CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3dffdb10d2956bdf4c1e4c/invisible-room

Invisible Room

Invisible Room

"Kamu membunuhnya?"
"Aku? Membunuhnya? Bercanda, kamu!"
"Lalu siapa? Selama ini Denisa tak punya musuh."

Bora tergeming. Ia tak habis pikir mengapa Denisa, istrinya, sudah dua hari ini menghilang. Padahal mereka tidak sedang bertengkar. Andai pergi, kenapa barang-barang pribadinya termasuk ponsel yang selalu digenggamnya setiap saat masih tergeletak di atas nakas. Andai diculik atau dibunuh sekalipun, oleh siapa dan apa motifnya. Aneh. Kata itu yang selalu berputar-putar di kepalanya. Ada hal yang tak wajar jika perkiraan itu benar-benar terjadi.

Agni menyandarkan tubuh rampingnya di dinding kamar Bora. Ia memperhatikan gestur tubuh gelisah lelaki selingkuhannya itu dengan seksama. Dalam hatinya ia bingung dengan perasaan yang entah harus bersedih telah kehilangan sahabat, atau bahagia karena tak ada lagi saingan dalam merebut hati Bora.

Tanpa sepengetahuan Denisa, Bora dan Agni sudah lama menjalin hubungan cinta terkutuk. Mereka memanfaatkan kepolosan Denisa yang terlalu percaya dengan hubungan persahabatan diantara mereka. Namun saat ini, sudah hari kedua Denisa hilang tanpa kabar. Agni sengaja menemui Bora di rumah yang baru sebulan ditempati bersama istrinya. Ia datang untuk sekadar menghibur Bora yang sedikit shock. Tak ada orang yang tahu tentang hilangnya Denisa dari rumahnya, kecuali Agni. Mereka masih enggan melapor ke keluarga atau polisi.

"Sudahlah, nggak usah terlalu dipikirkan. Nanti juga ia pulang sendiri. Sekarang, ada aku di sini ...." Agni mendekat lalu memeluk bahu Bora yang duduk di tepi ranjang.
Bora beringsut, memberi tempat duduk Agni disampingnya. Seperti mendapat angin, Agni menjatuhkan pantatnya di kasur. Tangannya tak dibiarkan lepas dari bahu Bora. Bahkan kepalanya ia sandarkan di pundak kekar lelaki beriris mata cokelat itu. Bora terdiam membiarkan rasa hangat dan lembut mulai menyentuh ceruk lehernya.

Di puncak malam, Agni terbangun. Ia seolah mendengar suara sayup-sayup memanggil, tapi tak jelas dan tampak jauh. Ia bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Akan tetapi saat akan membuka kran, suara itu kembali terdengar. Agni tercekat. Ia menajamkan pendengarannya ke arah lubang kran. Suara itu bergaung kecil, datang dari lubang itu! Ah, bukan! Agni memundurkan langkahnya hingga menyentuh dinding. Namun ia tersentak. Dinding kamar mandi terasa sedikit bergetar seperti dipukul-pukul. Bulu kuduknya meremang seketika.

Saat bergegas kembali ke tempat tidur, ia kaget begitu menyaksikan Bora tersentak bangun. Dari mukanya yang pucat seperti ketakutan, keringat mengucur deras.

"Ada apa?" Dengan cemas Agni  meraih tisu untuk menyeka peluh di dahi Bora.

"Aku bermimpi. Denisa ... i--ia meronta-ronta sambil meminta tolong. Tapi aku tak tahu dimana ia berada. Istriku masih hidup, Agni! Ia butuh pertolongan!" jawab Bora dengan napas tersengal.

"Tapi kita tak tahu di mana keberadaan Denisa. Besok kita lapor polisi." Agni merebahkan kembali tubuh Bora, lalu menarik selimut menutupi dada telanjang di sampingnya.

Sepanjang sisa malam, mata mereka tak lagi terpejam. Gelisah dan takut mulai merambat ke pikiran masing-masing.

***

Sebulan yang lalu, Bora memutuskan untuk menyewa rumah di bukit tepi danau. Ia memenuhi keinginan Denisa untuk pindah dari apartemen karena mulai dilanda kejenuhan. Dengan alasan mencari suasana baru yang lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, Denisa berharap ia segera mendapat keturunan. Lima tahun usia pernikahannya belum juga dikaruniai anak yang didambakannya.

Berbeda dengan niat Denisa, Bora malah senang karena berpeluang banyak untuk bersenang-senang dengan Agni, sahabat istrinya sejak kuliah. Di apartemen yang ditinggalkan Denisa, perselingkuhan mereka kian menggila.

Rumah unik berarsitektur klasik itu berhalaman luas dipenuhi pepohonan. Ketika jendela terbuka, akan terlihat keindahan danau teratai, apalagi di saat pagi masih berhalimun. Tak terlalu luas, hanya beberapa ruangan hingga menyerupai sebuah vila mungil. Dan Denisa tampaknya betah. Ia bersemangat menata setiap sudut ruangan yang dirancang pemiliknya, seorang arsitek. Tak heran jika rumah itu terlihat unik dan cantik. Sayang, tak ada yang tahu misteri dibalik keindahan arsitekturya.

