CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e424cf628c9914fed26cf02/monster-kecil

Monster Kecil

Spoiler for Monster Kecil:


Anisa (Sasa) seorang wanita muda yang menikah dengan Indra, duda beranak satu dan sangat membenci anak tirinya sejak pertama mereka bertemu hingga Sasa menjuluki anak itu sebagai 'Monster Kecil', di haruskan tinggal satu atap bersama Lea, anak yang dibencinya selama sekitar tiga Minggu.

Dapatkah Sasa bertahan selama itu?
Apa yang akan Sasa pelajari selama tinggal bersama anak yang dia benci dan apakah Sasa akan sama dengan citra seorang Ibu tiri lainnya yang sering digambarkan sebagai sosok kejam, jahat dan hanya mencintai sang Ayah saja?

________________________________________

#fiction inspired by #realstory
#fiksi terinspirasi dari #kisahnyata
Ditulis oleh : #aandzee (goonerettekw)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bang.dot dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh goonerettekw
Halaman 1 dari 7
Quote:


• Part 01 >> Nitip Lea

• Part 02 >> Tangisan Maya

• Part 03 >> Telor Ceplok

• Part 04 >> Mata Lea

• Part 05 >> Jepit & Bando

• Part 06 >> Girl Like You

• Part 07 >> PR Sekolah Lea

• Part 08 >> Baju Lea

• Part 09 >> Lea Menangis Lagi

• Part 10 >> Lea Menangis Lagi (2)

• Part 11 >> Saatnya Belanja!

• Part 12 >> Gambar Apa Itu?

• Part 13 >> Antar atau Jemput?

• Part 14 >> Momi...

• Part 15 >> Positif atau Negatif?

• Part 16 >> Berenang

• Part 17 >> Hari Terakhir?

• Part 18 >> Batal ke Bali?

• Part 19 >> Ada Tamu

• Part 20 >> Sakit Perut

• Part 21 >> Sushi
profile-picture
profile-picture
DanyMartadinata dan anasabila memberi reputasi
Diubah oleh goonerettekw
• Part 1
#MonsterKecil
#MingguPertama
#Harike1

"Nitip Lea"


"Apa?! Mau nitip Lea disini selama 2 minggu? mulai hari ini juga? Seriously, hun?!" aku menunjukkan rasa tidak setuju saat mas Indra, suamiku, meminta pendapatku atas permintaan mantan istrinya untuk menitipkan anak mereka di rumah ini.

"Bukan 2 minggu, tapi kurang lebih 3 mingguan." Mas Indra mengecek kalender dan membuat hatiku semakin tidak karuan.

Bagaimana bisa aku harus tinggal bersama Monster Kecil itu di rumah ini sedangkan semestinya kami sedang menikmati bulan madu berdua saja?

"Bagaimana dengan bulan madu kita, hun? Lagipula, menurutku ini sangat mendadak!" aku mencoba mencari celah agar hal ini tidak benar-benar terjadi.

"Aku pun tidak menginginkan hal ini, tapi tidak ada pilihan lain, Anisa." Jawaban mas Indra membuat mulut ini tak dapat lagi berucap dan hanya bisa berpura-pura setuju sambil mengatakan satu kata;

"Okay."

Tentu saja kata "Okay" disini bukan berarti aku dapat menerima kehadiran si monster itu dalam kehidupan baruku. Apalagi aku sedang berbunga-bunga dan menikmati peran baru sebagai seorang istri yang akan melayani suami dengan sepenuh hati, tinggal berdua, dunia hanya milik kami berdua saja. Dengan kehadiran Lea, bisa-bisa aku malah jadi stress dan repot harus mengurusnya segala.

"Kenapa sih tiba-tiba langsung kaya gini?" gerutuku dalam hati.

Kenapa ibunya mbak Dewi harus pulang ke kota asalnya selama itu? Dan kenapa mbak Dewi ternyata bekerja yang membuatnya tidak bisa mengantar Lea ke sekolah pada hari biasa? Arrgghhh ... apa ini akal-akalan saja atau bagaimana??

Terkadang aku berpikir, kenapa di antara banyak teman-temanku dan begitu banyaknya pria-pria di luar sana, pada akhirnya aku menikah dengan seorang duda beranak satu dengan mantan istrinya yang ribet luar biasa itu?

🎶🎶Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja🎶🎶

Lirik lagu itu ternyata sangat cocok dengan apa yang aku alami saat ini. Aku sebagai ibu tiri yang hanya mencintai sang ayah saja.
Di satu sisi aku benci dengan kenyataan ini, kenyataan bahwa suamiku pernah menikah dan mempunyai seorang putri. Disisi lain, inikah garis takdir dan jodohku yang harus kujalani?

Meskipun mas Indra dan mantan istrinya telah lama berpisah sebelum kami saling mengenal, aku masih sering merasa tidak percaya diri dan khawatir orang akan menganggapku sebagai perebut laki orang. Terlebih dengan kenyataan suamiku mempunyai anak dari pernikahan pertamanya, membuatku semakin tidak tenang.

Dari pengakuan mas Indra, dia menikahi mbak Dewi tanpa cinta alias karna MBA. Jadi, setelah bayi itu lahir, mereka akhirnya berpisah. Dalam kurun waktu perpisahan mereka, mas Indra yang cukup playboy sering gonta ganti pasangan hingga pada suatu hari kami berdua bertemu tanpa sengaja. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik padanya, bahkan aku cenderung sedang benci pada makhluk yang berwujud pria. Sebab, aku baru saja putus dengan pacarku yang berselingkuh 5 kali dengan 5 wanita berbeda.

Mas Indra tidak menyerah untuk mendapatkan hatiku, entah apa yang dia lihat pada diri si judes, galak dan pecicilan ini?
Ketulusannya membuatku luluh dan menerima cintanya. Dia juga perlahan bercerita tentang putrinya yang otomatis membuatku sangat dilema. Tapi cintaku pada mas Indra juga sudah mulai tumbuh subur bagai jamur di musim penghujan akhir tahun.

Arrggghhh ... aku begitu membenci anak itu.
Bahkan sejak saat pertemuan pertama kami.
Saat itu, aku mencoba menjadi seseorang yang friendly karna bagaimanapun, dia adalah anak dari pasanganku. Aku mengajak bocah itu bermain dan bercanda layaknya permainan yang biasa dimainkan oleh anak seusianya. Namun apa yang aku dapat?
Saat aku menggulung badanku ke selimut dan berguling-guling untuk mengejarnya dalam permainan, dia menginjak dan menendang perutku dengan sangat kuatnya!
Saat itu aku menjerit dan sampai menangis karna kesakitan!
Tapi si monster kecil itu malah menertawakan dan mengejek penderitaanku.

Mas Indra melihat kejadian itu dan mengira tangisanku adalah bagian dari permainan.
Tapi dalam hatiku telah tertanam rasa benci yang hingga saat ini masih ku simpan. Bagaimana aku bisa mengasihi dan menyayanginya jika kesan pertama yang kudapati adalah rasa sakit?

Tidak perlu bilang, "Ah biasa, namanya juga anak-anak."
Iya, anak-anak yang tidak punya tata krama.
Aku sudah bisa melihat ada yang tidak beres. Bocah 5 tahun itu sangat nakal dan seperti tidak punya etika.
Apa tidak pernah diajari sopan santun di rumahnya, ha?
Dan sekarang, dia akan tinggal bersama kami selama 21 hari?
Jadwal setiap hari Minggu mengajaknya jalan-jalan saja aku harus berpura-pura baik sepanjang hari meskipun dalam hati sungguh muak sekali menghadapi kenakalan monster cengeng yang tidak tau sopan santun ini.

