CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / B-Log Personal /
Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3b90e7365c4f074372b345/diary-tentang-cita-dan-cinta-aisyah-hasibuan-si-humairah

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Diary Kisah Kasih, Benci Cinta Aisyah


Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah


Hidup adalah tentang bagaimana kita memaknai sabar, syukur dalam tiap nafas yang kita hirup dan buang perlahan. Tentang hitam dan putih. Pahit dan manis. Juga benci dan cinta.

Assalamualaikum wr wb ....
Hai ... Salam kenal semuanya, kenalin nama aku, Airah Hasibuan. Kelahiran Medan Sumatera Utara, 03 April 1988.
Anak ke - 2 dari 5 bersaudara. Di thread ini aku akan bercerita panjang lebar tentang hidupku. Sebagai kenangan kelak di hari tua. Ceilee.
emoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2



Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah



Awal mengenal kaskus udah lama sih, dari sahabat yang juga Kaskuser. Namanya Yoona. Entah masih di sini atau nggak, aku nggak tau. Id-nya lupa sih, akun fb-nya masih ada. Tapi gengsi mau nanya. Emm, soalnya sempat ada sedikit gesekan, gegara seorang lelaki.
emoticon-Malumalu

Dari grup Bbb yang Ownernya si Mas Gondrong, aku mengenal Kaskus lagi. Berharap bisa ketemu dengan Yoona di Kaskus . Tapi masih belum juga, emm Alhamdulillah bertemu banyak teman yang baik, kocak dan menyenangkan. Luar biasa.

Dalam grup itu, aku banyak menemukan ilmu. Ilmu literasi, bisnis, sampai cara baperin, gajein dan sakit hati-in orang
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Banyak positif dan negatif-nya. Banyak teman seperjuangan berbagi kisah dan kasih. Aku sudah sangat lama mengenal grup itu, sejak di akun lama dulu. Yang sekarang udah menghilang ditelan bumi. Gegara kena banned, dilaporin katanya penuh ujaran kebencian. Biasalah soal politik. emoticon-Malu

Buat akun lagi, diundang lagi, masuk lagi. Tapi nggak tertarik kerana isinya pada ngawur. Itu menurutku dulunya,
emoticon-Ngakak

Buat akun lagi entah ke berapa kalinya, eh diundang lagi, nggak tau kok si Mas itu ngundang terus, ya. Mungkin die undang semua akun yang berkaitan dengan literasi. Tapi lucunya di akun sekarang yang namanya Airah itu, awalnya banyak yang nggak tahu kalau itu kloningannya si Aisyah. Nggak terkenal amat sih si Aisyah ini. Hanya saja aku mengenal mereka sebagian, nggak semuanya. Dan ternyata Grup Bbb ini hebat
emoticon-Kissemoticon-Kiss

Mungkin itu dulu salam sapa dari aku. Selamat datang di duniaku. Dunia penuh sandiwara kehidupan, pahit manis, hitam putih menyatu jadi satu.

Di sini aku akan isi diary tentang kehidupan mulai dari lahir sampai jadi sekarang. Pasti akan sangat panjang, bagi yang tertarik, bolehlah asyik-asyik di sini yuaa. Hehe.
emoticon-Pelukemoticon-Peluk

Awalnya aku nggak mau berbagi curhatan di sini, tapi akhir-akhir ini rasanya butuh pelampiasan buat menuangkan resah gelisah yang aku rasakan. Biar plong dan lepas beban di hati. emoticon-Mewekemoticon-Mewek

Sekian Thread dari Jeng Ane.


Belajar Bersama Bisa dan Terima Kasih



Sumber : Opri
Pict : Pixabay
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci
Halaman 1 dari 8

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Masa Kanak-kanak


Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah



Bidan Asyiah berhasil mengeluarkanku dari ruangan gelap, rahim ibu. Dari cerita ibu, namaku diambil dari nama bidan tersebut. Hanya saja, sedikit dibuat berbeda. Tak lama ibu hamil, dan melahirkan adik lelaki yang sangat tampan. Hanya setahun jarak kami berdua. Bisa dibayangkan bukan? Repotnya ibu mengurus kami. Aku terpaksa berhenti ASI. Kata ibu sejak kecil tubuhku rentan sakit-sakitan. Dan aku dikenal dengan panggilan "Isabelak" kerana suka pub di celana sampai usia dua tahunemoticon-Ngakakemoticon-Malu

Kecilnya aku senang main pasir, tak jarang berakhir dengan memakannya. Alhasil sang ibu berteriak setelah mengetahui anaknya asyik menikmati pasiremoticon-Ngakak kalian pernah nggak sih?

Adik lelaki yang masih bayi. Selalu terancam jiwanya kerana kakaknya yang jahil ini. Selalu jantungan seisi rumah kerana kelakuanku. Menimpah adik, menekan perutnya. Macam sajalah kelakuan yang berujung bahaya. Mungkin itu bentuk sikap mencari perhatian, ya. Mengingat jarak kami berdua yang dekat dan aku sering diabaikan. emoticon-Mewekemoticon-Mewek

Kakak yang sudah kelas tiga SD, sering membawa kami berjalan ke mall. Ayah yang dulunya masih guru agama, masih belum puas memberikan yang terbaik buat kami. Sedikit demi sedikit kami mengumpulkan uang jajan agar bisa ke mall di akhir pekan. Kalau diingat-ingat kami nekat juga, ya. Dan kenapa ortu ngizinin, padahal kami masih sangat kecil. emoticon-Bingung

Tak lama akupun masuk sekolah SD. Selalu mendapatkan juara kelas. Alhamdulillah. emoticon-Malu

Masih teringat jelas dua kali dilibas pakai lidi kerana nggak hapal nama-nama Nabi. Sakitnya ya ampun, mana ayah sendiri yang melibasnya. emoticon-Mewek

Sebenarnya aku hapal, hanya saja sudah berjanji dengan teman-teman untuk kompak berdiri di kelas, mengaku tidak hapal. Sesampai di rumah pulang sekolah, ayah bertanya lagi. Hapal kok 100%. Hihihi. Setia kawan itu kadang malah bawa ke jurang yaemoticon-Peluk maklum masih polos.

Kedua kali dilibas betis pakai centong nasi yang kayuemoticon-Malu gegara nggak mau masuk kelas buat lomba baca surah pendek. emoticon-Ngakakemoticon-Hammer2

Ayah beneran marah besar, melirik centong di samping jualan ibu, refleks deh betis aku jadi santapan. Hiks. Ujung-ujungnya tetap juara satuemoticon-Ngakak

Aku tuh pemalu dan cingeng. Pendiam juga, di fb aja keliatan heboh, aselinya sulit bicaraemoticon-Malu

Hari kelahiranku sama dengan ayah. Kerana keadaan yang sederhana, kami merayakan Milad dengan bubur nasi, alias bubur merah putih. Tau nggak?
emoticon-Mewekemoticon-Malu

Hadiahnya tetap ada, baju kaos dan hotpan. Aku nggak suka baju kembang bunga-bunga. Gelik aja memakainya. Itu dulu tapi, ya. emoticon-Ngakak

Terkadang kami merayakan dengan memakan jajanan dari jualanan ibu. Tiap gajian ayah membeli roti untuk disantap dengan kopi susu atau pokat kocok buatan ayah. Emm sederhana tapi bahagia.

