CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Hobby & Community /
Setrategi Keamanan Yang Tidak Boleh Diketahui Oleh Publik
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3f519fa2d19543e51585e3/setrategi-keamanan-yang-tidak-boleh-diketahui-oleh-publik

Setrategi Keamanan Yang Tidak Boleh Diketahui Oleh Publik

Mansur adalah salah satu santri dari Kota Purworejo yang Rajin dan pendiam. Ia menjabat sebagai keamanan di pondok pesantren sudah 10thn. Ia paling benci kepada perbuatan pelanggaran. Tapi ia juga suka bertimbang rasa jika melihat pelaku pelanggaran yang jujur dan sopan. Ia tidak suka kepada sifat-sifat Pembohong. Tapi ia juga suka bermusyawarah jika di temui kebiasaan buruk para santri karena bawaan dari Rumah.

Para santri tidak ada yang tahu bahwa Mansur adalah salah satu senior keamanan Pesantren yang bertugas menangani santri-santri senior yang melanggar, dan sekaligus menjadi penasihat anggota keamanan yang laen. identitas jabatan Mansur sengaja di rahasiakan di kalangan santri junior. Sebab merahasiakan jabatan, itu merupakan salah satu setrategi Team keamanan Pesantren, yang mana jika strategi itu diketahui oleh para santri junior maka akan menghalangi kelancaran keamanan.

Pada suatu hari, ketika keamanan sedang menangani santri-santri yang melanggar di ruang persidangan. Mansur datang untuk mencari keterangan santri-santri yang melanggar. Setelah ia mendapat keterangan, ia langsung isyarah kepada Anggota keamanan untuk memisahkan santri senior, keamanan tak lama kemudian menyuruh mereka untuk ke Ruangan persidangan santri senior. Cara isyarah ini sengaja di lakukan agar Mansur tidak di ketahui identitasnya sebagai keamanan oleh santri junior.

Pada waktu ia sedang berjalan menuju ruang persidangan, santri senior tiba-tiba dibelakangnya mengikuti Mansur untuk menuju ke Ruangan persidangan. Mansur pun tidak mengetahuinya.

Santri senior itu dengan penuh rasa takut, dan malu berjalan di belakang Mansur. Mansur masih berjalan santai karena tidak tahu kalau di belakangnya ada yang mengikuti. Alangkah kagetnya pada saat Mansur mengetahui ada santri senior mengikuti di belakangnya. Segera santri senior itu diperintahkan mencari jalan yang laen untuk menuju Ruangan Persidangan.
Dengan wajah cirri khasnya, Mansur bertanya:
“kalian mau kemana?”
“kami…….kami……mau……ke Ruang Persidangan…….,” jawab santri senior itu ketakutan. Mereka sudah tahu dengan maksud pertanyaan Mansur. Tapi mereka tidak mau langsung berpaling darinya layaknya orang ketakutan. Sebab menurut mereka kalo langsung berpaling, selain tidak sopan, juga akan menarik perhatian para santri.
“Hem, kalian ini, tidak ada kapoknya melanggar. Hanya kalian yang sering melanggar. Para santri tidak sering melanggar. Jika kalian mau ke Ruangan Persidangan bersama saya, pasti identitas saya akan diketahui para santri junior. Jadi kalian sekarang harus mencari jalan lain. “Maaf, Pak, kami tidak bermaksud membuka identitas Bapak dihadapan para santri,” jawab santri senior dengan menundukkan kepala karena ketakutan dan malu.
“ Baik, kali ini saya maafkan kalian, tapi lain kali kalian tidak boleh seperti ini. Saya tidak mau setrategi keamanan diketahui, “ jawab Mansur dengan lemah lembut.
‘Pak, apa kami akan berurusan dengan Bp’ di Ruang Persidangan?”Tanya mereka.
Mansur diam. Dan memandangi wajah mereka yang masih menunduk. Karena ketakutan dan malu, Mansur tidak tega melihatnya, lalu mereka di perintah untuk bersikap biasa, seperti santri yang tidak bermasalah.

