CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[CERPENSatu Atap Dua Dunia
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e5171af97751308625b703c/cerpensatu-atap-dua-dunia

[CERPEN] Satu Atap Dua Dunia

       Satu Atap Dua Dunia

[CERPENSatu Atap Dua Dunia
Credit image vectorstocks


Di sebuah kecamatan yang lumayan jauh dari pusat keramaian kota, terdapat bangunan tua yang lokasinya  berada di belokan jalan. Bangunan tersebut menghadap ke arah selatan dengan pagar besi pembatasnya yang tepat berada di bibir jalan. Bangunan tersebut adalah bangunan Sekolah Menengah Pertama 1 Randukencana, tempat di mana aku menimba ilmu semasa itu. Mempunyai 18 kelas, dimana masing-masin tingkat memiliki 6 kelas yang aku sendiri masih ingat betul dibagi dengan nama A, B, C, D, E, dan F. Meskipun bangunannya terbilang tua, namun sekolah yang halaman depannya memiliki dua pohon beringin yang rindang itu jadi satu sekolah favorit yang dituju oleh para orang tua yang tinggal di Kecamatan tersebut.

19 Juli 2009 adalah hari pertamaku menginjakan di sekolah tersebut, tak disangka bahwa anak dari seorang buruh tani pun mampu menembus sekolah dambaan banyak siswa meskipun persaingannya yang begitu ketat. Aku terdaftar di kelas 1B, dimana kelas tersebut tepat di ruangan paling depan yang berdekatan dengan jalan raya. Jumlah siswa satu kelas ada 40 orang dengan porsi cowok yang terbilang lebih banyak. Satu hingga dua bulan menjadi siswa kelas 1 masih biasa-biasa saja, masih terselimuti akan rasa kebanggan sekaligus haru karena mampu masuk di sekolah yang memiliki nama. Hari demi hari menjadi saksi bagaimana aku mulai menjalin pertemanan dengan siswa lain yang satu tingkat. Sampai suatu ketika, lapangan bola basket mempertemukanku dengan sesosok cewek yang aku sendiri baru pertama kali melihat. Mengenakan seragam olahraga berwarna merah menjadi pertanda sehingga aku bisa menyimpulkan bahwa ia adalah Kakak Kelas satu tingkat di atas ku.

Namanya Rizki Hanggini, merupakan siswi kelas 2A, memiliki postur tubuh yang tinggi seakan mendukungnya untuk memainkan olahraga bola basket yang memang biasanya dimainkan oleh orang-oarng yang berpostur tinggi. Perkenalan kami cukup singkat, ketika bola keluar jauh dari lapangan aku berinisiatif untuk membantu mengambilnya. Percakapan singakt pun terjadi, yang pasti ku ingat adalah kata ‘terima kasih’ yang ia ucapkan atas usahaku mengambilkan bola basket tersebut. Setelah momen itu, cukup lama kami tak pernah bertemu meskipun kita satu sekolah. Terlebih lagi ia merupakan kelas 2A yang memang dihuni oleh siswa-siswi pintar, sehingga mereka lebih kerap mengisi jam kosong atau waktu istirahat dengan berada di perpustakaan. Sementara, aku sendiri mengisi waktu kosong di sekolah disibukkan dengan bersosialisasi dengan siswa lainnya. Rupanya keberuntungan pun berpihak padaku, sampe suatu hari sepeda milik Rizki mengalami kempes ban. Dari kejauhan aku pun sengaja menghampirinya dengan maksud mencoba untuk membantunya.

‘Oh ya, ini bannya kempes. Kalau bocor repot nih, tukang tambal bannya jauh, di dekat terminal sana,” tegasku kepada Rizki sembari memeriksa kondisi band sepeda miliknya.
“Aduh,” balasnya dengan nada gusar.