Makan nasi goreng blue band bagi kami adalah kenikmatan luat biasa kala itu. Tangan ibu emang penuh misteri. Makanan biasa diolah jadi sangat nikmat. emoticon-Jempol

Hal paling lucu saat aku membawa satu kantong kresek uang receh ibu.
Jelas ibu kecarian dan bingung. Dan mengejarku ke ngaji siang (MDA) menanyakan ada atau tidak uang itu padaku. emoticon-Ngakak bukan niat ingin memakainya, tapi niatnya pamer. Biasalah anak-anakemoticon-Malu

Semasa kecil aku udah nikah, emoticon-Bingung
Hu'um. Main nikah-nikahan. Nama suamiku kala itu Alfhat Azhari. Dan dia orang yang mencium pipiku pertama kali sebelum suami aseliku. Hiks.
Orangnya ganteng, kulitnya putih dan selalu jadi pelindungku. Saat para emak rempong menggangguku dengan sebutan Isabelak. Dia yang menjawab mereka dengan marahemoticon-Malu tiap miladnya hanya aku yang diundang. Istimewa, yaaemoticon-Kissemoticon-Kiss

Deuh masih panjang sebenarnya, entar malah bosan. Next ya aku lanjutin.

Terima kasihemoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Masa Kecilku

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah


Hobbiku manjat pohon. Pohon apa saja, pohon cokelat, seri, dan jambu kelutuk. Permainan yang paling disenangi bola kasti. Mengingat ini, ada hal paling kocak tapi menyedihkan
emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek

Aku berkali-kali digigit anjing. Hiks. Saat itu bola kasti kami dilarikan anjing tetangga, kami mengejarnya sampai rumah pemiliknya. Namanya juga masih anak-anak, nggak paham halal haram, ya.emoticon-Ngakak

Nah. Teman-teman pada nggak berani, berdua dengan Bia, adiknya Alfhad. Aku beranikan diri mengambil bola. Anjingnya menggonggong, brayemoticon-Takut
Gunggung sekali. Masih aman. Gunggung kedua kali katanya jongkok biar nggak dikejaremoticon-Ngakak

Yaelah, si Bia lari kenceng, aku masih jongkok di balik becak. Anjing memanggil kawanannya. emoticon-Takut
Aku tersudut. Teman-teman menyuruhku berlari. Akupun berlari sekencang mungkin. Dan ... emoticon-Mewek

Anjing ketiganya sekaligus menggigit bokongkuemoticon-Mewekemoticon-Mewek

Sakit? Ya iyalah!!! Sehabis disamak ayah, aku hanya bisa terbaring lemah dengan posisi tengkurap. Suara riuh teman di luar yang sedang bermain, sungguh menyiksaku. Alhamdulillah Alfhad selalu setia hadir menemaniku. Hihiemoticon-Peluk

Tak sampai di situ, aku digigit lagi, tapi di betis, gegara minta inai sama tetangga yang batak. Ya Allah. Mengingat itu sedih rasanya. emoticon-Mewek

Indah ya masa kecik, main alif brondok, pecah piring, dan masak-masakan. Paling seneng main sepeda. Balapan, syaratnya bonceng teman harus. Wuiih aku selalu juara pastinya. emoticon-Malu

Rumah kami selalu dijadikan tempat tadarusan sehabis shubuh ba'da sahur bulan Ramadhan. Saat rumah kami dirubuhkan dinding tengahnya, kami berterik ramai. "kami orang kaya" emoticon-Ngakak kerana rumah jadi luas dan lebar. Tak lupa memberi tau ke teman-teman kami jadi orang kaya
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Setahun sebelum lulus SD, ayah menawarkan kami untuk pindah ke desa. Kampung halaman ayah, kerana mau jaga nenek yang tinggal sendirian. Berhubung hanya ayah yang bisa pindah tugas. Awalnya ibu sangat tidak setuju. Ayah mengambil hati kami dengan memberikan uang 20rb per orang dan menjanjikan mandi sungai setiap harinya. Automatis setuju lah. Ibu kesal tapi menerima pasrah.

Kami berdua yang dahulu pindah. Aku dan adik lelakiku. Kerana itulah kami sangat dekat, selalu bersama. Sedih rasanya, nenek memberi kami makan dengan sayur daun labu. emoticon-Mewek

Piring pun tidak dicuci bersih, hanya dialiri air saja, kucek-kucek gitu. emoticon-Takut

Tapi uang jajan banyakemoticon-Ngakak 50rb perharinya. Ha haha ha. Tetap saja, di desaku kala itu nggak ada jajanan yang enak. Kami hanya membeli limun saja. Minuman bersoda selalu. Hanya itu. Selalu menangis berdua merindukan keluarga yang masih di Medan. Hiks.

Bayangkan, tinggal di desa dengan nenek yang tak paham bahasa Indonesia. Tetangga yang berbicara seperti orang marah. Jantungan lah.

Bagaimana kisahku lanjut di SD kelas 6 di desa? Dan dekat dengan sahabat yang menjadi ayah dari anakku? Emm tunggu kisah selanjutnya yaa

emoticon-Pelukemoticon-Pelukemoticon-Peluk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Perkenalan

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah


Pindah ke desa, aku termasuk orang yang sangat tertutup. Memiliki tubuh yang tinggi dan kurus. Sering diejek kutilang. Hanya satu lelaki yang kusambut baik. Yaitu Fadhlan Husein Harahap. Teman bermain sedari kecil. Surat cinta dan beberapa coretan di meja kelas, membuatku risih dan terpaksa pagi buta sudah ke sekolah buat hapus tulisan di papan tulis. Ucapan kata-kata cinta. Sungguh memalukan kalau ada yang melihatnya.

Kegiatan di desa lumayan menyenangkan. Masak dodol beramai-ramai juga asyik. Muda mudi pada ngumpul saling bantu. Bulan Ramadhan memang selalu dinantikan. Saatnya jomblo beraksi. Aku masih kecil saat itu. Masih kelas 6 SD. Tapi sudah banyak lelaki yang mendekati. Bukan kerana aku cantik, tapi kerana pindahan dari kota. Itu menjadi hal heboh di desa. Menjadi bunga desa. Maklum lah. Gadis di sana kulitnya hitam terbakar panas saat bersawah dan mencari kayu bakar.


