CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e40fe4797751335013fe331/diary-memory-mistery

Diary Memory Mistery

Diary Memory MisteryIni merupakan rangkuman cerita misteri antara aku dan istriku.
Bisa dibilang istriku mempunyai kemampuan yang membuat dia terkadang kurang nyaman dengan kemampuannya tersebut.
Ya, dia bisa melihat yang aku tidak bisa melihat.
Awalnya hal tersebut kuanggap sebagai kemempuan yang spesial, tapi bisakah kalian bayangkan jika hal itu "menular" ke aku??
Aku yang tidak bisa melihat perlahan bisa merasakan, lalu bisa melihat.
profile-picture
profile-picture
sentinelprime07 dan ariefdias memberi reputasi
Diubah oleh yk.city.mafioso

[B]CERITA HANTU BAB SATU[/B]

Sama dengan di buku atau penelitian, bab 1 selalu dijadikan pengantar atau pendahuluan. Bukan karena pekerjaan saya, namun pepatah "Tak Kenal Maka Tak Sayang" ada benarnya juga. Agar para pembaca dapat menikmati karya kami, maka di tulisan awal ini kami akan berkenalan terlebih dahulu. Sehingga, nanti kami harap agan - agan dapat menikmati cerita - cerita kami.

Perkenalkan nama saya Fuad, seorang "Guru" di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Disini saya akan mengulik kembali dan bercerita mengenai memori misteri yang aku alami beserta istri dan keluarga saya. Disini kejadian yang saya tuliskan apa adanya, sesuai dengan kejadian yang kami alami sendiri. Tulisan ini akhirnya bisa kami ceritakan setelah saya mendapatkan izin dari istriku, karena hal yang berbau "mistis" seperti ini sangat sensitif dan gterkadang membuat dia dan "mereka" kurang nyaman. Bisa dibilang istriku, Bebi, mempunyai "kelebihan" yang terkadang membuat dia kurang nyaman dan tertekan. Dia bisa melihat "mereka" yang terkadang aku tidak lihat. Namun, beruntungnya bebi, dia tidak bisa berkomunikasi dengan "mereka". Mengapa ku sebut ini beruntung? Simpel, karena jika Bebi bisa berkomunikasi dengan "mereka", maka aku dan Bebi harus siap dengan kemungkinan terburuknya, yaitu kesurupan, yang bisa dikarenakan "mereka"ingin menyampaikan sesuatu hal atau memintya bantuan. Aku percaya dengan Bebi, bahwa dia diberikan "kelebihan" tersebut, alasannya sederhana, jika Bebi hanya mengaku-aku bahwa dia bisa melihat, dia akan cerita banyak ketika kami melewati temat yang kami nilai "angker", tapi Bebi selalu diam, dia tidak akan bercerita, bahkan tidak akan menjawab ketika aku tanyai mengenai "mereka". Inilah perbedaan orang yang bisa melihat dengan yang pura-pura bisa melihat.

Cerita ini merupakan jabaran dari beberapa kejadian misteri yang kami alami, secara terperinci kami jabarkan satu per satu sesuai dengan kejadian yang kami ingat, karena kejadiannya begitu banyak. Hampir setiap hari. Sebelum saya dan Bebi menikah, ada juga beberapa hal "mistis" yang kami alami. Namun semenjak kami menikah, hal tersebut semakin sering. Walaupun banyak kejadian "mistis", tapi kami bersyukur bahwa hal tersebut tidak mengganggu kami. Kami mulai terbiasa dengan hal tersebut.

Satu kesimpulan awal, hanya membuktikan bahwa yang kita lihat di dunia ini itu belum seberapa dengan hal yang tak terlihat. Dan semakin hari, kami meyakini satu hal, bahwa "mereka" juga mempunyai cinta, kasih dan sedih. Cerita tersebut nanti akan kami jelaskan satu persatu.

Semoga agan - agan dapat dengan nyaman membaca cerita kami selanjutnya.
profile-picture
ariefdias memberi reputasi
keren ..., bahasa nya simpel, bagus ... lanjuttt
Lihat 1 balasan
lanjuttttttt...wajibbbbb
Lihat 1 balasan
Balasan post gus.bedjo
terimakasih gan
Balasan post ariefdias
Siap gan

LOKASI RUMAH, HORROR BERTAMBAH

Sebelum ku ulas mengenai berbagai cerita yang ada di dalam bab ini, terlebih dahulu ku perinci mengapa lokasi ini membuat nuansa horor bertambah. Sebenarnya biasa saja menurut kami, tapi bebi istriku harus "berkenalan" dulu dengan berbagai jenis dari mereka. Perlu dicatat, "mereka" ada di luar rumah, bukan di dalam rumah, khususnya yang berjiwa "jahat" dan "usil". Tidak dipungkiri bahwa di dalam juga ada "mereka" akan tetapi mereka hanya "menumpang" sebentar. Alhamdulillah selama ini belum mengganggu sampai segitunya. Walau ada satu peristiwa yang membuatku terngiang sampai hari ini, ya ada pengganggu yang berusaha mengganggu Bebi istriku dan Elea anakku.

