CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6313dd337f9374db475331/magnet-cinta--cerpen

MAGNET CINTA- CERPEN_


Hari itu, sembilan belas mei 2016 menjadi awal cerita yang tak mungkin kulupakan seumur hidupku.
Hari dimana menjadi awal perjuangan suamiku kembali mendapatkan kesehatannya.
Dan menjadi awal perjuanganku sebagai seorang istri dan tulang punggung keluarga kecilku.

Suamiku bekerja pada usaha adik iparku yang bergerak di bidang instalasi listrik.
Dan mendapat proyek pemasangan instalasi listrik sebuah restoran yang berada di sebuah mall di jakarta selatan.

MAGNET CINTA- CERPEN_
Memang, sejak pagi aku belum bertemu dengan suamiku. Karena dia diminta untuk mengantar keponakannya ke kota dan harus berangkat jam empat pagi.
Saat dia pergi aku masih tidur, karena ditempat kerjaku ada acara sehingga aku harus membantu disana dan pulang malam.

Siangnya, saat aku mau membawa anak asuhku untuk tidur, aku mendapatkan telpon dari adikku yang mengabarkan bahwa terjadi kecelakaan kerja ditempat suamiku berada.
Kecelakaan kerja itu karena ledakan pipa gas dan suamiku salah satu korbannya.

Saat itu aku kaget dan sedih, namun berusaha menahan air mata agar anak asuhku tidak panik.
Lalu ku ajak anak asuhku ke neneknya, dan mohon ijin untuk pulang karena harus ke rumah sakit.

Begitu sampai rumah, aku persiapan semua perlengkapan suami. Terutama pakaian dalamnya, karena aku berpikir kondisi suamiku tak terlalu parah dan aku bisa merawatnya didalam ruangan.
Namun begitu sampai dirumah sakit, aku sangat terkejut dan syok.
Ternyata suamiku dirawat diruangan khusus dan hanya perawat dan dokter yang bisa menjaganya.
Luka bakar yang diderita suamiku sekitar empat belas persen dari seluruh tubuhnya, dengan luka bakar tingkat tiga atau derajat luka bakar tingkat tiga (full thickness burn) yaitu kerusakan jaringan mengenai seluruh lapisan epidermis dan dermis, atau lebih dalam lagi. Secara klinis kulit tampak putih, kasar, namun juga dapat terlihat hangus, dan mati rasa. Operasi atau bedah menjadi pilihan utama untuk menangani luka bakar pada derajat ini.

Luka bakarnya terdapat pada kedua tangan sampai atas lengan atau sebatas lengan pendek kaos, kedua kaki sebatas mata kaki dan seluruh kepalanya.
Saat aku datang seluruh bagian itu tertutup oleh perban, hanya terlihat mata dan lubang hidung serta bibir saja.
Saat itu kami hanya saling tatap, karena kami terpisah oleh kaca pembatas.
Bersyukur karena kami masih bisa berkomunikasi karena disediakan intercom.

Saat kami bisa berkomunikasi suamiku berkata
"Bund, maafin aku ya? Sekarang mukaku hancur."

Ku jawab
"Kenapa minta maaf? Gak kok gak hancur, ayah tetap ganteng buat bunda.
Bagaimana? Apa yang dirasakan? Ada yang sakit? Sesak nafas gak, bagian dada ada yang sakit gak? Sudah di cek semua kondisi organ dalamnya belum? Kondisinya bagaimana?" cecarku.

"Alhamdulillah semua baik baik saja, organ dalam aman. Gak sesak nafas juga, cuma di lukanya perih dan panas.
Maafin ya, aku jadi ngerepotin kamu. Maaf," katanya lagi

"Ya allah sayang, ya gak ngerepotin lah. Namanya suami istri ya harus saling rawat dan saling jaga. Tidak ada yang merepotkan dan direpotkan." jawabku sambil tersenyum.
Jujur saat itu aku berjuang untuk tak menjukkan kesedihanku padanya. Karena aku ingin membuat suamiku tetap semangat.
Tujuh belas hari suamiku dirawat diruangan khusus tersebut, dan selama diruangan itu suamiku menjalani ganti perban pengelupasan kulit mati setiap tiga hari sekali.
Dan setiap habis ganti perban, dia mengeluhkan nyeri, perih dan panas pada lukanya.