Quote:



Aku pun mulai beranjak remaja. Hobiku memanjat pohon rambutan sambil memakan buahnya, lalu melempari orang yang lewat. Malam hari tidak akan kelihatan, hanya saja selalu terkena jebakan batman. Tahi ayam
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Manjat genteng aku juga hobi. Sambil mengambil diam-diam simpanan roti milik nenekemoticon-Ngakak

Akupun mulai ikut mengambil kayu bakar, memasak di tungku, mencuci baju di sungai. Padahal masih SD lho. Begitulah di desa. Segalanya kita menjadi bisa.


Quote:


Sekian dulu, ya. Mau tau apa cerita selanjutnya dari aku? Pengalaman di ma'had. Yup. Aku menyambung sekolah ke Pondok Pesantren. Dan termasuk santri beprestasi lho. Sebagai penggalang Pramuka, Silat, dan Jago bahasa arab. Banyak deh. Jangan lupa singgah lagi, ya. emoticon-Pelukemoticon-Peluk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Masa-masa Tsanawiyah

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah


Aku sangat ingat kebaikan Husein dulunya. Nyaris sempurna. Tampan mirip Fahri Albar, kulitnya putih, bola mata cokelat. Emm. Sungguh memesona.

Setelah aku masuk pesantren, komunikasi kami putus, selama enam tahun lamanya. Memasuki sekolah di pesantren. Banyak kisah kasihku di sana. Tiga bulan tak boleh dikunjungi keluarga. Belum lagi keangkeran asrama yang bikin hidup kelojotan. Hiks.

Awal masuk asrama, tak seperti yang aku bayangkan. Berpisah dari keluarga tercinta sungguh menyakitkan. emoticon-Mewek

Masuk asrama, masih hari pertama udah disambut dengan tangisan anak bayi aborsi. emoticon-Takut belum lagi wc tujuh kamar yang terbengkalai. emoticon-Mewekemoticon-Mewek

Rasanya ingin berlari, sesak, segala rasa campur aduk. Keinginan kuat jadi santri sungguh tak seindah yang dibayangkan. emoticon-Mewekemoticon-Mewek

Belum lagi menghadapi teman yang kerasukan. Dan aku terpilih menjadi sesi ibadah, yang siap sedia membantu teman yang kesurupan. Ya Allah. Rasanya tuh jantung ingin berhenti seketika. Bakalan panjang nih, ane stop dulu yaa.

Masih lanjut. Bakal ada kisah horor di luar logika, mayat dalam karung, langkah raksasa, dan lainnya. Aku pernah cerita di Grup Menulis dulu sampai ribuan like. Tapi menulis lagi malah sepiemoticon-Ngakak udah banyak sih, ya. Penulis keren dan hebat. Aku udah kalah jauh.

Jadi malam itu kami ber-6 dengan teman mendengar suara tangis bayi yang begitu pilu. Siangnya kalak OPP) Organisasi Pondok Pesantren) udah kasih tau sih, bakalan ada sambutan buat anak baru. Jadi jangan terkejut katanya.

Bayi itu dulunya hasil aborsi salah satu santri puteri. Akhirnya wc tujuh kamar menjadi tak dipakai kerana santri takut menggunakannya. Padahal masih sangat bagus, sayang sekali.

Di samping wc ada tangga menuju aula. Dan sebrangnya sumur tua yang sangat lebar, luar biasa lebarnya. Tapi airnya sedikit sekali, itupun ada di antara celah bebatuan di dalam sumur. Nah, aku pernah ketinggalan buku tajwid sehabis shalat maghrib pulang ke asrama untuk menjemput buku. Tak disangka, ada bayangan putih seperti wanita mengendap di antara celah lemari. Kala itu berdua dengan teman, kami sontak saja kaget tak terkira. Ambil ancang-ancang lari langkah seribu. emoticon-Ngakak

Di lain waktu, aku berpapasan di tangga, dekat sumur ada tubuh gempal dengan tubuh berwarna hijau. Hanya setengah badan!! Bayangkan, setengah badan mengawang di udara dengan posisi terbalik pulaemoticon-Takut. Sekarang aku berpikir apakah itu yang dinamakan buto ijo??

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Lanjutan Kisah Ma'had


Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Mayat Dalam Karung

Pernah nggak sih kelian berpikir kalau kasus pembunuhan diungkap melalui dunia lain. Yup! Itu terjadi di Pesantren aku, Gaes. Sore itu Yuni kerasukan jin perempuan yang sangat mentel. Biacaranya mendayu dan bikin gemas! Nah, si jin awalnya cari masalah, kami memberikan pelajaran dengan memukul pelan kaki Yuni dengan sapu lidi. Sepertinya gak masuk akal kan, Gaes. Tapi berhasil lho. Jin dalam tubuh Yuni ampun-ampun. Tak lama menangis. Die bercerita kalau dirinya terjebak di urat pohon beringin dasar sungai. Tepat di seberang dapur umum pesantren. emoticon-Takutemoticon-Takut

Akhirnya kami memanggil Ustadz. Jin bercerita kalau dirinya dibunuh oleh mantan calon suaminya. emoticon-Hammer2

Ustadz pun memutuskan untuk ke TKP. Yakni rumah orangtua si Jin (perantara). Benar adanya, tenda masih di sana. Segalanya masih seperti ingin pesta. Hanya saja ramai dengan tangisan. Kami perlahan masuk rumah. Tampak seorang Bapak berdiri menyambut kami.

Dengan hati-hati ustadz bertanya ada apa, lalu si Bapak bercerita anak perempuannya yang akan menikah menghilang dari dalam kamar. Dan ditemukan cincin dengan sepotong jari yang penuh darah. Di sampingnya tampak pria (calon pengantin) bersedih memegang cincin tersebut.

Ternyata benar adanya, ya ampun.

emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut

Nanti ane lanjut di Kumpulan Kisah di Pesantren yaemoticon-Peluk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Cinta Terlarang

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah


Saat SD.

Namanya Faridah Ulfa. Kata Ayah, dirinya mirip artis lawak Omas. emoticon-Ngakak

Teman baikku di sekolah dan Ngaji siang (MDA). Orangnya baik, tomboy dan keren. Nggak suka becanda dan tertawa. Terlalu serius.

