CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Menembus Batas Tak Kasat Mata
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e5caa9d88b3cb6a6142fb4a/menembus-batas-tak-kasat-mata

Menembus Batas Tak Kasat Mata

Kumpulan Cerpen Misteri Terbaru, Terinspirasi dari Kisah Nyata


Menembus Batas Tak Kasat Mata




Halo, GanSist


Jumpa lagi dengan ane, @mayyarossa. Ijinkan ane yang nyubi ini mencoba menuliskan kisah-kisah yang terinspirasi dari kisah nyata. Namanya juga cerita, pasti ada sedikit bumbu drama, bukan?

Boleh tinggalkan cendol, rate, n komen ya. Eh, krisan juga diterima dengan lapang dada, entah itu dada siapa🙈🙈🙈

Happy reading❤❤❤





1. Hingga Akhir Waktu

Percayakah kau akan cinta yang dibawa sampai mati? Aku percaya!


Menembus Batas Tak Kasat Mata




Aku mulai resah. Mondar-mandir tak tentu arah, lalu, kembali menghempaskan tubuh di bangku panjang ini. Dev, ada apa denganmu? Kau tak pernah terlambat, bahkan sedetik pun! Kau orang yang mengajariku untuk menghargai waktu, Dev!


Aku melirik arloji di tangan kanan. Tepat pukul empat pagi. Sudah satu jam lamanya aku menunggu Dev di bangku stasiun ini. Pertemuan kami semalam menyisakan janji temu pagi ini di stasiun kota, tepat pukul tiga dini hari.


Tiba-tiba gawaiku bergetar. Masuk satu panggilan. Tertera sebuah nama, "My Soulmate".


"Ya, Sayang. Kamu di mana? Aku sudah satu jam lebih menanti!"


"Di mana putraku?" sahut suara dari seberang.


Aku terhenyak. Ini bukan Dev!


"Di mana putraku?! Akan ke mana kalian? Bukankah sudah kuperingatkan untuk tak mengganggu putraku lagi?!"


Aku hanya terdiam, tak mampu menjawab. Mata pun mulai memanas. Dev, di mana kamu, Sayang? Tak kupedulikan lagi panggilan itu. Setelah memasukkan gawai ke dalam tas, aku kembali berdiri, mata mencoba menyapu stasiun.


Tiba-tiba, kurasakan sebuah pelukan dari belakang. Tercium parfum yang sangat kukenal.


"Astaga, Dev! Kupikir kau tak akan datang. Aku mencemaskanmu, Sayang." Aku langsung berbalik dan memeluknya. Dia membalas pelukanku. Erat. Namun, tanpa kata.


"Dev, kamu baik-baik saja?" Aku mendongak, memindai wajahnya. Pria berhidung mancung itu tampak pucat, tak bersemangat. Mungkin dia bertengkar lagi dengan ayahnya. Atau mungkin, dia kurang tidur?


Dia mengangguk, matanya menatapku dalam.


"Naina, aku sangat mencintaimu, Sayang." Dia kembali memelukku.


"Iya, aku tahu. Sekarang, kita akan ke mana, Sayang?"


"Terserah kamu."


"Ayolah, Dev."


"Ke mana pun, asal itu denganmu, Sayang."


"Dev ...."


"Terserah kamu, Sayang," jawabnya datar.


Kuamati pria yang sudah tiga tahun ini menjadi tambatan hati. Rambut cepaknya agak berantakan, sementara seputaran rahang tampak cambang yang baru mulai tumbuh, sehingga tampak seperti bertabur pasir. Kaos biru muda menutupi tubuh kekarnya.


"Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanyaku seraya menempelkan punggung tangan ke dahinya. Dia hanya menggeleng.


"Baiklah, aku pesan tiket dulu. Semoga masih ada."


"Naina!" serunya saat aku berbalik.


Dia menarik tanganku, lalu mendekapku lagi. Kali ini lebih erat.


"Naina. Kita akan menikah, walau tanpa restu ayah. Aku sayang kamu, sampai akhir hayatku. Akan kubawa rasa ini, sampai aku mati."


Aku sudah sering mendengar dia mengucapkan kata-kata itu, tapi entah mengapa, kali ini berbeda.


"Love you too, Darling." Aku menyandarkan kepala di dada bidangnya, menikmati caranya mengungkapkan cinta. Ah, aku merasa menjadi orang yang paling bahagia. Aku merasa dicintai begitu dalam. Ketika akan kulepaskan pelukan kami, Dev seakan enggan. Matanya tampak berkabut. Aku tak tega melihatnya.


