CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3d2644facb955ba21e6f1c/aku-dan-om-cakep

Aku dan Om Cakep

#Dikejar_BerondongTua

Aku dan Om Cakep

Part 1
Kenangan Masa Kecil

-----
Tepat seminggu setelah aku berulang tahun yang ke sepuluh, ada tetangga baru dari kota. Dia seorang dokter muda yang ditugaskan di kampung kami. Namanya Om Gilang. Orangnya tinggi, putih, beralis tebal, persis seperti pemain sinetron. Maklum, dulu masa kecilku selain suka kartun Sailor Moon, aku juga suka menonton sinetron Tersanjung dan juga Wiro Sableng. Menurutku, Om Gilang ini mirip dengan Ari Wibowo.

“Om Gilang cakep banget, deh. Aku boleh, nggak, panggilnya Om Cakep aja?”
Om Gilang tertawa lebar menanggapi celotehku.

“Emang menurut Nana, Om Gilang cakep?”

Aku tersenyum malu-malu. Mungkin waktu itu wajahku memerah seperti kepiting rebus.

“Cakep, kok. Kayak bintang sinetron.”

Om Gilang mencubit pipiku gemas. Hatiku semakin tak karuan rasanya.

“Lucu banget, sih, kamu. Terserah Nana aja, deh, mau panggil apa.”

Waktu itu perasaanku senang bukan kepalang. Aku jadi suka mengelus pipi sendiri, bekas cubitan Om Cakep. Sekarang kalau mengingatnya, aku jadi tertawa geli.

Sejak ada Om Cakep yang tinggal di sebelah rumah, aku jadi jarang main keluar. Lebih suka menghabiskan waktu di depan TV sambil belajar. Sesekali melirik ke kontrakan Om Cakep melalui jendela. Jadi suka tersenyum sendiri tanpa sebab.

Kadang aku suka berlama-lama duduk di samping jendela yang berdaun kayu. Menunggu Om Cakep pulang kerja, lalu duduk di teras kontrakannya. Atau menunggunya lewat di depan rumah ketika menjelang magrib.

Rasanya senang bukan kepalang ketika bertemu dia. Jangankan disapa, sandalku sama sandal Om Cakep bersebelahan ketika sholat jamaah di musholla saja, aku sudah bahagia.

Om Cakep sering datang ke rumah, sekedar mengobrol dengan Bapak. Atau diundang makan malam oleh Ibu. Kalau dia datang, aku suka berlama-lama di depan cermin. Memoles wajah dengan bedak bayi merk Cuplis, lalu memakai pakaian terbaikku. Ketika merasa cukup sempurna, baru aku keluar kamar. Pura-pura membawa buku, supaya terkesan rajin belajar.

“Nana, itu bedak satu toko kamu pakai semua, ya?”
Ibu menertawakanku.

“Eh, eng, enggak, kok. Tadi aku pakainya tipis-tipis aja,” sanggahku.
Aduh, rasanya malu sekali. Apalagi ada Om Cakep yang terpingkal-pingkal di samping Bapak.

“Dandan kayak gitu mau ke mana, Nduk?”
Bapak menggodaku.

“Nggak mau ke mana-mana. Kan Nana mau belajar. Ini bukunya.”
Aku mengangkat buku ditangan tinggi-tinggi.

“Wah, buku pelajaran apa itu? Kok sampulnya gambar Bobo?” Om Cakep ikut menimpali.

Seketika aku melihat buku yang kupegang. Oh, Tuhan. Ini majalah, bukan buku. Ketahuan kalau aku pura-pura rajin.

“Eh, iya, Om. Aku mau baca majalah maksudnya.”

Semua yang ada di ruangan itu tertawa. Aku jadi malu, lantas berlari ke kamar. Dalam sana, aku mengutuk kebodohanku sendiri. Maunya tampil rajin, malah gagal.

***

Sejak ada Om Cakep, hari-hariku jadi semangat dan ceria. Tak lupa perhatian-perhatian kecil turut kuberikan. Seperti menyisihkan uang jajan untuk kubelikan permen atau kue bolu, lalu kuberikan kepada Om Cakep.

Om Cakep selalu menerima dengan senang hati semua pemberianku. Memang dia sangat ramah dan baik hati, membuatku semakin menyukainya.