Apa karna dia adalah korban perceraian kedua orangtuanya? Sejenak aku merasa bersalah, haruskah aku mundur saja?
Namun bukankah perpisahan mereka tidak ada hubungannya denganku karna aku baru datang di kehidupan mas Indra baru-baru ini saja dan mereka telah berpisah sekian lama?
Mbak Dewi juga pernah bilang padaku bahwa bukan salahku atas perpisahan mereka. Tapi ibunya mbak Dewi tampak sangat membenciku. Aku bisa melihat dari raut muka dan sikapnya saat bertemu denganku untuk menjemput maupun mengantar Lea pulang setelah jadwal akhir pekan kami.

Apa salahku? Kenapa ibunya mbak Dewi tidak suka padaku? apa karna dari sekian banyak wanita, akhirnya mas Indra menikahiku? atau mungkin ibunya mbak Dewi masih berharap mas Indra akan kembali pada mbak Dewi seperti 5 tahunan lalu?

Untuk masalah nafkah dan waktu bersama sang ayah, aku tahu betul mas Indra adalah orang yang sangat bertanggung jawab.
Saat mas Indra dan mbak Dewi berpisah, mereka telah membuat sebuah kesepakatan bahwa setiap bulannya mas Indra wajib memberi uang dengan nominal sekian untuk kebutuhan Lea, berikut tagihan listrik, air dan tetek bengeknya.

Meskipun aku sering heran juga bagaimana mbak Dewi mengelola uang segitu tiap bulannya, karna dari baju-baju yang Lea pakai dan saat kami menjemputnya untuk jalan-jalan di akhir pekan, anak itu tidak nampak di urus dengan benar. Sering aku dapati rambutnya yang acak-acakan, ingus dan upil kemana-mana, entah sudah makan apa saja sedari pagi?

Ahh ... tapi apa peduliku? dia kan punya ibunya yang seharusnya merawat dengan baik dan benar, memberikan makanan yang sehat dan bergizi, pakaian yang bersih serta rapi, dan yang lebih utama, mengajarinya menjadi anak yang sopan dan menghormati orang lain.
Aku memang belum menjadi seorang ibu, aku tidak tahu bagaimana beratnya menjadi seorang ibu apalagi berpisah dengan suaminya ... aku tak bisa membayangkan hal itu.

Tapi ada hal yang cukup mengganjal dan membuatku curiga serta membangunkan jiwa kepoku. Seringkali aku melihat di lini masa media sosial mbak Dewi, dia pergi berlibur ke luar kota bahkan luar negeri selama berhari-hari, dan bergaya bak sosialita dengan meninggalkan anaknya bersama ibunya yang sudah cukup tua, yang menurutku, seharusnya mbak Dewi lah yang merawat dan mendidik Lea meskipun tanpa suami disisinya.

Aku menyaksikan sendiri bahwa mantan istri dari mantan pacarku yang meskipun dia adalah single mom, tapi tetap bisa menyeimbangkan kehidupannya dan anaknya juga ber attidute baik dengan penampilan yang menunjukkan dia dicintai, tidak seperti korban perceraian orang tuanya atau broken home.

Jadi apakah uang yang seharusnya untuk Lea, malah di gunakan untuk keperluan pribadinya mbak Dewi? Aku tahu betul sebelumnya mbak Dewi tidak bekerja, jadi uang dari mana lagi selain uang bulanan yang dikirim oleh mas Indra?
Hah ... Sudahlah aku tidak mau mengurusinya.

****


Sore itu Lea diantarkan oleh mbak Dewi ke rumah ini dengan membawa koper kecil untuk menaruh baju-baju dan mainannya.
Ohya, ternyata bukan 21 hari tanpa henti Lea akan disini, melainkan dari Senin hingga Jum'at malam saja karena Sabtu dan Minggu Lea akan menghabiskan waktunya dengan mbak Dewi.
Yayy ... setidaknya akan ada hari dimana aku bisa berduaan saja dengan mas Indra.

Spoiler for anggap aja ini Lea:


Mbak Dewi hanya mengantarkan Lea di depan rumah dan tidak masuk ke dalam meski sudah aku persilahkan (*tentunya aku hanya basa-basi saja).

Aku mengantarkan Lea masuk ke kamarnya, kamar yang memang kami siapkan untuk Lea dan Maya (*keponakan ku yang kebetulan seusia dengan Lea, hanya beda beberapa bulan saja duluan Maya lahirnya) jika mereka menginap di rumah ini.

Aku sering heran saja entah kenapa bocah ini selalu terlihat betah berada di rumah ayah dan ibu tirinya. Padahal aku kan tidak sayang padanya bahkan aku benci harus hidup satu atap dengannya beberapa hari ke depan.

Kulihat Lea sedang bermain di ruang tamu bersama mas Indra sementara aku membereskan barang bawaannya.
Ku buka koper kecil itu, berisi mainan, Barbie dan sebagainya yang di beli saat kami pergi di akhir pekan.
Ada sepatu dan seragam sekolah juga lengkap dengan kaus kaki dan tas sekolahnya.
Mbak Dewi hanya membawakan 5 potong baju dan celana serta pakaian dalam yang cukup untuk dipakai selama 5 hari.

*****


Mulai detik ini hidupku telah berubah, besok pagi aku harus mengantar si monster ke sekolah. Sepagi itu seharusnya aku masih bersantai dengan baju tidurku yang nyaman karna aku memang tidak di ijinkan bekerja oleh mas Indra. Dia bilang aku di rumah saja 100% mengurus rumah tangga kami tanpa harus memikirkan ekonomi karna mas Indra juga yang bertanggung jawab atas segala kebutuhan dan keperluan keluarga baru kami.

Resepsi dan pernikahan kami memang baru di resmikan satu bulan yang lalu, tapi kami sudah bersama hampir satu tahun dan telah menikah secara agama terlebih dahulu.
Kami menunda peresmian pernikahan karna saat itu aku sedang fokus dengan kuliah dan skripsi.
Selain itu, bisnis mas Indra juga sedang turun drastis bahkan bisa dikatakan mas Indra sedang bangkrut. Kami benar-benar sedang tidak punya uang waktu itu.
Bahkan aku harus menghabiskan tabunganku untuk mengontrak rumah dan kebutuhan sehari-hari. Bisa dibilang, itu saat terpuruk dan titik 0 (nol) kami.

*****


Meskipun aku tidak begitu peduli dan cenderung benci pada bocah ini, tapi dia merengek minta aku menemaninya tidur. Mungkin lelah bermain seharian dan kenyang, dia cepat sekali terlelap. Aku pun harus segera tidur agar besok bisa bangun lebih pagi dan mengantarkannya sekolah.

__________

• Hari ke 1

Pagi itu di sekolah Lea, para guru melihatku dengan tatapan berbeda.

"Jangan-jangan mereka berfikir, aku sang pelakor yang sedang tanpa malu menampakkan wujudnya." Gumamku sambil menyerahkan Lea pada gurunya.

Anak itu sangat menyebalkan!
Bahkan dia tidak melihat ke arahku saat aku bilang, "Sampai jumpa, Lea!"

Sederet pikiran negatif mampir di benakku, aku memasang wajah tidak nyaman dengan me-manyun kan bibirku saat aku masuk ke mobil mas Indra.

"Kenapa hun?" tanya mas Indra penasaran.

"Nggak papa." Jawabku singkat.

"Yaudah kalau gitu, kita langsung pulang yaa ...."

"Yaa."

Tapi banyak orang tahu kata 'nggak papa' malah berarti sebaliknya serta menyimpan banyak makna.
Karna waktu juga terus berjalan dan nampaknya mas Indra tidak ingin memperpanjang, dia bilang akan mengantarku pulang dan langsung berangkat ke kantor.

*****


Sampai di rumah, aku cukup bingung mau masak apa untuk Lea nanti?
Aku tidak ingin terlihat sebagai ibu tiri yang tidak bisa apa-apa di mata mbak Dewi, aku harus bisa mengurus Lea dan memasak makanan untuknya.
Tapi aku sama sekali belum mengenal anak itu. 'Apa makanan kesukaannya?'
'Apa yang biasa mbak Dewi masak tiap harinya?'
'Jam berapa dia makan siang?'
dan sebagainya.

