CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e5c5fae018e0d5ef36ac657/tentang-aku-bisa-juga-kamu

TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU

Cerita 1

POINT OF VIEW
(Ketika Kamu Itu Aku)




TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


Malam ini tenang. Sangat ... tenang.
Seperti berada dalam ruangan hampa udara.
Hanya detak jantung dan embusan napas yang mengalun lambat.

*** ***

"Kamu mau bermain apa?" Carlisle membuka kotak putih yang disimpan di bawah ranjang. Ia mengaduk kotak berukuran sedang itu dengan tak sabaran. Bahkan rambutnya yang berombak menutupi seluruh muka.

"Kalau kamu melakukan itu, apa yang bisa dilihat?" singgung gadis yang berjongkok di sebelah Carlisle.

Carlisle menoleh dan menyelipkan rambut hitamnya ke belakang kedua telinga. Kemudian kembali mengacak kotak mainan itu dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi tak karuan. Sial! Rambutnya terlalu tebal, hingga lagi-lagi menutupi mukanya. Carlisle kesal, lalu menendang kotak itu hingga tergeser jauh ke dalam kolong ranjang tidurnya.

"Kamu, sama sekali tidak berubah." Gadis kurus itu berdiri menuju punggung Carlisle. Kemudian, ia mengikat rambut Carlisle dengan pita merah. Tangannya sangat cekatan dan lembut.

"Terima kasih, Lesiana." Carlisle melihat senyum manis Lesiana secerah musim semi, walaupun mukanya masih tampak pucat.

"Hari ini sangat cerah. Bukankah sayang sekali, jika kita hanya bermain di dalam kamar?" Lesiana melongok ke arah jendela. Ia benar. Pagi ini, matahari tidak terlalu terik. Cahayanya dipayungi awan putih yang berarak lambat karena tertiup semilir angin.

Tak ada alasan Carlisle menolak permintaan Lesiana. Sebab, berlarian di antara rerumputan terasa menyenangkan. Apalagi, jika bisa melihat Lesiana melompat kegirangan. Seperti anak kucing yang mengejar kupu-kupu.

Kaki Lesiana sangat ringan. Sekali melompat ia tampak seperti terbang. Walaupun, tak setinggi Carlisle ketika memasukan bola basket ke dalam ring.

"Hei! Jangan terlalu tinggi. Kamu bisa hilang terbawa angin." Carlisle terkikik, membayangkan si kurus Lesiana menangis karena terbawa angin sampai menghilang ke atas langit.

"Kamu mengejek aku, ya?" Lesiana bersungut. Ia membuang muka dengan kesal. Rambut pendek kecokelatan yang dipotong sembarangan itu, tak dapat menutupi bibirnya yang sedang menahan tawa.

Kemudian, mereka berdua tergelak bersama.

Semilir angin terasa lembut di telapak tangan Carlisle. Ia bisa merasakan ketika memainkan jemari ke arah langit. Pelan-pelan, Carlisle menghirup oksigen yang diberikan oleh sebatang pohon besar tua di sebelahnya.

"Ternyata ... berteman denganmu itu menyenangkan." Lesiana menyandarkan tubuhnya di batang pohon itu. Napasnya tersengal.

"Sudah kubilang jangan berlari. Paru-parumu itu kecil." Carlisle menahan tawa.

"Kamu mengejekku lagi." Lesiana menjulurkan lidahnya yang kecil. Namun, tak ada raut kesal yang ditampakkan.

"Makanya, sekeras apapun berusaha, kamu tidak mungkin masuk klub basket putri." Carlisle menutup mulut. Ia tersadar telah mengatakan hal yang salah.

Tiba-tiba, Lesiana terlihat murung. Seketika ... awan putih yang berarak lembut terganti oleh gumpalan awan hitam.


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


"Hei! Maaf ... maaf kalau aku menyinggungmu." Carlisle memegang lengan Lesiana. Bulir keringat yang tersentuh oleh Carlisle terasa dingin. Jantung Carlisle berdenyut keras. Ia takut jika Lesiana terlepas dari genggaman dan menjauh. Lagi ....

"Aku hanya ingin menjadi sepertimu, Carlisle." Air mata Lesiana menetes seiring rintik hujan.

Seketika, Carlisle teringat. Sebuah masa, tentang seorang gadis kurus yang selalu menguntitnya di sekolah. Seperti bayangan, ia diam-diam berjalan di belakang, mengintip setiap kegiatan, bahkan mengikuti apapun yang Carlisle lakukan. Gadis itu, seperti anak bebek mengikuti induknya.

Berulang kali gadis itu diberi peringatan oleh Carlisle dan teman-teman. Namun, tak sedikitpun bergeming. Ia terus mengikuti. Sampai ikut masuk ke klub basket putri. Padahal, gerakannya lambat dan hanya dijadikan kacung oleh seluruh anggota.

