CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3ba04aaf7e9319e24ab503/dewi-ambarwati

Dewi Ambarwati

Dewi Ambarwati
Part 1

"Rakai Ambar! Lihat!" Suara Dwipa, bawahan sekaligus pengawalku yang gagah membuatku segera berlari ke arahnya. Telunjuknya mengarah pada sebuah perkampungan yang sudah habis dilalap api. Sisa bau gosong daging panggang membuat bulu kudukku berdiri.

"Periksa, Dwipa. Bawa dua prajurit bersamamu," perintahku sambil memicingkan mata menatap sekelebat kain merah yang terbang di udara dengan cepat.

"Lalu, Rakai?"

"Tak usah hiraukan aku. Periksalah. Jika sudah selesai tembakkan saja anak panahmu dan aku akan datang."

Dwipa mengangguk, dua prajurit dibawanya dan aku menunggu tanda mereka di antara rimbunan pohon jati besar dengan bunyi burung hantu yang memilukan.

Tidak lama, busur panah Dwipa melesatkan dua anak panah yang menancap di pohon jati belakangku.

Kenapa dia melesatkan dua anak panah?

"Celaka! Rakai! Mereka dibantai habis." Bunyi pesan pertama.

Namun, sebelum aku sempat membaca pesan yang kedua serangan anak panah yang banyak mulai memburuku. Aku mengeluarkan kipas mustika dan menarikan gelombang tenaga dalam bersamanya. Dengan sekali hempas anak panah yang menyerangku jatuh berceceran.

"Siapa kau!" Aku berteriak sambil mengambil langkah seribu mengejar pria berbaju lorek coklat dengan penutup muka bergambar harimau. Gerakan gesit seringan udara. Langkah kakinya yang cermat menandakan dia adalah ahli bela diri kelas tinggi. Satu serangan dari senjata rahasianya hampir saja mengenai tubuhku.

Sayang, senjata itu memang luput dariku tapi berhasil membuyarkan konsentrasiku. Lelaki itu menghilang diantara celah jurang yang tinggi dan dalam. Suara desah napasku pun menggaung di antaranya.

Sial. Aku kehilangan jejak. Kemudian kubuka pesan kedua yang terselip dari anak panah Dwipa.

"Lari. Rakai. Jebakan!"

Aku segera bergegas kembali ke lokasi awal, kemudian terus berlari menuju perkampungan yang tadi terbakar. Nyawa Dwipa terancam bahaya.

***

Perkampungan di depanku sudah habis terbakar api. Tiang-tiang yang kokoh sebelumnya telah terhapus menjadi puing-puing tak berarti. Asap dan bekas pertarungan tertinggal di sana. Bau daging gosong menusuk hidungku. Hingga kulihat sosok itu, berpakaian warna merah bata dengan tali pengikat kepala dengan simbol kerajaan Loyala di kepalanya.

Dwipa. Batinku memanggil.

"Dwipa!"

Aku segera terbang di antara banyaknya korban pembantaian dan mendapati tubuh itu telah tak bernyawa. Wajah Dwipa hancur tersayat. Satu tangannya terkepal.

"Dwipa! Bangun! Kau sudah berjanji kepada Sahiya. Dwipa! Dwipa!"

Kenapa semua ini harus terjadi sekarang, saat seharusnya Sahiya, teman terbaikku menikah dan mendapatkan kebahagiaannya?

Apa yang akan kukatakan kepada Sahiya. Dewi cantik putra kerabat raja itu haruskah bersedih untuk kedua kalinya? Lalu kedua prajuritku yang tadi bersama Dwipa memanggilku dari belakang.

Wajahnya penuh darah, tubuhnya penuh luka.

"Rakai. Kami diserang. Prajurit satu kehilangan lengan," katanya melirik satu temannya yang menahan derita lukanya.

"Segera kembali ke kadipaten. Temui Raden Rahayu dan mintalah pengobatan."

"Baik, Rakai. Lalu Rakai?"

"Aku masih ada urusan," jawabku singkat.

"Bantu aku menguburkan Raden Dwipa. Dan kabarkan kematiannya kepada Romo Adiwilarang dan Den ayu Sahiya. Bawalah ini bersama kalian." Aku melepas ikatan kepala Dwipa dan menyerahkannya kepada dua prajuritku tadi.

Mereka mengangguk dengan wajah penuh kesedihan. Kesederhanaan Dwipa adalah cermin teladan seorang ksatria yang sangat welas asih kepada prajurit bawahannya. Dia, juga seorang sahabat yang baik, bawahan yang selalu bisa mengingatkan kesalahanku.

"Satu lagi ...."

Aku membisikkan sesuatu kepada mereka. Mereka mengangguk dan segera pergi setelah pemakaman Dwipa.