"Dev ... sebentar, ya ...."


Aku melangkah ke loket, tapi, tiga detik kemudian aku berbalik. Entah mengapa, hatiku sesak! Seakan dadaku digodam ribuan kali.


Tiba di loket, aku mengeluarkan KTP. KTP Dev? Ketika akan berbalik ke tempatku meninggalkan dia, gawaiku kembali bergetar. Kulihat pesan masuk, dari nomor Dev. Meskipun enggan, kubuka juga pesan itu.


Sontak tangan kiriku menutup mulut, lalu aku menoleh ke arah Dev berdiri. Tak kutemukan kekasih yang beberapa saat lalu mendekap mesra. Kuedarkan pandangan, tapi tak juga menangkap sosoknya.


Kembali kulihat gawai. Ayah Dev mengirimkan foto seseorang yang terkapar di jalanan, mengenakan baju sama persis dengan yang dipakai Dev, disertai tulisan, "Puas kamu, pembunuh?!"


Tubuhku melemah, tapi dadaku berdegup kencang. Gawai di tangan kanan terlepas. Pandanganku berputar. Kemudian, semuanya gelap ....


Sumber gambar: Di sini


Jogja, matahari kedua di bulan ketiga 2020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bigroller20 dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mayyarossa
Halaman 1 dari 3
Yuk, monggo pinarak. Tulisan kedua di trit ini🙈.


Tersesat!


Menembus Batas Tak Kasat Mata




“Arghhh ….”

Tramontina kuayunkan sembarangan. Ini ketiga kalinya aku sampai di pohon tumbang. Kuedarkan pandangan. Sial! Hanya ada rimbun pohon di sekeliling. Sementara, hari mulai gelap. Malam mulai merayap. Dingin tetiba menyergap.

Gunung Merbabu sudah seperti rumahku sendiri. Aku pernah mendaki Merbabu lewat semua jalur, baik yang legal maupun jalur pencari rumput. Apalagi ini jalur Wekas, sudah puluhan kali aku naik lewat sini. Jadi, tak mungkin rasanya aku tersesat di sini!

Aku terduduk lemas. Kutancapkan golok di tanah. Botol minum di saku kiri celana kuraih, lalu meminumnya seteguk. Seharusnya, aku sudah sampai di basecamp. Seharusnya, aku sudah bertemu dengan pendaki lain. Seharusnya, aku sudah bertemu lagi dengan kedua temanku.

Aku mulai berpisah dengan dua temanku, Rengganis dan Mahameru, sejak tiga jam yang lalu. Rengganis tergelincir, Mahameru terjatuh saat ingin menolongnya.

Tiba-tiba, tengkukku terasa dingin. Terasa ada angin yang melewatinya. Aku mulai waspada. Gagang tramontina erat di tangan, mataku menatap lurus ujungnya. Dadaku berdebar kencang, keringat mulai membasahi base layerku.

“Mbak.” Sebuah tepukan ringan mengagetkanku. Dengan sigap aku berdiri, kemudian berbalik seraya mengarahkan tramontina ke sumber suara, tepat di jantungnya.

Tampak di depanku seorang pemuda, dengan celana hitam dan flannel merah yang sudah agak lusuh. Rambutnya agak acak-acakan, kepalanya diikat dengan slayer berwarna oranye. Carrier berwarna senada membebani punggungnya. Wajahnya tampan. Hanya saja, sedikit pucat.

“Sendirian?” Dia dengan ramah bertanya padaku. Aku masih terdiam, sikap waspada.

“Kamu terpisah dari rombongan, ya?” dia kembali bertanya sambil melepas carriernya. Lalu, duduk di samping pohon tumbang. Seperti tak merasa terancam dengan golok di tanganku. Aku bergeming. Bersyukur, karena akhirnya bertemu seseorang.

“Kamu ngga bawa apa-apa?" tanyanya sambil mengeluarkan botol minum oranye dari carrier. Aku menggeleng lemah.

“Minum?” Disodorkannya botol minum padaku. Aku menggeleng, lagi.

“Lalu, kenapa kamu bisa terpisah dengan teman-temanmu?”

“Seorang temanku sakit, aku perlu bantuan. Tapi, aku ... aku .... Entahlah. Aku sepertinya hanya berputar-putar di tempat ini saja. Sudah tiga kali aku menginjakkan kaki di area pohon tumbang ini."