Awalnya, Carlisle tak mempedulikan. Tak hanya sekali ini ia ditiru atau diinginkan menjadi teman dekat setiap anak gadis di sekolah. Tentu saja, Carlisle adalah si anak populer. Namun, ia tak boleh sembarangan memiliki teman. Paling tidak, teman yang ada di dekatnya harus memiliki level yang sama. Cantik, proposional, pintar, berprestasi, dan berada.

Lesiana?

Tentu saja tak masuk hitungan. Lesiana yang berkebalikan 180 derajat dibandingkan Carlisle, hanya akan menurunkan pamor. Ya, paling tidak ... itulah penilaian teman-teman di dekatnya.

Carlisle yang tadinya tak begitu menghiraukan kehadiran Lesiana, tiba-tiba menjadi berang. Ketidaknyamanan yang dipendam, kejengkelan yang disembunyikan, akhirnya meluap. Tanpa sadar, rambut panjang kecokelatan Lesiana terpotong hingga di atas pundak. Entah, dari mana gunting itu ada ditangannya. Carlisle seperti bergerak sendiri.

Ketika melihat rambut gelombang Lesiana bersama pita merah yang mengikat berada di genggaman, Carlisle merasa puas. Tak ada lagi rupa yang meniru penampilan dan tatanan rambut seperti miliknya. Carlisle pun terbahak melihat wajah Lesiana yang pucat.

"Sekarang ... kamu tak akan pernah bisa sepertiku. Tidak akan pernah, Lesiana! Tidak!" Di ruang ganti murid perempuan yang sepi itu, mata Carlisle membulat tajam. Napasnya memburu. Seakan ingin mendinginkan otaknya yang terlanjur panas dan kehilangan rasionalitas.

"Gadis sepertimu, tak pantas berada di dekatku! Sadarlah, Lesiana! Kamu tak pantas." Carlisle mendesis seraya memperlihatkan mata biru yang menyala.

Tanpa sadar, Carlisle menguasai Lesiana yang tersungkur di depannya. Badan kecil Lesiana menggigil ketakutan. Sesekali Lesiana melirik kepada gadis-gadis lain di belakang Carlisle. Memohon belas kasihan, mencari pertolongan. Namun, apa yang di dapat? Hanya ejekan dan celaan, bersama pandangan sinis yang menikam perasaannya. Membuat Lesiana merasa kecil di depan Carlisle. Semakin membuat Lesiana merasa tak berharga.

Sekuat tenaga, Lesiana melawan Carlisle dan teman-temannya. Dengan kekuatan yang tersisa, akhirnya ia mampu menghindar dan membuka pintu ruangan yang berada paling ujung lantai dua sekolah itu. Lesiana berlari. Ia tahu, kecepatannya tak sebanding dengan Carlisle dan teman-temannya. Namun, ia harus terus menjauh. Sebab, mereka tak segan lagi melakukan sesuatu untuk menghilangkan kekesalannya. Seperti biasa.

Lesiana terus berlari menelusuri lorong lantai dua. Mencari ujung lainnya bangunan sekolah. Napasnya tersengal, jantungnya terasa semakin sesak, dan langkahnya mengecil. Namun, ia tak boleh berhenti. Harus terus berlari.

Terus berlari.

"Apa salahku? Apa? Aku ... ha-nya-i-ngin-ber-te-ma ... Aaa!"


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


Suara dentuman itu menyibakkan ketenangan di ujung sore. Sebuah benda terjatuh dari jendela. Ah, bukan ... bukan sebuah. Namun, seseorang.

*** ***

Carlisle histeris. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri. Mencari Lesiana yang tiba-tiba menghilang bersama rintik hujan. Namun, hanya tampak sebatang pohon besar tua.

"Carlisle. Ya, Tuhan. Maafkan ibu yang terlambat menemukanmu, Nak. Tenanglah, Sayang. Sadarlah." Tiba-tiba Carlisle tak lagi merasakan rintik hujan. Tubuhnya terasa hangat oleh sebuah pelukan.

"Ibu."

"Iya, Sayang. Ibu di sini. Pulang bersama ibu, ya." Wanita awal 40-an itu memeluk erat anak satu-satunya. Sedikit terisak ia menuntun Carlisle menjauh dari pohon besar tua itu. Tepat di bawah jendela di ujung lain lantai dua sekolah.

"Ibu ... bukan aku. Bukan aku, Bu. Bukan aku! Ia tersandung kakinya sendiri."

Carlisle berteriak di antara guntur yang menyambar. Menimbulkan percikan rasa bersalah yang bermunculan.

"Tenang, Sayang. Kamu sudah berusaha menyelamatkannya. Tenang, Carlisle." Tangan lembut itu menghapus air mata Carlisle.

"Jika itu aku ..., jika kamu menginginkan aku ...." Semakin lama, suara Carlisle melemah. Erangan itu tak lagi terdengar. Carlisle terjatuh dan tak sadarkan diri.

Hujan menyamarkan suara, jejak, dan cerita.

