CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerpen by rahma.syndrome
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3c312068cc953b384e5742/kumpulan-cerpen-by-rahmasyndrome

(CERPEN) Curhatan Orang Asing

Aku duduk di kursi sambil membaca sebuah novel karya Adenita yang berjudul 9 matahari. Suasana di dalam perpustakaan daerah ini sangat sepi. Hanya ada 5 pengunjung saja, termasuk aku. 

Kumpulan Cerpen by rahma.syndrome

Tiba-tiba ada seseorang yang duduk tepat di depanku. Mau tak mau aku mendongak untuk melihatnya karena penasaran.

“Boleh kan duduk disini?” ia bertanya sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk dan kembali membaca novel tanpa berniat untuk menyapa orang tersebut.

“Suka baca novel,” tanya orang asing tadi.

“Iya,” jawabku singkat sambil terus melanjutkan membaca.

“Kenapa suka baca novel,” lagi-lagi ia bertanya kepadaku. Aku heran kenapa ia banyak bertanya, kupikir perpusakaan tempat untuk membaca buku, bukan untuk mengobrol.

Aku menghela napas sejenak dan menatapnya heran. 

“Karena dengan kalimat sederhana bisa merubah hidup kita. Itulah kenapa aku suka baca novel. Penulis bisa merubah pola pikir kita dan bisa memotivasi,” jawabku.

“Oh ya?” ia bertanya dengan nada seolah-olah tak percaya dengan apa yang ku katakan.

“Contohnya,” sambungnya lagi.

“You can’t choose your family, but you can choose your friend to be your family."

“Aku gak tau apa itu keluarga,” ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan hal seperti itu. Padahal setiap anak yang lahir didunia ini pasti mempunyai Ibu dan Ayah yang merupakan keluarganya.

“Maksudnya?” aku mulai tertarik dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Aku gak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua, perhatian, bahkan kebahagiaan.” Lagi dan lagi wajahya sulit diartikan ketika ia mengatakan itu.

“Aku gak percaya,” jawabku tegas.

“Kamu gak percaya karena kamu gak pernah ada diposisi aku. Kedua orang tuaku sibuk mencari uang, mereka tidak pernah ada waktu buatku. Saat di rumahpun mereka sibuk dengan laptop masing-masing atau urusan lainnya. Rumah hanya tempat untuk tidur dan mandi, bukan tempat pulang untuk saling memeluk satu sama lain. Aku punya kakak yang sibuknya melebihi orang tuaku.” ia menghela napas sejenak lalu melanjutkan ceritanya lagi.

“Ketika aku sakit, mereka hanya membawaku ke rumah sakit dan meninggalkanku begitu saja. Hanya ada perawat yang menemaniku. Ketika aku ingin menceritakan kegiatanku atau hal menakjubkan yang aku lakukan mereka selalu tidak mempunyai waktu. Kita berada di rumah yang sama namun seperti ada tembok yang memisahkan antara satu dengan yang lainnya.”

Aku memperhatikan mimik wajahnya yang mulai berubah menjadi sendu. Terlihat jelas bahwa ia mempunyai beban yang ia pendam. Entah aku harus percaya atau tidak dengan orang asing tersebut tapi aku sedikit iba dengannya. Keluargaku yang begitu sempurna dan selalu menjadi tempat pulang ternyaman seolah berbanding terbalik dengan keluarganya.

“Saat aku SD, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku mendapatkan nilai bagus di sekolah. Tapi aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mengatakannya. Sampai saat inipun aku tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Pernah suatu kali aku menghampiri Ibuku dan ingin menceritakan bahwa aku akan ikut lomba debat antar sekolah, tapi aku tak bisa menceritakan karena Ibuku dengan tegas mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan pekerjaaanya untuk presentasi besok,” ia tersenyum getir dan menarik napas dalam.

“Aku ingin seperti anak-anak lain yang mendapatkan dukungan dan semangat dari keluarga.”

Sebenarnya aku bingung harus mengatakan apa. Aku menyimpulkan bahwa orang asing ini kurang mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tua.

“Orang tuaku sudah tidak peduli lagi denganku, aku benar-benar merasa tidak ada artinya,” ucapnya lirih. 

Aku sedikit kaget mendengar ucapannya. Bagaimana bisa seorang lelaki yang terlihat keren dan tampan sepertinya terlihat begitu lemah dan putus asa.