“Kamu pernah mendaki lewat sini?”

“Pernah. Bahkan, gunung ini sudah seperti rumahku sendiri.”

“Lalu, bagaimana kau bisa tersesat?” Aku mengedikkan bahu.

“Entahlah, aku hanya ingin cepat sampai di base camp, dan meminta pertolongan sekarang." Aku menarik napas panjang, mencoba membuang resah. "Kamu sendiri? Kenapa hanya sendirian? Solo hiker?” tebakku.

“Bukan. Aku naik bersama beberapa teman. Kami sedang dalam perjalanan turun. Tiba-tiba kabut tebal turun. Aku berhenti sejenak, tapi saat kabut hilang, aku tinggal sendirian. Teman-temanku sudah tak ada." Dia menerawang.

"Sudah pernah mendaki lewat sini?"

"Sudah, beberapa kali, mungkin tak sebanyak kamu."

"Hm, lalu, sudah pernah lewat jalan ini?"

"Baru dua kali ini. Ini jalur lama yang melegenda, tapi, tak semua pendaki tahu jalan ini. Jalan ini sudah lama tak dilewati, setelah adanya korban yang hilang."

"Iya, aku pernah dengar. Bahkan, aku sering melewatinya, tapi tempat ini ... sepertinya asing bagiku."

"Oh iya, kita belum berkenalan. Siapa namamu?"

"Anjani."

"Aku Arya," katanya sambil mengulurkan tangan. Kusambut uluran tangannya. Dingin, seolah bisa membekukan tangan. Tiba-tiba gerimis turun.

“An, hari sudah malam, gerimis pula. Bagaimana kalau kita istirahat? Besok kita turun bareng.”

Aku menarik napas panjang, bingung. Aku harus secepatnya sampai ke base camp. Namun, bila terus berjalan, ada kemungkinan tersesat semakin jauh. Sementara di sini, paling tidak aku punya teman untuk menunggu pagi.

“Bagaimana, kau mau istirahat, atau ...?” Dia mengambil tenda dari dalam carrier. "Ayo, bantu aku mendirikan tenda. Kamu ngga mau mati kedinginan karena basah dan hipothermia, 'kan?"

Kami berdua segera mendirikan tenda. Detik berikutnya, Arya mengambil kompor dan menjerang air. Diseduhnya kopi, aromanya sangat menggoda indera penciuman. Setelah itu dia membuat roti dengan selai coklat.

“Kopi?” Diangsurkannya cangkir berisi kopi itu ke arahku. Kuterima, lalu menghirup isinya. Ah … sesaat aku merasa lebih rileks.

“Makanlah,” katanya lagi sambil memberikan roti padaku. Aku tak menolak. Entah kenapa, rasanya lapar sekali. Kami makan sambil mengobrol ringan. Enak juga dia diajak ngobrol.

“Setelah ini tidurlah. Aku akan tidur di teras tenda. Besok pagi aku akan membangunkanmu, kita turun bersama.”

“Arya …."

“Ya ….”

“Terima kasih.”

Dia hanya tersenyum. Tak lama, aku pun tertidur.

***

"Tolong .... Tolong aku." Terdengar rintihan dari sebelahku. Sepertinya aku mengenal suara itu. Itu kan suara ... Arya! Aku menoleh, lalu menjerit saat melihat seseorang duduk di sampingku dengan wajah rusak.

***

“Anjani, kamu kenapa?” Aku merasakan tubuhku diguncang, dingin. Aku menatap ke arah pemuda di sampingku. Entah kenapa, sorot matanya terasa menghunjam.

"Ar, ini beneran kamu, 'kan?"

"Iya, ini aku. Kamu berteriak tadi. Mimpi buruk?"

"Aku ...." Aku hanya menunduk, mengingat mimpiku tadi. Aku melongok ke luar tenda. Masih gelap rupanya.

"Ar, jam berapa ini?"

"Baru jam tiga, An."

“Ayo, kita turun,” jawabku.

“Ayo, tapi, kau turun sendiri, ya. Aku akan menunjukkan jalan padamu."

“Tapi ….”

“Maaf, saat kamu tidur tadi rombonganku turun, dan masih ada dua orang di atas. Aku akan menunggu mereka.”

"Kenapa tak membangunkanku?"

"Sudah, tapi kamu lelap sekali. Sepertinya kamu kecapekan."

"Iya, memang aku rasanya capek sekali."

