CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas) [Kumpulan Cerpen dan Cerbung
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e442952f4d6950db037ed58/unexpected-love-cinta-tidak-mengenal-batas-kumpulan-cerpen-dan-cerbung

Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas) [Cerbung]

Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas) [Kumpulan Cerpen dan Cerbung

Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas) PART 1

“Kamu mau dimana?” tanyanya di ujung telepon.

“Aku mau cari barang dulu, daripada bengong aku cari barang,”' jawabku.

“Tunggu situ, aku ke situ,” perintahnya lagi. Maunya apa sih ini orang tiba-tiba main perintah begitu saja?

“Kamu bukannya temui aku, kenapa enggak temuin aku?” Dia sedikit marah padaku dengan suara sedikit tersengal karena berlari menyusulku.

“Lah, ngapain? Kamu kan lagi di booth kamu, aku enggak mau ganggu lah, kamu kerja ya kerja aja.” Aku heran ini orang kenapa ya? Aku tidak minta dia temani. Aku ke lokasi pameran hanya kebetulan lewat dan karena ada dia di sana.

“Enggak apa, kamu samperin aja, nanti aku temani kamu mau kemana? Nanti kalau kamu hilang gimana?” Dia kembali nyercos nggak jelas, anak ini keras kepala rupanya. Emangnya aku bocah ingusan yang tidak bisa pulang sendiri? Toh tadi juga aku ke lokasi pameran juga sendirian.

“Emang aku anak kecil? Kamu posesif banget sih? Emang kita pacaran?” Nada suaraku meninggi, sudah kesal dan lapar diomelin pula sama dia.

“Kalau sudah deket begini tandanya apa? Ya lanjutin lah!” Ara menarik tanganku keuar lokasi pameran.

Aku tersentak kaget, tak menyangka Ara berbicara begitu. Aku hanya diam. Hall pameran itu begitu ramai aku bingung mau berbuat apa. Ara tiba-tiba menggandengku menuju coffee shop yang ada di dekat lokasi pameran tersebut.

“Nda, aku serius loh tadi ngomong gitu ke kamu,” ujarnya seraya menyesap kopinya.

Aku hanya diam sambil mengunyah croissant yang penuh menjejali mulutku. Aku acuh tak acuh menanggapi omongan Ara. Teman SMP ku itu memang suka ajaib. Lama tidak ada kabar tiba-tiba dia menghubungiku lewat pesan langsung Instagram. Kami berhubungan lagi sejak itu dan sekarang dia mengajakku untuk mengunjungi pameran komunitas Bar dan Kedai Kopi.

Ara, dengan profesinya yang kutahu kritikusi kuliner masa iya tiba-tiba mau ajak aku pacaran?

Ini bukan hal mudah mengingat dunia kami berbeda sangat jauh. Karakter kami berbeda sangat jauh. Aku tidak yakin Ara sanggup berubah untuk masuk ke duniaku. Dia harus menanggalkan profesinya, mengubah kebiasaannya, bahkan mungkin mengganti lingkaran pertemanannya.

“Maksud kamu apa sih?” aku menatapnya heran. Suatu hal yang aneh mengetahui Ara menyukai orang seperti aku. Aku bukan tipenya, berada di lingkaran hidupnya juga enggak.

“Ya maksudku aku ingin memilih kamu menjadi pendampingku,” tukasnya tidak mau menyerah dengan penolakanku.

“Kalau soal hubungan cinta, aku enggak bisa main-main Ra, aku enggak bisa pacaran hahahihi kaya kamu dengan yang lainnya,” tegasku sekali lagi.

“Aku dengan yang lain gimana? Aku nggak pacaran sama siapa-siapa,” tegasnya.

Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Ara. Apa yang dia mau? Ara dan aku, kita berbeda dunia.

[Bersambung]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ningka dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh hannyharini
Halaman 1 dari 3

Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas) [Cerbung] Part II

Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas) [Kumpulan Cerpen dan Cerbung

[Nda, lagi dimana?]

[Kampus]

[Aku ke sana, tunggu 15menit ya]

Pesan dari Ara membuyarkan konsentrasiku dalam menyelesaikan laporan dan koreksi ujian mahasiswaku. Tumben-tumbenan dia mau meluncur ke tempatku hanya dalam 15 menit.

Lagi-lagi Ara membuatku keheranan dan bertanya-tanya.

"Maunya dia apa sih?" Pertanyaan itu kembali mengusik pikiranku sejak kejadian pameran itu.