Rupanya ia merasa bingung karena setelah pulang sekolah ia harus pergi ke tempat les bahasa inggris yang lokasinya sekitar 2 Km. Tanpa berpikir panjang, ia pun ku suruh naik becak ke tempat les nya. Sementara untuk sepedanya aku yang bawa ke tempat tambal ban yang pastinya aku harus menuntun sepeda tersebut terlebih dahulu. Sembari menunggu ban ditambal, dan lumayan lama juga karena hampir satu jam di tempat itu. Artinya, masih ada waktu satu jam lagi menunggu Rizki yang baru selesai les bahasa inggris. Soalnya aku sudah janjikan kepadanya, bahwa setelah ban sepedanya di tambal maka akan aku antar ke tempat les. Mencoba menghabiskan waktu aku pun nongkrong di terminal, meskipun perasaan agak kurang nyaman karena banyak orang lalu lalang. Satu jam di terminal aku habiskan, hingga akhirnya aku kayuh sepeda milik Rizki menuju tempat lesnya. Benar adanya, bahwa tak lam aku sampai siswa-siswi yang mengambil jam tambahan dengan kursus bahasa asing tersebut pun mulai berhamburan keluar. Seraya memberikan senyum, Rizki pun menghampiriku kemudian kami lanjutkan untuk berjalan pulang sembari bercerita satu sama lain.

Bak cerita di sinetron, tragedi ban kempes pun seakan jadi media yang mempertemukan kami. Setelah itu kami terlihat makin dekat dan makin akrab meskipun beda kelas dang tingkat yang tak sama. Kami sering bertemu di jam istirahat, bahkan pulang bareng pun juga kerap kami lakukan apabila ia tak melakoni pelajaran tambahan. Tak sebatas di sekolah saja, namun di luar sekolah pun kami cukup dekat karena kami sering pergi bareng di hari minggu. Biasanya kami mengisi hari libur yang hanya satu hari itu dengan berdiam di rumahnya, atau sesekali pergi ke tempat/objek wisata yang memang digandrungi oleh warga Randukencana.

Bagi anak-anak sekolah, momen setelah test catur wulan (dulu) atau semester (sekarang), menjadi saat-saat yang ditunggu-tunggu. Bukan karena sudah mendekati liburan saja, melainkan ada waktu sekitar 6 hari yang biasanya di sekolah-sekolah kerap menggelar Class Meeting. Di sekolah kami, acara seperti ini biasanya diisi dengan pertandingan olahraga antar kelas, mulai dari basket, bola voli, hingga sepak takraw. Kebetulan sekali, pertandingan basket antar kelas tersebut mempertemukan dua tim, yaitu kelasku dan kelas Rizki. Meskipun kami punya kedekatan, namun kami tetap bersebrangan karena harus mendukung kelas masing-masing. Hebatnya, meskipun kelasku yang baru kelas 1 ini mampu mengalahkan tim cowo kelas Rizki, sehingga olokan kecil pun sempat aku lempar kepada Rizki, meskipun olokan tersebut kental akan candaan.

Tak berasa, kedekatan kami pun sudah hampir 8 bulan, artinya dalam hitungan hari pun akan ada kenaikan kelas setelah ujian. Kami pun memutuskan untuk mencoba menjaga jarak karena masing-masing akan fokus menghadapi ujian kenaikan kelas yang sudah di depan mata. Meskipun di jaman itu sudah ada handphone, namun untuk ukuran anak kampung seperti kami smartphone menjadi barang tertier yang dirasa belum begitu membutuhkannya. Ketika berpapasan pun kami hanya sekedar saling melempar senyum dan sesekali menegur dengan diiringi candaan dari  teman Rizki yang menerkan bahwa kami pacaran (padahal masih bau kencur, maklum anak SMP Gan!). Banyak yang bilang kalau pacaran di masa SMP itu adalah ‘Cinta Monyet’, namun rasanya aku setuju dengan pendapat itu. Sampailah minggu yang lumayan tegang dan sibuk, karena kami berdua menjalan ujian kenaikan kelas selama 6 hari. Di sela-sela ujian kenaikan kelas tersebut, kami pun sempat sekali ngobrol bareng ketika jam istirahat. Saling bertanya kabar sembari menikmati hidangan kantin, dengan diiringi celetukan teman-teman Rizki.

“Woiii. Ujian ujian! Pacaran terus,” celetukan Rita yang merupakan salah satu teman Rizki.