Ingin sekali aku bertanya pada mbak Dewi masakan apa yang biasa dia hidangkan untuk putrinya?
Tapi hal itu aku urungkan.

"Emangnya aku ibu tiri apaan yang nggak bisa masak buat anak tirinya? aku bisa memberinya racun ... hehehe."

Sejenak pikiran liar ku menyeruak sambil mencari-cari menu untuk anak TK di YouTube meski tak kunjung ku temukan.

Ku putuskan untuk tidak masak.
Mas Indra juga memberitahuku siang ini dia ada meeting, jadi tidak pulang ke rumah untuk makan siang.
Kantornya memang tidak terlalu jauh dari lokasi rumah kami saat ini, jadi mas Indra memang selalu pulang untuk sekedar makan siang. Dia sangat menyukai masakanku, apapun itu.

*****


Lea pulang sekolah jam 12, aku harus sudah berada di sekolah sebelum kelas bubar agar dia tidak menunggu.
Ahh ... benar-benar merepotkan saja. Seharusnya aku sedang santai di rumah setelah semua pekerjaan selesai. Sekarang harus jemput ke sekolah, ngasih makan, dan menemani bermain sampai malam tiba.
Begitu terus ... sungguh menyebalkan. Hari jadi terasa lama sekali.

"Kapan hari Jum'at datang sih?" teriakku dalam hati.

Aku menyetir mobil pemberian mas Indra, perlahan bisnisnya bangkit dan naik lagi. Kami juga telah pindah ke rumah yang lebih baik dari kontrakan kami beberapa waktu lalu saat masa sulit sedang kami jalani.

Sesampainya di sekolah, kelas Lea belum bubar, jadi aku menunggu sebentar. Beberapa menit kemudian, anak-anak keluar dari kelas masing-masing, Lea terlihat sangat happy saat melihatku menjemputnya.
Dia berlari begitu ceria dan langsung memelukku, aku pun kikuk karna tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Aku merasa geli dan ... entahlah ... aku tidak tahu rasa apa itu?

Kami berdua masuk ke dalam mobil, lalu aku bertanya apa yang ingin ia makan.

Dengan polos, Lea menjawab; "Nasi sama telor ceplok."

Whattttt? ku kira bocah ini akan meminta ayam goreng, burger, pizza atau yang lainnya. Tapi nasi dan telor ceplok?
Jika aku tahu ini sejak pagi, aku tidak perlu mencari menu sepanjang hari!

"Oke kita pulang dulu, nanti aku masakin telor ceplok." Balasku sambil menjalankan mobil menuju rumah.

Sepertinya monster kecil ini kelelahan di sekolah, dia terlelap di kursi penumpang sebelahku. Saat sampai di depan rumah, aku membangunkannya, di sambut dengan kemarahan dan ngambek tak karuan. Aku makin benci pada anak ini, sifat ngambek dan marahnya ini selalu membuatku tidak tahan!

Masuk rumah, aku menyuruhnya untuk ganti baju sementara aku akan menyiapkan makanan, bocah sekecil itu ngambeknya luar biasa, dia membanting pintu dan melotot padaku!

"Benar-benar akan kuberi racun di telor ceplokmu!" suara jahat itu terdengar jelas sekali di telingaku saat aku mulai menyalakan api kompor dan mengambil dua butir telur dari kulkas.

Aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan Lea di dalam kamar, aku sedang mempersiakan makanannya dan makananku juga.
Beberapa menit kemudian, dia keluar dari kamarnya dan telah berganti pakaian rumah.
Ku ajak dia makan nasi dan telor ceplok permintaannya.

Tentu saja tanpa racun, aku akan sangat mudah tertangkap jadi tersangka kalau anak ini keracunan di rumahku setelah makan telor ceplok buatanku.
Sepanjang sore kami habiskan waktu untuk bermain sampai saat suamiku pulang dari kantor.

__________

Ku adukan apa yang terjadi hari ini pada mas Indra, dia memintaku untuk lebih bersabar pada Lea. Mas Indra juga mengakui ini kesalahannya yang terlalu memanjakan Lea sehingga sikapnya seperti itu. Aku mengalah saja, aku males debat. Aku hanya ingin Jum'at sore segera datang biar monster kecil itu cepat pergi dari rumah ini.

*****


Jum'at malam sekitar jam 19, mbak Dewi mengabari kalau dia hampir sampai, dia akan langsung pulang, jadi dia minta aku menunggu di teras rumah bersama Lea.

Saat mbak Dewi datang, aku berbasa-basi minta di bawakan lebih banyak baju rumahan untuk ganti sehari-hari dan aku juga menyerahkan PR dari sekolah yang harus di kerjakan dan di serahkan kembali ke sekolah pada hari Senin.

"Baju rumahan nggak ada, Sa ... adanya baju itu-itu aja ... udah pada kekecilan, nanti deh aku cari."Jawab mbak Dewi.

Aku mengucapkan 'sampai jumpa' pada Lea dan melihat mereka berdua meninggalkan area tempat tinggalku.

______________

Yaayyyy!!! aku lega sekali. Akhirnya monster kecil itu pergi juga dari hadapanku setelah lima hari bersamanya. Aku bisa tidur dengan tenang dan menghabiskan waktu berdua saja dengan mas Indra.
Meskipun hari Senin pagi dia akan kesini lagi dan berulang sampai neneknya kembali ke kota ini dan mengurus Lea lagi.

_______________

#fiction inspired by #realstory
#fiksi terinspirasi dari #kisahnyata
Ditulis oleh : #aandzee
profile-picture
anasabila memberi reputasi
Diubah oleh goonerettekw
• Part 7
#MonsterKecil
#MingguKedua
#Harike6

"PR Sekolah Lea"

____________

• Hari ke 6

Senin pagi, chat WA dari mbak Dewi masuk ke HP ku;

"Aku udah otw ya Sa, ini udah mau sampai."

"Iya mbak." Balasku singkat.

"Sasa, aku udah di depan rumah." Notif chat dari mbak Dewi muncul lagi.

Aku bergegas keluar rumah, tapi sebelum itu tentu saja aku sudah rapi dan membuat diriku tampak cantik. Aku tidak mau bertemu dengan mbak Dewi dalam keadaan masih ileran dan awut-awutan meski saat itu masih jam 6 pagi.

Aku membuka pintu perlahan dan mengucapkan "Hallo" pada Lea, si monster kecil itu.
Persis seperti dugaanku, dia tidak ada ekspresi, hanya diam saja dan memandangi sekitar.

"Nggak jelass..." gumamku.

"Ini PR Lea." mbak Dewi menyerahkan kertas PR dari sekolah kepadaku karna hari ini, PR harus di kumpulkan lagi di sekolah.

"Mbak Dewi bawa baju rumah tambahan buat Lea?" aku menanyakan baju untuk Lea yang ku pinta Jum'at lalu.

"Nggak ada Sa, bajunya emang itu-itu aja, emang nggak cukup ya?" mbak Dewi terlihat tidak suka aku menagih baju, jadi aku segera mengalihkan topik saja.

"Oh cukup kok mbak, kirain hari ini mbak Dewi bawa lagi. Lea udah sarapan belum?"

"Lea belum sarapan, nanti kasih makan ya!"

Sialan, mbak Dewi memerintahku seenaknya. Dia pikir aku siapa? hatiku sudah mulai panas waktu itu, tapi aku tepis. Dalam hati berkata, sabar Sa... sabar... nanti benaran kasih racun aja anaknya atau nggak usah kasih makan biar tau rasa!

"Ok mbak." jawabku singkat.

"Lea ayo masuk, nanti telat kan mau sekolah." Setengah mengusir mbak Dewi, aku mengajak Lea masuk.

"Yaudah aku pulang." mbak Dewi berpamitan.

Sebelum itu, aku menyuruh Lea untuk mencium dan memeluk mamanya.