“Kamu sudah siap turun?" Aku hanya mengangguk. "Ayo, ikuti aku."

Kami berjalan beriringan.

"Golokmu," pintanya. Segera kuberikan golok itu, untuk membabat beberapa ranting yang menghalangi jalan.

"Sebenarnya kamu tidak tersesat. Kamu hanya mengambil jalan terlalu ke kiri. Semak yang rimbun menutupi jalan. Mungkin juga karena sudah lama tak dilewati."

Kami tiba di turunan yang cukup curam. Kakiku sempat gemetar saat melihat ke bawah, jurang di sisi kiri menganga.

Menembus Batas Tak Kasat Mata

"Tak perlu takut. Percaya pada dirimu, jangan lihat ke jurang. Mari, kubantu." Aku menurut, terus mengekornya.

“Anjani, aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini. Ikuti saja jalan ini, maka kau akan sampai ke makam. Well, setelah itu kau tahu ‘kan harus ke mana?”

“Iya, aku tahu.”

“Hati-hati di jalan, ya.” Dia berucap seraya mengembalikan golok.

“Kamu beneran nggak ikut turun?”

“Aku harus menunggu temanku, dan membereskan tenda. Kalau kau tak tergesa pulang, kita pasti akan bertemu di base camp,” kata Arya sambil tersenyum.

Kami berjabat tangan, erat. Aku tak mempedulikan rasa dingin yang membekukan tangan, seperti enggan melepasnya.

“Ini aku ada coklat, kamu ngga bawa makanan, ‘kan? Lumayan, buat energi, biar kamu ngga pingsan. Ini juga kamu bawa, ya,” katanya sambil menyerahkan slayer orange yang kemarin dipakainya. Di slayer itu ada sulaman nama, Arya Mahesa.

Aku menerima pemberiannya dan segera memasukkan ke saku celana. Kulepas topi rimba, lalu memberikan padanya.

“Aku tak bawa apa pun. Ini untukmu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih.” Dia menerimanya dengan senyum mengembang.

“Terima kasih. Pergilah. Hari sebentar lagi terang. Jangan takut, aku mengawasimu dari sini. Kau berani, ‘kan?”

Aku mengangguk. Akhirnya aku berjalan mengikuti jalan itu.

"An!"

Aku menoleh.

"Jangan lupa. Berhenti saat kabut tebal, dan jangan pernah berpisah dari teman sependakianmu." Arya melambaikan tangan. Kubalas lambaiannya seraya melempar senyum termanis.

Mentari mulai terbit saat aku berada di jalur pendakian yang benar. Leganya hatiku, akhirnya bertemu dengan pemakaman penduduk yang terletak di ujung desa. Aku tinggal belok kiri, lalu mengikuti jalan menurun itu.

Sesampainya di base camp, aku terkejut. Dua temanku sudah di sana, ayah dan ibu juga. Bahkan, beberapa tim SAR pun ada bersama mereka.

“Anjani!” Hampir bersamaan mereka meneriakkan namaku saat tiba di base camp.

“Rengganis! Mahameru! Ini benar kalian, ‘kan?” Kami bertiga berpelukan, dan menangis.


“Ayah, Ibu!” Orang tuaku pun memeluk dengan berlinang air mata. Aku masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Kamu kemana saja, An?”

“Maafkan aku. Aku tersesat kemarin. Kalian, sudah sampai sini? Lewat jalur mana? Kalian sudah sehat?” Kupegang wajah Rengganis dan Mahameru bergantian.

“Kamu sudah hilang empat hari, An!"

Aku terhenyak.

"Empat hari?"

"Iya. Kami berusaha mencarimu, tapi nihil.” Rengganis, temanku yang sakit kemarin mencoba menjelaskan.

“Alhamdulillah, kamu sudah kembali.” Dia kembali memelukku.

Aku merasakan kejanggalan. Empat hari? Aku hanya semalam berpisah dengan mereka, 'kan?

“Tapi, aku hanya berpisah dari kalian satu malam, 'kan?"

Kami semua saling pandang.

"An, kamu sudah hilang empat hari. Tim SAR sudah bergerak sejak tiga hari lalu. Sejak kamu pamit mencari bantuan, sorenya tim SAR datang menjemput kami, atas laporan pendaki yang mendahului kami."

Aku hanya terdiam, masih belum bisa mencerna kata-kata Rengganis.

"Itu nggak mungkin, Nis. Sungguh, aku hanya tidur di tenda satu malam."