Hingga suatu hari, aku mencoba menulis puisi cinta untuk Om Cakep. Awalnya bingung memulai dari mana, tapi akhirnya aku menemukan ide. Saat itu, satu-satunya puisi yang kuingat berjudul “Sampah”. Puisi itu ada di buku paket kelas dua SD. Aku memutuskan mengganti sebagian kata-katanya dengan kalimat yang memuji, karena puisi aslinya penuh dengan ujaran kebencian terhadap sampah.

Om Cakep
Di mana-mana kulihat Om Cakep
Tak tahukah kau?
Aku menyukaimu
Aku suka melihat tampangmu
Tapi kau tetap tak menyadari
Malah kau semakin merajalela di hati ini

Om Cakep
Sadarlah!
Ada seorang gadis pemalu
Yang menyukaimu

“Puisi apa itu, Nduk?”
Aku kaget setengah mati mendengar suara Ibu. Ternyata tanpa kusadari, sedari tadi Ibu melihatku menulis puisi dari belakang. Entah kenapa, perasaan berbunga-bunga ketika menulis puisi tadi, berubah menjadi ketakutan.

Iya. Aku takut dimarahi Ibu karena masih kecil, tapi sudah jatuh cinta.

“Nggak usah takut. Coba Nana cerita, puisinya buat siapa?”

Ada sedikit kelegaan di hatiku melihat reaksi Ibu waktu itu. Padahal jantungku sudah “dag dig dug” tak karuan.

“Buat Om Cakep.”

Ibu langsung tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.

“Kamu naksir sama Om Gilang?”

“He em.”
Aku mengangguk polos.

“Sini.” Ibu menarikku ke dalam pelukan.

“Nduk, memang kamu tahu, apa itu cinta?”

“Tahu dong. Kalau kita suka sama seseorang, itu namanya cinta, Bu.”

“Oh, gitu. Kalau udah suka, habis itu gimana?”

“Ya, suka aja, Bu. Nana kalau punya permen sama kue bolu, pasti ingat Om Cakep. Terus Nana kasih, deh. Memangnya nggak boleh, ya, Bu?”

Lagi-lagi Ibu tertawa.

“Boleh, kok, Nduk. Tapi sekarang, Nana masih kecil. Belajar yang rajin dulu. Suka sama seseorang itu boleh, asalkan bisa membuat kamu jadi semangat belajar. Coba, kalau udah gede, Nana mau jadi apa?”

“Jadi dokter, kayak Om Cakep.”

“Nah, kalau gitu, Nana harus rajin belajar kalau mau kayak Om Cakep. “

Aku mengangguk semangat. Tak kusangka, Ibu tidak marah, malah memberi semangat.
Sejak hari itu, aku jadi benar-benar rajin, bukan pura-pura lagi. Kalau Om Cakep main ke rumah, dia menemaniku belajar bahkan sering mengajariku pelajaran yang belum kumengerti. Ah, senangnya.

***

Beberapa bulan kemudian, Om Cakep pindah. Dia berpamitan kepada seluruh warga. Aku sedih sekali. Mau menangis, tapi malu, ada orang banyak.

“Nana, Om pamit, ya. Nana belajar yang rajin, biar jadi dokter kayak Om.”
Om Cakep mengelus kepalaku.

“Huaaaaa ....”

Tangis yang tadi kutahan, akhirnya pecah juga. Aku memeluk Ibu. Anehnya, para tetangga yang melihatku menangisi Om Cakep malah tertawa. Mereka terlalu menyepelekan perasaanku.

“Sudah, jangan nangis. Ini buat Nana.”
Om Cakep menyodorkan sebuah boneka kucing berkalung permen yang dironce menggunakan benang jahit.

Akhirnya Om Cakep pergi meninggalkan kampungku dan pergi ke tempat tugasnya yang baru. Sedih memang, tapi cuma sebentar. Karena setelah itu aku sibuk mempersiapkan diri ujian kenaikan kelas.

Kukira aku tak akan pernah bertemu Om Cakep lagi, ternyata aku salah. Sebuah keadaan membuatku terdampar di kota tempat Om Cakep tinggal. Pertemuan tak sengaja pun terjadi.