Hah, seriously? peluk cium aja mesti aku ingetin? bukankah harusnya udah reflek saling peluk cium yah sebelum berpisah? apalagi ibu dan anak ini akan bertemu lagi 5 hari ke depan lohh... Aku sama mas Indra aja dikit-dikit peluk, dikit-dikit cium. Jangankan mau pisah beberapa hari, berapa jam atau menit saja kami sudah saling kangen.
Lagi-lagi aku tepis pikiran ini. Apa peduliku?

Lea masih memakai piyamanya beserta iler dan muka yang terlihat belum terkena air. Pasti tadi bangun tidur langsung kesini.

"Nggak cuci muka dulu kek!" gerutuku di dalam hati.

"Lea mau makan apa?" tanyaku

"Roti coklat kayak kemarin." Jawabnya polos

Aku bergegas membuatkan roti coklat untuknya, dua lembar roti tawar dengan selai coklat di taburi ceres warna-warni yang aku potong kecil-kecil menjadi 8 bagian.
Sejak hari Senin lalu, aku memang memberi menu sarapan roti coklat ini padanya. Lea juga nampak tidak pernah bosan dan selalu minta di buatkan roti coklat.
Jadi setiap pagi dia makan itu-itu terus sebelum mandi, berganti pakaian dan pergi ke sekolah.

Mas Indra sendiri sedang lari pagi, dua hari kemarin aku juga ikut serta gara-gara mas Indra bilang dia melihat banyak cewek-cewek yang lari pagi, meski sepertinya hanya modus saja... Huffhh....
Dia memang rajin olahraga sekarang sejak memutuskan untuk berhenti merokok dan memulai hidup sehat.

Lea makan roti coklat sementara aku menyiapkan kopi dan sarapan untuk mas Indra. Biasanya sehabis olahraga, mas Indra mandi lalu sarapan bersamaku dan berangkat ke kantor.
Kali ini karna ada Lea dan si monster belum mandi, setelah menghabiskan gigitan terakhir roti coklatnya, aku buru-buru menyuruhnya menggosok gigi dan memandikannya.

Mas Indra sarapan sendiri karna aku sibuk menguncir rambut anaknya sambil sesekali aku minta disuapi roti ke mulutku karna dua tangan ini sedang menyisir rambut Lea.

"Yuk berangkat," ajak mas Indra setelah aku selesai memakaikan sepatu di kaki si monster.

"Let's go! (Ayo!)" aku dan Lea kompak menjawab.

Sekolah Lea tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, mas Indra juga tidak perlu terburu-buru ke kantor, jadi kami berdua usahakan untuk mengantar Lea ke sekolah setiap hari.

Bangunan sekolah Lea sudah terlihat dari jalan, aku menyuruh Lea untuk salim, peluk dan mencium papanya meski dia malu-malu dan terlihat enggan, tapi mata ibu tiri ala aku langsung beraksi, aku melotot ke arahnya yang berarti "do it now!" atau "salim sekarang!"

"Hun, salim." Aku memberi kode lirikan mata kepada suamiku untuk mengulurkan tangannya agar Lea lebih mudah untuk mencium tangan papanya itu.
Dengan ragu Lea meraih dan mencium punggung tangan itu, serta mencium dan memeluk sang ayah.

Mas Indra menunggu di mobil, aku membantu Lea keluar dari mobil dan segera mengulurkan tanganku tanda dia harus salim juga padaku.
Aku mencium dan memeluknya sebelum aku menyerahkan Lea dan kertas PR pada guru di depan.

Didalam mobil, aku langsung ngoceh pada mas Indra yang kelupaan, nggak peka atau apa?

"Jika aku bilang salim, ulurkan tangan kamu mas biar Lea juga reflek salim."

"Iya sayang, maaf yaa... tadi aku lupa, beneran." Mas Indra menyunggingkan senyum manisnya dan mengelus kepalaku yang berhasil meng-cancel bau bau marahku, hehehe...
Aku memang langsung luluh kalau mas Indra sudah mengeluarkan jurus andalannya yang mampu buatku tak berdaya.

Diperjalanan pulang, aku kembali bingung mau masak apa buat Lea. Minggu lalu dari pertama datang Lea hanya mau makan sama nasi dan telor ceplok. Itu terus nggak mau yang lain. Katanya, di rumah mbak Dewi, sama neneknya Lea selalu makan nasi dan telor ceplok setiap hari, jadi itu sudah jadi makanan favoritnya. Aku sempat membelikannya ayam goreng, menawarinya burger, pizza dan juga bakso, tapi tetap saja yang dia minta nasi sama telor ceplok lagi dan lagi.

"Apa nggak bosan makan telor terus setiap hari?" batinku.

"Jadi kamu masak apa siang ini, hun?" mas Indra membuyarkan fokusku.

"Apa ya mas... aku bingung mau masak buat Lea, dia maunya telor ceplok mulu," jawabku.

"Oh jadi sekarang Lea yang utama nih, kamu lebih mikirin masak apa buat Lea dibandingkan buat aku, suamimu?" mas Indra menggodaku dengan kalimatnya sambil mencubit pipiku, karna memang benar juga, sejak si monster itu tinggal bersama kami, aku jadi mikirin masakan buat Lea duluan.

"Kamu mah gampang... aku masak apa aja pasti kamu makan kan? kamu habisin kan? yakann? yyeekk!" aku mengejek mas Indra dan mencubit pinggangnya.

"Stop it, aku lagi nyetir, hun." Mas Indra mencoba menghindar dari serangan cubitanku.

"Nggakkkk.. cubit lagii nihh cubitt teruusss."

"Sakit, hun... awas yaa nanti aku bales..."

"Ngak kenaa... yyeekk!"

_____________

Di rumah, aku mengecek isi kulkas, kira-kira masakan apa yang bisa ku buat untuk Lea?

"Masak sup ayam aja deh buat semuanya."

Lea harus makan sayuran dan daging. Nggak boleh tiap hari telor terus meskipun ku akui, telor ceplok adalah masakan tergampang.
Kapanpun Lea lapar, aku bisa masak telor ceplok itu. Aku hanya perlu banyak persediaan telor dan selalu punya nasi putih.
Seperti minggu lalu, malam-malam sebelum tidur bocah itu menangis minta makan nasi sama telor. Ckckckckck.

Mas Indra sudah berangkat ke kantor, aku pun mulai menyiapkan bahan-bahan untuk menu makan siang ini. Akan aku masak setelah menjemput Lea dari sekolah sementara aku membereskan rumah, nyuci dan sebagainya.

______________

Di sekolah, Miss Rahel, guru di kelas Lea memanggilku, beliau bertanya tentang buku yang belum di kumpulkan oleh Lea sejak 2 minggu lalu. Meskipun ragu, aku mencoba berkata jujur siapa diriku dan tentang kenapa aku yang antar-jemput sekolah Lea akhir-akhir ini.
Miss Rahel faham bahwa buku yang di tanyakan itu tidak bersamaku, jadi beliau akan menelpon mbak Dewi nanti.

Miss Rahel juga memberitahuku jika Lea merupakan murid yang paling lambat di kelas, teman-temannya sudah dapat membaca dan menulis dengan rapi ala-ala anak TK, namun Lea masih kesulitan, terangnya.
Jiwa julidku langsung menggelora... dalam hatiku berkecamuk banyak pertanyaan;

"Ada apa dengan bocah ini? si monster kecil yang ku benci?"

Sejenak, aku membandingkan Lea dengan Maya, anaknya Kakak ku, seumuran Lea, keponakanku sudah bisa baca tulis.

Tidak hanya itu, Miss Rahel juga bilang untuk tidak mengerjakan PR Lea, biarkan Lea sendiri yang mengerjakan PR nya.

Ahh... apa lagi ini? aku tidak tahu apa-apa tentang PR. Miss Rahel juga menyarankan agar Lea ikut les di sekolah maupun les biasa di rumah agar dia bisa 'catch up' atau mengejar ketertinggalannya di sekolah.