*** ***

"Carlisle ... Carlisle ...!" Sayup-sayup terdengar suara Lesiana memanggilnya. Carlisle terbangun dan melihat senyum Lesiana yang lebih cerah.

"Kamu tampak lebih cantik, Lesiana," ucap Carlisle tulus, "hei! Itu seragam tim basketku." Carlisle menyadari nomor punggung di seragam biru muda itu.

"Iya. Bolehkah aku meminjamnya sebentar? Aku ingin sepertimu sekejap." Raut Lesiana merah, malu.

Carlisle ingin sekali protes. Sebab, tak seorang pun boleh menyentuh seragam tim basketnya. Namun, hanya untuk kali ini. Ya, kali ini saja. Apalagi ketika Lesiana tampak lincah bermain bola basket, Carlisle seperti melihat sebuah bayangan yang menari penuh pesona di lapangan. Lompatannya pun semakin tinggi dengan tembakan sempurna ke arah ring basket.

"Aku hebat, kan?" Lesiana berhenti tanpa tersengal.

"Luar biasa. Dari mana kamu mempelajari semuanya?" Carlisle keheranan.

"Hahaha ... kamu tertidur terlalu lama, Carlisle. Atau hantaman genting itu terlalu keras untuk kepalamu? Kamu lupa? Aku, kan, selalu memperhatikanmu." Lesiana tersenyum kecil, malu-malu.

"Ah ...."

"Kamu, tidak mau bermain basket bersamaku?" Lesiana menyodorkan bolanya.

Carlisle terdiam. Ia pun melirik pada kaki sebelah kiri yang masih belum sembuh sempurna. Bahkan ditopang oleh tongkat besi agar bisa berjalan.

"Ah, iya. Semua gara-gara aku, ya." Lesiana murung melihat Carlisle yang tak berdaya.

"Tapi ... aku tak berhasil menyelamatkanmu. Kamu tetap terjatuh." Gantian Carlisle yang murung.

"Hei! Lihat! Aku tak apa-apa. Lihat, aku sekarang lincah. Sangat lincah. Sepertimu, Carlisle ....! Sepertimu ...! Kamu ...!"

Perlahan, di mata Carlisle semua tampak abu-abu. Samar, tak ada sesuatu pun yang dapat disentuh. Dengan langkah yang tak sempurna dan napas yang semakin tersengal, Carlisle menemukan sebuah pintu bermandikan cahaya di ujung lorong. Carlisle pun tergopoh menuju sumber cahaya, kemudian membuka pintu berengsel kuning sempurna itu.

Di hadapannya, gadis kurus berambut pendek kecokelatan terbaring tak berdaya. Selang menembus seluruh tubuhnya. Seakan semua telah menjadi bagian dari anggota badan. Bunyi peralatan kedokteran, yang ia tak tahu untuk apa, bergerak dan berbunyi konstan. Menimbulkan nada pasti di dalam ruangan yang sepi.

Semuanya tampak tenang. Seperti berdiri di ruangan hampa udara.

Carlisle mendekati Lesiana yang tengah terbaring tak berdaya. Entah mengapa, satu langkah ia mendekat kepada Lesiana, Carlisle merasakan kehidupan. Langkahnya pun semakin ringan. Seperti tersedot ke dalam tubuh Lesiana.

"Lesiana. Bertahanlah. Kamu pasti bisa."

Carlisle tersentak, ia tahu benar suara siapa yang muncul di belakangnya. Carlisle menoleh kearah sumber suara, dan benar ...! Itu adalah, dirinya.

"Lesiana. Ayolah, cepatlah tersadar. Aku ingin sekali kita bisa menjadi seorang teman. Kamu tahu, seharusnya kita bisa berteman. Saling mengisi dan membantu. Seharusnya, seorang gadis yang sempurna ... bisa mendampingi gadis sepertimu agar dapat bertahan. Paling tidak, mengisi hari-hari dengan sesuatu yang dapat dilakukan bersama di sekolah." Gadis seperti Carlisle itu, menyentuh tangan Lesiana. Mata birunya sayu seperti merindukan sesuatu.


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. Frim : Pixabay


"Menjadimu, sangat tidak menyenangkan. Selalu kesepian. Sendiri dan tak diinginkan. Lesiana, mulai hari ini, ketika kamu tersadar nanti ... aku berjanji tidak akan membuatmu seperti sebuah bayangan. Aku akan melangkahkan kaki sejajar denganmu."

Carlisle terbelalak melihat dirinya sendiri. Serupa tapi tak sama. Rambut bergelombang itu tak lagi tergerai. Tidak seperti biasa, dimana ia hanya mengucir rambut hitamnya ketika bermain basket. Selain itu, mata biru yang serupa dengan sang ibu berubah menjadi hijau keperakan, seperti ....

Seperti mata gadis yang ia genggam lengannya di ujung lorong lain, tingkat dua gedung sekolah. Ketika gadis itu bergelantungan di pinggiran luar jendela.

