadaan ibu sekarang.

***

Taman kota tampak ramai dengan anak-anak yang bermain dengan keluarga, tak jarang juga dengan para sepasang kekasih yang bergandeng mesra. Mata mencari setiap sudut kursi taman, berharap menemukan sosok yang kucari.

Akhirnya, di ujung taman dengan banyak anak-anak yang bermain menjadi tempat wanita itu duduk. Tak jauh dari sana, ada penjual es krim yang menjadi pusat perhatian anak-anak itu.

Aku mendekatinya, lalu duduk tepat di samping wanita renta itu.

"Ibu, kita pulang yuk!" ajakku menarik lengannya. Namun ia tak juga beranjak. Matanya justru fokus pada anak-anak yang bermain.

"Dulu kamu dan ayahmu paling sering ke sini saat liburan. Bermain, belajar sepeda sampai terjatuh, makan es krim sampai belepotan, dan juga tak jarang Ibu memarahi kalian karena bermain sampai lupa waktu."

"Ibu ...."

"Dan sekarang Ibu siap jika kamu akan marah, Nduk. Karena Ibu pergi tanpa pamit terlebih dulu padamu."

"Ibu ...." Kini suaraku lebih keras, mungkin terkesan bentakan.

"Ibu cuma kangen, Nduk. Ibu kangen ayahmu, kangen waktumu dengan Ibu, tapi sekarang ibu mencoba pahami dengan segala kesibukanmu, mangkanya Ibu ke sini, sendiri. Karena Ibu cuma kangen ...."

KH, 19 Okt 2019
Diubah oleh akunflo


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di