CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Your Storage Is Almost Full! :)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e63de24af7e9342c817ab00/your-storage-is-almost-full

Your Storage Is Almost Full! :)

Riset menyebutkan manusia memiliki 60.000 pikiran setiap hari. Bisa dibayangkan betapa sulit dan mustahilnya membuat semua pikiran itu positif. Mulai dari bangun tidur, memulai untuk mandi, memilih pakaian, berangkat pergi melakukan aktifitas, hal tersebut tak lepas dari buah pikiran yang menjadi keputusan untuk dilakukan. 

Salam kenal, gue adalah manusia yang banyak menggambar ketimbang makan, lebih banyak diem ketimbang ngomong, dan lebih memaksakan untuk berfikir positif ketimbang mementingkan perasaan. 

Intro yang ribet dan terkesan basa-basi gue rasa, namun kalian yang berkenan untuk membaca cerita yang akan gue sampaikan ini dijamin akan mengerti bagaimana diri gue, dan semoga kita bisa jadi teman.

Mari kita mulai dari cerita pada saat gue baru memasuki bangku perkuliahan, dimana banyak konflik pertemanan, romansa dan adegan ranjang penuh gairah. Sebuah perjalanan yang akan mempertemukan gue dengan seorang manusia yang mampu menyelamatkan gue dari problematika remaja yang menjijikkan ini. 

PROLOG

- Masa kini - 

Hujan yang tak hentinya turun malam ini, menampilkan gemerlap keindahan tatanan kota di permukaannya. Gue sedang dalam perjalanan pulang, dibalik kaca jendela mobil abang grab inilah gue melihat dengan kagum indahnya jalanan Sudirman di kota Jakarta. 

Gue Dhita, tahun 2020 ini genap berusia 24. Bagi gue, ditahun ini udah saatnya membuka lembaran baru dalam kehidupan, karir dan cinta. Dengan masa lalu gue yang berantakan, mau ga mau gue udah harus menyelesaikan segalanya dan mendaki anak tangga kehidupan ini untuk naik ke tingkat selanjutnya. Gue punya kelainan aneh bernama Obsessive Compulsive Disorder, yang tanpa sadar sangat berpengaruh dalam kehidupan gue. 

Tahun-tahun dimana semua terasa kelam, dengan pikiran yang memaksa untuk memudarkan perasaan yang sebenarnya, banyak hal diluar batas yang telah gue alami. Andai seseorang itu tidak hadir, memberikan warna dalam hidup gue, mungkin gue gak akan ada di tahun 2020 ini. Ya, semua telah gue lewati dan gue sekarang ada disini. 

Cerita ini memang terkesan kelam, namun tenang, gue berjanji akan banyak hal absurd, lawak, dan penuh kesegaran didalamnya emoticon-Big Grin, karena banyak orang yang seenaknya memberikan gue label seperti demikian. 

Untuk lo wahai si 'The Shining' terima kasih banyak karena kita udah ketemu. Gue banyak belajar bersyukur untuk menghargai apapun yang datang di hidup gue, dan karena lo juga gue jadi punya arti cinta yang selama ini gue cari. 


During this period, you might ask

yourself, "What do i have to celebrate

about being alive - and how can i share

this with others?" and, "Can i let myself

come all the way through to a kind of

rebirth?" No matter what's happening in

your life, you're here reading this, and

you deserve to celebrate.






Diubah oleh lazymaryjane

Part 1 - Just Like Heaven?



- 2014 -

Gue selalu bangun sebelum matahari terbit, kira-kira jam 5 pagi, karena butuh waktu yang disisihkan untuk mandi dan makeup-an sebelum berangkat kuliah. Kelas hari ini jam 7.15 pagi, bekel gue menuju kelas cuma hp, laptop, buku gambar A3 beserta peralatan lainnya, dan powerbank. Begitu terus selama 2 minggu ini. Sarapan? Tinggal beli roti sama susu di CK sebelah kampus.

