CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Education /
Masihkah Tersisah Kejujuran dalam Dunia Pendidikan?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e43727f65b24d6c99501180/masihkah-tersisah-kejujuran-dalam-dunia-pendidikan

Masihkah Tersisah Kejujuran dalam Dunia Pendidikan?

Jujur. Bersumber dari wikipedia, Jujur atau kejujuran mengacu pada aspek karakter, moral dan berkonotasi atribut positif dan berbudi luhur seperti integritas, kejujuran, dan keterusterangan, termasuk keterusterangan pada perilaku, dan beriringan dengan tidak adanya kebohongan, penipuan, perselingkuhan, dll. Selain itu, kejujuran berarti dapat dipercaya, setia, adil, dan tulus. Jujur adalah salah-satu bentuk Akhlaq mulia yang sangat ditekankan dalam agama islam.

Dalam agama islam sendiri, jujur sering disebut dengan Ash-Shidqu atau Shiddiq yang juga merupakan salah satu sifat wajib bagi para Rosul. Bukan hanya agama, bahkan etika dan moral di masyarakat pun turut menekankan harusnya memiliki sifat jujur dan menjauhi perbuatan bohong sekecil apapun dalam segala bidang.

Masihkah Tersisah Kejujuran dalam Dunia Pendidikan?

Yang menjadi pertanyaan, apakah jujur masih dilestarikan? Khususnya dalam dunia pendidikan, saya melihat bahwa sebuah sifat kejujuran kini mulai pudar. Contohnya saja adalah fenomena ke tidak jujuran dalam ulangan atau ujian.

Banyak kita temui, khususnya di sekolah-sekolah menengah atas yang sudah memperbolehkan siswa-siswinya membawa handphone ke sekolah, peristiwa “Pelanggaran Kejujuran” ini sudah marak dilakukan. Ketika hari-hari ulangan tiba, mereka dengan sangat santainya mencari jawaban soal dari buku pelajaran yang sengaja mereka bawa dan mereka sembunyikan dari pengawas. Lebih parahnya lagi, bukan hanya melihat pada buku pelajaran, mereka juga menempuh jalan instan dengan mencari jawaban lewat internet.

Keadaan seperti ini semakin menjepit mereka-mereka yang berlaku jujur dalam ulangan. Saya percaya bahwa tidak semua orang berbohong dalam ulangan, sebab selalu ada jiwa-jiwa lain yang masih setia menggunakan cara menghafal, belajar, dan mengiai lembar jawaban dengan kejujuran 100%.


Bahkan tidak hanya di Sekolah Menengah Atas, Contek mencontek terjadi di Pascasarjana Negeri, bahkan seorang dosen pun saat ngawas mendengarkan music menggunakan headset dan mengoreksi jawaban kelas lain dan menjadi acuh terhadap pengawasan saat ujian. Yah, Univ Negeri di Ibukota tepatnya di daerah Rawamangun. Bahkan dosen pun bisa menggantikan dengan karyawan yang ada, dimana karyawan itu hanya memainkan ponselnya tanpa mengawasi. CCTV tidak berguna hanya sebagai pajangan semata. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu, maraknya “Pelanggaran Kejujuran” ini semakin menciutkan hati-hati orang jujur, memunculkan kecemasan, dan kian menampakkan sebuah pertanyaan, “Apakah Guru/Dosen mengetahui mana anak didik yang jujur dan mana anak yang berbohong?”

Tentu pertanyaan seperti itu akan semakin membuat gusar serta menjadikan mental mereka menciut dan semangat belajar serta semangat kejujuran mereka menyusut. Kita lihat dari satu kasus itu saja, bahwa kejujuran sudah memberikan banyak sekali dampak buruk. Jika sistem menyontek online itu sudah semakin marak dilakukan, maka semua sekolah di Indonesia tidak akan mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang benar-benar berkualitas. Bukan hanya itu. Bagi anak yang jujur, saat melihat temannya menyontek, selalu ada perasaan cemas. “Bagaimana jika nilai saya jelek?” atau “Bagaimana jika saya tetap dalam kejujuran, saya tidak akan mendapat peringkat atau bahkan tidak naik kelas karena nilai yang buruk?”

Kini yang patut kita pertanyakan adalah, “Bagaimana peran guru menyikapi fenomena yang serius ini?” Apakah guru benar-benar tidak mengetahui siapa muridnya yang jujur dan siapa muridnya yang berbohong, sehingga seiring berjalannya waktu, karakter kejujuran dalam benak murid yang jujur akan terkikis sebab ketakutan akan nilainya, atau bahkan akan terjadi fenomena banyaknya siswa yang depresi karena kecemasannya. Apa yang akan terjadi?

Itulah kenapa, saya harap setiap pengajar senantiasa lebih menekankan pendidikan karakter kepada semua muridnya, dari pada menekankan mereka untuk mampu menguasai materi pelajaran. Sebab dari Akhlaq yang baik, akan timbul kesadaran dan semangat persaingan, serta semangat menyongsong masa depan yang gemilang dengan dasar kemauan dan kejujuran.

Jujur itu indah. Menghasilkan rasa tenang, memperbaiki situasi, bahkan mampu mengantarkan pada pengampunan Allah SWT. Hal ini tercermin dalam firman Allah di surat al Ahzab ayat 35 yang artinya, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sidiqin (benar), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Semoga, kita senantiasa mampu memelihara sifat-sifat baik dan menjauhi perilaku buruk yang tentu bukan hanya merugikan diri kita sendiri, namun juga merugikan banyak orang di luaran sana. Semoga, kita tidak pernah menjadi golongan munafik yang telah jelas Rasulullah katakan, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berbicara selalu bohong, jika berjanji menyelisihi, dan jika dipercaya khianat” (H.R. Bukhari dan Muslim).

profile-picture
profile-picture
akhsamedisalis dan nissaannissa memberi reputasi
Diubah oleh papahjahat21


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di