CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / Hobby & Community /
Perempuan, Sex, Dan Gender
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e582b73f4ae2f163804fbca/perempuan-sex-dan-gender

P

Sebelumnya saya sampaikan mengundang maaf jika judul tulisan ini dilihat tabu, tulisan ini sama sekali tidak membahas untuk membahas hal-hal yang tidak senonoh dan jorok dalam kultur ketimuran kita, tulisan ini pada empati dan apresiasi saya terhadap apa yang sangat sulit dilihat perempuan. Dalam diskursus tentang perempuan kita akan bertemu dengan ideologi feminisme sebuah pemahaman yang sangat mendukung dengan gender, kata “keadilan” di sini perlu dipertanyakan alasan yang salah mengartikan feminisme dan beranggapan feminisme menuntut kesamarataan antara perempuan dan laki-laki.

Ada apa dengan perempuan sehingga muncul ideologi feminisme yang mau tidak mau harus kita akui banyak ditentang oleh laki-laki dengan argumen perempuan memiliki kodratnya sendiri yang berbeda dengan laki-laki? Feminisme muncul akibat ketidakadilan yang dirasakan oleh perempuan atas ketidaksamaan kedudukan dan derajat antara perempuan dan laki-laki, ketidakadilan ini sering terjadi karena perempuan dieksploitasi demi kepentingan laki-laki juga meningkatkan lebih dari laki-laki dan ironisnya menjadi korban eksploitasi, kesadaran akan ada ketidakadilan dan eksploitasi inilah yang kemudian menjadi nyawa bagi feminisme. Feminisme sendiri berasal dari bahasa Latin dari kata “ femina”Yang berarti memiliki sifat keperempuanan. Feminisme dapat juga diartikan sebagai gerakan emansipasi wanita yang menyuarakan tentang perbaikan kedudukan wanita dan mengubah perbedaan antara wanita dan pria.

Argumen perempuan memiliki kodrat yang berbeda dengan laki-laki memang tidak dapat dipungkiri dan merupakan keniscayaan, hanya saja pandangan tentang kodrat inilah yang sering disalahpahami. Kodrat perempuan yang sering diterjemahkan dalam ranah gender yang berfungsi kultur, bentukan dan peran sosial yang membuat konstruksi sosial perempuan hanya melibatkan peran dalam pembuatan, membuat, merawat atau mendidik anak dan pekerjaan-pekerjaan yang membuat perempuan sebatas pelengkap untuk laki-laki. Sementara apa yang disetujui dengan kodrat perempuan diletakkan pada ranah gender yang sifatnya dapat diubah karena merupakan konstruksi sosial, yang ditempatkan pada ranah seks, biologis yang tidak dapat diubah seperti menstruasi, hamil, transmisi dan perbaiki.

Apa yang ingin saya sampaikan dari uraian di atas adalah feminisme bukan ideologi yang meminta persetujuan kodrat antara laki-laki dan perempuan tetapi mendapat pertanggungan gender, agar perempuan tidak selalu diposisikan sebagai perempuan yang dibawa oleh Aristoteles. Juga agar perempuan tidak hanya menjadi objek eksploitasi tetapi juga sadar bahwa dirinya dieksploitasi. Untuk mempertimbangkan itu saya kira penting untuk membahas tentang feminisme ini lebih jauh lagi, baik itu problematik maupun sumber problematik dari gender. Masalah gender yang menyebabkan ketidakadilan terhadap perempuan yaitu, marginalisasi, beban , subordinasi, stereotip, dan kekerasan. Sementara sumber dari problematik itu sampai saat ini masih bersumber dari ideologi patriarki.

