CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3bddab65b24d7c7f3872b1/tiga-huruf

TIGA HURUF

Dan ketika kamu yang meninggalkanku tanpa pesan, membuatku menunggu berbulan-bulan. Berakhir dengan putusnya komunikasi, dan engkau telah berpemilik baru. Setahun yang lalu, malam ini kamu datang menyapa menanyakan kabar.

Adakah aku bertanya dalam setiap hari, bahwa betapa berat aku berjalan melalui ketidak pahaman ini. Apa kamu mengerti?

Sejak saat itu, aku membiarkan luka ini seperti yang sebelumnya. Membenamkan air mata dalam tawa bahwa aku baik-baik saja. Menjawab tentang kamu yang hanya bisa kubalas dengan senyum dan berlalu. Aku pikir, kita akan menjadi akhir dalam pencarian. Aku pikir, masing-masing dari kita akhirnya akan menyadari apa tujuan kita. Aku pikir, kamu memberikan keyakinan yang nyata sebagai seorang pria. Aku pikir, sendiriku akan berakhir dengan kamu. Tapi kembali lagi aku di khianati dengan keyakinanku sendiri. Aku menjadi bodoh dengan anganku sendiri. Bagaimana mungkin, yang datang penuh tanggung jawab, pergi seperti pecundang.

Aku masih tidak ingin membuka hal ini dengan siapapun. Hingga pada akhirnya, kamu datang menyapa. Rasaku bingung.

Mungkin ini adalah jawaban mengapa tidak ada kata lain selain namamu ketika aku menyebut tentang rasa rindu. Saat aku bersama yang baru, aku ingin memanggilnya. Tapi, namamu yang selalu ada di ujung lidahku. Apa mungkin ini jawaban dari semua ini. Saat aku membayangkanmu saja aku tak sanggup, terlampau jauh anganku meninggalkan mu.

Hati perempuan mana yang tak limbung, tak goyah saat yang di inginkan lupa tapi datang menyapa. Kamu membuat aku goncang. Saat aku melupakan yang baru, kamu datang melukai. Aku tau maksudmu hanya sekedar ingin baik, tapi aku belum siap untuk jadi baik. Harusnya ini tidak terjadi. Harusnya aku baik-baik saja.

Dulu, saat yang berlalu mengusikku. Aku sudah berdoa dan mengikhlaskanmu. Aku bersujud atas apapun, aku memohon rasa ikhlas atas apa yang terjadi. Untuk melepaskan kamu. Membiarkan mu menikmati ranumnya cumbu yang lain. Aku berat, aku menangis, aku tertekan mengingatnya. Kau tau? Itu adalah alasanku hingga detik ini aku tak bisa membayangkan wajahmu. Rasanya ingin berusaha mengingatnya saja aku tidak sanggup. Kau pergi membawa luka yang membuatku trauma. Kamu meninggalkanku tanpa sempat memberiku waktu untuk menjelaskan betapa setiap hari aku berjuang dengan obat-obatan ini untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Aku belum sempat membuatmu mengerti, betapa aku berjuang dan bersyukur mendapatkan kamu. Kamu meninggalkan aku tanpa sedikitpun penjelasan, tanpa sedikit tanya. Hingga membuatku berfikir, orang yang memelukmu erat kemarin adalah iya yang menghunuskan pisau perpisahan di ulu hatimu. Menikam tepat di dalamnya, mengoyak-oyak harapan, kemudian meninggalkannya tanpa ada penjelasan. Membuatnya bertanya, kenapa? Mengapa? Ada apa?

Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan. Menjadi orang yang selalu bertanya-tanya. Menerka-nerka, menolak segala kemungkinan yang terjadi, menolak kenyataan bahwa aku dan kamu sudah selesai tanpa penjelasan. Aku menjadi orang yang bodoh, merasa bahwa aku masih memilikimu, aku masih menjadi bagian dari hatimu, aku masih menjadi tujuanmu.

Sedangkan kamu, sejatinya bercumbu dengan ke egoanmu. Ingin aku marah, ingin aku memaki, ingin aku berlari, ingin aku menunjuk mukamu apa salahku. Tapi apa yang terjadi? Tiga purnama yang aku meyakini kenyakinan yang salah.
Sekarang, kamu datang hanya sekedar menyapaku?
Boleh kutanya apa sesungguhnya niatmu ?
Memastikan jika aku sudah baik-baik saja ?
Memastikan jika aku tak membencimu ?
Aku hanya bisa menjawab dengan aku baik-baik saja. Agar engkau merasa lebih baik, merasakan semuanya sudah kembali normal. Selamat, kamu menyapa perempuan yang kini tidak memiliki hati.