Kuacuhkan pesan darinya dan kembali berkutat dengan pekerjaannku. Bu Kajur sudah ngomel-ngomel laporan jurusan telat semua. Namun, disela kesibukanku, aku masih tidak habis pikir, Ara barangkali ingin mempermainkanku. Hidup sebagai bartender dan konsultan kuliner, bergaul dengan anak populer jelas aku tidak akan bisa dan mau masuk dunianya. Memang Ara yakin mau denganku? Anak semacam dia? Denganku? Ah pasti dia main-main saja denganku.

“Bu Nanda, ada yang cari ibu,” ucap seorang officeboy pada ku.

Aku bergegas keluar ruang jurusan untuk menemuinya. Ara sudah duduk di ruang tunggu dengan setelan hitam-hitamnya. Entah dia punya baju lain atau tidak tapi aku tidak pernah melihat dia mengenakan warna selain warna monokrom. Hitam, putih, dan tidak tahu lagi, tidak pernah kulihat Ara mengenakan baju warna cerah atau barangkali aku tidak memperhatikannya, kami baru bertemu 1-2 kali dan hari ini yang ketiga kalau tidak salah.

“Jadi kamu ke sini? Kirain main-main aja,” aku masih acuh tak acuh terhadap sikapnya.

“Kan aku sudah bilang lima belas menit, maaf terlambat sepuluh menit. Kamu sudah mau pulang?” tanyanya tidak mempedulikan keacuhanku.

“Aku harus beresin berkas dulu baru pulang,” jawabku asal.

“Ya udah aku tunggu sini ya,”jawabnya.

Eh gila juga ini orang kupikir dia akan marah dan meninggalkanku, tapi dia bersedia untuk menungguku.

Lima belas menit berlalu, aku masih mendapatinya duduk di ruang tunggu tertidur. Kalau dilihat, Ara sebenarnya cukup tampan dan berwajah teduh. Diam-diam aku menaruh simpati padanya, tapi lagi-lagi kutepiskan rasa itu, mana mungkin Ara mau pada duniaku yang monoton ini.

Kusentuh bahunya yang bidang pelan, dia terbangun. Wajahnya terlihat sedikit lelah namun tetap menyisakan ketampanan khas dirinya. Ah Ara, kegigihanmu jangan sampai membuatku jatuh cinta beneran.

“Kamu sudah selesai? Ayo pulang,” sahutnya masih dalam kondisi mengantuk.

Sebelum beranjak aku menahan tangannya untuk tetap duduk.

“Ra, ini maksudnya apa sih?” aku tetap penasaran pada sikapnya selama ini.

Aku tidak mau berharap banyak dengan hubungan ini. Aku takut berharap dengan orang macam dia.

“Maksudnya apa?” apa benar Ara bertanya atau hanya pura-pura bertanya? Aku tidak tahu.

“Ya sikap kamu ini. Kamu dekati aku, kamu jemput aku, antar aku pulang. Sebelum reuni itu kan kita nggak kaya gini,” tegasku padanya. Pokoknya aku tidak suka ada lelaki mempermainkan perasaanku. Suka atau tidak, lanjut atau sekalian selesai. Aku mau sesuatu yang pasti bukan main-main.

“Aku sudah lama melihat postingan media sosialmu. Aku tertarik mengikuti keseharianmu. Aku enggak tahu apa yang membuatku semakin penasaran terhadapmu. Kamu selalu membalas chat ku dan kita selalu akrab bercanda. Aku suka. Saat kita bertemu di reuni, mendengar cerita keseharianmu, aku semakin tertarik ingin mendekatimu,” jelas Ara.

“Sesimpel itu?” tanyaku tidak percaya.

“Kamu mau alasan apa lagi? Emang mau aku ada-ada? Emang kenapa sih kamu tanya gitu? Enggak percaya sama aku?” Kulihat wajah Ara berubah serius dan nampaknya sedikit kesal. Barangkali sebenarnya dia tidak suka aku tanya hal demikian.

“Nggak," jawabku singkat. Harga diriku harus kupertahankan. Aku tidak mau dicap sebagai perempuan gampangan.

Ara tidak membalas pernyataanku, dia langsung menggandeng tanganku mengajak pulang.

Sejak saat itu Ara bukannya menjauh malah semakin mendekatiku. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menegaskan hubungan ini segera.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hidashofie dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh hannyharini

Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas)

profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh hannyharini

Unexpected Love (Cinta Tidak Mengenal Batas) [Cerbung] Part III

“Ra, aku enggak mau dipermainkan loh ya. Aku enggak bisa kalau kamu hanya mau pacar-pacaran gitu aja. Kalau kamu hanya sekedar penasaran, lebih baik simpan penasaranmu. Kamu enggak perlu temui aku lagi,” tegasku.

