CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sisi Hati yang terbagi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e455a0dc9518b730e3de0f8/sisi-hati-yang-terbagi

Sisi Hati yang terbagi

Story By: Nurlia Safitri

Sisi Hati yang terbagi

Prolog

Des, apa kamu mencintaiku?"

Destia terdiam. Wanita itu bingung harus menjawab apa. Degup jantung yang semakin kencang, membuatnya  tak bisa untuk berkata-kata.

Satu menit berlalu, kedua insan itu masih saja diam membisu dan saling bertatapan. Adam terlihat gelisah menunggu jawaban dari sang pujaan hati.

"Des ... tolong jawab! Apa kamu juga mencintaiku?" Adam kembali mengulangi pertanyaannya.

"Adam. Maaf, aku tak bisa menjawabnya. Aku ini wanita yang telah bersuami, tak pantas jika aku mencintai dan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Aku tidak ingin mengkhianati pernikahanku. Apalagi, suamiku adalah sahabat kamu. Di mana hati kamu, Dam?" jawab Destia sambil melepaskan tangan Adam dari wajahnya.

Adam tampak menghela napas panjang. Raut wajahnya terlihat sangat kecewa. Tak menyangka jika jawaban itulah yang keluar dari mulut Destia.

"Des, Mas Azmi itu, nggak pantes buat kamu. Dia itu bajingan! Asal kamu tau, sampai sekarang dia masih menjalin hubungan dengan selingkuhannya itu!" Adam berucap penuh dengan nada penekanan.

Destia hanya terdiam, sesaat sebelum buliran bening kembali mengalir di pipinya. Tak sepatah kata pun lagi yang keluar dari mulutnya. Hanya Isak tangis yang membuat hati Adam semakin teriris.

"Sayang ... beri aku kesempatan. Aku tidak main-main dengan perasaanku, ak---" Kalimat Adam terhenti karena Destia memotong ucapannya.

"Tolong kamu pulang sekarang! Aku mau sendiri!"

"Ta-tapi, Des."

"Aku bilang aku mau sendiri. Please ngertiin aku," ucap Destia masih dengan air mata yang berderai.

Adam mendekat, pria pemilik alis tebal dan bola mata indah itu kini terlihat berlutut di hadapan Destia. "Des, aku nggak bakal pulang sebelum kamu bilang, kamu juga mencintaiku," ucap Adam seraya menggenggam erat jemari Destia."

Destia terdiam, kali ini ia membiarkan Adam menggenggam jemari tangannya. Debar di dada kembali membuatnya lemah, wanita itu tak kuasa untuk bersuara.

"Des, kamu mencintaiku, 'kan?" tanya Adam dengan tatapan penuh cinta.

"Adam. Sekarang aku belum bisa menerima cintamu. Statusku masih istri Mas Azmi. Biar waktu yang menjawabnya. Bukankah kamu yang bilang biar semua mengalir seperti air? Aku tak mau jadi pengkhianat seperti Mas Azmi," jawab Destia sambil melepaskan genggaman tangan kekar itu.

Adam terlihat tersenyum, entah apa yang ia pikirkan. "Itu artinya kamu juga punya rasa yang sama denganku. Kalau itu alasan kamu, aku bakal nungguin kamu, Des. Aku janji." Adam kini berdiri dan kembali ke tempat duduknya.

Destia yang mendengar ucapan Adam, hanya bisa menghela napas. "Kamu pede banget, ya? Kapan aku bilang punya rasa yang sama denganmu?"

"Ya, iya lah. Karena hatimu aku pemiliknya, jadi aku tahu apa isinya." Adam menjawab sambil tersenyum manis dan membuat Destia tertawa geli. "Nah, ketawa gitu, 'kan makin cantik."

"Dasar, kamu, bisa aja jawabnya. Mending kamu pulang aja sekarang. Dari tadi bertamu, kok nggak pulang-pulang."

"Hmm ... tapi, kamu suka, kan?" ucap Adam dengan nada menggoda. Ya, udah, aku pamit, ya Sayang. Maaf telah membuat air matamu jatuh hari ini. Aku cuma, nggak mau kamu terus dibodohi suamimu." Destia tak menjawab, ia hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan sendu. Sementara Adam terlihat tersenyum lalu melangkah pergi.

.

Jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, Azmi belum juga pulang ke rumah. Membuat destia gelisah dan menaruh rasa curiga. Ia pun memutuskan menghubungi nomor suaminya.

Dengan rasa was-was, Destia menempelkan gawai di telinga kiri, seraya menunggu suara di seberang sana menyapa.

Nihil, tak ada jawaban dari Azmi. Wanita itu pun mencoba sekali lagi dan berharap kali ini Azmi mengangkat telepon darinya.

Berulang kali wanita itu menghubungi nomor yang sama. Namun, hasilnya tetap sama, tak ada jawaban. Membuat Destia benar-benar kecewa dan marah. Kini, wanita itu terlihat kembali berurai air mata.

Tiba-tiba ponsel Destia berbunyi, ternyata sebuah pesan masuk dari Azmi. Wanita itu pun dengan cepat meraih ponselnya lalu membaca isi pesan tersebut.

[Des. Maaf, Mas belum bisa pulang. Kerjaan masih numpuk dan harus siap malam ini juga]

Seusai membaca isi pesan itu, Destia seolah kehilangan keseimbangan diri. Hatinya sakit, seolah dicabik-cabik oleh ribuan pisau tajam. Dengan kesal dilemparkannya ponsel itu ke arah lantai, hingga benda itu hancur tak berbentuk.

"Kamu keterlaluan, Mas! Sudah cukup aku memberimu kesempatan! Hari sudah sangat malam dan kamu selalu beralasan lembur. Kamu jahat, Mas!" Destia mengoceh menumpahkan segala emosi yang membuncah dalam dada.

Akankah Destia akan berpaling dari Azmi dan menerima Adam sebagai cintanya? Atau selalu diam walau dikhianati?

Part_1


Pernikahan sejatinya bertujuan meraih kebahagiaan. Namun, apa yang terjadi jika pernikahan dijalani oleh insan yang belum siap berumah tangga.

Pernikahan dini, itulah jalan yang harus Destia jalani. Ia seorang gadis yang masih sangat muda. 18 tahun usianya kala itu dan masih duduk di bangku SMA. Pergaulan bebas membuatnya jatuh pada lubang yang salah dan membuat penyesalan tak berujung.

Jalan yang salah telah membuatnya jatuh terpuruk. Kubangan dosa yang tak semestinya ia jalani, telah memaksanya menjalani kisah hidup yang tak pernah ia impikan. Menikah memang impiannya, tapi tidak pada usia yang masih sangat dini.

Penyesalan memang selalu datang di kemudian hari. Andai malam itu, Destia tak mengiyakan ajakan Azmi--lelaki yang kini menjadi suaminya--berdua-duaan di tempat sepi, mungkin mereka tak akan kepergok warga dan dipaksa untuk menikah. Padahal, saat kepergok Destia dan Azmi tidak sedang berbuat apa-apa. Namun, warga yang tersulut emosi, tetap memaksa mereka menikah dengan alasan takut desa akan terkena sial, jika ke dua sejoli itu sampai berbuat zina.

Buliran bening tak henti membasahi pipi gadis cantik itu, saat ia resmi menjadi seorang istri. Kedua orang tuanya pun demikian. Terlebih sang ibu, guratan kecewa jelas terlihat di wajah tuanya. Hal itu tentu saja membuat hati Destia semakin hancur dan teramat merasa bersalah.

Destia tak begitu menyesal karena telah
menikah dengan Azmi, tapi teramat menyesal jika mengingat mimpi dan harapannya hancur sebelum mampu ia wujudkan. Kini hanya menjadi sebatas angan-angan yang tak mungkin akan ia genggam.

Kini, ia hanya berani bermimpi kecil, berharap Azmi--suaminya--bisa berperan menjadi imam yang baik untuknya.

Wanita itu kini genap berusia 20 tahun dan telah memiliki seorang putri. Azmi lah yang berkeinginan kuat segera memiliki anak, berbeda dengan Destia yang belum siap menjadi seorang ibu. Namun, demi membahagiakan suami, Destia akhirnya setuju dan tak menunda lebih lama lagi untuk memiliki momongan.

***

Hari bulan tahun terus bergulir. Tak terasa pernikahan yang di awali dengan keterpaksaan itu, kini telah memasuki usia enam tahun. Sang putri pun tumbuh sehat dan telah berusia empat tahun.