Jika sudah begitu ingin rasanya aku masuk kedalam ruang rawat itu dan menenangkannya.
Namun karena peraturan di Rumah Sakit tak mengijinkannya, maka aku lebih memilih untuk setiap hari datang ke Rumah Sakit.
Menurutku, meski aku belum merawatnya setidaknya kehadiranku disana menunjukkan bahwa aku tetap ada dan mendampinginya.

Ada satu kebiasaan yang selalu aku lakukan setiap tiba dan gorden penutup ruangan dibuka.
Yaitu memberi semangat suami dengan melambaikan tangan

"Haiii, Assalamu'alaykum. Terus semangat ya, biar cepat sembuh. Demi aku."
Dan sehari saja saya tak melakukan itu, aku ditegur oleh penunggu pasien lain.
Katanya
"Mbak astri, kok blm kasih semangat buat suaminya? Saya suka loh ngelihat mbak astri seperti itu. Kelihatan banget sayangnya sama suami."
Maasyaa allah, ternyata yang saya lakukan itu jadi perhatian orang. Saya fikir tak ada yang melihat.
Setelah tujuh belas hari diruang khusus tersebut, akhirnya suamiku bisa rawat jalan.
Dan dalam satu minggu diharuskan cek up dan ganti perban ke rumah sakit.
Qodarallah, setelah rawat jalan dan dirumah selama dua minggu ternyata jaringan kulit gagal tumbuh karena terinfeksi.
Dan dokter mengharuskan untuk menjalani operasi tanam kulit atau skingraft.
Dengan mengambil kulit ari paha.
Alhamdulillah, proses tanam kulit berjalan lancar.

Namun masalah kembali terjadi, ketika akan di lakukan pelepasan supratul atau kasa penahan kulit.
Yang mengharuskan suami kembali ke meja operasi.
Total empat kali operasi besar yang dijalankan suami, operasi besar disini adalah suami harus di bius total.

Istri mana yang sanggup melihat belahan jiwanya mengalami semua itu. Namun aku tak boleh menunjukkan kesedihan dihadapan suamiku. Bukan bermaksud berbohong, tapi lebih ingin menjaga mood dan semangat suami.
Setelah perjuangan panjang suamiku akhirnya kami bisa keluar dan pulang dari rumah sakit.
Dan itu berbareng dengan musim mudik 2016.
Dan aku jadikan bahan bercanda dengan suami.

"Yah, orang orang pada mudik kekampung halaman dari jakarta.
Kita juga mudik ya, mudik dari rumah sakit pusat pertamina ke pondok cabe."

"Iya ya, hahahaha." jawab suami.
Itulah cara kami melewati masa sulit itu, kami saling begandeng tangan dan saling berpeluk erat.
Musibah yang menimpa suamiku tak lagi kami anggap hal buruk.
Tapi itu kami jadikan sebagai media untuk saling belajar.

Belajar lebih bersyukur, belajar lebih saling menjaga, dan lebih saling menghargai.
Tiga hari sudah suami dirawat dirumah, sementara kami tinggal dirumah adek.
Karena selama masa penyembuhan suami harus berada diruangan yang ber AC, tujuannya agar proses regenerasi kulitnya tetap berlangsung, dan agar cairan dari tubuhnya atau keringat tidak menimbulkan infeksi.
Sedang rumahku yang di ciledug belum ada, sementara waktu kami tinggal disana.

Dan ini adalah jadi momen menegangkan buat aku dan suami.
Karena aku harus menganti perban diluka luka tersebut.
Ini pengalaman yang luar biasa mendebarkan, karena aku harus melakukannya dengan cepat tapi juga harus hati-hati dan menahan ngilu melihat luka luka itu.
Butuh waktu hampir dua jam untuk membuka perban, membersihkan dengan Nacl atau air infus, dan kembali membungkusnya lagi dengan perban khusus.
Ganti perban terpaksa di lakukan sendiri karena bertepatan dengan cuti bersama idul fitri 2016.

Saat ganti perban suami bercanda.
"Bund, keren ya. Kemarin saat orang orang mudik ke kampung, kita mudik dari rumah sakit.
Sekarang, orang orang pakai baju baru, aku pakai perban baru."

"Iya ya, tapi tenang ini lebih keren kok dari baju baju mereka.
Hahahaha." jawabku.

