CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
STORY OF MY LIFE - 2017 - Preambule
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e411376f0bdb228a66d4d65/story-of-my-life---2017---preambule

STORY OF MY LIFE - 2017 - Preambule

Perkenalkan, namaku Husin Sasongko . Biasa dipanggil Hus, atau Sin saja seringnya, kadang ada juga yang manggil Hus. Sebenarnya tidak masalah mau dipanggil apa, asal masih sopan aku masih OK.

Aku tinggal di kota Jombang, Jawa Timur. Iya Jombang. Bagi teman-teman yang jarang baca pasti bingung, sebenarnya Jombang itu dimana. Kan saya sudah bilang tadi di Jawa Timur. Tepatnya kalau cek di Wikipedia dia berbatasan dengan Kota Mojokerto dan juga Kediri. Dia berada di tengah propinsi. Termasuk banyak memiliki sawah dan sayang belum memiliki laut.

Kota Jombang sendiri sering sekali disebut kota santri. Memang cukup banyak pesantren yang ada di kota Jombang. Salah satu yang terbesar adalah Tebuireng yang memiliki nama yang besar dan akar yang kuat di antara umat Islam di Indonesia. Namun jangan kira aku sendiri yang warga asli kota ini, yang lahir disini dan besar disini adalah orang yang religius. Tidak. Aku masih jauh sekali dari yang dinamakan alim atau religius. Sampai sekarang aku masih harus banyak belajar tentang agama. Siapa yang tidak?

Tapi bukan berarti aku dari golongan berandal, anak-anak nakal yang doyan geng-gengan tawuran, trek-trekan motor dan ngompasin anak lain. Sama sekali tidak. Bisa dibilang aku dari golongan manusia biasa yang cenderung abu-abu. Aku cenderung pendiam sejak kecil. Pendiam di mulut tapi sepertinya cukup cerewet di jari-jari. Contohnya seperti yang kalian baca, dalam waktu singkat sudah cukup banyak hal yang kutulis. Ada yang menurut kalian penting ada juga yang menurut kalian tidak penting

Bisa dibilang aku sejak kecil dari golongan yang tanggung. Kata orang golongan yang tanggung adalah golongan yang paling banyak menderita. Mungkin ada benarnya.

Sebelumnya aku beritahu dulu kenapa aku sekarang menulis. Dibalik semua ketanggungan dan sangat biasanya kehidupanku, ada sebuah cerita yang sangat menarik bila kuingat dan sangat menyenangkan bila diingat-ingat kembali. Kenangan-kenangan lama tentang romantisme masa remaja. Hari ini aku tepat berumur 35 tahun. Sudah tidak bisa dibilang remaja lagi, walau masih bisa dibilang seorang pemuda. Usia yang cukup matang.

Salah satu sahabatku yang bernama Weinard mengatakan bahwa di umur 35 tahun, kita harus tahu dan sudah settle kita akan menjadi apa. Aku memutuskan ketika di umur 35 tahun aku akan menulis kisahku, sebuah memoar tentang perjalanan hidupku. Hal yang sebenarnya sudah kurintis bertahun-tahun lalu. Bahkan sebelum aku bertemu istriku, sebelum aku menikah, sebelum  ceritanya selesai.
Terutama tentang bagaimana aku bisa akhirnya bertemu dan bersanding dengan wanita yang sekarang menjadi istriku. Ini penting karena, mungkin hal ini adalah salah satu kisah yang paling menakjubkan dari hidupku. Sampai disini, aku bisa menyimpulkan bahwa di kehidupan setiap orang. Aku bilang setiap orang, pasti ada kisah-kisah yang akan selalu diingat dan mungkin ada kisah-kisah luar biasa di balik individu-individu yang sekilas kita lihat  kita nilai biasa –biasa saja. Itulah kenapa jangan menghakimi buku dari sampulnya.

Seperti yang akan kuceritakan ini, adalah sebuah kisah yang nyata yang perlu kuceritakan. Karena pasti di luar sana banyak anak/orang yang seperti aku. Aku tidak akan mengajari apapun kepada kalian, karena aku sendiri bukan orang yang pintar dan bukan juga guru yang baik. Aku hanya ingin kalian belajar dari apa yang aku ceritakan. Orang-orang yang katanya pintar adalah orang yang belajar dari pengalaman. Baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Kita tidak perlu mengalami semuanya agar kita mengerti, karena hidup itu terlalu singkat untuk kita lewati dengan harus mengalami semuanya untuk belajar.

Mungkin terdengar klise tetapi aku ingin berbagi dengan semua orang dan terutama generasi selanjutnya. Bahwa bagaimanapun keterbatasan dan kekurangan kita maka jangan kuatir, sesungguhnya keberhasilan adalah milik orang yang terus berusaha dan semua orang berhak untuk berhasil. Itupun harus ditutup dengan sebuah premis dimana pada akhirnya semua sudah ditentukan oleh Tuhan. Tuhan sangat penting disini. Rencana Tuhan seringnya memang mengejutkan dan tidak disangka-sangka. Makanya jangan sok-sokan menghakimi Tuhan terlalu cepat. Karena aku benar-benar sudah membuktikan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius dan menarik. Kita ini sungguh kecil bila dibandingkan dengan nikmat yang diberikan dan disiapkan Tuhan kepada kita.

Salah satu kisah yang kurasakan sendiri sangat menarik yang sering kuceritakan terus diantara teman-temanku adalah kisah pencarianku ini. Bagaimana aku belajar dari nol, secara otodidak untuk bisa memahami makhluk yang bernama wanita, melalui beberapa peristiwa yang mengguncangkan dada, sampai akhirnya diakhiri dengan pernikahan dengan salah satu hadiah terbaik yang disiapkan oleh Tuhan untukku. Istriku.