Otakku di penuhi berbagai tanda tanya tentang anak ini setelah ku dengar apa yang di sampaikan Miss Rahel padaku. Saat itu aku langsung geram pada mbak Dewi. Bukankah Lea punya guru les pribadi? lalu kenapa Miss Rahel sampai bicara begitu?

_______________

Aku mengadukan semuanya pada mas Indra saat kami hendak tidur. Memang sudah kebiasaan kami sejak awal menikah, sebelum tidur kami selalu ada sesi 'cuddle' dan juga 'pillow talk' yang membahas banyak hal tentang kami berdua, keluarga dan apa saja akan kami bahas sebelum tidur.
Dan seminggu ini, pillow talk kami di penuhi bahasan tentang Lea. Tentang sifat manja, cengeng, tukang ngambek, bohong, tidak sopan, kurang ajar, suka mukul dan berbagai kenakalan lainnya.

Mas Indra beberapa kali meminta maaf padaku karna harus repot mengasuh Lea sekarang saat nenek Lea, ibu dari mbak Dewi sedang pulang ke kota asalnya. Suamiku ini juga sebenarnya sangat mengerti jika aku tidak suka dan cenderung benci pada anaknya, tapi tidak dia ungkapkan. Mas Indra juga mengakui ini semua kesalahannya yang terlalu memanjakan Lea, selalu menuruti dan membeli apapun mainan yang Lea pinta sehingga Lea terbentuk menjadi anak yang tidak sabaran dan apa yang dia mau, harus segera ada.

_____________

Oh... sekarang tidak lagi...
This is my house, follow my rule!
Ini rumah ku! kalau lagi tinggal disini, harus ikuti semua aturanku.

_____________

Aku dan mas Indra sepakat untuk mendisiplinkan Lea, merubah nya menjadi lebih sopan dan lebih baik lagi lah intinya. Karna meskipun aku benci dan tidak suka pada monster kecil itu, tapi dia kan anaknya mas Indra yang berarti dia juga anakku.

Heh...? apakah aku, Anisa si ibu tiri sudah mulai membuka hati dan menerima monster kecil bernama Lea dalam hidupku?

_______________

#fiction inspired by #truestory
#fiksi terinspirasi dari #kisahnyata
Ditulis oleh : #aandzee


*timeline nya loncat, dari part 1 langsung ke part 7 dan balik lagi ke part 2 soalnya waktu itu, gak kepikiran mau sampe part banyak.
profile-picture
profile-picture
itkgid dan anasabila memberi reputasi
Diubah oleh goonerettekw
Beb Goooooooooooonnnnnn emoticon-Peluk
baca dulu ahhh emoticon-Ngacir
______________________
rapi dan intens konfliknya emoticon-Belo
pasti plotnya padat dan buat penasaran...
emoticon-Tepuk Tangan
profile-picture
goonerettekw memberi reputasi
Diubah oleh anasabila
Quote:


hai bila beb gimana kabarnya emoticon-Kiss

______
ahaha thanks beb, lagi coba-coba nulis sambil ngehalu terselubung itu 🤣
aku baru login lagi nih, BBK udah update kah, beb? belom cek emoticon-Ngacir
profile-picture
anasabila memberi reputasi
Quote:

akunya baik kok beb... mudah2an kamu juga demikian emoticon-Kiss (S)
___________________
akunya beneran loh... ternyata kamu bisa juga buat story emoticon-Belo
BBK update dua part, satu judul aja beb xixixixi...
Quote:


iya beb, aku baik alhamdulillah emoticon-Peluk
______
hwaaa, makaciihhh 🙈🙈
aku udah tulis beberapa part, ini tinggal posting aja lanjutannya emoticon-Malu (S)
belum sempet baca beb aku
• Part 2
#MonsterKecil
#MingguPertama
#Harike2
#Harike3

"Tangisan Maya"

• Hari ke 2

Kehadiran Lea membuatku giat bangun lebih pagi. Jika sampai bangun telat, monster itu juga akan telat pergi ke sekolah.
Jam 8:30 pelajaran baru di mulai, tapi anak-anak di wajibkan tiba di sekolah setengah jam sebelumnya yaitu jam 8.
Jadi kami meninggalkan rumah pada pukul setengah delapan dengan perjalanan sekitar 20 menit, Lea masih punya waktu sekitar 10 menit sebelum bel masuk sekolah.

Mas Indra kini tidak terlalu jadi nomor satu karna ada anaknya disini dan aku sendiri yang mengurus segala keperluannya. Siapa yang setuju dia harus tinggal disini? Nikmati saja kalau sekarang aku banyak alasan ini itu yang menyangkut Lea, biar mas Indra juga nggak manja... bikin kopi sendiri, bikin teh sendiri, ambil minum sendiri, xixixi.
Padahal aku dan Lea di kamar kadang sedang mewarnai buku gambar, sekedar nonton tv atau rebahan.

Tapi kelihatannya mas Indra malah seneng melihat aku pelan-pelan dekat dengan Lea. Dia kan yang paling memahami alasan aku benci dan tidak suka pada anaknya. Mas Indra juga tidak keberatan untuk menyeduh kopi ataupun membuat teh sendiri. Kami memang saling bekerjasama dalam rumah tangga ini, untuk urusan kebersihan rumah pun, kami saling sepakat helping each other atau saling bantu sesama. Misalnya aku yang masukin baju kotor di mesin cuci, mas Indra nanti yang jemur pakaian kami. Aku yang masak, mas Indra yang kupas bawang merah, aku yang kotorin, mas Indra yang cuci wajan dan lain sebagainya.
Pernah suatu hari, mas Indra sampai menangis karna mengupas bawang bombay. Hahaha.

Aku tau Lea pasti kesepian, di rumahnya dia hanya tinggal bersama mbak Dewi dan neneknya. Berkumpul dengan teman-temannya hanya di sekolah saja. Aku tidak tahu juga sih apakah di area rumahnya ada playground atau tempat main anak-anak dan Lea bermain dengan anak-anak lainnya.

Aku berinisiatif untuk mengajak Maya, keponakanku main di rumah ini. Kebetulan besok libur sekolah, jadi Maya bisa menginap disini dan bermain dengan Lea. Mas Indra juga mengijinkan aku menjemput Maya dan memang sudah hal biasa Lea dan Maya bermain bersama.

______________

Sebelum Lea tinggal sementara disini, di akhir pekan aku juga mengajak keponakanku ikut serta tiap kali kami jalan-jalan. Jadi Lea dan Maya juga sudah akrab karna sering bertemu dan main bareng. Tapi yang tidak aku sukai dari si monster itu adalah sifat manja, cengeng, ngambekan dan nakal nya. Maya sering mengalah karna meskipun seumuran, 'attitude' atau sikap Maya jauh berbeda dari Lea yang tampak seperti tidak punya etika.
Saat itu memang aku tidak sedikitpun peduli seberapa jauh sih kenakalan Lea? tapi semenjak beberapa hari tinggal disini, aku mulai menyadari betapa anak ini sungguh sangat nakal. Dan tangannya itu enteng sekali.

Dia memecahkan vas bunga milikku, menarik korden dengan kencang hingga terlepas baut nya, mematahkan kaki meja laptopku dan masih banyak lagi ulah tangannya yang membuatku geram.

Aku tidak bisa marah (*lebih tepatnya aku terpaksa tidak marah) karna tiap kali monster itu melakukan kesalahan, mas Indra lah yang selalu meminta maaf padaku dan berjanji akan mengganti apa yang telah di rusakkan oleh anaknya. Aku jadi tidak enak, bukankah ini rumah kami berdua? Jika ada yang pecah atau rusak, yasudah tidak apa-apa. Pikirku saat itu meski aku sebal juga sebenarnya.