Kami sangat dekat. Sangat begitu dekat. Selalu menjagaku dalam keadaan apa pun. Menolongku saat terjatuh ke jurang paling dalam. Ceile. Ada perasaan nyaman saat bersamanya. Kerana kebaikan yang dia miliki. Emm. Mungkin kalau dipikirin, dikaitkan dengan jaman sekarang semacam cinta sahabat ya. emoticon-Peluk


Tsanawiyah

Aku termasuk anak yang paling cengeng di asrama. Bayangkan, suda kelas tiga pun masih terus menangis melihat orangtua teman seasrama yang berkunjung. emoticon-Ngakak

Masih merindukan keluarga. Pernah aku nangis di telpon. Kakak menelepon dari wartel. Dulu belum banyak yang pakai hp. emoticon-Malu

Saat itu acara muhadharah. Namaku dipanggil kerana ada terima telpon. Belum ucap salam, aku sudah nangis bawangemoticon-Ngakak

Teman-teman sangat baik padaku. Beberapa kali pingsan dan mendapati diri sudah di tempat tidur adalah hal biasa. Dulunya aku sangat kurus kering. Sakit-sakitan. Sampai lemari bauk obat. emoticon-Malu

Namanya Ridang. Teman-teman sebagian merasa risih di dekatnya kerana suka peluk peluk. emoticon-Ngakak

Aku yang biasa dipeluk sama Emak, ya merasa biasa aja. Buktinya die pacaran sama kakak kelas. emoticon-Ngakak

Ada lagi namanya Lia. Adik kelas yang sangat lucu. Tiap papasan denganku selalu senyum manis mengembang. emoticon-Ngakak aku milad dianya kasih hadiah banyak dan macam-macam. Anehnya lemarinya dan buku pelajaran dipenuhi dengan kata-kata "Aku mencintai Kak Aisyah" automatis aku marah lah. Apaan cuba? Aku jahat juga. Sukak nitip nasi sampai lima piring dan seceret teh manis. Kalau dianya ke dapur umum. Pernah dianya sakit, sepupunya yang sekelas denganku meminta untuk menjenguknya. Kesian juga melihatnya. Anaknya aneh. Kalau di kamar mandi malu melihatku. Nggak jadi mandi pastinya. Seperti melihat lawan jenis sajaemoticon-Ngakak


MAN

Aku mencintaimu karena Allah

Ya! Kalimat itulah yang kau suguhkan padaku. Untuk membuat aku selalu percaya padamu. Menarik perhatian dan menjadikan kita bagai kakak adik angkat yang saling cinta karena Allah.

Yeni Ika S, sebuah nama indah dengan wajah rupawan si pemilik nama. Bola matamu cokelat dengan mata yang besar dan kelopak yang indah. Hidungmu mancung, bibirmu seksi dengan deretan gigimu yang tampak, saat tertawa manis.

Aku begitu manja di antara perempuan yang berusia jauh di atasku. Salah satunya kamu. Duduk di bangku Aliyah dan kalian anak kuliahan. Siapa saja yang menggangguku, yang lain akan bertindak melindungi. Kau mulai jahil, jelas saja kakak lainnya menyerangmu beramai-ramai.

Kau ulurkan tangan sebagai jabat perkenalan. Itu awal dari sebuah kisah yang tidak masuk akal.

Pagi siang sore. Tak bosannya kau menelpon, hanya sekedar mengucap "Aku mencintaimu karena Allah"

Kebiasaan kita sesama muslimah, saling cupika cupiki. Caramu begitu bernafsu, Kak. Hingga meninggalkan basah di pipi. Semestinya tidak begitu.

Hari kedua pertemuan SMS. Seni Muslimah Sastra di kampus USU. Kau menggelitik tapak kakiku dengan jempol kakimu. "Kakak kecewa, Dik" ujarmu. Tidak memujimu yang perdana memakai rok, ketika di gerbang kampus. Kau berikan jilbab putih tanpa jahitan pinggiran. Hadiah untukku yang ketepatan milad ke 17th.

Lucu mengingatmu memperebutkanku dengan kakakku. Hanya untuk berbagi makan berdua sebungkus nasi Padang. Akhirnya Kak Tina dengan Kak Hasnah. Hahaha.

Aku jatuh sakit sepulang aksi Palestine. Kita menginap bersama di kosan Kak Titin. Kau cemburu, pinggiran jilbab itu dijahitkan pekerja konveksi di rumah Kak Hasnah. Begitu besar cemburumu padanya. "Adik sama dia aja lah. Punya motor, bla bla. Aneh. Itu yang terpikir olehku.

Masuk ke kamar, aku rebahan. Yang lain pada masak. Lalu, dirimu menangis dengan cucuran air mata yang begitu deras tanpa suara.

Selama ini kumencari-cari teman yang sejati, buat menemani perjuangan suci
Bersyukur kini padamu Ilahi ....

Lagu itu yang membuatmu menangis. Sampai akhirnya kau mengecup pipiku πŸ˜… tengah malam kau gelisah dan membangunkanku. Meminta aku menghadap tidur ke arahmu. Aku menurut tapi tetap tak cukup bagimu. "Peluk, Dik" ucapmu. Mendadak hilang rasa kantuk. Melirik jam menunjukkan pukul dua dinihari.

Bangkit dengan alasan ingin tahajjud. Aku berlama di sajadah. Kau menjadi menakutkan. Sikapmu semakin aneh. Mengirimi surat yang pantasnya seorang kekasih pada pujaan hatinya. Memaksaku menerima uang. Menggenggam erat tangan di keramaian hingga membuat semua mata risih.

Hingga tersebar fitnah "Aku LagiBete" 😱😱😱 jelas saja kakakku marah "Aku kenal lah siapa adikku, Has. Dia nggak mungkin seperti itu."
Liqo dibubarkan ganti murabbi. Untuk mencari tau siapa yang salah. Terbukti dirimu, Kak. Teganya menuduh keji aku seperti itu. Murabbi merasa dikuntit sepanjang waktu oleh perhatianmu yang berlebihan. Sampai suaminya merasa curiga.

Dua tahun setelah kejadian itu, kita bertemu kembali di acara konser nasyid. Canggung, itu yang kita rasa.

Lima tahun berlalu. Aku mendapat kabarmu sudah menikah. Tampak tubuhmu berbalut kain hitam yang panjang. Niqab begitu manis melekat di wajahmu. Hidayah itu menjemputmu. Alhamdulillah.

Tapi aku bukan LagiBete ya. Mereka aja yang senang denganku. Dan naksir. emoticon-Ngakak nggak tau sih menganggap apa mereka. Berlebihan menurutku perhatian mereka.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Masa-masa SMA

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Masa-masa Kuliah


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Jelajah Alam

Quote:





Quote:




Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Kumpulan Kisah di Pesantren

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Ada Apa di Pesantren (1)

Mondok dan bersekolah di Pesantren suatu keinginan terbesar yang menjadi impianku. Dua bulan lagi selesai Ujian Nasional, niat masuk pesantren begitu menggebu rasanya.

Tiba lah saat itu, nyatanya berpisah dari orangtua sangatlah berat. Aku tak akan pernah lupa kenangan itu, begitu juga Ibu. Selalu terulang ingatan ini dan diceritakan kembali tiap bercengkrama ngumpul keluarga. Satu malam. Ya, Ibu menginap hanya semalam saat mengantarku ke asrama. Esok paginya, aku mengantarkan Ibu ke gerbang sekolah mendapatkan bus, balik ke rumah di kampung. Bus yang membawa Ibu kutatap nanar sampai hanya terlihat seperti titik di kejauhan. Aku menangis bejalan kembali ke asrama. Ternyata, Ibu pun sama, merasakan kesedihan teramat berat meninggalkan puterinya.