"Kamu nenda sama siapa, An?" Kali ini Mahameru bersuara.

"Aku bertemu seorang pendaki. Arya. Dia juga tersesat karena kabut tebal. Aku ingin melanjutkan perjalanan, tapi hujan turun. Arya membuka tenda. Tadi, dia menunjukkan jalan padaku."

"Arya?" Kali ini Mas Dono, pengelola base camp yang sudah cukup dekat dengan kami yang bertanya.

"Iya, Mas. Dia masih menunggu rombongannya. Sebentar lagi dia pasti sampai sini.”

“Tapi, tak tercatat pendaki yang bernama Arya, Ndhuk.”

Aku menatap Mas Dono, mulai merasa tambah janggal dengan semua.

“Mungkin ... mungkin naik lewat jalur lain, Mas.”

“Kami sudah cek semua jalur sejak kamu dikabarkan hilang.”

Aku segera meminta buku registrasi, dan memeriksanya. Tiba-tiba sebuah foto terjatuh dari buku itu. Aku memungutnya.

“Arya ….”

“Kamu bertemu dia, Ndhuk?”

“Iya, Mas. Dia yang menolong saya.” Kutatap foto itu, persis sama dengan Arya yang kujumpai tadi. Mas Dono menarik napas panjang.

“Dia pendaki yang hilang tujuh tahun lalu, Ndhuk,” lirihnya, tapi bagai petir di telingaku. Kuraih coklat pemberiannya dari saku celana. Ternyata, coklat tadi masih ada, hanya saja, bungkusnya terlihat lusuh. Kulihat expired datenya, bulan Juni, enam tahun lalu. Aku lemas. Tiba-tiba, lututku goyah dan semuanya gelap.

Jogja, 22 September 2019.

Tulisan ini based on true story. Mohon maaf bila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian. Tulisan ini tercipta karena keprihatinan terhadap banyaknya pendaki yang hilang beberapa waktu terakhir ini. Teriring doa untuk sahabat yang lebih dulu berpulang di pangkuan sang alam.

Sumber foto: Dokpri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
destinationbali dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mayyarossa
SELENDANG MERAH


Menembus Batas Tak Kasat Mata


Pagi itu, Pasar Kliwon sangat ramai. Dinamai Pasar Kliwon karena memang hanya buka di pasaran Kliwon, lima hari sekali. Terletak di Desa Banyu Bening, di dekat Kali Progo, sebuah sungai yang menjadi batas antara kabupaten Bantul dan Kulonprogo.

Terlihat gadis berambut hitam panjang sedang memilih selendang. Manik hitamnya terpaku pada sebuah selendang berwarna merah menyala. Diraihnya selendang itu, kemudian ditimangnya.

“Mau ambil yang ini, Ndhuk?” tanya penjual yang telah renta. Tampak mulutnya penuh oleh sirih yang dikunyah.

Rara Wening, gadis yang memegang selendang tersenyum. Dia adalah seorang ledhek atau penari tayub. Selendang lamanya telah usang dan ia berniat menggantinya dengan yang baru.


“Ambil … ambil selendang ini ….”

Rara Wening tergagap.Dia mendengar suara dari selendang itu.

“Iya, Mbah. Saya mau selendang ini.“

Setelah mengulurkan sejumlah uang, Rara Wening melangkah pulang. Tak sabar ingin segera mencoba selendang.

Sampai di ujung desa, di tepi hutan, dia masuk ke sebuah rumah, yang lebih pantas disebut gubuk. Gubuk bambu berukuran sekitar 5x5 meter. Berpintu satu, berjendela dua. Beratap daun kelapa. Di depan cermin lemari usang peninggalan sang ibu, dia melihat bayangan tubuhnya.

Tiba-tiba, datang angin dingin disertai aroma kantil. Asap merah menyelimuti tubuhnya. Semula tipis, kemudian semakin pekat.

Gadis bertubuh sintal itu gemetar. Keringat membanjir, lututnya seakan goyah. Kedua tangan mencengkeram erat jarit yang dikenakan.

Kepulan asap merah itu membentuk sosok wanita. Rara Wening terhuyung ke belakang. Wanita itu sangat cantik, berkulit kuning langsat. Memakai kain jarit, berkebaya merah menyala. Rambut digelung, berhias rangkaian bunga kantil, anggun.

“Si-Siapa kamu?” tanya Rara Wening dengan suara gemetar.