Maka sebagai sebuah warisanku, Aku…Husin Sasongko, dengan ini aku menuliskan sebuah buku yang memuat kisahku. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan bahan renungan walau mungkin beberapa dari bagian dari buku ini ada bagian-bagian yang tidak bisa dijadikan pelajaran/diteladani. Tetapi aku hanya berusaha menulis apa adanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di saat-saat itu. Ambillah yang baik dan tolong jangan dihakimi hal-hal yang kurang baik. Ini semua adalah masa lalu dan kita tak bisa mengubah masa lalu, hanya bisa mengambil pelajaran darinya

Ada baiknya aku tarik kisahku ini di awal dimana aku bisa mengingat kembali tentang hubungan di luar hubungan dengan keluarga yaitu hubungan pertemanan agar kalian bisa mendapatkan gambaran siapa aku sebenarnya.

Sepanjang cerita ini, semoga kalian menemukan keasyikan untuk menerka-nerka siapa yang akan menjadi istriku sebenarnya. Maka nikmatilah perjalanan ini bersamaku kembali.

Karena ini sebenarnya bukan sebuah perjalanan menemukan cinta, tetapi lebih kepada perjalanan menemukan siapa diriku sebenarnya.






profile-picture
i4munited memberi reputasi
Diubah oleh mikail_yani
Halaman 1 dari 2
pertamax octan 180+++
profile-picture
i4munited memberi reputasi

STORY OF MY LIFE - 1986 to 1973 - My Dad

Aku berasal dari keluarga pengajar. Ayahku adalah seorang Guru Bahasa Inggris di salah satu SMA yang ada di Jombang. Sedangkan Ibuku adalah seorang Dosen Hukum di salah satu Universitas swasta di Jombang. Kalau di rumah sih ibuku cenderung lebih santai dan tidak banyak aturan, beda dengan ayahku yang dari kecil sudah menerapkan disiplin tingkat tinggi terutama ke anak-anaknya dan adik-adiknya.

Oh ya, aku tinggal dengan paman-pamanku. Mereka adik-adik ayahku. Ayahku berasal dari Bau-Bau Sulawesi Tenggara, merantau ke Jawa selepas SMA. Selepas menjadi guru dan menikah dan sudah mengontrak rumah, maka dia memanggil adik-adiknya untuk melanjutkan pendidikan di Jombang

Ayahku memiliki kisah yang cukup panjang terkait perjalanannya sejak kecil. Ayahku dibesarkan dalam keluarga yang sangat miskin. Saking miskinnya hal ini membuat semua 7 bersaudara termasuk ayahku harus bekerja dan berjualan untuk bisa mendapatkan uang tambahan. Sampai akhirnya ketika lulus SMA ayah ingin merubah hidup dan memutuskan untuk merantau ke Jawa, tepatnya ke Surabaya dimana disana sama sekali tidak ada orang yang dia kenal, tak ada saudara dan tak ada teman. Aku ingat ayahku bercerita bahwa nenekku terus menangis ketika melihat ayahku berniat untuk merantau ke Jawa. Maklum prinsip makan ga makan kumpul masih dipegang erat oleh nenekku. Namun ayahku punya pendapat berbeda, hidup harus diubah, dan satu-satunya hanya dengan hijrah.

Singkat kata dia akhirnya berangkat ke Surabaya dengan persiapan seadanya. Semuanya dilakukan, bahkan sampai harus menjadi tukang sapu jalan di Surabaya. Makan juga senin kamis, ada cerita yang diulang-ulang oleh ayahku ketika dia mengingat dia menunggui tukang penjual kacang di pinggir jalan yang menjual kacang rebus sampai bubar. Agar dia bisa mengambil sisa-sisa kacang yang jatuh di jalan buat dimakan supaya dia bisa makan kacang! Sampai segitunya yang harus dilakukan ayahku untuk survive saat itu. Bersyukur akhirnya dia mendapatkan beasiswa untuk sekolah di IKIP Surabaya dan kebetulan beliau mengambil jurusan pendidikan bahasa inggris.

Ada lagi cerita lucu yang dia ceritakan berulang-ulang padaku sejak kecil. Dikarenakan setelah kuliah dia harus melakukan laki pekerjaan menyapu jalan mengangkat sampah untuk mencari tambahan uang, maka seringkali dia sampai di kos-kosannya dalam keadaan sudah sangat lelah dan sudah tak ada lagi tenaga untuk belajar. Sehingga langsung jatuh tertidur setelah dia melakukan bersih-bersih

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke dokter untuk meminta obat yang bisa membuatnya tidak tidur semalaman agar dia bisa belajar. Dokterpun geleng-geleng heran karena orang lain datang ke dokter untuk meminta obat agar bisa tidur, sedangkan ayahku datang untuk meminta obat supaya tidak tidur agar bisa belajar.

Ayahku akhirnya lulus dari IKIP Surabaya dan mengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah atas negeri yang ada di Jombang. Di jombang jugalah bertemu dengan ibuku dan menikah sampai memiliki 3 orang anak. Aku adalah anak yang tertua. Kebetulan semuanya laki-laki

Bila melihat dari sejarah singkat kehidupan ayahku, wajar sekali ayahku menjadi orang yang sangat disiplin dan cenderung keras kepada anak-anaknya. Terutama kepadaku sebagai anak tertua karena prinsip sederhana, Orangtua tidak ingin anaknya menderita lebih daripada mereka.

profile-picture
i4munited memberi reputasi

1986 - Tentang Daniel


Waktu itu aku adalah anak yang masih berumur 4 tahun.