Pertemuan yang kukira hanya akan berlalu sepintas, ternyata malah membawa perubahan besar dalam hidupku. Bahkan membuatku harus kehilangan harga diri sebagai perempuan. Om Cakep mengingatku sampai dewasa, bahkan rela melakukan apa saja demi membuatku menerima cintanya.

Inilah kisahku dengan Om Cakep ....

***

Part 2

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb74ac35d6c4
Diubah oleh Aiu.ratna905
Tentunya keuangan nya juga cakep deong..

Seru nih kisahnya, sangat menarik untuk disimak
profile-picture
Aiu.ratna905 memberi reputasi
Quote:


Thanks singgahnya, Gan. 🥰🥰😁😁😁
Lanjut Gann..asal bukan sama om senang aja emoticon-Leh Uga:
profile-picture
Aiu.ratna905 memberi reputasi
Quote:


🤣🤣🤣

Om Senang lebih menggemaskan, Gan. Banyak duitnya. 😅
Pindah dimari om???
Ditunggu part selanjutnya lah,salah satu author favorit ane ini
profile-picture
Aiu.ratna905 memberi reputasi
apa istimewanya om cakep ini sampai bikin tergila gila ??
profile-picture
Aiu.ratna905 memberi reputasi
Quote:


Lagi cari peruntungan lain, Gan. 😁😁
profile-picture
sentinelprime07 memberi reputasi
Quote:


Wuaaa... Ini beneran Bang Vigo? Bang Vigo mampir di thread gue? Yuhuuu .... 🌹🌹🌹🌹

Part 2

#Dikejar_BerondongTua

Aku dan Om Cakep

Part 2
Rendra

----

Kata orang, masa remaja adalah masa paling indah. Ada yang mulai jatuh cinta, dan menjalin kasih. Persaingan prestasi juga ikut ambil bagian dalam masa ini. Seperti aku juga, suka bersaing dengan prestasi.

Aku lolos tes masuk SMP Negeri di kota kecamatan. Kira-kira setengah jam perjalanan naik sepeda dari kampungku. Banyak hal baru yang kutemui. Dari kakak kelas yang suka mem-bully, cewek centil, dan tentu saja, cowok ganteng. Hehehe ....

Sayangnya, aku tak seceria dulu. Bapak dan Ibu akhir-akhir ini sering bertengkar, membuatku terlupakan. Aku jadi suka menyendiri dan tak punya banyak teman. Yah ..., mungkin hanya saling kenal, tapi jarang ngobrol atau menyapa.

Aku juga masih suka mendengarkan radio dan kirim-kirim salam. Mencatat lagu-lagu yang bersyair indah, dan menyanyi sendiri di kamar. Semua hanya untuk menghibur diriku sendiri yang merasa kesepian. Ibu sibuk menangis, dan Bapak sibuk marah-marah. Dan aku benci hal ini!

Setahun berlalu, aku naik ke kelas dua. Masuk ke kelas unggulan, karena dapat peringkat sepuluh besar. Harusnya orang tuaku bangga, tapi mereka cuek. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Entah kenapa, semua terasa berubah sejak Om Cakep pergi meninggalkan kampungku. Tak ada lagi yang membuat hidupku berwarna. Aku rindu rasanya "dag dig dug" dalam dada. Meski sudah mengalihkan kesedihan dengan belajar, tapi rasanya aku malah semakin jenuh.

Kelas dua SMP adalah kenangan yang paling kubenci. Kenapa? Karena saat itulah, aku jadi korban bullying. Mungkin karena wajahku yang tak begitu cantik, atau karena status sosialku yang hanya dari kalangan menengah ke bawah, sementara teman-temanku kebanyakan berasal dari kalangan atas.

***

Hari itu, aku berangkat agak pagi. Semalam, Bapak dan Ibu bertengkar lagi. Aku jadi tidak bisa tidur. Mereka selalu bertengkar, dan masalah utamanya adalah faktor ekonomi.

Karena masih mengantuk, aku memutuskan untuk tidur di kelas. Namun, begitu menarik kursi untuk duduk, aku tersentak melihat pemandangan menjijikkan di sana.

Sekelompok siswa yang memusuhiku tertawa terbahak-bahak. Mungkin selama ini, kata-kata mereka memang menyakitkan, tapi masih bisa kutahan. Kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menindasku lagi!

