CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Bos The Fed 'Tolak' Pangkas Bunga Acuan, Asing Keluar RI?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e43b698af7e932414448eb3/bos-the-fed-tolak-pangkas-bunga-acuan-asing-keluar-ri

Bos The Fed 'Tolak' Pangkas Bunga Acuan, Asing Keluar RI?

Bos The Fed 'Tolak' Pangkas Bunga Acuan, Asing Keluar RI?

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu momen yang ditunggu pelaku pasar keuangan dunia akhirnya tiba juga.

Kemarin, Selasa (11/2/2020), Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memberikan paparan terkait laporan kebijakan moneter semi-tahunan di hadapan anggota DPR AS. Pada hari ini, Rabu (12/2/2020), Powell akan memberikan paparan terkait hal yang sama di hadapan anggota Senat AS.

Melalui paparan tersebut, didapati kisi-kisi dari Powell terkait dengan arah kebijakan moneter di masa depan. Belum lama ini The Fed memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuan di rentang 1,5%-1,75%.


Sebagai catatan, di sepanjang tahun 2019 The Fed memangkas tingkat suku bunga acuan sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 25 bps, yakni pada bulan Juli, September, dan Oktober. Jika ditotal, federal funds rate sudah dipangkas sebesar 75 bps oleh Powell dan koleganya di bank sentral.

Perang dagang AS-China, perlambatan ekonomi global, dan inflasi yang rendah menjadi faktor yang membuat The Fed memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 75 bps tersebut.

Sebelum Powell memberikan paparannya di hadapan anggota DPR, pelaku pasar berharap bahwa The Fed akan kembali memangkas tingkat suku bunga acuan di tahun 2020.

Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan harga kontrak fed fund futures per 10 Februari 2020, probabilitas bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps pada tahun ini berada di level 33,6%.

Lebih lanjut, probabilitas bahwa tingkat suku bunga acuan akan dipangkas sebesar 50 bps dan 75 bps masing-masing berada di level 30,6% dan 15,1%.

Namun ternyata, ekspektasi tersebut ditepis oleh Powell. Di hadapan anggota DPR AS, Powell menyebut bahwa ketidakpastian di bidang perdagangan, terutama terkait dengan perang dagang AS-China, telah berkurang.

Dalam paparannya, Powell juga menjabarkan pandangan bank sentral terkait dengan terus meluasnya infeksi virus Corona. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Melansir publikasi Johns Hopkins, hingga kini setidaknya sebanyak 28 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir CNBC International, hingga kemarin sebanyak 1.113 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 44.000.

Melansir publikasi Johns Hopkins, di AS sendiri hingga kini terdapat 13 kasus infeksi virus Corona.

Menanggapi terus meluasnya infeksi virus Corona, Powell menyebut bahwa pihaknya memantau dengan ketat dampak dari virus tersebut terhadap perekonomian China dan global.

Terlepas dari adanya ancaman yang datang dari terus meluasnya infeksi virus Corona, Powell mengatakan bahwa kebijakan moneter The Fed saat ini telah berada di posisi yang tepat pasca serangkaian pemangkasan tingkat suku bunga acuan di sepanjang tahun 2019.

"Selama informasi yang akan datang terkait dengan perekonomian secara umum tetap konsisten dengan proyeksi, posisi kebijakan moneter saat ini kemungkinan akan tetap layak dipertahankan," kata Powell di hadapan anggota DPR AS, seperti dikutip dari CNBC International.

Saat ini, pertumbuhan ekonomi AS dipandang berada di level yang moderat, sementara faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi konsumsi rumah tangga masih solid.

Lantas, paparan dari Powell tersebut menepis ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada tahun ini.

Mengutip situs resmi CME Group, berdasarkan harga kontrak fed fund futures per 11 Februari 2020, probabilitas bahwa The Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level saat ini di sepanjang tahun 2020 berada di level 21%, naik dari posisi sehari sebelumnya (sebelum Powell memberikan paparan di hadapan anggota DPR AS) yang sebesar 15,5%.

Sementara itu, probabilitas bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 50 dan 75 bps pada tahun ini berkurang masing-masing sebesar 2,8 persentase poin dan 4,2 persentase poin menjadi 27,8% dan 10,9%.

