CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Sang Pangeran dan Jannisary Terakhir
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3d1c6fa2d195516b13f8b2/sang-pangeran-dan-jannisary-terakhir

Sang Pangeran dan Jannisary Terakhir

Buku karya Ustadz Salim Al Filah terbaru yang berkisah dari sudut pandang seorang Turki anggota Jannisary yang ikut berjuang bersama Sultan Abdul Hamid alias Pangeran Diponegoro. 

Seperti rekreasi sejarah dari sudut pandang baru, buku ini berhasil memberikan kacamata baru melihat Sang Sultan. 

Ada yang sudah baca bagaiamana pendapat agan agan 
Quote:


setau ane ada ulama yg jadi penasehat pangeran diponegoro yg pernah ke Mesir dan timur tengah utk belajar agama sekaligus bergabung dg militer Ottoman ntah sebagai volunteer atau Janissari. Tp dia berasal dari nusantara dan mengenalkan organisasi militer khas turki spt pangkat Ali basah (Ali Pasha), unit Turkiyo dan Bulkiyo.

tp anehnya Buku Peter Carey yg membedah babad diponegoro justru tidak pernah menyebut tokoh tersebut. Karena memang sudah uumum ulama2 jawa pergi ke Mekah utk berhaji sambil menimba ilmu agama dan militer.

Kalo dilihat tahun dibubarkannya Janissari tahun 1826 malah duluan perang diponegoro yg dimulai tahun 1825.

apa ada agan yg tau?
Lihat 2 balasan
Balasan post mamorukun
Quote:


dari sini ya om? salimafillah Diponegoro-Turki

kalo gw sih lebih percaya Peter Carey, dia memang spesialis sejarah Diponegoro. kayaknya isu kedekatan beberapa tokoh historis kita dengan Turki ini belakangan sering diangkat, yang gw gatau tujuannya apa. sudah biasa memang kalo 'ulama di Indonesia dulu sering menimba ilmu ke Makkah, dan beberapa gelar-gelar mereka memang dari sana. selain itu gelar keramat seperti Sultan dan Sunan memang didapat dari Makkah, dan ini sudah lazim bagi raja-raja Mataram. tapi kalo Turki, gw agak meragukan. hubungan yang bisa dilacak terkonfirmasi adalah Aceh-Ottoman.

Peter carey

Ya benar dia ahlinya ahli ttg Pangeran Diponegoro. Bahkan punya akses ke babad babad Diponegoro.

Penulis buku ini mengakui dia berkorespondensi dg Peter Carey bahkan mengakui kehebatannya.

Hanya saja dia lalu menerjemahkan dr sudut pandang orang Jogja dan Islam. Maka jadilah karya ini.


Dikatakan sumber penulisan nya ada juga praduga bertingkat.


Jadi ini buku rekreasi, bukan full sejarah seperti takdir ya pak peter.


Tapi setidaknya memberi perspektif baru, yg kemudian bisa digali, bukan hanya pak diponegoro tapi juga sejarah Islam di Bangsa ini.

Balasan post mamorukun
Wah pengetahuan ane belum sedalam itu Gan, malah tolong beritahu lagi yg laen. Ane masih ijo di bidang Per PangeranDiponegoro an.
Quote:


betul om. Sampai saat ini belum ada info langsung yg mengkonfirmasi keterlibatan Ottoman dlm perang jawa.
lgpl saat itu sultan Ahmad II dr Ottoman sedang getol2 nya melakukan modernisasi militernya mengikuti standard barat termasuk pembubaran Janissary.
Jd rada aneh jika ada utusan Ottoman yg bertindak sbg adviser pangeran Diponegoro yg kala itu dianggap Belanda dan keraton jogja sbg pemberontak.
kecuali dg bergabungnya ulama2 yg pernah menimba ilmu di timur tengah.
kenapa ada unsur Turki dlm Perang Jawa karena ramalan jawa (jangka jayabaya) ttg ratu adil yg membebaskan jawa dari penindasan . Di cerita tersebut kedatangan Pandhita Ratu saking Rum (Sultan Turki) disebut bersamaan dg ratu adil.
jadi gelar pangeran Diponegoro spt Erucakra, ngabdul Kamid , amirul mukminin dan khalifatulah itu menyimbolkan bahwa dialah Ratu adil yg dijanjika tersebut.
termasuk unsur Turki dlm tanda kemiliterannya.

btw ane sempet ketuker ulama nusantara yg pernah jd pasukan turki itu ternyata bukan di perang diponegoro tp perang padri. kayaknya salah satu dari Harimau nan Salapan di Minang

Quote:


Jangan lupa buku ini adalah novel sejarah. Meski berbasis sejarah real tp tetap ada unsur fiksinya termasuk kemungkinan tokoh rekaan. lagipula misi penulis adalh berdakwah dan menonjolkan ketokohan dlm konteks mujahid.
Hal itu diakuinya dlm bedah buku yg dilakukan ust salim. Termasuk utk meng counter sisi pribadi pangeran diponegoro yg sempat digambarkan miring dlm buku2 lain.
Sbg pendakwah dan pencerita background dan wawasan sejarah umum buku ini seputar kejadian perang jawa cukup baik tp dalam unsur detail dan analisa sejarah menurut ane Peter Carey masih yg terbaik utk jd rujukan



profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
Diubah oleh mamorukun
Lihat 5 balasan
Balasan post mamorukun
Quote:


tapi sebentar om. yang gw tau, Jongko Joyoboyo ini atestasi tertuanya dari Serat Pararaton. memang benar kalo Jayabaya meramalkan masa depan Jawa, tapi gw agak ragu Jayabaya pernah menerangkan ramalannya secara rinci. apalagi penyebutan "Rum" itu kok bernuansa serapan dari Arab ya (yang saat serat ini ditulis memang Islam sedang menyebar di Jawa).

cuma gw gak begitu mendalami sejarah Jawa, kalo memang ada atestasi yang lebih tua (atau sezaman dengan Jayabaya sendiri, mau itu naskah atau prasasti), atau ada telaah tradisi di serat itu tentang jongko ini, boleh lah di share om kun. kita tukeran ilmu.
Balasan post tyrodinthor
Quote:


Kalo ane cari2 memang jangka jayabaya itu dibuat di era kerajaan Islam . Terutama Kitab Asrar (Musarar) yg dibuat di era Sunan Giri Prapen dari Giri kedaton.
namun ditulis oleh pujangga kraton Surakarta.
isinya pun layak diperdwbatkan karena Prabu Jayabaya yg Hindhu berguru pada Ulama Turki / Pandhita saking Rum Sultan Maolana Ngali Samsujen. Dan seolah2 meramalkan kejadian2 sampai jaman Mataram.
namun cerita Ratu Adil yg ber keraton di tanah Jawa dan Mekkah juga muncul dari sini.
wallahualam lah


https://oediku.wordpress.com/2013/12/24/ramalan-jayabaya-jongko-joyoboyo-tentang-nusantara/amp/

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang dikumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak zamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jongko Joyoboyo pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Prabu Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru; Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat sang baginda bernama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala zamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Sang pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa atau 1747 Masehi, yang pada zamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 Masehi.
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
Balasan post mamorukun
Quote:


gw gatau ya apakah metode kritik historis Oriental bisa diterapkan untuk kritik historis Nusantara, tapi ramalan Jayabaya ini kayak seperti usaha "radikalisasi" melalui asimilasi budaya Jawa yang telah ada lebih dulu dengan Islam untuk mendapatkan perhatian dari para raja-raja yang telah bercorak Islami. berarti belum ada sumber otentik yang jauh lebih awal tentang jongko ini selain dari Serat Wijil & Musoror ya? kalo dilihat tahunnya (1741-1743), itu sudah termasuk periode akhir dari Kesultanan Mataram. gw jadi semakin yakin Jongko Joyoboyo ini ada kaitannya dengan radikalisasi Jawa.

tapi memang, supranatural itu karakteristik budaya Jawa. Niels Mulder dulu mencatat kalo pengaruh Jayabaya sangat besar dalam perkembangan Kejawen. masyarakat Jawa sudah memiliki semacam memori bawah sadar kolektif yang berwujud fantasi supranatural yang diwariskan selama berabad-abad yang salah satunya berbentuk ramalan.
Balasan post tyrodinthor
Quote:


Penjelasan ttg radikalisasi gimana om ?
menurut ane spt metode dakwah para wali sanga aja yg menyisipkan mitologi dan ajaran Islam dalam cerita2 yg sudah diterima masyarakat jawa saat itu.
misal wayang, gamelan dan cerita Baratha Yudha.

tp dlm buku Peter Carey memang disebutkan kuasa ramalan Ratu Adil inilah yg merubah pandangan RM ontowiryo muda yg apatis thd politik keraton dan hanya fokus menjalani kehidupan beragama di Tegalrejo menjadi sosok Pangeran Diponegoro yg membangkitkan perlawanan rakyat, bangsawan dan ulama dalam perang sabil melawan Belanda dan Keraton.
beliau mendapat kan kesadaran spiritual bahwa sudah saatnya Ratu Adil datang dlm wujud penguasa baru Jawa yg lepas dari keraton Yogya maupun Surakarta.
hal ini lah yg dikemudian hari justru bikin pecah kongsi dg Kyai Mojo bahwa perjuangan perang Sabil yg awal tujuannya utk menegakkan Islam dan mengusir Belanda berubah menjadi ambisi sang Pangeran utk menjadi raja jawa baru.
makanya dlm penangkapan kyai Maja, beliau mengutarakan kepada Belanda kalo ingin membujuk Diponegoro utk berunding maka tawarkan saja wilayah baru dimana sang pangeran menjadi penguasanya.
Balasan post mamorukun
Quote:


maksud ane radikalisasi Jawa om, bukan radikalisasi Muslim. ramalan Jayabaya yang ada rinciannya (yang muncul di tahun-tahun akhir kekuasaan Mataram) terlihat seperti usaha menanamkan rasa untuk melawan Belanda. jongko ini mengalami gubahan untuk tujuan membuat Jawa radikal untuk melawan musuh-musuh Jawa yang sejati. sosok Satrio Piningit ini juga seperti mendorong rakyat Jawa untuk melaksanakan..... not Javanese apocalypse, but Javanese revival.