Karena jarak dari kosan ke kampus lumayan deket, jam 6.30 gue udah nangkring di CK, ngeliatin satu persatu mahasiswa yang datang, terkadang ada yang gue kenal wajahnya karena sekelas tapi gue pura-pura ga liat. Udah 2 minggu berlalu, namun gue masih belum punya teman dekat buat sekedar diajak nongkrong atau ngerjain tugas bareng. Gue emang berharap punya temen yang cocok, tapi gue sendiri terlalu takut untuk memulai pembicaraan.

Selang beberapa lama, Cindy teman satu kelompok gue dikelas datang dan duduk disebelah gue. Sialnya, gue gak terlalu suka dia, socially awkward yang kalo ngobrol selalu bahas tentang dirinya sendiri. Dia suka musik ini, musik itu, dari kecil udah pindah kota sebanyak 5 kali, gue gatau dibalik perkataanya ada sebuah bluffing atau malah dia halu aja, tapi entah kenapa cuma dia satu-satunya anak dikelas yang gue paling banyak ngabisin waktu buat ngobrol.

"Udah disini aja lo!" ucapnya

"Iya." jawab gue males tanpa ngeliat

"Ada tugas gak sih hari ini..?" tanyanya basa basi

"Ada, banyak!"

"Loh, yang bener!? OMG Gue gak tau loh! Duuh.., anjir gue lupa lagi ngecek grup. Iya nih bener.. ada tugas drawing sama color theory. Liat punya lo dong Dhit.." serunya

"Gue juga belum bikin Cin, udahlah belum dikumpul hari ini juga kok." jawab gue enteng

"Masih asistensi ya? Okedeh. Tapi kalo malah dikumpul awas lo tanggung jawab!" balasnya sambil mengkerutkan dahi


Dih apa-apaan, baru juga pagi udah ada aja yang bikin kesel. Gue mungkin paham maksudnya cuma sok akrab sama gue, atau guenya aja yang sensi abis ngerespon orang macem ginian. Cindy masuk kedalam CK buat beli rokok, gue pun mengeluarkan hp lalu menyetel musik sambil memasang headset.

Masuk ke kelas gapake lama. Gue duduk di barisan tengah, dengan meja disebelah gue yang kosong. Fak gue ansos banget, semua orang sepertinya udah punya temen atau malah udah akrab sebelum masuk kesini. Cindy aja gitu-gitu punya banyak temen disana. Emang ajib banget rasanya kalo keinget film The Perks of Being Wallflower, tapi ini beda. This is Indonesia, and nobody f** care about this wallflower thing. Even though, meja gue selalu rapih, semua barang gue taroh di tempat yang ideal semestinya menurut gue.

BRAKK!! Meja gue kepentok sama seorang cowok yang lagi bercanda bareng cowok lainnya. Gue kaget, pensil dan pen yang udah gue susun berantakan, beberapa ada yang jatoh ke lantai. Tentunya gue ambil sendiri tanpa cowok itu sempat ngebantu, ini bukan sinetron pikir gue.

"Sorry, gak sengaja nih. Lo gapapa kan?" tanya cowok tersebut kepada gue

"Gapapa selo." jawab gue tersenyum simpul

"Sebelah lo siapa?" tanyanya

"Kosong"

"Gue sono ya. Gapapa?" tanyanya

"Oh.. Gapapa kok. Duduk aja" jawab gue


Namanya Fandy, tinggi, lumayan kekar, tattoan, tapi wajahnya manis, asli! Salah satu unggulan mungkin dikelas ini. Cuma itu tentang dia yang gue tau, karena dia juga ga terlalu banyak omong kalo dikelas. Untuk skill drawingnya jelek banget, gue hampir cekikikan ngeliatnya, tapi tetep stay humble orangnya. Haha i kinda like this guy, dan sekarang dia duduk disebelah gue.