“Kamu kuliah,” tanyaku.

“Iya.” 

“Kenapa kamu hanya sibuk melihat kekurangan keluargamu saja? Coba kamu lihat kembali kebaikan mereka kepadamu. Bagaimana usaha orang tuamu untuk membiayai sekolahmu, usaha mencukupi segala fasilitas kamu, uang jajan kamu, bahkan hal-hal kecil yang tidak terlihat.”

“Misalnya?” Tanya-nya penasaran.

“Do’a,” orang tuamu pasti mendoakan yang terbaik untukmu, apapun itu. Orang tuamu selalu memohon kepada Tuhan untuk melindungimu, untuk memberikan kesehatan untukmu. Mereka sibuk bekerja untuk siapa? Kamu! Mereka mau kamu itu mempunyai kehidupan yang layak dan serba kecukupan. Meskipun kasih sayang mereka hanya melalui uang, tapi ingatlah bahwa selembar uang yang kamu terima itu ada setetes keringat dari orang tuamu. Di luar sana masih banyak orang yang lebih susah darimu. Kamu bukan satu-satunya orang yang merasa paling menyedihkan. Kamu hanya kurang bersyukur dan ikhlas,” jawabku panjang lebar.

Ia berpikir sejenak lalu mengangguk. 

“Bersyukur?”

“Iya, kunci bahagia adalah dengan cara mensyukuri apa yang ada dan hargai selagi ada,” jawabku mantap.

“Kalau kamu tidak bisa bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang, sampai kapanpun kamu tidak akan bahagia dan akan merasa sebagai orang paling menyedihkan. Orang tuamu itu sayang banget sama kamu. Kalo gak sayang gak mungkin mereka mau kerja banting tulang,” sambungku.

Ia hanya mengangguk-angguk dan tersenyum getir.

“Mungkin aku emang kurang bersyukur dan tidak pernah melihat kebawah, makasih ya atas nasihat kamu. Ya udah aku pergi dulu,” ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.

Aku hanya memandangnya tak percaya. Dia datang dan menceritakan segala masalahnya, lalu pergi begitu saja. Bahkan aku tidak tahu siapa namanya, di mana ia tinggal dan kenapa ia bercerita panjang lebar? 

Memang hidup ini penuh dengan tiba-tiba. Segala sesuatu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapi kejadian itu. Masalah akan selalu datang kepada siapa saja. Tidak mengenal umur, derajat, ataupun status sosial. Tidak ada masalah tanpa solusi. Dan Tuhan tidak akan memberikan masalah diluar batas kemampuan umatnya.

Setelah orang asing itu benar-benar pergi, aku kembali membaca novel yang baru sedikit kubaca. Aneh rasanya ketika ada orang asing yang tiba-tiba datang dan curhat lalu pergi begitu saja setelah mendapatkan solusi. Harusnya aku bahagia karena bisa merubah hidup seseorang hanya dengan kalimat-kalimat sederhana.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syndrome44 dan 11 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 3

(CERPEN) Air Mata Pernikahan

Quote:


"Bu, aku tidak mau menikah dengannya," ucapku dengan nada lirih.

"Mau tidak mau kamu harus menikah dengan Haris," jawab ibuku dengan tegas.

Kumpulan Cerpen by rahma.syndrome

Sungguh aku tidak menyangka bahwa kedua orang tuaku tega menyuruhku menikah dengan Haris. Sedangkan aku masih menempuh pendidikan kelas 1 SMA.

Kedua orang tuaku memaksaku untuk menikah dengan Haris agar hidupku lebih baik dan sejahtera, karena Haris adalah pria kaya. Alasan yang sangat tidak masuk akal bahkan menurutku itu diluar nalar.

Bagaimana mungkin aku akan merelakan pendidikanku demi seorang pria yang tidak aku cintai. Apa aku akan hidup bahagia?

"Besok Ayah akan ke sekolahmu, mengurus semua pengunduran diri dari sekolah," kata Ayahku.

"Ayah sudah tidak mampu membiayai sekolahmu lagi, adik-adikmu juga butuh biaya. Lebih baik kamu menikah dengan Haris. Dia pria yang kaya dan baik, pasti hidupmu enak jika menikah dengannya," sambungnya.

