CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[SFTH] KUMPULAN CERPEN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e44fd6588b3cb75493d8a6f/sfth-kumpulan-cerpen

[SFTH] KUMPULAN CERPEN

Berisi berbagai kisah baik romantis, horor, gore, berpadu dalam sebuah cerpen.


[SFTH] KUMPULAN CERPEN

Suka dan duka, tawa dan air mata, adalah suatu rasa yang melengkapi perjalanan hidup manusia.
Terkadang, rasa takut dan hampa ... juga turut andil dalam menjalani hidup ini.


Hallo, Gansis.

Sudah kenal ane, kan? Nah, kali ini ane buat cerpen nih. Sekadar mengungkap isi hati tentang segala yang terasa dalam hidup ini.
Tidak hanya bergenre romance, ane juga bakalan bikin cerpen bergenre horor, creepypasta, gore, thriller dan lainnya.
So, jangan sampai kelewatan ya sama cerita ane. Juga, jangan lupa kasih cendol sama bintang di cerita ane, ya. Komen dari Gansis juga ane tunggu, biar ane tahu harus bagaimana selanjutnya.
Dahlah, silakan menikmati cerita ane.


Candu Asmara di Akhir Tahun


Pemberitahuan pesan WA muncul di layar ponsel. Sebuah pesan dari Candu selalu membuat jantung berdegup kencang.

Tidak hanya saat membaca pesannya, saat mendengar suara bahkan menatap foto Candu pun, jantung ini tidak bisa berdetak normal seperti biasanya.

[Sudah siap, Vee?]

Tanyanya memastikan kesiapanku.

[Sudah, tinggal menunggu kamu jemput aja.]

[Baiklah, lima belas menit lagi aku sampai ke rumahmu.]
[Aku bersama Mbak Mella dan Putra.]

'Haruskah mereka ikut? Sedangkan aku hanya ingin berdua denganmu,' gumamku.

[Baiklah, aku tunggu.]

🌺🌺🌺

Lima belas menit yang ditunggu pun tiba. Tampak dua motor yang dikendarai Candu dan Putra, beriringan masuk ke halaman rumahku. Terlihat, sebuah tangan melingkar memeluk pinggang Candu dari belakang.

"Vee! Apa kabar?" tanya Mbak Mella yang langsung menghampiriku setelah turun dari motor.

"Baik, Mbak. Mbak Mella gimana?" tanyaku.

"Alhamdulillah, sehat."

"Bagaimana dengan kalian?" tanyaku kepada Candu dan Putra yang sudah ada di belakang Mbak Mella.

Candu dan Putra adalah sahabatku saat sekolah dulu. Bahkan sampai sekarang, persahabatan itu masih terjalin erat, meski kami selalu disibukkan dengan pekerjaan kami masing-masing di luar kota. Makanya, jika ada waktu kosong seperti ini, kami selalu memanfaatkannya untuk berkumpul.

Mbak Mella? Dia juga sahabatku. Kakak kelas yang baik, makanya kami nyaman bersahabatan dengannya.

"Baik," jawab Putra.

"Jangan tanya aku!" kata Candu, "aku ... selalu baik-baik, Sayang." Sambungnya.

"Cie yang mulai sayang-sayangan." Ledek Mbak Mella.

"Apa, sih?" kata Candu malu.

Candu ....

Ahhh, segera aku tepis perasaan ini. Mungkin dia seperti itu hanya untuk bermain-main saja. Tidak serius. Bukankah, pelukan tangan Mbak Mella tadi ... sudah membuktikan bahwa mereka adalah pasangan kekasih?

Cukup! Malam ini aku 'ambyar', dan harus memasang muka palsu dihadapan mereka bertiga.

"Ayolah, apa kita akan terus di sini? Sudah jam sepuluh malam. Alun-alun keburu penuh!" kataku kepada mereka.

"Baiklah! Ayo!" ajak Putra.

