CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Noktah Merah Kanvas Berbingkai (Based on True Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e455e7aa2d19533382eca25/noktah-merah-kanvas-berbingkai--based-on-true-story

Noktah Merah Kanvas Berbingkai (Based on True Story) - Cerbung

Prolog

Kanvas berukuran 120 x 200 cm itu masih utuh menyandar pada tripod penyangga, putih bersih tanpa sepercikpun warna cat. Sedang cat warna hitam dan merah yang sedari tadi kutuang pada palet tak sedikitpun tersentuh bulu kuas yang berdesak di wadah kaleng dalam berbagai ukuran. Tergeletak di lantai di antara posisi dudukku dan posisi kanvas. Berjam-jam lamanya aku duduk termangu di depannya dalam hening malam beriring suara gesek sayap jangkrik bersahutan. Kicau burung malam sesekali menimpali dalam tempo yang tak pasti.

"Mas..., aku lelah...!"

Suara itu kembali mengiang seolah tepat di telinga bagai bisikan. Lirih mengiba dan beresonansi hingga menggetarkan hati. Suara gadis yang sedari tahun 1991 telah menjadi track list urutan 10 besar dalam memori otakku andai diibaratkan urutan lagu di flash disk. Track list setelah suara orang-orang terdekatku.

Sebatang rokok yang terjepit di antara dua jemari tangan kananku kembali kusedot asapnya kuat-kuat lalu kuhembuskan pelan. Jari-jemari yang seharusnya memegang kuas lalu membalur bulu-bulunya dengan cat dan menyaputkannya pada kanvas sedari tadi, yang ada malah hanya menjapit batang rokok menyala. Dan sampai detik ini sudah batang ke empat dari bungkus ke dua sejak mulai kuambil posisi duduk di depan kanvas.

Bengong di depan kanvas seperti ini sebetulnya bukan hal baru bagiku yang sudah puluhan tahun menerjuni profesi sebagai pelukis. Dan bukan diriku saja yang pernah ngalamin, rekan2 seprofesi juga sering punya cerita sama. Nge-blank bahasa populernya di komunitasku, kondisi dimana otak dan otot sedang tidak sinkron. Jika dipaksakan malah jadi amburadul hasilnya, dipandang tak sedap, dirasa pun tak harmonis. Kalau saja suara itu tak berkali-kali mengiang, biasa kuatasi kondisi seperti ini dengan meditasi. Maka malam ini kuputuskan untuk mencoba lalui tanpa meditasi.

"Mas..., aku lelah...!"

Kembali suara itu terdengar, bukan sayup-sayup lagi melainkan menggema. Kusedot asap batang rokokku kuat-kuat sampai mentok bara apinya menyentuh batang filter, lalu kuhembuskan pelan-pelan. Bayangan wajah si empunya suarapun makin jelas menari-nari dalam angan. Gadis manis yang lugu dan anggun dengan bibir tipis bergincu seadanya.

Lima belas tahun terpaut umurku dengannya, tapi entah mengapa rasa saling suka itu bak virus corona yang menginfeksi tanpa peduli batasan usia. Hinggap begitu saja dalam diri kami berdua, sedari pandangan pertama saat kami berjumpa bahkan. Dan aku telah kalap, terbutakan oleh gelora asmara yang terus bergemuruh menyesakkan dada. Mengingkari segala kenyataan yang ada.

Berkali-kali kusalahkan diriku di larut malam ini, bahkan untuk ke sekian kali yang tak terhitung. Mungkin ini hari adalah puncak rasa sesal itu. Hari dimana segala rasa bercampur aduk seperti adonan kue tetangga dalam pusaran logam pengaduk yang digerakkan oleh mesin mixer bersuaranya bising melengking, hingga kerap membuatku pusing. Hari dimana baru kali ini bangun pagi kuawali dengan menenggak sebutir obat sakit kepala berdosis tinggi. Setelah kutekan tombol keypad handphone pemutus sambungan, bergambar simbol telefon berwarna merah, sebab taktahan dengar isak tangismu di akhir kalimat lirih yang kemudian terekam jelas dalam ingatan. Lalu berputar berulang-ulang seharian, hingga sekarang.

"Mas..., aku lelah...!"