but Idk more about it, I give up
Lihat 5 balasan
Balasan post andicpb
Quote:


nah ini beda lagi malah. klaim ustadz Fillah bilang malah dia Janissary, tapi Ricklefs bilang dia saudagar. Janissary itu pasukan infantri elit Ottoman (militer resmi Ottoman), sedangkan saudagar adalah sipil.

kalo pedagang mah gw gak heran kalo di abad 17 ada orang Turki. jangankan Turki, bahkan Nusantara itu sudah didatangi pedagang dari Belanda, Portugis, Spanyol, Italia, Denmark, dll sejak abad 12. malahan hubungan kenegaraan antara Kesultanan Banten dengan Kerajaan Denmark itu sudah terjalin di abad 16. Sultan Ageng Tirtayasa mengirim 2 surat kepada Raja Frederick III dan Raja Christian V (suksesornya). Denmark-Indonesia relations. selain pedagang, 'ulama asing juga sudah banyak yang ke Nusantara. gak usah Turki deh, sudah banyak 'ulama dari Arab, Persia, dll yang datang ke Nusantara.

yang jadi masalah kan adakah pengaruh Janissary dalam Perang Jawa. gw rasa tidak ada.
Balasan post tyrodinthor
Quote:


Ini kan novel sejarah om jd menurut ane ada unsur mencampur tokoh real dg rekaan.
Lgpl Janissary di era perang diponegoro udah dibubarkan oleh Sultan Machmud II serta tidak ada catatan resmi baik dari pemerintah Hindia Belanda, serat Kesultanan Yogyakarta ataupun pemerintah Ottoman sendiri mengenai pengiriman utusan dari Turki.
menurut ane di tahun itu Hubungan diplomatik nusantara kecuali Aceh tetap melalui pemerintah Hindia Belanda. Jd mustahil tidak ada catatannya.
Balasan post mamorukun
Quote:


ga juga, auspicious incident itu 1826, perang diponegoro mulai tahun 1825. yang membuat janissary di pasukan diponegoro impropable adalah fakta bahwa ekspedisi ottoman ke indonesia dilakukan di 1564. setelahnya ga ada catatan ekspedisi militer maupun ekspedisi diplomasi ke nusantara dari ottoman yang sampai ke jawa. memang ada ekspedisi tahun 1873, tapi pasukannya digeser ke yemen untuk mengurusi pemberontakan, inipun sudah di luar timeframe perang diponegoro

memang di era setelah ekspedisi 1564 umum bagi raja-raja jawa untuk mengirimkan duta atau sekedar utusan ke mekah untuk minta izin pakai gelar sultan atau sekedar belajar ilmu agama, dan mungkin saja dalam salah satu ekspedisi ini membawa pulang ulama dari mekah, tapi bagi si ulama untuk juga adalah anggota janisarry juga impropable, karena posting janissari itu posting militer, bukan pendidikan. selain itu, di abad 16-17 korps janissary sudah sedemikian rusaknya sehingga mayoritas janissary menetap di ibukota atau kota kota besar di anatolia atau rumelia, bukan wilayah backwater seperti arabia. bagian dari entourage si ulama ke indonesia juga impropable, karena posisi janissary sudah sedemikian enak dan hedon, ga ada alasan bagi anggota aktif maupun pensiunan janissary untuk meninggalkan posisi enak dan basah mereka di kekaisaran untuk pergi ke tanah entah nun jauh disana.
Balasan post khiekhan
Quote:


Maka dari itu tidak pernah ada utusan resmi ottoman maupun berita Belanda ke yogyakarta di tahun tersebut.
Kecuali kalo mau bikin narasi Fugitive Janissary lost in Java emoticon-Big Grin

Betul om, di akhir eranya Janissary itu kebanyakan cuman status doang lo. meski scr jumlah diatas kertas mencapai 100 ribu orang tp Tidak murni bertugas penuh secara militer, bahkan banyak yg cuman pegang urusan administrasi dan perdagangan. Makanya jangan ditanya soal kehandalan militer nya udah pasti jauh menurun dibanding 2 abad sebelum nya.
Balasan post mamorukun
Quote:


belakangan ini memang sering banget orang ngangkat romantisme "khilafah ala ala" Ottoman yang sedikit dimodifikasi seolah punya banyak jasa terhadap Indonesia, terutama Muslim di Indonesia, yang tentunya tidak dapat dipertanggungjawabkan signifikansinya secara historis.

Spoiler for BB++ dari Ottoman abad 17:


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di