Hidup sendiri jauh dari orang tua yang berada di perantauan, membuatku bebas untuk keluar malam. Tapi tentu saja, aku juga harus bisa jaga diri dari pergaulan bebas anak-anak masa kini. Aku tidak mau membuat mereka malu karena perbuatanku.

Aku pun mengikuti Putra, meninggalkan Mbak Mella dan Candu berdua. Segera kusambar helm yang diacungkan Putra dan langsung memakainya.

"Kalian berdua? Ga jadi ikutkah?" tanyaku kepada Mbak Mella dan Candu, yang masih berdiri terpaku di depan pintu rumahku.

"Baiklah, ayo Mbak Mel!" ajak Candu, disambut dengan senyuman oleh Mbak Mella.

Oke, kali ini aku benar-benar cemburu. Melihat mereka berdua.

🌺🌺🌺

Dari jauh sudah terdengar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Via Valen yang berjudul 'Satu Hati Sampai Mati'. Sepintas, membuatku membayangkan, menyanyikan lagu itu untuk Candu.
....

Hanyalah dirimu kasih satu yang ku sayang
Takkan tergantikan
Semoga kau dan aku satu hati sampai mati
Setia tak terganti
Hanyalah dirimu kasih satu yang ku sayang
Takkan tergantikan
Semoga kau dan aku satu hati sampai mati
Setia tak terganti

....

Tidak terasa sudah satu jam perjalanan dari rumahku ke alun-alun Purworejo. Satu jam lebih lama dari malam biasanya.

Maklum, konser Via Vallen yang digelar Pemprov Purworejo dalam pesta akhir tahun ini, membuat macet kota yang memiliki sebuah tarian bernama 'Ndolalak' sebagai tarian tradisionalnya.

Meskipun demikian, pesta ini sukses digelar. Hingga seluruh warga tumpah-ruah di sini.

Aku tersenyum sendiri, membayangkannya. Sampai tidak terasa, jika motor yang aku naiki sudah berhenti di pintu masuk parkiran.

"Woyy, mudun! Ngopo kowe? Nglamun? Nglamunke sopo? Aku yo?" cecar Putra.

"Iya, iya. Bentar napa! Hilih, pede banget kowe!" sungutku.

Aku pun turun dari motor, menunggu Putra yang sedang memarkirkan motor. Tampak dari pintu parkiran tempatku berdiri, motor yang dikendarai Candu dan Mbak Mella, mendekat ke arahku.

"Kok baru sampai, sih?" tanyaku ke mereka.

"Hahaha, biasa. Candu naik motornya sambil dongeng. Makanya, lama," jawab Mbak Mella cekikikan.

"Pantes! Ehh, kita makan dulu, yuk! Bakmi jawa, gimana?"

"Favoritmu itu mah, Vee!" kata Candu.

"Tentu, dong ... kalian mau, kan?"

"Baiklah, buat dedek emeshku, apa sih yang nggak," kata Mbak Mella sambil mencubit pipiku.

"Aku parkir dulu, kalian ke warung itu duluan. Nanti aku susul, mau ke toilet bentaran," ucap Candu sambil menunjuk warung bakmi tak jauh dari tempat parkir.

Kami pun pergi meninggalkan Candu. Menuju sebuah tenda yang Candu tunjuk tadi. Tidak sedikit yang makan di warung ini. Bahkan meja yang mereka sediakan di dalam tenda pun sudah penuh dengan para pelanggan.

Beruntungnya, kami mendapatkan tempat di belakang tenda yang lesehan. Tepat di lapangan alun-alun dengan pemandangan konser Via Vallen.

Aku dan Mbak Mella pun duduk di atas tikar yang sudah disediakan pemilik warung. Sedangkan Putra memesan makanan. Jangan tanya Candu, dia masih tak terlihat. Entah, lagi bebel kali dia, makanya lama di toilet.

"Mbak Mell? Ini ...,"

Sebuah cincin bermata biru, melingkar di jari manisnya. Ahhh, aku sedih. Kesempatan untuk bersama Candu hilanglah sudah.