Tepat saat ingatanku melamunkan bayangan kesedihan penduduk kadipaten, seorang anak menangis nyaring di belakangku.

"Kakak ... Kakak ...." ucapnya parau. Tubuhnya menggigil. Wajah lucunya pucat menahan sakit dan dia ambruk di dekatku. Melihat mata sipitnya yang tidak selebar orang Jawa sepertinya dia bukan warga sini. Dia juga tadi memanggilku apa? Bukan bahasa sini. Saat kubuka pakaian robek di dadanya, bekas ajian tapak besi gunung Jonggring menembus ulu hatinya.

Aku menggumamkan satu nama. Raka Damar? Hanya dia satu-satunya pewaris ajian sakti yang sudah punah ini. Mungkinkah?

Namun, dia tak mungkin sejahat itu.

Bersambung ....

Ada yang suka silat atau beladiri? Stay tune di sini 😘🥰

Catatan :

Rakai : Nama gelar seorang penguasa wilayah
Kakak : panggilan untuk saudara yang lebih tua bangsa Champa
Raka : Sebutan untuk saudara yang lebih tua di era Majapahit
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 17 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mambaulathiyah
Halaman 1 dari 3
ipin yuuk
profile-picture
profile-picture
Kup4s dan carter007 memberi reputasi
lanjut
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
💘💘💘💘💖💖💖💖
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Lanjut
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Lanjut om
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
hihihi bukan om aku tuh 😁
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Dewi lanjutin atuuuhh
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
aasssiiiaapp
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
namakuuu
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
wah, iya kah? hehehe
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Dewi_Ambarwati
Part 2

"Kau yakin ini pukulan tapak besi Gunung Junggring?" tanya Ki Bagaspati, tabib pengobatan rahasia kelompok bawah ringin. Sebuah kelompok pembela raja yang tersembunyi.

"Ki Bagaspati apa tak pernah melihatnya?"

Ki Bagas menggeleng. Mulutnya merapal sesuatu.

"Nyi Nandanwati tidak pernah bercerita kalau ajian sakti Ki Amangku sedahsyat ini. Lagipula Raka-mu adalah murid terakhirnya, kan? dan ... Dia sudah tenang di alam sana." Ki Bagaspati menunjuk ke arah atas sambil menggaruk kepalanya. Aku pun sama herannya. Tak mungkin yang mati kembali hidup.

"Lalu, bagaimana Ki?"

Ki Bagaspati mengolah ramuan daun binahong dicampur tiga tangkai daun putri malu.

"Sementara akan kuolesi dengan ramuan ini. Binahong dan putri malu efektif mengatasi luka dan perdarahan."

Tangannya bergerak perlahan ke arah dada anak itu. Kesakitan tergambar jelas di wajah anak kecil itu. Hidung kecilnya mencari celah untuk bernafas.

"Rakai."

"Hemm."

"Istirahatlah. Kau sudah memberikan tenaga dalammu kepada anak ini. Lihatlah, cakra penyembuhanmu menyatu di sana." Ki Bagaspati mengingatkanku. Sementara aku hanya bisa mengambil nafas dalam.

Sebenarnya, apa yang terjadi? Sejak kapan ada manusia lain selain bangsa kami di kadipaten ini? Kenapa aku, sebagai seorang Rakai tapi tidak tahu menahu?

Kemudian, kenapa mereka dilukai oleh ajian dari dunia persilatan?

"Rakai!" Panggilan Ki Bagas mengagetkanku.

"Seseorang yang kau tunggu sudah datang. Baunya terbawa angin hingga ke sini," lanjutnya. Tabib Ki Bagaspati memang terkenal dengan aji pangarumnya. Mengenali sesuatu dengan indera penciumannya. Aku mengangguk lalu berjalan ke luar.

****

"Rakai Ambar." Gundul Kemukus memberi hormat ke arahku. Anggukan kepalaku disambutnya dengan senyuman khas. Dua gigi tersisa di mulutnya dan kepala plontos tanpa rambut. Tapi, satu orang lagi di sisinya menggelitik rasa penasaranku.

"Ah, kenalkan Rakai. Dia Gendhuk Sasmi Sulistyana. Penjaga pintu lembah Malam. Makam Raka dari Rakai Ambarwati."

Mata bulat Genduk Sulis menatapku. Tepat dalam bola matanya tergambar tabir terselubung makam Raka yang mulai sobek.

Bersambung .....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 3 lainnya memberi reputasi
lanjut
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
lanjut sis
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
assiiiaapp 😍
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
mulai membuat tenda dimari soalnya musim hujan..
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
hmhhh.. sepertinya saya menemukan jejak Baru.. terimakasih kisanak
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
assiiap kisanak 🏋️🏋️
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
ane demen cerita silat...lanjutttkeun kisanak
Lanjooot gan
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di