Rasanya aku seperti tersambar petir. Hatiku tersayat mendengar semua itu. Impian dan tujuan hidupku telah hancur berkeping-keping. Aku pasrah, mencoba menerimanya dengan ikhlas.

Aku ingin sekali menjadi seorang guru matematika, mengajar murid dengan telaten dan mengabdi kepada negara. Mungkin impianku terlalu tinggi, sehingga aku tidak bisa mencapainya.

Apa ini memang yang terbaik untukku? Mengikuti semua kemauan orang tuaku, dan merelakan kebahagian serta impianku sendiri. Ingin rasanya aku menangis meraung-raung, tapi air mata ini sudah enggan untuk keluar.

Waktu terus berlalu, hari pernikahan sudah semakin dekat. Rasanya aku ingin mati daripada menghadapi pernikahan ini. Aku malu, malu kepada teman-temanku, tetanggaku, bahkan malu kepada diri sendiri.

Haris merupakan pria dewasa yang sudah berumur 27 tahun. Menurutku, dia tidak tampan dan hanya menang dalam hal kekayaan. Semua orang didesaku mengenal dan menghormatinya.

Pikiran orang tua awam memang tidak mementingkan pendidikan. Hanya menikah, menikah, dan menikah. Mereka pikir zaman sekarang itu sama seperti zaman dulu? Yang sama sekali tidak mementingkan pendidikan. Lulus SD langsung menikah, lulus SMP langsung menikah. Sedangkan sekarang? Pendidikan sudah menjadi hal yang penting.

Tapi dengan mudahnya mereka memutuskan untuk memaksaku menikah dan meninggalkan pendidikanku. Biaya sekolah untuk dua tahun lagi pasti bisa diusahakan, tapi mereka terlalu cepat mengambil keputusan dan mungkin sudah dihasut sama Haris. Aku juga tak habis pikir dengannya, jika dia manusia normal harusnya ia bisa menungguku sampai lulus SMA. Apa susahnya menunggu dua tahun lagi?

Tibalah dihari pernikahanku. Semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dekorasi sudah terpasang dengan sangat indah. Ini adalah pernikahan paling mewah di desaku. Sebuah desa kecil yang jauh dari perkotaan.

"Mbak kok nangis?" Tanya perias yang sedang merias wajahku.

Aku tersadar dan segera menghapus air mata tanpa menjawabnya. Tentu saja aku menangis di hari pernikahanku.

"Rena," panggil ibuku.

"Ya bu," aku menolehnya dan berusaha untuk tersenyum.

"Jangan menangis, ini adalah hari kebahagiaanmu. Setelah ini kamu akan hidup lebih bahagia bersama Haris, ini adalah jalan terbaik untukmu, Ayah sudah tidak bisa membiayai sekolahmu, lagi pula dulu Ayah sudah tidak menyanggupi untuk membiayai kamu masuk SMA," terang ibu.

Aku hanya mengangguk lemah, bibirku sudah tak bisa digerakkan lagi untuk mengucapkan kalimat penolakan.

Penghulu sudah mengulurkan tangannya dan disambut oleh Haris. Semua tamu dan keluarga sudah datang untuk menyaksikan. Air mataku sudah menggenang di pelupuk mata dan siap untuk tumpah.

Setelah kata "sah" diucapkan serempak, air mata ini langsung jatuh tak terbendung lagi. Semua orang pasti mengira ini adalah air mata kebahagaiaan, tapi siapa sangka jika ini adalah air mata kehancuranku.
Diubah oleh rahma.syndrome
Mending ya laki-laki kek gw gini burik tapi tangguh dan pekerja keras!

Setiap orang itu pasti memiliki masalah masing-masing kadang ada yang masalahnya lebih berat tapi dia tetap tegar ada yang masalahnya tidak seberapa tapi sudah ngeluh.

Btw salah kamar sist, harusnya di sfth.
Quote:


Yah gitu namanya juga manusia.