"Oh, ini. Iya, kami sudah tunangan. Makanya, kami mengajak kalian untuk keluar malam ini. Selain untuk merayakan tahun baru, kita juga merayakan pertunangan kami bulan lalu di akhir tahun ini. Insyaallah, satu bulan lagi kita akan menikah."

Seperti guntur di siang hari, hatiku hancur mendengar penjelasan dari Mbak Mella.

Setengah jam kemudian, Candu dan Putra pun menghampiri kami. Sebuah boneka beruang besar berwarna biru, dengan pita di lehernya, dibawa Candu dengan senyum malu-malu.

"Cie ... romantis banget, sih," kata Mbak Mella pada Candu.

Aku tersenyum mendengar ucapan Mbak Mella. Saat aku mencoba memalingkan muka agar rasa cemburuku tak terlihat oleh mereka.  Tiba-tiba saja, Candu melemparkan boneka itu tepat ke wajahku.

"Tuh, buat kamu! Kamu suka warna biru, kan?"

"I-ini?"

"Iya, itu buat kamu!" kata Candu lagi.

"Tapi, Mbak Mell?"

"Hai, emang kenapa denganku. Aku biasa aja kok. Iya, kan, Yang?" ucap Mbak Mella sambil mengulurkan tangannya, meraih tangan Putra yang sedari tadi tersenyum seperti orang bodoh.

"Kalian?"

"Iya, aku sudah bertunangan dengan Putra. Kami memang merencana ini untuk kamu. Kasihan Candu, terlalu lama memendam cinta sama kamu. Kamu, gimana?"

"Ahhh, Mbak Mell ...."

Aku tersipu malu, saat Candu duduk di sampingku. Digenggamnya jemariku, dalam jemarinya. Hingga membuat kupu-kupu di kepalaku terbang, dan merasakan sensasi merinding di tubuhku.

"I love you," bisiknya, tepat saat kembang api pertama meletus di langit malam kota Purworejo dan semangkok bakmi terhidang di meja.

Ahh, akhir tahun yang sangat menggembirakan.

Tamat



Indeks Cerpen Lainnya

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rahma.syndrome dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh elveera
Eaaaa sweet ❤❤
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan elveera memberi reputasi
Quote:


Icik-icik ehemz, romance pertamaku ini. 🤣
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan DiNa853 memberi reputasi
Quote:


Keren nih, biasanya ngegore 😁
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan elveera memberi reputasi
Quote:


Keluar dari zona nyaman dulu, besok nge-gore lagi. 🤣😂
profile-picture
DiNa853 memberi reputasi
Quote:



emoticon-Ngakak woke, sis emoticon-Jempol
profile-picture
elveera memberi reputasi
Sweetnyaaaa....
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan elveera memberi reputasi
Quote:


Ihirrrr ....
profile-picture
wiispica memberi reputasi
Aku mampiroh, Jan suruh Tarno datengin akuh yaa 😖
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan 2 lainnya memberi reputasi
Warna kesukaannya sama kek ane warna biru (kagak ada yang nanyaemoticon-Hammer2emoticon-Ngakak)
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan elveera memberi reputasi
Quote:


emoticon-Wakaka iye, ntar aku bilang deh ke Tarno.🤣
profile-picture
novaarlisanty memberi reputasi
Quote:


Kan warna kesukaanku juga 😌
profile-picture
wiispica memberi reputasi
Terima kasih sudah mampir, Sis. 😍😍😍
Love untuk klean. ❤️❤️❤️
Quote:


Yeaayy...samaan kita ternyataahh
profile-picture
elveera memberi reputasi
He is My Mine

Dominic, seorang artis tampan yang selalu lalu lalang di layar televisi. Lelaki gagah bermata hitam itu, telah membuatku jatuh hati pada pesona yang dia miliki.

'Kekasihku.'

Tulisku di sebuah status WA bersamaan dengan foto Dom. Bukan hanya embel-embel fans yang jatuh cinta pada artis pujaannya. Tetapi, benar adanya. Dia memang kekasihku.