Iya 4 tahun.

Ini penting, karena ini adalah awal dimana aku bisa mengingat sesuatu.

Aku masih tinggal di Sebuah Perumahan di Jombang yang bernama Perumahan Cacad Veteran. Perumahan yang berada di Jl Basuki Rahmat Jombang. Sebuah perumahan dimana konsepnya cukup unik. Rumah2 disusun mengelilingi sebuah lapangan yang ada di tengah perumahan. Kebetulan rumahku adalah yang berada di pojok utara perumahan itu. Sebenarnya bukan yang paling pojok sih, karena masih ada satu rumah yang berada paling pojok yaitu rumah Daniel. Teman laki-laki pertama yang kuingat kumiliki di dunia ini. Daniel adalah anak orang kaya, bapaknya sepertinya indo keturunan. Pak Thomas kami memanggilnya. Ibunya asli pribumi tetapi cantik. Wajar saja kalau akhirnya punya anak seperti Daniel yang lumayan ganteng kulihat. Hanya saja sama seperti anak yang lain seumurannya, cengeng. Akupun gak jauh beda.

Main ke rumah Daniel yang memang sebelah rumah memang selalu menyenangkan. Dia punya banyak mainan, dia punya video di rumahnya. Video di jaman itu bisa dibilang barang mewah. Walaupun masih format Betamax. Satu-satunya yang bikin aku males adalah anjing si Daniel yang namanya Pleki itu. Anjing itu kuanggap semacam binatang buas yang menjaga rumah. Jadi agak susah memang kalau mau main dan masuk ke rumah Daniel bila belum janjian terlebih dahulu. Anjing hitam jenis Rottweiller kalau aku nggak salah.

Anjing besar yang terlihat bukan seperti anjing pecundang itu memang jadi momok setiap aku ingin melangkahkan kaki ke rumah Daniel. Gonggongannya horor, seperti berhadapan dengan singa saja. Asli nyaliku ciut bila ingin menuju pintu rumah Daniel untuk sekedar mengetuk pintu, karena si Pleki ini selalu nongkrong diikat di pohon di depan rumah Daniel.

Rumah di perumahan cacad veteran memang rata-rata rumah ukuran 36, cukup kecil dan di zaman itu masing-masing rumah tidak ada pagar khusus. Seringnya bila aku takut ke rumah Daniel yang sebelah rumah itu karena ada pleki yang sedang bangun dan rajin melototin dan menggonggong kepada orang yang mau masuk ke rumah maka aku biasanya meminta Daniel membawa mainanya seperti tentara-tentaraan , mobil-mobilan ke rumahku sehingga kami bisa bermain bersama. Caranya bagaimana? Teriak-teriak dari sebelah rumahlah.

Kadang aku berkelahi juga sama Daniel sampai kami nangis. Namanya juga anak cowok. Tetapi biasanya cepat baikan lagi.

Daniel secara garis besar adalah anak yang baik, hanya saja ada bagian dari kelam dari kehidupannya yaitu perceraian kedua orang tuanya. Begitulah, tidak semua bagian dari kehidupan kita itu putih atau hitam. Semua orang memiliki bagian yang kelam di kehidupannya sendiri-sendiri, untuk Daniel hal itu tidak mengubahnya menjadi anak yang baik. Kebetulan dia satu tahun lebih tua dariku. Kami masih satu SD dan dia termasuk golongan anak yang tidak pernah bikin onar.

profile-picture
i4munited memberi reputasi
numpang nenda om

mana lanjutan nya om
semoga nyampe tamat yah om🙏🙏
Quote:


Turbo emoticon-Big Grin
Quote:


Siap juragan.doakan yah bisa sampe selesai🙏🙏🙏🙏
Quote:


Siap om
berarti sekarang sudah nikah kah om?
Quote:


Hehe sudah om😁
Quote:


Wah seru nih kayanya om kaloe ceritanya sampe part tentang nikah hehe
Lihat 1 balasan
Balasan post syd1210
Quote:


Iya om, tapi maafkan sebelumnya, karena ceritanya akan sangat panjang iniemoticon-Matahari emoticon-Matahari emoticon-Matahari emoticon-Kaskus Lovers

1986 - Tentang Rose

Bila Daniel adalah teman laki-laki pertamaku, maka Rose adalah teman wanita pertamaku. Kalau Daniel rumahnya ada di sebelah rumahku, adalah rumah yang berada di paling pojok tepatnya di bagian pojok barat perumahan, maka Rose memiliki rumah di pojok timur perumahan. Awal pertemanan kami adalah karena orang tua kami sama-sama guru dan pengajar. Ibuku adalah seorang dosen sedangkan ayahku adalah seorang guru , begitu juga dengan kedua orang tua Rose, dua-duanya adalah seorang pengajar.

Faktor kedua adalah, paman-paman Rose juga adalah teman baik dari paman-pamanku. Kebetulan seperti yang kuceritakan sebelumnya , paman-pamanku, adik ayahku yang dari Bau-Bau banyak yang ikut ayahku untuk melanjutkan pendidikan di Jombang. Di perumahan itulah mereka berteman dengan Paman-Paman dari Rose.