Marginalisasi gender terhadap perempuan adalah peminggiran dari dunia pendidikan, politik, ekonomi, dan sebagainya terhadap perempuan. Dalam pendidikan, misalnya, sosial masyarakat kita masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi alasan kiprah perempuan pada akhirnya hanya akan berakhir pada urusan rumah tangga seperti pengolahan dan pengerjaan perbaikan dalam kaitannya dengan kita, masih banyak kita temui baju olah raga mengenyam pendidikan tinggi akan sulit mendapatkan jodoh. Misalnya jika perempuan memiliki strata satu maka yang diharapkan adalah laki-laki yang memiliki strata satu atau minimal juga strata satu, ditambah lagi marginalisasi yang dilakukan oleh laki-laki yang memilih perempuan yang strata pendidikannya di bawahnya.

Beban adalah beban kerja lebih tinggi dan lebih berat untuk wanita. Hal ini akan kita temui jika menerima kenyataan tentang sosial kita sendiri, seperti halnya pekerjaan yang diberikan kepada yang bekerja di rumah. Jika kita kalkulasi beban jauh akan lebih panjang dan lebih berat dari beban kerja suami. Namun demikian, istri tidak mendapatkan porsi dan penghargaan yang adil jika ada penghargaan di rumah tangga itu. Semisal si anak meraih peringkat kelas, maka yang akan disebut pertama adalah nama yang diundang. Sementara peran pendidikan dalam keluarga lebih dipegang oleh dua puluh empat jam bekerja di rumah.

Problemematik selanjutnya adalah subordinasi, yaitu perempuan sebagai pelengkap dan stereotip yaitu pelabelan negatif terhadap perempuan. Tinjau dari akar pendapat yang sama, yaitu pada pembahasan Adam dan Hawa. Tuhan menciptakan Adam sebagai manusia pertama menciptakan Hawa sebagai pelengkap kemudian dibawa ke Bumi karena telah menghasilkan buah terlarang dan berhasil dilakukan sebab Hawa membujuk Adam.

Dan yang terakhir adalah kekerasan atau perlawanan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan saya kira bukan hal baru lagi karena sejak berabad-abad lalu perempuan sering digunakan sebagai pelampiasan yang dikembangkan laki-laki dan berhasil sampai saat ini masih bertahan.

Dari pertimbangan problematik jenis kelamin di atas, jelaslah bahwa sementara kita memiliki era yang disebut dengan era milenial ternyata keadilan bagi perempuan masih belum dapat diperoleh dan yang lebih ironis, perempuan kadang-kadang tidak dipahami atau bahkan tidak diambil untuk problematik itu dan yang dibutuhakan terus menjadi manusia yang dieksploitasi. Problematik-problematik itu pun tidak muncul dengan sendirinya, seperti yang telah ditemukan di awal problematik itu bersumber dari ideologi patriarki.

Ideologi bisa kita sebut dengan "nilai", atau apa yang kita harapkan atau bisa juga kita sebut dengan "norma", apa yang harus dilakukan dan bisa juga disebut dengan "kepercayaan", sedangkan patriarki merupakan bentuk organisasi sosial di mana laki-laki adalah perempuan . Sederhananya, ideologi patriarki adalah pandangan yang menempatkan laki-laki sebagai superordinat dari perempuan melalui perempuan dalam hal ini bertindak subordinat. Ideologi ini melahirkan stratifikasi gender, yaitu ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan, dan hak istimewa antara laki-laki dan perempuan.

Ideologi patriarki itu pula yang membuat perempuan dieksploitasi dengan atau tanpa sepengetahuan perempuan. Dengan dominasi laki-laki sebagai landasan ideologi, perempuan dipindahkan hidup sesuai dengan keinginan laki-laki. Kita dapat mengambil contoh sederhana tentang kehidupan perempuan selama ini, apa yang harus diambil untuk perempuan pada dasarnya bukan untuk perempuan sendiri untuk kepentingan laki-laki dan akhirnya perempuan hanya menjadi objek untuk memenuhi kebutuhan seksi.