Rumah kami ada di pedesaan, mungkin sekitar 15 kilometer dari pusat kota, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai ke desa kami. Jika dikatakan pelosok, tidak termasuk, tapi juga tidak terlalu ramai. Aku sudah hidup di desa tersebut selama 30 tahun, tapi Bebi baru setelah menikah disitu. Dia yang berasal dari kota, harus menyesuaikan dengan kondisi sekitar, karena adat di kota dan desa berbeda. Jika di kota orang terlebih acuh (walau tidak semuanya), di desa kebalikannya, disini orang perhatian, bahkan cenderung perhatian yang terlalu, hehehe. Tentu pembaca tahu yang aku maksud. Yah, kalau kata milenial ada sebagian dari mereka yang nyinyir. Tapi aku dan Bebi tidak ambil pusing. Toh ini hidup kami, dan kami tidak merugikan orang lain.

Rumah kami cukup luas, dengan bangunan baru, dan cukup modern jika dibandingkan sekitarnya. Kami merasa nyaman dengan rumah kami. Jika dijelaskan rumah kami berhadapan langsung dengan gang dan dekat dengan jalan beraspal. Rumah kami menghadap selatan, yang artinya rumah kami berada di utara gang. Akses yang mudah jika menggunakan mobil, mengingat masih sedikit yang menggunakan mobil di desa kami.

Bagian barat kami berbatasan dengan kebun kosong milik saudara, yang sebenarnya sudah dibangun pondasi rumah, akan tetapi sudah lama dibiarkan, dan tumbuh ilalang, rumput dan pepohonan, disampingnya ada kuburan yang menurutku tidak angker karena aku sudah akrab dengan kuburan tersebut. Mengingat aku sudah puluhan tahun tinggal disitu.

Bagian belakang ada sebuah rumah jawa kuno yang ditinggali simbah - simbah dengan anaknya, kami akrab memanggil beliau dengan simbah Mangku. Beliau termasuk keluarga yang kurang mampu, untuk makan sehari-hari saja kesulitan. Rumahnya pun reot dan hampir rubuh. Mbah Mangku mempunyai pekaragan luas yang berbatasan dengan kuburan dan kebun yang telah saya ceritakan tadi. Pekarangannya pun ditubumbuhi pohon bambu yang lebat dan beberapa pohon besar yang menurut mitos menjadi "perumahan" bagi "mereka". Ditambah lagi kondisi rumahnya yang menambah kesan seram, gelap, "singup" dan sepi. Banyak dari tetangga yang bercerita bahwa mereka menemui hal ganjil ketika melewati rumah tersebut. Seperti "kemamang" dan "ting mlaku (lampu terbang)". Alhamdulillah kami tidak pernah menemui hal seperti itu.

Bagian timur kami berbatasan denga pekarangan tetangga. Pekarangan yang ditumbuhi bebrbagai macam pohon dan ilalang, bisa dibilang cenderung kurang terurus. Pemiliknya adalah seotrang praktisi supranatural. Nah ini yang membuat saya agak risih, mengingat side job nya sebagai praktisi supranatural. Bis dibayangkan kan? "bermain" dengan mereka, maka adak ada sebagian dari "mereka" yang akan mengikuti dan tinggal di sekitar area, terutama di real estate nya, pohon besar dekat rumah. Bebi selalu risih jika melihatnya di malam hari, karena banyak yang muncul dari kebun tersebut, walau tidak mengganggu, hanya wajah mereka saja yang seram.

Di bagian depan tidak terlalu seram karena hanya jalan gang saja yang dihiasi lampu yang agak remang dan mungkin bagi beberapa pembaca akan menambah kesan mistis dan seram, tapi kami yakinkan bahwa hal tersebut lumrah di desa kami dan tidak akan menambah keseraman cerita aku.