Ohya, Maya juga pernah mengadu padaku kalau Lea suka mukul. Pada saat bermain bersama, Lea si manja dan apa-apa ingin menang sendiri karna ayahnya terlalu memanjakannya, merebut mainan yang sedang di pegang oleh Maya. Maya pun merebut balik mainan itu, biasalah anak-anak seusia itu memang wajar kan? Namun yang tidak aku terima, Lea tiba-tiba memukul keponakan kesayanganku! Aku marah besar pada mas Indra dan memintanya bicara dengan mbak Dewi untuk ngajarin anaknya jangan suka main tangan. Lagi-lagi mas Indra minta maaf padaku, pada Maya dan juga kak Vera, kakak ku.
Kak Vera sendiri memaklumi karna anak-anak memang sering rebutan mainan dan berantem. Tapi aku tidak peduli, enak saja keponakanku di pukul. Aku makin benci dan tidak suka pada monster kecil itu. Huffftt

_____________

Aku dan Lea pergi menjemput Maya. Mas Indra masih di kantor dan dia mengabari kalau akan pulang telat karna ada urusan di kantor.

Lea masih terlihat arogan dan suka ngambek tiap kali main dengan Maya.
Aku memang membiarkan mereka main berdua saja sementara aku mengerjakan kerjaan rumah, membuat makanan atau sekedar rebahan.

"Ternyata capek juga ya ngurusin bocah, apalagi model si monster yang bandel bin bebel itu. Anakku jangan sampai punya 'attitude' seperti kakak tirinya kelak. Tidak akan aku biarkan itu terjadi, akan aku didik anakku dengan caraku sendiri." Gumamku sambil membayangkan bagaimana rasanya jika waktunya telah tiba dan Tuhan benar-benar mempercayakan aku dan mas Indra menjadi orang tua.
Aku tersenyum kecil sambil memandangi figura foto yang ada di meja kamarku, nantinya akan ada anggota keluarga baru dalam bingkai foto ini.

"Prrraaakkkkkk!!"

Terdengar suara dari kamar anak-anak, aku segera lari menghampiri, ternyata itu ulah si monster kecil. Dia membanting pintu kamar karna kalah adu "rock, paper, stone" dengan Maya.

"Dasar monster tengil!" teriakku dalam hati.

"Ayo Maya main sama tante Sasa aja, nggak usah ajak Lea!" aku sengaja mengeraskan suaraku agar si monster itu mendengar ucapanku.

Benar saja, beberapa detik kemudian Lea keluar dari kamar dan mendekati kami lalu mereka berdua main bersama lagi.

"Arrgghh... dasar anak-anak!" sejenak aku teringat masa kecilku dimana aku sering berantem dan rebutan mainan dengan kak Vera.

____________

Lea dan Maya sudah tidur, ini waktunya aku berduaan dengan suamiku. Tapi dasar suami manjaaa... pulang udah agak larut aja masih minta di bikinin makanan. Aku suka geram deh.

"Kenapa tadi nggak beli di luar aja sih, hun... ini udah waktunya kita 'cuddle' nyaman di kamar!" keluhku pada mas Indra yang minta di buatkan mie goreng.

"Nanti aku yang cuci piring dan pancinya, hun!" rayu mas Indra sambil masuk ke kamar mandi setelah meletakkan tasnya.

'Hun' adalah panggilan sayang kami, sebenarnya artinya 'honey', tapi kami lebih suka saling memanggil 'hun'... hehehe.

Mas Indra terlihat kelaparan, kebiasaan tu orang ngerepotin istri malem-malem suruh masak. Maksudku, mbok ya makan di luar aja atau beli makanan bawa pulang kek kalau udah malem gini baru pulang. Aku kan juga udah beresan, masa mau di kotorin lagi sih?
Eh, tapi tadi mas Indra janji mau nyuci ding.

Aku masak dua bungkus mie instant goreng sementara mas Indra sedang mandi, aku dengar suara pintu kamar mandi di buka yang artinya mas Indra telah selesai dan akan segera keluar ke ruang makan. Aku membawa sepiring mie goreng dan air putih ke meja makan tepat saat mas Indra juga keluar dari kamar.
Sepertinya suamiku ini memang kelaparan, dia makan dengan sangat lahap. Dalam hitungan menit, sepiring mie instant dan dua telor ceplok itu bersih tak tersisa!

"Sayang, piring nya aku cuci nanti dulu ya... kenyang banget ini, makasih ya udah buatin makanan yang enak." Mas Indra mencium pipiku sambil merayu karna belum akan mencuci piring sekarang. Aku tahu itu.

"Iya hun, tapi jangan lupa di cuci sendiri yaa!" jawabku mengingatkan.

____________

"Pillow talk" malam ini membahas pekerjaan mas Indra dan hari yang kami lalui seharian. Tiba-tiba aku teringat siang tadi saat aku menjemput Lea untuk pertama kalinya, Miss Rahel menanyakan tentang buku yang aku tidak tahu buku apa itu. Mas Indra menyarankanku untuk bertanya pada mbak Dewi, tapi aku malas banget sih kalau harus hubungin mbak Dewi... kenapa bukan mas Indra aja? gezzzz....

*****

• Hari ke 3

Hari ini tanggal merah, jadi anak-anak tidak sekolah. Ku lihat mereka masih terlelap. Aku membuatkan kopi dan sarapan untuk mas Indra, hari ini kami berencana untuk mengajak anak-anak pergi ke taman bermain. Pasti mereka senang deh.

Di tempat permainan, Lea dan Maya terlihat asyik mencoba berbagai permainan dan main di perosotan, mandi bola dan lainnya. Aku dan mas Indra berduaan menunggu mereka di luar. Udah kayak lagi pacaran. Hahaha

Karna sudah bermain dari pagi, aku mengajak anak-anak pulang. Orang-orang yang melihat kami sering mengira Lea dan Maya adalah anakku karna mereka nempel terus.

Usiaku dan mas Indra beda 5 tahun, saat seusiaku, mas Indra menikah untuk pertama kalinya dengan mbak Dewi. Jadi alasan aku memanggil ibunya Lea dengan sebutan 'mbak' karena usianya juga jauh diatasku.
Kak Vera juga seusia dengan mbak Dewi dan mas Indra.

Aku menyuruh anak-anak untuk istirahat dan tidur siang karna mereka pasti lelah bermain. Aku dan mas Indra juga tiduran di kamar. Tapi tidak lama kemudian, kudengar suara yang sangat kukenal.

"Tante Sasa, hiks... hikss..." suara Maya terdengar menangis

Aku langsung menghampirinya dan mencari tahu apa yang terjadi?
Dan ternyata monster kecil itu menendang punggung keponakanku karna Maya tidak meminjami pensil warna yang sedang ia gunakan untuk mewarnai buku gambar. Tapi apakah harus menendang Maya hingga dia menangis kesakitan?

"Mas Indraa siinii masss!" aku berteriak memanggil mas Indra yang terlelap di kamar.

"Ada apa, hun?" mas Indra menghampiri kami di kamar.

"Lihat tuuu anakmu nakal banget sih! dia nendang Maya mas! keponakanku sampai nangis kesakitan gini!" aku marah sekali, ku peluk Maya lalu aku kemasi barang-barangnya, akan aku antar Maya pulang sekarang. Aku tidak terima monster itu menendang bahkan menyentuh keponakan kesayanganku!

Tak tahu kenapa, air mataku mengalir begitu deras mengetahui Maya di kasari oleh Lea hanya karna masalah sepele.
Mas Indra tidak berkutik waktu itu, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Si monster itu sendiri sedang diam di pojokan lalu mas Indra menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi.

"Kenapa Lea nendang Maya?" tanya mas Indra lirih.

"Maya nggak boleh aku ikut warnain," jawab Lea bohong.

Padahal kenyataannya punggung Maya di tendang karna Lea mau pakai pensil warna yang sedang di pakai oleh Maya.

Sambil menahan marah, aku berganti baju dan mengambil kunci mobil, aku akan mengantarkan Maya pulang, aku tidak akan bawa Maya main sama si monster itu lagi!

Mas Indra keluar dari kamar dan mencegahku pergi. Dia bilang Maya juga salah bla bla blaa....