Berliku-liku jalan dalam berumah tangga telah Destia dan Azmi lalui. Mereka merajut bahtera cinta seindah mungkin. Namun, bukan rumah tangga namanya, jika tak ada rintangan dan ujian.

Usia Azmi yang hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Destia, nyatanya belum cukup dewasa untuk menjadi imam keluarga.

Azmi memang tipikal suami yang baik dan bertanggung jawab. Namun, sikap genit selalu melekat pada diri laki-laki itu. Usia pernikahan yang lumayan lama, tak dapat bertahan jika Destia tidak sabar dalam menghadapi sikap Azmi.

Tiga kali Azmi ketahuan berselingkuh, tapi Destia selalu memaafkan. Entah apa yang membuat wanita itu begitu sabar. Mungkin karena, Elsa--putri cantik sang malaikat kecilnya.

Secara ekonomi hidup Destia telah cukup. Namun, batinnya terlalu rapuh menghadapi sang suami. Destia tipikal wanita yang tak banyak bicara. Hal itu lah yang kadang membuat hubungannya dengan Azmi terasa dingin.

Terkadang rasa bosan selalu bergelayut di hati. Ingin rasanya ia berlari meninggalkan beban hidup yang sebenarnya tak mampu lagi ia pikul. Tapi, bagaimana dengan Elsa, bukankah putri kecil itu butuh dirinya. Jika ia memaksa berpisah dengan Azmi, bukankah Elsa masih butuh ke dua orang tuanya. Destia hanya bisa bersabar menunggu keajaiban. Berdoa dan berharap agar Azmi berubah menjadi imam yang ia harapkan.

Sore yang cerah, Azmi baru saja pulang dari kantor. Namun, ia tak sendiri, ada seorang pria tampan yang ikut bersamanya. Adam nama pria itu, teman satu kantor dan juga sahabat baik Azmi. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Namun, baru kali ini Adam bertamu ke rumah Azmi. Selain sibuk, pria itu adalah tipe orang yang tak suka kelayapan

"Assalamualaikum, Des." Azmi mengucap salam sambil mengetuk pintu rumahnya.

"Waalaikumsalam, Mas. Sebentar ...." Terdengar Destia menjawab salam itu dan tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka.

Mata bulat Destia sejenak menatap lurus ke arah Adam. Tatapan Destia pun mengusik hati Adam yang memang sedari tadi juga menatap lurus ke arah wanita cantik itu. Azmi yang melihat pemandangan itu pun langsung berdehem dan sontak membuat Destia kaget.

"Kamu, kok liat orang ampe bengong gitu, Des? Kamu udah kenal, ya sama temen Mas ini?" tanya Azmi dengan rasa penasaran.

"Em ... anu ... nggak, kok Mas. Aku, nggak kenal sama dia," jawab Destia dengan gugup. Adam yang melihat tingkah Destia terlihat tersenyum menahan tawa.

"Kamu kenapa, Dam? Kok senyum-senyum. Kamu udah kenal, ya sama istriku?" Kini Azmi bertanya pada Adam.

"Kenal bagaimana? Mas aja, nggak mau ngenalin ke aku," jawab Adam sambil melirik ke arah Destia.

"Hehehe ... kamu ini," ujar Azmi sambil menepuk bahu Adam. "Des, kenalin ini Adam. Teman Mas satu kantor dan sekaligus sahabat." Azmi memperkenalkan sahabatnya itu pada sang istri.

"Destia." Destia mengulurkan tangannya.

"Adam." Kini Adam menyambut tangan itu. Namun, di luar dugaan Destia, Adam mencubit telapak tangan Destia saat mereka bersalaman. Destia terkejut, tapi ia mencoba bersikap biasa-biasa saja.

"Ayo duduk, Dam. Ini lah rumah kami. Oh, ya kamu mau minum apa?" tanya Azmi pada Adam.

"Hmm ... apa aja, deh," jawab Adam sambil duduk di sofa.

"Ya, udah bentar aku bikin minum dulu, ya." Destia berlalu menuju dapur.

Saat Adam dan Azmi asyik mengobrol, tiba-tiba Elsa datang memeluk Azmi dari belakang.

"Ayah ...." Elsa berteriak sambil memeluk sang ayah.