Seorang pria berumur awal 30-an masuk, rambutnya gondrong ikal, pakaiannya serba gelap plus kupluk yang selalu dikenakannyaa. Pak Rudy, dia adalah dosen color theory pagi ini. Ga banyak omong, dan cukup frontal kepada kami semua. Bener yang gue bilang, kalo hari ini belum ada pengumpulan tugas. Masih sekedar pemahaman dan praktek dikelas. Disela-sela itu, ia melontarkan sebuah pertanyaan.

"Saya pengen tau, tujuan kalian masuk jurusan D'signini apa?!" dengan suaranya yang lantang tapi cempreng ditambah aksen inggris aussie yang terdengar aneh


Damn, sekejap gue terpaku. Pikiran gue mencoba untuk mengatur jawaban apa yang akan gue gunakan untuk menjawab pertanyaan ini. Namun ternyata gue gak punya. Semakin gue pikirin, ternyata gue belum punya tujuan tentang ini, gue gak tau mau ngapain, dan kenapa gue memilih masuk ke jurusan ini. Karena gue hobi gambar? Pasti bukan itu jawabannya. Gue menoleh ke Fandy, dan ternyata ia tersenyum. Ia membalas lirikan gue, sambil tetap tersenyum dan menaikkan alisnya sebelah.

WTF, gue memasang tampang bingung, maksudnya apa?

"Ngapain lo?" tanya gue

"Kenapa? Ada yang aneh?" dia balik bertanya

"Kagak." balas gue dan kembali membuang muka

"Dhit, dengerin musik yuk. Lo suka dengerin apa?" ajaknya sambil memberikan sebelah headset ke gue

"Jawab dulu noh" tunjuk gue pake mulut ke pak Rudy

"Nanti aja. Mana sini hp lo, gue yang pilihin lagunya."

Entah kenapa gue malah mau diperintahnya dan ngasih hp gue

"Ajeb ajeb suka ga?" tanyanya

Gue menggeleng

"Bagus, kalo gitu metal"

Gue menggeleng lagi

"Bagus, kalo gitu ini aja" Jawabnya sambil memutar sebuah lagu


The Cure - Just Like Heaven. Gue juga suka lagunya, dan entah kenapa gue mulai nyaman didekatnya. Barrier yang selalu gue pasang untuk orang baru, kali ini gue lepas. Fandy berhasil lolos menembus dinding itu dengan caranya.

Part 2 - Entah kenapa jadi dekat


Fandy jadi orang pertama yang mulai deket sama gue. Gue mulai memasuki celah pertemanan dengan teman-teman kelas ini melalui dia. Dimulai dari ajakan nongkrong bareng sehabis kelas bareng anak-anak yang lain, kemudian ngerjain tugas bareng di kosannya, semua jadi mudah karenanya.

Mari gue kenalkan dengan beberapa teman kelas gue yang bakal rajin hadir di cerita ini. Sekelompok cewek hits yang jarang ngomong tapi banyak dapat lirikan dari para cowok. Salah satunya bernama Dinda, she has > 5K followers di IG (pada saat itu). Tinggi badannya se-gue, rambut panjang tebal yang sering dicatok, makeup ga makeup-an sama aja cakepnya. Sang penakhluk hati pria hanya dengan sekali lihat, and gue masih belum tau orangnya gimana karena jarang ngobrol. Dinda and geng hitsnya duduk di barisan kanan kelas, dekat pintu keluar dan mesin absen, so semua orang otomatis akan melewati mereka.

Kumpulan manusia yang menggilai karakter 2D namun sangat mumpuni dalam urusan teknologi. Khas dengan ransel besar yang selalu dibawa, dan kaos bergambar anime ataupun karakter di dalam game. Samuel dan Kevin, haha dua orang yang paling sering aktif dalam kegiatan kelas, mereka juga ramah dalam ngebantu kita ngerjain tugas yang susah ini.