Anehnya, Maya keponakanku ini tidak mau aku ajak pulang! dia betah disini, di rumahku.
Maya menangis tidak mau pulang, mas Indra juga mencegahku pergi. Aku sangat marah pada monster kecil itu yang berani menyakiti Maya! aku semakin membencinya. Ingin rasanya aku pukul dan ku tendang bocah itu dengan kaki dan tanganku!

Aku mengunci diri di kamar dan tidak membiarkan mas Indra masuk, dia menggedor-gedor pintu memintaku untuk membuka pintu tapi aku bungkam, aku menangisi Maya yang disakiti oleh anak tiriku yang ku benci setengah mati.

Mas Indra tidak habis akal, dia mencari kunci cadangan dan membuka pintu. Aku masih menangis di sudut ranjang. Mas Indra mencoba mendekatiku dan meminta maaf atas nama Lea. Dia ingin aku memaafkan Lea dan melupakan hari ini.

"Enak saja." Jeritku dalam hati.

Mas Indra terus membujukku dan minta maaf, akupun akhirnya luluh dan memaafkan Lea atas kejadian hari ini dengan syarat dia tidak boleh main tangan lagi atau aku yang akan mewakilkan Maya membalas pukulan maupun tendangan yang Lea lakukan.

Aku keluar kamar dan mengecek apa yang sedang dilakukan dua anak itu, ternyata mereka sedang main bersama.

"Ahh... Dasar anak-anak."

Tapi aku tidak bisa memaafkan jika sampai monster kecil itu menyakiti fisik keponakanku lagi.

_____________

Sekitar jam 7 malam, aku mengantarkan Maya pulang. Aku menceritakan semuanya pada kak Vera dan Ibu. Kedua bidadariku menasehati agar aku bisa lebih bersabar dengan Lea, turunkan emosi dan buang rasa benci. Tapi sumpah, untuk melakukannya sulit sekali. Ibu dan kak Vera juga bilang walau bagaimanapun, Lea adalah anakku juga, jadi akupun berkewajiban untuk merubah Lea menjadi lebih baik lagi. Tapi itu akan sulit, aku ragu Lea bisa berubah.

Aku mengecek HP dan ku lihat ada 14 panggilan tak terjawab serta banyak pesan masuk dari mas Indra menanyakan "kapan aku pulang?"

Sebenarnya aku ingin sekali menginap di rumah ibu, aku ingin tidur dan di peluk ibu malam ini. Tapi ibu malah menyuruhku pulang karna suami dan si monster itu menungguku.

"otw home." Aku mengirimkan pesan singkat untuk mas Indra.

"i'm waiting, i miss you, i love you, hun... i'm so sorry that i hurts you. (Aku tunggu, aku kangen kamu, aku mencintai kamu, hun... aku sungguh minta maaf telah melukai kamu)." Balasan mas Indra tidak sempat aku baca karna batre HP ku keburu habis.

Arrgghh... aku terjebak macet. Untung tidak bawa mobil sendiri, jadi bisa tiduran dulu. Aku sudah berpesan pada bapak driver untuk memanggilku jika sudah sampai rumah.
Kepalaku pusing dan sakit sekali. Ini pasti karna aku menangis tadi.

_______________

Di rumah, mas Indra mungkin khawatir sekali karna aku tak kunjung tiba, di luar juga sedang hujan lebat, apalagi ponselku tak bisa di hubungi.

_______________

#fiction inspired by #truestory
#fiksi terinspirasi dari #kisahnyata
Ditulis oleh : #aandzee
profile-picture
profile-picture
itkgid dan anasabila memberi reputasi
• Part 3
#MonsterKecil
#MingguPertama
#Harike4

"Telor Ceplok"


"Mbak... bangun, mbak, sudah sampai." Suara bapak driver membangunkanku. Sebenarnya aku tidak benar-benar tidur, hanya memang mataku terpejam tapi pikiran lari kemana-mana.
Arrgghh... apa aku masih sanggup melihat monster kecil itu di rumah setelah apa yang dia lakukan hari ini pada Maya?

"Ohh iya pak, terimakasih yahh." Jawabku sambil mengulurkan ongkos.

"Wahh, kebanyakan ini mbak,"

"Nggak papa itu buat bapak."

"Beneran?"

"Iyyaa pak."

"Makasih banyak ya mbak,"

"Yaa pak sama-sama."
Jawabku sambil membuka pintu mobil.

Aiihh... males banget sih turun dari mobil kali ini.

Aku melihat sesosok manusia berdiri di depan pintu menyambutku. Mas Indra mendengar ada suara mobil tadi, dan ia langsung keluar mengecek apakah itu aku yang pulang dari rumah ibu.

"Kamu bikin aku khawatir, Sa. Pesanku nggak di balas, di telpon juga nggak nyambung. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa apalagi di luar hujan deras." Mas Indra memang terlihat khawatir, tapi aku masih diam.

Aku hanya males ngomong. Mas Indra tahu betul kalau aku lagi 'badmood', mulutku seperti terkunci, hanya bibir ini saja yang menjadi 'Bimali', bibir manyun lima senti.

"Dia belum tidur mas?" tanyaku pada mas Indra saat aku melihat Lea berada di balik pintu sambil sesekali mengintip mas Indra yang memelukku di depan pintu.

"Mau nya tidur sama kamu, aku juga nggak bisa nidurin dia, dari tadi nggak tidur-tidur." Jawab mas Indra sambil menuntunku masuk rumah.

"Huufftt... melihat muka nya saja aku sudah muak, ini kenapa harus aku yang nidurin dia sih?! Sebel banget." protesku dalam hati.

"Ayo Lea tidur sekarang, besok kan sekolah." Ajakku dengan nada datar.

"Iyaa." Jawab Lea singkat.

Anak ini kalau tidur selalu memeluk tanganku, kadang tangan mungilnya meraih perut atau pundakku untuk di peluk. Tentu saja masih tersisa amarahku hari ini, aku tepis tangan itu, tapi dia gunakan dua tangannya untuk memeluk tanganku dengan posisi tidur miring berhadapan denganku.

"Hisshhh anak ini."

Perlahan ku lepaskan pelukannya sebelum aku juga ketiduran di kamar ini. Aku mau cuci muka dan minum teh panas sebelum tidur.

Di ruang depan, mas Indra sudah menungguku.

"Hun, udah tidur Lea?" tanya mas Indra saat aku menutup pintu kamar.

"Udah mas," jawabku datar.

"Kok cepet banget? tadi pas sama aku malah aku yang tidur." Mas Indra tampak heran aku bisa menidurkan Lea kurang dari sepuluh menit.

"Tadi belum ngantuk kali,"

"Iya juga yaa... tadi Lea nanyain kamu dimana huu... katanya mau tidur sama kamu."

"Ohya, Lea udah makan apa belom tadi mas?"

"Pas kamu pergi antar Maya itu, Lea nonton kartun sambil nunggu kamu pulang."

"Kamu gimana sih mas, kok anakmu gak di kasih makan? Tar malem-malem kebangun, lagi, kelaparan. Bikinin telor ceplok sendiri yaa, aku mau tidur."

"Kamu nggak tanya aku udah makan apa belum?"

"Emang kamu belum makan?"

"Gimana aku bisa makan kalau kamu aja nggak bisa dihubungi?"

"HP ku mati tadi pas di mobil."

"Yaudah, kamu mau masakin aku sesuatu? atau apapun yang bisa di makan deh, aku laper banget nungguin kamu pulang tadi."

"Nggak pengertian banget siih mass... istrinya lagi ngambek masih aja minta di masakin, belum aja aku suruh kamu tidur di sofa malam ini. Order Gofood aja sihh udah malem juga mesti masak. Capeekkk."

"Kamu yang orderin yaa."

"Order sendiriii... mau makan apa siihh?"

"Aku nggak tau mau makan apa, kamu aja yang pesen, kamu juga belum makan, kan?"

"Aku udah makan tadi di rumah Ibu."