"Eh, anak ayah. Tadi ayah pulang, kok nggak nyambut di pintu. Terus ini lagi main apa?" Azmi terlihat memangku gadis kecilnya itu.

"Tadi Elsa lagi main di kamar, jadi nggak dengar Ayah pulang. Maaf, ya Yah. Oh, iya ini siapa? Kok, Elsa nggak pernah liat?" tanya gadis kecil itu.

"Ini namanya, Om Adam. Temennya ayah kerja. Ayo Salim!" perintah Azmi pada Elsa.

Gadis kecil itu pun menyalami Adam dengan sopan. Azmi adalah seorang ayah yang memang sangat dekat dengan putrinya. Itu lah yang menjadi pertimbangan Destia untuk tidak mengakhiri rumah tangganya dengan Azmi.

"Ya udah, Elsa main ke kamar lagi, ya Yah." Azmi tampak mengangguk dan Elsa pun berlalu masuk ke kamarnya.

Destia keluar dengan dua buah gelas berisi sirup segar. Hari memang sudah sore, tapi cuaca masih sangat panas. Minuman dingin lah yang memang cocok disuguhkan.

"Terima kasih, Kak," ucap Adam. Destia tampak mengangguk.

"Istriku ini seumuran, lho sama kamu, Dam. Kenapa kamu panggil kakak?" ucap Azmi sambil tersenyum.

"Ya, aku tau, ka--" ucapan Adam terhenti karena Destia memotong ucapannya.

"Tau dari mana?" Destia bertanya dengan penuh rasa penasaran.

"Tau dari Mas Azmi lah. Kan, Mas Azmi banyak cerita tentang kamu, Kak," jawab Adam sambil terlihat serba salah.

Destia yang mendengar jawaban Adam tampak kaget. Tak menyangka jika suaminya bersikap demikian. Bukankah tak pantas menceritakan seorang istri pada orang lain, terlebih orang lain itu adalah seorang pria.

"Hehehe ... santai, Kak. Aku dan Mas Azmi itu bersahabat. Kami biasa cerita-cerita masalah pribadi. Nggak usah kaget," jelas Adam mencairkan suasana.

"Iya, Des. Kamu, nggak usah heran gitu. Lagian, nggak semua tentang kamu, Mas ceritain ke Adam. Mending sekarang kamu siapin makan malam. Mas mau mandi dulu," ucap Azmi sambil menyesap sirup yang masih tersisa di gelasnya. "Dam, kamu pulangnya ntar aja, ya. Kita makan-makan dulu," pinta Azmi pada Adam. Sementara Adam tampak mengangguk pelan.

Azmi pun berlalu dan menuju ke kamar mandi. Kini di ruangan itu hanya ada Adam dan Destia. Terlihat Adam berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Destia. Kini jarak antara Destia dan Adam sangat dekat. Destia terlihat serba salah sekaligus bingung dengan tingkah pria yang kini berada tepat di hadapannya.

Bersambung ....

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rahma.syndrome dan 16 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 5
cerbung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hugomaran dan 3 lainnya memberi reputasi

Part_2

Manik hitam milik Adam semakin tajam menatap Destia. Membuat wanita itu benar-benar merasa tidak nyaman. Benaknya pun sedari tadi menyimpan berbagai pertanyaan, kenapa pria itu sangat berani menatap dirinya sebegitu dekat.

Rasa geram pun mulai menjalari hati. Destia ternyata sangat risih melihat tingkah Adam.

"Jangan kurang ajar! Apa maksudmu menatapku begini? Jangan kamu pikir aku bakal diam aja, ya. Cukup yang tadi, kamu udah nggak sopan nyubit tangan aku!" Destia kini benar-benar tersulut emosi.

"Sstt! Jangan keras-keras! Aku, nggak mau suami kamu yang tukang selingkuh itu denger sebelum aku selesai bicara. Lagian aku, nggak maksud apa-apa. Aku cuma heran sama suami kamu. Istri secantik ini kenapa harus dia sia-siakan. Harusnya dia bisa menjaga hati kamu dan satu lagi, dia itu terlalu bodoh, ka--"

"Cukup! Sekarang kamu pulang! Kamu, nggak berhak mencampuri urusan rumah tangga kami. Kamu, nggak tahu apa-apa!" Destia benar-benar marah dan tak bisa lagi untuk menahan ucapannya.