Para fucbois di barisan belakang yang lumayan sering menyumbangkan jokes di kelas. Grup paling berisik, terkadang annoying, terkadang menghibur. Diantaranya bernama Kumar, cowok kumisan yang gue anggap paling mendekati sosok pemimpin di kelas ini, namun tetap setia di tongkrongannya, dan Nanda, cowok mesum yang suka banget bawain dirt jokes kalo di grup. Fandy? Ya, menurut gue Fandy orang yang free soul, karena dia bisa baur sama siapa aja.

Last but not least adalah geng gue yang kayanya sih kumpulan cewe-cewe rebel semua, Vivi, Stephanie, Ainun dan gue. Kita jadi akrab karena sama-sama ngerokok, dan ternyata suka badmouth-in orang emoticon-Nohope Sering nongkrong juga di sela waktu break bareng anak cowo dikelas, dan suka nginep bareng di kosan Ainun.

Sampai sekarang, belum ada cowok yang gue suka di kelas ini. Gue udah single selama setahun, mantan gue dulu satu SMA dan anak basket. Makanya entah kenapa gue jadi lebih prefer cowok yang tinggi dan atletis. Mungkin basian dari mantan, entahlah bisa jadi berubah kan.

Sore sekitar jam 3, kami dan anak cowok yang lain berada di tongkrongan biasanya yang kita sebut Warbol (Warung bool emoticon-Nohope ). Hari ini adalah pengumpulan tugas drawing yang kelasnya dimulai jam 5 sore. Karena OCD, gue jadi rapih dan perfeksionis perihal tugas. Semua udah siap untuk dikumpul. Tapi gue risih, kalo temen-temen gue yang masih mondar-mandir sibuk ngurusin tugasnya yang belum kelar dan berantakan itu.

"Dhit, lo masukin ke plastik ga?" Teriak Stephanie

"Masukin aja, biar ga basah kena air, lo juga jangan lupa tempel lembar penilaian." jawab gue

"Eh eh bantuin dong, kayanya ga keburu kalo gue sendiri" saut si Nanda yang menghampiri gue

"Loh, masih lama kali, kerjain dulu aja sebisa lo." jwab gue

"Plis, lo bikinin gambar orangnya, gue kan gak jago kaya lo Dhit." saut Nanda


Gue bukan orang yang pelit sebenernya, tapi hal ini ga masuk sama gue. Gue udah kelar, dan semestinya gue tinggal nyantai tralalala trilili~ gitu dong. Tapi kalo diganggu begini, gue jadi risih dan entah kenapa temper gue naik. Gue cuma takut salah berucap dan jadi awkward sama yang lain, jadi mau ga mau gue harus ikuti apapun yang sebenernya gue gak suka.

"Eh monyong, kerjain sendiri lah! Manja amat lau!" saut Fandy tiba-tiba

"Buset, santai napa bos. Makan aja dulu itu indomi belom abis." balas Nanda

"Dhit, jangan mau bantuin dia, tuman ntar." Saut Fandy ke gue

Gue ketawa, Fandy ngomong tapi sambil ngunyah.

"Awas ih, tempat duduk gue nih!" saut Stephanie yang mengusir Nanda pergi

"Gini deh Nan, lo kerjain dulu aja napa, masih lama waktunya kan. Ntar dikelas juga masih bisa dilanjutin kali." Ketus gue

"Iye ini gue kerjain, canda doang elah" sautnya cabut


Nanda baru bikin tugasnya di jam segini, how messed this guy. Tapi tenang, Fandy lebih parah karena belom bikin sama sekali dan terlihat masih santai menyantap indomi goreng jumbo warna birunya. Apalagi yang sama-sama kita tau kalo gambarnya itu jelek banget emoticon-Frown OMG tolong, dia kenapasihh...