Perempuan mencoba banyak cara untuk memanggil disebut perempuan dan memuji keperempuanannya. Lalu apa yang disebut dengan perempuan? Dengan mengeksploitasi yang dilakukan laki-laki, perempuan kehilangan jati diri mereka dan mengambil resolusi yang dibuat oleh laki-laki tentang perempuan. Laki-laki yang terpilih sebagai perempuan anggun, cantik / seksi, pintar memasak dan lain-lain. Dan untuk mencapai resolusi itu, perempuan mencoba banyak cara untuk dapat membantu sebagai perempuan. Kita dapat mengambil banyak fakta sebagai contoh, misalnya, berapa banyak perempuan yang rela melakukan operasi plastik untuk memancungkan hidung atau memperbesar payudara yang memperbesar sebenarnya tidak bagi dirinya sendiri tetapi untuk laki-laki, agar laki-laki mau menganggap dia sebagai perempuan, atau contoh yang paling mudah ditemui yaitu cara membuka perempuan dengan rok mini atau pakaian yang serbaketat dan terbuka. Untuk siapakah semua itu? Tentu bukan untuk perempuan karena jika untuk perempuan, pakaian seperti itu tentu tidak nyaman untuk diharuskan.

Yang lebih ironis saat ini, perempuan mulai dengan resolusi tinggi dari keindahan sebagai sesuatu yang harus dapat surplus bagi perempuan. Cantik saat ini menjadi cantik menurut mereka bukan lagi cantik menurutku perempuan, resolusi cantik kemudian berkembang menerima laki-laki yang notabene lebih pada seks dan yang lebih miris dari semua itu, perempuan mengambil / menjadi produk kebutuhan industri. Jika kita jujur ​​dengan kenyataan yang ada, tentu saja kita akan mengakui bahwa banyak perempuan-Indonesia yang cantik berwajah, berkulit seperti artis Korea, untuk itu mereka mencoba berbagai cara untuk membuatnya menjadi cantik, dengan melakukan operasi atau membeli make updan layak layaknya artis Korea. Lalu dari semua itu, siapa yang diuntungkan? Tentu yang paling diuntungkan adalah laki-laki, sebab laki-laki yang mengeksploitasi. Selain itu, yang sangat menguntungkan juga adalah industri yang baik itu industri yang menarik yang diperkirakan seniman-seniman mereka atau industri tekstil yang memasok pakaian-pakaian mereka. Lalu siapa yang dirugikan? Perempuanlah yang dirugikan karena harus menambah mereka telah kehilangan jati diri, cantik bukan untuk dirinya malah sebaliknya menyiksa dirinya.

Seperti yang saya katakan di awal, tulisan ini saya buat karena rasa empati saya terhadap perempuan, saya tidak mengatakan tentang feminisme sepenuhnya sebab feminisme fase dimulai sejak tahun 1990 hingga saat ini telah menjelma feminisme ekstrem yang melegalkan seksi lesbian. Saya sependapat dengan feminisme selama itu untuk keadilan gender untuk perempuan. Dan penting rasa dikemukakan sebagai feminisme (karena dari awal tulisan ini saya mengatakan bahwa laki-laki yang mengeksploitasi perempuan), mengatur membenci keberadaan laki-laki. Pembahasan tentang feminisme rasanya tidak dapat disederhanakan dengan tulisan ini, sebab pembahasan utuhnya akan melalui tiga fase, fase awal 1848-1915, fase kedua 1960-1990, dan fase 1990 sampai sekarang. Tiap fasenya memiliki spesialisasi tersendiri.pengakuan hukum , fase kedua tentang kesetaraan di bidang sosial, politik, ekonomi, pekerjaan, upah, hak reproduksi, dan lain-lain. Sedangkan fase tiga lebih pada tekanan terhadap hak-hak kultural dan variasi. Tapi berlebihan, tulisan ini harus disadarkan agar perempuan menjadi sesuai resolusi yang perempuan ciptakan sendiri dan sadar akan eksploitasi yang selama ini dialaminya.

Pamekasan, 12–01-2020
Diubah oleh kksamanah


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di