Hari itu aku sedang menantikan seorang wanita yang selama ini sudah aku kagumi sejak lama, bagaimana tidak, bakatnya dalam berkomunikasi dan caranya tersenyum kepada semua orang membuat siapa saja yang melihatnya menjadi tersipu malu, dirinya bagaikan seorang permaisuri yang sudah diutuskan dari langit. Dengan baju hitam yang sudah aku beli dengan uang tabunganku, dan sudah kuyakini bahwa ini adalah baju keluaran terbaru dari tokonya ku yakin dia akan sedikit merasa nyaman berada didekatku.
Kuperhatikan jam tanganku, nampaknya dia akan sedikit terlambat memasuki gedung bioskop. Kami sudah berjanji akan bertemu di gedung bioskop saat tadi di gedung sekolah, dirinya yang memintaku untuk menemaninya menyaksikan sebuah film romansa gaya anak muda jaman sekarang ini. Alasannya dia sih berkata bahwa dirinya tidak sempat menyaksikan film ini karena ditinggal oleh teman-temannya karena dirinya yang sedang sibuk melakukan kegiatan bimbingan belajar. Dan katanya dia direkomendasikan dari teman-temannya untuk mengajakku, ahh, terserahlah apapun alasannya yang pasti saat ini aku seperti anak yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tua dan tidak dapat berhenti tersenyum sendiri.
“Dio maaf” dirinya yang tanpa sadar sudah berada didepanku, dengan nafasnya yang sedikit tidak teratur dan sepatunya yang kotor karena genangan air itu membuat aku yakin bagaimana dia sudah sangat terburu-buru dikejar oleh waktu. Dan tanpa berharap alasan apapun lagi, tanpa sadar aku segera memegang tangannya dan menariknya masuk kedalam bioskop. Aku yakin sekali dia sangat tidak mau ketinggalan film ini.
Spoiler for Bagian 2:
Saat sampai di dalam bioskop, aku dan dia duduk di kursi nomor D7 dan D8, posisi yang tidak terlalu atas dan tidak terlalu dekat dengan layar, menurutnya ini adalah lokasi yang pas, selain itu kursi ini berada paling dekat lorong sehingga kita tidak akan mengganggu orang lain jika ingin keluar di tengah acara.
Kami berdua memilih kursi ini saat di sekolah tadi, tepatnya saat istirahat kedua sebelum masuk ke dalam kelas untuk pelajaran terakhir. Sedikit sengit memang saat pemilihan, tapi itu aku lakukan agar dapat menikmati berbagai macam emosi yang bisa dia tumpahkan kepadaku. Aku harap itu menjadi suatu kenangan yang dapat abadi diantara kita.
Beberapa kali iklan, dan juga trailer film lain harus kita saksikan sebelum film utama yang ingin kita saksikan mulai. Kita memang tidak terlambat, akan tetapi seluruh lampu sudah dimatikan, hampir saja.
Saat duduk kuperhatikan dirinya masih sedikit mengatur nafas, dengan mulut sedikit terbuka sangat jelas dapat kulihat pantulan cahaya dari layar bioskop membuat bibirnya yang kecil itu berkilau sedikit pink.
Ahh, apa yang kupikirkan, ini baru kencan pertamaku, jangan rusak semua ini dengan pikiran kotor itu, nikmati saja yang ada, dan kupalingkan wajahku ke layar bioskop.
“Kamu udah makan belum?” Tiba-tiba aku mendengar sebuah bisikan kecil sebelum acara benar-benar mulai, dengan spontan aku menjawab “belum, habis ini kita cari makan ya”, perkataanku dibalasnya dengan senyuman tipis lalu kami berdua melepas pandangan dan menyaksikan sebuah film yang luar biasa hebat membuat dirinya hingga menangis, meremas pundakku, hingga tanpa ragu memegang tanganku. Tidak terkecuali aku, aku pun terpaku sejak dari awal film ini mulai, dan tidak bisa merasakan emosi lain lagi selain emosiku yang dibawa oleh film.
Film yang sudah berada di akhir ceritanya ini, membuat kami berdua menyaksikannya dengan sangat serius, tangan kami terus saling meremas. Bukan karena aku atau dia mencari kesempatan dalam keadaan gelap ini, tapi emosi kami benar-benar sudah berada di puncak karena film ini.
“Nging” sebuah lalat yang sangat ribut tiba-tiba mengganggu pandanganku dari layar, memang lalat ini kecil tapi dengan keadaan gelap dan juga layar yang sangat terang tentunya lalat ini sangat mengganggu dan juga membuyarkan konsentrasiku. Tanganku pun terlepas dari genggaman kami berdua dan berusaha mengibas-ngibaskan alat tersebut agar pergi. “Plak” tanpa sengaja aku memukul kepala orang yang berada di depanku dan membuat dirinya menoleh, dengan sangat berhati-hati dalam mengeluarkan suara aku memohon maaf kepada orang tersebut, dan tiba-tiba seluruh lampu dalam ruangan bioskop menyala, dengan jelas semua orang melihat aku yang sedang memohon maaf kepada orang yang berada didepanku.
Aku merasa sangat tidak enak, dan kulihat wajahnya dia yang juga ikut memerah karena malu melihat kelakuanku tersebut. Dirinya langsung memegang tanganku dan menarikku keluar dari ruangan bioskop. Tanpa melihat keadaan sekitar kupasrahkan diri ini pada tarikan yang sedang terjadi pada hidupku tersebut.
Kami berdua berlari hingga parkiran, dan berhenti tepat didsebelah mobilku. “Hosh hosh hosh” nafasku yang sudah mau putus rasanya coba ku kontrol sebaik mungkin, begitu pula dengan dirinya yang juga ikut mengatur nafas, kuperhatikan rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya saat menunduk.
“Bukain, aku mau duduk didalam”, segera kuambil kunciku dan kuberikan kepadanya untuk sendiri membuka pintu mobil, aku yang memiliki asma masih berusaha mengatur nafas dan belum bisa melakukan hal lain. Saat dirinya sudah didalam kuperhatikan dirinya berusaha untuk menyalakan lampu mobil, nampaknya dia belum terbiasa dengan cara mengaktifkan lampu mobilku, yang terjadi malah dia mengaktifkan lampu hazard mobilku.
Aku ikut masuk kedalam mobil dan coba membantunya, saat kunyalakan lampu mobilku dengan sangat jelas akhirnya aku melihat seluruh wajahnya dengan sedikit keringat yang keluar diantara keningnya itu.
Segera ku ambilkan sebuah tisu, dan kutawarkan kepadanya. Dirinya mengambil beberapa lembar dan melipatnya dengan rapi, bagian bawah hidungnya yang pertama kali dia lap, dan berlanjut pada sekitaran lehernya. Aku yang tersadar terlalu memperhatikannya segera mengambil tisu dan ikut membersihkan diriku dari keringat.
“Aku mau kue apel ya” dirinya langsung membuka percakapan kita di dalam mobil saat itu, dengan sedikit mengerutkan jidat aku bertanya kepadanya “dimana nyari kue apel? Aku belum pernah makan yang seperti itu”
“Aku tahu, ayo jalan aja” segera kunyalakan mobil ini dan kutawarkan minuman kepadanya, selama perjalanan tanpa henti kami terus membahas tentang film tadi dengan sedikit pertengkaran yang terjadi karena aku menyukai seorang karakter yang dirinya sangat tidak suka.