Kami sedang berada di mobil, Ara mengajakku untuk mendampinginya mengurus acara. Dia bilang, supaya aku tahu pekerjaan dia yang sebenarnya.

Aku memperhatikan bagaimana dia mengatur timnya dan berbincang dengan kliennya dari kejauhan. Dia sangat berwibawa dan ramah pada semua orang. Aku semakin mengaguminya. Ah! Masa hanya karena itu aku mau jatuh ke dalam rayuannya?

“Aku harus gimana biar kamu percaya sama aku? Kamu enggak percayanya di bagian mana? Coba jelasin ke aku,” Ara menatapku heran. Aku pun bingung menjelaskannya, aku takut membuatnya tersinggung tapi aku juga tidak mau membiarkan dilema ini terus menyelimuti pikiranku

“Kita berada di dunia yang berbeda, aku takut aku jauh berharap lalu sakit hati,” batinku menjerit ingin sekali mengatakan hal itu kepadanya.

Aku terdiam dan suasana kembali hening. Tanpa sadar aku jatuh tertidur. Aku terbangun saat Ara menghentikan mobilnya di sebuah parkiran masjid.

“Ayo salat dulu!” ajaknya.

Aku menatapnya heran, merupakan hal yang cukup mengherankan seorang macam Ara bisa ingat salat.

“Kamu nggak salat?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Lagi nggak,” jawabku masih sekenanya menyembunyikan keherananku.

Sepuluh menit berlalu, kulihat Ara dari tangga masjid memasang sepatunya, badannya semampai dengan potongan rambut rapi sedikit jabrik membuatku tanpa sadar mengulum senyum sendiri.

Kini Ara kembali ke mobil bersiap untuk jalan, namun dia tidak lantas menjalankan mobilnya. Dia duduk menantap kaca depan mobil seraya berkata “Nda, kamu mungkin berpikir selama ini aku begajulan, akrab dengan dunia malam, berteman dengan anak gaul kenapa aku memilih kamu, iya kan?”

Aku hanya mengangguk pelan merasa malu perasaan dan pikiranku akhirnya ketebak juga olehnya.

“Nda, itu hanya pekerjaanku. Aku ini konsultan bisnis kuliner, nggak cuma restoran yang aku tangani tapi juga bar, kelab, dan lain-lain. Aku memang dulu seorang bartender tapi sekarang aku sudah pensiun. Aku hanya bekerja di belakang layar. Maaf mungkin aku masih merokok saat ini tapi aku sedang berusaha untuk berhenti, aku akan melepas piercing ku bila itu mengganggumu,” Ara menjelaskan panjang lebar kepadaku dengan nada cukup meyakinkan namun entah kenapa aku masih sangat ragu dengannya.

“Untuk apa kamu melakukan itu semua?” Aku tetap tidak bisa mempercayainya.

“Aku ingin hidup bersamamu.” Singkat jelas padat Ara memberikan pernyataannya.


[Bersambung]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ningka dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh hannyharini
Lihat 1 balasan
bantu sundul ya gan
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Mau dikomenin apa, neh?😌
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan 2 lainnya memberi reputasi
sundul
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Udah Ane sundul, Sis, awas mentalemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan 2 lainnya memberi reputasi
Lanjut ga gan?
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Diubah oleh hannyharini
Keren nih, penasaran sama ceritanya
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan hannyharini memberi reputasi
Quote:


Ini part II nya gan...

Lanjutin ga?
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Jiah... Kentang nih aing... Mana lanjutannya gan?
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan hannyharini memberi reputasi
Quote:


Lanjottttttt!!!emoticon-Betty emoticon-Betty
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Kentang ternyata


emoticon-sad
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan hannyharini memberi reputasi
lanjooooottt
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan hannyharini memberi reputasi
Quote:


Siap...tungguin ya...senin ane post...weekend nih sist bebenah dulu...hehehe
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Siap...tungguin ya...senin ane post...weekend nih sist bebenah dulu...hehehe
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Siap...tungguin ya...senin ane post...weekend nih gan bebenah dulu...hehehe
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Ditunggu, sambil nyiapin cemilan
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan hannyharini memberi reputasi
Quote:


Maantab...bagi dong...hehrhehe
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
ntar dibagi kalau udah ngethread lagi
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di