Jakarta, 16 Januari 1997 

Just begining - to be continued Part 1


Diubah oleh wowonwae
Part 1
Si Gila yang Sedang Tergila-gila

Quote:


Percakapan dengan diriku sendiri itu akhirnya ku akhiri, sebelum kusapa mahkluk Tuhan berjuluk perempuan di hadapanku. Telah dia usik kelelakianku berkali-kali dengan keindahan dirinya dan curi-curi pandangnya. Bagiku, keindahan itu bagaikan cincin emas perkimpoian yang melekat di jari manisku yang setia menemani. Sedang curi-curi pandang perempuan itu bagai pintu rumah yang dibuka lebar-lebar saat menyambut kedatangan seorang tamu yang istimewa.

Asal kau tahu, aku terlahir dalam sebuah keluarga sederhana di kampung, dalam asuhan seorang Bapak yang mantan veteran sekaligus santri ngaji dari seorang Kyai kharismatik yang sangat ta'at. Disiplin dan tegas kata para tetangga tentang Bapak, tapi kataku : keras dan ortodok. Beliau tak akan segan menghukum ke empat anaknya tanpa pandang bulu jika berbuat salah, atau lebih tepatnya membelot dari perintah dan nasehat. Sedang Ibuku hanya bisa jadi tempat mengadu, setelah hukuman itu kami jalani dengan isak tangis tersedu.

Sedari kecil aku telah terdidik untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu. Meskipun sesuatu itu hanyalah sebuah permainan anak-anak belaka, atau bahkan sekedar mengikat tali sepatu. Maka percakapan dengan diri sendiri seperti ini telah jadi kebiasaanku sampai ke tiga puluh tahun lebih usia ini telah bertambah. Ya, tak kusangkal kesimpulanmu atas percakapan diri yang baru saja kuceritakan. Akulah memang yang paling sering terkena hukuman Bapak dan kenyang akan teguran dibanding tiga saudara yang lain.

"E..., dik ! Penatarannya masih jauh ?" akhirnya terlontar juga kalimat tanya yang sebetulnya kumaksudkan sebagai sapaan awal.

Perempuan di hadapanku yang lebih tepat disebut gadis itu kutaksir usianya masih cukup belia, sekitaran usia siswa SMA. Kami duduk di bangku berhadap-hadapan dalam sebuah angkot yang membawa kami dalam perjalanan menuju Candi Penataran. Si gadis bersama dua kawan yang duduk di samping kiri-kanannya, pun aku bersama dua kawan pula tetapi duduk terpisah berjauhan.

"Enggak kok mas !" jawab si gadis dengan mata berbinar.

Entah kaget tak menyangka akan kusapa dengan tanya atau senang karena sedari tadi menunggu kusapa, beda tipis tampaknya. Yang jelas, senyumnya membuatku sedikit terpana. Manis sekali ternyata, sungguh tak kusangka. Lelakiku makin terusik saja kurasa.

Mendengar suara jawab yang mengalun di antara bibir tipisnya yang merah merona, aku merasakan seolah kembali memuda, lengkap dengan getar jiwanya yang menggelora. Bagi pelukis sepertiku, kondisi seperti ini kerap memunculkan energi baru, memunculkan gairah berkarya dan berekspresi yang sarat inspirasi. Tapi tidaklah semua pelukis itu seperti diriku, janganlah lantas sebuah kesimpulan tiba-tiba kau bikin, apalagi justifikasi !

"Masih berapa lama ?" tanyaku lagi dengan intonasi suara yang tanpa sadar melembut.

"Ini kita juga ntar turun di sana, barengan aja...!" jawabnya spontan sambil menepuk masing-masing lutut kedua temannya.

Senyumnya makin mengembang, menampakkan gigi-giginya yang bersih dan tersusun rapih. Sedang kedua kawannya celingukan, sebentar menatap si gadis dan aku bergantian.

Kali ini aku tak hanya sedikit terpesona, tapi terkesima. Bukan karena senyumnya, tapi sebab binar matanya yang kian memancar. Bukan pula karena merasa menemukan obyek yang bagus untuk dilukis. Teramat banyak sudah wajah perempuan yang lebih sempurna dari itu pernah kulukis. Aku terkesima karena menangkap kesan dari binar matanya yang seolah menyambut niatku yang hendak mencuri hatinya. Binar mata itu bak binar mata anak kecil yang menyambut ibunya pulang dari pasar, melepas rindu dan berharap dibawakan jajan kesukaan.