Dibawah ini denah dari lokasi yang saya ceritakan.Diary Memory Mistery
profile-picture
sentinelprime07 memberi reputasi
Lanjut om
Lihat 1 balasan
Nandain dulu gan
emoticon-Toast
Lihat 1 balasan
Balasan post sentinelprime07
Nanti upload berkala om
profile-picture
sentinelprime07 memberi reputasi
Balasan post Reagle
Silahkan gan, nanti mampir lagi

JALAN DIALIHKAN, SERAM TAK TERBANTAHKAN

Kejadian ini terjadi di awal pernikahan saya dengan Bebi. Masih melekat di memori kami, bagaimana "gila"nya kami menembus malam - malam itu. Iya benar, kejadian itu tidak terjadi dalam satu malam, tapi beberapa malam. Jika kami ingat lagi kejadian - kejadian itu, tekadang kami bertanya, "kok berani ya kita?? padahal serem banget lo!"

Sekitar Bulan September 2016 ada penutupan jalan di jalan yang biasa kami lewati sewaktu bekerja. Jalan itu bisa dibilang jalan satu - satunya untuk berangkat kerja, karena kami tidak mau melewati alternatif jalan lain dikarenakan akan membuat jarak tempuh menjai jauh dan lama. Aku bekerja sebagai "guru" di kampus swasta Yogyakarta, dan Bebi bekerja sebagai staf Engineering di perusahaan swasta di bagian timur sekali kota Yogyakarta. Waktu itu kami masih menggunakan kendaraan roda dua kami. Di butuhkan waktu sekitar satu jam untuk menuju kantor Bebi, mengingat kantor Bebi lebih jauh dari kantor ku. Kantorku terletak di jantung kota Yogyakarta. Sehingga rutinitasku adalah antar Bebi dulu baru menuju kantorku.

"Duh, jalan ditutup lagi!" gerutuku pagi itu. "Kita lewat jalur selatan saja mas, kita belum tahu jalur alternatifnya." kata Bebi. "Aku sepertinya tahu jalur alternatifnya, tapi agak berbatu, sih. Tapi lebih dekat daripada jalur selatan". kataku. "Oke deh mas, kita sembari cari jalan untuk pulang nanti" jawab Bebi. Lalu aku andalkan instingku untuk "babat alas" jalan alternatifnya. Aku cukup tahu daerah itu karena sebelum menikah aku lewat jalan itu selepas dari rumah Bebi. Jadi aku cukup hafal, walau jalannya berbelok - belok.

"Aku dulu pernah lewat sini sewaktu dari rumahmu lo." kataku. "Hah?! Serius?? Malam - malam??" tanyanya heran. "Iya, selepas kita jalan." jawabku. "Wah, kamu cukup gila mas lewat sini. Kalau aku mending aku lewat yang jauh daripada lewat sini, mas?" katanya. "Modal nekat saja lah. Lha aku capek, lewat yang dekat saja". jawabku.

Jalan itu termasuk jalan yang agak berbatu, walau sudah diaspal. Banyak aspal yang rusak disitu. Maklum lah, jalan dalam kampung, bukan jalan utama, jadi aspal tidak sebagus biasanya.

Penutupan jalan dilakukan secara bertahap. Dan syukurnya, di setiap yang ditutup, selalu ada jalan alternatifnya. Walaupun itu kami rasa agak merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi, demi kepentingan bersama.

Berhari - hari kami lalui jalan itu, baik saat berangkat maupun pulang. Untuk mengusir "kekesalan" kami, sering kami bersenda gurau di atas kendaraan kami. Cukup ampuh untuk mengusir "kesal" kami.

Berasa Miss Universe

Suatu ketika kami mampir ke rumah mertua saya. rumah mertua saya ada di sebelah kantor saya, hanya terpisah sungai saja. Kami sengaja mampir untuk mengunjungi mertua kami dan sholat Maghrib. Sembari kami saling menanyai kabar masing - masing.

"Ma, kami pulang dulu ya." kata Bebi. "Ya, hati - hati ya. Nggak usah ngebut, yang penting selamat sampai tujuan." kata Mama. Mama adalah ibu mertua ku, ibu kandung Bebi. beliau seumuran ibuku, tapi lebih tua dua tahun dari ibuku.

Lalu kami berpamitan dan melaju untuk menuju rumah kami. Jarak antara rumah kami dengan rumah mertua sekitar 14 kilometer atau jika ditempuh memakai kendaraan roda dua sekitar 30 menit.

Lalu sampailah kami di jalan yang ditutup. Jalan yang ditutup bertambah panjang, dan kami harus menemukan jalan alternatif lain.

"Lah..pagi tadi nggak disini ditutupnya?! Kok makin menjadi sih!" gerutuku. "Cari jalan lain saja mas. Jalan tikus. kita nggak keburu kok." kata Bebi menenangkanku.