Selanjutnya? Ya pastilah aku akhirnya mengenal Rose. Anak perempuan yang tinggal di pojokan perumahan itu. Aku sering main ke rumahnya bersama paman-pamanku. Jadi kalau pamanku menemui Paman Rose, aku akan menemui Rose dan sering aku mengambil pisang yang kebetulan banyak terdapat di kebun kecil milik Pak Yono, ayah Rose. Hal itu seringkali memang bikin aku kena marah, atau paling tidak Rose pasti kena marah gara-gara ulahku itu. Gimana lagi, pisang-pisang itu terlalu menggoda untuk tidak dipetik dan dimakan. Lagipula aku waktu itu hanya seorang balita, aku rasa walau tingkahku menjengkelkan tapi masih dalam kewajaran.

Rose sendiri memposisikan dirinya waktu itu sebagai kakakku, karena memang dia lebih tua dariku seminggu, dan dia selalu minta aku memanggilnya dengan panggilan “Mbak”. Untuk mengejawantahkan bahwa dia memang lebih tua dariku dan aku harus nurut dengan dia

“Jadi dik Husin, mulai sekarang, kamu harus manggil aku mbak ya?”

“Ooo, kenapa?”

“Kok kenapa seh? Ya jelaslah, karena aku ini lebih tua dari kamu! Jadi kamu harus manggil aku kayak gitu dan kami harus nurut sama aku sebagai mbakmu” Rose ngomong gitu sambil berkacak pinggang di depanku, menunjukkan otoritasnya

“Oooo, yo wis yo wis. Aku nurut, mbak”

Rosepun tersenyum puas.

Sepertinya memang sebuah kebanggaan memiliki adik laki-laki yang doyan nyolong pisang seperti aku. Kebetulan dia punya 1 adik dan itu cewek. Jadi mungkin di dalam hati Rose mungkin memiliki keinginan memiliki seorang adik laki-laki.

Namun memang selanjutnya, aku bener-bener harus nurut sama dia. Harus mau diajak main pasaran, jual beli, main boneka, lompat tali dan permainan cewek lainnya. Sebagai seorang anak laki-laki tentu di dalam hati aku memberontak, tetapi aku sudah terlanjur mengiyakan bahwa aku akan nurut sama dia. Jadi aku sih nurut-nurut saja walau agak gimana gitu dalam hati. Aku akhirnya untuk mengobati kebosananku aku mau diajak main sama dia asalkan aku boleh ngambil pisang di kebunnya yang sebenarnya dilarang oleh Pak Yono untuk dipetik.

Aku sendiri ,entah kenapa Pak Yono itu sangat protektif dengan hasil kebunnya, walau cuman sebuah pisang saja yang diambil dia langsung bisa tahu dan akhirnya melampiaskan marah-marahnya ke siapa saja yang bisa dilampiaskan.

Anehnya Rose seakan selalu menuruti keinginanku untuk nyolong pisang di kebun bapaknya sendiri, walau akhirnya dia juga yang harus kena marah dengan sejuta alasan yang bisa diungkapkan Rose untuk melindungiku. Rose memang sangat protektif kepadaku bahkan terhadap bapaknya sendiri waktu itu

Karena tidak enak Rose selalu dimarahi gara-gara aku hanya karena buah pisang, aku memutuskan untuk tidak nyolong buah pisang lagi dan bermain biasa saja dengan Rose seperti biasa.

Sebenarnya asyik kalau Daniel mau ikut, tapi anak laki-laki mana yang mau diajak main mainan cewek yang kaya gini, hanya aku saja mungkin yang bener-bener ngikut sama maunya “Mbak Rose” ini gara-gara aku sudah manggil dia mbak dan berjanji nurutin kata-kata dia sebagai kakakku.

Persahabatan kami memang dimulai sebelum masa Taman Kanak-Kanak.

profile-picture
i4munited memberi reputasi
Diubah oleh mikail_yani

1986-Paman-pamanku

Oh ya, aku jadi lupa cerita tentang paman-pamanku. Aku memiliki 4 orang paman , memang banyak, yang ikut ayahku. Semua adalah paman-paman yang tumbuh bersamaku, dan mengajarkan aku banyak hal. Senasib sependeritaan kalau aku bilang. Masa-masa itu adalah masa-masa perjuangan ayahku dalam bekerja, untuk bisa memenuhi kebutuhan pendidikan dari aku, adik-adikku dan juga paman-pamanku.

Waktu aku masih kecil memang aku nggak begitu paham bagaimana beratnya menjadi seorang ayah dan laki-laki dalam posisi seperti ayahku. Baru ketika aku sudah beranjak dewasa jadi paham betapa beratnya apa yang dilakukan ayahku waktu itu. Menopang seluruh keluarga. Itu yang aku salut dari ayahku, terlepas dari bagaimanapun watak dan perangainya, tetapi dia tetap inginkan dan lakukan yang terbaik untuk seluruh keluarganya.

Paman tertua yang ikut denganku adalah Om Arman, waktu itu dia sudah berumur 20 tahun. Dia waktu kuliah di sebuah sekolah swasta lanjutan di Jombang bernama STKIP. Jurusan Matematika. Dia memang bertujuan untuk menjadi guru selepas lulus dari sekolah tersebut. Om Arman termasuk pamanku yang paling kalem. Waktu itu dia termasuk yang paling sering ngurusin aku ketika di rumah ketika ayah dan ibuku bekerja. Termasuk memandikan, nyuapin makan sampai menjaga aku dan adik-adikku. Om Arman memang pamanku yang paling flamboyan yang paling telaten njagain ponakan-ponakannya. Om Arman juga termasuk omku yang memiliki wajah ganteng. Rata-rata paman-pamanku memang memiliki wajah yang di atas rata-rata untuk ukuran laki-laki

Apakah ini karena wajah mereka yang memang bukan tipikal wajah orang jawa? Agak berbeda? Aku juga tidak paham. Tetapi aku tahu, seperti Om Arman itu banyak cewek yang ngefans, kadang aku dititipin salam wanita yang kukenal kadang yang tak kukenal kepada Om Arman. Aku hanya menyampaikan saja. Waktu itu aku tidak paham salam itu apa. Mungkin mereka keren melihat laki-laki dewasa yang telaten mengasuh anak-anak kecil seperti aku dan adik-adikku.