***

"Tolooong ... toloong! Keluarkan aku dari sini!"
Denisa berteriak mengeluarkan sisa suaranya yang sudah parau. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya yang mulai lemas. Sisa tenaganya tak mampu lagi menggedor-gedor dinding kaca yang tebal. Tubuh moleknya rubuh lalu tergeletak di lantai marmer yang dingin.

"Bora ... penghianat kamu! Agni ... tega-teganya kamu menikam dari belakang. Aku tak mengira, kamu, sahabat yang kusayangi selama ini merebut suamiku. baik, kalian berdua!" umpat Denisa di sela napas yang tak lagi memburu. Ia pun terkulai lemah.

Dua hari yang lalu ketika Denisa membongkar lemari pakaian yang dibuat permanen menempel di dinding kamar. Ia berniat menyusun kembali pakaian yang berantakan. Tak sengàja tangannya mendorong pintu berlapis cermin dalam lemari setinggi dua meter itu. Ia tak mengira dinding kaca itu terbuka dan dibaliknya terlihat lapisan dinding mirip sebuah pintu. Penasaran ia mendorongnya. Begitu terbuka, sesaat ia tercengang hingga tak menyadari pintu itu tertutup sendiri saat masuk. Denisa terkunci.
Perempuan berdarah Indo-Jerman itu takjub menyaksikan ruangan di balik lemari kamarnya. Seluruh dindingnya terbuat dari kaca hingga bisa menembus penglihatan ke setiap ruangan di rumah itu. Ia baru teringat bahwa pemilik rumah itu seorang arsitek. Mungkin sang arsitek sengaja membuat ruangan tersembunyi, tak terlihat dari luar namun dari dalam bisa melihat setiap sudut ruangan. Seperti di layar CCTV. Denisa terkagum-kagum mengitari ruangan itu. Ruangan itu memang dirancang khusus untuk mengintai aktivitas di rumah.

"Haha ... lihat! Pengen tahu gimana reaksi Bora saat tak menemukan aku di dalam rumah. Pasti lucu kalau melihatnya panik." Denisa tergelitik menggoda suaminya dan memutuskan untuk tak segera ke luar.

Benar saja. Ia tertawa geli ketika Bora datang dan mencarinya. Ia yakin suaminya itu sangat mencintai dan tak mau kehilangan dirinya. Akan tetapi, saat melihat suaminya mulai panik, ia berteriak memanggilnya. Tetapi sia-sia. Rupanya ruangan itu kedap suara. Denisa segera menuju pintu untuk keluar, karena tak tega suaminya kebingungan.

Celaka! Pintu terkunci dan susah dibuka. Denisa menggedor berkali-kali sambil berteriak. Dinding itu begitu tebal. Denisa panik, meraung-raung menangisi nasibnya. Entah bagaimana caranya ia bisa keluar dari ruangan itu. Tak satu pun kunci yang ia temukan.

Sebetulnya fasilitas ruangan itu lengkap. Bisa betah berhari-hari andai dipersiapkan sebelumnya. Masalahnya, tak ada makanan dan minuman yang tersedia hingga perutnya mulai lapar dan dahaga. Ia terkulai lemas. Sial! Ia hanya mengelus dada kala melihat ponselnya tergeletak di nakas.

Denisa masuk ruangan mirip gudang, mencari siapa tahu ada tersimpan makanan kering atau minuman kaleng. Tetapi ia shock ketika mendapatkan sesosok tubuh manusia yang sudah berwujud kerangaka. Ia bergidik dan mundur melihat tengkorak itu seakan menyeringai ke arahnya.

"Apakah aku akan bernasib sama dengan orang itu? Mati terjebak di ruangan ini?" batin Denisa. Dengan ketakutan ia kembali ke ruang kaca.

"Tunggu! Itu kan Agni? Ngapain Agni berada di kamarku? Agni! Agni!" Denisa kembali bangkit dan memanggil nama sahabatnya itu.

Namun ia terkesima saat Agni memeluk suaminya lalu ikut berbaring di tempat tidurnya. Hatinya hancur menyaksikan apa yang mereka lakukan selanjutnya. Dadanya terasa disayat-sayat. Denisa tak percaya mereka melakukannya, di saat ia berjuang melawan takdir akhir hidup.


Hari ketiga, saat Bora pergi untuk melaporkan kehilangan istrinya, Agni ditinggal sendiri. Walaupun.ia ketakutan dengan suara-suara aneh yang mengganggunya, ia harus menuruti perintah Bora untuk tetap tinggal. Ya, ia harus turuti karena Bora berjanji akan segera menikahinya.