Kegiatan perkuliahan yang gue jalani masih awalan dari perjalanan panjang gue. Awalnya memang terasa senang, karena banyak teman-teman baru yang hadir, kita sering jalan-jalan bareng, nongkrong barneg, tidur bareng di kosan, and yeah kayanya gue bisa berkembang disini pikir gue. Tapi pertanyaan dari dosen gue pak Rudy kemarin masih terngiang di benak. Sebenernya bukan literally pertanyaan tersebut, tapi lebih ke tujuan gue dalam hidup yang gue jalani sekarang ini.

Masih ada permasalahan masa lalu yang belum selesai sebenarnya, mantan gue yang terlalu posesif sampai pernah jambak rambut gue didepan nyokap gue sendiri, papa yang memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan gue bertiga. Terlalu banyak pikiran tentang hal-hal gak mengenakkan di benak jikalau gue mencoba menggali ingatan nostalgi ini. Yang gue sayang saat ini cuma mama dan Chika, adik cewek yang beda 2 tahun sama gue.

Malam ini, sehabis kuliah gue nge-chat Chika

"Chik, lagi di mana? Keluar yuk." ajak gue

"Aku di rumah, emangnya mau ke mana?" balasnya

"Lagi pengen keluar aja, gak baik nih kelamaan sendiri di kosan." balas gue

"Uuuu, kesepiann yah kamuu emoticon-heart emoticon-heart Pulang aja sih, ada mama juga." balasnya

"Lagi ngapain mama?" tanya gue

"Nonton tipi tuh, Maaaaaah kak Dhita nih nelpon, mau ngomong ga?" teriak Chika

"Katanya gausah, Maaah aku keluar sama Dhita yah." teriak Chika

"Gimana?" tanya gue

"Ayok kemana?"


Kami cuma mampir ke kedai kopi punya temennya Chika, namanya Lia. Kami udah sering kemari, dan lumayan kenal sama orang-orang disini. Lia yang kebetulan rumahnya dekat juga disini. Chika udah seperti sahabat bagi gue, apapun kita sharing satu sama lain, dia lebih positif dan lebih dewasa dibanding gue.

*Ting hp gue berbunyi. Ada pesan masuk dari Fandy

Lagi dimana Dhit? Gue didepan kosan lo nih."

"Loh, ngapaiin? Gue lagi diluar Fan. Lagi lo ngapain kesana?" balas gue

"Cuma pengen main aja Dhit. Lo dimana? Boleh gue susul ga?" tanyanya


Dan belum sempat gue membalas pesan Fandy, telepon gue berdering. Fandy nelpon.

"Halo Dhit, shareloc ya. Gue kesana." ucapnya

"Eh, iya iya. Lo kenapa ngos-ngosan sih Fan?" tanya gue

"Oh gapapa Dhit. Gue kesana ya, kosan gue lagi gak aman Dhit."

Part 3 - Penguin


"Pacar? Wow cepet juga." saut Chika

"Bukan, temen kelas. Aduh, dia kenapa yah kayanya lagi ga beres."

"What? Kenapa emang?"

"Katanya kosannya lagi ga aman. Is he an addict..?" tanya gue

"Aw, bisa jadi. Emangnya kamu ga kenal deket?" jawab Chika

"Not really. Baru akrab seminggu ini. Gapapa nih, dia nyusul kesini?" tanya gue kemudian menghisap rokok

"Gapapa kali, palingan hal sepele kok kak." saut Lia

"Okey then. Jadi gausah dipusingin yaa.." jawab gue

"Mungkin dia suka sama kamu, atau anythin else?" saut Chika

"Seriously!? Ngechat aku aja baru ini loh."

"Cuma asumsi. Udahlah gausah dibawa panik."

"Gaa, gak panik kok. Okedeh."


Setengah jam kemudian, Fandy datang. Ia mengendarai mobil Brio berwarna putih kemudian masuk menghampiri meja kami. Tampilannya terlihat tidak seperti orang yang pengen nongkrong malem, mungkin buru-buru dan hanya memakai hoodie dengan celana pendek dan sandal seadanya. Is he really okay? OMG gue kepikiran dia serius diperjalanannya menuju kemari.