Yang kedua adalah Om Herman, Kalau Om Herman ini agak berbeda dengan Om Arman. Dia bukan tipikal flamboyan, dia cenderung blak-blakan dan agak garis keras dalam pemikirannya. Kebetulan Om Herman adalah adik ayahku yang paling cerdas. Waktu SMA dia tergabung dalam golongan anak Fisika. Waktu itu di tahun 1986, ketika dia berumur 17 tahun, sepertinya dia termasuk golongan anak-anak paling pinter di SMA. SMA Om Herman waktu itu sama dengan SMA tempat ayahku mengajar.

Ada sebuah cerita yang disampaikan oleh Om Herman kepada paman-pamanku yang lain yang secara tidak sengaja ikut kudengarkan waktu kecil. Jadi apabila anak Fisika jam kosong main bola di lapangan sepakbola sekolah, yang seharusnya memang dilarang dilakukan waktu jam kosong, guru-guru memang akan menegur, tetapi mereka cenderung kalem.

“Duh, mentang-mentang sudah pinter-pinter. Jam kosong malah main bola di lapangan, ayo anak-anak balik ke kelas dulu. Tidak boleh main bola di luar jam olahraga dan jam istirahat” Mereka hanya disuruh kembali ke kelas tanpa hukuman apapun.

Tetapi beda bila anak Sosial atau biasa disingkat SOS, yang bermain sepakbola di lapangan sekolah ketika jam kosong. Teguran guru yang melihat akan kurang lebih seperti ini:

“WOI, DASAR GOBLOK!!Mau jadi apa kalian hah? Jam kosong bukannya belajar di kelas malah main bola di lapangan. ITU DILARANG WOI!! Bisa Baca semua kan??? Ayo Kalian semua, lari keliling lapangan sepuluh kali sebagai hukuman!!!!”

Begitulah, aku juga heran. Sebenarnya kalau kita pikir anak Fisika, Biologi, Sos itu bukannya beda memang, gak bisa disamakan, tetapi memang seperti sebuah hukum tidak tertulis memang anak Fisika berada di trah teratas dari rantai pendidikan di SMA saat itu, dan anak Sos berada di trah terbawah. Sama ketika jamanku SMA ada memang gap yang jelas antara anak IPA dan IPS

Mendengar cerita dari Om Herman, semua orang tertawa, termasuk aku yang masih berumur 4 tahun waktu itu. Aku akhirnya menyadari bahwa Om Herman adalah adik ayahku yang paling pintar.

Paman ketiga yang ikut dengan ayahku adalah Om Najib. Kalau Om Herman adalah yang paling pintar, yang satu ini adalah yang paling preman. Paling pemberani. Umur selisih 2 tahun lebih muda daripada Om Herman.

Om Najib diantara adik-adik ayahku adalah pamanku yang memiliki fisik paling bagus, karena sering sekali berolahraga. Push-up, Sit Up adalah makanan sehari-harinya, melebihi minum obat dia melakukan itu di rumah. Belum lagi angkat barbel. Ditambah lagi dia juga ikut latihan bela diri, kempo. Bila tidak salah seingatku memang dia sudah sampai di level yang lumayan tinggi, entah Coklat atau hitam sabuknya. Di rumah juga ada Nunchaku milik Om Najib yang setiap hari dia gunakan untuk berlatih. Bisa dibilang dia itu seperti mesin berkelahi yang ada di rumah.

Tak jarang apabila Om Herman ada masalah dengan satu pihak di sekolah, maka Om Najib yang datang membereskan masalah dengan seberes-beresnya. Ya, dia memang sangat jago berkelahi. Lucunya, dulu waktu ada tawuran antar sekolah kakak beradik ini berangkat tawuran bareng dengan membawa senjata masing-masing. Om Najib membawa Nunchaku sedangkan Om Herman membawa samurai. Entah bagaimana hasil tawurannya tapi yang jelas ketika sampai di rumah mereka berdua ditempeleng oleh ayahku karena ikut tawuran.

Om Najib memang terkenal sebagai jago berkelahi, semacam musashi di jamannya. Jadi apabila ada acara di sekolah yang melibatkan orang banyak seperti pensi dll, dia pasti menjadi seksi keamanan. Melihat dia di seksi keamanan , maka biasanya jarang ada yang berani bikin onar.

Namun dia juga memiliki kebiasaan aneh seperti tidur ketika mengemudikan sepeda motor. Pernah dia tidur ketika mengendarai vespa ayahku dalam kondisi sedang membonceng sepupuku yang bernama Mbak Rina. Akhirnya terjadilah kejadian itu, Vespa itu melompat karena ngebut menabrak gundukan pasir dalam kondisi ternyata Om Najib yang lagi nyetir motor sedang tertidur, sehingga terjadilah kejadian seperti film-film action itu, cuman bedanya waktu mendarat kalau di kehidupan nyata ya jatuh sejatuh-jatuhnya nggak seperti di film action yang kendaraan jagoannya selalu mendarat di tanah dengan mulus. Akibat kejadian itu Mbak Rina harus diopname seminggu untuk penyembuhan luka di kakinya akibat kecelakaan itu. Anehnya Om Najib yang tidur di depan malah sama sekali tidak terluka! Tapi ya bisa ditebak, berakhir dengan tempelengan ayahku di mukanya. Kali ini sampai beberapa kali

Paman yang terakhir adalah yang bernama Mas Harry. Dia adalah yang paling dekat denganku, seakan umur kami seumuran (padahal masih selisih 6 tahun). Waktu kita kecil selisih umur 6 tahun terlihat jauh sekali memang, jadi ketika aku kelas 1 SD dia sudah kelas 1 SMP. Namun Omku yang satu ini bener-bener paling dekat denganku. Tidak jarang, kalau ada ajang bermain aku selalu ikut dengan dia.