Bahkan, paparan dari Powell mengindikasikan bahwa tingkat suku bunga acuan bisa dikerek naik pada tahun ini. Di hadapan anggota DPR AS, Powell mengungkapkan kekhawatiran terkait dengan rendahnya tingkat suku bunga acuan, bukan hanya di AS namun juga di negara-negara lain.

"Kondisi tingkat suku bunga acuan yang rendah ini mungkin akan membatasi kemampuan bank sentral untuk memangkas tingkat suku bunga acuan dengan cukup dalam untuk menyokong perekonomian kala ada perlambatan," kata Powell, dilansir dari CNBC International.

Dampak Untuk Indonesia
Lantas, apa dampak dari sikap The Fed yang relatif hawkish tersebut terhadap perekonomian Indonesia?

Dengan nada hawkish yang keluar dari mulut Powell, ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas tingkat suku bunga acuan akan menjadi terbatas. Maklum, AS merupakan kiblat perekonomian dunia sehingga arah kebijakan moneter di AS akan sangat menentukan arah kebijakan moneter di negara-negara lain.

Untuk diketahui, di sepanjang tahun 2019 BI telah memangkas 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps sebanyak empat kali. Jika ditotal, tingkat suku bunga acuan sudah dipangkas sebesar 100 bps pada tahun 2019 oleh BI.


Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu, BI memutuskan untuk menahan 7-Day Reverse Repo Rate di level 5%.

Saat ini, laju perekonomian Indonesia sedang lesu dan membutuhkan suntikan stimulus yang salah satunya bisa datang dari pemangkasan tingkat suku bunga acuan lebih lanjut.

Kala tingkat suku bunga acuan kembali dipangkas, bank akan semakin terdorong untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit sehingga memacu dunia usaha untuk melakukan ekspansi. Selain itu, masyarakat juga akan terdorong untuk meningkatkan konsumsinya. Pada akhirnya, roda perekonomian akan berputar lebih kencang.

Belum lama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi untuk periode kuartal IV-2019, sekaligus keseluruhan tahun 2019. Sepanjang kuartal IV-2019, BPS mencatat bahwa perekonomian Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,97%, di bawah konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan perekonomian tumbuh mencapai 5,04%.

Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian Indonesia hanya tumbuh sebesar 5,02%, di bawah konsensus yang sebesar 5,035%. Pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 merupakan pertumbuhan ekonomi terlambat sejak tahun 2015 silam.

Untuk diketahui, pada tahun 2018 BPS mencatat bahwa perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,17%. Namun, sejak awal tahun 2019 perekonomian sudah terlihat lesu.

Sepanjang kuartal III-2019, BPS mencatat bahwa perekonomian Indonesia hanya tumbuh 5,02% secara tahunan. Angka pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 5,02% tersebut lantas berada di bawah capaian periode kuartal I-2019 dan kuartal II-2019. Capaian tersebut juga jauh lebih rendah dari capaian pada kuartal III-2018 kala perekonomian Indonesia mampu tumbuh 5,17% secara tahunan.

Untuk diketahui, pada kuartal I-2019 perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,07% secara tahunan, sementara pada kuartal II-2019 perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,05% secara tahunan.

Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2019, perekonomian Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 5,04% secara tahunan. Lantas, dari data hingga sembilan bulan pertama tahun 2019 sudah bisa disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2019 tak akan bisa menyamai capaian tahun 2018 yang sebesar 5,17%.

Memasuki tahun 2020, perekonomian terlihat masih lesu. Sepanjang Januari 2020, BPS mencatat inflasi berada di level 0,39% secara bulanan, sementara inflasi secara tahunan berada di level 2,68%.

Capaian tersebut berada di bawah konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan bahwa pada bulan lalu terjadi inflasi sebesar 0,46% secara bulanan, sementara inflasi secara tahunan berada di level 2,85%.

Sebagai catatan, dalam beberapa waktu terakhir inflasi Indonesia selalu berada di bawah ekspektasi. Untuk periode Desember 2019 misalnya, BPS mengumumkan terjadi inflasi sebesar 0,34% secara bulanan, sementara inflasi secara tahunan yang juga merupakan inflasi untuk keseluruhan tahun 2019 berada di level 2,72%.

