CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e400862a2d19575a512c81d/tragedi-berdarah-pembantaian-etnis-tionghoa-di-indonesia

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia



Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Banyak yang tidak tahu sejarah kota tua di Jakarta ternyata menyimpan banyak cerita kelam loh gan, yang banyak dilupakan orang adalah Tragedi Angke disebut juga Chinezenmoord oleh orang Belanda, yang berarti "Pembunuhan orang Tionghoa" dan ini semua fakta sejarah yang jarang di ketahui anak millenial masa kini.

Pada buku yang ditulis oleh G. Bernhard Schwarzen yang berjudul Reise in Ost-Indien yang terbit tahun 1751. Ia menerangkan sangat detil, dimana kanal-kanal penuh mayat. Di dalam gang dan jalanan pun banyak mayat bergelimpangan, darah seperti banjir yang menghiasi kota Batavia.

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Pembantaian terhadap etnis tionghoa oleh serdadu Belanda berlangsung selama 13 hari, hasilnya ribuan orang Tionghoa pun mati dibantai tentara Belanda. Tidak ada asap bila tidak ada api, apa sih menyebabkan ribuan keturunan tionghoa habis dibantai oleh VOC. Pertumbuhan penduduk akibat banyaknya imigran Tionghoa memang menjadi awal masalahnya.

Pada saat itu Batavia di pimpin oleh Gubernur Jenderal VOC, yaitu Adriaan Valckenier merasa penduduk Tionghoa semakin lama semakin banyak saja, dan hal ini pertanda buruk bagi eksistensi Belanda di Batavia karena terlihat masyarakat Tionghoa pintar dan telaten dalam berdagang. Maka jalan satu-satunya perpindahan penduduk dari Batavia di kirim ke Afrika Selatan atau Srilanka. Namun desas desusnya sebelum sampai di negara tujuan mereka telah di buang ke laut, disinilah timbul pemberontakan oleh masyarakat Tionghoa di Batavia.

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Puncaknya di tahun 1740 pemberontakan Tionghoa pun sukses membunuh 50 serdadu Belanda, dan juga merusak pabrik-pabrik gula yang membuat Valckenier murka dan mengirimkan 1.800 tentara untuk membalasnya. Ditambah lagi isu yang dihembuskan VOC bahwa orang-orang Tionghoa akan memperkosa warga pribumi, dan juga menjadikannya sebagai budak.

Bahkan ada sayembara berhadiah yang dilakukan oleh Gubernur Batavia itu bagi siapa yang berhasil membawa kepala orang Tionghoa akan dijanjikan hadiah yang besar. Alhasil kaum pribumi dan VOC bersatu dalam pembantaian etnis Tionghoa di Batavia.

Genosida pun tak terelakkan, maka peristiwa itu juga di kenal dengan nama Geger Pacinan, dan Angke sendiri dalam bahasa Hokian adalah sungai merah. Sungai yang saat itu di penuhi banyak darah, itulah sisi kelam sejarah negara ini. Maka tak heran isu-isu yang berkembang antara keturunan Tionghoa dengan warga Pribumi selalu saja menimbulkan gesekan.

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Tak hanya di Batavia bahkan pembantaian etnis ini pun terjadi di Jawa Timur. Hal ini tertuang pada buku Tionghoa dalam Pusaran Politik karya Benny G Setiono disebutkan, dimana pembantaian etnis Tionghoa pada saat Perang Jawa (1825-1830). September 1825, ketika itu pasukan berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku Buwono I, Raden Ayu Yudakusuma, mereka menyerbu Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur yang terletak di tepi Bengawan Solo. Hasilnya, banyak etnis Tionghoa pun di bunuh tak perduli anak kecil dan wanita semua di habisi.

Etnis Tionghoa memang masuk pusaran politik sejak zaman Belanda, mereka juga dijadikan oleh Sultan Jawa sebagai orang yang di percaya sebagai bandar pemungut pajak. Bahkan diskriminasi terhadap ras Tionghoa pun semakin menjadi hingga setelahnya dibukukan oleh Hendri F. Isnaeni ia menulis di awal abad ke-20, ada beberapa peristiwa rasial terhadap etnis Tionghoa, diantaranya kerusuhan di Solo pada 1912 lalu kerusuhan di Kudus pada 1918. Setelah itu di masa revolusi, terjadi gerakan anti etnis Tionghoa, tepatnya di Tangerang pada Mei-Juli 1946, Bagan Siapi-api pada September 1946, dan juga Palembang pada Januari 1947.

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Kemudian pada tahun 1965 di masa Orde Lama berakhir etnis Tionghoa pun di bunuh karena dianggap punya peran dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Hingga hal itu pun berlanjut dimana terjadi pembantaian terhadap 30.000 orang yang berasal dari etnis Tionghoa, di Provinsi Kalimantan Barat pada 1967 atas nama PGRS/PARAKU. 

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Bahkan setelah sejarah kelam di masa lalu itu di perburuk di masa orde baru, menurut Penelitian oleh Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, mereka menemukan fakta sebenarnya kebencian warga lokal terhadap etnis Tionghoa adalah sebuah program dari hasil politik pecah belah Soeharto. Penelitian ini diberi judul "Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia," Freedman memberikan pernyataan bahwa sebenarnya Soeharto seakan memaksa etnis Tionghoa untuk melakukan asimilasi dan juga mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi. Sebagian kecil warga Tionghoa di masa Suharto mendapatkan fasilitas investasi dari negara, hingga mereka pun menjadi sangat kaya.