"Kamu salah, Destia Agatha Prasetyo!"

"Dari mana kamu tahu nama lengkapku?"

"Dari suami kamu, lah. Itu makanya aku bilang dia bodoh, dia itu suami yang, nggak bisa jaga privasi istrinya. Makanya aku jadi penasaran sama kamu," jelas Adam dengan wajah tak bersalah.

"Apa maksudmu penasaran? Jangan tambah kurang ajar, ya. Kamu pikir aku bakal biarin kamu godain aku. Aku bakal bilang ke Mas Azmi!"

"Silahkan! Aku, nggak ada masalah, tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu tentang suamimu itu." Adam seolah mencari kelemahan Destia.

"Apa?" Destia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Yang pasti tentang rahasia suami kamu dan aku yakin kamu belum tau. Kalau kamu mau tau, kamu janji, nggak akan bilang semua ini pada Azmi. Aku bakal bantu kamu buat membuka mata kamu, kalau suamimu itu, nggak pantes buat kamu. Buat perempuan sebaik dan secantik kamu, Destia," bisik pria berbadan tegap itu, tepat di telinga Destia.

"Nggak, usah dekat-dekat! Kamu, nggak sedang mempermainkan aku, kan?" tanya Destia serius.

"Untuk apa aku mempermainkan kamu? Apalagi, aku terlanjur mencintaimu, Des! Sungguh!"

"Gila! Bagaimana mungkin kau bisa mencintaiku, kita aja baru kenal hari ini!"

"Hmm ... baiklah, jika kau ragu. Aku tau ini tak pantas, tapi ini dari hati. Suamimu banyak cerita tentang kamu, dan itu cukup untuk aku mengenal kamu. Jangan salahkan aku karena mencintaimu, semua di luar kuasaku." Adam bicara sambil menatap wanita muda di hadapannya. "Terus terang, aku benar-benar penasaran denganmu, makanya aku sempet-sempetin ke sini. Kasihan kamu, harus bertahan dengannya. Aku tau, kamu banyak terluka karenanya," ungkap Adam dengan pandangan masih lurus menatap Destia.

Destia hanya bergeming mendengar ucapan Adam. Tak ada lagi kata-kata yang bisa ia ucapkan. Air mata terlihat luruh dari kedua mata bulatnya, mungkin sudah sedari tadi sesak menghimpit dada.

"Usap air matamu, Des. Aku tak ingin melihat air mata itu jatuh lagi," ucap Adam sambil memberi sehelai tisu.

Destia pun dengan sigap mengambil tisu itu, ia juga tak mau Azmi melihatnya menangis, karena sepertinya sang suami telah selesai mandi. Ternyata wanita itu tak mau jika suaminya mengetahui apa yang baru saja terjadi.

Adam pun kini kembali pada posisi duduknya. Diambilnya gawai dan mulai memainkan benda pipih itu. Sementara Destia menuju dapur, wanita itu ingin menyiapkan makan malam untuk sang suami dan pastinya untuk tamu yang diam-diam telah mengusik hatinya.

Destia sampai di dapur. Ia membuka kulkas, mencari bahan makanan yang bisa ia masak. Pikiran wanita berpawakan tinggi itu sangat kacau. Benak bertanya-tanya rahasia Azmi yang mana yang belum diketahuinya.

Di sisi lain, ia juga takut Adam berbohong. Namun, entah kenapa hatinya lebih condong untuk mempercayai ucapan laki-laki itu.

"Des, udah siap masaknya." Tiba-tiba Azmi muncul dan membuat Destia terkejut.

"Eh, belum Mas. Sebentar lagi, udah lapar kali, ya Mas?"

"Nggak, cuma nanya. Soalnya Mas mau ke warung bentar, kamu ada yang mau dititip?" Azmi menawarkan.

Wajah Destia kini berubah merah. Rasa takut kembali menjalari hati. Takut jika Azmi pergi dan Adam akan mengganggunya lagi. Ia pun menawarkan diri, agar ia saja yang pergi ke warung.

"Mas, di rumah aja, biar aku yang ke warung. Kan, di rumah ada Adam."

"Kamu itu, nggak usah takut sama dia. Dia itu baik, nggak bakal macam-macam. Kalau dia berani macam-macam, Mas yang akan hajar dia," jawab Azmi sambil mengambil kunci motornya.