Sudah setahun, sudah berganti tahun, sudah berlalu. Sungguh .
Tapi saat aku tau, kamu orang yang menyapaku. Remuk hatiku, hancur. Rusak dinding pertahananku.

Lebay.

Rasanya ingin ku ganti rasaku, ingin ku sumpah serapah, ingin ku magic, agar kamu dapat merasakannya.
Saat, kamu berkata terimakasih sejuta kata ingin kutulis untuk membalas betapa brengseknya kamu mengucapkan kata itu. Seolah bersyukur atas luka yang kubuka karena bahagia dan benciku mendapati pesan itu kamu.

Adakan diantara kalian, merasa tak terluka??

Saat iya yang membuatmu terpuruk datang menyapa dengan tanpa harapan, sedangkan anda tertatih menghapus bagian itu ?
Katakan padaku, aku harus apa ini.
Percakapan ini memang telah berakhir, tapi efek yang kamu tunjukan tak akan semudah menulis tanda titik dibagian akhir kata-katamu.

Aku terluka saat tau bahwa tidak ada penjelasan lain, aku kecewa ketika hanya itu yang kamu tulis, aku nelangsa saat tau bahwa niatmu hanya menyapa, aku bahagia pada akhirnya bahwa kamu datang memberikanku luka yang sama yang juga aku persilahkan.
Ingin menjadi dewasa dengan bersikap baik-baik saja. Tapi otakku berfikir keras, setelah ini apa ? setelah ini aku harus bagaimana? Apa yang akan aku lakukan? Sekarang aku harus bagaimana?
Aku tersiksa.
Aku terkungkung dalam percakapan itu, aku terkungkung dalam moment itu. Aku mati dalam akhir kalimat itu,
Lalu apa setelah ini, aku masih terus menanyakannya.

Sunggu dahsyatnya masa lalu yang datang menyapa, mematikan jika sapa dari ia yang berakhir tanpa kamu tahu kenapa. Berlalu dan menghilang begitu saja, dan muncul dengan saling memblokir diri. Kamu menutup rapat hidupmu dengan perasaan dinginmu, dan aku menutup diri dengan ketidaktauanku. Hingga semalam kau datang menyapa.
Aku masih menunggu apa setelah ini,

Sudah 39 jam setelah hadirmu menyapa,
Sore ini, langit tampak mendung dan menghitam. Radio disudut sana terus mengalunkan lagu tahun 2000n. Rasanya seperti kembali dijaman masing-masing dari kita menikmati indahnya remaja.
Hatiku masih saja gelisah, masih terus bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Anganku kembali saat pertama kita saling menyapa sebagai teman lama. Tak ada niatku bahkan membayangkan akan sesakit ini apa yang kita mulai baik-baik saja. Sosial media memberikan kita ruang untuk saling menyapa, untuk saling mengingat bagaimana aku dan kamu bertemu. Menceritakan hidup kita setelah lebih dari enam tahun berlalu.

Kamu begitu lugu dan ternyata kesan itu palsu. Hatiku yang beku kau sentuh perlahan dengan senang hati, membuatku tersentuh dan candu. Sehari tanpa saling menyapa, sehari tanpa saling menanyakan kabar, sehari tanpa kamu, aku candu. Begitu hebatnya kamu yang berani membuatku mencintaimu dalam jarak puluhan kilometer.

Sesak aku mengingatnya, betapa dulu sekokoh aku mampu untuk membuka hati. Terkadang jika mampu ku ingat bagian terkecil antara kamu dan aku. Bisa kah kita menjadi sepasang manusia yang saling mendewasakan. Dan benar saja, aku terbutakan akan kamu dan yang kau sebut cinta. Aku menjadi budak akan ketidaksadaranku. Aku memilih untuk menjadi tolol atas hati yang menyebutnya jatuh cinta.
Ya, hela nafas panjang. Mundur dari meja kerja dan meratapi diri.
Kamu tau, aku kacau. Harusnya kamu tak meyapaku.

