CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Iman Yang Kalkulatif
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e43d18f2525c3727851b66e/iman-yang-kalkulatif

Iman Yang Kalkulatif

Iman Yang Kalkulatif

Selamat membaca para pembaca yang beriman. Sudahkah kalian bersyukur karena masih diberi kesempatan bernafas? Wasekkk, kenapa tulisan saya berubah haluan begini, wkwkwk. Seperti biasa, saya ingin berbagi hal yang ada dipikiran saya yang random ini, dan kebetulan ini agak berbau serius.

Saya yakin agan sista yang sedang membaca ini adalah orang-orang yang sangat beruntung, sebab agan sista lolos dari kiamat 2012. Bercanda. Tapi dulu isu kiamat 2012 memang begitu santer diberitakan, biasanya tanggal cantik disambut dengan banyaknya orang menikah, tapi ini malah diramalkan kiamat.


Iman Yang Kalkulatif

Isu ini mulai ramai diperbincangkan sekitar tahun 2009. Saya yang saat itu berusia 11 tahun, mempunyai kesimpulan bahwa masih ada sekitar 3 tahun lagi menuju kiamat. Bener dong, 2012-2009=3, alias 3 tahun. Ah, santai masih lama kok, tapi masih tetap kepikiran dong.

Berdasarkan perjalanan spiritual saya ngaji di TPA dan membaca buku agama, saya pernah mendengar/membaca bahwa amal baik/buruk seseorang itu mulai dicatat saat seseorang berusia 10 tahun. Lalu dengan semua data tersebut, saya yang saat itu masih polos mempunyai kesimpulan yang sangan brilian.

Begini kurang lebihnya ”Saat ini saya berusia 11 tahun, amal baik/buruk mulai dihitung di usia 10 tahun. Berarti sudah 1 tahun saya punya banyak dosa, karena jarang sholat dan sering berbuat buruk. Kiamat 3 tahun lagi. Berarti masih ada 3 tahun untuk beribadah dan beramal baik. Eh, tapi kayaknya kok berat 3 tahun harus full beribadah dan beramal baik. AHA!!! Kenapa gak 50:50 aja, jadi saya tetap berdosa 1 tahun lagi, setelah itu baru full beribadah & beramal baik”

Bagaimana? Sungguh culas, bukan? Wkwkwk. Maklum, masih anak-anak. Tapi endingnya saya tetap saja jarang beribadah.

10 tahun berlalu, ada satu lagi hal lagi yang juga mengusik pikiran saya. Sholat jumat. Tidak, bukan Sholat Jumatnya yang ingin saya bicarakan, namun kebiasaan/budaya yang bersanding dengan sholat jumat. Jika di masjid kampung saya dulu abis sholat, wirid bersama, lalu pulang. Di masjid dekat saya bekerja ada acara bagi-bagi makanan bagi para jamaah.


Iman Yang Kalkulatif

Bagi saya ini adalah sesuatu yang baru. Biasanya di masjid/mushola kampung hidangan hanya ada saat ramadhan saja, saat tadarus Al-Quran di malam hari. Selain itu juga saat malam pertama ramadhan, malam takbiran, maulid nabi dll. Itu pun formatnya setiap jamaah bawa sendiri, lalu saling tukar dengan jamaah lain.

Saya jadi berpikir, apakah saya dan jamaah lain memang ikhlas sholat jumat? Atau karena ada makanan yang dibagikan? Saya merasa bahwa saya sudah ikhlas berangkat ke masjid untuk sholat, tapi kadang saat mendengar suara anak kecil berlarian keluar masjid setelah salam, terbersit pikiran “Dasar anaka-anak! Kira-kira masih kebagian nggk nih gw” wkwkwkwk.

Tapi begitulah, rasa pamrih memang susah untuk dihindari. Bahkan untuk urusan iman sekalipun. Terkadang kita hitung-hitungan saat beribadah ‘sudah beribadah tapi kok hidup tetep gini-gini aja’, ‘dia jarang ibadah kok hidupnya lebih enak dari gw’. Kita sering membandingkan apa yang telah kita lakukan untuk Tuhan dan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sebagai imbalannya. Semoga perlahan kita semua bisa meninggalkan iman yang kalkulatif itu, dan bisa beribadah kepada Tuhan dengan ikhlas.


Iman Yang Kalkulatif

FYI, yang saya bagikan ini adalah sudut pandang saya sebagai muslim. Juga hal dalam Islam yang saya ketahui dan saya pahami. Jika ada kesalahan monggo dikoreksi, dan bagi agan sista dari agama lain monggo share pengalaman yang sebenarnya agak saru ini, wkwkwk.


KEEP READ AND SOUND




SOURCE
PIC 1
PIC 2
PIC 3
PIC 4


Diubah oleh anggorofff
hmmm komen apa yaah... nda tau emoticon-Hammer (S)
Lihat 1 balasan
Balasan post epopolocroia
Quote:


nah itu komen apa nda tau emoticon-Traveller


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di