Agni membuka lemari pakaian untuk meminjam baju Denisa. Ia belum ganti baju dari kemarin. Namun ia tertarik dengan cermin dalam yang sedikit terbuka. Ia menguakkannya dan terlihat lapisan berbentuk pintu. Penasaran, ia dorong. Agni terkejut saat menyaksikan di dalamnya. Rasa kagetnya bertambah ketika melihat tubuh Denisa yang tergeletak di lantai hingga sandal yang ia pakai terlepas karena terantuk tubuh Denisa. Sendal itu menyekat pintu yang hendak menutup hingga tak sempat terkunci.
Agni meneliti tubuh Denisa yang terbujur lemah. Ia sentuh leher dan pergelangan tangannya, masih terasa denyut nadinya tanda Denisa masih hidup.

"Denisa!" Ia menepuk-nepuk pipi istri selingkuhannya itu.

Denisa menggeliat lalu membuka mata. Ia menatap Agni dengan mata meredup. Sejenak pandangannya mengitari ruangan. Rupanya ia baru siuman dari pingsan.

"Agni ... tolong aku!"

Namun tak disangka, Agni meraih pas bunga lalu menghantamkannya ke kepala Denisa. Denisa menjerit kesakitan. Dari pelipisnya menetes darah segar.

"Lebih baik kamu tetap di sini, Denisa. Ini tempatmu!"

Agni berjongkok meraih pecahan pas bunga untuk mencederai Denisa. Namun saat itu, seperti ada kekuatan merasuki Denisa. Kakinya ditendangkan ke punggung Agni hingga tersungkur. Saat itu ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berlari menuju pintu yang masih terkuak. Ia keluar membiarkan Agni berteriak histeris dengan pintu terkunci. Sebuah kunci ia temukan menempel di balik cermin, yang kemudian dibuang ke lubang kloset.

Di tengah keletihan jiwa raga selama tiga hari terkurung, di bibirnya tersungging senyuman puas.

***

"Istriku! Dari mana saja selama ini? Aku mengkhawatirkanmu." Bora memeluk istrinya dengan erat. Namun Denisa segera menepisnya.

"Aku mau pulang! Antar ke rumah orangtuaku, sekarang juga!"

"Kenapa, Honey? Apa yang terjadi?"

"Kita ... cerai!"

"Honey ...!"

~**¥**~
profile-picture
profile-picture
profile-picture
DiNa853 dan 8 lainnya memberi reputasi
lanjutannya kapan sista penasaran eike...btw dialog awal ga ada keterangan siapa yg ngomong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
Pen ngumpat, tapi kasihan jari dan bibirku😌

Keren😍😍
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Gak ada lanjutannya sis... the end.
Dialog awal suami sama selingkuhannya. Gak ada tokoh lain lagi. Makasiih sudah mampir di lapak eike😄❤
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Simpan saja umpatanmu say... buang2 energi juga bikin baper😆
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 3 lainnya memberi reputasi
Ingin rasanya aku marah
profile-picture
profile-picture
rinafryanie dan NiningMeu memberi reputasi
mbak TS aq merasa bersalah loh.. itu aku komen yg pertama... harusnya yg punya trit komen pertama sampe ke tiga loh... iya kan kak @embunsuci
profile-picture
profile-picture
rinafryanie dan embunsuci memberi reputasi
Quote:


Emm pernah juga sih punya kkak pejwannya diamankan. Sekali lagi jangan komen dulu, dik. Tanya bang @bekticahyopurno
Kkak kurang paham sihemoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
rinafryanie dan NiningMeu memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci
Quote:


Tadi ga liat kalo TS blm komen... pas keiling main cepet aja cendolratekomen gitu kak 😟
profile-picture
profile-picture
rinafryanie dan embunsuci memberi reputasi
Quote:


Ini si mastah kok gak muncul juga yaa. Emm. Entar ya
profile-picture
rinafryanie memberi reputasi
Quote:


Boleh sis. Tapi jangan sampe nimpuk ane 😁
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Oalaah... eike belum paham sih. Masih pelajari rule-nya, sis... maafken.
Btw makasiih udah kasih tau🙈
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan NiningMeu memberi reputasi
mampir, ninggalin jejak.
profile-picture
profile-picture
rinafryanie dan embunsuci memberi reputasi
Quote:


Iya sis.. kmrn ada materinya dari bang bek 😊 btw Ntar di PM sama kak embunsuci ya sis.. nanti dijelasin cara post link lanjutan cerbung nya. Maav ya.. tadi lgs cepet2 aja, cendol, bintang and komen. ❤
profile-picture
rinafryanie memberi reputasi
Quote:


Baca PM ane ya, Sis
profile-picture
rinafryanie memberi reputasi
keren Mbak Rina
profile-picture
rinafryanie memberi reputasi
Invisible Room
profile-picture
rinafryanie memberi reputasi
Quote:


Makasih udah mampir, sis
Quote:


Makasih, say😍
Quote:


Makasih quote cantiknya mampir dimari


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di