CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rumah Nomor Tujuh Puluh
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3dda934601cf24165199fd/rumah-nomor-tujuh-puluh

Rumah Nomor Tujuh Puluh

RUMAH NOMOR TUJUH PULUH

Oleh : Dewi RI

Sepulang dari masjid setelah melakukan salat Isya berjamaah, Adit berjalan menyusuri jalanan di gerbang belakang komplek menuju rumah tante Ana. Sepupunya—Rendi yang baru duduk di kelas tujuh—mendahului dengan mengayuh sepedanya pelan-pelan. Sementara jemaah yang lain sudah pulang terlebih dulu.

Sambil berjalan Adit yang baru dua hari tinggal di rumah tante Ana untuk menikmati liburan akhir tahun sekolahnya--yang baru duduk di kelas duabelas--memerhatikan sekitar. Sebelah kanan jalan di tumbuhi pohon gandaria yang sangat rimbun. Pencahayaan yang didapat dari lampu yang berada di kiri jalan dari gerbang sebuah SMP swasta membuat jalanan menjadi remang-remang. Sebenarnya ada beberapa lampu jalan yang menggantung dari beberapa tiang, namun dibiarkan mati.

“Kak Adit buruan. Gerimis, nih!” teriak Rendi sambil menghentikan sepedanya tak jauh dari Adit.

“Iya, tunggu!”seru Adit sambil bergegas menyusul Rendi. Namun, tiba-tiba ada gadis berkerudung putih yang hendak menyalipnya.

“Hai, mau ke mana, Neng,” sapa Adit sok akrab.

Gadis itu menengok dengan seulas senyum menghias wajahnya. Meski cahaya sangat temaram, namun Adit bisa melihat kecantikan wajah gadis itu.

“Mau pulang,” jawab gadis itu sambil meneruskan langkahnya.

Sementara Rendi sudah mulai mengayuh sepedanya lagi meski perlahan.

“Pulangnya ke mana?” tanya Adit penasaran.

“Itu, di rumah nomor tujuhpuluh.” Gadis itu meununjuk sebuah rumah yang sudah tak jauh lagi dari mereka.

“Boleh kenalan enggak? Namaku Adit.” Adit mengulurkan tangannya.

Gadis itu pun menyambut uluran tangan Adit.

“Aku Intan.”

Mungkin karena terkena gerimis, Adit merasakan dingin pada tangan gadis itu.

“Aku sudah sampai, aku duluan, ya.” Intan melambaikan tangannya lalu menyeberang jalan dan masuk ke halaman sebuah rumah yang di pagarnya tertulis nomor tujuh puluh. Adit pun turut melambaikan tangan.

“Kak Adit, cepetan. Keburu besar hujannya!” Rendi yang kembali turun dari sepeda berteriak sekali lagi pada Adit.

Adit segera berlari menyusul.

“Kak Adit ngapain, sih?” tanya Rendi setelah Adit berada di dekatnya. Wajahnya cemberut karena kesal menunggu Adit. Sementara yang ditanya hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah kata pun.

Keesokan harinya, kembali Adit salat Isya berjamaah di masjid bersama Rendi. Seperti kemarin, Rendi mengayuh sepedanya pelan mendahului Adit yang memilih berjalan kaki.

“Kak Adit! Cepetan!” teriak Rendi yang tak suka melihat kakak sepupunya berjalan terlalu pelan.

“Iya. Enggak usah marah, sih.” Adit tersenyum melihat Rendi yang mulai memonyongkan bibirnya.

Adit mempercepat langkahnya hendak menyusul Rendi. Namun, tiba-tiba Intan sudah ada di sampingnya.

“Hai, Adit. Baru pulang dari masjid, ya?” sapa Intan dengan senyum manis menghiasi wajah yang berkulit putih bersih. Seperti kemarin gadis itu kembali mengenakan kerudung putih.

“Eh, oh, Intan. Iya nih,” jawab Adit kaget. Karena kehadiran Intan yang tiba-tiba.

“Kamu dari mana?” tanya Adit pada Intan yang menertawakan ekspresi kekagetan Adit. Sebaris gigi putih bersih terlihat dari balik bibirnya yang agak pucat, mungkin karena tanpa lipstik.

“Baru pulang kerja,” jawab Intan setelah menghentikan tawanya.

“Emang kerja di mana?”

“Di apotik.”

“Jauh, ya?”

“Enggak, deket kok. Dari pertigaan itu ke kiri sedikit terus belok kanan.”

Adit hanya mengangguk, meski sebenarnya dia enggak tahu. Karena Rendi belum mengajaknya jalan-jalan ke situ.

“Kak Adit! Aku tinggal juga nih, kalau kelamaan jalannya.” Kembali Rendi berteriak kesal.

“Iya! Iya!” balas Adit.

“Itu siapa?” tanya Intan.

“Rendi, sepupuku.”