Tepat di hari Sabtu, adalah dua mata pelajaran terakhir yang di ujikan guna kami bisa naik kelas ke tingkat selanjutnya. Dahulu, hari jumat dan sabtu adalah hari yang diwajibkan untuk kami mengenakan seragam pramuka. Dengan berseragam pramuka, selepas ujian pun kami putuskan untuk bertemu untuk pulang bareng. Jam 11 lewat 13 pun kami putuskan untuk meninggalkan sekolah dengan mengayuh sepeda berboncengan layaknya siswa-siswi di film Korea. Sepanjang jalan kami pulang, Rizki pun bagikan cerita tentang soal-soal ujian yang dirasa agak menyulitkan. Tetapi ia sendiri optimis bahwa nilai yang diperoleh nantinya bakal maksimal. Saat berboncengan pun ia juga bertanya kepadaku, akan hal apa yang dilakukan ketika libur sekolah tiba.
 
“liburan nanti mau kemana?,” tanya Rizki.
“Nggak kemana-mana. Palingan di rumaha saja,” jelasku.
“Sama dong,” balas Rizki.

Selepas ujian artinya kami berdua dipertemukan lagi dengan Class Meeting yang akan mempertemukan antar kelas dalam berbagai pertandingan olahraga. Kalau bagi orang kerja Senin adalah hari yang menyebalkan, berbeda dengan siswa-siswi ini yang memang sudah menunggu momen Class Meeting. Dari senin hingga sabtu memang momen itu disi dengan tak ada kelas pelajaran, hanya pertandingan olahraga, dan beberapa siswa pun juga kerap mengisinya dengan hanya bergurau di dalam kelas. Hari senin kelasku tak ada jadwal pertandingan, jadi aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di pinggir lapangan untuk menonton dan menjadi supporter dari kelas lain. Entah takdir atau kebetulan, hari selasa akan menjadi hari yang kembali mempertemukan tim bola basket kelasku dan kelas Rizki. Hari itu aku dan Rizki pun juga menyempatkan untuk berbincang-bincang di pinggir lapangan bola voli, sembari menonton tim bola voli kelas lain yang sedang bertanding. Momen itu, ia pun berkata bahwa pertandingan besok mungkin akan menjadi pertandingan laga pembalasan atas kekalahan kelasnya atas kelasku di catur wulan pertama.
 
“Lihat besok adalah hari pembalasan, yang menang pasti kelasku!,” ungkap Rizki dengan nada semangat.
Hari itu pun kami bergegas pulang dan karena aku harus membeli sesuatu titipan dari ibuku, maka aku dan Rizki pun pulang ke rumah masing-masing dan tak berbarengan.  Akhirnya tiba juga hari dimana kelasku akan melakoni pertandingan pertama olahraga bola basket melawan tim kelas Rizki. Setiap para wakil kelas pun sudah turun ke lapangan untuk melakukan pemanasan. Sembari lari-lari kecil dan mencoba shooting, mataku seakan mencari-cari sinyal kan keberadaan Rizki. Pertandingan pun segera dimulai, dengan para pemain mendapat arahan dari wasit yang merupakan guru olahraga sekolah kami. Pada saat jalannya pertandingan, sesekali mataku mencoba menengok ke arah kanan, menuju ke sudut lapangan tempat berkumpul para pendukung kelas Rizki yang memang mereka teman satu kelas.

Namun pandangan ini serasa tak bisa menangkap akan wujud Rizki yang biasanya ia menjadi salah satu pendukung yang menonjol karena kerap menyemangati teman-temannya yang sedang berjuang di lapangan. Hingga memasuki Quarter ke 3, Rizki pun tak menampakkan batang hidungnya. Dalam hati bertanya apakah ia tak masuk, atau memang ia lupa bahwa tim kelasnya sedang bertanding. Pertandingan itu pun seakan tak bisa dimungkiri, bahwa benar adanya bahwa kelas Rizki telah mempersiapkan pertandingan ini menjadi ajang balas dendam atas kekalahan mereka di Class Meeting Cawu satu. Tim kelas ku pun tertinggal lumayan jauh dengan skor 39-21 dengan kelas Rizki lebih mendominasi permainan. Pertandingan quarter ke empat baru memasuki beberapa menit, mata ini menangkap sebuah pemandangan sekerumunan siswa-siswi yang terlihat sedang menangis. Berjalan beberapa menit sih pertandingan tetap berlangsung dan seakan tak menggubris akan tangisan para siswa-siswi di samping lapangan. Beberapa saat kemudian pertandingan itu pun dihentikan, kami semua para pemain di lapangan merasa bingung dan kaget, sembari saling bertanya ada apa. Aku pun mencoba mendekati kerumunan tersebut, dan beriringan tangisan itu terdengar kalimat yang sangat mengagetkan.