"T-tapi, Mas. Itu, nggak boleh. Masa aku serumah sama lelaki lain, aku ini istri kamu, Mas," ucap Destia, tapi Azmi tak menggubris. Laki-laki itu sama sekali tak mau mendengarkan istrinya.

"Dam, aku mau ke warung dulu, ya. Nggak lama, kok. Kamu kalau mau mandi minta aja handuk dan baju ganti sama, Kak Desti. Bajuku banyak, kok yang pas sama badan kamu," ucap Azmi sambil berlalu pergi.

Adam tersenyum lebar, entah apa yang dipikirkan pria itu. Wajahnya yang tampan terlihat sumringah dan beberapa kali ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.

Destia yang takut terjadi hal-hal yang tak ia inginkan. Akhirnya memutuskan mengunci diri di kamar mandi. Namun, belum sempat ia mengunci pintu, Adam terlebih dulu menahan pintu itu.

"Apa maumu, Dam. Tolong jangan di sini! Aku tak mau Elsa melihat semua ini," pinta Destia pada Adam.

"Aku, nggak mau apa-apain kamu, Des. Aku hanya ingin menatap wajahmu." Adam menahan pintu, perlahan tubuhnya sudah berhasil masuk ke dalam kamar mandi.

Kini, jarak Destia dan Adam benar-benar sangat dekat dan itu membuat wanita itu benar-benar takut. ia pun mencoba membuka pintu kamar mandi, tapi Adam terus menghalangi.

"Kau benar-benar sudah tak waras! Bagaimana kalau, Mas Azmi pulang dan melihat ini semua. Ayo keluar!"

"Aku tadi disuruh mandi sama dia. Suruh minta handuk dan baju sama kamu, ya aku di sini mau mandi." Adam menjawab dengan santainya.

"Minggir! Aku mau keluar! Jangan buat aku muak, ya!"

"Hmm ... yakin, kamu muak? Aku tu orangnya ngangenin, lho. Aku yakin, setelah ini kamu akan terbayang-bayang wajah tampanku ini. Hehehe ...."

"Dasar aneh!" Destia berhasil membuka pintu. Namun, saat wanita itu akan melangkah keluar dari kamar mandi, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah dapur.

Wanita itu pun mengurungkan niatnya untuk keluar, nyalinya benar-benar menciut. Entah apa yang akan terjadi jika pemilik langkah itu adalah Azmi.

Bersambung ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hugomaran dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh safitri28
Lihat 1 balasan
ijin membacaemoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
mawarkanca dan safitri28 memberi reputasi
nyimak dulu emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
mawarkanca dan safitri28 memberi reputasi
dan yang datang penjual french fries... kentang kentang....
ane ijin gelar tenda ya
profile-picture
profile-picture
safitri28 dan mawarkanca memberi reputasi
Nyimak doloe emoticon-Cool emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
safitri28 dan mawarkanca memberi reputasi
minyak emoticon-Bingung
profile-picture
safitri28 memberi reputasi
mantap
profile-picture
safitri28 memberi reputasi
Diubah oleh akhmadfauzi844
numpang rebahan dimari emoticon-Nyepi
profile-picture
profile-picture
safitri28 dan aljibo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
buset nyimak dl dah
profile-picture
safitri28 memberi reputasi
Sukak nih ceritanya seru 😍
profile-picture
safitri28 memberi reputasi
Balasan post bang.dot
Quote:


Beralaskan kardus atau koran..?
emoticon-Ngacir Tubrukan
profile-picture
bang.dot memberi reputasi
nyimak dulu dah
Quote:


Kek nya udh pengalaman gan. emoticon-Leh Uga
Lihat 1 balasan
Balasan post bang.dot
Quote:


Pernah dulu pas nonton layar tancep waktu kecil.. emoticon-Big Grin
emoticon-Ngacir
profile-picture
bang.dot memberi reputasi
Nunggu kang Nasgor dulu emoticon-Ngakak
Kmn saya hrs mencari part selanjutnya
profile-picture
safitri28 memberi reputasi
Quote:


Yakin ga salah nonton gan. emoticon-Leh Uga
profile-picture
aljibo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
nyimak dulu gan emoticon-Matabelo
profile-picture
safitri28 memberi reputasi
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di