“Jangan takut, Cah Ayu. Aku Nyai Sawitri, yang akan membantumu.”

“Mem-membantu? A-apa maksudmu?”

“Apa pun yang kau minta. Jika kau butuh bantuan, usap selendang ini tiga kali, lalu sebut namaku, maka aku akan datang.” Nyai Sawitri menghilang, seiring hilangnya aroma kembang.

Rara Wening tersentak. Semua seperti mimpi. Dia masih mengingat pesan Nyai Sawitri. Senyum mengembang di bibir tipisnya. Baik, kalau memang selendang merah itu bisa membantu, dia akan mencoba.

Lusa, akan ada pertunjukan tayub di desa sebelah. Biasanya, Rara Laras yang mendapatkan saweran paling banyak, karena dia penari yang paling cantik, juga bertubuh paling indah. Mata setiap lelaki pasti tak akan lepas dari Rara Laras. Gemulai tubuhnya saat menari, bagai magnet yang menghipnotis para lelaki, memancing birahi.

***

Di balai desa Banyu Urip, pertunjukan Tayub sebentar lagi akan dimulai. Rara Wening tersenyum. Dia berniat akan mengubah nasib. Setelah sehari semalam dia berendam di Sendang Kasihan, sumber air yang dipercaya mempunyai khasiat pengasihan, hari ini dia akan memakai selendang merahnya.

Dia mengikatkan selendang di perutnya, dan … keajaiban kembali terjadi. Asap merah menyelimuti tubuhnya, diikuti aroma kantil. Dia tersenyum di depan kaca.

“Nyai Sawitri, aku ingin menjadi ledek yang paling menarik malam ini.”

Asap pekat hilang, meninggalkan Rara Wening yang tampak semakin cantik. Wajahnya terlihat bercahaya, meskipun dengan dandanan seadanya. Tak seperti biasanya, Rara Wening begitu percaya diri saat menari. Tubuhnya bergerak gemulai, seperti ada yang menggerakkan. Dan malam ini, semua mata tertuju padanya. Para lelaki berebut menyelipkan rupiah di belahan dadanya. Di akhir pentas, Rara Wening ambruk, tak sadarkan diri.

***

“Ndhuk, kamu sudah sadar?” tanya Mbok Sariyem, istri dari pemimpin rombongan Tayub. Wening mengangguk,dia merasa pusing.

“Apa yang terjadi, Mbok?”

“Kamu tadi pingsan.” Mbok Sariyem mencoba membenarkan posisi tidur Wening agar nyaman.

“Kamu kecapekan, Ndhuk?” tanya Ki Broto, pemimpin rombongan Tayub.

“Iya, mungkin, Ki.”

“Penampilanmu tadi bagus sekali. Benar ‘kan kataku, kalau kau rajin berlatih, kau bisa menjadi penari hebat,” puji ki Broto sambil tersenyum.

“Sekarang istirahatlah,” sambung lelaki tua itu saat keluar dari kamar.

***

Siapa yang tak kenal Rara Wening? Dalam waktu kurang dari sebulan, ketenarannya melebihi Rara Laras. Wajahnya tampak semakin cantik dan bercahaya, tubuhnya semakin padat berisi. Geraknya semakin luwes. Dan satu hal, pertunjukan baru akan berakhir saat dia pingsan.

Puluhan lelaki memujanya, dan tak segan memberikan saweran yang besar. Para wanita cemburu padanya, dan menggunjing di belakang. Bahkan, kepala desa pun, kini memberinya tempat tinggal, di sebelah rumahnya, sebagai ucapan terima kasih, atas ketenaran Tayub di bawah pimpinan Ki Broto.

***

Malam Jumat Kliwon, saat purnama. Rara Wening duduk di depan rumah pemberian kepala desa. Harum kantil menguar menusuk hidungnya.

“Nyai Sawitri, kaukah itu?” Rara Wening berdiri, dia sudah tak takut dengan kehadiran Nyai Sawitri.

“Terima kasih, Nyai. Kau telah banyak membantuku. Kini hidupku berubah. Aku kini dihormati. Orang-orang tidak menyepelekan aku lagi," lanjutnya seraya tersenyum puas.

“Semua ada bayarannya.” Nyai Sawitri tersenyum. Rara Wening mengernyitkan kening.

“Maksudmu?”