"Siapa yang ngeludahin bangkuku?!" Aku berteriak lantang.

Salah seorang dari mereka yang berbadan cungkring, gigi kuning, rambut kering berketombe, maju ke depanku.

"Kalau gue yang ngeludahin, kenapa? Mau protes?"

"Maksud kamu apa?" Aku menaikkan dagu.

"Gue nggak suka lihat lo! Paham?!"

"Kenapa nggak suka? Kamu ada masalah apa sama aku?"

"Lo miskin! Nggak pantes sekolah di sini! Dasar anak tukang siomay!"

Anak yang bertampang di bawah standart itu tertawa. Oh, jadi selama ini, itu alasan mereka?

"Lagian, cewek kayak lo tuh, nggak pantes ada di kelas ini! Lihat, cewek lain modis. Nah, elu? Cupu! Hahahaha ...."

Bug!

Tinjuku melayang mengenai mulut busuk si GiKun alias gigi kuning. Entah siapa namanya, aku lupa. Orang tidak penting seperti dia, memang tidak pantas diingat-ingat.

Si GiKun meringis. Mungkin tak menyangka kalau pagi-pagi sudah dapat sarapan bogem mentah.

"Kurang ajar lo!"

Duk!

Satu tendangan si GiKun mengenai perutku, disusul pukulan di pelipis dan rahang. Aku tidak tinggal diam. Kutarik kerah bajunya, lantas membentur-benturkan tubuhnya ke tembok. Bogem mentah kulayangkan berkali-kali ke pipinya. Entah kenapa, saat itu aku seperti kerasukan setan.

Teman-temannya tak ada yang berani melerai. Si GiKun menjambak rambutku, aku balas menendang perutnya hingga ia terjengkang di lantai. Aku naik ke perutnya, bersiap menghajarnya lagi. Tiba-tiba bajuku ada yang menarik dari belakang.

"Nana, cukup!"

Aku menoleh ke arah suara itu, rupanya Pak Mulazim, guru agama. Beliau menghalangi ketika aku masih ingin menghajar mulut busuk si GiKun. Si rambut ketombe itu berdiri dengan muka merah padam. Ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. Baguslah, kalau giginya rontok!

"Kamu ini anak perempuan, kok bisa adu jotos sama anak laki-laki, ada masalah apa?" tanya Pak Mulazim.

Aku menatap geram kepada si GiKun. Dia memalingkan muka. Mungkin merasa bersalah, atau malu? Tentu saja malu, masa anak lelaki kalah dengan anak perempuan? Itu pasti akan jadi bahan lelucon yang renyah seperti kerupuk Sandariyah.

"Dia yang mulai, Pak!" Aku menunjuk si GiKun. "Dia bilang, saya nggak pantes sekolah di sini. Saya miskin, cuma anak tukang siomay!"

"Astagfirullah... Benar begitu?"

Pak Mulazim memandang si Gikun. Cowok berkulit hitam itu hanya menunduk, tak berani menjawab.

"Kalian berdua, ikut ke ruang BP."

Aku keluar dari kelas mengikuti Pak Mulazim. Ternyata, banyak siswa lain yang menonton perkelahian kami. Mereka ada yang memuji keberanianku, ada juga yang mencibir. Aku tak peduli, yang penting sekarang mereka sudah tahu, bahwa aku tak mudah ditindas.

***

Hukuman skorsing diterima oleh si GiKun. Dia memang termasuk murid bermasalah dalam satu semester. Sering bolos dan juga berhantam. Aku hanya disuruh pulang untuk merawat luka. Ternyata bibirku juga sobek sedikit dan berdarah. Pelipisku membiru, akibat pukulan si GiKun, dan baru terasa sakitnya.

Keluar dari ruang BP, GiKun tak bicara atau menatapku. Aku pun segera ke kelas untuk mengambil tas dan bersiap pulang ke rumah. Entah apa yang nanti akan kukatakan jika Ibu bertanya, biar kupikir nanti saja.

"Hai, Nana!"

Seorang anak laki-laki--kelihatannya anak kelas tiga--duduk di atas sepeda yang kuparkir di belakang kelas. Dia tersenyum, sambil memainkan rem sepedaku.