***

Seminggu di asrama, beberapa teman mulai kukenal dan merasa akrab. Tapi tetap saja, tiap ingat rumah, sulit menahan desakan bening yang makin penuh ingin keluar. Aku menangis lagi, rindu rumah.

"Ai, sarapan yuk?" suara Ade mengejutkanku yang bermalasan di kasur. Hari Minggu sedikit santai, sore hari saja penuh aktivitas.

"Aku nggak makan, De," jawabku berusaha menutupi mata yang sembab.

"Ayolah, jangan mewek lagi," serunya sambil menarik kedua tanganku yang menghapus sisa air mata. "Cengeng," lanjutnya lalu menertawaiku. Kami tertawa bersama. Ade seorang teman yang paling peduli, baik hati dan penyayang. Selalu rela berjamur menemaniku yang betah nongkrong di perpustakaan.

"Ntar ya, aku ngumpulin baju kotor dulu," Aku berjalan dan memunguti baju yang berserakan di sudut lemari.

"Gimana kalau aku saja, yang mencuci dan menyetrika bajumu, Ai." Gerakanku terhenti, "Maksudmu?" tanyaku bingung.

"Iya, biar aku saja, daripada uangnya dibayar upah, mending digunakan untuk keperluan yang lain," jelasnya.

"Jangan membuatku nggak enak hati, De."

"Uangnya sedekahkan, Ai. Kampung sebelah pesantren kita, ada anak kecil dengan dua adiknya yang masih balita. Mereka yatim piatu, tinggal bersama nenek yang sudah sangat renta. Kasihan dan memprihatinkan, Ai." Ade menjelaskan alasannya membantuku, ternyata ada hal yang mulia dibaliknya. 'Sekian kali lagi, aku mengagumimu, De' batinku.

"Baiklah, tapi ajari aku ya, cara mengeksekusi baju-baju ini. Mulai dari mencuci dan menyetrikanya." Aku setuju dan mau belajar mandiri. Usiaku dua belas tahun, sedangkan Ade setahun lebih tua. Memasak, mengambil kayu bakar, menanam bunga, sayur dan padi. Aku bisa dan nggak perlu diragukan, hal seperti itu biasa dilakukan anak seusiaku di kampung. Tapi mencuci apalagi menyetrika pakai setrika arang (manual) aku menyerah. Bara arang satu saja, nggak pernah berhasil kuambil dari bawah tungku dapur umum. Temanku, Ade, memang luar biasa.

"Ok," balasnya penuh semangat.

Kami berjalan ke dapur umum melewati lapangan football, sesekali bercanda sembari melirik ke asrama putera. Maklumlah, masa puber.

***

Tok tok tok

"Assalamu'alaikum." Kakak OPP sesi ibadah mengunjungi asrama kami, asrama dua.

"Wa'alaikum," jawab kami ramai.

Kakak OPP masuk dan duduk, "Maaf ya, Kakak minta waktunya sedikit. Langsung aja ya, di depan asrama ini kan ada tujuh kamar yang nggak terpakai lagi. Kakak bukan menakuti, hanya saja kalian jangan heran. Tiap malam terkadang memang terdengar suara tangisan bayi dari arah sana, sekedar sambutan anak baru. Tiga tahun ini memang seperti itu biasanya, dengar cerita sih, itu bayi aborsi. Dulunya, ada santri puteri yang membuang bayi aborsinya di wc tersebut." Kakak OPP menjelaskan panjang lebar, suaranya begitu lemah lembut, tapi terdengar horor di telinga. Usai ngobrol sana sini, Kakak OPP pun balik ke kamarnya.

***

Maghrib mulai mendekat, matahari perlahan pamitan membawa terang, bulan singgah hadiahkan gelap. Perasaan ngeri mulai menyelimuti sekujur tubuh.
Santri puteri berdesakan di tangga menuju aula, kuatir telat shalat berjama'ah, bisa kena sanksi jalan bebek dan tamparan sebatang lidi. Deuh, jangan tanya bagaimana rasanya. Cukup aku saja.

Jam belajar malam pun usai, penghuni asrama bersiap tidur. Bacaan doa terdengar riuh dari ujung ke pangkal asrama. Bukannya makin tenang, rasa takut makin parah saja, tubuhku kaku ketakutan.

"Kamu takut, Ai?" tanya Ade yang kujawab dengan anggukan cepat.

"Kita tidur beramai-ramai di bawah saja, angkat kasur masing-masing." Yuni si sadako (rambutnya menjuntai hingga ke betis) menimpali. Kami setuju. Malam itu semua tidur di dipan bawah. Teman-teman asrama mulai menjemput mimpi, sedangkan aku masih sulit memejamkan mata. Lama kupandangi langit-langit kamar, ucapan Kakak OPP terngiang terus, berusaha kutepis malah semakin menjadi saja. Suara detak jam terdengar keras dan mencekam dengan sepinya malam.

Tetiba sayup terdengar suara tangisan bayi, makin kencang memecahkan keheningan malam. Aku berulang kali membaca Ayatul Qursi, keringat dingin membanjiri tubuh. Bingung mau bagaimana, kupejamkam saja mata dan kaku tak bergerak.

"Oeek ... Oek ..." Suaranya makin kencang, ngilu begitu pilu. Rasa iba dan takut bercampur menjadi satu.

Setengah jam berlalu, suara tangis bayi pun menghilang perlahan, lega rasanya. Nafas yang tadinya tercekat sesak mulai mendapatkan udara. Entah kenapa, setelahnya aku merasakan kantuk luar biasa. Tak lama terlelap dibuai mimpi.

Keesokan harinya beberapa teman mengadu mengalami hal yang sama. Ternyata, bukan aku saja. Awal sambutan yang cukup memompa jantung, lumayan lah.

***

Asrama pesantren di tempatku berbentuk letter U. Ruangan tengah merupakan tempat penyimpanan, peralatan kegiatan ekstrakurikuler. Kami menyebutnya basecamp. Terdiri dari drum band, rebana, mesin jahit dan alat musik lainnya. Asrama yang memiliki dinding papan dan kolong di bawahnya dengan banyak tiang setinggi lima meter. Selalu bising terdengar deritan tiap berjalan. Mulai dari gerbang utama, sekolah dan asrama berjarak jauh dengan tangga-tangga mencapai ke tujuan. Gerbang utama posisi paling atas, karenanya aku selalu ngos-ngosan tiap keluar pesantren. Jalanan aspal mendaki benar-benar menguras tenaga.

Ruangan basecamp menghubungkan asrama putera dengan tujuh kamar. Ujung tangga asrama ini dekat dengan dapur umum. Sedangkan asrama puteri dengan sembilan kamar, bersebelahan kebun masyarakat juga sungai yang dipenuhi banyak buaya.