Sudah dua tahun ini aku menjalin hubungan dengannya secara diam-diam. Maklum, sebagai artis papan atas dia tidak ingin kisah percintaannya terekspos di media.

Begitupun denganku. Pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, selalu membuatku untuk senantiasa waspada kepada orang-orang yang anggota keluarganya aku bunuh.

Tidak sembarang aku dan Sela—anak angkatku menerima klien untuk membunuh seseorang. Kami hanya menerima pekerjaan, jika korban atau target kami adalah seorang penghianat. Terutama penghianat cinta.

[No, Mom! He is my mine!]

Sebuah pesan dari Sela masuk ke gawaiku.

[Punyamu? Sejak kapan?] tanyaku membalas pesannya.

[Sejak Dom mengungkapkan cintanya padaku, Mom!]

Ahh, mungkin dia hanya seperti fans Dom yang lain. Tidak rela jika artis kesayangannya dimiliki oleh orang lain.

[Wow! Selamat, ya.]

[No,Mom! Sela serius!] katanya, sambil mengirimkan foto dan videonya bersama Dom saat berada di dalam salah satu hotel di New York.

What the fuck!

Bagaimana mungkin, Dom menghianatiku padahal dia tahu, bahwa Sela adalah anak angkatku.

Aku membanting gawai ke atas kasur, dan mengumpat perbuatan Dom kepada Sela.

Ah, dasar lelaki! Mereka setan yang berkedok sebagai manusia.

Kuambil gawai yang kulempar tadi, dan mengirimkan pesan balasan ke Sela.

[Sejak kapan?] tanyaku memastikan.

[Satu tahun lalu, kami bertemu di Brooklyn Bridge. Saat dia syuting di sana. Kepalanya yang botak terlihat macho dan seksi, kriteria yang pas untuk dijadikan suami.]

[Baiklah, mommy akan mengundangnya besok, di acara ulang tahunmu,] ucapku kepada Sela.

[Oke, Mom! I will come to your house later,] jawabnya sok-sokan pakai bahasa Inggris.

***

Houston, kota kecil cocok sebagai tempat persembunyian seorang pembunuh sepertiku, dan tempat sebagai menyepi dari penatnya kesibukan di New York seperti Dom.

Suara letusan menggema di sebuah ruangan, seorang laki-laki berkepala botak jatuh tersungkur dengan luka tembak di kepalanya.

'Berhasil!' gumamku sambil merapikan SPR 2 di tanganku.

Seseorang menginginkan kematiannya karena telah berhianat.
Beruntunglah aku, dia sedang liburan di sini. Hingga, dengan mudah aku menghabisinya.

Ah, makan enak nanti malam.
Bukannya Sela menyukai cowok botak?

Ya, kami suka makan daging. Terutama daging seorang penghianat.

***
"Mommy, i'am coming!" sapa Sela.

"Mommy di dapur, Emesh!"

Aku merasakan pelukan Sela dari belakang. Biasanya Dominic yang selalu memeluk seperti ini. Tak jarang embusan napasnya yang hangat, terasa di tengkukku, dan berakhir dengan kegiatan yang menguras tenaga kami.

Sial! Aku merindukan laki-laki brengsek itu!

"Mommy masak apa?" tanyanya.

"Kesukaanmu, daging rendang dari penghianat."

"Siapa kali ini yang berhianat? Cewek atau cowok, Mom?"

"Cowok, dia kriteriamu."

"Wow, sayang dia penghianat. Lamaan masaknya, Mom! Nanti alot lagi!" katanya sambil mengaduk rendang. "Mom, lihat! Bola mata, aku suka!" katanya saat mendapatkan sepasang bola mata di dalam wajan.

"Kamu suka? Oya, mommy sudah pisahin kepala orang itu di panci satunya. Sop otak spesial untukmu!" jelasku.

Kami pun duduk di meja makan, setelah ritual memasak selesai.

"Happy birthday, Sayang," ucapku sambil menyodorkan nasi tumpeng dengan rendang daging yang mengelilinginya.