Eh salah ya? Hehe maklum newbie. Iya deh next ku bikin di sfth. Makasih koreksinya ya
Quote:


Ini udah di pindahkan ke sfth emoticon-Cool
lanjutkan hu.. bagys nih buat SFTH
nitip sendal bre, ntar malem bacanya
Quote:


Siapp
profile-picture
donix91 memberi reputasi
Quote:


Besok2 jan cuma nitip sendal. Tapi nitip sertifikat rumah emoticon-Big Grin

(CERPEN) Cinta Pertama Dan Terakhir

Hai gansis emoticon-Wowcantik selamat membaca karyaku ya. Maklumin aja kalo ceritanya gak bagus, masih pemula gengs emoticon-Blue Guy Peace

Kumpulan Cerpen by rahma.syndrome

Aku duduk menikmati senja dipinggir pantai, enggan beranjak namun senja akan segera berakhir. Kenapa senja hadir sesingkat itu? Batinku. Pikiranku melayang jauh, lebih tepatnya pikiran ini singgah ke masa lalu. Rasa sakit yang kudapatkan lima tahun lalu tak kunjung sembuh. Kata demi kata menyakitkan terus terngiang di telingaku, ingin rasanya aku membunuh seseorang yang pernah menyakitiku, seseorang itu adalah Elvano.

Tanpa sadar, air mata ini lolos dari pertahananku. Aku kesal dengan diriku sendiri yang begitu lemah.

Aku yang sekarang memang berbeda dengan dulu, jika dulu aku gendut, jerawatan, berkulit hitam dan jauh dari kata cantik, namun sekarang aku berubah bak bidadari yang begitu cantik dan populer. 

Entah apa yang ada dipikiranku, tiba-tiba sebuah ide gila terlintas dalam pikiranku. Ide yang mungkin bisa menebus luka yang kudapatkan. Setelah ide gila itu muncul, aku segera mencari keberadaan Elvano.

Dengan bantuan Jovita, akhirnya aku menemukan keberadaan Elvano.
Tekadku sudah bulat untuk menaklukan Elvano. Keyakinan, keberanian, dan semangat menjadi satu.

Tanpa disengaja, saat aku berlibur ke Bali, tiba-tiba aku bertemu dengan Elvano. Sungguh pertemuan yang tidak pernah kubayangkan. Pertemuan ini membuat hubuganku dengan Elvano semakin membaik, berbeda dengan dulu.

Entah apa yang aku rasakan sekarang, aku tidak bisa membedakan antara cinta dan kebencian, antara suka dan muak, antara sayang dan kekejaman. Aku hanya memainkan sebuah permainan yang harus ku menangkan. 

Malam ini Elvano mengajakku makan malam disebuah restoran mewah, dan tanpa kusangka ternyata dia menyatakan cinta di malam itu. Dengan sebuket mawar merah dan sebuah kalung yang cantik, ia menyatakan cinta dengan begitu manis. Harusnya aku merasa bahagia karena dia menyatakan cinta di depanku secara langsung. Namun, ini semua bukan seperti yang aku harapkan. 

Aku menerima cintanya dan siap menjalin hubungan asmara yang lebih serius dengannya. Elvano tulus mencintaiku dan menyayangiku. Ia selalu memperlakukanku dengan baik, selalu memberi perhatian lebih, selalu mengalah disela pertengkaran dan selalu melindungiku. Aku menikmati itu semua, namun bukan rasa cinta yang tersemat. Itu hanya sesuatu yang membuatku sedikit puas akan apa yang Elvano lakukan. 

Waktu terus berjalan, rasa cinta dihati Elvano begitu besar. Aku bisa merasakan itu. Namun disaat bersamaan aku mejalin hubungan dengan seorang dokter tampan bernama Eden. Aku sudah kenal lama dengan Eden karena ia adalah sepupu Jovita. Ia tahu masa laluku dan tahu semua hal tentangku, bahkan Eden tahu hubunganku dengan Elvano. Aku pun tak segan untuk menceritakan maksud dan tujuanku menjalin hubungan dengan Elvano.

Tibalah saat dimana aku bertunangan dengan Elvano. Sebuah cincin tersemat dijari manisku menandakan bahwa aku sudah ada yang memiliki. Namun bagiku, cincin hanyalah sebuah benda mati yang tidak bisa mewakili apapun. 

Disisi lain, hubunganku dengan Eden semakin erat. Sikapku kepada Elvano sedikit berubah, karena aku tidak bisa berlaku adil antara Elvano dan Eden.

Hingga disuatu hari, perselingkuhanku dengan Eden diketahui oleh Elvano. Kemarahan Elvano benar-benar memuncak pada saat itu.