***

Tangisan bayi malam tadi menjadi topik hangat di sekolah pagi ini. Semua ikut nimbrung menyimak serius dan tegang. Kecuali, Irwan si ketua kelas. Dia tetap asyik membaca seperti biasa, sekalipun jam istirahat. Lelaki berbadan kecil dengan kulit yang putih bersih. Selalu membuatku berdebar tiap berpapasan di mana pun. Dia istimewa, bagiku.

"Duh, gimana ini ya, apa malam ini tangisan itu datang lagi?" cemas Yuni si Sadako.

"Kamu masih takut, Yun?" tanya Rani yang dijawab dengan anggukan Yuni.

"Ya sama, aku pun juga." seru Susi yang sedari tadi terlihat tegang.

"Aku juga." Tak mau kalah takutnya, aku turut menimpali. Malah ketakutan ini kelewat parah, rasanya ingin berhenti dari Pesantren.

"Ya, seterusnya kita tetap tidur di dipan bawah saja," usul Dedek yang berbadan besar tapi penakut.

Bel masuk menyudahi perbincangan kami, kembali menyimak pelajaran. Bu Yunengsih mulai menjelaskan materi. Jangan sekalipun tertidur di kelas, kapur di tangannya bisa tepat sasaran melayang ke arahmu.

***

"Arghhh!!" Teriakan Yuni memecah keheningan malam. Aku yang tidur di dekatnya, refleks melompat menjauh. Teman yang lain pun mengikuti hal yang sama. Yuni kerasukan. Kami berhamburan keluar menuju kamar OPP.

Di lorong beberapa Kakak OPP sesi imaman dan ibadah sedang berjalan buru-buru mendapati kami, lalu bertanya apa yang terjadi.

"Kenapa asrama dua?" tanya Kak Ria, sesi Imaman.

"Yuni kerasukan, Kak," jawabku gemetar sembari berjalan di belakang Kakak OPP.

"Aduh! Kenapa ditinggal, kalau dianya lari ke asrama putera tanpa hijab bagaimana?" Kak Ria bertanya lagi. Ekspresinya menunjukkan kekhawatiran.
Memandang kami memenuhi lorong asrama.

"Kami bingung, Kak," jawabku pelan.

Berjalan cepat menuju kamar, jantungku tak hentinya berdegup kencang. Biasanya yang diunjuk sebagai sesi ibadah tiap asrama, harus membantu menyadarkan yang kerasukan. Salah satunya aku, dan tiga teman lainnya. Bahagianya teman yang mendapat sesi kebersihan atau lainnya. Nggak perlu ngalamin hal begini.

Sesampainya di kamar, Yuni meringkuk di sudut kamar dekat jendela. Matanya melotot dengan rambut yang acak-acakan.

Kami beramai membaca Ayatul Qursi, Kak Dena ketua ibadah dan kami ber empat mulai mendekati Yuni. Dia meronta, tatapannya tajam. Aku menekan jempol tangan dan mengusahakan jemarinya tetap terbuka tidak mengepal. Ade bagian belakang telinga, Dea bagian dada, dan Kak Dena membacakan doa. Kak Ria dibantu Rani mengunci gerakan Yuni yang teramat kuat. Tenaganya benar-benar dobel. Padahal aslinya lemah lembut, sangat lembek.

"Hai Jin yang di dalam tubuh Yuni, keluarlah!?" perintah Kak Dena mulai berinteraksi.

"Aku tidak mau!" jawab Jin penuh amarah.

"Apa masalahmu dengan pemilik tubuh ini, berdamailah, kasihani dia," ucap Kak Dena.

"Dia mengotori rumahku, dengan membuang pembalut penuh darah. Sembarangan saja," jelas Jin.

"Maafkanlah dia, aku berjanji menegurnya nanti." Kak Dena memintanya keluar.

"Tidak," bantah Jin tersebut.

Berulang kali kami membacakan Ayatul Qursi. Kak Dena meminta kami menekan ucapan "hifdzuhuma" dengan keras. Kata tersebut memiliki inti dari fungsinya. Terhapuslah kalian.

Setengah jam pelawanan, jin tidak juga menyerah. Kak Dena menyuruhku mengambil sapu lidi, lalu memukulnya pelan ke tubuh Yuni. Aneh, Jin berteriak kesakitan memohon ampun.

"Sakit ... Cukup ... Aarghh" erangnya kesakitan, "Aku keluar, sudahi siksaan ini." lanjutnya. Jin keluar dari tubuh Yuni. Dia pun tersadar dari rasuknya, mata Yuni begitu berat. Rasa kantuk menyerangnya, Kak Dena melarangnya tidur. Bisa kerasukan lagi kalau terlelap.

Yuni heran memandang sekeliling, kami tidak memberitahunya apa yang terjadi. Kondisinya masih sangat lemah. Kak Dena dan Kak Ria kembali ke kamar OPP. Menegangkan rasanya, pertama kalinya menangani yang kerasukan. Pergelangan tanganku terluka bekas cakaran kuku Yuni. Sedikit perih tapi tidak masalah, perlahan keberanian muncul begitu saja. Entah apa lagi kejutan selanjutnya.

***

Aku melangkah ketakutan di antara lampu lorong asrama 'Sial! Pakai lupa lagi membawa buku tajwid' umpatku sembari membuka pintu kamar. Kosong tiada siapa pun. Tetiba bayangan putih tampak mengendap-endap di sela lemari. Tidak sempat mengambil buku, aku berlari sekencangnya. Kalau saja ini lomba lari, mungkin bisa jadi pemenangnya.

Langkah kaki terhenti, mendekati kamar OPP yang bersebelahan dengan rumah Mu'alimah. Bisa kena marah kalau ketahuan berlari di lorong. Aku berjalan pelan mengatur napas. Salat isya' hampir tiba, saat menaiki tangga, tetiba tubuh berwarna hijau yang hanya setengah badan, dengan posisi terbalik melayang di udara. Tanpa aba-aba aku langsung melesat jauh berlari sampai aula.

"Kenapa, Ai?" Bisik Ade yang heran melihatku keringatan.

"Panjang ceritanya, De. Nanti saja." Aku berkata sembari ngos-ngosan.

Materi tajwid berlangsung serius, Kakak Ibadah menegurku yang tidak membawa buku. Aku diam menunduk, sesekali mengangguk mengiyakan ucapan Kakak Ibadah.

Sepulang dari aula, kami beramai-ramai mengambil nasi ke dapur umum. Saat hendak mengambil air panas dari dandang, aku bertemu Irwan si ketua kelas. Dia tersenyum, gemuruh terasa di dada. Rasanya dag dig dug syeer ...

Di dalam kamar, aku menceritakan kembali apa yang kulihat tadi. Merasa ngeri, teman-teman asrama yang duduk dekat lemari, menggeser menjauh dari sana.