Begitulah anak kecil, kalau masih kecil mereka ingin diakui oleh yang lebih tua. Makanya aku sebenarnya cukup sering ingin ikut bermain bersama dengan Mas Harry, tapi pasti kesempatannya 50-50, antara aku boleh ikut atau tidak.

Salah satu yang membuat kami dekat karena fisik kami cenderung hampir sama walau terpisah 6 tahun. Mas Harry memang fisiknya kecil sedangkan aku tumbuh pesat ketika kecil, jadi kalau ada yang bilang kami seumuran mungkin secara fisik memang agak masuk akal. Aku yang 4 tahun besarnya sudah hampir menyamai Mas Harry yang 6 tahun lebih tua dariku.

Mas Harry adalah Om yang paling dekat denganku, kami sering berbicara seperti layaknya teman seumuran. Jadi bisa dibilang temanku diantara paman-pamanku adalah Mas Harry yang waktu itu sudah berumur 10 tahun di tahun 1986. Banyak yang akan aku lalui dengan Mas Harry di hari-hari mendatang.

Mungkin sekian dulu perkenalan singkatku terkait paman-pamanku.

profile-picture
i4munited memberi reputasi
Quote:


Siap om ane pasti pantengin walaupun panjangemoticon-Shakehand2
Lihat 1 balasan
Balasan post syd1210
Quote:


terimakasih juragan

1986 - Aku, Si Introvert

Sebenarnya sejak umur usia dini karakterku sudah agak terlihat. Aku sebenarnya agak tertutup tapi bisa benar-benar sangat terbuka kepada orang-orang yang benar-benar aku kenal atau aku nyaman bicara. Seperti paman-pamanku atau teman-teman dekatku seperti Daniel dan juga Rose. Aku memang suka main seperti anak yang lain, hanya saja bukan tipikal anak yang gampang bergaul dan bukan tipikal anak yang suka berkenalan atau berinisiatif untuk memulai sebuah pembicaraan terlebih dahulu, walau terus terang aku bisa mengatakan bahwa aku adalah teman ngobrol yang enak. Salah satunya adalah kemampuan mendengarku yang baik. Mas Harry dan Rose adalah 2 orang yang paling senang kudengar curhatan dan ceritanya di masa-masa itu

Aku tipikal orang yang sebenarnya juga sangat menyukai bermain sendiri, entah bermain dengan tumbuhan atau hewan , batu atau apapun yang bisa kujadikan mainan. Seringnya bila tidak bermain dengan Rose maka aku akan jalan sendiri. Jarang sekali aku ketika kecil bermain bersama Mas Harry walau sesekali dia mengajakku tapi tidak sering. Berlari-lari di jalanan perumahan dan di lapangan adalah salah satu favoritku, hal itulah yang membuat kulitku hitam legam sejak kecil, karena seringnya aku bermain di bawah teriknya matahari. Masa-masa itu sebenarnya sudah memperlihatkan 2 sisi kepribadianku, aku bisa menikmati kebersamaan dengan orang lain tapi sejatinya aku juga sangat menikmati keasyikanku dalam kesendirianku. Aku memang sebenarnya bisa dibilang seorang yang introvert.

profile-picture
i4munited memberi reputasi
Quote:


Sama-sama juraganemoticon-Shakehand2
Quote:


Sama-sama juraganemoticon-Shakehand2

1986 – Adikku di Tahun 1986

Aku juga memiliki adik yang lahir di tahun 1986. Namanya Fandi, selisih 4 tahun dari aku. Konon katanya ketika ibuku sedang masuk rumah persalinan aku mendorong meja ruang bersalin sampai barang-barang yang ada di atasnya jatuh berantakan. Hal ini membuatku harus diungsikan oleh ayahku ke tempat orang lain. Hari dimana adikku Fandi dilahirkan.

Ini bukan berarti aku gak suka punya adik. Aku sukalah, punya saudara. Hanya saja memang saat itu aku anaknya nakal dan jahil. Itu saja.

Waktu Tahun 1986 sendiri cerita tentang Fandi ga begitu banyak, karena anak itu bisanya hanya nangis sama eek aja waktu itu, hehehehe

1986 – Masuk Sekolah TK

“Dik Husin, kamu ini ya…aku harus bilang apa nanti sama bapak?”

Ini adalah kata-kata khas yang sering aku dengar dari Rose, bisa jadi satu dari sedikit temen perempuan yang kumiliki sejak kecil. Namanya Rose Widyaningsih, anak perempuan yang menjadi tetanggaku sejak kecil, sejak umur 3 tahun aku pindah ke lingkungan Perumahan Cacat Veteran, sebuah perumahan yang ada di dekat rel kereta api di Jombang.