"Aku minta darah seorang pemuda, tiap purnama. Bawa dia ke gubukmu di tepi hutan. Akan lebih sempurna jika masih perjaka, yang belum pernah menyentuh wanita. Selama kamu memberikan bayaran itu, aku akan terus membantumu agar kau lebih cantik, lebih memesona, dan tentu saja … lebih kaya."

“Baik, Nyai. Itu mudah bagiku. Mereka sekarang tergila-gila padaku.”

"Tapi ingat! Jika kau lalai, maka semuanya akan musnah. Nyawamu taruhannya!" Nyai Sawitri menghilang bersama kepulan asap merah, dan tawa yang panjang.

Rara Wening agak ciut nyali mendengar itu. Namun, keserakahan mengalahkan segalanya. Setelah hampir tujuh belas tahun hidup dalam kemelaratan, dia tak mau hidup susah lagi.

***

Purnama pertama, setelah pertemuan dengan Nyai Sawitri. Rara Wening menerima ajakan Wakijo, pemuda desa sebelah, untuk bertemu. Tepat pukul sembilan malam, Wakijo berjalan ke gubuk Rara Wening.

“Wening, ndhuk cah ayu, Arjunamu datang.”

“Masuk saja, Kangmas.

Wakijo masuk ke dalam gubuk bambu tanpa lampu. Dia terkejut. Ternyata,gubuk bambu itu terang benderang. Tampak ranjang kayu jati mewah, bersprei merah, lebih bagus dari ranjangnya di rumah.

Di atas kasur, bertebaran bunga kantil yang harumnya menguar ke seluruh ruangan. Terbaring Rara Wening yang menggoda, berselimut jarit sebatas dada. Dengan terengah Wakijo bergegas menghampiri, tak sabar untuk segera mencicipi.

Tanpa disadari Wakijo, sosok Rara Wening berubah. Wajahnya menua, dengan kulit keriput. Rambut mulai memutih. Gigi dan kuku memanjang, hitam. Tanpa aba-aba, makhluk itu menancapkan gigi runcingnya di leher Wakijo. Seketika pemuda itu menjerit. Belum hilang rasa terkejutnya, perut Wakijo dirobek oleh kuku tajam. Darah mengucur deras. Makhluk itu menyeringai, mengambil hati Wakijo, lalu menelannya.

Keajaiban terjadi. Sosok itu berubah menjadi Nyai Sawitri. Tampak cantik, menggairahkan, serta menyungging senyuman. Dia berlalu sambil mengunyah sekuntum kantil.

Paginya, Rara Wening bangun dengan tanya, mengapa semalam Wakijo tak jadi mengunjunginya? Sementara tak jauh dari gubuknya, Wakijo ditemukan tak bernyawa, dengan perut menganga, serta … tanpa busana.

Warga menduga, dia diterkam binatang buas.

***

Rara Wening semakin terkenal. Dengan kecantikan tiada tara, digilai banyak pemuda. Sementara setiap purnama, satu pemuda ditemukan tak bernyawa, di tempat yang sama, dengan luka yang sama pula.

Desas desus mulai terdengar, setelah hampir tujuh purnama kejadian berulang. Kematian yang tak wajar. Tapi warga masih diam, terpenjara dalam rasa penasaran.

Dua hari lagi purnama ke tujuh sejak perjanjian itu. Aryo, anak kepala desa yang baru pulang tiga hari lalu dari menuntut ilmu, mencurigai sesuatu.

"Romo, aku curiga, warga kita ada yang muja.”

“Muja, katamu? Ah, kamu ini ada-ada saja, Le.”

“Aku akan menyelidikinya, Romo. Ini tidak bisa dibiarkan.”

“Terserah kamu, Aryo. Romo harap, kamu tidak gegabah. Romo rasa, yang kita hadapi, bukan makhluk sembarangan.”

Aryo berpamitan kepada ayahnya, kemudian segera keluar. Di pintu, dia berpapasan dengan Rara Wening. Dia melempar senyum.

“Cantik sekali dia. Jauh berbeda dengan tiga tahun lalu, saat aku meninggalkan desa," katanya dalam hati. Rara Wening tersipu. Merona kedua pipi, dipandangi oleh pemuda yang diam-diam mencuri hati. Setelah mengangguk, dia berlalu, meninggalkan Aryo yang masih terpaku.

***

Tepat saat purnama, Aryo dibuat terpesona oleh sang dara. Hasratnya sebagai pemuda menggelora. Saat gadis itu pingsan di akhir tarian, dengan sigap dia membopongnya.