“Sa, kenapa kamu tega ngelakuin ini?! Kita udah tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Tapi kamu justru menjalin hubungan dengan pria lain!” ucapnya keras. 

Aku hanya tersenyum miring dan menyilangkan tangan didepan dadaku. 

“Kamu pikir kamu siapa?” tanyaku santai.

“Maksud kamu?” tanyanya heran.

“Aku Clarissa Deolin, wanita yang dulu jauh dari kata cantik namun mencintai sesosok pangeran tampan. Tapi apa? Pangeran itu menolakku dan menghinaku di depan umum. Dia mempermalukanku!” Kataku lirih dengan penuh penekanan. 

“Tapi, Clarissa Deolin yang sekarang itu cantik dan mendekati kata sempurna. Apa kamu pikir Clarissa yang dulu masih sama dengan Clarissa yang sekarang?” tanyaku sambil tersenyum licik.

“Maksud kamu? Semua yang kamu lakuin sekarang itu cuma balas dendam? Kamu bikin aku cinta sama kamu dan kamu bakal ningalin aku gitu aja?” Tanya Elvano dengan dada naik turun menahan amarah.

“Aku pernah hancur gara-gara kamu Van, aku sakit, terluka atas apa yang kamu lakukan dulu. Aku mati-matian buat berubah, aku olahraga, diet, perawatan, meniti karir supaya nantinya aku tidak di injak karena alasan aku tidak cantik. Aku ingin membalas dengan melihat kehancuran kamu Van.” Ucapku dengan air mata yang sudah mengalir deras.

“Oke, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan dulu. Aku emang salah Sa, aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku rela ngelakuin apa aja buat kamu Sa. Tapi tolong jangan tinggalin aku, kita udah tunangan, aku juga udah beli rumah buat kamu Sa,”  ucap Elvano memohon.

Aku menggelengkan kepala, “Enggak Van, perasaan cintaku dulu udah berubah jadi benci,” jawabku.

“Aku gak akan nglepasin kamu Sa, aku bakal ngelakuin apa aja buat kamu. Aku akan berjuang mendapatkanmu kembali,” ucap Elvano dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Aku pergi meninggalkan Elvano, pergi menjauh untuk menenangkan diri. Aku berpikir bahwa apa yang aku lakukan sekarang itu benar. Rasa sakit yang kurasakan dulu sudah terbayar lunas. Aku menghancurkan hati Elvano, aku meninggalkannya, dan aku membuangnya. Aku pun sudah membatalkan pertunanganku dengannya.
 
Satu bulan berlalu, dan Elvano masih terus berjuang untuk meluluhkan hatiku. Aku pikir menjalin hubungan dengan Eden akan membuatku bahagia, namun ternyata tidak. Entah kebahagiaan seperti apa yang aku inginkan. 

Satu bulan, dua bulan, sampai enam bulan kisah cintaku tak kunjung menemukan kepastian. Elvano masih berjuang tanpa menyerah sedikitpun. Aku bingung harus bagaimana, aku tidak tahu apa yang ku inginkan.

“Sa, tolong kasih aku kesempatan,” ucap Elvano saat berada di rumahku. 

Aku hanya diam, tidak menjawab apapun. Hati kecilku berkata untuk memberinya kesempatan, namun pikiranku terlalu keras dan gengsi untuk mengakui bawa aku masih ada perasaan dengan Elvano.

Satu tahun berlalu, dan kini aku menikah dengan Elvano. Cinta pertama dan terakhirku. Jika memang jodoh, sekeras apapun kita menolak pasti Tuhan selalu mempunyai cara untuk menyatukan. Tetapi jika bukan jodohnya, sekeras apapun kita mempertahankan, Tuhan selalu mempunyai cara untuk memisahkan. 
Diubah oleh rahma.syndrome
emoticon-Nyepi Lanjutkan tulisanmu
mo baca tapi udh keburu ngantuk...
early morning ya dilanjut
Cakep
Diubah oleh rahma.syndrome
hmmm
Tahaan diaa. manatau jodohmu😂
Quote:


Masih kupantau emoticon-Big Grin
Bisa Jadi Sinetron tuh Gan Ceritanya 😄
Quote:


Dramatis ya emoticon-Big Grin
Romantis dan Dramatis ,..😉
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di