Bila dia sudah berkacak pinggang dengan gesture jengkel seperti itu, biasanya aku hanya mringis sambil ketawa kecil, berharap dia memaafkan kelakuanku mengambil pisang di kebun milik ayahnya. Rose anak yang lincah dan sangat care dengan teman-temannya termasuk aku, tapi dia juga memiliki ayah yang punya hobi berkebun, yang tentu tidak suka bila ada yang sembarangan mengambil hasil kebunnya. Bila ada yang ketahuan mengambil pisang atau apapun yang ada di kebun rumahnya itu (Seperti aku), dia pasti langsung menegur atau bila tidak ketahuan siapa yang ngambil, pasti dia akan menegur Rose, seakan Rose itu sudah jadi penjaga kebun.

“Hehe, maaf mbak, aku ndak kuat ngeliat pisang yang dah mateng ini. Maaf ya?”

Rose cuman diam sambil tersenyum pahit dan menggeleng-gelengkan kepala, walaupun marah tetapi dia memang tidak bisa terus-terusan marah denganku. Entah kenapa, dia sudah menganggapnya aku seperti adikku. Walau dia cewek, putih, bersih sedangkan aku cowok, item, dekil (sering main sana sini, sering berjemur). Tapi dia seakan selalu yang menjadi paling bertanggung jawab pada diriku agar selalu “berjalan di jalan yang benar”.

Hari itu hari yang cukup panas, tapi saat itu sudah sore. Karena sudah ada pisang di tangan, yah mau gak mau tetap aku makan. Ga mungkin juga dikembalikan ke pohonnya lagi. Rose cuman terdiam dan akhirnya tersenyum kepadaku. AKhirnya kami duduk di depan halaman rumahnya. Rose dan aku sebenarnya cuman selisih seminggu, tapi dia ngotot agar aku memanggil dia mbak, seakan sebuah kebanggaan saat itu bahwa dia lebih tua dariku. Tapi yah, aku juga tidak mau ambil pusing kalo cuman masalah seperti itu, makanya aku turuti kemauannya. Dan sebenarnya, banyak kemauannya yang memang aku turuti. Bukan cuman memanggil dia dengan sebutan “mbak”, tetapi juga harus mau ikut main-mainan ala cewek seperti pasar-pasaran , jual beli makanan, masak-masakan, dan banyak permainan lain yang aku tidak begitu paham yang jelas cewek banget. Aku turuti.

Cuman ya kadang begitu, bandelku adalah sering ngambil buah di kebun ayahnya itu. Kadang aku kena semprot langsung dari bapaknya, kadang Rose sendiri yang marah sama aku. Tapi terus terang, kepuasan makan buah segar memang tidak ada duanya.

Sore itu , ketika kami baru saja berumur 4 tahun. Dia tiba-tiba mengajakku berbicara di teras rumahnya, Aku ya nurut saja, aku sekalian menikmati pisang colonganku , dalam hatiku. Perlahan dia mengatakan sesuatu yang aku cukup kaget mendengarnya

“Dik Husin, ayo sekolah”

Tertegun aku mendengarnya, sampai aku harus menghentikan kegiatan makan pisangku.

“Mbak, bukannya setahun lagi ya kita baru sekolah?Kita kan masih 4 tahun?”

Rose menggeleng pelan

“Tahun ini dik Husin ,bapakku sudah mendaftarkan aku ke TK Pertiwi yang dekat alun-alun itu lho. Harusnya bapakmu juga sudah daftarin kamu lho”

Aku masih gak percaya. Iyakah? Tahun ini juga aku harus masuk sekolah. Tapi bagaimana dengan acara main-main setiap hari?Bagaimana dengan acara jalan ke kebun milik Rose ?Bagaimana dengan jalan-jalan di pematang sawah di belakang rumah? Bagaimana dengan acara main sama Daniel dan Yandi, temen laki-laki di perumahan?Yang sering ngajakin aku main layangan atau sekedar menajamkan benang layangan tiap sore.

Rose melihat kebimbanganku

“Sudahlah dik, ayo sekolah. AKu akan sekolah tahun ini. Tapi kalau dirimu tidak mau berarti harus tahun depan lagi dirimu sekolah. Cepat atau lambat kita tetep kudu sekolah.”

Apa? Menunggu satu tahun lagi? Setelah aku pikir, Sekolah mungkin tidak buruk-buruk amat, cuman pindah tempat bermain dan harus pake seragam dan ada guru disitu. Itu pikirku. Lagipula susah juga kalau aku jarang ketemu sama Rose, karena hari-hari juga aku seringnya bermain bersama dia. Akhirnya aku saat itu juga memutuskan

“ Baik mbak, aku juga mau sekolah tahun ini. Sama kaya mbak”

Rose tersenyum melihatku tiba-tiba berubah dari tidak bersemangat menjadi bersemangat untuk sekolah.

“Ya sudah, pulang sana, Tanya sama papamu, sudah didaftarin belum sekolahnya? Kalo aku sekolahnya di TK Pertiwi dik.”

Tanpa menunggu lagi aku langsung balik berlari kencang ke rumah. Aku mencari dimana papaku, ketika mama melihatku dia langsung menyuruh aku cuci kaki cuci muka dulu, mungkin karena saking dekilnya penampakan diriku. Sehabis aku mencuci kaki , tangan dan mukaku, aku tidak bisa melihat papaku. AKu langsung bertanya sama mamaku yang ada di rumah.

“Ma, ma, apa aku mau sekolah juga kayak mas Harry?” Mas Harry adalah adik terkecil ayahku yang tinggal bersama kami. Walaupun secara teknis dia adalah pamanku, tapi aku tetap memanggilnya mas karena entahah, rasanya lebih enak memanggil paman-pamanku dengan panggilan mas.