"Oh..., baguslah kalau begitu", jawabku dengan mantap sekali.

Bagus yang pertama berarti aku dan kedua kawanku tak mungkin kebablasan menyetop angkot, dan bagus yang kedua berarti si gadis telah kena bidikanku. Setidaknya jika dugaanku salah, hari ini sumber energi baru telah kudapat. Layaknya bara api yang kembali menganga tertiup hembusan angin senja.

Kulempar pandangku ke arah dua kawanku yang duduk agak berjauhan, taktampak sedikitpun mereka memperhatikanku. Hanya melempar pandang ke luar kaca jendela angkot, menikmati obyek sepanjang jalan. Bahkan ketika percakapan dengan tiga dara di depanku berlanjut, tak sedikitpun kulihat mereka peduli, hanya sesekali menoleh. Kami sudah lama berkecimpung dalam dunia seniman, khususnya seni rupa. Mereka paling menyangka bahwa aku sedang mengeksplorasi si gadis buat bakal dijadikan objek lukisan, tak perlu ditanggapi berlebihan.

Quote:


Percakapan diri itu kembali terjadi, 5 menit sebelum kami meneriaki si bapak sopir angkot agar segera menepi. Percakapan yang kerap muncul acap kali hendak kuputuskan sesuatu yang nyrempet-nyrempet bahaya atau terasa ada gelagat yang kurang baik kali ini entah kenapa terasa memuakkan, tak seperti biasa selalu kunikmati. Dan jangan salah kau salah terka, percakapan kali ini bukanlah dengan diriku di awal tadi, melainkan dengan yang lainnya lagi.

Selain sebab kebiasaan sejak kecil yang sudah kuceritakan tadi, percakapan diri itu kian menjadi-jadi seiring makin dalam dunia seni kuselami. Kerja seni yang kutekuni telah menuntutku untuk selalu bercumbu dengan imajinasi. Semakin asyik bercumbu, makin berkualitas karya yang kubuat. Pelukis itu seolah bisa mencipta sendiri dunia baru lengkap dengan segala isinya. Maka jangan heran jika aku mampu bertahan dalam kesendirian berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan hanya dalam sebuah bilik kecil tanpa seorangpun kawan menemani.

Orang-orang mungkin menganggapku depresi, padahal sedang bereksplorasi dengan imajinasi. Bercakap-cakap dengan diri yang beragam, silih berganti. Atau dengan mahkluk-mahkluk dalam dunia baru yang telah kucipta dengan detil. Boleh dibilang lebih parah dari si Smugle dalam trilogi Lord of The Ring yang entah kau pernah baca atau tidak.

Seorang pelukis bisa tak butuh "kau, dia, dan mereka" di dunia nyata sebab ada beribu-ribu "kau, dia serta mereka" di dunia baru yang ia cipta. Sesuatu yang umumnya dibilang khayal, di saat-saat tertentu buatku bisa jadi terbilang nyata. Orang-orang kerap meng-cap ku introvert, atau lebih parah : "anti sosial". Bagiku yang sekolahnya amburadul ini, istilah mereka terlalu rumit. Sebut saja "gila", repot amat ! Toh tak pernah akan kupedulikan. Malahan aku tak perlu kesulitan untuk memahamkan padamu tentang beberapa kawan seprofesiku yang berakhir dengan gila (tanpa tanda kutip). Meski masih saja tetap sulit untuk menjelaskan padamu tentang diriku yang saat ini sedang tergila-gila. Usai berkeliling Candi seharian bersama tiga dara yang salah satunya sukses kubidik, tepat di jantung hatinya.


To be continued...
Diubah oleh wowonwae
Lihat 1 balasan
Balasan post wowonwae
Part 2
Celoteh Gadis Penawan Cinta

Lagu Love Story yang dinyanyikan Andy William itu terdengar begitu syahdu. Lagu favorit lelaki kekasihku itu telah lama akrab di telingaku. Memutarnya berulang-ulang tak pernah membuatku jemu, serasa dirinya duduk menempel di sisi tubuhku sedang kepalaku menyandar di bahu. Lalu kenangan-kenangan bersamanya bagai bayangan slide proyektor yang ditampilkan di layar dengan tembakan sorot lampu. Proyektor yang oleh dosen-dosen di kampusku dipakai saat memaparkan teori-teori yang disadurnya dari berbagai buku. Dalam iringan lagu itulah biasa kutulis surat-surat untuknya dan kutulis kisah-kisah yang kami lalui dalam diary-ku.