Ini membuatku, kembali melihat gambar diri tentang aku dan kamuyang berlalu.
Dalam tololku, aku meyakini bahwa kamu membekas indah dan melukai aku jauh lebih dalam. Lalu dan lalu yang terus aku pertanyakan. Akan jadi naif jika aku bilang tidak bahagia. Tapi hancur sudah lebih dulu datang.

Aku ingat, aku dan kamu adalah kisah lalu yang tidak mungkin lagi bisa saling mengulang. Benar, penyakit adalah jika masalalu datang menyapa tanpa dosa.
Aku, kamu, kalian mungkin sudah melaluinya, tapi untukku ini sungguh berat.
Kamu yang dulu datang menempuh puluhan kilometer, meyakinkan aku bahwa kali ini lelaki yang datang dengan niat memberikanmu jawaban atas doa, penantian dan penyembuh luka. Meyakini bahwa aku permpuan yang masih memiliki harap untuk bagaia setelah berjuang mencintai dan selalu ditinggalkan. Aku pikir aku sudah cukup belajar untuk selektif dan memahami sesorang yang akan datang sekedar singgah tapi sungguh atau datang untuk menjadikannya rumah.
Sebentar, rasanya aku masih belum siap melanjutkan ini. Rasanya masih sesak didada.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oceu dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kopikamupahit
lanjut gan...tunggu kelanjutanya
Iklasnya hati seringkali disalah arti
Tulusnya cinta tidak pernah engkau hargai
Berlalu pergi dengan kelukaan ini
Ku mengalah ku bersabar

berpaling muka bila saling bertatap mata
seolah kita tiada pernah saling mencinta
mencari sebab serta mencari alasan
supaya tercapai hasratmu

manis di bibir memutar kata
malah kau tuduh akulah segala penyebabnya siapa terlena pastinya terpana bujuknya rayunya suaranya
yang meminta simpati dan harapan

engkau pastinya tersenyum dengan pengunduran diriku
tetapi bagi diriku suatu ketenangan
andainya kita terus bersama, belum tentu kita bahagia
selama tidak kau rubah cara hidupmu
profile-picture
oceu memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh KS06
Quote:



Ada baiknya jika tidak saling bersama
Terasa jauh diriku ini dengan dosa
Lanjut ya Gan.. emoticon-Shakehand2
it has a good sense, wha! keep us updated
Quote:


bagai lyrics lagu tempo dulu..hehehe
profile-picture
.abi memberi reputasi
emoticon-Nyepi Menarik sekali
Quote:


saya banget ini lagu wajib diputer..memory
ya mundur hubungan, ya mundur kerjaan
emoticon-Hammer2
profile-picture
bang.dot memberi reputasi
Quote:

spertinya ada chemistry dgn lagu ini
dulu atau sekrang~
Ijin gelar tikar gan emoticon-Salam Kenal
Quote:


paitt
pait
pait

hahahahhaa
Apa tiga huruf itu I M U emoticon-Bingung
sumpah suka banget sama anak senja emoticon-Smilie
Post ini telah dihapus oleh KS06
Quote:


Quote:



Mencari sebab, serta mencari alasaaaan
Supayaaa tercapai hasratmuuu
Quote:



Manis dibibir, memutar kata
Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya
Quote:


Siapa terlena pastinya terpukau
Pujukmu, rayumu, suaramu
Yang menagih simpati dan harapan

Part 2

Sudah tiga minggu, setelah pesan singkat itu. Pesan darimu, iya kamu. Yang semakin ku ikhlaskan, semakin ku sadarkan, semakin melekat erat di ingatan.
Berhari-hari aku coba memahami apa yang sedang terjadi disini. Sesak di dada menghantui saat jam dini hari sudah mulai menghantar tidur. Kembali aku buka folder lama tentangmu, tentang kita yang sengaja aku arsipkan dimedia. Sejujurnya ingin ku hapus kenangan itu, tapi hatiku masing ingin mengenangnya. Dan benar saja, aku kini mengenangnya. Kembali satu persatu kenangan kecil itu terulang dengan detailnya. Bagaimana dulu kita sangat bahagia, bagaimana dulu jarak antara kita tak membuat kita saling melupakan. Bagaimana manjanya aku dan cemburunya kamu saat orang lain melirikku. Ahh, kita pernah semesra itu. Sesak dada ini. Aku seperti terjebak dalam lubang yang sengaja ku gali sendiri.
Aku mencoba mengikhlaskan, aku sangat mencobanya. Anda saja sapamu tak datang, aku pasti baik-baik saja. Aku bisa memulai hidupku.
Lalu bagaimana dengan ini. Bukan enggan untuk memulai, tapi bagaimana yang dulu singgah belum sungguh-sungguh hilang.