Mama cuman tersenyum, lalu kemudian langsung menjawab pertanyaanku

“ Iya, tahun ini kamu sekolah. Sudah didaftarin sama papa di TK Pertiwi?”

“TK Pertiwi ma? Yes, yes, asyik, asyik” AKu langsung girang lompat-lompat. Ternyata aku bakalan satu sekolah dengan Rose

“Kok, kamu seneng banget sih? Mama kiranya kamu bakal marah2 malahan kalau sekolah. Wong kamu sukanya main mulu gitu” ceplos mama terheran-heran.

“Iya ma, soale aku bakal satu sekolah sama mbak Rose.”sahutku

Mama sepertinya sedikit berpikir mendengarkan apa yang kusampaikan, sepertinya dia berusaha mengingat-ingat siapa Rose yang kumaksud.

“Oooo, rose anaknya bu Yono? Eh, bukannya dia seumuran sama kamu? Kenapa kamu panggil dia mbak?”

“Hehe, dia umurnya lebih tua 7 hari dari aku ma”aku menjawab sambil nyengir

“Oalah….Ya wis kalau begitu, baguslah. Ada temen sudah di sana kan. Ini anaknya bu Thomas, temenmu si Daniel kan juga sekolah di TK Pertiwi. Dia kan setahun lebih tua dari kamu sudah sekolah duluan tahun lalu“

Betul juga, Daniel memang setahun lebih tua dari aku, dia sudah sekolah duluan, tapi aku tidak menyangka dia juga sekolah di TK Pertiwi, sekolah yang sama denganku dan Rose.

Saat-saat itu adalah salah satu yang membuatku bersemangat, sekolah baru , kemungkinan akan bertemu teman baru dan terlebih lagi bisa satu sekolah dengan Daniel dan Rose, teman seperumahanku di sekolah yang sama! Pasti asyik.

Diubah oleh mikail_yani

1986 – Santi Purwandari, sang idola TK

Aku dan ayahku akhirnya mendaftar di TK Pertiwi, beberapa pertanyaan ditanyakan kepadaku saat itu.

Tidak ada yang sulit, karena tidak ada dia menanyakan sesuatu tentang mata pelajaran, karena aku sendirikan baru mau masuk sekolah. Aku cukup terkesan dengan sekolah baruku. Tidak begitu besar, tapi memiliki cukup sarana permainan .

Slorotoan, Jungkit2an, pasir, komidi putar mini, dan masih banyak lagi. Suasana di dalam ruang kelaspun cukup asyik untuk dilihat. Banyak sekali karya seperti lukisan siswa yang dipajang, origami, gambar para pahlawan. Sangat berwarna warni

Pasti asyik sekali bila bisa melewatkan hari-hari di tempat seperti ini. Mungkin beda dengan area perumahan, mungkin beda dengan sawah di belakang rumah, mungkin beda dengan rumah Daniel atau Rose. Tapi aku sadar bahwa aku juga bisa mendapatkan teman baru disini.

Dengan Semangat itulah aku melangkahkan kaki pertama di TK Pertiwi dengan begitu mantap. Dan saat itulah aku melihat seorang anak perempuan yang langsung menarik perhatianku. Wajahnya begitu menawan. Sangat-sangat menawan malah. Wajahnya selalu penuh senyum dengan matanya yang jelita. Satu hal yang menjadi anak perempuan itu menjadi pemandangan yang lebih menarik adalah rambutnya yang panjang! Begitu indah dan dikepang! Daniel yang kebetulan juga bertemu di depan sekolah bersamaku ternyata melihat dan berpikir yang sama.

Dia juga tercengang.

"Dan, siapa anak itu?"

Daniel yang bengong hanya menggeleng2kan kepalanya tanda tidak tahu. Sepertinya anak perempuan itu memang seangkatanku, murid baru

Baru beberapa hari kemudian kami tahu bahwa anak perempuan itu bernama Santi. Banyak, bukan cuman aku, bukan cuman Daniel yang mengagumi Santi. Tidak bisa dibayangkan, ketika kami masih TK kami sudah langsung memahami apa itu cantik dari teman satu sekolah kami sendiri. Saat itu secara instan, aku langsung paham tanpa diajarkan apa itu yang namanya cantik. Santi adalah perwakilan dari kata itu waktu itu.

Tapi Rose bila aku dan Daniel membicarakan tentang Santi dia sepertinya tidak begitu tertarik. Mungkin aku dan Daniel juga tidak berperasaan, karena bagaimanapun Rose juga seorang perempuan. Perempuan biasanya memang tidak suka disbanding-bandingkan dengan perempuan yang lain. Tapi mana kami tahu, kami masih TK.

Santi memang menjadi fenomena sendiri di angkatanku di TK Pertiwi. Bahkan ada gossip bahwa dia jadian dengan teman satu sekolahku, Irdan. AKu melihat beberapa kali mereka berbicara. Edan. Sudah TK sudah bisa jadian pacaran. Entah itu benar apa tidak, aku tidak pernah menanyakan Irdan masalah itu.

Terlepas dari apapun hubungan Santi dengan Irdan. Tapi cowok2 di satu angkatanku sudah sangat sepakat, bahwa bunganya, primadonanya angkatan kami adalah Santi. Hal itu masih menjadi pembicaraan bertahun-tahun kemudian bahkan sampai SMA. Yah standard pembicaraan, seperti dimana dia sekarang, sudah seperti apa dia sekarang. Mungkin karena kemunculan Santi saat TK itu , menjadi pemandangan dan pemahaman anak laki-laki di era itu, tentang makna kecantikan dari seseorang yang seumuran. Si Cantik Jelita Santi Purwandari.

Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di