“Tidak, kalian jangan bertanya soal itu disini, dan jangan sekali-kali ngobrol soal itu sepanjang jalan. “jawab Mansur. Kalau kalian sampai ngobrol soal ini di sepanjang jalan menuju Ruang persidangan, dan sampai didengar para santri, kalian akan berurusan dengan saya nanti di Ruang Persidangan. Janji ?” baik pak. Kami berjanji.” Jawab santri senior itu.

Lalu mereka pun diizinkan pergi untuk mencari jalan lain. dengan hati lega dan gembira karena tidak akan berurusan dengan pak Mansur mereka pergi. Namun di tengah- tengah perjalanan, saking asyknya dan gembiranya mereka, karena tidak akan berurusan dengan pak Mansur, mereka lupa akan janjinya. Tanpa disadari sambil berjalan obrolan mengarah ke Ruang Persidangan dan nama Mansur pun sering keluar dari obrolan mereka. Obrolan mereka pun di dengar oleh santri-santri junior. tidak lama kemudian Mansur mengetahui hal itu, dari santri junior yang baru saja lewat. Mansur terdiam sejenak, berfikir apa yang tadi mereka katakana? Dari mana mereka tahu hal ini?

Karena penasaran, lalu Mansur menghampiri santri junior tadi, dan mengajak mereka ketempat sepi untuk mintak penjelasan perkataan mereka. Setelah mereka member keterangan tentang apa yang mereka ketahui. Mansur pun langsung pamit dari santri junior tadi, dan langsung menuju ke Ruang Persidangan.

Setibanya di Ruang Persidangan, Mansur langsung duduk di kursi, santri senior pun ketakutan, dan penasaran dengan Mansur. Katanya tadi tidak berurusan dengan pak Mansur. Kenapa pak Mansur disini? “tanya mereka dalam hati.

Jawab dengan jujur….! Perintah Mansur dengan tegas. “iya, pak” jawab santri senior dengan gemetar. Siapa yang memberi tahu kepada santri junior tentang identitas saya disini.? Tanya pak Mansur. Mendengar pertanyaan itu, mereka pun langsung sadar akan obrolan mereka tadi di jalan menuju Ruang Persidangan. Mereka menjawab sepontan dengan kompak.”kami, pak”. Kami mintak maaf pak, kami tidak bermaksud untuk membuka identitas bapak. Kami akui, kami salah, tapi sungguh kami lupa pak. “Baik,” kalian saya maafkan, tapi sekali lagi kalian berbuat kesalahan lagi, maka kalian akan menerima hukuman dari saya. Dan kalian akan saya pantau selama empat puluh satu hari berturut-turut untuk tertib mengikuti kegiatan. Ancaman khas Mansur untuk santri senior. Mereka pun menganggukkan kepala. Dan berjanji tidak akan mengulanginya.

Setelah itu Mansur pun melanjutkan persidangan atas pelanggaran mereka. Masih dengan ketakutan mereka dihadapannya. Persidangan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Setelah selesai sidang, mereka pun di ta’zir atau di hokum dengan hukuman memintak tanda tangan imam setiap selesai jamaah, dan memintak tanda tangan guru setiap selesai mengaji selama empat puluh hari atas pelanggarannya yang dilakukan berulang kali, dan sudah berkali-kali di ta’zir tapi tidak kapok.

Karena hukuman itu berat bagi mereka, mereka pun mencoba memintak keringanan atas hukuman yang di berikan. Namun usaha mereka tidak di respon oleh Mansur selaku penyidang sekaligus penetap hukuman untuk mereka.

Itulah sebabnya para santri senior ketakutan ketika harus berurusan dengan pak Mansur. Karena setiap keputusan yang di keluarkan pasti beroreantasi keepada pendidikan karakter, dan tidak dapat di ganggu gugat. Dan karena itu juga team keamanan selalu merahasiakan identitas Mansur sebagai keamanan di hadapan para santri junior. agar setiap sanksi yang di jatuhkan kepada santri senior tidak diketahui oleh santri junior. sehingga santri senior yang sedang di hokum tidak malu dihadapan para santri junior. dan harapannya aktivitas yang dilakukan dikamarnya tidak terganggu oleh hukuman yang sedang di jalaninya.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di