Bagaimana bisa aku lupa ?

Semenjak awal sudah kukagumi gayanya yang merdeka, seolah tak seorangpun boleh mengatur tapi bebas berkomentar. Gaya yang sekaligus membuatku serta merta menyimpulkan bahwa dia, kekasihku itu, pastilah seorang seniman. Kontras sekali dengan ayahku yang seorang pegawai instansi pemerintah, apa-apa mesti pakai etika, diatur sedemikian rupa dan direncana. Dengan gaya itulah dia menyapaku untuk kali pertama, dan tak pernah berubah pada pertemuan-pertemuan kami berikutnya.

Bagaimana kini, di jaman now, kau sebut kata "gaya" yang kumaksud ? Mungkin yang orang-orang kini sering menyebutnya sebagai : "style". Jika demikian, maka ketahuilah bahwa dia, kekasihku itu, punya style dengan chemistry yang begitu kuat. Tak sekedar celana jeans bellel dan kemeja dengan satu kancing terlepas di dua bagian paling atas. Tak sekedar aksesoris cincin dan gelang antik yang melekat di tangan. Juga tak sekedar sepatu ket atau pantofel tanpa kaus kaki yang selalu matching dengan celananya yang tergulung sebatas mata kaki. Bukan, bukan itu maksudku ! Jika hanya setelan pakaian semacam itu, para pemuda di eraku memang sedang tren dengan tampilan demikian. Di balik semua yang melekat pada tubuhnya itu kutemukan sosok lelaki yang lain daripada yang lain. Itulah tepatnya yang kumaksud sebagai gaya atau style dalam eksyenmu di jaman now.

Sering kusampaikan padanya bahwa aku sulit menjelaskan dengan kata-kata, tiap kali dia tanya apa yang kusuka darinya. Meski demikian, dia selalu menampiknya dengan merendah. Dijelaskannya bahwa style itu melekat begitu saja seiring lebih dalam ia tekuni dunia seni. Bahwa style itu hanyalah demi karir, sama seperti ayahku saat berbaju dinas pegawai. Seorang seniman adalah figur yang lebih pada tugasnya sebagai penghibur, sedang pegawai adalah figur yang memang meski didandani untuk membedakannya dengan para penganggur.

Bagaimana bisa tak kusukai dirinya ?

Dengan segala penjelasan logikanya sering dibuatnya aku terkagum-kagum. Dia tampakkan kecerdasan, luasnya wawasan tapi dikemas dengan kerendahan hati. Dan dia, kekasihku itu, menyampaikan setiap penjelasannya dengan style bicara yang berkharisma. Setidaknya buatku yang masih belia dan terpaut usia jauh lebih muda darinya. Dia bisa sangat menghibur ketika aku dirundung duka. Dia bisa memberi pencerahan di saat sekolah membebaniku dengan setumpuk tugas makalah. Dia bisa dengan cepat membuat kondisiku yang labil jadi kembali stabil. Dia bisa menjadi temanku, bisa menjadi kakakku ataupun menjelma sebagai ayahku.

Bagaimana bisa aku jatuh hati ?

Kalimat tanya itu seringkali dilontarkan oleh kawan-kawanku SMA dulu, di tahun-tahun awal kami berpacaran. Ya, aku menyambut cintanya saat masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Kawan-kawan SMA bagiku tiada berbeda dengan anak kecil, tak pernah bisa mengerti alasanku menyukainya, termasuk kedua sahabat karibku yang menemani sedari awal perkenalan kami. Dan aku tak peduli ! Cinta telah membutakan kami dari satu hari ke hari berikutnya. Cinta selalu hadir baik dalam pertemuan langsung dengannya, di tiap-tiap kesempatan singgahnya sepanjang bolak-balik perjalanan Jakarta - Bali - Jakarta, ataupun dalam goresan-goresan pena pada secarik kertas surat. Dia, kekasihku itu, mungkin telah merebut hati ini sejak awal pertemuan. Usai seharian berkeliling Candi Penataran, tempat favoritku semenjak kecil. Aku bersama kedua sahabatku dan dia bersama kedua kawannya dari Jakarta.