***

"Bangun ... Bangun ...!" Pak Tambunan berteriak menggedor tiap kamar. Dia seorang mu'allaf yang ditolong Bapak Yasasan dan dipekerjakan sebagai satpam. Kejiwaannya sedikit terganggu sejak ditinggal isterinya menikah lagi.

"Ai, bangun. Ayo nyuci, ntar keburu ramai. Telat nih udah jam enam," Ade membangunkan sembari menggoyangi tubuhku.

"Iya, De. Ini udah bangun." Aku berkata dengan mata tetap tertutup.

"Buruan," serunya.

"Iya, iya ..."

Sekitar delapan orang, kami menuju kama mandi. Sesampai di sana, ada yang mencuci baju, piring atau sekedar mandi. Anehnya suasana tampak sunyi, gelap dan bukan makin terang. Padahal kami cukup lama, satu orang pun tidak ada yang muncul untuk mandi.

Kami berjalan cepat balik ke kamar. Tidak ada tanda-tanda orang yang bangun, 'sepertinya ada yang tidak beres' gumamku. Ternyata benar, jam masih menunjukkan pukul dua dini hari.

"De ... Ini masih jam dua dini hari!" pekikku.

"Astaghfirullah!" Ade berteriak lebih terkejut. "Aku salah lihat jam, kirain tadi jam enam shubuh," lanjutnya merasa bersalah.

"Ada-ada saja kita, ya." Rani menimpali.

"Ha ha ha. Hiiy ngeri juga, kita lanjut tidur yuk," ucapku buru-buru naik ke tempat tidur, dan masuk ke dalam selimut.


Ada Apa di Pesantren (2)

"Hi hi hi," ucap Yuni yang terbaring di sisiku. Menyadari dirinya kerasukan, aku langsung memberi tahu teman lainnya. Kami berlima mulai menyadarkan Yuni.

"Dasar jin jelek! Ayo keluar dari tubuh ini!" tegasku meminta jin keluar dari tubuh Yuni.

"Ah, males! Aku senang di sini." Jin membantah dengan suara manja. Aku meminta Ade mengambil sapu lidi. Lalu memukulnya perlahan di kaki Yuni. Tubuhnya bergerak tak tentu. Jin mulai lemah.

"Ampuuun." jerit Yuni.

"Keluar lah dari sana!" suaraku lantang

"Hu hu hu." Yuni menangis, "tolong aku, kumohon ...," lanjutnya.

"Apa yang ingin kau sampaikan? Katakan saja."

"Saat ini tubuhku terjebak di akar beringin dasar sungai. Tepat di seberang dapur pesantren ini," jelasnya sambil terus menangis begitu pilu.

"Lalu?" tanya Rini yang memegang tangan Yuni untuk tidak mengepal.

"Bantu aku untuk memberitahu keluarga tentang keadaan ini. Mereka pasti cemas menunggu kabar." Yuni diam sejenak, "tiga hari sudah aku menghilang, mantan calon suamiku menyamar menjadi perias pengantin lalu membunuhku. Dan membuang tubuhku yang dimasukkan di dalam karung ke sungai."

"Astaghfirullah. Jangan permainkan kami wahai Jin laknat!"

"Aku tidak berbohong, datanglah ke rumahku dekat pasar di LP dekat kantor polisi. Suasana pesta masih pasti masih tampak di sana." Usai mengucapkan itu, Yuni tersadar dari rasuknya.

"Ade, panggilkan Ustadz." Aku menyuruh Ade memanggilkan Ustadz.

Tak lama Ustadz datang, setelah mendengar penjelasan dari kami. Kami berlima sesi ibadah dan OPP ibadah bersiap menuju TKP.

Sesampai kami dengan alamat yang dimaksud, benar adanya rumah seperti berduka tapi teratak tenda dan pelaminan masih utuh di sana. Kami mengikuti ustadz masuk ke dalam rumah. Tampak kesedihan memenuhi ruangan. Seorang Bapak menyalami kami. Dan mempersilahkan masuk.

Dengan hati-hati ustadz bertanya, "Maaf, ini ada apa, ya?"

"Anak kami, Ustadz, hu hu hu." Tangisan si Bapak pecah sebelum menyelesaikan ucapannya, "anak kami tidak ada di kamarnya tepat pesta pernikahan berlangsung." Wajah si Bapak terlihat begitu lelah, mungkin tidak tidur selama tiga hari.

"Begini, Pak ...." Ustadz bercerita panjang lebar.

Akhirnya dengan syarat si Jin, kami menyiapkan sesajen untuk memudahkan mendapatkan karung berisi mayat si Pengantin. Dua perahu bot dan empat sampan disediakan. Bot berfungsi untuk mengusir buaya di dalam sungai. Karena sungai di sini sangat banyak buayanya. Para nelayan mulai menurunkan rantai kait mencari mayat.

Tampak ustadz tak berdaya memegang daun pisang berisi sesajen. Sungguh pemandangan yang langka. Syirik? Wallahu aklam. Setengah jam kemudian salah satu kait membawa beban berat. Sangat berat sehingga keenam perahu mendekat saling mengaitkan ke asal benda yang berat. Sebaik muncul di permukaan air, aroma bau yang menyengat begitu luar biasa. Sebagian orang menahan muntah. Karung didapatkan, Ustadz menelepon polisi, tak lama kemudian polisi datang dan memasang police line. Saat karung dibuka, tampak mayat yang hancur tinggal tulang. Kulitnya meleleh tiap diangkat saat dipindahkan ke kantong jenazah. Air mata dan keringat bercampur menyatu menyaksikan pemandangan tersebut.

Kami dan polisi diundang makan oleh Bapak almarhum tanda terima kasih. Polisi menyerahkan piagam penghargaan pada pesantren. Terungkap mantan si pengantin lelaki dalang pembunuhan. Kakak perempuan si korban memesan perias pengantin. Tak lama si pembunuh datang dan meminta mengunci pintu kamar agar tidak mengganggu. Tanpa curiga, keluarga menurut saja, setengah jam kemudian perias yang aseli datang. Sontak saja keluarga terkejut, ditambah si kakak hadir tak lama perias yang asli sampai. Mengingat teror beberapa hari sebelum pernikahan, si Ibu lemas dan pintu didorong kuat.

"Aaaaaaaarrgghhhhh." Ibu korban pingsan, darah tercecer di mana-mana. Kebun pisang di belakang rumah begitu rimbun mengarah ke sungai. Sehingga tiada yang menyadari apa yang terjadi. Sepotong jemari mungil tampak tak berdaya dengan cincin melingkar manis. Sedih tak terkira. emoticon-Turut Berduka

End
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wiispica dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci

Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah

Airmata Benci dan Cinta (satu)


Diary Tentang Cita Dan Cinta Aisyah Hasibuan Si Humairah


Tuhan ... Buat aku menjadi lupa ingatan sebentar saja, agar aku bisa tersenyum menikmati dunia.