"Aku berjanji padamu. Jika gadis populer ini akan menjadi teman baikmu selamanya, Lesiana. Karena aku tahu rasanya menjadi 'Lesiana'."

Sekejap, Carlisle merasa ringan dan menghilang. Tubuhnya bergerak bagai gulungan topan kecil. Melayang dan tertarik ke dalam gadis kurus yang sedang terbaring lemah.


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


Jemari gadis yang tertidur tak berdaya itu pun perlahan bergerak. Seakan hidup memberikan kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki sebuah keadaan. Kesempatan untuk saling memahami, ketika kini berdiri pada sudut pandang yang berbeda.

Carlisle tengah berjuang dalam tubuh Lesiana.

----Selesai----

Rieka Kartieka
Yogyakarta, 02 Maret 2020

#ceritarieka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lina.wh dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh riekartieka
Semangat ummi.. kadang kita butuh rehat sejenak. Bgus ceritany
profile-picture
riekartieka memberi reputasi
Quote:


Hehehe makasih teteh....
Iya nih. Dateng2 bawa cerita yg berat. Kyknya pikiranku lg penuh ni

#cerita 2

CUKUP AKU


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. By : Pixabay


"Hati-hati, Arfin." Aku mengulum senyum melihat kelincahan Arfin saat meloncati tumpukan batu.

Hampir saja Arfin terpeleset. Namun, bocah empat tahun itu anak yang sigap dan sangat senang pamer. Buktinya, setelah loncat ia berbalik ke arahku dan memberikan dua jempol. Aku pun balas memamerkan dua jempol padanya.

Arfin merasa gembira luar biasa. Sejak semalam, Arfin terus menanti waktunya masuk sekolah. Ya, hari ini adalah hari pertama ia sekolah.

Tentu saja tak hanya anak laki-laki kecilku saja yang bersekolah. Sepanjang jalan yang kami tempuh, ada beberapa anak sekolah dengan seragam yang beragam. Semua tampak semangat dan ceria. Membuat aku ikut terbawa kegembiraan.


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


Kecuali pada mereka yang mengenakan seragam putih abu-abu. Sebab, seumur hidupku, hanya seragam itu yang belum pernah kukenakan. Rasa iri selalu hinggap ketika melihat keceriaan si pemilik seragam.

"Mama, itu sekolahku." Arfin menarik tanganku.

Aku tersadar. Ternyata, sekolah Arfin sudah ada di depan mata. Bangunan sederhana di sebelah kelurahan setempat telah penuh oleh anak-anak seusia Arfin. Mungkin mereka berusia sekitar dua sampai empat tahun. Ya, sekolah ini hanya memberikan fasilitas untuk anak-anak usia dini. Sedangkan Taman Kanak-Kanak berada di gedung yang berbeda.

Aku lekas menggandeng Arfin menuju gerbang hijau setinggi orang dewasa. Di dekat gerbang, ada dua orang guru yang menyambut dengan senyuman. Secara bergantian mereka menyalamiku, juga Arfin.

"Assalamualaikum, selamat pagi. Siapa namanya?" tanya guru berwajah lembut yang kubaca di tanda pengenalnya bernama 'Wiji'.

"Wa'alaikumsalam. Arfin, Bu," aku yang menjawab. Sebab, si empunya nama hanya diam bersembunyi di belakangku.

"Yuk, Arfin ikut Bu Ani masuk ke kelas." Guru yang bertubuh tambun berusaha membujuk Arfin.

"Nanti di kelas, Arfin bisa main mobil-mobilan. Eh, ada lego juga." Bu Ani tersenyum lebar pada Arfin.

Arfin, si penggemar lego mengangguk keras sampai rambut ikalnya yang panjang berayun ke atas dan bawah. Mata bulatnya tampak berbinar. Dalam hitungan detik, jemari lembut berwarna sawo matang itu pindah ke dalam genggaman Bu Ani.

"Kakaknya boleh tunggu di kursi besi kuning itu, ya, Mbak." Bu Wiji mempersilahkan aku duduk di kursi yang ada di depan kelas Arfin.

"Hehehe. Saya ibunya." Aku tersenyum kecut.

"Duh, maaf. Saya pikir kakaknya. Keliatan masih muda." Bu Wiji menutup mukanya, tampak sedikit malu.

"Hehehe. Maklum saya, Bu. Sudah biasa," sahutku sesegera mungkin.

Ketika aku meletakkan pantat di kursi kuning, tampak seorang kakak laki-laki mengantarkan adiknya masuk kelas. Namun, dia langsung pergi dengan menaiki motor besar khas anak remaja. Kurasa, ia juga mengejar waktu masuk sekolah. Seragamnya putih abu-abu.

Dalam benakku, ia adalah seseorang yang kutangkup pinggangnya. Bercanda dan menikmati masa remaja bersama. Seperti sepasang kekasih di film atau sinetron remaja.