"Makasih, Mom," tutur Sela sambil mengambil sepiring nasi tumpeng dan lauknya, dan mulai melahapnya. "Masakanmu memang luar biasa, Mom! Aku ambil kepalanya, ya!" Sela pun berlalu ke dapur.

Suara tutup panci jatuh terdengar Cumiakkan telinga, tanpa bertanya terlebih dahulu dia datang menghampiriku dengan membawa sebilah pisau.

"Ma–u apa ka–mu, Sel?"

"Kamu tega membunuh Dom kekasihku, Mom! Aku pun tega untuk membalasnya, aku akan membuat rendang dari dagingmu!"

"Tunggu du–"

Belum sempat aku menjelaskan, dia pun berlari dan langsung mengacungkan pisau hendak menusukku. Andai saja aku telat menghindar, mungkin pisau itu sudah tertancap di dadaku.

Aku pun berlari ke arah nakas yang berada tidak jauh dari meja makan. Segera, aku ambil sebuah 'makarov' di laci nakas itu untuk melawan Sela.

"Terlalu lamban, Sayang. Lebih cepat lagi jika kamu ingin membunuhku!" ucapku sambil mengacungkan makarov.
"Argh!" teriakku saat ada sesuatu yang menembus lengan kanan, sesaat setelah suara tembakan terdengar di ruangan ini. Makarov yang kubawa pun terjatuh, tetesan darah mulai mengotori lantai.

"D–Dom?" ucapku saat melihat dia di depan pintu dan melangkah menghampiri Sela.

"Aku tidak akan rela jika kekasihku kamu bunuh!" ucap Dom sambil mencium Sela.

"Bagaimana dengan hubungan kita?"

"Bullshit! Kamu hanya mainanku saja." Sakit, itu yang kurasa saat mendengar penuturannya.

"Mom?" tanya Sela.

"Ya, mommy sudah dua tahun menjalin hubungan dengannya. Kemarin, kamu bilang kamu menyukainya, mommy rela. Mommy hanya ingin kamu bahagia, terutama di hari ulang tahunmu ini."

"Terus daging yang kita makan?"

"Dia target pekerjaan mommy. Beruntungnya, dia laki-laki sesuai dengan kriteria kesukaanmu, Sayang!" Aku pun menjelaskan semua kepada Sela. "Bagaimanapun, mommy sayang kamu!" ucapku meyakinkan.

"Akan tetapi, aku lebih sayang Sela daripada kamu, Vee!" ucap Dom.
"Arghhh!" teriak Dom tiba-tiba.

Sebilah pisau menancap di dada kiri Dom.

"Se–Sela?" ucapku tak percaya saat dia yang melakukannya. Sesekali, diputarnya pisau itu dan ditarik kemudian ditusukkannya lagi.

"Maafkan aku, Dom! Aku tidak bisa bersama dengan seorang penghianat sepertimu. Bagaimanapun, aku juga sayang Mommy," ujar Sela.

Dia pun berlari menghampiriku, setelah memastikan nyawa Dom sudah terlepas dari raganya.

"Mom, maafkan Sela. Aku sayang, Mom!" Dia memelukku, air matanya basah mengenai bahuku.

"Tapi mom mencintai Dom, maafkan mommy, Sayang!"

Aku pun mengambil makarov yang terjatuh tadi, dan mengacungkannya tepat ke kepala Sela.

"Mom ... tidak!" teriaknya bersamaan dengan sebuah timah panas menembus kepalanya.

End
profile-picture
wiispica memberi reputasi
Baca ini sambil bayangin Om Dominic emoticon-Ngakak
profile-picture
elveera memberi reputasi
Quote:


😁😁😁 Saking anunya aku sama dia
keren pake banget sis
profile-picture
elveera memberi reputasi
Quote:


Huwooo, terima kasih, Sis. 😘
sweet nya, tumben ganre romantis 😀.
Quote:


Bilang apa? Bilang kalau aku mau dibelikan skuter yang pakek lampu2 emoticon-Betty


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di