"Mari kuantar pulang."

"Kamu siapa?"

Aku menatap anak itu, sepertinya pernah lihat. Tapi di mana, ya?

"Aku Rendra, kelas 3-C. Kamu memang nggak kenal aku, tapi aku tahu kamu, kok. Aku sering perhatiin kamu, tapi kamu nggak nyadar."

Anak itu melepas topi yang dipakainya, kemudian menjulurkan tangan kepadaku. Aku masih diam mengamatinya. Mata itu, hidung itu, bibir itu ... Om Cakep? Ah! Mana mungkin?

"Kamu kenapa?" Rendra mengibaskan tangannya di depan wajahku.

Aku tersadar dan mengalihkan pandangan. Kenapa aku berpikir dia mirip Om Cakep? Apa cuma perasaanku saja? Oh, tidak! Sepertinya otakku benar-benar keracunan Om Cakep!

"Jadi pulang, nggak?" Rendra menyadarkan lamunanku.

"Nggak usah diantar, aku bisa pulang sendiri. Lagian kalau kamu nganterin, nanti kamu pulangnya naik apa? Kamu mau bolos?"

"Wah, kamu galak juga, ya. Pantesan tadi Johan babak belur. Jago berantem juga, ya?"

Tiba-tiba jantungku berdebar-debar. Tanganku pun ikut gemetar. Kakiku terasa lunglai. Apa aku jatuh cinta?

Kruyuuuuk ....

Spontan aku memegang perut. Apa-apaan ini? Perut tak tahu malu! Rupanya aku bukan jatuh cinta, tapi lapar. Baru ingat kalau tadi pagi, aku belum sarapan.

Suara perutku, sukses membuat Rendra tertawa. Sialan! Maunya apa, sih, cowok ini?

"Minggir! Aku mau pulang!"

Aku mendorong tubuhnya yang masih duduk di atas sepeda. Dia malah memegang tanganku dan tersenyum. Aku membuang muka, menyembunyikan wajah yang sudah pasti merah merona menahan malu.

"Makan, yuk! Aku traktir sebagai salam perkenalan."

Aku menyentakkan tangannya kasar.

'Enak aja! Lo pikir gue mudah disogok pakai makanan? Tidak semudah itu, Ferguso!'

"Aku bilang minggir! Aku mau pulang! Atau kamu mau kubikin babak belur kayak si GiKun itu?"

"Wuiih ..., sabar dong, Cantik. Iya iya. Kali ini kamu boleh pulang sendiri, tapi lain kali, kamu pasti mau kuantar pulang."

Rendra akhirnya turun dari sepeda, tapi dia masih tersenyum. Dan senyum itu semakin membuatku teringat Om Cakep. Apa dia anak Om Cakep? Eh, tidak mungkin! Om Cakep belum menikah. Tapi kenapa dia mirip sekali? Apa dia adiknya?

"Jadi pulang, nggak? Apa berubah pikiran? Mau kuantar?"

"Stop! Aku bisa pulang sendiri!"

Aku menaiki sepeda dan mengayuhnya menjauh dari tempat parkir.

"Hati-hati, ya, Cantik!" Rendra meneriakiku.

Tanpa sadar, senyumku terkembang. Ada debaran aneh dalam dada, apa aku jatuh cinta lagi? Tiba-tiba bayangan senyum Om Cakep melintas di kepalaku. Oh, tidak! Senyum mereka benar-benar sama. Mereka benar-benar mirip. Hanya saja wajah Om Cakep tentu lebih dewasa dan memiliki kumis tipis.

Ya Tuhan! Sepertinya aku mulai gila!

***

Hai, lanjut nggak, nih?
Quote:


emang gw terkenal kok sampai tau siapa gw ??

gw suka cerita ini kayak film 'I Love U Om' makanya gw mampir sini
profile-picture
Aiu.ratna905 memberi reputasi
Quote:


Aku tuh ngefans tau, dari thread Malang Mysterio.... Ini enggak sama sama cerita I love you, Om. Dinikmati aja ya... Makasih sudah mampir. 🌹🌹🌹🌹
Quote:


ya udah buruan terusin ceritanya , pengen tau lanjutannya sama om cakep


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di