"Tuhh... kamu udah makan aku kelaperan nungguin kamu dari tadi."

"Iyyaa maaf... lagian kamu lohh manja banget, tinggal order aja, makanan dianterin tinggal makan. Beres... kenapa musti nungguin aku segala?"

"Yaudah, kamu yang pilih aku makan apa,"

"Pilih sendiri, pengen makan apa emang? udah jam 10, banyak yang close order udahhh!"

"Apa aja asal kamu yang pilih."
Mas Indra memelukku erat dan menyerahkan padaku menu apa yang akan di pesan untuk makan (telat) malamnya.

*****

• Hari ke 4

Seperti biasa, mas Indra lari pagi, mandi dan menikmati sarapannya sementara aku menguncir rambut Lea lalu kami berangkat ke sekolah. Setelah mengantar Lea, aku dan mas Indra pulang. Aku membereskan rumah sementara mas Indra bersiap pergi ke kantor.

____________

"Lea mau makan apa?" tanyaku saat kami memasuki rumah.

"Nasi sama telor ceplok," jawabnya antusias.

"Pizza mau? Burger? Ayam goreng?"

"Mau makan nasi sama telor ceplok,"

"Bakso mau gak? Ayam bakar mau?"

"Nasi sama telor ceplok."


Astagaaa... sampai di ulang ulang pun tetep maunya nasi sama telor ceplok?!
Bapakmu itu lohh seorang bos, uangnya lebih dari cukup untuk beli makanan apapun yang kamu mau... malah mau nya nasi sama telor ceplok, nasi sama telor ceplok, nasi sama telor ceplok terus!
Emang di rumah mbak Dewi menu nya telor mulu apa? Uang jatah bulanan yang di berikan mas Indra kemana? masa cuman makan sama telor ceplok aja? Seriously? Hello? Am I dreaming?

"Telor ceplok" sungguh sangat kontras dengan gaya mbak Dewi di sosial media. Baju, tas, sepatu branded, nongkrong di cafe mahal, foto-foto liburan ke Bali, Bandung dan juga luar negeri?

"Pake duit dari mana lu mbakk buat penuhin gaya hedon elu, hah?" pertanyaan semacam ini berkecamuk di otakku. Aku harus memberitahu mas Indra tentang telor ceplok ini.

"Lea ganti baju ya, pipis, cuci tangan, cuci kaki.. aku buatin telor ceplok."

"Iyaa."


_________

"Masak apa hari ini, hun?" ada notif pesan masuk dari mas Indra.

"Kamu pulang buat makan siang, mas?"

"Iya sayang, satu atau dua jam lagi aku pulang yaa,"

"Okeii."

"I love you,"

"I love you too."


Hehehe... kami memang selalu saling mengirimkan kata "i love you" di akhir chat. Biar kami tidak lupa bahwa kami saling mencintai.

___________

'Pillow talk' malam ini membahas rencana mas Indra yang akan melakukan kunjungan kerja ke Singapura beberapa minggu lagi. Mas Indra mencari hari yang mepet 'weekend' agar aku juga bisa ikut menemani.
Karna ada Lea disini, kami jadi tidak bebas untuk pergi ke luar kota atau luar negeri seperti sebelumnya saat sebelum ada dia.

"No worries, Sa... ini udah hari ke 4, yaayyy!
11 harian lagi juga monster kecil itu akan balik ke rumahnya mbak Dewi, xixixi."
Lirihku dalam hati.

"Tadi Lea nakal apa nggak, hun?"

"Nakal banget!"

"Nakalnya gimana?"

"Aku minta dia beresin mainannya setelah selesai main biar nggak berantakan."

"Terus?"

"Dia ngambek tuh... gak tau kenapa tiba-tiba marah-marah, banting pintu lagi. Copot aja sih hun pintunya biar Lea gak banting-banting lagi."

"Gimana mau di copot pintunya? kamu ada-ada aja."

"Ohya dia juga pipis nggak di 'flush' padahal udah aku bilangin, abis pipis atau e'ek cebok dan 'flush', tapi dia gak dengerin omongan aku hun!"

"Pelan-pelan ya sayang bilanginnya, mungkin tadi Lea lupa?"

"Ya itu sih udah hal 'basic' lah hun, orang kalo abis pipis terus di siram biar nggak bau, kan tinggal di pencet aja bukan harus nyiram pake gayung."

"Ohya masakan kamu tadi enak banget lohh hun, aku suka... makasih yaa."

"Kamu lagi ngalihin pembicaraan ya mas?"

"Enggak,"

"Lha itu lagi ngomongin Lea gak siram pipisnya kamu ngapain bahas masakan aku? Emang tiap hari enak kok masakanku. Master Chef Sasa gitu loohh."

"Ya aku cukup tau aja, nggak usah di perpanjang lagi, besok aku bilangin Lea untuk nggak lupa siram."

"Kamu mah belain aja dia terus. Eh emang benaran enak menu tadi? menu baru tu, hun... aku lihat resepnya di yutub."

"Iya enak banget, saosnya banyakan bisa makin joss! Istriku emang pinter masak, the best pokoknya. Tapi masih kalah sama seseorang."

"Hah?! siapa? masakan siapa yang lebih enak dari aku?"

"Mamaku, yyeekk!"

"Yeee... itu sih jangan di bandingin sama aku. Kamu tu ya nggak 'grape to grape' bandinginnya iisshhh... Mama kamu adalah panutanque!"

"Itu apa segala anggur ke anggur?"

"Kan udah umum 'apple to apple' jadi aku ganti aja jadi buah lain."

"Iyaa iyaa... masakan istriku emang terenak 'di rumah' ini."

"Muji doang... mintaaa duiitttt..."

"Mau beli apa?"

"Nggak tau... minta ajjaa kan aku udah masak enak."

"Berapa?"

"Sebanyak-banyaknya!"

"Heyy, kamu ini. Besok yaa... tidur yukk."
mas Indra memelukku dan kami terlelap.

______________

"Pillow talk" setiap malam kayak gini tuh penting, kami berdua saling terbuka dan bebas bercerita apa saja tentang hari ini. Ohya, bisa juga jadi sesi minta duit yang terselubung. Hahaha

Hubungan yang baik itu salah satunya adalah komunikasi yang lancar, dengan komunikasi yang lancar dan saling terbuka, saling jujur, maka akan tercipta kedekatan yang makin erat. Begitu deh menurut artikel atau buku yang pernah aku baca.

_______________

#fiction inspired by #truestory
#fiksi terinspirasi dari #kisahnyata
Ditulis oleh : #aandzee
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 2 lainnya memberi reputasi
keren
kepikirian nulis scriptnya, shooting dan upload ke youtube. seru ini goon

emoticon-Recommended Seller
Quote:

thankyou kk udah baca emoticon-Malu

part selanjutnya ada beberapa adegan absurd dan sisi goon yg galak dan kejam sebagai ibu tiri 🤣🤣
profile-picture
profile-picture
eghy dan anasabila memberi reputasi
Quote:


klo itu sih bukan cerita, tp confession kan? #eh
profile-picture
anasabila memberi reputasi
Nitip komen, sekalian nyumbang bata
emoticon-Lempar Bata




emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
goonerettekw memberi reputasi
ijin gelar tikar sist emoticon-Big Grin
profile-picture
goonerettekw memberi reputasi
Hohoho ibu tiri..
kereen kaka 😀
profile-picture
goonerettekw memberi reputasi
Quote:


dimana letak keren nya, kak? 🤣
Quote:


woh agan demikung! kaskuser pertama yg ngasih aku cendol dulu pas aku baru aja ngaskus emoticon-Mewek
Quote:


kayaknya ini aidi nggak asing deh emoticon-sudahkuduga


emoticon-Blue Guy Bata (L)
Quote:


pengakuan sebagai orang galak? maybe? emoticon-Leh Uga
Quote:


Pokoknya mah suka aja kalo baca cerita tentang ibu tiri 😁
profile-picture
goonerettekw memberi reputasi
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di