Aku sengaja mengalihkan pembicaraan dengan bercanda, karena aku berharap itu menjadi motifasi buat suamiku.
Sejujurnya, saat itu aku merasa sangat pilu. Bagaimana tidak, lebaran jadi hari istimewa untuk berkumpul dengan keluarga besar. Sementara aku, aku harus bertahan demi sebuah pengabdian dan baktiku pada suami. Aku berusaha tak menunjukkan kesedihanku di depan suami, karena aku tak ingin dia semakin merasa bersalah dan sedih.
Hari hari terus kami jalani, hingga masa cuti lebaran habis dan jadwal cek up ke RSPP bisa dilakukan.
Dua kali dalam seminggu kami ke rumah sakit untuk ganti perban dan melihat hasil tanam kulitnya.
Alhamdulillah, hasil tanam kulit suami berhasil karena jaringan epidermisnya tumbuh dengan baik.
Namun cek up minggu selanjutnya suami tidak mau ke rumah sakit lagi. Bukan bermasalah dengan biaya, karena semua biaya rumah sakit dan perawatan di tanggung oleh kantor tempat suami bernaung.
Suami tak mau kerumah sakit karena takut luka yang mulai mengering di kelupas lagi dan membuatnya merasakan perih.
Sebenernya tujuan pengelupasan itu agar jaringan yang tumbuh tak terganggu.
Akhirnya kami ikuti keinginan suami, karena kenyamanan dan semangat suami yang terpenting.

Tak terasa satu bulan sudah kami tinggal dirumah adek. Dan kami putuskan untuk pulang, karena lukanya tersisa di kedua tangan saja.
Namun tetap saja kami membutuhkan perban khusus untuk membalut lukanya.
Merknya Easyfoam, perban khusus yang harganya pun khusus. Dan tidak ada satupun apotik di ciledug yang menyediakan.
Akhirnya aku menghubungi beberapa rumah sakit besar, namun juga tidak menyediakan. Misalpun ada itu untuk keperluan rumah sakit saja.

Tak kehabisan akal, aku menghubungi beberapa teman yang bekerja di faskes dan juga beberapa dokter yang aku kenal karena saat itu aku menjadi admin di grup kajian online.
Alhamdulillah, akhirnya ada seorang sahabat yang memberiku nomer hape sales easyfoam.
Alhamdulillah lagi, harga yang diberikanpun dibawah harga rumah sakit dan itupun boleh aku bayar seminggu sekali. Atau saat uangku cukup.
Qodarallah, aku bisa mendapatkan jatah perban dari sales hanya enam minggu. Karena setelahnya aku sudah tidak bisa pesan lagi.

Dengan terpaksa dan berat hati, kulanjutkan merawat suami dengan menggunakan daun pisang muda sebagai alas tangannya saat tidur.
Dan setiap bangun tidur suamiku berkata.
"Bund, tanganku bau pepes. Hahaha."
"Pepes tangan dong." jawabku
"Iya, kamu mau?"
"Ih apaan sih, gak mau lah."
"Kirain mau, hahahaha. "

Dan aku juga terpaksa keluar dari tempat kerja, karena aku harus mengolesi luka suami dengan jelly gamat setiap satu atau dua jam sekali.
Setelah tanpa perban alhamdulillah luka suami lebih cepat mengering, namun ada beberapa bagian yang ada lepuhan atau luka yang bernanah.
Ketika itu ada tetangga yang datang kerumah untuk melihat kondisi suami.
Beliau berkata
"Bagaimana pak kondisinya? Sudah lebih baik ya?"
"Alhamdulillah, sudah mulai kering pakde lukanya. Cuma ini ada yang melepuh bernanah gini de." jawab suamiku.
"Bulek, memang om kalo masak di kasih santan ya? Kalo bisa jangan di kasih ya, soalnya kalo luka seperti ini makan santan ya jadi begini ini. Bernanah. "
"Oh iya ya de, kapan itu minta di bikinin kolak de. Saya pakein santan. Harusnya pake susu aja ya." jawabku
"Iya bulek, jangan kasih lagi ya."
pesannya

"Baik de, terima kasih loh di kasih tahu. Soalnya saya pikir tidak apa apa."
"Iya bulek, sama sama. Ya udah, semangat ya om. Lek yang sabar ya, pasti ada hikmahnya kok. Yang kuat."
"Iya de, terima kasih udah mampir." jawabku
"Terima kasih, pakde." kata suami.

Entahlah ada hubungan atau tidak antara luka bernanah dan santan. Yang pasti suami jadi tak mau makan yang bersantan santan lagi.
Aku sangat bersyukur karena saat kondisiku seperti ini, banyak orang yang sayang dan peduli padaku.
 


profile-picture
profile-picture
profile-picture
putriajengyea dan 8 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di