Sepanjang berkeliling candi, diperlakukannya kami bertiga bak putri raja. Dengan sopan selalu dipersilahkannya kami bertiga melangkah. Dan dengan sigap diambilnya sikap melindungi ketika berpapasan dengan segerombolan pemuda tak kami kenal yang berniat menggoda. Berbicara seperlunya saja dia saat kami bertanya seputar dunia seni, tapi dengan jawaban-jawaban pasti yang kaya referensi. Dan jika kami bercerita seputar budaya lokal, baik sejarah ataupun mitos dan legenda, disimaknya dengan seksama.

Tak perlu waktu lama baginya untuk membuat kami mau diajak berkenalan. Didapatkannya nama-nama kami, lengkap, tak hanya nama panggilan dan dihapalnya dengan sangat baik. Sebagaimana terbukti saat disebutnya ulang nama lengkap kami yang panjang-panjang itu saat berpamitan. Kami bertiga sampai dibuatnya tercengang dan saling pandang.

Bagaimana bisa kutinggalkan dirinya ?

Tiap-tiap kali dia, kekasihku itu, bilang bahwa aku telah menjadi inspirasinya dalam berkarya. Sejak dia buat sketsa diriku bersama kedua sahabat karibku yang kemudian mewujud karya bertajuk "Tiga Dara". Aku, senyumku, candaku, tawaku dan tangisku seolah menemaninya dengan setia. Dalam bidang karir seorang pelukis, aku bagaikan pengharum yang aromanya memenuhi setiap sudut ruangan. Membuatnya selalu merasa tenang dan nyaman saat berjibaku dengan sisi gelap dirinya tatkala menggoreskan warna-warna dengan kuas atau palletnya.

Berkali-kali dia ucap terimakasih dan menyatakan kerinduan, berkali-kali pula kusambut dengan rencana-rencana pertemuan. Jarak tak pernah jadi penghalang, atau justru sengaja kami pasang sebagai penghalang untuk kemudian kami lompati bak atlet lari halang-rintang. Long Distance Relationship yang kini sering kau sebut LDR dan sering bikin galau itu buat kami justru serasa mengasyikkan.

Bagaimana bisa dia meninggalkanku ?

Dia, kekasihku itu, begitu optimis telah merebut hatiku dan tak sadar kalau akupun secara perlahan telah menjerat cintanya. Kekagumanku pada dirinya telah berimbas penasarannya terhadap diriku. Sikap kebapakannya berimbas cepatnya pendewasaan dalam diriku, sebaliknya sikap kekanakanku justru memancing kemunculan perilaku bocahnya. Belaiannya pada rambut di kepalaku yang menyandar di pundaknya berganti belaianku pada rambut di kepalanya yang rebahan di pangkuanku. Sikap cengengku yang sering diterpa nasehatnya kerap berbalik penghiburanku atas keresahan terhadap masalah-masalah yang dihadapinya, lalu inspirasi segera hadir menyodorkan solusi.

Ketika suaranya terdengar lagi di pesawat telepon rumah pasca 4 tahun menghilang tanpa jejak, kujawab tulus tanpa ada waktu terjeda. Tak kutampik pula keinginannya untuk bertemu kembali dengan kunjungannya bersama seorang kawannya yang berprofesi dokter hewan ke rumah. Ya, aku sempat kehilangan dirinya pada pertengahan tahun 1994 dan kujumpai lagi di awal-awal tahun 1998.

Sebagaimana dia, kekasihku itu, dulu begitu optimis merebut hatiku, demikian pula aku begitu optimis pula telah menawan cintanya. Dan aku yakin kelak dia, kekasihku itu, akan kembali mengambil cintanya yang tertawan. Aku telah menjelma melebihi pengharum, yang aromanya memenuhi sudut ruang tempatnya berkarya, menjadi anggur yang senyawanya memenuhi sekujur pembuluh darah dan memanipulasi sel-sel saraf otaknya. Aku telah menjelma melebihi bunga mekar yang menebar wewangian menjadi bunga saham yang harganya terus melonjak dan grafiknya terus menanjak, membikin para investor ketagihan. Sebelum lama terpisah, telah begitu kuat perihal itu kuyakini. Maka kehadirannya kembali di akhir-akhir semester kuliahku di jurusan ekonomi ini telah lama kuprediksi.