“Oh. Aku sudah sampai, nih. Mau mampir enggak?”

“Makasih, ntar Rendi makin marah kalau aku mampir.”

Mereka tertawa lalu saling melambaikan tangan sebelum Intan menyeberang jalan dan masuk ke halaman rumah nomor tujuh puluh.

Adit bergegas menyusul Rendi yang wajahnya sudah kusut, bagai kertas ulangan dengan nilai jelek.

Sesampainya di rumah, Rendi langsung ngomel pada sepupunya.

“Kak Adit ngapain,sih. Tadi lama amat jalannya.”

Adit hanya senyam senyum saja menanggapi sepupunya yang sedang marah.

“Ada apa?” tanya Tante Ana yang baru keluar dari ruang tengah.

“ Enggak tahu, tuh. Kak Adit jalannya pelan banget, mana sambil senyam senyum sendiri, lagi. Terus bengong ngelihatin rumah kosong sambil melambaikan tangan.”

Rupanya Rendi masih belum hilang rasa kesalnya. Tante Ana tertawa mendengar omelan Rendi.

“Mungkin Kak Adit sudah enggak kuat jalan, kali. Makanya melambaikan tangan,” kata Tante Ana.

“Eh, tadi aku ‘kan ngobrol sama Intan. Masa aku tinggal gitu aja.” Adit berusaha membela diri.

“Intan? Intan siapa?” tanya Rendi dengan muka bingung. “ Tadi enggak ada siapa-siapa, kok.”

“Intan yang tinggal di rumah nomor tujuh puluh.” Adit berusaha menjelaskan.

Rendi dan Tante Ana saling berpandangan sambil mengerutkan dahi.

“Rumah nomor tujuh puluh ‘kan kosong. Enggak berpenghuni. Sudah setahun ditinggal pemiliknya,” kata Tante Ana.

Adit tampak kaget mendengar penjelasan tantenya.

“Terus, Intan itu siapa?” tanya Rendi.

“Katanya, dia tinggal di situ dan dia kerja di apotik yang di pertigaan kiri dikit terus belok kanan.” Adit mencoba menjelaskan.

“Kak Adit, enggak ada apotik di situ. Yang ada juga kuburan!” teriak Rendi karena merasa gemas pada sepupunya.

Adit seketika melompat mendekati Tante Ana yang duduk di sofa sambil minum teh hingga membuat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu terbatuk.

“Serius kamu, Ren?” tanya Adit masih belum percaya.

Esoknya paginya Rendi mengajak Adit melihat rumah nomor tujuh puluh. Benar saja rumah itu memang kosong nampak kotor tak terawat. Dengan pagar sedikit terbuka karena rusak.

Adit merasa bingung, karena semalam dia melihat rumah itu bersih, rapi dan lampunya menyala.

Rendi juga mengajak Adit ke tempat yang di tunjukkan Intan dan ternyata juga benar, tempat itu adalah pemakaman umum yang luas.

Sorenya Adit buru-buru minta pulang dan dua hari setelah kepulangan Adit, ditemukan mayat perempuan di rumah nomor tujuh puluh, yang diperkirakan sudah meninggal sejak lima hari yang lalu.

Bogor, 010120
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Suminten. dan 18 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
mata ngintip di antara sepuluh jari
profile-picture
profile-picture
Juancok085 dan zishonk87 memberi reputasi
ninggalin sendal dulu gan
profile-picture
dewiri memberi reputasi
horroorr...
profile-picture
dewiri memberi reputasi
mau bangun tenda ga jadi, langsung tamat
ciba dibuat muter2 dulu, yg endingnya ternyata adit yg bunuh tuh ciwi tp jd halu krn merasa berdosa gt
profile-picture
dewiri memberi reputasi
Quote:


Mantap nih sarannya 👍
Makasih ya
Quote:


Iya mba. Lagi belajar ngehoror 😀
Quote:


Monggo
kebetulan ane suka dgn angka 70 hehe
profile-picture
dewiri memberi reputasi
malam itu rendi termenung sendiri diruang tamu.tak lama kemudian datanglah tante ana dengan pakaian sedikit terbuka sambil membawa segelas teh hangat...

bersambung
emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
dewiri dan Sevtiadinata memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:

😁😁
profile-picture
bang.dot memberi reputasi
Udah end kah?
Ditunggu kelanjutannya ya gan
profile-picture
dewiri memberi reputasi
ada terusannya gak ya...???
profile-picture
dewiri memberi reputasi
ngga mau jadi adit aaah...takut ketemu intan.haaa
profile-picture
profile-picture
dodo2118 dan dewiri memberi reputasi
Quote:


Sudah end. Ini cerpen
profile-picture
a9r7a memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Sudah end gan
Quote:


😂😂
profile-picture
bank22 memberi reputasi
heee...
Balasan post .abi
Quote:


Haha, bisa aja. Lanjutin gan..
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
nyimak
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di