"Dengan inflasi Desember 2019 0,34% maka inflasi 2019 secara keseluruhan 2,72%," kata Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS pada awal tahun ini.

Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan inflasi secara bulanan berada di level 0,51%, sementara inflasi secara tahunan berada di level 2,93%.

Rilis angka inflasi yang kembali berada di bawah ekspektasi pada bulan Januari praktis menguatkan pandangan bahwa tingkat konsumsi masyarakat Indonesia sedang berada di level yang rendah.

Teranyar, pandangan bahwa tingkat konsumsi masyarakat Indonesia sedang berada di level yang rendah diafirmasi oleh rilis data penjualan barang-barang ritel. Sepanjang Desember 2019, BI mencatat bahwa penjualan barang-barang ritel terkontraksi 0,5% secara tahunan.

Untuk periode Januari 2020, angka sementara dari BI menunjukkan bahwa penjualan barang-barang ritel terkontraksi hingga 3,1% secara tahunan.

Mengingat lebih dari setengah perekonomian Indonesia dibentuk oleh konsumsi rumah tangga, tentu tekanan terhadap konsumsi akan berdampak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

Dengan potensi pemangkasan tingkat suku bunga acuan lebih lanjut oleh The Fed yang semakin menipis (yang akan membatasi ruang BI untuk mengeksekusi pelonggaran), pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi untuk terus berkutat di batas bawah 5%.

Investor Asing Bisa Terus Tinggalkan Pasar Saham
Terbatasnya ruang bagi BI untuk mengeksekusi pelonggaran kebijakan moneter tentu akan berdampak terhadap kinerja pasar saham Tanah Air.

Untuk diketahui, di sepanjang tahun 2020 (hingga penutupan perdagangan kemarin) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selaku indeks saham acuan di Indonesia sudah terkoreksi sebesar 5,48%.

Di bulan Februari yang biasanya baik untuk pasar saham Tanah Air, kinerja IHSG masih saja mengecewakan. Jika dihitung sejak awal bulan Februari hingga akhir perdagangan kemarin, IHSG baru membukukan apresiasi sebesar 0,24%.


Padahal jika berkaca kepada sejarah, sejatinya bulan Februari bisa dikatakan sebagai bulan yang bersahabat bagi pelaku pasar saham Tanah Air. Dalam 10 tahun terakhir (2010-2019), IHSG hanya tiga kali membukukan imbal hasil negatif secara bulanan pada bulan Februari, yakni pada tahun 2010, 2018, dan 2019.

Apresiasi terbaik IHSG pada bulan Februari terjadi pada tahun 2013. Per akhir Februari 2013, IHSG melejit hingga 7,68% jika dibandingkan dengan posisi per akhir Januari 2013.

Jika dirata-rata, IHSG membukukan imbal hasil sebesar 1,94% secara bulanan pada bulan Februari. 


Aksi jual oleh investor asing menjadi faktor yang membebani kinerja IHSG di sepanjang tahun ini. Melansir data dari RTI, di sepanjang tahun ini (hingga berita ini diturunkan) investor asing telah membukukan jual bersih senilai Rp 1,74 triliun di pasar saham Tanah Air (pasar reguler).

Dengan semakin terbatasnya ruang bagi BI untuk mengeksekusi pelonggaran kebijakan moneter, aksi jual bisa terus menerpa pasar saham Indonesia dan menyebabkan IHSG semakin terpuruk.

Selain menekan kinerja IHSG, aksi jual oleh investor asing di pasar saham Indonesia juga akan menekan kinerja rupiah. Melansir data Refinitiv, di sepanjang tahun 2020 (hingga penutupan perdagangan kemarin) rupiah sudah menguat sebesar 1,59% melawan dolar AS di pasar spot.

Dibutuhkan suntikan energi yang begitu besar bagi rupiah untuk terus memukul mundur dolar AS. Kini, ruang bagi BI untuk mengeksekusi pelonggaran kebijakan moneter yang semakin terbatas justru berpotensi menekan kinerja rupiah. 


sumur

https://www.cnbcindonesia.com/market...ng-keluar-ri/1
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
pertamax diamanken emoticon-Cool
Diubah oleh inovator.4id
gitu ya, nice info
o baguslah, ... ihsg nyungsep, kita kita siap siap,
emoticon-Cool
tiarap dulu


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di