Ah, sebuah khayalan yang tak mungkin nyata. Mana ada anak sekolah keren sepertinya yang mau memiliki kekasih seperti aku? Jangankan kekasih, sekedar berteman pun mungkin ia segan. Sebab, aku hanyalah perempuan desa yang tak pernah mengenakan seragam putih abu-abu. Bahkan seragam putih biru pun tidak kutuntaskan dengan sempurna.

Seketika napasku terasa berat. Ada beban yang kembali menyeruak. Membuatku merasa terpuruk dalam putaran nasib yang melelahkan.

Saat ini, aku ingin menikmati sebuah masa remaja. Dimana waktu keemasan bagi setiap manusia untuk mampu berkembang. Penuh apresiasi diri dan membebaskan hati untuk memilih yang dimau. Namun, apalah dayaku sekarang?

Tanpa terasa, air mata meluncur hingga mengenai celana hitam yang kukenakan. Aku buru-buru mengusapnya. Biarlah masa laluku tak terhapuskan, tapi air mata tak perlu ditampakkan. Ada seorang lelaki kecil yang patut dijaga hatinya.


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


Arfin, lelaki manis duplikat seseorang yang kusayang. Seseorang yang kuanggap sebagai seorang kakak, tak lebih. Sebab, ia memang kakak bagiku. Walaupun beda ayah dan ibu, tapi kami memiliki nenek dan kakek yang sama.

Arka, seorang lelaki dengan senyum memikat, adalah sepupuku dari pihak ibu. Jarak umur kami tiga tahun. Karena itu, ketika kami SD sering bermain bersama. Berlari, menerbangkan layang-layang, bersepeda, berenang di sungai, juga main rumah-rumahan.

Namun, itu tak berlangsung lama. Saat aku berumur sembilan tahun, orang tua Arka bercerai. Ia pun ikut ayahnya ke luar kota. Empat tahun kami terpisah dan tak pernah bertukar kabar.

Hingga suatu hari, Arka datang dengan gaya yang berbeda. Pakaiannya seperti artis di dalam televisi. Gayanya pun seperti anak kota kebanyakan, tak pernah lepas dari gadget. Belum lagi matanya tajam dan terlihat liar ketika menatapku.

Perasaanku yang kurang nyaman tentang Arka remaja terbukti. Ketika tak ada seorang pun di rumah, Arka mengajakku melihat film dari layar HP-nya. Aku yang tak paham dan ingin tahu, mengiyakan ajakannya.

Semula aku tak curiga. Namun, lama kelamaan Arka memberikan tontonan yang belum saatnya bagi kami berdua. Saat itu aku masih polos. Tak paham adegan apa yang sedang kami lihat. Hanya satu yang kurasakan, mual.

Arka tertawa dan mengejekku. Ia mengatakan aku gadis culun dan ketinggalan jaman. Ia pun berlagak mengajariku dengan mengatakan, "ini pelajaran biologi pada manusia."

Betapa menjijikkan. Begitu mudah aku terjebak karena ketidaktahuanku. Ya, mana kutahu jika bagian pribadi hanya untukku? Sebab dulu waktu kecil, biasa bagi kami tidur atau mandi di sungai bersama. Mana kutahu jika tak boleh sembarangan di depan orang asing? Sebab bagiku, ia adalah saudara.

Aku hanyalah gadis polos yang tak paham privasi diri. Tak ada seorang pun yang memperingatkan aku. Bahkan kedua orang tuaku sendiri. Mereka hanya sibuk sendiri mencari rejeki yang katanya untukku.

Akhirnya, aku harus keluar sekolah ketika masih dibangku kelas tujuh. Saat itu, semua terasa runtuh. Aku merasa pintu masa depan telah tertutup rapat. Belum lagi perasaan terbuang karena disembunyikan di rumah nenek di desa yang berbeda. Kata ayah dan ibu, agar aib tak tampak di mata teman dan rekan mereka.

Sedangkan Arka? Ia melanjutkan hidup entah di mana. Ia hanya bertanggung jawab sampai Arfin muncul ke dunia. Setelah itu, pergi melenggang tanpa kabar.

"Fina?" Seorang gadis rambut sebahu menyapaku.

Kutatap lamat-lamat gadis bercelana jeans dengan kemeja mocca polos. Rasanya aku kenal, tapi entah di mana.

"Siska, teman SMP." Ia menyibakkan rambut hitamnya.

"Ah ... maaf, Siska. Sudah lama tak bertemu. Kenapa kamu ada di sini?" Aku menyambut tangan Siska yang terulur. Seraya berharap ia tak menangkap kegugupanku.

"Jemput ponakan. Sekalian mau ngajakin jalan-jalan sebentar. Besok harus balik ke kota. Sebentar lagi kuliah perdana," jawab Siska.

"Oh ...," sahutku singkat.

"Kamu ngapain di sini?" Siska menatap rambutku yang pasti acak-acakan. Tadi pagi tak sempat menyisir dengan sempurna.