Katakanlah, bagaimana bisa tak kusambut dirinya ?


Bersambung...
Part 3
Sela Mimpi di Ujung Hari

Bocah mungil berumur belum genap satu tahun itu begitu menarik perhatianku. Sesekali duduk - sesekali merengkak di depan ibunya yang anggun. Dengan tulusnya sang ibu mengawasi si bocah, mengikuti apa maunya dan mencegah apa-apa yang sekiranya berbahaya. Tampak sang ibu selalu menyungging senyumnya, lengkap dengan binar mata yang berkomposisi bahagia campur bangga.

"Jamblung ! Jamblung !" teriak si bocah diikuti tawa riang lepas berhias gigi yang yang baru tampak dua. Teriakan yang tak jelas apa maknanya sebagaimana tak pula jelas mimik wajahnya.

Aku yang hendak berjalan melintasinya spontan menghentikan langkah kaki. Lupa pada niatku menjumpai kedua kawan di kamar sebelah, hendak menumpahkan rasa gondok yang telah melampaui batas kesabaran. Melihat tawa lepas si bocah itu mendadak luruh segala beban di hati ini bak buah-buah jambu yang rontok dari rantingnya.

Kutatap wajah sang ibu dengan dahi mengernyit dan kedua alis mengkerut tanda bertanya. Menanyakan arti teriakan si bocah barangkali sang ibu paham. Sang ibu menjawab juga dengan isyarat mengangkat kedua pundaknya dan wajah yang juga mengkerut kedua alisnya. Isyarat yang berarti bahwa ia sendiri tak pula paham atas arti teriakan si bocah. Sang ibu bukanlah orang asing bagiku, demikian sebaliknya akupun tak asing baginya. Kami telah saling kenal sejak 21 tahun silam sebagai kawan seperguruan.

Kubungkukkan badan tepat di depan si bocah itu, terus merendah hingga kedua lutut dan kedua telapak tangan jadi tumpuan. Kudekatkan wajahku pada wajahnya yang mungil dan lugu. Sebentar ditatapnya wajahku dengan ekspresi bergantian, bengong - senyum lebar - bengong - senyum lebar. Tak mampu lagi kutahan tawaku, meledak begitu saja begitu melihat ekspresi lucu si bocah. Kuraih kedua lengan mungilnya tapi ditampik, malah merangkak ke arah lain sambil kembali berteriak berulang. Masih kata yang sama yang takjelas apa maknanya.

"Jamblung ! Jamblung ! .....Jamblung !"

Dalam tawa kulempar pandangku pada sang ibu. Disambutnya lemparan pandangku diiringi tawa kecilnya. Saling pandang kami dalam ketidakpahaman kata teriak si bocah, bercampur geli serta gemes menyaksikan segala tingkahnya yang begitu natural.

**

Kubuka mataku, lalu menggeliatkan badan dengan pandangan yang masih menerawang. Suara menggeretek terdengar dari sambungan ruas-ruas tulang belakang yang terulur. Ya, kau betul, aku terbangun dari tidur.

Kurenungkan mimpiku barusan,
logika otakku berputar mencoba mencari arti pesannya jika mungkin ada. Rasanya bukan sekedar bunga tidur belaka, sebab mimpi itu terekam begitu jelas dan terus berputar ulang dalam ingatan. Tak seperti mimpi-mimpi yang segera terlupa seketika tersadar dan membuka mata.

Kuraih android yang tergeletak di samping bantal masih sambil rebahan. Aplikasi whatsapp segera kubuka lalu kuketikkan huruf rangkai-berangkai membentuk untaian kata-kata dan membentuk susunan kalimat-kalimat. Setelah kurasa cukup mewakili runutan kisah dari mimpiku tadi dan lolos redaksi dari kubaca berulang satu kali, segera kusentuh layar tepat di simbol opsi kirim. Kusampaikan pesan itu kepada kawan lama yang notabene adalah "si ibu" dalam kisah mimpiku.

Quote:


Kukirimkan lagi 1 pesan baru untuk memperjelas pesan pertama itu.