‘Rizki meninggal, jatuh di kamar mandi,” jelas salah satu siswi di kerumunan itu.

Serasa tak percaya aku pun mencoab memastikan akan kebenaran kalimat yang barusan aku dengar, sehingga aku pun mencoba bertanya ke siswi yang memberi kabar tersebut, tak lain adalah ketua kelas 2A. Aku nggak tau harus berkata apa, tak bisa mengunkapkan bagai disambar petir di siang bolong, karena memang aku sendiri belum pernah tersambar petir. Tubuh yang awalnya segar bugar langsung drop jadi lemes, pandangan mata cuman tertuju ke satu arah, yaitu Bumi. Mencoba untuk tak percaya bahwa Rizki sudah tak ada.
Tanpa berlama-lama, aku pun langsung bergegas breng beberapa teman satu kelas Rizki untuk pergi ke rumah Rizki dengan menyewa mobil bak terbuka. Rasa ketidak percayaan pun seakan musnah, hilang bersamaan dengan rintihan tangis dan suara orang sedang mengaji surat yaa sin di rumah Rizki. Kami pun bergegas masuk dengan ditemani wali kelas Rizki, dan membuktikan benar adanya bahwa ia memang telah pergi meninggalkan kita setelah mengalami jatuh di kamar mandi. Ia jatuh terpeleset di kamar mandi, dan kepalanya membentur dinding kamar mandi.  Aku bersama rombongan dari sekolah pun akhirnya turut serta mengantarkan jenazah Rizki ke pusara, dan setelah itu rombongan sekolah memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Kisah 11 tahun yang lalu ini memang tak akan bisa aku hapus dari ingatanku, dia adalah Rizki, teman sekolahku yang kedekatan kami kerap digosipkan oleh teman-teman bahwa kami berpacaran. Padahal, aku sendiri belum pernah menyatakan perasaan ku kepada Rizki, meskipun benar adanya kala itu aku mempunyai ketertarikan kepadanya, yang baru bisa dibilang cinta monyet. Cerita ini sengaja aku bagikan kepada Kaskuser, kisah dimana aku dan Rizki pernah berada satu atap, yaitu SMP 1 Randukencana, dan sekarang kami sudah berbeda dunia.
 
Semoga Arwahmu Tenang di sana, dan Aku Akan Selalu Mengingat Kamu


profile-picture
profile-picture
profile-picture
Feraldi.Noval dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh whitehats
woaw benarkah begitu gnasemoticon-Wow
emoticon-Turut Berduka
profile-picture
uusDK memberi reputasi
Diubah oleh irmawidjaya
kisah nyata ya, sedih banget
Lihat 1 balasan
wah ini kisah nyata penulis ya
Ijin mantau untuk beberapa cerita ke depan.
Jangan kentang yaemoticon-Cool
Lihat 1 balasan
Hallo Rizki...
emoticon-Hai
profile-picture
aaronleo memberi reputasi
Mungkin itu sudah jalannya sis. Tuhan punya rencana yang indah untuk kita semua, walau kadang logika kita sebagai manusia tidak bisa menerimanya.
nice story
awak kira kau sama setan
next donggg seru banget
Udah ini???
Gak bersambung??
Cuma gini doang,,,,??
Kentang dong,,,,
Bagus lo,,,,lanjutin dong gan,,,,
Lihat 1 balasan
Kayaknya judul threadnya kurang rapi emoticon-DP

Spoiler for Tolong bantuin rate dan sharenya dong:


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di