Harum kantil menguar saat ia membuka pintu kamar. Saat memasukinya, Aryo terkesiap. Di kasur, bertaburan bunga kantil. Rara Wening membuka mata.

“Denmas Aryo .…”

Berdebar dada pemuda itu.

“Iya, Wening. Biar aku panggilkan mbok Sariyem, ya?”

“Tidak perlu, Denmas. Aku mau Denmas yang menemaniku.”

Aryo hendak menyelimuti Rara Wening, saat tak sengaja tangannya bersentuhan dengan selendang merah itu. Dia merasakan hawa panas. Aryo mulai menyadari sesuatu. Tanpa diduga, Rara Wening memeluknya.

“Dingin sekali, Denmas. Peluk aku. Apa Denmas tidak rindu, setelah tiga tahun tidak bertemu?”

“Siapa kamu? Keluar dari tubuh kekasihku!”

Mendengar teriakan Aryo, semua yang ada di rumah kepala desa menyerbu kamar Rara Wening.
Rara Wening tertawa.

“Pemuda cerdas.Aku memang bukan kekasihmu. Malam ini, aku akan mengambil hatimu.” Tawa kembali bergema.

“Kangmas, ada apa ini? Aku takut.”

Suara Wening terdengar ketakutan. Aryo waspada, mengamati setiap perubahan pada diri Wening. Rara Wening memeluknya. Tiba-tiba, giginya memanjang, juga kukunya. Saat hendak menancapkan gigi di leher pemuda itu, Aryo menarik selendang merah di perutnya.

“Menyerahlah iblis, tempatmu bukan di sini!”

Mata Rara Wening berubah semerah darah. Dia menggeram.

Dengan mengucap nama Allah, Aryo melecutkan selendang merah itu ke tubuh Rara Wening. Dia berteriak kesakitan, tubuhnya bergerak tak beraturan, tak tentu arah, lalu terjatuh.

Asap merah mengepul menyelimuti tubuh Wening, seiring dengan terbakarnya selendang merah di tangan Aryo. Terdengar jeritan seorang wanita. Api membakar semua yang ada di kamar itu. Hanya tersisa Aryo, Wening, dan penduduk.

“Janganlah kalian terbujuk oleh tipu daya setan, karena sejatinya dia menyesatkan, mencari teman ke neraka jahanam.” Aryo melangkah keluar, dengan Rara Wening di dalam pelukan.

***

Pasar Kliwon, tujuh purnama kemudian.
Terlihat gadis berambut hitam panjang sedang memilih selendang. Manik hitamnya terpaku pada sebuah selendang berwarna merah menyala. Diraihnya selendang itu, kemudian ditimangnya.

“Mau ambil yang ini, Ndhuk?” tanya penjual yang telah renta. Tampak mulutnya penuh oleh sirih yang dikunyah.

Sumber gambar dan referensi:
1. disini
2. di sini

Jogjakarta, 14 Maret 2020

Repost dengan sedikit editan dari 5 April 2019.


Selamat membaca👏👏👏
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mayyarossa
Kisah yang tragis walaupun enatah kenapa dev bisa begitu.
emoticon-Hammer
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan mayyarossa memberi reputasi
Quote:


Kasih tau gak yaaa🙈🙈🙈
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Aku ngakak liat emotnya😂😂😂
profile-picture
indahmami memberi reputasi
bagus mbak maya, ngeri juga isshhh
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
weizz.. keren. dev cuma mau pamit ya. btw dev by shahrukh khan 😂
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Quote:


Makasih, Mbak Alizemoticon-Pelukemoticon-Pelukemoticon-Peluk
Quote:


Iyyak, benul. Udah kelar nulis, pas nyari gambar kok nemu yang pas pake baju biru emoticon-Malumaluemoticon-Malu

Nyimak

emoticon-Haiemoticon-Big Grin
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Quote:


Makasoh, Sistaemoticon-Malu
Ane mampir, Sista 😍
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Quote:


Makasih😍
Boleh krisan loh
Quote:


Apik tenan Mbae, aku suka pisan. Moga-moga cendole akeh..aamiin
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Quote:


Terima kasih. Alhamdulillah kalau suka, emoticon-Malu
keren... ikut nongkrong ya
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Keren, Kak. Nama-nama tokohnya juga bagus, Dev, Naina
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan mayyarossa memberi reputasi
seremmmmm
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
dev mau ngucapin selmt tinggal...
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
keren selalu sista
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di