Quote:


Balas pesan kawanku setelah 7 menit kutunggu-tunggu.

Quote:


Sebut saja namanya Vita, kawanku seangkatan sewaktu kuliah. Dulu dia kekasih dari kawanku, juga kekasih dari kawannya kawanku. Kau bingung ? Ma'af, aku tak cukup punya waktu untuk menjelaskan. Kami terpisah tak hanya oleh jeda waktu yang lama, tapi juga oleh ratusan kilometer jarak. Jadi kami tak saling tahu detil kondisi masing-masing selain sekelumit informasi yang layak kami share di grup watsapp khusus alumni.

Quote:


Tak lagi lanjut kukirim pesan. Tak mau aku ngelantur berkepanjangan. Mengertilah, panggilan "say" itu pendekan dari kata "sayang", sedang dia berstatus janda tanpa anak. Jangan curiga dulu ! Itu memang sapaan populer bagi kami di masa kuliah dulu, saking dekatnya hubungan persaudaraan antar kawan seangkatan. Kurasa cukup, sementara kusimpulkan bahwa tak ada kaitan sama sekali dia dengan mimpiku, bisa jadi dia hanya semacam ikon saja di sebalik makna sesungguhnya.

Kutekan agak lama layar sentuh ponsel, tepat pada kotak pesan whatsapp yang pertama sampai muncul simbol perintah "teruskan pesan". Ganti kukirim pesan itu ke Om Aryo, lalu kuikuti pesan berikut yang menyatakan bahwa aku gagal paham. Pikirku, jangan-jangan ada hubungan dengan semua kisah yang dituturkannya padaku, dua hari berturut-turut sebelumnya hingga malam larut.

Otakku masih berputar mengulang ingat semua penuturan kisah Om Aryo 2 hari yang lalu. Beragam kisah perjalanan hidup lelaki tua tapi berjiwa muda itu dituturkannya simpang siur dan seringkali melantur. Rambut, kumis dan jenggotnya yang belum semua memutih makin menambah kesan jadul. Mau-tak mau harus kuikuti alur kilas balik ceritanya, merekam sekaligus memilah-milah mana yang masuk dalam kategori balada, mana yang romantika, mana yang humaniora atau kategori kajian seni dan budaya. Tak hanya itu, berkali-kali meski kusela penuturannya tiap melenceng dari benang merah cerita. Akhirnya terpaksa tegas kusekat topik obrolan hanya pada frame kategori romantika. Pun kupersempit lagi di rentang waktu dekade tahun 90-an.

Dalam sekat ruang paling depan gallery studio sekaligus bengkel lukisnya kami bercengkrama. Ruang berukuran tiga kali empat meteran yang dindingnya penuh digantungi lukisan itu serasa menyatu padu dengan alunan kisah-kisah yang dituturkannya. Bangunan rumah peninggalan Belanda khusus staf PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang telah berdiri sejak tahun 1901 itu dulu adalah tempat tinggal mertuanya. Sebisanya Om Aryo rawat dan alih fungsikan agar tetap bisa berkesenian. Karya-karya seni instalasi dipajangnya pada dinding luar berikut pintunya. Alhasil, jadilah kontras dengan peruntukannya sebagai rumah dinas.

Quote:


Jawab pesan whatsapp dari Om Aryo yang menghentikan putaran otakku tampaknya tak juga memuaskan. Kucoba ingat lagi semua lukisan yang sempat ditunjukkannya padaku, baik yang sudah berbingkai, yang tersimpan dalam gulungan, yang tertera di katalog-katalog pameran lukisan yang pernah diikutinya hingga yang berupa foto-foto cetak ukuran 2 R. Kukaitkan satu persatu dengan mimpiku tadi, barangkali ada yang nyambung. Sampai lelah, kurasa taj satupun yang terindikasi saling bertaut.

Suara pujian mulai mengalun dari pengeras suara masjid dan surau-surau di kampungku segera membuatku terhenyak bangkit dari rebahan. Kulangkahkan kaki segera menghampiri sumur dan membersihkan badan. Setelah kewajiban-kewajiban kutunaikan, maka kisah ini segera kutulis dan sengaja kuselipkan. Kuharap kau mengerti arti jeda dalam pembuatan sebuah karya.

Bersambung....
Diubah oleh wowonwae


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di