"Ah, em ... nunggu ponakan juga." Aku berusaha tersenyum. Kemudian mengikat rambut panjangku dengan ikat rambut merah yang tersemat di pergelangan.

"Oo .... Kuliah di mana sekarang?" Siska duduk di sebelahku. Aku bergeser mengambil jarak. Ada rasa tak nyaman.

"Nggak. Udah kerja di pabrik pemotongan kayu di ujung desa." Kali ini tak berbohong. Siska mengangguk dan melihat pada serombongan anak kecil yang berlarian keluar kelas.

"Eh, itu ponakanku. Oiya, minta nomor whatsapp-nya." Buru-buru Siska mengambil HP dari saku celana. Kemudian mengetik nomorku dan berjanji akan memasukkan aku ke grup SMP.

Siska pun berlalu bersama gadis kecil berkucir dua, kanan dan kiri. Aku mengembuskan napas panjang, lega. Beberapa menit yang lalu seperti berada dalam ruangan sempit.

Tak lama, Arfin muncul dengan sebuah kalung dari daun singkong. Ia memberikan kalung itu bersama segudang cerita. Aku sedikit terhibur oleh kelucuannya. Anakku sayang yang sempat tak diinginkan.

Waktu terasa cepat berlalu. Walaupun masa sulit belum terlewati, cukup bagiku menikmati hidup hanya bersama separuh diriku. Dalam dirinya terselip rasa penyesalan terdalam. Namun, di sisi lain, ia menyimpan sejuta harapan baru.

"Mama mau ke mana? Rumah mbah uyut di sebelah sana." Arfin menunjuk pada jalan kecil di antara sawah yang telah menguning.

"Sebentar, ya, Sayang. Mama mau ke konter HP dulu. Mau beli nomor baru."


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


---- Selesai ----
Rieka Kartieka
Yogya, 17 Juli 2019

#ceritarieka
#katariekartieka
#repost
profile-picture
tityann memberi reputasi
keren ceritanya
profile-picture
riekartieka memberi reputasi
Quote:


Terimakasih sudah mampir, Sist ❤️
profile-picture
tityann memberi reputasi
Quote:


Sama2 sist
profile-picture
riekartieka memberi reputasi

#cerita 3

Bayangan yang Tertinggal
Oleh : Rieka Kartieka


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay

Deru kereta semakin memburu. Suara gerbong yang berderak pun terdengar sepanjang perjalanan. Namun, semua penumpang telah bersahabat dengan iramanya. Bak melodi pengantar tidur bagi mereka yang kelelahan.

Kecuali, Tiara. Mata cokelat miliknya belum mau terpejam. Masih menyusuri malam dari balik jendela. Tak ada apapun yang tampak di sana. Hanya hitam berganti hitam. Sesekali sedikit cahaya lampu yang temaram. Gelap.

Di antara deru yang terdengar, dalam kepala Tiara selalu terngiang suara lelaki yang telah lama tak dijumpai. Lelaki yang ingin dia tenggelamkan dalam kelamnya malam. Lelaki yang ingin dia hapus dari hati dan pikiran. Namun, semakin berusaha ... semakin deras air mata. Seperti sekarang.

"Ah, lagi ...." Satu bulir menetes. Melesat hingga ke pipi. Sembari menghapus dengan telunjuk, dia tersenyum melihat sisa air mata di pangkuan.

Seperti orang kelelahan, Tiara mendesah dan mengenyahkan penat dengan bersandar di badan kursi. Kepalanya sedikit menengadah, kemudian mencoba terpejam. Melepas penat yang tiba-tiba datang beberapa menit yang lalu. Ketika lelaki itu berdiri di depannya.

*** *** ***

Beberapa menit sebelum kereta berangkat.

"Prasetyo."

"Tiara, kamu ...! Apa kabar?"

Bagai diguyur beribu batu es. Seketika badan Tiara terasa dingin dan merinding. Giginya bergemelutuk, seraya tangan yang kaku mengepal. Degup jantung berdetak hebat, bagai bunyi drum yang memenuhi gerbong saat ini.

Ingin rasanya berbalik arah agar tidak harus melewati lelaki itu, Prasetyo. Tapi bagaimana? Serombongan orang di belakangnya terus memberikan kode agar dia terus maju.

"Tiara!"

Secepat langkah yang Tiara bisa, akhirnya Prasetyo terlewati. Walaupun, harus sedikit tersandung karena Prasetyo begitu kencang mencengkram mantel cokelat miliknya. Namun, paling tidak, sosoknya sudah tak tampak lagi. Tenggelam di antara kerumunan orang yang berdesakan mencari nomor kursi masing-masing. Hanya saja, suara berat lelaki itu masih terus terngiang.