Aku kembali membuka percakapan lama kita, dengan sengaja. Dengan hasrat ingin tau. Aku mempersilahkan hatiku terkoyak-koyak kembali. Demi hasratku, aku mencari puisi pertama yang kau tuliskan saat kita akan mengarungi jarak. Aku mengingat betul, tulisan itu adalah inginmu tentang aku. Yang sekarang sudah kulakukan saat kamu sudah beranjak jauh pergi.
Aku mencari cerita itu, kenangan itu, bahasa manis itu. Yang sekarang aku sesali. Aku terluka kembali.

Kadang memang seperti itu, saat hati terluka. Aku membuatnya semakin luka, supaya kebas. Mati rasa, lalu air mata berhamburan.

Aku berfikir, apakah ini cara yang tepat untuk membuatmu tak lagi mampir di ingatanku. Tak lagi menjadi alasanku untuk menikmati sesak didada.
Saat aku memutuskan untuk membuka kembali blokiran kontak berbincang kita, mungkin itu cara yang tepat aku mulai menerima. Bahwa lelaki yang aku harapkan bersanding menemani ku, kini harus cukup ku tatap lewat story sosial mediamu. Aku tau, aku sadar. Sejak saat itu, kamu hanya sekedar datang menyapa. Menyapa ku, mengingatkanku, bahwa hatimu telat berpemilik, kamu sudah bahagia. Lalu , apakah aku harus tampak jahat, membencimu saat ternyata kamu lebih bahagia saat tak bersamaku. Ada dinding hebat antara kita. Masalalu kita yang berakhir dengan tanda tanya besar. Aku ingin menyapamu, tapi aku takut khilafku menanyakan alasanmu meninggalkanku. Membiarkan aku dan kamu saling berkaca dalam story sosial media. Mungkin aku ragu dan takut untuk melihatnya. Sedangkan kamu mungkin melihatku seperti , ahh dia sudah baik-baik saja.

Benar, sudah tiga minggu. Selama itu, aku masih berdiam diri, memberi kode dalam storyku, untuk sekedar memancingmu melanjutkan percakapan sebelumnya. Tapi, kamu masih saja asik dengan duniamu. Dan aku dengan bodoh masih saja menunggu.

Aku ingat, kamu adalah seseorang yang selalu mengucapkan, "sesuatu yang rusak itu tidak untuk dibuang tapi untuk diperbaiki. Tapi aku tidak bisa mengulang lagi cerita lama untuk di mulai kembali".

Kata-kata itu seolah menamparku, menyadarkanku. Bahwa sapa hanya sapa. Dan tiga huruf untuk mujarab untuk membuatku tergoyah, mebuatku hancur. Anda kamu tau, malam ini ku lalui dengan memikirkan kesakitan-kesakitan kita.

Kalau kamu tak bahagia denganku, berbahagialah dengan wanita pilihanmu. Jangan menjadi sedih, karena aku yang lebih jauh sedih saat tau. Hidupmu lebih buruk saat meninggalkan aku.
Mungkin aku baik, atau mungkin aku bodoh.
Aku menunggu esok, akankan kamu memulai obrolan denganku, meski itu masih saja menyakitkan untukku. Aku masih dengan sadar menunggu, dalam keajaiban. Lelaki brengsek yang membuatku tau. Bahwa cinta datang saat kita sudah kehilangan.

Malam ini, ya malam ini. Tanpa ragu aku berkomentar tentang story sosial mediamu. Jariku enteng mengetiknya,
Apa iya ini akan jadi cerita yang lebih panjang lagi,
Kamu mulai mengetik balasan. Entah setan apa yang dengan enteng, membuat jari jemariku mengetik koment itu. Brengsek sekali rasanya. Aku menunggu apa responmu, wahai kamu yang tiga minggu membuatku mati kutu.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di