Namanya Leon. Lelaki dengan tubuh tinggi, berisi dan sangat manis. Aku mengenalnya dari sebuah komunitas menulis. Satu atau dua tahun lalu, aku lupa. Terjadi sedikit gesekan antara kami kala itu. Entah apa maksud alam mempertemukan kami kembali dalam sebuah komunitas berupa hobi. Ya, kami sama-sama memiliki hobi memasak. Dan dia berjanji akan memasakkanku menu spesial di hari pertama kami bersama. "Jadilah ratuku" begitu katanya suatu senja kala menikmati sejuknya angin pantai di Losari. Perkenalan masa lalu dan bertemu kembali, itu benar-benar dejavu. Tepat sepekan dari pertemuan kembali itu, Leon memintaku menjadi isterinya.


Quote:



Menikahlah denganku dan kubawa dirimu mengelilingi dunia, melakukan hal yang di luar logika. Aku ingin bercanda denganmu walau sekadar memakai bando Pink milikmu dan memakaikan kemeja longgar milikku di tubuhmu yang mungil. Aku mohon, sungguh tak sanggup hidup tanpamu. Tak ingin lagi melepas tangan yang pernah kusentuh lembut. Sebelum kita bertengkar dulu.


Masih teringat jelas, Jauzi. Kalimat itu sampai detik ini, hingga dirimu terbang dibawa burung raksasa jauh dari pandangan mata.
emoticon-Mewekemoticon-Mewek

Hanya sepekan. Ya, benar ... Sepekan saja dirimu berada di sisi. Teringat saat kuelus hidung pesekmu dengan hidungku yang mancung. Geli tapi begitu mesra.
emoticon-Mewek

Aku datang ke dalam hidupmu kerana masa lalu kita dan mungkin akan pergi diam-diam kerana masa lalu kelian. Ya, kau dan dia.


Ya, kita berpikir ini jodoh, dipertemukan kembali dengan suasana dan perasaan yang berbeda. Dulu musuh, sekarang teman hidup.

Minggu, 09 Februari 2020. Malam ini pukul 21.43 aku menangis menahan wajah ke bantal agar tak terdengar perih pilunya isak air mata. Kau tahu, Jauzi? Berapa kali aku meminta lepaskan aku, tapi dirimu terus memintaku untuk tetap bertahan. Apa kau tahu, Jauzi, hatiku mulai hancur, tembok kuat itu mulai rubuh.


Jangan katakan aku egois dan banyak menuntut, kerana itulah aku menahan sedih ini. Mengeluhkan rasa cemburu yang parah hanya akan membuatku tertuduh "Kau hanya menjadikanku mainan saja". Ya, itu yang selalu menjadi senjatamu membuatku kalah dalam opini membela diri.


Tidak bisakah dirimu tak peduli pada dia, seseorang dari masa lalu? Kurang puas kah dirimu menyiksaku dengan memamerkan keintimanmu bersama mereka. Aku tidak istimewa dan selamanya begitu. Lantas, apa yang membuatmu mempertahankan aku? Hanya si upik abu yang tak berarti dalam hidupmu!

Tegaslah dalam ucapanmu, Jauzi. Jangan membuatku akhirnya nanti membatu, mati rasa tiada lagi peduli padamu. Bukan kerana aku tak lagi cinta. Tapi terlalu banyak luka dan airmata. Sehingga diri ini menjadi mati rasa.


Sekali waktu kau buat aku melayang di udara tak sadar diri kerana bahagia. Lalu kau jatuhkan hingga ke dasar jurang terdalam.

Bisakah kau buang saja jauh segala masa lalu? Tak usah peduli. Dan bersikap tegas?

Aku berada di sana, Jauzi. Melihat semuanya, mata ini berfungsi dengan sangat jelas. Dulu. Kau mengatakan maaf, aku masih sangat mencintai orang-orang di masa laluku. Aku harap kau menerimanya. Perlahan waktu berubah, begitu juga ucapanmu. "Hanya kamu, Dik. Satu-satunya mawar, tiada yang lain. Aku tak lagi mengingat mereka dalam kenangan. Itu kerana hadirmu, isteriku."

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Mewekemoticon-Mewek

Rasanya ingin aku mati saja atau Alzaimer mendadak menyerangku. Itu beberapa hari lalu, sore tadi kau begitu bernafsu memerankan fungsimu sebagai suami. Dan malam ini lagi lagi sikapmu mematahkanku.


Beberapa hari, aku akan menghilang dulu, Jauzi. Maaf kalau sikapku salah. Setidaknya, aku ingin mengeringkan air mata ini dulu, untuk kau basahi lagi nanti.


Pahami aku, Jauzi. Jika ingin aku tetap di sini.

Salah aku bilang kalo aku tidak penting? Sedangkan sikap mu seolah olah tidak perlu aku, jadi disini aku lagi yang salah?

β€œNanti, aku akan mengingatmu sebagai apa yang paling ingin kulupakan, dan kau, akan mengingatku sebagai apa yang pernah kau sia-siakan."


Jangan berharap banyak pada masa lalu, kerana tak akan baik untuk diulang.
Moga kamu berpikir untuk ini. Dan aku lebih ikhlas kamu sama yang baru kenal, daripada yang sakitin kamu walau itu bentuk balasan kejahatanmu. Dan apapun maumu, aku tetap akan pergi. Kau tau kan apa mauku? Ya. Satu kata itu, yang menjadikanku tak lagi berhak atasmu.
emoticon-Mewek

Besok aku mau rehat, ya. Merehatkan hati dari rasa perih. Kalau tak menemukanku di mana pun, aku masih di sini. Di rumah kita, masih ingat kan? Rumah bercat hijau pagar hitam. Ada pokok asam belimbingnya di depan. Jangan lupa kembali, kalau memang kamu milikiku sangat bahagia. Pintaku, posisikan dirimu sebagai orang yang sudah beristeri. Ya itu aku. Jangan bersikap seolah masih peduli dengan dia dan dia. Ucapanmu sangat ingin kupercaya. Pliiiss.
emoticon-Mewekemoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh embunsuci
ooh jadi namanya Aisyah, ya?
cakep, cakep ... πŸ’–
profile-picture
profile-picture
profile-picture
novaarlisanty dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Huum, Sisemoticon-Shakehand2emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 4 lainnya memberi reputasi
Jadi pengen punya anak perempuan namanya Aisyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
novaarlisanty dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Adeuh. Jadi maluemoticon-Malu
Makasih, Sis. emoticon-Peluk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 4 lainnya memberi reputasi
yaaaaah ngerep nama ane menjadi bagian dari cerita ini,.πŸ˜‚
profile-picture
profile-picture
profile-picture
novaarlisanty dan 3 lainnya memberi reputasi
mana akun namanya yoona aku galfok bukan yoona snsd kan hahahha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 8


GDP Network
Beritagar β€’ Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di