***

Membiarkan mata terpejam hanya semakin membuatnya tersiksa. Tiara berdiri, mencoba menghilangkan kegundahan yang terlanjur mengakar di kursi 14 B itu. Tak lupa ia mengencangkan resleting jaket cokelat yang sewarna pupil matanya yang lembut. Tiara berjalan menuju bagian belakang gerbong tujuh dengan gontai.

Sedikit bersandar di dekat pintu, rambut gelombang sebahu miliknya berayun searah goyangan gerbong.

"Pendek sekarang rambut kamu, Tiara."

Begitu jelas suara itu.

Tergopoh, Tiara mencoba kembali menghindari. Namun, kali ini Prasetyo lebih sigap. Tangan kirinya yang kekar menghadang Tiara.

"Singkirkan tanganmu, Pras." Garang, Tiara memberi perintah.

"Berjanjilah, kau tidak pergi."

Suara bariton Prasetyo masih terdengar lembut, seperti dulu. Sejenak, Tiara terhipnotis.

"Aku mohon, Pras. Biarkan aku pergi."

"Tidak. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi."

"Kamu yang pergi, Pras." Satu sudut bibir Tiara naik ke atas, bola mata sedikit berputar.

"Maafkan aku."

Prasetyo menyerah. Dia menurunkan tangannya dan mundur selangkah memberi ruang Tiara. Tiara terdiam, mencoba menahan genangan air mata. Kemudian melengos ke arah jendela dan menyeka perlahan.

"Aku memang tak pantas kau maafkan."

Prasetyo teringat masa itu, dua tahun lalu saat dia terpaksa pergi. Meninggalkan Tiara, menguburkan harapan, menutup kisah cinta semu. Kisah cinta yang terhalang restu kedua orangtuanya.

"Aku sudah memaafkanmu, Pras."

"Lalu, kenapa sikapmu seperti itu? Kamu seperti sangat membenciku."

"Aku harus bagaimana? Memelukmu? Tersenyum manis? Entah, aku tak bisa. Mungkin aku belum siap bertemu denganmu saja. Terlalu tiba-tiba."

"Kenapa tak pernah memberiku kabar?"

"Heh, kamu. Bukankah kamu yang meminta kita tidak saling menghubungi lagi. Bukankah terakhir kita bicara, kau tegas mengatakan kalau kau tidak lagi cinta padaku."

Tiara menatap lekat mata Prasetyo yang legam. Binar itu masih ada, rasa itu masih terasa. Detak itu masih sama. Cinta. Atau rindu? Atau hanya sebatas luapan rasa yang tersisa. Entah ....

Tiara kembali memalingkan mukanya. Menatap kembali pada gambaran semesta dari balik jendela. Seperti rol film yang terbakar. Silih berganti, hanya hitam yang tampak.

"Aku masih cinta kamu, Tiara. Seperti dulu."

Tiara tergelak. Sampai tubuhnya terasa sakit. Tubuh yang mana? Perut? Jantung? Hati ....

"Haduh, kamu sadar nggak sih? Atau Lupa? Apa kabar anak dan istri di rumah?"


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay


"Aku akan menceraikannya."

Diam. Mata Tiara membulat menatap Prasetyo yang seolah bicara tanpa beban. Tangan Tiara mengepal. Menahan diri agar tidak menampar Prasetyo.

"Aku pergi."

"Tunggu! Kamu, tak mau tahu kenapa aku akan menceraikannya?"

Prasetyo mencengkeram erat lengan Tiara. Seolah tak rela jika gadis itu harus pergi sekarang.

"Bukan urusanku. Lepaskan, Pras!"

Prasetyo melepaskan cengkeramannya, maju selangkah tepat di depan Tiara. "Karena dia tahu, aku masih mencintaimu."

Diam dan saling menatap. Mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Terus saling menyelami bola mata satu sama lain. Mencari pembenaran rasa yang muncul kembali. Patut dibawa kembali atau lepas seperti kemarin.

"Semua sudah berakhir, Pras. Kita sama-sama tahu. Sejak kamu bilang, tak ada lagi cinta untukku, aku sadar jika cinta ini hanya menyakiti kita berdua."

"Tiara ...."

"Perpisahan saat itu membuatku mengerti, sebesar apa cinta yang kamu punya. Dan sebesar apa cinta yang aku punya."

"Cintaku tak pernah berubah, Tiara."

"Cinta yang tak mampu dipersatukan. Kita berbeda. Walaupun perbedaan itu tak nyata. Kekonyolan prinsip yang tak berdasar."

"Aku, saat itu bingung harus apa. Berulang kali aku memperjuangkanmu."

"Dan kau lelah."

"Please, Tiara. We know, it's all bullshit. Teori kejawen tentang arti nama, tanggal lahir, weton atau apalah. Kamu tahu, aku pun menentangnya."

"Tapi kamu menyerah."

"Iya. Bodohnya aku. Menyerah pada tatanan yang membuatku terpenjara. Hatiku hampa, Tiara."

"Karena itu, kau akan menceraikannya?"