"Hai Dhit, hai salam kenal Fandy." Sapanya menyalami Chika dan Lia

"Lo kenapa deh?" tanya gue

"Gapapa, gue cuma bosen aja. Gue join sama lo ye." jawabnya nyengir

"Whutt!? Eh gue kirain lo kenapa-napa tau! Terus maksud kosan lo lagi gak aman itu apa?"

"Ooh., sorry maksudnya lagi banyak temen gue disana. So, i need space. Jadi gue pm lo deh. Gapapa kan?" jawabnya senyum

Sumpah, entah kenapa Fandy terkesan flirting didepan adek gue dan temannya. Idk, mungkin bener yang Chika bilang. But i dont know how to respon gurl!

"Fan kenalin ini Chika adik gue, ini Lia temennya. So, if you dont find me at my room, you can look out here tho. Lo bebas kesini kapan aja, ya kan Lia." ucap gue

"Selo. Btw lo ga kayak dikelas yah, yang tadinya diem-diem cool, ternyata lebih menarik kalo banyak omong gini." ucapnya tertawa kemudian menyeruput iced macchiato punya gue.

Damn boi, itu punya gue!! Even Chika aja terkadang gue marahin kalo seenaknya ngambil barang2 gue.

"Pesen gih!" ucap gue

"Aw, maaf deh gue gaboleh minta punya lo ya." jawabnya meletakkan gelas dan tersenyum sekali lagi

"Emang gitu dia, gausah ditanggepin." saut Chika


He is more attractive than i expected. Sifatnya yang easy going, nyablak namun ramah dengan cepat bisa menarik gue masuk kedalam zona nyamannya. Dia bisa cocok di lingkungan gue, dan gue bisa terbuka jika didekatnya gue pikir. Barangkali selama ini gue ga sadar, ternyata senyumnya yang membuat matanya ikut terpejam itulah yang memikat gue. Rambut dengan jambul berantakannya yang selalu berdiri, garis dagunya yang tajam makin lama gue semakin memperhatikan hal yang menarik dari rupanya. Apalagi tattoo penguin yang terukir di lengan kirinya.

Akhirnya, gue balik ke kosan bareng Fandy. Chika pulang kerumah dan Lia masih tinggal sedikit lebih lama. Fandy emang jago ngobrol, setiap pembicaraan yang tak sengaja terhenti di gue akibat jawaban gue, selalu bisa ia kaitkan dengan topik apapun.

"Dhit, gue main ke kosan lo dulu boleh?" tanyanya

"Eh, ya boleh aja sih. Tapi gabisa parkir mobil disana Fan."

"Parkir di CK deket kampus aja, ntar gue ambil lagi." jawabnya

"Oooh... Yaudah kalo gitu."

For now, gue belum punya asumsi tindakannya yang nyamperin gue tadi ada intention khusus atau engga. Yang gue tau dia anak yang suka seenaknya dan random. Mungkin malem ini bagi gue dia jadi orang yang berbeda.


Setelah mobil diparkir, kami berjalan menuju kosan gue yang gak terlalu jauh. Udara malam ini dingin, dia suka bercanda dan gue juga seneng buat nanggepin, sampai kita tiba dikosan gue. Kosan gue adalah kos kosan yang bebas, boleh bawa peliharaan binatang, cewek cowok campur, boleh bawa temen nginep and anything. Makanya si Fandy bisa masuk.

Kamar gue berada di lantai 2 paling ujung. Fandy adalah orang ketiga setelah Steph dan Ainun yang gue ajak kesini. Lampu kamar gue lumayan remang, karena gue beri lampu kerlip berwarna ungu dan biru. Kami masuk, gue cuci kaki dan tangan di kamar mandi, kemudian Fandy juga ikutan. Damn, mulai dari sini gue ngerasa awkward. Setelah pintu kamar ditutup tadi, barulah rasa awkward ini datang, karena gue cuma berdua sama cowok yang baru juga kenal 2-3 mingguan ini didalam kamar.