Mereka menjadi biang sarang korupsi hingga akhirnya Singapura menjadi maju karena korupsi oleh etnis Tionghoa yang membawa lari uang negara ke Singapura. Karena negara kecil itu memang tempat banyak orang Indonesia untuk mencuci uang haram mereka.

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Puncaknya terjadi kerusuhan 1998 dimana lengsernya Suharto memakan korban dari rasialis warga Tionghoa, pemisahan identitas ini menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa muncul lagi.

Maka dengan representasi dari segolongan kecil etnis ini dibuatlah stigma bahwa etnis Tionghoa mempunyai kekuasaan di negara ini, dengan cara yang culas dan sebagainya. Maka ketika di zaman reformasi hingga sekarang masih saja stigma itu melekat.

Untuk itu di masa sekarang cobalah berpikir sejenak siapa yang menciptakan manusia? Tuhan!! Lalu untuk apa ada berbagai ras, suku dan bangsa? Agar kita saling membantu, tolong-menolong dan juga saling mengenal. Maka lupakanlah hal yang berbau rasis, jangan sampai kita kembali di adu domba dengan banyaknya berita-berita hoax yang ingin memecah belah persatuan kita.

Sudah berapa banyak sejarah masa lalu yang telah membuat kita sebagai manusia seperti "Malaikat Pencabut Nyawa" padahal apa bedanya kita dengan ras lain? Hanya warna kulit, tapi sebenarnya kita punya keinginan yang sama yaitu "Damai".

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

Mari kita bergandengan tangan, dan jagalah kedamaian untuk Indonesia baru dan Indonesia yang semakin maju. Semoga trit ini membuka mata hati kita, permusuhan tidak akan membuat bangsa ini semakin hebat. Dan jangan pernah lagi kita di permainkan oleh para elite politik, karena mereka rela menumbalkan rakyat demi perut mereka agar terisi.

Salam lur, saya c4punk see u next thread






emoticon-I Love Indonesia

"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2020
referensi : klik dan klik
Pic : google

emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star

Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia
Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia
Tragedi Berdarah, Pembantaian Etnis Tionghoa Di Indonesia

GIF





profile-picture
profile-picture
profile-picture
yonefian dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Halaman 1 dari 3
makasih gan dah mampir
TS membuka luka lama aja ih



emoticon-Blue Guy Bata (L)
emoticon-Mewek emoticon-Mewek
Quote:


emoticon-Mewek
sedih sih.
mw kayak gimanapun, keturunan tionghoa gak pernah dianggap saudara.
pasti ada ajah yg ngucap "balik sana ke negara asal u dasar cina!".
sedangkan yg jelas2 pengkhianat gabung ke isis malah dianggap saudara senegara.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
PiranH.Jr dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


emoticon-Wow
Quote:


Ya kasus yg paling deket pilkada jakarta..
Tuh keliatan kok pelampiasan kebencian rasialis dibalut topeng membela agama.
profile-picture
mr.buky memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


emoticon-Mewek
wah itu pasti masa kelam buat warga tionghoa ya gan? emoticon-Takut
sebenernya keturunan Cina ini ya kayak etnis lain di Indonesia, banyak yang ngeselin tapi yang super baik juga gak kalah banyak...

sayangnya, sentimen ke etnis Cina terlanjur melekat di sebagian besar masyarakat Indonesia.. dasar kebenciannya macem", tapi yang paling banyak ya kalah saing atau kalah sukses emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mr.buky dan 3 lainnya memberi reputasi
Balasan post NBL88
Dobel standard sudah biasaaaa emoticon-Cape d...
Balasan post NBL88
Strategi jaman kompeni masi epektip gan
perbedaan hanya menyebabakan peperangan
Lihat 1 balasan
wow ... sampe 10rb jiwa?? baru tau ini sejarahnya..
Quote:


Lebih sih kayanya
taun 1700an berarti saat masih di jajah dulu?
udah di jajah, sempet bantai tionghoaemoticon-Ngakak (S)
yg ngebantai bukan cuma indon tapi orang belanda juga

ternyata dari jaman dulu tionghoa udah di bantai, kasian ya merekaemoticon-Mewek
Diubah oleh MrJeffBezos
hoam...

etnis epriwer
Kasian sih, padahal banyak juga warga Tionghoa yang baik, tapi kayanya seperti disamaratakan capnya gitu sampe sekarang , masalah etnis memang sangat sensitif di ranah negeri ini, mari saling merangkul, karna mereka juga termasuk bagian dari negara emoticon-Jempol

Oya jangan lupa,mereka juga termasuk penyumbang 1 hari raya libur nasional lho emoticon-Blue Guy Peace
sensitif memang, hanya gara gara sentimen dan adu domba serta isu yg belum tentu kebenarannya bisa menghasilkan pertumpahan darah yang keji dan kelam. Percayalah, di tiap suku bangsa apapun selalu ada orang yang baik, yang jahat, ngeselin, dan berisik. Jangan menyamaratakan suatu hal gara gara sikap sesorang dari suku bangsa tertentu, sejarah sudah mengajarkan bahwa isu kosong atau hoax itu sangat berbahaya. Taruhannya nyawa, air mata dan darah serta dendam tak berujung.
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di