"Salah satunya. Sekarang, di sini, kita bertemu. Kamu sadar nggak? Ini takdir, Tiara."

Prasetyo menggenggam jemari Tiara. Hangat penuh harap. Tiara berkerut, tersenyum kecil dan melepaskan rengkuhan Prasetyo.

"Lama aku mencoba menghilangkan rasa ini, Pras. Lama aku mencoba mengenyahkan semua kenangan kita dari memoriku. Dan sekarang. Aku merasa, semuanya lenyap. Benar-benar lenyap."

"Rasamu sudah hilang, Tiara?" ada rasa yang tergores dalam Prasetyo. Badannya limbung ke belakang. Memberi sedikit jeda di antara mereka.

"Entah. Dua tahun ini, bayangmu selalu hadir pada semua lelaki yang ingin mendekat padaku. Aku merasa terbebani, Pras. Aku merasa, hatiku selalu terpaut padamu."

Tiara menengadah menatap lelaki yang lebih tinggi 10 cm darinya, "ini hidupmu, Pras. Bebaskan hatimu. Jangan selalu terkekang pada apa yang bukan milikmu. Jalani apa yang sudah menjadi milikmu."

Kembali mereka saling bertatap. Kembali menyelami hati masing-masing di antara deru kereta.

Seraya tersenyum, Tiara berkata dengan lega, "aku rasa, seharusnya aku merasa bersyukur bertemu denganmu sekarang. Ya, ini memang takdir. Saatnya kita tahu hati masing-masing. Saatnya kita menyadari arti hadir diri kita dalam cerita kita. Kita berdua selalu hidup dalam bayangan."

Mata Prasetyo membulat. Alis tebalnya bergerak ke atas. Kerutan di dahinya tampak jelas. Tiba-tiba pundaknya bergidik. Prasetyo berusaha menarik napas panjang agar tetap bertahan berdiri.

"Terimakasih, Pras. Kamu menyadarkanku bahwa ternyata selama ini aku bertahan pada cinta yang salah. Cinta yang tak sebesar yang aku kira."

"Aku hanya mencintaimu, Tiara."

"Dulu saat masih bersamaku, kau juga berkata seperti itu padanya. Dia, yang sekarang menjadi istrimu."

"Kamu kan tahu, aku hanya dijodohkan. Saat itu aku bodoh. Aku akan menceraikannya. Kamu tahu? aku sangat tersiksa pada rasa ini. Aku mau hanya sama kamu, Tiara."

"Kamu konyol, Pras. Hentikan!"

Tiara mendorong tubuh Prasetyo dan berjalan menuju gerbongnya. Sebentar langkahnya terhenti, melihat kembali ke arah Prasetyo yang terdiam menatap Tiara.

"Sudah lupakan, Prasetyo. Mulai sekarang, aku akan benar-benar menghapus namamu. Perlu kamu tahu. Di kota itu, kota dimana kereta ini akan berakhir, ada seseorang yang akan menjemputku. Aku akan belajar mencintainya. Dia, adalah seseorang yang jauh lebih pantas kucintai daripada dirimu yang hanya sekedar bayangan."

Tiara meninggalkan Prasetyo sendiri. Berjalan dengan hati lega menuju kursinya. Kursi yang sedari tadi bagai penjara karena bayangan tak berarti, tiba-tiba terasa lebih lega.

Sungguh, masa lalu cukup dibiarkan berlalu. Mencintai bayangan hanya akan membuat hati menghitam dan tak mampu membedakan warna yang terhidang. Bayangan memang pantas berwarna hitam dan berdiri di belakang. Karena bayangan itu ada jika matahari bersinar cerah di depan kita.

Dari balik jendela, warna pun tampak walau hanya semburat. Mengartikan jika cahaya selalu datang setelah kelam menyelimuti hari. Seperti hati. Tak perlu ada hitam, agar dapat merasakan cinta yang selalu datang setiap hari.


TENTANG AKU, BISA JUGA KAMU
Pic. From : Pixabay

---------
Derak antara rel besi
Bertarung di sela malam
Guncangan bergemuruh di bawah sadarku
Kian menjauh sejajar mentari tersembunyi

Getir yang tinggi
Tercium aroma ragamu yang menjauh
Ritme gemuruh kereta
Menahan mata yang basah

Di mataku,
Suara dan rautnya
Terbias oleh bahasa gemuruh

Stasiun kecil ini
Pintu peron ini
Memunculkan serat-serat hati yang tergurat

Getir yang tinggi
Bayangan yang berganti
Menahan bibir untuk mengucap namamu
Agar kau tak lagi muncul dibalik jendela
----------

***Selesai***
Yogyakarta, 15 Nov 2018 - 5 Maret 2020

Judul Puisi : "Kereta"
Penulis : Rieka Kartieka
Yogyakarta, 24 September 2018
Diubah oleh riekartieka
Tetang Aku, Bisa Juga Kamu Atau Mungkin Dia emoticon-Cool


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di