Lalu aku mulai ke jalan alternatif yang menuju ke arah jalan menuju rumahku. Jalan memotong sebuah perumahan kecil pinggir desa yang asri. Kami lalui jalan itu sembari melihat berbagai jenis rumah yang indah disitu. Setelah 100 meter kami terhenyak. Ya Tuhan! Di ujung perumahan itu jalan membelah ladang tebu yang lumayan rimbun. Waktu itu kami agak takut karena melewati daerah "bulak", yaitu jalan sepi yang berada di tengah sawah atau ladang tebu. Terlebuh di ujung "bulak" itu perkampungan sepi nan gelap yang ada gapura alami alias pohon bambu yang begitu lebat yang menambah level keseraman tempat itu.

Aku berhentikan kendaraanku sambil berucap, "Gas nggak nih??". "Bismillah, gas aja mas. Sudah sampai disini juga". kata Bebi. Aku merasa was-was. Sebenarnya aku pernah melewati jalan itu sendiri, malam hari pula, tapi aku kira jika berdua dengan Bebi akan terasa lebih berani. Kenyataannya lain. Bebi mencengkeram erat pinggangku. Tanda aneh.

Tangan Bebi semakin erat mencengkeram pinggangku. Aku semakin yakin ada yang tidak beres di tempat itu. "Mas, sampai pohon bambu gas pol ya". katanya singkat. "Oke. Ada yang tidak beres kah??" tanyaku keheranan. "Sudah nanti saja!" jawab bebi dengan nada sedikit keras. Sesampainya di "gapura selamat datang" aku pacu kendaraanku. Aku tak peduli dengan perkampungan itu, karena begitu sepi dan gelap. Paling penduduk sudah tidur.

Keseraman tidak berhenti disitu. Setelah "gapura selamat datang" tadi ada sebuahg rumah yang berhadapan dengan makam. Makam bagi mereka yang punya "kelebihan" merupakan tempat yang menyeramkan karena berbagai makhluk sampai disitu. Makam itu begitu sepi dan ditambah dengan remang - remang lampu penduduk. Tak kulihat penduduk yang beraktivitas di malam itu. Padahal jam masih menunjukkkan pukul 18.40 WIB. Belum terlalu malam ku kira. Tangan Bebi semakin menjadi dalam mencengkeram tanganku. Aku hanya bisa menahan sakit karena cengkeraman Bebi. Ku pacu kendaraanku dengan berhati - hati mengingat itu berada di tengah perkampungan sepi. Sampailah di jalan raya yang biasa kami lewati. Bersama itu tangan Bebi mengendur dalam mencengkeramnya. "Huff..." katanya sambil menghela nafas. "Ada apa?? Apa yang kamu lihat??" kataku setengah penasaran. "Nanti saja mas, habis kita bersih - bersih". "Oke" kataku simpel. Tak lama kami sampai di rumah kami.

"Assalamualaikum" salam ku ke rumah. "Waalaikumsalam" kata Ibuk dari dalam rumah. "Sudah makan kalian??" tanya Ibuk. "Belum bu, nanti biar kami cari. Kami mau mandi dulu" kata Bebi. Lalu kami bersih - bersih dan sholat isya berjamaah. Setelah selesai, makin menjadi penasaranku. Aku buka dialog kami.

Aku : "Bebi, memang tadi lihat apa? Kok cengkeramanmu erat banget??"

Bebi : "Waktu kita menuju ke gapura pohon bambu tadi. Banyak yang ngelihatin kita. terutama aku. Karena mereka tahu aku bisa melihat mereka. Mereka nangkring di pohon bambu. Cewek - cewek buanyak banget! Lihat aku kayak orang pada lihat Miss Universe lagi! Serem poll"

Aku : "Oh, Miss Kun ya??"

Bebi : "Iya. Mana ngelihatinnya itu lo! Ihhhh serem!"

Aku : "Nah, yang waktu lewat kuburan??"

Bebi : "Yang namanya kuburan mah selalu ada. Kalau yang di sana tadi ada permen bungkus duduk di pohon.Hiii... Dah lah ceritanya besok lagi ya. Kita makan dulu".

Aku : "Okay, kita makan dulu yo. Dah pada dangdutan nih ususnya".

Kami tutup malam itu dengan makan malam bersama. Bersyukur sekali tadi tidak ada yang ikut. Tapi bisakah kalian bayangkan jika kami melewati jalan itu lagi?? Apakah mereka akan tetap sama??


Diubah oleh yk.city.mafioso
bersambung
udah nih cerita ga ada next story kah?


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di