Fandy kemudian duduk dan menyender dikasur gue. Gue naik ke atas kasur dan menyalakan tv dengan volume yang kecil. Fak fak fak, ini aneh banget dan gue gak tau mau ngomong apaan.

"Dhit, gue sebenernya tadi pengen make ini." ujarnya tiba-tiba memecah keheningan yang tak sengaja tercipta ini

Ia mengeluarkan lintingan rapih yang sudah disimpan didalam kotak kartu bergambar Pinokio.

"Anak-anak lagi pada rame banget ke kosan gue. Tau sendiri kosan gue gak aman gitu, makanya tadi gue samperin kosan lo. Eh lo nya gak ada." ucapnya

Gue masih diam, sebenernya gue pengen ketawa tapi gue bingung sama respon gue sekrang.

"Lo mau?" tanyanya..


Harusnya pertama dia nanyain boleh apa enggak bakar disini, baru nanyain gue mau atau engga. But yeah, lagi-lagi itu cuma pikiran gue yang kelewat sensitif. Gue kemudian bangkit dari kasur, berjalan kedepan untuk mengunci pintu. Kemudian Fandy yang melihat gue tersenyum. Entah kenapa gue balas senyumannya itu.

"Tapi Fan, besok kita masuk pagi loh." saut gue

"Selo, gak banyak kok ini." kemudian menyulut api

Oper sana oper sini, eh abis juga. Dengan posisi gue yang masih defensif di atas kasur dan dia dibawah, ternyata Fandy cerita banyak hal tentang dirinya. Fandy ternyata punya kembaran, dan kembarannya itu cewek. Kuliah di luneg, kalo gasalah di jerman. Mereka udah gak ketemu selama 2 tahun. Gue baru tau ternyata ada kembar yang terpisah jauh begini.

"Fan, gue pengen nanya. Kenapa gue yang lo hubungin? Temen-temen lain emangnya kenapa?" tanya gue

"Gue juga gak tau Dhit, yang kepikiran malah elo." jawabnya

"Ooh.." gue hening tanpa tau harus merespon apa

"Tapi lo orang yang tepat kan. Hahahaha, ujung-ujungnya kan nyebat bareng nih." sautnya tertawa

"Hahahaha, iya yah. baik juga lo Fan. Di kelas tidur melulu pantesan, suka ginian kan lo tiap malem." saut gue

"Dih emang ngapa si! Ga sering-sering banget kok Dhit. Eh, gue buka baju ya, badan gue gerah ini." ucapnya melepaskan hoodie dan kaos yang ia kenakan.

Tenang Dhit, gak akan ngapa-ngapain juga kok. Dia masih dibawah, elo diatas. Tenang, emang suhu kamar lo aja yang bikin dia gerah.

Oh boi, gue bisa lihat tattoo di tubuhnya dengan jelas. Tulisan Surrender All to You di dada, ada gambar kepala Sonic di bahu kirinya dan dibawahnya ada gambar penguin.

"Fan, arti penguin ditangan lo itu apaan?" tanya gue

"Ooh... ini." ucapnya melihat gue

"Kembaran gue tattoonya polar bear, makanya gue bikin penguin." jawabnya


Awalnya gue gak ngerti, dan emang gak akan ngerti mungkin. Namun Fandy menjelaskan dengat singkat bahwa Penguin dan Polar Bear tinggal di wilayah yang terpisah jauh diujung belahan dunia Utara dan Selatan. Gue akhirnya tahu, dia kesepian...
buka lapak dulu, baca nya ntar.


Quote:


Eitss mention nama brand 😁
Baca sekarang dong, bawa massa juga. Massa lah maksudnya gan 😁


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di